<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom">
  <channel>
    <title>Kedai Resensi Surabaya</title>
    <description>Resensi singkat dan segala macamnya</description>
    <link>/</link>
    <atom:link href="/feed.xml" rel="self" type="application/rss+xml"/>
    <pubDate>Thu, 23 Jun 2022 05:51:59 +0000</pubDate>
    <lastBuildDate>Thu, 23 Jun 2022 05:51:59 +0000</lastBuildDate>
    <generator>Jekyll v3.2.1</generator>

    
      <item>
        <title>Kim Ji-yeong dalam Diri Kita</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Cho Nam-joo&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Alih Bahasa&lt;/strong&gt;: Iingliana&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Gramedia Pustaka Utama&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal buku&lt;/strong&gt;: 192 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun terbit&lt;/strong&gt;: Maret 2022 (cetakan kesebelas)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akhir Mei ini, saya memutuskan ingin membaca lebih banyak novel terjemahan dari negara-negara Asia yang lebih dulu terkenal akan kedigdayaan ekonominya. Pilihan jatuh pada Korea dan Jepang, dengan pilihan pertama buku yang juga populer di negara asalnya hingga diadaptasi menjadi film. Buku ini telah terjual lebih dari satu juta cetak dan diterjemahkan ke berbagai bahasa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kim Ji-yeong adalah tokoh utama kita dalam novel Korea kali ini. Lahir di tahun 1982 di Seoul, Kim Ji-yeong telah menghadapi dan melalui berbagai perubahan ekonomi dan sosial Korea Selatan. Kisah dibuka dengan keanehan Kim Ji-yeong pada suaminya (Cha Seung-yeon) dan keluarga suaminya. Kim Ji-yeong seolah-olah dirasuki oleh berbagai kepribadian dan meracau mengenai berbagai jenis kesulitan yang dialami kepribadian itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Memiliki seorang kakak perempuan dan seorang adik laki-laki, Kim Ji-yeong sebenarnya tumbuh dalam keluarga yang ekonominya sulit. Terutama masa-masa ketika Korea dihantam krisis ekonomi dan pengaruh IMF pada kondisi perekonomian masyarakat Korea pada 1990-an. Namun, beranjak remaja dan dewasa, kita akan menyaksikan kondisi ekonomi keluarga Kim Ji-yeong membaik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Membaca novel ini, kita akan melihat dunia melalui pengamatan Kim Ji-yeong. Di masa kecil, ia dan kakak perempuannya tak jarang membantu ibunya dengan pekerjaan rumah di waktu luang mereka. Ayahnya adalah seorang pegawai negeri level rendah, sehingga penghasilannya stabil meskipun tidak tinggi. Di masa kecil hingga sekolah menengah, Kim Ji-yeong sekeluarga tinggal bersama nenek mereka (ibu dari ayah). Ibunya dulu sempat bekerja tetapi berhenti untuk mengurus anak dan rumah tangga. Untuk menambah penghasilan keluarga, ibunya juga sempat bekerja sampingan. Meski seorang ibu rumah tangga, dalam novel ini, penggambaran karakter ibu Kim Ji-yeong termasuk kuat. Ia pandai dalam mengelola keuangan dan investasi. Ibu Kim Ji-yeong, Oh Mi-sook, juga lebih tajam dalam melihat peluang masa depan anak-anaknya. Namun, ia bukan seorang ibu yang memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya. Justru, ia menginginkan terutama bagi Kim Ji-yeong dan kakak perempuannya, Kim Eun-yeong untuk mengikuti mimpinya. Bagian dari ini juga karena Oh Mi-sook sendiri tahu bagaimana rasanya harus menjalani sesuatu yang bukan lagi mimpinya, lebih karena keadaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pembabakan novel ini ditulis dalam periode waktu yang juga menunjukkan perkembangan sosial-ekonomi Korea. Sehingga, membaca buku ini rasanya juga melihat kilasan perkembangan sosial-ekonomi Korea. Tak hanya itu, permasalahan kesetaraan gender, kesenjangan gaji antara perempuan dan laki-laki, kesenjangan kesempatan keduanya di bursa kerja, pelecehan seksual, penyakit kejiwaan, harapan dan perspektif sosial terhadap perempuan menambah beban berat di tiap lembaran kisah novel ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Novel yang pertama kali terbit tahun 2016 di negara asal penulisnya ini turut menuai kontroversi. Disamping menggambarkan permasalahan sosial dan ekonomi Korea, Novel ini kental mengangkat topik feminisme. Membaca novel ini, seperti mengingat-ingat kembali penuturan Betty Friedan (&lt;em&gt;The Feminine Mystique&lt;/em&gt;), Ursula Huws (&lt;em&gt;The Making of a Cybertariat&lt;/em&gt;), dan Shirin Ebadi (&lt;em&gt;Iran Awakening&lt;/em&gt;). Benang merah di antara ketiganya ialah posisi perempuan dalam rumah tangga. Kegelisahan perempuan karena selalu dihadapkan pada pilihan untuk bekerja, mengurus pekerjaan rumah tangga, dan mengurus anak. Celetukan ringan yang menggampangkan pekerjaan ibu rumah tangga karena dianggap hanya berada di rumah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak novel bertemakan feminis yang dapat kita temui di luar sana hari ini. Namun, tak banyak yang menuliskannya segamblang Cho Nam-joo. Meracik baik-bait naratif dengan disisipi data statistik bisa terasa membosankan, tetapi tidak dengan novel ini. Cho Nam-joo berhasil merangkum permasalahan kesetaraan gender dan kegelisahan perempuan Korea dalam karya yang menggugah. Ia mampu membawa pembaca turut merasakan frustasi, kebingungan, ketakutan, dan kelelahan tokoh utama kita, Kim Ji-yeong.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cho Nam-joo menunjukkan bagaimana diskriminasi gender di Korea begitu terlembaga sampai-sampai cara pandangan diskriminatif terhadap perempuan dianggap sebagai hal lumrah dan sudah seperti yang seharusnya terjadi. Diskriminasi gender yang terlembaga di masyarakat ini juga memberikan beban kepada perempuan untuk berpikir dan bersikap seperti bagaimana masyarakat melihat perempuan harusnya bersikap. Tak jarang, tak perlu alasan solid untuk menjelaskan kenapa perekrut, misalnya, lebih memilih untuk merekrut laki-laki jika keduanya memiliki kemampuan yang setara. Perempuan dianggap kurang memiliki ‘umur panjang’ dalam dunia kerja karena mereka harus mengurus rumah dan mengurus anak. Padahal, pekerjaan itu juga harusnya dilakukan tidak hanya oleh perempuan, tapi juga laki-laki. Disamping itu, meskipun secara umum banyak laki-laki beretika baik dan sopan kepada perempuan, tetapi mereka tidak memahami diskriminasi yang dirasakan teman perempuannya. Sehingga, di banyak kesempatan meskipun mereka tahu ada yang tidak nyaman, mereka memilih diam karena dianggap sikap itu lebih aman dan tidak memperkeruh masalah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Novel yang juga diilhami dari kisah penulisnya ini terasa lebih dekat dan menyentuh langsung ke kegelisahan perempuan. Namun, bukannya novel ini tidak membawa pesan optimis. Tergantung bagaimana pembaca mengambil pesan di dalamnya, Cho Nam-joo menunjukkan bahwa apa yang dirasakan Kim Ji-yeong tidak hanya dirasakan segelintir perempuan saja. Banyak dari kita adalah Kim Ji-yeong, atau berada di posisi yang lebih buruk darinya. Tidak masalah unyuk mengungkapkan kelelahan kita dan sedikit meminta bantuan orang lain untuk keluar dari kondisi yang melelahkan ini. Dan di antara para Kim Ji-yeong, tentu ada seorang ibu atau kakak perempuan yang seperti Oh Mi-sook. Mereka tahu rasanya jika sesuatu yang mereka banggakan atau senangi direnggut darinya sehingga mereka pun ingin melindungi mimpi orang lain karena bagi mereka, tidak mungkin bisa memutar waktu tetapi setidaknya mengharapkan di masa depan dunia sedikit demi sedikit semoga lebih baik bagi anak-anak perempuan mereka. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(ich)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

</description>
        <pubDate>28 May 2022</pubDate>
        <link>/kim-ji-yeong-dalam-diri-kita</link>
        <guid isPermaLink="true">/kim-ji-yeong-dalam-diri-kita</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Menyederhanakan Bare-Life ala Agamben dalam Bahasa Indonesia</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;By A.	Faricha Mantika &amp;amp; Reza Hikam&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Konsep &lt;em&gt;bare-life&lt;/em&gt; dari Agamben memberikan kondisi pada individu untuk terekslusi/dikecualikan/dikeluarkan dari yurisdiksi hukum, tetapi pada saat yang bersamaan, dia masih terinklusi/termasuk dalam yurisdiksi hukum.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bayangkan kondisi ini. Dalam suatu negara/komunitas politik, dengan penguasa yang berdaulat, individu melakukan tindak kejahatan yang membuatnya dicabut hak-haknya dalam komunitas politik itu, dia tidak lagi dilindungi, penguasa komunitas politik itu menimpakan suatu kondisi pengecualian padanya. Kondisi pengecualian apa? Bahwa ia dicabut hak-haknya oleh penguasa, dia dikeluarkan (dieksklusi) dari komunitas politik tersebut, tidak lagi mendapat perlindungan, tetapi, pada saat yang bersamaan, dia masih termasuk (terinklusi) dalam yurisdiksi hukum komunitas politik itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hukum yang mengikat dia dari komunitas politik yang mengeksklusinya ialah hukum bahwa ia dinyatakan tidak dilindungi lagi oleh yurisdiksi hukum komunitas politik itu dan telah dicabut hak-haknya. Pada saat ini, individu itu telah terekslusi namun masih terinklusi secara yurisdiksi hukum.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagaimana ia menyelamatkan dirinya? Individu ini bisa pergi ke komunitas politik/negara lain dan mencoba mendapat hak-hak politik dan sosial baru. Tetapi, ini pun tidak menghapus kenyataan bahwa ia kehilangan hak dan dieksklusi secara yuridis hukum di komunitas politik sebelumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Konsep Zoos yang diulas oleh Agamben di atas dalam bahasa Inggris memang disebut sebagai &lt;em&gt;bare-life&lt;/em&gt; yang diterjemahkan sebagai “hidup-telanjang” oleh Agus Sudibyo dalam bukunya “Demokrasi dan Kedaruratan”, namun mengacu pada penjelasan di atas, &lt;em&gt;bare-life&lt;/em&gt; dapat dijelaskan sebagai &lt;em&gt;barely able to live&lt;/em&gt;, di mana seorang manusia kewalahan/kesulitan untuk menjalankan hidupnya, karena hukuman yang membuat ia kehilangan haknya sebagai warga negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal ini berkaitan juga dengan apa yang sempat disampaikan oleh Joash Tapiheru mengenai hilangnya hak kewarganegaraan seseorang sebagai sistem penal Romawi di mana seseorang akan menjadi budak untuk membayar hutang atau menyelesaikan perkara hukumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Posisi budak di sini berdampak pada kehidupan seseorang yang tidak lagi sebagai warga negara, namun pengikut/budak dari warga negara (majikan) guna menyelesaikan masalahnya. Pada akhirnya ia tereksklusi dari masyarakat yang dulunya ia menjadi bagian darinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Melalui uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa arti dari &lt;em&gt;bare-life&lt;/em&gt; adalah “Hidup Segan”. Seperti kehidupan pada umumnya di dunia modern ini, hidup segan mati tak mau.&lt;strong&gt;(*)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>26 May 2021</pubDate>
        <link>/menyederhanakan-bare-life-agamben</link>
        <guid isPermaLink="true">/menyederhanakan-bare-life-agamben</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Negri, Antara Sepak Bola dan Perlawanan Kelas</title>
        <description>&lt;p&gt;Pada Juni 2006, Antonio Negri berbincang dengan Renaud Dely dan Rico Rizzitelli, dua jurnalis dari Liberation, mengenai sepak bola, fordisme, dan perjuangan kelas. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Guio Jacinto. Antonio Negri, ahli teori paling kiri, filsuf 72 tahun, ‘ahli’ sepak bola dan pendukung AC Milan. Keyakinannya: Hidup revolusi dan Azzuri!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Diterjemahkan dari &lt;a href=&quot;https://libcom.org/library/negri-football-class-struggle&quot;&gt;bahasa Inggris&lt;/a&gt; ke bahasa Indonesia untuk Kedai Resensi Surabaya oleh &lt;a href=&quot;/author/reza&quot;&gt;Reza Maulana Hikam&lt;/a&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;P = Pewawancara, N = Negri&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Bagaimana mungkin Anda, seorang filsuf Marxis, pemikir radikal dan ahli teori gerakan alter-globalisasi, mendukung AC Milan, klub milik Silvio Berlusconi?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Itulah mengapa saya tidak bisa pergi! Saya adalah budak hasrat saya! Sebelumnya, orang-orang di kanan dan di kiri akan mendukung Inter dan Milan masing-masing. Hal itu sejajar dengan komitmen politik mereka. Namun sekarang hal itu jauh lebih membingungkan. Pengorganisasian perekonomian dari klub (sepak bola) tidak perlu dianggap serius. Saya suka AC Milan karena ia adalah klub ayah saya dan anak-anak saya. Sebelumnya saya terlibat dalam pembentukan &lt;em&gt;Brigate Rossonere&lt;/em&gt;*, yang tidak ada hubungannya dengan &lt;em&gt;Brigate Rosse&lt;/em&gt; di tahun 1960-an. Kami adalah pengikut sayap kiri dan kami menempatkan diri kami sendiri di ujung selatan stadion. Saya memiliki tiga anak dan mereka semua adalah ‘Milanistas’. Putri saya menikah dengan seorang ‘Interista’, yang menyebabkan banyak masalah (bercanda…). Hal itu membuatku senang saat mereka berpisah. Bagaimanapun, sepak bola tidak lebih dari sebuah permainan…&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Bagi Berlusconi, sebagai pemilik AC Milan, apakah itu juga sebuah permainan?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Sebagian, ya. Tidak diragukan lagi, dia ingin menggunakan klub untuk mendapatkan kekuasaan dalam politik. Namun, simpati dan dukungan dalam olahraga sulit diterjemahkan ke dalam politik. Masih ada batasan. Berlusconi adalah anjing gila. Meskipun demikian, dia selalu sangat berhati-hati untuk tidak mencampurkan keduanya secara berlebihan. Dia tahu itu bisa merugikan dia jika tim kalah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Tapi politik juga dalam olahraga. Stadion Milan dinamai Giuseppe Meazza*, kapten dari ‘regu fasis’ tahun 1938…&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Fasisme seringkali bermain sepak bola, seperti halnya semua orang di era itu. Lihatlah foto-foto tim: mereka semua mengangkat tangan. Ia adalah olahraga nasional dan hal itu selama masa kediktatoran. Fasisme Italia sesuai dengan momen yang tepat; awal Fordisme, industrialisasi yang dipaksakan dan disamaratakan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Seorang pemain seperti Paolo Di Canio, dari Lazio di Roma, terus memberikan hormat pada para fasis…&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Itu adalah rasisme dan provokasi… seperti Le Pen! Dengar/pahami: Saya tidak ingin membela ‘fasisme historis’. Tetapi kenyataannya adalah ia beradaptasi dengan situasi tertentu dan turut menentukan dalam pembangunan di Italia, sebuah transisi. Sama seperti Stalinisme yang beradaptasi dengan transformasi tertentu dalam masyarakat Rusia. Tetapi kaum fasis dan Stalinis saat ini adalah bajingan. Lazio adalah tim yang terikat dengan ekstrim kanan. Gianfranco Fini*, mantan wakil presiden (dewan lokal) adalah pelindung mereka. Tim-tim lain, jauh lebih disukai, terikat ke yang paling kiri; seperti kasusnya dengan Livorno. Jika Anda ingin bersenang-senang, temui mereka. Mereka sangat orisinal … penuh nostalgia, dari ekstrem kiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Apakah fenomena hooligan juga menyatakan bahwa politik ‘menyerang’ olahraga?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Hal itu bukan fenomena yang hanya terjadi di kegiatan olahraga. Kaum fasis mencoba mengubah hal-hal positif yang dilakukan orang-orang. Mereka melakukannya dengan hubungan sosial yang diciptakan oleh kaum progresif dan juga dengan sepak bola. Menurut saya fasisme adalah pangkal atau akar dari hooliganisme. Ini berkaitan dengan, atau terkait dengan, sebelum apapun, fenomena yang terkait dengan kekerasan di perkotaan. Misalnya, drama Heysell datang dari luar. Hal itu seperti meteorit yang jatuh ke atas stadion. Bisa jadi sepak bola adalah wilayah yang menguntungkan, tetapi perlu dibedakan antara wilayah yang menguntungkan dan penyebabnya. Penyebabnya adalah ‘di luar’ atau di berada di bagian luarnya. Sepak bola tidaklah bersalah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Pada kesempatan referendum konstitusi Eropa, Anda memutuskan untuk memilih ‘ya’, dari halaman Pembebasan karena perjanjian itu, yang menurut Anda, akan berkontribusi untuk ‘menghancurkan negara-bangsa yang bodoh ini’. Bagaimana dengan sepak bola? Apakah Anda berpihak pada G14, yang mempertanyakan keberadaan tim ‘sepak bola nasional’?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Ketika saya berbicara tentang akhir dari negara-bangsa, yang saya maksudkan bukanlah akhir dari hawa nafsu. Ruang di Eropa sangat penting untuk menciptakan kekuatan/potensi melawan Amerika Serikat dan liberalisme. Tak satupun dari hal ini telah dilakukan, dan inilah alasan mengapa kita saat ini dalam keadaan kacau. Saya tetap mempertahankan bahwa saya benar, bahwa saya punya alasan. Tapi saya adalah teman Chavez dan saya menentang “bangsa”. Saya (bertindak) untuk Eropa, tetapi juga untuk Azzuri! Viva football dan viva Maradona! (tertawa) Bahkan jika Brussels menominasikan sebuah komite untuk membentuk tim Eropa, saya tidak begitu yakin akan setuju. Bahkan jika hal itu melibatkan Capello…&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Di Prancis, pemisahan antara politik dan sepak bola ini jauh lebih rumit…&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Saya, pada bagian saya, menerima kontradiksi dan mengelolanya dari dalam…&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Bagaimana?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Saya suka membuat revolusi! Saya menikmati pergi melihat sepak bola! Ketika seseorang memiliki energi, mereka menyebarkannya ke segala arah. Saya tidak pernah mengerti mereka yang memisahkan dua dunia/alam semesta ini. Di Italia, ada kelompok yang memiliki alasan seperti itu. Mereka adalah kelompok Katolik, orang-orang dengan konsepsi yang sangat murni. Mengapa para intelektual Italia dan Inggris berbicara begitu mudah tentang olahraga sementara Prancis merasa sangat tidak nyaman selama sekian lama? Karena para intelektual Prancis adalah orang-orang &lt;em&gt;absurd&lt;/em&gt; yang hidup di luar realitas! Mereka cerdas dan mampu membangun sistem karena berada di alam semesta. Akan tetapi, kita hidup dalam kenyataan yang jauh lebih konkret, lebih hidup, lebih biopolitik. Olahraga sangat penting dalam mengungkapkan konsistensi material dari hubungan sosial dan hasrat pada tingkat yang tidak mendasar melainkan konfigurasi fenomenologis pertama yang nyata. Wow, maafkan atas jargonnya…&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Menurut anda, mengapa sepak bola adalah olahraga yang universal?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Manfaat besarnya terletak pada kemampuannya untuk membuat orang berbicara satu sama lain, meskipun sebagai olahraga, hal itu sangat membosankan. Seperti bioskop, teater atau opera. Di sisi lain, ia memiliki sentimen melodramatis yang sama dengan opera. Dengan karakter, pelatih, yang memiliki peran mendasar. Dari karakter inilah kecintaan saya pada sepak bola lahir. Saya memiliki petualangan yang luar biasa. Itu tentang Nereo Rocco, penemu &lt;em&gt;catenaccio&lt;/em&gt; Italia. Di akhir tahun 50-an, dia melatih Trieste dan setelah itu, Padua. Di Padua, dengan tim yang biasa-biasa saja, ia mengembangkan permainan bertahan ala Italiana, permainan Italia yang paling membosankan, paling keras dan ganas. Kemudian, ia mengambil gaya permainan yang sama ke Milan, dan Gianni Brera, seorang jurnalis, selama tahun 60-an, dari Il Giorno, sebuah jurnal sosialis dan progresif, berteori (mengenai hal itu) dan di dalamnya melihat karakteristik nasional tertentu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Philippe Séguin, seorang pakar sepak bola, sejalan dengan kolumnis Marxis dari Le Miroir du football yang berpendapat, pada tahun 1970-an, bahwa &lt;em&gt;catenaccio&lt;/em&gt; adalah gaya permainan paling reaksioner yang pernah ada. Bagaimana menurut anda tentang hal ini?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Jangan pernah membiarkan seorang reaksioner sayap kanan seperti dia berbicara buruk tentang &lt;em&gt;catenaccio&lt;/em&gt;! (tertawa) Gianni Brera pernah mengatakan bahwa &lt;em&gt;catenaccio&lt;/em&gt; dikaitkan dengan karakter orang Italia, karakter yang tangguh/kasar, petani, yang berasal dari tanahnya. &lt;em&gt;Catenaccio&lt;/em&gt; merupakan padanan &lt;em&gt;rugby&lt;/em&gt; dalam sepak bola. Hal itu adalah perjuangan kelas; seseorang yang lemah dan harus membela diri. Kebalikan dari apa yang dikatakan Segun. &lt;em&gt;Catenaccio&lt;/em&gt; lahir di Venesia, sebuah negeri di mana orang-orang, pada tahun 1950-an, harus pergi untuk beremigrasi karena mereka tidak punya apa-apa untuk dimakan; hal itu adalah migrasi besar dari para tukang batu (&lt;em&gt;masons&lt;/em&gt;) atau para penjual es krim ke Belgia, Swiss, dan sepanjang sungai Rhine. &lt;em&gt;Catenaccio&lt;/em&gt; sesuai dengan sifat daerah utara ini, imigran yang kuat, tangguh, dan galak karena lapar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Apakah Anda menjadi penggemar Azzuri pada masa di mana, selama tahun 60-an dan 70-an, ketika anda pernah menjadi profesor di Universitas Padua?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Saya adalah penggemar tim Italia saat menang pada 1982. Saya saat itu di penjara. Itu adalah satu-satunya hari di mana kami berpelukan dengan para penjaga. Kami diizinkan menempatkan setengah dari tahanan di sel yang sama untuk menonton pertandingan. Dan saat permainan selesai, mereka membuka pintu dan kami berpelukan. Hal itu agak menyesatkan/ambigu! (tertawa) Sepak bola memiliki logika yang sangat berbeda dengan masyarakat lainnya. Sangat berbahaya untuk berpikir bahwa ini bisa menjadi elemen mistifikasi hubungan sosial. Pada contoh terakhir, kegembiraan yang dihasilkan oleh kemenangan … tetapi bagi tiffosi, hal itu bukan hanya tentang permainan. Di Italia, sebuah acara olahraga memicu retorika nasional pada tahun 1948; Bartali memenangkan Tour de France. Perang saudara menjadi ancaman karena Togliatti, pemimpin PCI terluka dalam serangan politik (percobaan pembunuhan?) Presiden Republik menelepon Bartali untuk memintanya menang. Dan kemenangan itu berfungsi untuk menekankan elemen penyatuan nasional melawan elemen konflik keras di negara itu setelah upaya yang dilakukan para fasis terhadap pemimpin Partai Komunis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Bisakah kemenangan seperti yang diraih tahun 1982 menciptakan dan meninggikan sentimen nasional terhadap orang asing?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Menurut saya tidak. Ada saat-saat dramatis dalam sejarah suatu negara, saat-saat di mana olah raga hilang… Sepak bola tidak terlalu nasionalis. Jika Anda melihat klub-klub Italia, berapa banyak pemain nasional yang ada di tim-tim ini? Tidak banyak, bukan? Dan lihat Prancis. Mereka ada dimana-mana, orang-orang Prancis itu!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Hal disebabkan karena uang telah membelenggu negara. Apa pendapat Anda tentang konsekuensi dari keputusan Bosman? Pada prinsipnya, hal ini berkaitan dengan ‘hak untuk berserikat’ yang menguntungkan pemain yang dikacaukan oleh sistem&lt;/strong&gt;…&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Sebuah kelompok ‘kanan’ yang terbelakang, yang menentukan pembebasan pasar! Ini berkaitan dengan deregulasi pasar nasional dan, sebagai konsekuensinya, konstitusi pasar dunia… Eropa, pada kenyataannya. Satu-satunya cara untuk membawa ekuilibrium atau keseimbangan pada situasi kapitalis ini adalah dengan menciptakan masyarakat populer dan pemegang saham populer. Penting untuk mendukung kemungkinan alternatif di medan ini melalui kekuatan publik; di sisi lain, ada alternatif revolusioner. Entah menghancurkan kapitalisme atau membentuk masyarakat populer!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Semua pemain Prancis yang pindah ke Italia bingung dengan pentingnya taktik selama latihan…&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Hal disebabkan orang Italia menjadi ‘Machiavellian’. (&lt;em&gt;Sic&lt;/em&gt;). Machiavellianisme terdiri atas pembentukan dari apa yang Anda miliki, di tangan Anda. Hal ini layaknya orang Prancis yang terpesona pada desakan taktik ini. Orang Prancis tidak pernah menjadi Machiavellian, mereka selalu menjadi ahli teori “alasan Negara” yang berbeda. Tetapi jika orang Italia mengurangi beban pikirannya, mereka akan lebih sering menang. Hasilnya memang tidak luar biasa; mereka, tentu saja, tidak seperti orang Brazil. Dan bahwa Prancis baru saja mulai memenangkan pertandingan sementara Italia telah memenangkannya di tahun 30-an dengan tangan Piola, Persis seperti tangan Tuhan Maradona!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Mengapa sejarah olahraga di Italia penuh dengan persaingan; AC Milan vs Inter, Roma vs Lazio, Coppi vs Bartali, Moser vs Saronni, dll?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Persatuan Italia hanya ada pada tahun 1870. Sejarah Italia adalah sejarah kota/negara kota: Florence vs Pisa, Venesia vs Milan, Roma vs Napoli, dll. Bahasa Italia baru terbentuk pada tahun 30-an, di bawah fasisme dan disebarluaskan oleh radio. Sampai saat itu, Anda tidak dapat dimasukkan ke dalam resimen yang sama dengan orang-orang dari Valle d’Aosta dan Sisilia. Ketika mereka diminta untuk maju, beberapa akan mundur! Sejarah negara sangat baru; Sejarah kota sangat tua dan ia merupakan sejarah kelas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Pasangan/istri Anda adalah seorang Interista dan berkata tentang Inter: ‘Mereka selalu kalah dan itu luar biasa … Seperti kekalahan legendaris Hungaria pada tahun 1954’?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Awas! Kita membicarakan dengan seorang wanita Prancis yang sudah lama tinggal di Italia dan, sebelum saya, memiliki rekan yang merupakan suporter Inter. Suatu jenis nostalgia untuk Nerazzurri telah tercipta. Inter memiliki citra tim yang sangat ‘bijaksana’ atau mungkin ‘cerdas’, di mana orang-orang lebih mempertimbangkan interior daripada eksterior. Hungaria* adalah tim sepak bola ‘Danubian’ yang hebat; gaya yang sangat halus, bermain lebih banyak di sepanjang ‘in-line’ daripada melalui massa. Sepak bola Italia yang hebat adalah perpaduan dari dua asal: sepak bola ‘Danubian’ dan sepak bola Argentina. ‘Danubian’ adalah ‘in-line’; orang Argentina adalah individu. Dan dari sana muncul apa yang oleh jurnalis Brera disebut sebagai ‘ras petani Italia’. Ketiga elemen ini harus disatukan dan Anda memiliki sintesis dialektis yang sempurna, massa sepak bola Italia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Apakah Anda pergi ke stadion saat berada di Milan?&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Tidak, hampir tidak pernah. Ketika saya di Paris, saya pergi menonton pertandingan di rumah teman. Kami adalah sekelompok mantan orang buangan, kami berkumpul pada hari Selasa dan Rabu. Di antara kami ada seorang koki, pemilik sebuah restoran besar di Paris. Kami makan enak dan menonton pertandingan. Beberapa adalah pendukung Milan, lainnya Juventus, dan kami bertengkar. Kami membuat ulang sejenis komedi Italia klasik yang hebat…&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;P: Anda tidak pernah berbicara tentang sepak bola Prancis…&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;N: Pada 1954-1955 saya menghabiskan satu tahun di Prancis, di ENS; Saya tidak membayangkan bahwa sepak bola ada di Prancis saat itu. Di sini (Prancis) hal itu adalah produk kolonialisme. Hati-hati, saya tidak ingin dilihat atau dipahami sebagai seorang para pendukung LePen yang mengatakan hal ini! Saya tidak ingin mengeluarkan pemain kulit berwarna dari Prancis, tetapi di Prancis, sepak bola lahir dari imigrasi Italia. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Prancis adalah satu-satunya negara di Eropa Barat di mana hampir semua level imigrasinya pernah bermain di tim nasional. Pemain kulit hitam Inggris pertama tidak ada yang terpilih sampai 1978! &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hidup integrasi ala Prancis!***&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;* &lt;em&gt;Brigate Rossonere&lt;/em&gt;… Kelompok Ultras pendukung AC Milan yang dibentuk pada tahun 60-an dan masih eksis hingga saat ini.&lt;br /&gt;
* &lt;em&gt;Giuseppe Meazza…&lt;/em&gt; Mantan menteri dalam pemerintahan Berlusconi. Meluncurkan gerakan ekstrem kanan di awal tahun 90-an dengan mengubah MSI neo fasis menjadi Alianza Nacional ‘pasca-fasis’.&lt;br /&gt;
* &lt;em&gt;Gianfranco Fini…&lt;/em&gt; Mencetak 30 gol dalam 34 pertandingan bersama tim Italia, dua di antaranya pada final Piala Dunia 1938 (4-2 vs. Hungaria), Silvio Piola menjadi terkenal dengan mencetak gol dengan tangannya pada tahun 1939 melawan Inggris (2-2).&lt;br /&gt;
* &lt;em&gt;Hungaria&lt;/em&gt;… Antara tahun 1950 dan 1955, tim nasional Hungaria tidak kalah lebih dari 1 dari 33 pertandingan: final di Piala Dunia vs Jerman (3-2)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>29 Jan 2021</pubDate>
        <link>/negri-antara-sepak-bola-dan-perlawanan-kelas</link>
        <guid isPermaLink="true">/negri-antara-sepak-bola-dan-perlawanan-kelas</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kiat-kiat Memahami Politik di Jawa</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul buku&lt;/strong&gt;: Ratu Adil&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Sartono Kartodirdjo&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Sinar Harapan&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal buku&lt;/strong&gt;: 158 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun terbit&lt;/strong&gt;: 2014 (cetakan ketiga)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://shopee.co.id/Ratu-Adil-Sartono-Kartodirdjo-i.207062002.7070656912&quot;&gt;BUY ON SHOPEE&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejarah dan politik adalah ilmu pengetahuan yang saling bertautan, ingin belajar politik, maka juga harus mempelajari sejarah, begitupula belajar sejarah akan bersentuhan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan politik. Maka dari itu, Sartono Kartodirdjo, selaku sejarawan ternama dari Indonesia, berusaha menuliskan sebuah sejarah tentang gerakan sosial dan politik di Indonesia, khususnya di Jawa. Beliau melihat bagaimana sebuah gerakan terjadi, sehingga pendekatan sejarah melahirkan sebuah “kajian politik” yang wajib untuk dibaca oleh para pelajar baik di bidang ilmu politik maupun sejarah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sesuai dengan judulnya, buku ini memang mengulas di sekitar peristiwa sejarah yang memiliki unsur “Ratu Adil”-nya. Banyak kejadian perlawanan terhadap pemerintah di masa penjajahan ternyata kerap memiliki pemahaman Ratu Adil di dalamnya. Hal ini tidak terlepas dari ketidakberdayaan masyarakat Hindia Belanda, khususnya Jawa dalam melawan pemerintah kolonial Belanda tanpa seorang pemimpin yang dianggap sebagai juru selamat (mesias) sebagai unsur pertama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para juru selamat ini, menurut Sartono, kerap muncul dalam bentuk guru agama, orang berilmu, bahkan dukun, intinya adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan spiritual di atas rata-rata. Hal itu berdampak pada corak pergerakan yang bersifat mistis (kekebalan terhadap peluru, kekuatan supranatural, dan sejenisnya) yang mewarnai gerakan &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/gagasan-keagamaan-dan-kesenjangan-sosial/&quot;&gt;sosial-politik&lt;/a&gt; awal di Jawa. Muncul banyak sebutan bagi mereka yang dikabarkan akan membawa keadilan di bumi pertiwi, mulai dari &lt;em&gt;erucokro&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;satrio piningit&lt;/em&gt;, hingga &lt;em&gt;Ratu Adil&lt;/em&gt;. Bagi penulis, sudah menjadi anggapan umum bahwa pemimpin yang berkarisma adalah bahaya laten bagi pejabat yang berkuasa, karena kekuatan karisma pada dasarnya &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kenali-musuhmu-kenali-fasisme/&quot;&gt;revolusioner&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Unsur kedua lainnya adalah penolakan terhadap keadaan yang ada juga harapan akan datangnya zaman yang adil dan damai (&lt;em&gt;millenium&lt;/em&gt;). Semakin buruk sebuah masa, semakin memungkinkan untuk memunculkan sebuah kelompok-kelompok baru yang menjadi oposisi kekuasaan yang akan menganggap diri mereka sekaligus pemimpinnya sebagai alternatif politik yang akan membawa kemakmuran dan keadilan menggantikan masa yang penuh cobaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal ini terjadi di abad ke-21 di Indonesia, di mana &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kritikan-habib-rizieq-shihab-terhadap-pemikiran-liberal/&quot;&gt;Habib Rizieq Syihab&lt;/a&gt; menjadi sebuah oposisi yang kuat dari pemerintah Indonesia sehingga pengikutnya pun menjadi sangat militan dalam membelanya, bahkan dalam posisi sang Habib terancam. Kedatangan &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kritikan-habib-rizieq-shihab-terhadap-pemikiran-liberal/&quot;&gt;Habib Rizieq&lt;/a&gt; dianggap layaknya kedatangan Ratu Adil (atau Imam Mahdi dalam Islam) yang akan membawa perbaikan tatanan politik di masa rezim Joko Widodo. Buku ini turut menyajikan konsep-konsep politik yang bisa digunakan untuk menelaah peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa kini (&lt;em&gt;relatable&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kembali kepada buku, selain unsur pemimpin dan penolakan pada kondisi, sebetulnya ada satu unsur lagi yang juga secara implisit tersampaikan dalam buku ini adalah adanya sebuah ramalan. Ramalan ini seperti memenuhi ekspektasi masyarakat akan zaman keadilan yang membebaskan mereka dari belenggu penjajahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hampir semua contoh yang disampaikan oleh Sartono bersifat oposisi terhadap pemerintah, nampaknya mesianisme di Jawa memang muncul untuk menjadi pengimbang kekuasaan. Akan tetapi gerakan-gerakan mesianisme sebelum kemerdekaan dapat ditumpas dengan cepat oleh pemerintah kolonial, ini menjadi unsur baru yang cukup menggelikan, bahwa dengan ramalan yang begitu besar, pada kenyataannya kekuatan mereka kurang sepadan dengan musuhnya, kecuali perlawanan yang dilakukan Pangeran Diponegoro dengan posisi dia adalah seorang bangsawan Jawa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah mengulas dengan mendalam mengenai gerakan sosial-politik Jawa yang bercorak mesianistik, Sartono melanjutkan uraiannya kepada budaya dan tradisi yang ada di pedesaan Jawa dan kaitannya dengan gerakan-gerakan tersebut. Pada bab ini, penulis memulai dengan mengulas bagaimana hubungan patron-klien terjadi di desa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Budaya patron-klien ini membuat petani selalu tergantung pada patronnya dan akan menyediakan barang maupun jasanya demi perlindungan jasmaninya. Budaya ini memang sangat kental di &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/mengenal-politik-dan-kekuasaan-dalam-kebudayaan-jawa/&quot;&gt;Jawa&lt;/a&gt; sehingga dari dulu hingga sekarang, mereka yang bekerja di bidang pemerintahan selalu dipandang sangat tinggi statusnya meskipun posisi yang disandangnya dalam pemerintahan tidak bisa dibilang tinggi. Ketertindasan petani yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda dengan ditolong oleh kroni pejabat pribuminya membuat pejabat pribumi menjadi sasaran amuk massa juga ketika pecah kerusuhan atau pemberontakan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masuknya nilai-nilai Barat yang di bawa oleh pemerintah kolonial Belanda mengubah pola pikir dan pandangan masyarakat Jawa. Priyayi yang dulunya dianggap sebagai seseorang yang bermartabat dan terhormat justru mulai tidak disukai oleh masyarakat Jawa biasa karena mereka mengekor kepada pemerintah “kafir” sehingga priyayi atau bangsawan Jawa termasuk ke dalam kelompok yang dianggap dekaden.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jurang antara masyarakat dan priyayi semakin melebar dan membuat ketegangan di antara keduanya membesar, sebaliknya, kaum agamawan yang memang tidak memiliki ambisi politik muncul sebagai entitas politik yang nantinya berhadapan dengan para priyayi, karena mereka dianggap dapat mewakili keresahan yang merebak di antara para penduduk Jawa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sartono membagi jenis gerakan sosial di Jawa menjadi tiga jenis: gerakan milleniarism, gerakan mesianistis, dan Perang Suci. Gerakan milleniarisme berbicara akan munculnya zaman keemasan yang akan membawa masyarakat pada kemakmuran, gerakan mesianistis berkaitan dengan kemunculan Juru Selamat (seperti Herucokro, Satrio Piningit, Ratu Adil, atau Imam Mahdi), dan Perang Suci atau Perang Sabil berkaitan dengan peperangan melawan orang “kafir” yang melakukan penindasan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tipologi gerakan ini membantu para pembaca untuk mengamati dan menelaah gerakan-gerakan sosial tradisional yang sering terjadi di pedesaan, di mana kepercayaan supranatural atau pada hal-hal gaib masih kental. Inilah bedanya perkotaan dan pedesaan sehingga muncul istilah, &lt;em&gt;kota mawa tata, desa mawa cara&lt;/em&gt;. Adapun nativisme dalam gerakan di Jawa ialah berkaitan dengan bagaimana sebetulnya muncul kesadaran pribumi dalam melihat bahwa orang asing (terutama Belanda) akan membawa kesengsaraan di Jawa. Nativisme ini sebetulnya memiliki dimensi xenofobik (fobia orang asing), namun hal itu tidak muncul dengan sendirinya karena dipicu oleh penjajahan yang memunculkan kebencian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Secara umum gerakan sosial di Jawa yang dibahas oleh penulis memang dilatarbelakangi oleh penjajahan dan membawa peranan hal-hal mistis/gaib serta agama dalam menunjang perlawanannya. Namun Ratu Adil tidak pernah menghilang dalam benak masyarakat Jawa, terutama yang masih mempercayai hal-hal mistis dan spiritual. Demokrasi tidak boleh menyingkirkan orang-orang ini, jika memang kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi masih dipegang oleh pemerintah. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>07 Jan 2021</pubDate>
        <link>/kiat-kiat-memahami-politik-di-jawa</link>
        <guid isPermaLink="true">/kiat-kiat-memahami-politik-di-jawa</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Menikmati Anugerah Akal Lewat Buku Jostein Gaarder</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul buku:&lt;/strong&gt; Misteri Soliter&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis:&lt;/strong&gt; Jostein Gaarder&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&lt;/strong&gt; Mizan&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun terbit:&lt;/strong&gt; 2016 (Cetakan II)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal buku:&lt;/strong&gt; 484 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN:&lt;/strong&gt; 978-979-433-903-9&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat masih menjadi mahasiswa semester satu Ilmu Politik (dan Administrasi Negara), kami punya mata kuliah wajib &lt;a href=&quot;/category/filsafat&quot;&gt;Pengantar Filsafat&lt;/a&gt;. Di awal perkuliahan, sang dosen bertanya seputar apa yang kami ketahui tentang filsafat saat itu dan siapa saja filsuf yang kami kenal. Nama Aristoteles, Socrates, Plato, Rene Descartes, Friedrich Nietzsche adalah yang paling banyak disebut. Selanjutnya, sang dosen bertanya karya apa yang kami ketahui dari &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/marx-seorang-filsuf-sekaligus-ekonom/&quot;&gt;filsuf&lt;/a&gt; tersebut. &lt;em&gt;Also sprach Zarathustra&lt;/em&gt; adalah yang paling dikenali. Mungkin karena tak sedikit yang menganggap sang filsuf penulis buku itu orang yang nyentrik. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu, giliran sang dosen menyebut buku-buku yang bisa kami baca sebagai pengantar. Salah satu di antaranya adalah buku Dunia Sophie karya Jostein Gaarder yang diterjemahkan Mizan. Buku itu tentunya bukan bagian dari kurikulum mata kuliah. Tetapi, seperti yang dikatakan Beliau, buku itu adalah pengantar yang bagus dan bacaan yang ringan di antara bacaan akademis yang harus mulai kami biasakan sebagai mahasiswa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jostein Gaarder adalah penulis novel yang istimewa. Buku-bukunya berupaya mengenalkan dunia filsafat secara menyenangkan; yang bagi akademisi dijelajahi melalui renungan rumit dan seolah menelusuri jalan berkelok nan bercabang. Karena berupa novel/karya sastra, orang bebas memahami sekehendak hatinya. Bebas memaknai sejauh pemahamannya. Dikemas dalam petualangan dan karakter bak negeri &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/derasnya-fantasi-samudra-dongeng/&quot;&gt;dongeng&lt;/a&gt;, buku Jostein Gaarder juga bisa dinikmati pembaca dewasa-muda. Menjaga agar setiap orang, pembaca muda maupun dewasa, tetap memiliki imajinasi yang hidup dan waras.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku yang diterjemahkan dari versi bahasa Inggrisnya, &lt;em&gt;The Solitaire Mystery&lt;/em&gt;, oleh Mizan ini lumayan tebal. Kita akan dibawa berkendara melintasi Eropa oleh Hans Thomas dan ayahnya—yang ia panggil Pa. Mereka berkendara dari Arendal, Norwegia ke Athena, kota kelahiran para filsuf dengan Fiat merah. Tujuannya ialah menemukan Mama Hans Thomas yang pergi meninggalkan mereka delapan tahun silam demi mencari jati diri. Berbekal foto Mama dari majalah mode, mereka berangkat mencari Mama dan untuk mengajaknya pulang ke Arendal. Pa adalah orang yang telah lama hidup di laut. Gemar mengoleksi kartu Joker dan gemar &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/pengantar-memahami-heidegger-sang-guru-dari-jerman/&quot;&gt;berfilsafat&lt;/a&gt;. Tak jarang, Pa mengajak Hans Thomas turut dalam renungan filosofisnya. Selama berkendara, mereka akan berhenti beberapa kali agar Pa bisa istirahat untuk merokok. Di setiap istirahat itu, Pa akan mulai berfilsafat atau berkisah tentang sejarah keluarga.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hans Thomas, sang tokoh utama kita, adalah anak laki-laki berusia 12 tahun yang sudah mulai bisa berfilsafat sendiri seperti ayahnya. Suatu ketika dalam perjalanan, ia bertemu kurcaci yang menghadiahinya kaca pembesar. Si kurcaci menunjukkan jalan menuju Dorf, desa kecil nan tenteram di atas Pegunungan Alpen. Tak sangka, di Dorf ia menemukan satu-satunya toko roti dan pembuat roti tua yang memberinya empat roti kadet dan soda rasa buah pir. Kejutan lain datang dari roti kadet terbesar yang ia makan terakhir. Di dalamnya tersembunyi buku yang ditulis dengan huruf super kecil. Sampai-sampai butuh kaca pembesar untuk membaca halaman-halamannya. Penulisnya ialah Hans, pelaut yang pernah terdampar di pulau ajaib sebelum akhirnya berhasil selamat dan lari ke Dorf. Di pulai itulah kisah penuh petualangan dan teka-teki dimulai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti subjudulnya, &lt;em&gt;Filsafat dalam Setumpuk Kartu Remi&lt;/em&gt;, kita akan diajak untuk menjelajahi makna keberadaan manusia melalui kartu remi. Buku roti kadet akan membantu kita mengungkap rahasia pulau ajaib, tempat Frode—pelaut yang terdampar 52 tahun lalu sebelum Hans—dan kartu reminya &lt;em&gt;dimainkan&lt;/em&gt;. Tapi, perhatikan! Kisahnya mungkin akan membingungkan. Maka, tidak masalah jika harus dibaca perlahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kisah dalam buku roti kadet yang dibaca Hans Thomas ternyata berkaitan dengan kisah keluarganya yang sempat bernasib malang. Kemalangan yang sempat membuat Hans Thomas melihatnya sebagai kutukan keluarga. Tapi, Pa membuat Hans Thomas memikirkan bahwa hidup mereka adalah rangkaian keberuntungan besar. Bahwa nenek moyang mereka (dan diri kita sendiri tentunya), berhasil melalui ujian-ujian sejarah hingga rantai generasi itu tak terputus. Lalu lahirlah Pa dan Hans Thomas. Meski dalam situasi yang kurang beruntung. Pa tidak pernah tahu siapa ayahnya. Sedangkan Hans Thomas ditinggal Mama ke Athena sejak usia empat tahun. Setidaknya, itulah keberuntangan besar mereka. Mereka berhasil lahir ke dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dunia yang kita tinggali ini, ibarat sebuah permainan soliter raksasa. Dan layaknya kartu remi, ada orang-orang yang tergabung ke dalam kelompok-kelompok. Ada sekop, keriting, wajik, dan hati. Tapi, meski berada dalam kelompok sama, setiap individu berbeda. Hanya ada satu dua wajik, hanya ada satu jack hati, hanya ada satu raja sekop. Saking terbiasanya berada dalam kelompok, terbiasa memiliki peran masing-masing, dan terbiasa melihat dunia; manusia bisa menjadi tumpul inderanya. Mereka jadi terbiasa dengan yang ada di sekelilingnya. Tanpa bertanya. Mereka menjalani hidup begitu saja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi, dalam satu pak kartu remi, setidaknya ada satu atau dua joker. Joker bukanlah sekop, keriting, wajik, atau hati. Karena berbeda, Joker kadang tidak mahir dalam peran tertentu seperti para sekop, keriting, wajik, dan hati. Sehingga, ia punya lebih banyak waktu untuk mengamati kelompok-kelompok kartu remi itu. Ia bisa melihat &lt;em&gt;menembus&lt;/em&gt; mereka. Ia punya waktu dan kemampuan untuk mempertanyakan sekelilingnya, mencoba mengungkap misteri kehidupan. Meskipun tidak sepenuhnya bisa ia capai. Semua pengetahuan tidak bisa direguk dalam satu kali kehidupan. Seperti yang dikatakan Socrates, satu-satunya hal yang aku tahu adalah bahwa aku tidak tahu apa-apa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, menurut Hans, orang paling beruntung yang bisa menikmati dunia selagi bisa tentulah anak-anak. Anak-anak yang baru lahir ke dunia, terutama, melihat dunia sebagai tempat asing. Segalanya asing. Mereka akan melihat ke setiap hal baru yang ditemuinya dengan antusias. Penuh tanya. Seiring anak-anak bertumbuh dewasa. Mereka jadi terbiasa dengan dunia. Mereka berhenti bertanya. Atau mengamati sebentar saja manusia lain untuk tahu apa nama dan kegunanaan benda di sekelilingnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku Jostein Gaarder ini akan menggelitik kembali rasa penasaran kita terhadap misteri kehidupan. Apa yang ada di sekeliling kita. Hal-hal sederhana yang sebelumnya tak pernah kita amati dengan teliti dan pertanyakan. Atau mungkin pernah, tapi tidak lagi. Ringkasnya, Jostein Gaarder melalui bukunya ini kembali mengajak kita untuk menikmati anugerah akal yang kita punya. Seberapa kuat pikiran kita untuk menghadirkan gagasan-gagasan yang abstrak itu muncul di depan mata. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(ich)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>30 Dec 2020</pubDate>
        <link>/menikmati-anugerah-akal-lewat-buku-jostein-gaarder</link>
        <guid isPermaLink="true">/menikmati-anugerah-akal-lewat-buku-jostein-gaarder</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kropotkin Dicurigai, Tapi Juga Dipuji</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Kropotkin and the Anarchist Intellectual Tradition&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Jim Mac Laughlin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Pluto Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 269 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: Juni 2016 (Cetakan I)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita sudah terlanjur salah kaprah mengidentikkan kata ‘anarkisme’ sebagai paham pro-kekerasan. Ketika kata itu disebut, maka yang terbayang dalam benak adalah aksi brutal, merusak, memporak-porandakan. Apalagi, selama ini elit kekuasaan juga memahami kata ‘anarkisme’ identik pada paham kekerasan. Bersikap anarkis jelas kemudian dianggap berperilaku brutal, cenderung pada aksi kekerasan. Salah kaprah ini sudah berlangsung lama, entah siapa yang mulai menyamakan kata ‘anarkis’ diidentikkan pada aksi kekerasan dan brutal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis buku ini hendak merombak kesalahkaprahan itu. Bahwa anarkisme tidaklah identik pada aksi kekerasan. Paham ini merujuk pada sejarah silam ketika warga masyarakat mengelola kesehariannya, tanpa pemimpin. Mereka tak butuh pemimpin bila dalam pemenuhan kegiatan sehari-hari, semuanya bisa dikerjakan sendiri. Oleh karena itu, anarkisme harus dipahami sebagai paham yang melihat kegiatan warga tanpa perlu kepemimpinan. Hal ini merujuk pada kata ‘anarkis’ yang sesungguhnya bermakna dari pecahan dua kata dalam bahasa Yunani, yakni ‘an’ yang berarti ‘tanpa’ dan ‘archus’ bermakna ‘pemimpin’. Maka, anarkis sejatinya bermakna ‘tanpa pemimpin’. Oleh karena itu, studi-studi tentang anarkisme kerap merujuk kepada kenyataan sosial dimana ada komunitas minus pemimpin. Para anggota komunitas sudah merasa berada pada peran masing-masing, berkarya sesuai kemampuan dan merumuskan masa depan bersama-sama. Itulah gambaran singkat tentang anarkisme.  &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam lima bab buku ini, penulis menguraikan peran Peter Kropotkin, intelektual Rusia, dalam menyusun wacana anarkisme. Dimulai dengan lintasan sejarah masyarakat yang memperlihatkan ciri-ciri anarkis. Artinya, masyarakat yang mengelola dirinya sendiri tanpa butuh intervensi atau campur-tangan pemimpin. Sejarah masyarakat semacam ini terjadi bukan saja di daratan Eropa, melainkan juga tampak di daratan Cina. Ketika ajaran filosofis Lao-Tse, yang dikumandangkan baik oleh Zhuangzyi dan Bao Jingyen sekitar abad ke-6 sebelum Masehi, menunjukkan karakter anarkis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Isinya, sindiran terhadap pemimpin yang diibaratkan sebagai perampok besar. Sindiran kaum anarkis kepada para pemimpin konyol terus berlangsung. Bahkan, di era modern saat ini, sindiran itu kerap muncul dalam bentuk seni dan budaya. Kaum anarkis acap menunjukkan sikap kritis pada pemimpin, tak peduli pada resiko akibat meledek para pemimpin. Kropotkin merumuskan dengan baik, kritik-kritik anarkis melalui berbagai pamflet dan buku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagai intelektual yang hidup diawal seperempat abad 20, Peter Kropotkin tentu boleh dibilang unik. Selain karena aktivitasnya bersentuhan erat pada kaum komunis, namun kenyataan memperlihatkan ia justru juga mengkritik kecenderungan kaum komunis mengusung pemimpin. Ia menghendaki suasana komunis harus bebas dari kendali pemimpin apalagi negara. Dalam pandangan Kropotkin, masyarakat tanpa pemimpin tentu tetap bisa menjalankan kerja-kerja keseharian. Sehingga, di tangan Kropotkin, kaum komunis itu mempunyai penggambaran sendiri dibanding yang diimajinasikan oleh Lenin, Plekhanov atau lainnya. Ia memang seorang aktivis yang punya tradisi intelektual panjang. Sebelum tampil sebagai aktivis, Kropotkin telah tuntas membaca karya-karya Voltaire, Kant, Hegel, Montesquieu. de Lamartine, sejarah klasik Yunani dan Romawi. Dari karya-karya itulah, serta perjalanannya melanglang Rusia, Kropotkin tentu jauh lebih matang ketimbang para dedengkot komunisme lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dan, sosok Peter Kropotkin yang diulas dalam buku ini, pertama kali dikenal sebagai seorang ahli geologi dan antropolog. Kala itu, Rusia masih di bawah sebuah kekaisaran, revolusi belum meletus di Rusia. Kropotkin melakukan perjalanan di seluruh wilayah Kekaisaran Rusia dan melaporkan temuan ilmiah dalam artikel dan makalah akademis, namun dalam perjalanan hidupnya ia berkembang menjadi penulis yang paling berpengaruh dari teori sosial anarkis. Mengelaborasi pada karya sebelumnya, pemikir libertarian seperti Pierre-Joseph Proudhon dan Michael Bakunin, ia mencoba untuk memberikan pemahaman pada anarkisme dengan dasar ilmiah yang rasional.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebaliknya, Proudhon dan Bakunin tidak berhasil merancang sebuah teori yang sistematis dan koheren anarkisme, Kropotkin mengabdikan seluruh hidupnya untuk memenuhi tugas ini. Hal itu terlibat dalam penelitian yang mendalam dan ia menulis buku tebal. Dia berusaha untuk memberikan konsepsi anarkis dengan koherensi dan kesatuan yang menarik. Ia secara sistematis memanfaatkan wawasan ilmu-ilmu alam. Itulah Kropotkin, yang kerap dicurigai, tapi juga dipuji. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebelumnya tayang di &lt;a href=&quot;https://surabaya-book-reviews.blogspot.com/2016/09/kropotkin-dicurigai-tapi-juga-dipuji.html&quot;&gt;The Surabaya Review of Books&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>16 Dec 2020</pubDate>
        <link>/kropotkin-dicurigai-tapi-juga-dipuji</link>
        <guid isPermaLink="true">/kropotkin-dicurigai-tapi-juga-dipuji</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Menguak Tafsir Baru Anarkisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul buku: Postanarchism&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pengarang: Saul Newman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xiv + 160 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cetakan: Pertama, Mei 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi orang awam, kata ‘anarkis’ selalu disamakan dengan aksi kekerasan. Bahkan kata itu juga ditujukan untuk semua aksi anti-keteraturan, melawan tatanan, sampai memicu kekacauan. Anarkis lalu dipahami sebagai perbuatan merusak, membongkar plus mengacaukan. Jika disebut kata ‘anarkis’ atau ‘anarkisme’, boleh jadi siapapun yang dengar spontan bergidik bulu kuduknya. Padahal makna kata anarki yang berasal dari bahasa Yunani ini, bisa dipecah jadi dua kata, ‘an’ yang bermakna ‘tidak’, dan ‘arkhos’ yang berarti ‘pemimpin’. Maka, ‘anarkisme’ boleh dikata sebagai paham otonom anti-kepemimpinan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sehingga, bagi penulis buku ini, anarkisme bukanlah kriminalitas. Ia bukan jenis kejahatan, melainkan ia adalah ekspresi politik radikal yang bertumpu pada sikap otonom individu. Sikap ogah menghamba, menolak penghambaan. Bagi Saul Newman, gerakan anarkisme di seluruh dunia selalu menawarkan gagasan orsinil membedah eksploitasi. Seorang yang berpikiran anarkis adalah sosok yang tak mau tunduk pasrah begitu saja pada hegemoni apapun. Ia selalu bersikap kritis terhadap dominasi, eksploitasi bahkan terhadap hegemoni yang halus sekalipun.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Paham anarkisme ini sudah mewabah ke seluruh jagat. Memasuki benak kaum muda di berbagai negara, kemudian membangkitkan kegairahan baru kehidupan politik kaum muda progresif. Seperti tampak pada gerakan anti-penguasa di Tunisia, Mesir (Tahrir Square) sampai aksi ‘Occupy Wall Street’ selama kurun 2011-2012. Gerakan otonom ini bersifat masif. Tidak ada pemimpin aksi, sebab semua peserta aksi berada dalam kesetaraan memahami situasi. Tidak ada pemegang komando aksi, karena seluruh anggota aksi mempunyai kesadaran yang sama melawan penguasa yang sudah merampas hak politik warga. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ditulis dengan gaya renyah, buku tipis ini berisi enam bab pembahasan. Sebagai guru besar teori politik Universitas London, Saul Newman tampak memahami kaum muda pembaca bukunya. Ia terlebih dulu menguraikan beda anarkisme dari Marxisme atau Leninisme. Jika kedua paham abad 20 itu merujuk ke nama para perintisnya, yakni Marx dan Lenin, maka anarkisme haram merujuk hanya pada satu nama besar seperti Bakunin. Banyak nama besar penyumbang gagasan anarkisme, namun yang terpenting tentu isi gagasannya ketimbang orangnya. Ibarat obat, anarkisme ini sejenis paham generik anti-otoritarian, emoh penindasan.     &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lagipula, revolusi yang selalu menjadi impian kaum Marxis, kini sudah usang. Selain dikarenakan revolusi yang sudah pasti memakan banyak korban jiwa, justru dalam situasi kini yang dibutuhkan masyarakat adalah bergerak minus korban. Bukan atas nama revolusi, para pengusung anarkisme lebih doyan menggunakan kata ‘insureksi’ (kebangkitan). Fenomena insureksi terjadi dimana-mana, dari negara maju sampai negara berkembang. Para warga anti-penggusuran sudah menjalar berkat kesadaran atas hak-haknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ditegaskan Newman, perbedaan antara revolusi dan insureksi adalah pada hasilnya (hlm.47-67). Pengusung ide revolusi akan menekankan perlunya hirarki baru usai revolusi. Insureksi justru menekan kan pada jaringan, karena anarkis menolak segala bentuk hirarki. Alasannya, hirarki hasil revolusi akan menyebabkan pemberontakan menjadi sebuah siklus tanpa akhir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jaringan kaum anarkis dibentuk atas dasar persamaan hak dan kewajiban. Lalu, timbullah emansipasi dan toleransi antar pelaku, tidak ada perebutan kekuasaan. Meskipun terlihat sangat ideal dan mengada-ada, tapi banyak pemberontakan sekarang malah berbentuk insureksi, seperti Occupy Wall Street di tahun 2011. Juga demonstrasi di Seattle pada tahun 1999, kemudian demonstrasi mahasiswa Chile yang baru saja terjadi. Paham anarkisme malah mendorong hidup secara otonom dan saling toleran antara satu orang dengan lainnya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebelumnya tayang di &lt;a href=&quot;https://surabaya-book-reviews.blogspot.com/2016/08/menguak-tafsir-baru-anarkisme.html&quot;&gt;The Surabaya Review of Books&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>14 Dec 2020</pubDate>
        <link>/menguak-tafsir-baru-anarkisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/menguak-tafsir-baru-anarkisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Geger Komunis di Indonesia, Hubungan Soviet dan Indonesia yang Tak Terungkap</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Dari Moskow ke Madiun? &lt;em&gt;Stalin-PKI dan Hubungan Diplomatik Uni Soviet-Indonesia, 1947-1953&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Larissa M. Efimova&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Syarikat Indonesia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: xi+171 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2010&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9789781287046&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejarah Indonesia itu panjang dan rumit. Satu kisah memunculkan kisah yang lain. Kemerdekaan memunculkan permasalahan lain: mempertahankan kemerdekaan itu. Serangkaian pertempuran dan perundingan dilakukan demi mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamasikan setelah kejatuhan Jepang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Agar perjuangan tidak sia-sia, banyak perwakilan Indonesia berkeliling dunia dan meminta bantuan negara lain untuk mengakui keberadaan Republik Indonesia. Upaya ini disambut oleh negara seperti Mesir, ditolak (pastinya) oleh Belanda dan kawan-kawannya, ada juga beberapa yang masih abu-abu seperti Amerika Serikat. Bagaimana dengan Uni Soviet? Itulah yang akan dibahas dalam buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita dapat menemukan banyak bahan bacaan tentang hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat, namun sangat jarang yang mengulas hubungan diplomatik Republik Indonesia dengan Republik Sosialis Uni Soviet. Belum ada bukan berarti tidak ada. Buku ini secara khusus menyingkap koneksi Soviet dengan Indonesia melalui dokumen-dokumen rahasia Soviet yang sudah dideklasifikasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Awal hubungan Indonesia dan Soviet dimulai dengan dikirimkannya seorang Komunis-Stalinis bernama Soeripno yang berhasil menjalin kontak dengan Dubes Soviet untuk Cekoslowakia pada tahun 1948. Namun tidak ada kelanjutan yang signifikan dari kontak tersebut. Jatuhnya kabinet Amir dan naiknya kabinet Hatta turut berdampak pada kemandekan hubungan yang dibangun Soeripno di Cekoslowakia. Ketika di sinilah Soeripno juga bertemu dengan Musso yang nantinya akan memimpin pemberontakan PKI tahun 1948 di Madiun.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak hanya dengan Musso, Soeripno juga bertemu dengan Paul de Groot, sekretaris jenderal Partai Komunis Belanda. Bagi Larisa, ialah Partai Komunis Belanda yang membuat Musso melakukan aksi di Madiun, bukan PKUS, karena yang mengetahui usaha Musso untuk kembali ke Indonesia dan yang sering berhubungan dengan Musso adalah Paul de Groot.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sementara itu, jatuh bangunnya kabinet membuat kebijakan luar negeri Indonesia tidak konsisten, apalagi Indonesia selalu mencari jalan aman dalam melaksanakan politik luar negerinya. Dengan menyepakati meminta dukungan dari Soviet maka nanti Indonesia akan dianggap bergabung dalam Blok Timur atau komunis ketika Perang Dingin berkecamuk. Namun, Musso yang sudah lama di Soviet nampaknya mendapat tekanan dari PKUS berkenaan dengan kondisi Indonesia dan kebijakan kelompok kiri di sana, salah satunya kabinet Amir Sjarifuddin yang meskipun membentuk Partai Sosialis bersama Sjahrir namun memiliki kecenderungan terhadap komunisme, dan pada akhirnya ikut dalam Pemberontakan 1948 yang berujung pada kematiannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini lebih menonjolkan peranan Musso dalam pembaharuan pandangan PKI yang melahirkan “Jalan Baru untuk Republik Indonesia” sebagai cara untuk membuat PKI “lebih komunis” dan tidak sembunyi-sembunyi semenjak PKI menjadi sasaran pemerintah seusai pemberontakan Prambanan. Larissa nampaknya ingin memperlihatkan wajah PKUS yang baik dan tidak menampakkan Musso sebagai “boneka Soviet.”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis ingin membuat citra yang baik dari Soviet saat masih memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia yang diperlihatkan melalui interpretasi terhadap dokumen-dokumen rahasia Soviet. Ia juga melancarkan kritik terhadap pengkaji komunisme seperti Arnold C. Brackmann, Donald Hindley dan Van der Kroef yang kurang mendalam melihat peranan Soviet dalam hubungannya dengan Indonesia ketika perjuangan kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pembahasan lainnya yang menarik adalah ketertarikan Stalin terhadap Indonesia. Stalin memberikan banyak komentar terhadap program yang dibuat oleh PKI dan berharap PKI bisa menjadi pengimbang kekuatan PKC di Asia. Stalin bahkan pernah meminta komentar dari Mao Zedong tentang PKI. Ia juga memberikan komentar terhadap program PKI sekaligus berdiskusi dengan para anggotanya, baik melalui surat atau bertatap muka secara langsung. Bagian buku ini menarik, namun kurang memberikan kritik pada peranan Stalin dan cenderung menggambarkan Stalin sebagai bapak yang penuh kasih sayang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menariknya, pada bagian selanjutnya, penulis justru mengutip memoar Khruschev bahwa Stalin tidak pernah menyebut nama Indonesia sama sekali kepadanya dan para pemimpin Soviet pun demikian. Hal ini berkontradiksi dengan apa yang disampaikan sebelumnya, di mana masih ada perhatian yang dicurahkan Stalin terhadap Indonesia, namun apa yang disampaikan pada bagian terakhir ini di ambil dari pernyataan Khruschev yang bisa saja memang Stalin tidak pernah berbicara mengenai Indonesia kepadanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis juga menyebutkan bahwa pada 10 November 1945, Sukarno mengucapkan selamat kepada Soviet atas peringatan revolusi oktober, namun baru pada 8 Desember 1945, Soviet memberikan pengakuan tidak langsung kepada Republik Indonesia. Meskipun Indonesia meminta pengakuan penuh, namun untuk sementara Soviet hanya bisa memberikan pengakuan &lt;em&gt;de facto&lt;/em&gt; karena masih kurang memahami apa yang terjadi di Indonesia secara menyeluruh.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun pembahasan tentang Indonesia di Dewan Keamanan dan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Soviet berpihak kepada Indonesia dengan alasan taktis untuk mengalihkan perhatian dari permasalahan Iran yang mengeluh atas campur tangan Soviet terhadap urusan dalam negerinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Uni Soviet sendiri penuh perdebatan masalah apakah mengakui Republik Indonesia Serikat (RIS) atau tidak, karena beranggapan bahwa RIS adalah bentukan Belanda dan Amerika Serikat yang bekerjasama dengan nasionalis kanan di Indonesia. Hal ini pastinya berlawanan dengan kepentingan Soviet di Asia Tenggara. Namun kebijakan ini berubah dan Soviet mengakui keberadaan RIS pada 25 Januari 1950. Perubahan sikap yang cukup cepat ini diuraikan secara mendalam oleh Larissa pada bagian terakhir buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi para pembaca yang mendalami hubungan diplomatik Indonesia-Soviet, buku ini sangat layak menjadi rujukan karena memuat sumber-sumber primer berupa dokumen yang sudah dibuka untuk penelitian, hanya saja tendensi penulis yang mengesankan Soviet sebagai pihak “yang baik” juga perlu dilihat ulang, ada baiknya kajian ke depannya melakukan kritik tidak hanya pada kalangan kiri di Indonesia, tapi juga Soviet sekalipun. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>06 Nov 2020</pubDate>
        <link>/geger-komunis-di-indonesia-hubungan-soviet-dan-indonesia-yang-tak-terungkap</link>
        <guid isPermaLink="true">/geger-komunis-di-indonesia-hubungan-soviet-dan-indonesia-yang-tak-terungkap</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Berkenalan dengan Edward Lear, Pelukis cum Penulis Sajak Jenaka dari Inggris</title>
        <description>&lt;p&gt;Bagi sebagian orang, nama Edward Lear mungkin terdengar asing. Tetapi, pembaca sastra klasik bahasa Inggris tentu familiar dengan nama Lewis Carroll, sang penulis buku &lt;em&gt;Alice’s Adventures in Wonderland&lt;/em&gt; (1865). Baik Lear maupun Carroll, keduanya dianggap sebagai penulis yang mempopulerkan penggunaan &lt;em&gt;nonsense verse&lt;/em&gt;. Keduanya sama-sama membantu kelahiran &lt;em&gt;literary nonsense&lt;/em&gt; &lt;a href=&quot;https://core.ac.uk/download/pdf/217004894.pdf&quot;&gt;era Victorian&lt;/a&gt;. Dalam tulisan ini, istilah &lt;em&gt;nonsense verse&lt;/em&gt; diterjemahkan sebagai ‘sajak jenaka.’ Sajak jenaka berbeda dengan istilah ‘cerita jenaka’ (&lt;a href=&quot;https://en.wikipedia.org/wiki/Fabliau&quot;&gt;&lt;em&gt;fabliau&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&quot;https://en.wikipedia.org/wiki/Farce&quot;&gt;&lt;em&gt;farcical tales&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam sastra Indonesia, terdapat istilah &lt;a href=&quot;https://id.wikipedia.org/wiki/Cerita_jenaka&quot;&gt;cerita jenaka&lt;/a&gt; yakni sebuah cerita yang menjadi bagian dari cerita rakyat, memuat unsur lucu, bersifat menghibur, edukatif, dan memiliki kritik sosial. Sedangkan &lt;em&gt;nonsense verse&lt;/em&gt; atau sajak jenaka berbentuk sajak ringan, menggambarkan karakter imajinatif yang menghibur (fantasi). Bernada ganjil, namun memiliki daya tarik ritmis. Serta kerap memasukkan ungkapan khayali dan kata-kata bualan. Biasanya ditujukan bagi anak-anak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Permainan kata dalam sajak jenaka—terutama yang &lt;a href=&quot;https://www.orwellfoundation.com/the-orwell-foundation/orwell/essays-and-other-works/nonsense-poetry/&quot;&gt;populer&lt;/a&gt; dari Edward Lear—murni berisi karakter imajinatif, berada di dunia khayali. Terkadang memasukkan istilah buatan sendiri dan tanpa bertujuan satir. Meskipun demikian, sajak jenaka Lear tidak semuanya berisi bualan. Hasil dari bongkar-pasang hingga membikin-bikin istilah ajaib dalam sajak jenaka Lear juga timbul dari penyimpangan logika.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;TOC&lt;/p&gt;

&lt;ul&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#pelukis-burung-untuk-museum-inggris&quot;&gt;&lt;strong&gt;Pelukis Burung untuk Museum Inggris&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#hidup-seorang-petualang-yang-malang&quot;&gt;&lt;strong&gt;Hidup Seorang Petualang yang Malang&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#tidak-ada-orang-bernama-edward-lear&quot;&gt;&lt;strong&gt;“Tidak ada orang bernama Edward Lear”&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#the-greatest-nonsense&quot;&gt;&lt;strong&gt;‘&lt;em&gt;The Greatest Nonsense&lt;/em&gt;’&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#akhir-yang-sunyi&quot;&gt;&lt;strong&gt;Akhir yang Sunyi&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;
    - &lt;a href=&quot;#sumber-dan-saran-bacaan-tentang-edward-lear&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sumber dan saran bacaan tentang Edward Lear&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;

&lt;h3 id=&quot;pelukis-burung-untuk-museum-inggris&quot;&gt;&lt;strong&gt;Pelukis Burung untuk Museum Inggris&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Edward Lear lebih dikenal sebagai pelukis lanskap di negeri kelahirannya, Inggris. Ia lahir di Holloway tanggal 12 Mei 1812. Lahir dari keluarga kelas menengah Inggris, ia adalah anak ke-20 dari 21 bersaudara. Ibunya bernama Ann Clark Skerrett dan ayahnya Jeremiah Lear. Kehidupan Lear sejak kecil tidak terlalu beruntung. Meski ayahnya sempat sukses sebagai makelar saham di London, pasca peperangan era Napoleon, ia turut mencatatkan &lt;em&gt;default&lt;/em&gt; ketika pasar saham ambruk. Ayahnya pun bangkrut. Lear berusia 13 tahun kala itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejak usia empat tahun, Lear tinggal bersama kakak tertuanya, &lt;a href=&quot;https://en.wikipedia.org/wiki/Edward_Lear&quot;&gt;Ann&lt;/a&gt;, hingga kakaknya wafat. Saat kondisi keuangan keluarganya memburuk dan ayahnya sempat dipenjara karena tak mampu membayar hutang-hutangnya setelah &lt;em&gt;default&lt;/em&gt;, ia berada di bawah asuhan kakak perempuan tertuanya, Ann. Ketika kondisi keuangan keluarganya pun membaik, ibunya memutuskan untuk membiarkan Lear diasuh kakaknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kakaknya lah yang bertindak sebagai ibu baginya, peran yang diambil Ann sepenuh hati. Meskipun Lear tidak mengenyam pendidikan yang cukup, namun kakaknya mendorongnya untuk membaca buku-buku sesuai usianya yang membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat belajarnya. Ann turut mendorong Lear untuk terus mengasah keterampilan menggambarnya. Keduanya sama-sama tak menikah hingga akhir hayat mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kesulitan keuangan di keluarganya menjadi salah satu alasan ia memulai karir menjadi seniman di usia 15 tahun. Ia kemudian bekerja untuk British Museum, membuat lukisan burung untuk John Gould, ahli ilmu burung. Publikasi pertama dari lukisannya adalah &lt;em&gt;Family of Psittacidae, or Parrots&lt;/em&gt; (&lt;a href=&quot;https://www.gutenberg.org/files/46392/46392-h/46392-h.htm&quot;&gt;1830&lt;/a&gt;), kala itu Lear berusia 19 tahun. Kesempatan melukis itu ‘diperolehnya’ setelah mengajukan izin ke Zoological Society of London pada &lt;a href=&quot;https://www.edwardlearsociety.org/biography/&quot;&gt;Juni 1830&lt;/a&gt; untuk melukis koleksi burung beo mereka.&lt;/p&gt;

&lt;iframe src=&quot;https://albumizr.com/a/Opn-&quot; scrolling=&quot;no&quot; frameborder=&quot;0&quot; allowfullscreen=&quot;&quot; width=&quot;700&quot; height=&quot;400&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;p&gt;Sebagian ilustrasi untuk &lt;em&gt;Family of Psittacidae, or Parrots&lt;/em&gt; (1832)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari kegiatan melukisnya itu, ia bertemu dan berbincang dengan Lord Stanley, kelak menjadi Earl of Derby ke-13. Lord Stanley kemudian memintanya untuk melukis burung dan mamalia dari kandang burung dan kebun binatang miliknya di Knowsley. Di tahun 1832, Earl of Derby mengundang Lear untuk tinggal di kediamannya. Di kediaman Derby itulah Lear menulis sajak untuk menghibur cucu-cucu Earl of Derby. Lear sendiri memiliki ketertarikan dan mudah dekat pada anak-anak. Ia mulai menulis pantun pendek. Sajak-sajak menghibur nan jenaka bagi cucu-cucu keluarga Derby. Jadilah &lt;em&gt;A Book of Nonsense&lt;/em&gt; (1846, lantas diperbesar di 1861) sebagai buku sajak pertamanya. Ia tinggal di kediaman keluarga Derby hingga 1837.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di tahun 1835, Lear memantapkan hatinya untuk fokus sebagai pelukis lanskap. Lear banyak bepergian selama hidupnya. Sejak 1837 ia berangkat ke Roma, meninggalkan Knowsley. Keputusannya didukung oleh Earl of Derby. Meskipun berjauhan, hubungan Lear dan keluarga Earl of Derby masih bertahan baik. Bahkan, pasca wafatnya Earl of Derby ke-13, saat Lear bepergian ke Eropa selatan hingga ke wilayah yang lebih jauh lagi, Earl of Derby ke-14 dan ke-15 terus membeli karya-karyanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/The-Mountains-of-Thermopylae_Edward-Lear.jpeg&quot; alt=&quot;The Mountains of Thermopylae_Edward Lear&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;The Mountains of Thermopylae, 1852&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di antara negara-negara yang dikunjungi Lear ialah Italia, dimana ia berkunjung selama tiga tahun pada 1837. Mengunjungi Yunani dan Mesir di tahun 1848-1849. Berkeliling India dan Ceylon di tahun 1873-1875. Termasuk pula Albania, Palestina, dan Suriah. Ia juga sempat memberi kursus melukis singkat bagi Ratu Victoria. Sajak-sajaknya juga ditulis selama kunjungannya ke negara-negara itu. Terinspirasi oleh lanskap yang dikunjunginya di tiap negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;The Pelican Chorus&lt;/strong&gt;
&lt;em&gt;We live on the Nile. The Nile we love.
By night we sleep on the cliffs above;
By day we fish, and at eve we stand
On long bare islands of yellow sand.
And when the sun sinks slowly down
And the great rock walls grow dark and brown,
Where the purple river rolls fast and dim
And the Ivory Ibis starlike skim,
Wing to wing we dance around,—
Stamping our feet with a flumpy sound,—
Opening our mouths as Pelicans ought,
And this is the song we nightly snort;—
   Ploffskin, Pluffskin, Pelican jee,—
   We think no Birds so happy as we!
   Plumpskin, Ploshkin, Pelican jill,—
   We think to then, and we thought so still.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sepanjang kunjungannya ke negara-negara itu, Lear juga menghasilkan beberapa karya lukis dan tulis. Di antaranya: &lt;em&gt;Illustrated Excursions in Italy&lt;/em&gt; (&lt;a href=&quot;https://play.google.com/store/books/details?id=VclMAAAAcAAJ&amp;amp;rdid=book-VclMAAAAcAAJ&amp;amp;rdot=1&quot;&gt;volume I&lt;/a&gt; dan &lt;a href=&quot;https://play.google.com/store/books/details/Edward_Lear_Illustrated_Excursions_in_Italy?id=f8pMAAAAcAAJ&quot;&gt;volume 2&lt;/a&gt;, 1846), &lt;em&gt;Journals of a Landscape Painter in Albania, &amp;amp;c.&lt;/em&gt; (&lt;a href=&quot;https://play.google.com/store/books/details/Edward_Lear_Journals_of_a_Landscape_Painter_in_Alb?id=8yopAAAAYAAJ&quot;&gt;1851&lt;/a&gt;, buku perjalanan bergambar), &lt;em&gt;A Book of Nonsense&lt;/em&gt; (&lt;a href=&quot;https://play.google.com/store/books/details/Edward_Lear_A_Book_of_Nonsense?id=oAwGAAAAQAAJ&quot;&gt;1846 &amp;amp; 1861&lt;/a&gt;), &lt;em&gt;Nonsense Songs, Stories, Botany, and Alphabets&lt;/em&gt; (&lt;a href=&quot;https://play.google.com/store/books/details/Edward_Lear_Nonsense_Songs_Stories_Botany_and_Alph?id=za0Jr0Pl7eoC&quot;&gt;1871&lt;/a&gt;), &lt;em&gt;More Nonsense, Pictures, Rhymes, Botany, etc&lt;/em&gt;. (&lt;a href=&quot;https://play.google.com/store/books/details/Edward_Lear_More_nonsense_pictures_rhymes_botany_e?id=5EECAAAAQAAJ&quot;&gt;1872&lt;/a&gt;), dan &lt;em&gt;Laughable Lyrics&lt;/em&gt; (&lt;a href=&quot;https://www.gutenberg.org/files/13649/13649-h/13649-h.htm&quot;&gt;1877&lt;/a&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;hidup-seorang-petualang-yang-malang&quot;&gt;&lt;strong&gt;Hidup Seorang Petualang yang Malang&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Vivien Noakes, seorang penulis biografi asal Inggris (1937-2011), menulis biografi Edward Lear dengan subjudul: &lt;em&gt;Hidup seorang Petualang&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;The Life of a Wanderer&lt;/em&gt;). Mengingat frekuensi bepergian Lear dan negara-negara yang dikunjunginya, subjudul ini boleh dikata tepat. Tetapi, juga &lt;a href=&quot;https://www.poetryfoundation.org/poets/edward-lear&quot;&gt;menyiratkan&lt;/a&gt; kegamangan, ketidakpastian tujuan, dan kesepian yang menghiasi hidup Lear. Emosi ini dapat ditangkap pada sajak-sajak jenaka Lear yang menggambarkan karakternya dalam kondisi yang tidak beruntung, murung, atau dalam kondisi aneh.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Barangkali perasaan itu juga didapat Lear dari kondisi kesehatannya yang kurang baik. Sejak usia lima tahun, ia menderita epilepsi. Di masa itu, kejang karena epilepsi dianggap kerasukan iblis. Bagi Lear, ‘iblis’ ini lah yang menjadi sumber rasa malu dan tidak percaya dirinya. Bahkan, hampir-hampir tidak ada orang di luar keluarganya yang mengetahui bahwa ia menderita epilepsi. Sebuah ‘aib’ yang harus ia ‘simpan’. Selain itu, ia juga memiliki sakit bronkitis dan asma. Di kemudian hari, ia juga mengalami kebutaan parsial.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hubungan romansanya pun kurang beruntung. Ia dua kali ditolak oleh gadis yang sama, 46 tahun lebih muda darinya yang dipanggilnya ‘&lt;em&gt;poor little Gussie&lt;/em&gt;’. Sekitar November 1867, setelah menerima surat dari Gussie di bulan Oktober, ia memutuskan untuk berangkat menemuinya. Ia akan melamar Gussie. Tetapi, ia memutuskan untuk berbicara dulu dengan kakak Gussie, Emma. Seolah ia tidak sanggup (kalau-kalau) menerima penolakan secara langsung. Entah apa saja yang dibicarakan, tetapi lamaran itu tidak berhasil. Ia menulis di buku hariannya, ‘Terimalah takdir yang sepi ini—ditahbiskan mungkin—atau akibat yang jelas dari sebab—dan manfaatkan sebaik-baiknya.’&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah penolakan itu, sebelum berangkat ke Prancis selatan pada 26 November 1867, ia menulis &lt;a href=&quot;https://www.nonsenselit.org/Lear/ns/fc.html&quot;&gt;cerita&lt;/a&gt; untuk anak dari kakak laki-laki Gussie. ‘&lt;em&gt;Once upon a time, a long while ago, there were four little people whose names were Violet, Slingsby, Guy and Lionel; and they all thought they should like to see the world…&lt;/em&gt;’ &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/courtship-of-the-yonghy-bonghy-bo.png&quot; alt=&quot;courtship-of-the-yonghy-bonghy-bo&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;The Courtship of the Yonghy-Bonghy-Bò&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;
&lt;em&gt;‘Lady Jingly! Lady Jingly!&lt;br /&gt;
Sitting where the pumpkins blow,&lt;br /&gt;
Will you come and be my wife?’—&lt;br /&gt;
Said the Yonghy-Bonghy-Bò.&lt;br /&gt;
‘I am tired of living singly,—&lt;br /&gt;
On this coast so wild and shingly,—&lt;br /&gt;
I’m a-weary of my life:&lt;br /&gt;
If you’ll come and be my wife,&lt;br /&gt;
Quite serene would be my life!’—&lt;br /&gt;
Said the Yonghy-Bonghy-Bò,&lt;br /&gt;
Said the Yonghy-Bonghy-Bò.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;tidak-ada-orang-bernama-edward-lear&quot;&gt;&lt;strong&gt;“Tidak ada orang bernama Edward Lear”&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;‘Aneh rasanya (dan kamu pun akan berkata demikian kalau melihatku) bahwa aku adalah orang yang membuat tiga atau empat ribu orang sekaligus tertawa di Inggris,’ tulis Lear setelah publikasi &lt;em&gt;More Nonsense&lt;/em&gt; di 1871. Namun, buku pertamanya lah yang lebih populer, &lt;em&gt;A Book of Nonsense&lt;/em&gt;. Hingga Routledge mencetak ulang terus-menerus. Awal bulan Desember 1866 saja, buku itu sudah masuk cetakan ketujuh belas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sayangnya, ternyata ada juga yang mempercayai bahwa &lt;em&gt;A Book of Nonsense&lt;/em&gt; adalah buku karya Earl of Derby. Orang-orang berpikir Edward Lear adalah anagram atau nama pena dari Earl of Derby, karena ia tidak ingin dikenal dengan julukan bangsawannya. Serta bahwa buku itu didedikasikan untuk cucu-cucu keluarga Derby (Lear memang menulis buku itu untuk mereka). Ini menarik sekaligus miris bagi Lear karena orang-orang berasumsi ‘Lear’ adalah anagram dari ‘Earl’.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Suatu ketika saat bepergian via kereta, Lear duduk di kompartemen yang sama dengan seorang pria gemuk, dua wanita, dan anak-anak yang membaca &lt;em&gt;A Book of Nonsense&lt;/em&gt;. Si pria gemuk bercerita bahwa sepatutnya kita berterima kasih pada Earl of Derby karena menulis dan menerbitkan buku sajak ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/EdwardLearSelfPortrait-981x1024.jpg&quot; alt=&quot;EdwardLearSelfPortrait&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lear menunjukkan namanya di topinya ke orang asing yang meragukannya untuk membuktikan bahwa Edward Lear ada dan bukan sekadar nama. (Wikimedia Commons)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lear secara spontan menjawab, “Itu tidak benar: Saya punya alasan bahwa Edward Lear si pelukis dan penulis menulis dan mengilustrasikan seluruh isi buku.” Si pria gemuk menjawab, “Dan saya pun punya alasan bahwa Anda benar-benar keliru. &lt;em&gt;Tidak ada orang bernama Edward Lear&lt;/em&gt;.” Lear berkata, “Ada! Saya lah orangnya dan saya yang menulis buku itu!” &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semua orang di kompartemen itu tergelak. Lantas Lear melepas topinya dan menunjukkan kepada mereka, tertulis nama Edward Lear dan alamatnya dalam huruf yang cukup besar. Ia juga menunjukkan kartu nama dan sapu tangannya yang bertanda nama Edward Lear. Mereka terkesima sekaligus marah, sedangkan Lear pergi dari kompartemen itu.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;the-greatest-nonsense&quot;&gt;&lt;strong&gt;‘&lt;em&gt;The Greatest Nonsense&lt;/em&gt;’&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Meski Lear mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk melukis dan memang lebih terkenal sebagai pelukis lanskap di Inggris dan di tempat-tempat yang dikunjunginya, sajak-sajak jenakanya kelak justru lebih dikenal. Ia termasuk jajaran penyair yang bersanding dengan Lewis Carroll dalam membawa genre &lt;em&gt;literary nonsense&lt;/em&gt; untuk era Victorian. Lear termasyhur karena mempopulerkan bentuk &lt;em&gt;limerick&lt;/em&gt; (pantun jenaka).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/There-was-an-old-man-in-a-boat.jpg&quot; alt=&quot;There was an old man in a boat&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;There was an Old Man in a boat,&lt;br /&gt;
Who said, “I’m afloat! I’m afloat!”&lt;br /&gt;
⁠When they said, “No, you ain’t”&lt;br /&gt;
⁠He was ready to faint,&lt;br /&gt;
That unhappy Old Man in a boat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pantun jenaka yang diusung dan dipopulerkan Lear bergaya khas. Diawali dengan individu, ‘seseorang’, ‘seorang pria’, atau ‘seorang wanita’ yang penampilan atau perilakunya unik. Disusul dengan tindakan nyentrik apa yang mereka lakukan. Tergantung bagaimana masing-masing orang memaknai pantun jenaka Lear, keganjilan yang terjadi pada setiap tokoh atau individu dalam pantunnya kerap kali berakhir pada ketidakjelasan, kemalangan—&lt;em&gt;dan betapa konyol hal itu&lt;/em&gt;—yang menimpa mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tak bisa dipungkiri pula bahwa sajak-sajak jenaka Lear, berikut ilustrasinya, ditulis bagi anak-anak yang ia temui sepanjang hidupnya. Cucu-cucu Earl of Derby ke-13, keponakan Gussie, Janet—anak dari John Addington Symonds, mereka bertemu di Cannes. &lt;em&gt;&lt;a href=&quot;https://www.poetryfoundation.org/poems/43188/the-owl-and-the-pussy-cat&quot;&gt;The Owl and the Pussy-cat&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, lagu jenaka pertamanya (kelak turut termasyhur) ‘dihadiahkan’ Lear untuk Janet.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat Lear menulis karyanya, belum ada yang namanya genre literatur jenaka (&lt;em&gt;literary nonsense&lt;/em&gt;). Bagi Lear, kata-kata bermakna sesuatu yang menyenangkan dan bisa &lt;em&gt;ngawur&lt;/em&gt;, seperti pantun-pantun jenakanya. Namun, sulit untuk mendefinisikan dengan ringkas apa saja unsur dari sajak jenaka itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lewis Carroll dan Edward Lear sendiri bisa memiliki unsur berbeda dalam tulisan sajak jenaka mereka. Carroll adalah matematikawan, sedangkan Lear tidak secara profesional terlatih untuk masalah logika. Tetapi, penulisan literatur jenaka itu sendiri meski kelihatannya disusun dari kata-kata dan istilah yang &lt;em&gt;ngawur&lt;/em&gt;, bait-bait itu jelaslah disusun dan dimainkan oleh pikiran yang rasional, metodis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidaklah jelas apakah Carroll dipengaruhi oleh Lear, atau Lear yang dipengaruhi Carroll. Lantaran tampaknya keduanya tidak pernah berbincang. &lt;em&gt;Alice’s Adventures in Wonderland&lt;/em&gt; (atau &lt;em&gt;Alice in Wonderland&lt;/em&gt;) diterbitkan pada Juni 1865. Sebelum itu, Lear hanya ada pantun jenaka dan &lt;em&gt;History of the Seven Families&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tetapi, lima bulan sebelum &lt;em&gt;Alice in Wonderland&lt;/em&gt; diterbitkan, Lear sendiri sudah menciptakan &lt;em&gt;Land of Gramblamble, the Lake Pipple-popple, Soffsky-Poffsky trees, the Plumpudding Flea, the Clange-Wangle&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Tiggory-trees&lt;/em&gt;. Kelihatannya Lear dan Carroll saat itu mengembangkan literatur jenakanya pada saat yang bersamaan tetapi sendiri-sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/There-was-an-old-man-who-said-hush.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;There was an Old Man who said, “Hush!&lt;br /&gt;
I perceive a young bird in this bush!”&lt;br /&gt;
⁠When they said, “Is it small?”&lt;br /&gt;
⁠He replied, “Not at all!&lt;br /&gt;
It is four times as big as the bush!”&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;akhir-yang-sunyi&quot;&gt;&lt;strong&gt;Akhir yang Sunyi&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Tahun 1870-an, Lear menetap di Sanremo, Italia. Di sebuah villa yang dinamai “Villa Tennyson.” Kawan karibnya adalah Giorgio, seorang juru masak asal Albania, dan kucingnya, Foss. Giorgio lebih dulu meninggal pada 8 Agustus 1883. Kepergian Giorgio membawa kepedihan mendalam bagi Lear. Setelah kawan karibnya itu tiada, Lear jadi memikirkan mengenai hidup setelah kematian dan mulai menyiapkan hal-hal yang dibutuhkan kalau-kalau ia meninggal nanti.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dimulai dari memilih lokasi untuk makamnya, lalu peletakan batu nisannya. Memilah-milah barang miliknya, mana saja yang akan diwasiatkan untuk kawan-kawannya. Ia ingin bangkit dari kesedihan dengan menuliskan nama-nama orang yang telah berjasa baginya. Mulai dari Ann, kakaknya. Ia sebenarnya juga ingin menghibur diri dengan mengunjungi tempat-tempat yang belum didatanginya seperti Jepang, Jawa, Madeira, atau Amerika Selatan. Tetapi kondisi kesehatannya tidak memungkinkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/Lear_1887-724x1024.jpg&quot; alt=&quot;Lear_1887&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Edward Lear, 1887 (Wikimedia Commons)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain itu, ia mengalami kesulitan keuangan. Penjualan buku-bukunya di London tak lagi bagus. Sulit sekali menemukan orang yang mau membeli lukisannya. Ia jatuh sakit, radang selaput pleura. Kawan karibnya yang lain, Foss meninggal tahun 1886, upacara pemakamannya dilaksanakan di taman villa itu. Dua tahun kemudian, Lear menyusul Foss. Ia meninggal di Sanremo, Italia pada 29 Januari 1888 di Villa Tennyson. Ia dikuburkan di pemakaman Foce di Sanremo.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lear meninggal pada hari Minggu, pukul 2:20 dini hari. Pemakamannya dikabarkan begitu menyedihkan. Kawan-kawannya tak bisa hadir. Di penghujung waktunya, Lear berujar pada Giuseppe—tukang kebunnya, “Ya Tuhan, Giuseppe, rasanya kini aku sekarat. Tolong sampaikan ke kawan-kawan dan kolega-kolegaku bahwa aku memikirkan mereka, terutama sang Hakim dan Lord Northbrook dan Lord Carlingford. Terima kasihku tak terkira ke kawan-kawanku yang baik atas kebaikan yang selalu mereka lakukan kepadaku.”*&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;h6 id=&quot;sumber-dan-saran-bacaan-tentang-edward-lear&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sumber dan saran bacaan tentang Edward Lear&lt;/strong&gt;&lt;/h6&gt;

&lt;ol&gt;
  &lt;li&gt;Edward Lear di &lt;a href=&quot;https://www.gutenberg.org/ebooks/author/498&quot;&gt;Project Gutenberg&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Edward Lear, &lt;em&gt;Nonsense Book&lt;/em&gt;, di &lt;a href=&quot;https://archive.org/details/nonsensebooks01leargoog/page/n4/mode/2up&quot;&gt;Internet Archive&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&quot;https://archive.org/search.php?query=edward%20lear&quot;&gt;lainnya&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Edward Lear di &lt;a href=&quot;https://play.google.com/store/books/author?id=Edward+Lear&quot;&gt;Google Play Books&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Biografi Edward Lear, &lt;a href=&quot;https://www.britannica.com/biography/Edward-Lear&quot;&gt;Britannica&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Edward Lear Society &lt;a href=&quot;https://www.edwardlearsociety.org/biography/&quot;&gt;website&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Edward Lear diulas di &lt;a href=&quot;https://www.poetryfoundation.org/poets/edward-lear&quot;&gt;Poetry Foundation&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Matthew Bevis, &lt;em&gt;On Rationality and Nonsense&lt;/em&gt; (esai di &lt;a href=&quot;https://iai.tv/articles/is-it-irrational-to-be-rational-auid-1240&quot;&gt;The Institute of Art and Ideas, 2019&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Mengenai &lt;a href=&quot;https://www.encyclopedia.com/children/academic-and-educational-journals/nonsense-verse#:~:text=Nonsense%20verse%20remains%20a%20viable,Edward%20Gorey%2C%20and%20Jack%20Prelutsky.&quot;&gt;&lt;em&gt;Nonsense Verse&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;George Orwell, &lt;em&gt;Nonsense and Poetry&lt;/em&gt; (esai di &lt;a href=&quot;https://www.orwellfoundation.com/the-orwell-foundation/orwell/essays-and-other-works/nonsense-poetry/&quot;&gt;Tribune, 1945&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Vivien Noakes, &lt;em&gt;Edward Lear: The Life of a Wanderer&lt;/em&gt; (&lt;a href=&quot;https://archive.org/details/edwardlearlifeof00noak/page/n7/mode/2up&quot;&gt;biografi, 1969&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/Lear-and-Foss-in-San-Remo-1024x626.jpg&quot; alt=&quot;Lear and Foss in San Remo&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lear dan &lt;a href=&quot;https://www.theparisreview.org/blog/2012/10/29/edward-lear%E2%80%99s-cat/&quot;&gt;Foss&lt;/a&gt; (kucingnya) di San Remo&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>19 Oct 2020</pubDate>
        <link>/berkenalan-dengan-edward-lear</link>
        <guid isPermaLink="true">/berkenalan-dengan-edward-lear</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Mengapa dan Bagaimana Meresensi Buku</title>
        <description>&lt;p&gt;Bayangkan situasi berikut: kamu baru saja membaca sebuah buku yang menurutmu menarik. Setiap halamannya mengundang untuk terus dibaca. Kamu tidak tahu banyak tentang penulisnya. Malahan, kamu memilih buku ini kebetulan saja. Karena sampulnya menarik, atau karena &lt;em&gt;blurb&lt;/em&gt; yang ada di sampul belakang buku membuatmu penasaran. Dalam dua hari saja, kamu selesai membaca buku itu. Lalu, terlintas di benakmu bahwa kamu ingin temanmu juga tahu tentang buku ini. Lebih-lebih, seharusnya lebih banyak orang tahu tentang buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apakah situasi ini terdengar familiar untukmu?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sekarang, bayangkan situasi kedua: kamu membeli buku yang sedang ramai dibicarakan. Banyak orang berkata buku itu mengubah cara pandang mereka. Di toko buku langgananmu, buku itu baru saja ditambahkan, sedang diskon pula! Saking penasarannya, tentu kamu membeli buku itu dan membacanya begitu buku iu ada di tanganmu. Beberapa halaman kemudian, kamu merasa gusar. Ini &lt;em&gt;bukan genremu&lt;/em&gt;. Kamu nggak menemukan keasyikan saat membaca buku itu. Menurutmu, penulis tidak mengutarakan maksudnya dengan jelas, terlalu berbelit-belit, bahkan mencoba memaparkan bukti yang sebenarnya tidak relevan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di benakmu terlintas, mungkin animo buku ini berlebihan. Tidak seperti yang digembor-gemborkan di media sosial. Ada hal yang bagus, tetapi bukan untuk pembaca sepertimu. Dua situasi di atas punya maksud sama: saat kamu membaca buku dan menemukan kelebihan atau kekurangan dalam buku itu, kamu ingin memberi kesan ke pembaca lain tentang buku itu menurut pendapatmu sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;untuk-apa-meresensi-buku&quot;&gt;&lt;strong&gt;Untuk Apa Meresensi Buku?&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Meresensi buku adalah salah satu bentuk kepenulisan kreatif-kritis. Tujuannya ialah memberi kesan kepada calon pembaca mengenai isi buku dan apakah buku ini akan cocok bagi mereka. Sedangkan bagi penulis, resensi buku akan memberikan timbal balik yang tidak bias terhadap karyanya. Resensi buku juga berguna untuk meningkatkan &lt;em&gt;exposure&lt;/em&gt; profil mereka ke audiens yang lebih luas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menulis resensi buku tidak harus sampai sepanjang 1000 kata. Resensi buku pun kini bisa dilakukan di berbagai &lt;em&gt;platform&lt;/em&gt;. Resensi juga bisa berisi catatan penting atau kutipan yang mengena bagi peresensi. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Situs resensi buku terbesar dan terpopuler, Goodreads, bahkan memiliki fitur bagi pengguna agar bisa menyimpan kutipan yang menarik dari buku yang mereka baca. Di Goodreads, anggota bahkan bisa membentuk forum klub buku &lt;em&gt;online&lt;/em&gt;. Di mana anggotanya bisa mendiskusikan buku yang dipilih oleh klub buku tersebut. Fitur rating juga memberi gambaran singkat bagi calon pembaca maupun penulis tentang tingkat penerimaan buku itu di kalangan pembaca.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan meresensi buku, kamu juga melatih keterampilan berpikir dan menulis secara deskriptif dan kritis. &lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;yang-perlu-ada-dalam-resensi-buku&quot;&gt;&lt;strong&gt;Yang Perlu Ada dalam Resensi Buku&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Sebenarnya tidak ada aturan baku mengenai kepenulisan resensi buku. Namun, resensi buku umumnya mengandung tiga unsur berikut.&lt;/p&gt;

&lt;h4 id=&quot;1-tuliskan-informasi-buku-di-awal-resensi&quot;&gt;1. Tuliskan informasi buku di awal resensi&lt;/h4&gt;

&lt;p&gt;Sebelum masuk ke paragraf resensi, peresensi bisa membubuhkan informasi buku seperti penulis, judul buku, penerbit, tahun terbit, dan tebal buku (jumlah halaman). Informasi lain juga bisa ditambahkan, seperti ISBN, di mana peresensi membeli buku tersebut, dan rekomendasi toko buku yang menjual judul tersebut. Informasi buku pun umumnya tidak perlu ada jika kamu meresensi langsung di halaman situs yang menjual buku tersebut atau situs resensi buku, seperti Amazon, Goodreads, iPusnas, dan lain-lain.&lt;/p&gt;

&lt;h4 id=&quot;2-beri-penjelasan-singkat-tentang-isi-buku&quot;&gt;2. Beri penjelasan singkat tentang isi buku&lt;/h4&gt;

&lt;p&gt;Pada bagian selanjutnya, peresensi bisa memberi ringkasan isi buku sejauh yang dia baca. Pada bagian ini, peresensi hendaknya menggunakan bahasa sendiri dan tidak menuliskan secara rinci isi buku. Tujuannya ialah untuk memberi wawasan kepada calon pembaca mengenai tema yang diangkat, gaya bahasa, dan beberapa poin maksud penulisan buku tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;h4 id=&quot;3-beri-pendapatmu-tentang-buku-tersebut&quot;&gt;3. Beri pendapatmu tentang buku tersebut&lt;/h4&gt;

&lt;p&gt;Bagian inilah yang dapat membantu calon pembaca dan penulis memahami bagaimana penerimaanmu terhadap buku tersebut. Tulislah apa yang menurutmu menarik dari buku itu, apa yang tidak sesuai, apa yang bisa diperbaiki, dan buku ini akan cocok dibaca oleh pembaca yang seperti apa.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;tell-the-world-spread-the-words&quot;&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Tell the World, Spread the Words&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;!&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Tentu tiga unsur tadi tidak selalu memerlukan penjabaran yang panjang. Resensi sepanjang 100 kata pun sudah bisa kamu unggah di &lt;em&gt;platform&lt;/em&gt; yang kamu senangi. Apabila menulis di blog terasa berat dari segi pengelolaan dan biaya, membagikan resensi buku di media sosial kini bukan hal yang baru &lt;em&gt;loh&lt;/em&gt;! Gunakan tagar (&lt;em&gt;hashtag&lt;/em&gt;) agar resensimu bisa menjangkau lebih banyak pengguna media sosial. Perhatikan juga waktu unggah resensi agar resensimu tampil di &lt;em&gt;feed&lt;/em&gt;. Saat mengunggah ke media sosial kamu juga bisa menandai (&lt;em&gt;tag&lt;/em&gt;) ke penerbit dan penulis, apalagi jika itu terbitan penerbit Indonesia. Ayo dukung penerbit dan penulis buku Indonesia! &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Resensi bukumu juga bisa kamu kirim ke media cetak atau media &lt;em&gt;online&lt;/em&gt;. Jika media yang ingin kamu tuju tidak mencantumkan rubrik khusus resensi buku tetapi kamu menemukan &lt;em&gt;posting&lt;/em&gt;-an yang memuat resensi buku, kamu bisa meminta informasi seputar mengirim resensi buku dengan mengirimkan email ke redaksi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Resensi bukumu juga bisa dalam bentuk video edukatif dan &lt;em&gt;podcast&lt;/em&gt;! Untuk lebih mudah dan tertata dalam menyampaikan poin-poin resensimu dalam bentuk video atau audio, tuliskan juga &lt;em&gt;ya&lt;/em&gt; struktur penyampaian resensimu sebelum mulai merekam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nah, kini kamu siap untuk meresensi buku, &lt;em&gt;kan&lt;/em&gt;? Tips menulis resensi ini berlaku untuk buku fiksi maupun nonfiksi ya. Mulai dulu dari resensi singkat di media sosial, lama-lama kamu akan terbiasa untuk menulis resensi. Jika masih ragu, kamu bisa membaca resensi-resensi yang ada di &lt;a href=&quot;/&quot;&gt;Kedai Resensi Surabaya&lt;/a&gt; sebagai referensi kepenulisan resensimu. Selamat meresensi buku!*&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>16 Oct 2020</pubDate>
        <link>/mengapa-dan-bagaimana-meresensi-buku</link>
        <guid isPermaLink="true">/mengapa-dan-bagaimana-meresensi-buku</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Tidak Hanya Laclau, Mouffe juga Mengulas Populisme</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: For A Left Populism&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Chantal Mouffe&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Verso&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: 112 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 978-1-78663-755-0&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://amzn.to/2Sptwkz&quot;&gt;BUY THIS BOOK&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Hegemony and Socialits Strategy&lt;/em&gt; atau Hegemoni dan Strategi Sosialis yang dituliskan oleh &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/mengenal-laclau-mengenal-populisme/&quot;&gt;Ernesto Laclau&lt;/a&gt; dan Chantal Mouffe merupakan buku yang sangat digemari oleh klub studi berhalauan &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/sebuah-tulisan-profesor-marxis/&quot;&gt;Marxis&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/sosialisme-abad-21-ala-chavez-proyek-sosialisme-2/&quot;&gt;Sosialis&lt;/a&gt;. Buku ini, selain karya Antonio Gramsci, merupakan buku yang mengulas mengenai hegemoni secara mendalam. Setelah buku ini diterbitkan, Laclau menulis buku lainnya yang berhubungan dengan hegemoni, berjudul &lt;em&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/mengenal-laclau-mengenal-populisme/&quot;&gt;On Populist Reason&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;. Kita sangat jarang mendengar kisah dari Mouffe lagi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di tahun 2018, seiring saya sedang mencari buku bertemakan populisme untuk membantu kakak tingkat saya yang sedang berkuliah S2 di Yogyakarta, saya menemukan karya terbaru Mouffe yang menjelaskan tentang Populisme. Dalam waktu yang sangat singkat, untungnya saya bisa mendapatkan buku itu. Resensi saya ini, yang telah lama tersimpan di arsip, mencoba untuk menguraikan sedikit dari isi buku ini dan apa yang membedakannya dengan buku yang mengangkat bahasan populisme lainnya seperti karya Ruth Wodak dan Jan-Werner Muller.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam bab satunya, penulis mengutarakan bahwa tujuan dari buku ini adalah mencari kebenaran atas momen-momen populis yang sedang dihadapi negara-negara Eropa Barat. Mouffe memilih untuk membatasi lingkup bahasannya hanya pada Eropa Barat, karena negara di Eropa Timur pernah merasakan rezim komunis yang nantinya membutuhkan analisis yang berbeda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pemaknaan terhadap &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/perpolitikan-bajingan-campuran-antara-populisme-nasionalisme-dan-kharisma/&quot;&gt;populisme&lt;/a&gt;, Mouffe mengutip Laclau yang memaknai populisme sebagai strategi penuh wacana dalam membangun sebuah front politik yang membagi masyarakat ke dalam dua kubu dan menggerakkan kelompok &lt;em&gt;underdog&lt;/em&gt; (kelompok tertindas) melawan mereka yang memiliki kekuasaan. Mouffe menafsirkan bahwa populisme bukanlah ideologi bukan juga rezim politik. Populisme adalah praktik politik yang bisa menggunakan berbagai ideologi, tergantung pada waktu, tempat dan kesesuaian dengan bingkai kelembagaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam situasi kacau dimana ada perubahan tatanan sosial-ekonomi dan politik, kekuasaan dominan sedang dipertanyakan oleh masyarakat yang tidak puas, dalam situasi semacam itulah lembaga yang ada gagal untuk menjaga ketertiban. Alhasil kekuasaan dominan akan digulingkan dan munculnya kekuasaan baru atas dasar tindakan kolektif.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Momen populis merupakan ekspresi dari berbagai macam penolakan transformasi sosio-ekonomi dan politik yang dibawa oleh kekuasaan neoliberal. Kegagalan kekuasaan neoliberal ini melahirkan apa yang disebut dengan &lt;em&gt;post-democracy&lt;/em&gt; atau pasca-demokrasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Istilah pasca-demokrasi ditandai dengan menurunnya peran parlemen yang berdampak pada hilangnya kedaulatan mereka akibat globalisasi neoliberal. Adapun Jacques Ranciere juga menulis tentang pasca-demokrasi yang ia artikan sebagai pelaksanaan demokrasi yang menghilangkan perselisihan, bentuk dan miskalkulasi dari masyarakat, dimana ada pertarungan pengaruh antara pemerintah dengan kepentingan sosial (masyarakat).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mouffe mengartikan demokrasi secara etimologis: &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/memetik-hikmah-dari-naiknya-trump-ke-tampuk-kekuasaan/&quot;&gt;kekuasaan rakyat&lt;/a&gt;, yang nantinya justru memunculkan jenis-jenis lain dari demokrasi yang berkembang di Barat, seperti: demokrasi konstitusional, demokrasi perwakilan, demokrasi liberal dan demokrasi pluralis. Gerakan populis juga memiliki hubungan yang cukup erat dengan sistem demokrasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Permasalahan rezim politik juga menjadi ulasan dalam buku ini. Mouffe menyebutkan dua tradisi rezim politik yang dikenal di Eropa adalah liberalisme politik yang dikarakteristikkan dengan peraturan perundangan, pemisahan kekuasaan, dan kebebasan individu, sedangkan satunya adalah demokrasi, dimana ide sentralnya berkutat pada kedaulatan dan kesetaraan. Ia mengutarakan bahwa tidak ada hubungan diantara keduanya kecuali perjuangan bersama melawan kediktatoran.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/sepotong-kisah-carl-schmitt-dalam-pengasingan/&quot;&gt;Carl Schmitt&lt;/a&gt;, seorang pemikir yang mendukung Nazi juga dikutip oleh penulis berkenaan mengenai pertentangan antara istilah liberal yang mengangkat universalitas dan kemanusiaan yang menjadi rujukan utama demokrasi. Kesetaraan dalam demokrasi lah yang membangun pandangan tentang “masyarakat” yang nantinya melahirkan batasan antara “kita” dan “mereka”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasca-Demokrasi adalah keadaan dimana demokrasi liberal yang merupakan gabungan dari prinsip liberalisme politik dan demokrasi menghilang karena masuknya pemikiran neoliberal. Kondisi ini ditandai dengan hilangnya kesetaraan dan kedaulatan masyarakat, dimana hanya pandangan liberal yang hanya ditandai dengan pemilu yang bebas dan hak asasi manusia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Permasalahan ekonomi menjadi sentral bagi liberalisme yang berusaha mempertahankan nilai-nilai pasar bebas diutamakan dengan mengesampingkan nilai lainnya dalam liberalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam arena politik, keadaan Pasca-Demokrasi didukung dengan adanya &lt;em&gt;post-politics&lt;/em&gt; (Pasca-Politik), dimana istilah ini menghilangkan garis pembatas antara “kanan” dan “kiri”. Keadaan ini muncul karena modernisasi di berbagai negara yang dipercepat oleh globalisasi. Tidak jarang kita melihat partai sosial-demokrat menerima prinsip kapitalisme finansial dan batasan-batasan yang mereka keluarkan dalam intervensi negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Alhasil peran dari parlemen dan lembaga negara untuk menyalurkan aspirasi masyarakat dalam mempengaruhi kebijakan politik telah dikurangi sedemikian rupa. Partai-partai sekarang mengambil jalan tengah (&lt;em&gt;centrist&lt;/em&gt;). Adapun muncul perjanjian tengah (&lt;em&gt;consensus of the center&lt;/em&gt;) yang mendukung globalisasi neoliberal. Mereka yang menolak perjanjian tersebut akan dicap sebagai kelompok ekstrim atau dibuang dan dianggap sebagai kelompok populis dalam konotasi yang buruk.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kemunculan kelompok &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kondisi-politik-indonesia-pasca-soeharto-dan-posisi-oligarki-sekarang/&quot;&gt;oligarki&lt;/a&gt; yang membawa pasar bebas juga menjadi salah satu alasan naik daunnya populisme. Perekonomian hanya berfokus kepada uang sehingga kesenjangan semakin membesar. Privatisasi dan deregulasi semakin merugikan para pekerja, di sisi lain, perkembangan teknologi juga mendesak posisi pekerja dan banyak orang kehilangan pekerjaannya karena teknologi yang semakin maju. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perkembangan oligarki ini menghilangkan salah satu pilar demokrasi yakni kesetaraan. Prinsip yang sekarang berkuasa adalah pandangan individualistik kelompok liberal yang mendukung masyarakat konsumtif dan kebebasan yang “ditawarkan” oleh Pasar Bebas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu pandangan yang membuat saya tertarik dengan buku ini adalah me-radikalisasi demokrasi. Banyak yang berpandangan bahwa meradikalisasi demokrasi tujuannya adalah menghancurkan demokrasi liberal, padahal yang dimaksudkan dengan meradikalisasi demokrasi adalah membuat tatanan politik etis yang didasarkan atas kebebasan dan kesetaraan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mouffe berargumen bahwa kesalahan dari masyarakat demokratis ini adalah mereka justru tidak menerapkan demokrasi liberal dengan prinsip kebebasan dan kesetaraan. Tugas dari kelompok kiri bukanlah memusuhi masyarakat ini, tapi memastikan bahwa penerapan kebebasan dan kesetaraan memang benar-benar ada. Meradikalisasi demokrasi tidaklah sulit, cukup mengubah lembaga demokratis yang kurang menjalankan prinsip demokrasi menjadi lebih demokratis. Kalau dalam ilmu administrasi negara yang saya pelajari, bisa melalui program yang menekankan transparansi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kenapa demokrasi menjadi penting bagi populisme kiri? Karena hanya melalui demokrasi, masyarakat dapat bebas berbicara dan mengaspirasikan kebutuhannya. Gerakan yang kerap dilakukan di pusat kota sebenarnya bukan perwujudan dari sosialisme, melainkan demokrasi secara nyata. Karena terkadang masyarakat memiliki hak suara tapi tidak bisa bersuara, ujar Mouffe mengutip Indignados dari Spanyol.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mouffe menceritakan pula tantangan yang muncul ketika ia menulis &lt;em&gt;Hegemoni dan Strategi Sosialis&lt;/em&gt; bahwa bermunculan banyak gerakan baru yang minta untuk dilebur dalam gerakan sosialis di luar kelompok buruh saja. Lucunya, banyak kelompok baru yang bergabung dalam gerakan kiri di dunia, justru kelas pekerja lah yang terlempar dari gerakan kiri dan banyak dari permintaan kelas pekerja yang tidak terpenuhi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam membentuk strategi untuk kelompok kiri, perlu dimunculkan pertanyaan-pertanyaan dalam lingkup sosial, salah satunya adalah memenuhi permintaan semua kelompok yang terpinggirkan. Untuk memenuhi seluruh permintaan ini, maka Mouffe membangun sesuatu yang disebut dengan &lt;em&gt;people&lt;/em&gt; atau “masyarakat” yang permasalahan intinya ada pada eksploitasi, dominasi dan diskriminasi. Mouffe menambahkan, bahwa permasalahan “masyarakat” harus diselesaikan tanpa melupakan masa depan dari bumi (permasalahan lingkungan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Permasalahan utama dalam masyarakat kita adalah perpecahan antara pemenang dan pecundang, antara mereka yang beruntung atas neoliberalisme dan mereka yang tereksploitasi oleh neoliberalisme. Tidak jarang perkembangan neoliberalisme justru merugikan lingkungan dan ada beberapa kelompok neoliberal yang paham betul permasalahan lingkungan ini dan dapat diajak berjuang untuk memperbaikinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertarungan hegemonik untuk memperbaiki mutu demokrasi harus dimulai pada tataran Negara-Bangsa. Pada tingkatan nasional masyarakat harus digerakkan untuk melawan neoliberalisme dan kerjasama dengan gerakan serupa namun lintas negara juga diperlukan untuk menghadapi globalisasi yang ditunggangi kepentingan neoliberalisme. Jangan anggap populisme sebagai ancaman terhadap demokrasi, ujar Mouffe. Populisme apabisa dipelajari lebih dalam merupakan esensi dari demokrasi dan dapat memperbaiki banyak permasalahan di dunia kita sekarang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karya tipis Mouffe ini sangatlah teoritik, sehingga hanya akan menarik pembaca dari kalangan akademisi atau aktivis saja. Pandangan yang dibawa juga cukup berapi-api dengan menggunakan diksi kata yang terbilang susah. Buku ini tidak seaplikatif karya &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/perpolitikan-bajingan-campuran-antara-populisme-nasionalisme-dan-kharisma/&quot;&gt;Ruth Wodak, &lt;em&gt;The Politics of Fear&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; karena tidak menggunakan analisis wacana, melainkan buku ini semacam konstruksi teori mengenai populisme sayap kiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini juga tidak seperti karya &lt;a href=&quot;https://geotimes.co.id/opini/memahami-populisme-secara-singkat-dan-cepat/&quot;&gt;Jan-Werner Muller, &lt;em&gt;What Is Populism?&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; Yang penuh dengan definisi akan populisme dan sering memberikan contoh-contoh gerakan populisme. Buku tersebut memang bertujuan untuk mengenalkan pembaca baru mengenai populisme. Berbeda dengan karya Mouffe yang menekankan kepada esensi dan tujuan dari populisme yang bersifat normatif dan untuk kebaikan bersama. Sebagai konstruksi teori atas populisme, buku ini memang harus membahas sesuatu yang ”dicita-citakan” oleh Para Populis. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>05 Oct 2020</pubDate>
        <link>/tidak-hanya-laclau-mouffe-juga-mengulas-populisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/tidak-hanya-laclau-mouffe-juga-mengulas-populisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Mengenal Penguasa Media Massa di Indonesia</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku:&lt;/strong&gt; Kuasa Media di Indonesia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis:&lt;/strong&gt; Ross Tapsell&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&lt;/strong&gt; Marjin Kiri&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku:&lt;/strong&gt; viii+298 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit:&lt;/strong&gt; Oktober 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN:&lt;/strong&gt; 978-979-1260-81-7&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Media massa maupun media sosial, cetak maupun digital, arus-utama maupun non-arus-utama, media adalah sumber informasi bagi penduduk Indonesia. Tiap rumah di penjuru negeri khatulistiwa ini pasti memiliki sumber informasi berupa koran, majalah, televisi, radio, smart-phone berinternet, laptop atau komputer. Bayangkan, seberapa berkuasa mereka yang memegang sumber &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/makna-mendalam-informasi-dari-cesar-hidalgo/&quot;&gt;saluran informasi&lt;/a&gt; tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bicara mengenai kekayaan, pemilik media pasti digolongkan orang kaya di Indonesia, akan tetapi apakah mereka berkuasa dalam panggung politik? Atau sekedar berfokus pada bagian &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/usaha-membenahi-ekonomi-indonesia/&quot;&gt;ekonomi&lt;/a&gt; dalam media massa? Hal ini menjadi pertanyaan besar yang masih jarang diulas secara mendalam oleh para pakar dari luar negeri yang biasanya lebih tertarik kepada kebudayaan dan permasalahan politik di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini menjadi salah satu buku kajian media terbaru yang muncul di tahun 2018 dan segera menjadi &lt;em&gt;bestseller&lt;/em&gt; di toko buku. Bahkan termasuk laris manis di salah satu toko buku dan perpustakaan independen di Surabaya, C2O. Di tambah dengan penulis yang rela berkeliling untuk mengisi bedah bukunya. Marketing marjin kiri yang kerap melakukan bedah buku kolaboratif dengan berbagai komunitas menjadi salah satu alasan buku-bukunya menjadi favorit para aktivis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu apa sebenarnya yang diulas oleh Ross Tapsell hingga bukunya habis di berbagai toko buku? Simak resensinya sebagai berikut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada bagian awal, penulis menjelaskan tentang oligarki media massa yang dicontohkan sebagai Rupert Murdoch, pemilik berbagai media di berbagai belahan dunia. Media milik Murdoch memiliki keunikan yakni berfokus kepada dinamika lokal di suatu negara. Tanpa memegang jabatan, jejaring media yang dimiliki Murdoch berpihak kepada salah satu kandidat apabila suatu negara sedang dilanda tahun politik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berbeda dengan di Indonesia, yang menurut Tapsell, para pemilik media memiliki afiliasi politik secara langsung dan tidak jarang yang menduduki jabatan-jabatan tertentu di pemerintahan. Meskipun berbeda dengan gaya pemilik media Barat semacam Murdoch, mereka disertakan dalam buku ini sebagai pembanding bagaimana pemilik media mengalokasikan sumberdayanya berupa kekuasaan dan pengaruh medianya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis juga berargumen bahwa pemilik media kerap masuk panggung politik untuk memperluas modal politik mereka, terutama di negara yang bersistem multi-partai. Caranya dengan membangun &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/demokrasi-pembatasan-eksekutif-dan-kegagalan-partai-politik/&quot;&gt;partai politik&lt;/a&gt; sendiri. Kita dapat melihat bahwa di Indonesia, beberapa pemilik media memang membangun sendiri partainya, sudah jarang yang ikut dengan partai lain.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kalimat yang menarik dalam bagian pendahuluan pada halaman 13 yang menjelaskan bahwa kapitalis media di Indonesia turut mengembangkan bisnisnya melalui perkembangan teknologi dan pada waktu yang bersamaan juga membeli kompetitornya. Media kecil yang kekurangan modal pada akhirnya akan dilahap oleh konglomerat media, sehingga industri media hanya dipegang oleh segelintir orang saja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Segelintir orang ini yang menjadi pemaknaan oligark. Di Indonesia, Oligarki telah menjadi fokus pembahasan yang dibawa oleh &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kondisi-politik-indonesia-pasca-soeharto-dan-posisi-oligarki-sekarang/&quot;&gt;Richard Robison, Vedi Hadiz&lt;/a&gt; dan Jeffrey Winters. Dengan media dikuasai oleh para oligark, maka semua berita yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia dapat dikendalikan sesuai keinginan si pemilik media.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapsell mengutarakan bahwa analisis media di Indonesia tidaklah baru, &lt;em&gt;Imagined Communities&lt;/em&gt; karya &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/pertautan-anarkisme-dan-nasionalisme/&quot;&gt;Benedict Anderson&lt;/a&gt; juga melihat nasionalisme yang berkembang melalui media-media pada era pergerakan, yakni surat kabar atau koran. Selain suratkabar, adapun radio yang turut membantu kemerdekaan Indonesia dan membuat Radio Republik Indonesia (RRI) menjadi radio nasional pertama yang dimiliki Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Platform&lt;/em&gt; media lainnya adalah televisi yang berkembang pada era Orde Lama. Pada saat itu, Televisi Republik Indonesia (TVRI) dikontrol oleh pemerintah guna menyiarkan Asian Games dan menjadi alat pemersatu Bangsa Indonesia. Setelah Orla runtuh dan digantikan oleh &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kondisi-politik-indonesia-pasca-soeharto-dan-posisi-oligarki-sekarang/&quot;&gt;Soeharto&lt;/a&gt;, TVRI tetap dipegang oleh Pemerintah Indonesia, namun dengan standar yang lebih ketat, hanya menyiarkan pesan-pesan pemerintah saja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penguasaan privat saluran televisi dimulai pada tahun 1987 dengan berdirinya Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) yang dikendalikan Bambang Trihatmojo, lalu Surya Citra Televisi (SCTV) yang dimiliki oleh Sudwikatmono, lalu Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut) mendirikan PT. Cipta Televisi Pendidikan Indonesia (TPI) dan PT. Cakrawala Andalas Televisi (ANTV) didirikan oleh Agung Laksono, Nirwan Bakrie dan Abu Rizal Bakrie. Pengusaha Cina seperti Anthony Salim mendirikan Indosiar. Pada bagian para pembaca akan mulai diajak masuk ke dalam gurita kekuasaan media di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan berkembangnya satelit televisi swasta, maka kekuasaan atas media tidak lagi terpusat pada negara, melainkan para elit yang dekat dengan Pak Harto, meskipun kuasa atas berita masih dipegang oleh pemerintah. Karena tidak adanya desentralisasi perihal pemberitaan, orang semacam Peter Gontha mengakali dengan caranya sendiri untuk membuat berita terselubung. Munculnya konglomerasi televisi disebut sebagai fasilitator dari terbentuknya struktur baru dari pemilik televisi swasta.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Internet menjadi gebrakan baru yang menjadi pesaing media seperti surat kabar, radio dan televisi. Meskipun awalnya hanya bisa diakses oleh segelintir orang, internet sekarang sudah menjamur dimana-mana. Hampir seluruh orang memiliki ponsel yang dapat mengakses internet, media digital telah menjadi ruang kontestasi antara elit dengan warganet. &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/masa-depan-dunia-kerja/&quot;&gt;Digitalisasi&lt;/a&gt; membawa juga demokrasi dalam masyarakat kontemporer Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini mengulas lebih dalam mengenai konglomerasi televisi yang mendapatkan keuntungan dari perkembangan teknologi, dimana radio justru jatuh pamornya. Kita pasti kenal Chairul Tanjung yang Trans Corp nya mewarnai hidup televisi Indonesia, dengan membeli detik.com dan bekerjasama dengan CNN untuk membangun CNN Indonesia, Chairul Tanjung turut mempekuat konglomerasi dagangnya, televisi dengan saluran yang sangat banyak kerap bersanding dengan koneksi internet dalam perdagangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain Chairul Tanjung, nama yang juga disebut dalam buku ini adalah Hary Tanoesoedibjo dengan Global Mediacom nya dan Aburizal Bakrie dengan ANTV &amp;amp; TvONE nya. Mereka pun membuat perluasan &lt;em&gt;platform&lt;/em&gt; media yang sangat menggurita dan tanpa kita sadari, hampir semua saluran media yang kita nikmati memiliki keterkaitan dengan partai politik tertentu. Afiliasi politik media massa memang tidak bisa dipungkiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini menyuguhkan analisis media pula yang pertama kali dalam kajian media peneliti luar negeri. Pandangan Ross Tapsell akan membuat terkejut bahwa tidak ada yang netral di dunia panggung media. Relasi antara kekuasaan kepartaian dalam bingkai politik dicampur dengan analisis ekonomi media menghasilkan karya klasik Indonesianis baru. Buku ini menjadi sumbangsih baru dalam kajian ekonomi-politik media massa Indonesia kontemporer. Dengan harga yang murah dan bahasa yang mudah, menjadikan buku ini pantas di baca siapapun, tidak hanya pengamat media. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>30 Sep 2020</pubDate>
        <link>/mengenal-penguasa-media-massa-di-indonesia</link>
        <guid isPermaLink="true">/mengenal-penguasa-media-massa-di-indonesia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Nuruddin Zanki dan Bab Sejarah Dinasti Islam yang Hilang</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul buku:&lt;/strong&gt; Nuruddin Zanki dan Perang Salib&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis:&lt;/strong&gt; Alwi Alatas&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&lt;/strong&gt; Zikrul&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal buku:&lt;/strong&gt; 448 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun terbit:&lt;/strong&gt; 2012&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN:&lt;/strong&gt; 9789790637351&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nama lengkapnya adalah Al-Malik Al-Adil Abul Qasim Nuruddin Mahmud bin Imaduddin Zanki bin As-Sunqur, nama aslinya adalah Mahmud, sedangkan Al-Malik Al-Adil Abul Qasim Nuruddin adalah julukan yang disertakan kepadanya, karena jasa-jasanya demi peradaban Islam di Mosul dan Suriah. Ia adalah cucu dari As-Sunqur, salah satu pejabat mulia dari dinasti Bani Seljuk Turki dan anak dari Imaduddin Zanki, &lt;em&gt;atabeg&lt;/em&gt; dari Mosul. Nama keluarga Zanki (dinasti Zankiyah) tidak setenar Utsmaniyah atau Ayyubiyah karena tidak melakukan penaklukan heboh seperti pembebasan Al-Quds dan penaklukan Konstantinopel, tapi Zanki lah yang memberi jalan Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi membebaskan Al-Quds, bisa jadi tanpa Nuruddin Zanki, tidak ada pembebasan Al-Quds dari pasukan Salib.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nuruddin adalah anak kedua, di mana kakaknya adalah Saifuddin Ghazi. Ketika ayahnya wafat karena dibunuh, kekuasaan atas Aleppo dan Mosul dibagi kepada dua anak pertamanya, Saifuddin mendapatkan Mosul dan Nuruddin mengelola Aleppo. Pada saat berkuasa atas Aleppo, Nuruddin masih berumur 28 tahun, umur yang masih muda tapi matang dalam memimpin sebuah wilayah. Dalam buku ini dikatakan bahwa Nuruddin Zanki tidak sekeras ayahnya dalam berkuasa, dan hal itu memberi jalan untuk kejayaan yang dibangun oleh Nuruddin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini dibuka dengan kisah mengenai pasukan salib yang mulai terbentuk karena kekalahan kekaisaran Bizantium di Manzikert pada tahun 1071 oleh dinasti Seljuk di bawah Muhammad bin Dawud Chagri Beg (Alp Arslan). Sang sultan Seljuk membebaskan kaisar Bizantium yang tertangkap karena kekalahan di Manzikert, hal inilah yang menjadi pemicu terjadinya Perang Salib, karena nantinya Bizantium akan meminta kerajaan-kerajaan di Eropa Barat untuk membantu merebut kembali wilayah kekuasaannya, Perang Salib I digawangi oleh Paus Urbanus II.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasukan Salib pertama didominasi oleh rakyat jelata (sehingga mendapatkan julukan &lt;em&gt;people’s crusade&lt;/em&gt;) dan bangsawan muda yang ingin mencari kejayaan. Di antara para bangsawan tersebut ada Bohemond yang nantinya menjadi penguasa Antakya, Baldwin I yang awalnya menjadi penguasa Edessa setelah menaklukkan kota tersebut dan selanjutnya ia terpilih menjadi Raja Kerajaan Latin Yerusalem ketika kota tersebut jatuh ke tangan pasukan salib, Godfrey I yang awalnya menjadi penguasa Yerusalem dari pasukan salib I namun ia tidak menggunakan gelar raja saat berkuasa atas kota tersebut, Raymond dari Saint-Gilles adalah penguasa Tripoli yang menjadi salah satu provinsi Kerajaan Latin Yerusalem (empat wilayah kerajaan ini adalah: Yerusalem, Antakya, Edessa dan Tripoli).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perang salib pertama berakhir dengan kemenangan pasukan salib dan kekaisaran Bizantium yang dapat merebut beberapa wilayah kekuasaannya yang telah ditaklukkan oleh pasukan dinasti Turki Seljuk. Menurut Alwi Alatas, kegagalan pasukan Muslim dalam menghadang laju pasukan salib dikarenakan para amir berseteru antara satu dengan yang lain, bahkan Arsuf dan Damaskus berdamai dengan Kerajaan Latin Yerusalem. Perpecahan di dunia Islam dengan munculnya berbagai dinasti, adanya dua kekhalifahan: Abbasiyah yang beraliran Sunni dan Fatimiyah yang beraliran Syi’ah turut menjadi faktor ketidakmampuan pasukan Muslim untuk bersatu menghadang pasukan salib, sama halnya dengan kehancuran Abbasiyah di bawah hentak laju pasukan Mongol.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada kondisi inilah, seorang pemimpin umat Islam yang kelak anaknya menyatukan sebagian besar wilayah Suriah dan Mosul, muncul. Ia adalah Imaduddin Zanki yang berhasil menguasai dua wilayah strategis di Timur Tengah: Mosul dan Aleppo, anaknya, Nuruddin Zanki juga berhasil menguasai Damaskus, yang menariknya adalah Nuruddin merebut Damaskus dari tangan penguasanya dengan sedikit saja pertumpahan darah. Ia lebih menekankan penggunaan taktik infiltrasi, intimidasi dan perang urat saraf untuk mendapatkan Damaskus, ditambah dengan kawannya, Najmuddin Ayyub (Ayah Shalahuddin Al-Ayyubi) yang merebut hati rakyat Damaskus agar mendukung posisi Nuruddin Zanki.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Najmuddin Ayyub dan saudaranya, Asaduddin Syirkuh adalah orang kepercayaan Zanki, bahkan Asaduddin Syirkuh adalah panglima perang dari pasukan Nuruddin Zanki. Tak pelak lagi, Zanki adalah penguasa Suriah yang sangat pantas menjadi contoh penguasa Islam, karena ia terkenal dengan upaya jihadnya yang tiada henti untuk merebut kembali wilayah-wilayah yang telah dikuasai pasukan salib, meskipun ia wafat 13 tahun sebelum melihat pembebasan Al-Quds.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa yang dibangun oleh Imaduddin Zanki dan Nuruddin Zanki berhasil menghajar pasukan salib kedua yang dipimpin oleh dua raja Eropa Barat: Prancis dan Jerman, bahkan mereka mengalami kekalahan pahit dan kembali dengan tangan kosong. Pemapanan Suriah di bawah Nuruddin Zanki, membuat Kerajaan Latin Yerusalem menjadi waswas karena diapit oleh dua wilayah Islam yang kuat: Kekhalifahan Fatimiyah dan Dinasti Zankiyah. Menariknya adalah Dinasti Fatimiyah ini justru lebih suka bekerjasama dengan Kerajaan Latin Yerusalem ketimbang menjalin hubungan dengan dinasti Zankiyah. Ini membuat Nuruddin Zanki geram dan mengirimkan Asaduddin Syirkuh beserta keponakannya, Shalahuddin Al-Ayyubi yang masih muda untuk menyerbu Mesir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fatimiyah pun meminta bantuan pasukan salib di bawah Amalric I, namun pada pertempuran di Mesir, yang muncul sebagai pemenang adalah Syawar, wazir dinasti Fatimiyah yang kalah dalam intrik politik Fatimiyah dan meminta tolong kepada Zanki untuk melakukan invasi ke Mesir. Busuknya lagi, Syawar justru meminta Asaduddin Syirkuh untuk pergi dari Kairo setelah ia kembali menjadi wazir Fatimiyah. Tidak lama kemudian, invasi kedua Mesir yang dipimpin oleh Syirkuh lagi, dimulai. Invasi kedua ini membawa Mesir di bawah kekuasaan dinasti Zankiyah, sehingga wilayah Nuruddin Zanki membentang dari Mosul, Aleppo, Damaskus hingga Kairo dan membuat Kerajaan Latin Yerusalem justru semakin terjepit. Adapun Syirkuh menjadi wazir Fatimiyah namun ia berkuasa atas nama Nuruddin Zanki, nahasnya, dua bulan setelah menjadi wazir, ia wafat dan digantikan oleh keponakannya, Shalahuddin Al-Ayyubi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nuruddin Zanki beberapa kali meminta Shalahuddin untuk segera menghapuskan kekhalifahan Fatimiyah, namun Shalahuddin menunggu momen yang tepat. Pada saat khalifah Al-Adid dari Fatimiyah sakit keras di tahun 1171, Shalahuddin menghilangkan pengaruh Syi’ah Ismailiyah dan secara resmi menjadikan Mesir sebagai keamiran dari Dinasti Zankiyah dengan Shalahuddin sebagai amir Mesir. Meskipun begitu, hubungan Shalahuddin dan Nuruddin tidaklah harmonis. Beberapa kali ajakan Nuruddin untuk berjihad melawan pasukan Frank ditolak oleh Shalahuddin. Nuruddin berniat memberi pelajaran kepada Shalahuddin dan ingin melakukan invasi terhadap Mesir, namun sebelum perpecahan terjadi, Nuruddin wafat pada tanggal 15 Mei 1174. Shalahuddin nantinya memapankan kekuasaannya di Mesir, Aleppo, Damaskus dan Mosul menggantikan Nuruddin dan dinastinya lalu membangun dinasti baru, Dinasti Ayyubiyah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa yang dibangun oleh Nuruddin Zanki menjadi landasan dan modal Shalahuddin Al-Ayyubi untuk menghantam Kerajaan Latin Yerusalem di bawah Guy dari Lusignan dan membebaskan Al-Quds. Bisa jadi di balik kebesaran para pembebas dan penakluk, ada orang-orang yang membangun pondasi jalannya, dan orang-orang tersebutlah yang sebenarnya lebih penting. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>26 Sep 2020</pubDate>
        <link>/nuruddin-zanki-dan-bab-sejarah-dinasti-islam-yang-hilang</link>
        <guid isPermaLink="true">/nuruddin-zanki-dan-bab-sejarah-dinasti-islam-yang-hilang</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sintesis Demokrasi dan Khilafah</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;oleh &lt;a href=&quot;https://www.instagram.com/andyanzamrud/&quot;&gt;Sri Andiani Zamrud Al Azam&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akhir–akhir ini mencuat kembali isu mengenai &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kritikan-habib-rizieq-shihab-terhadap-pemikiran-liberal/&quot;&gt;khilafah&lt;/a&gt;, yakni dengan diblokirnya film yang menceritakan tentang sejarah khilafah di Indonesia. Berbagai tanggapan baik pro maupun kontra dari para pakar juga tidak luput meramaikan jagat media. Khilafah sendiri jika dipahami secara istilah adalah sebuah sistem kepemimpinan yang berpedoman penuh pada hukum islam, pemimpinnya disebut khalifah dan secara geografis tidak terbatas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sementara &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/demokrasi-tidak-bermula-di-yunani/&quot;&gt;demokrasi&lt;/a&gt; adalah bentuk pemerintahan pula yang sering disebut pemerintahan oleh rakyat, karena kedaulatan tertinggi ada pada rakyat. Namun apakah khilafah dan demokrasi tidak sejalan? Mari kita coba menelusuri makna keduanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika dilihat dari perspektif historis khilafah sendiri identik dengan Islam. Hal ini tidak lepas dari pengaruh sejarah yang melekat sejak Nabi Muhammad Saw sampai &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/dari-hungaria-ke-kekaisaran-utsmani/&quot;&gt;kekaisaran Turki Utsmani&lt;/a&gt;. Jika kita melihat secara periodisasi, misalnya, dari zaman Nabi Muhammad Saw sampai kekaisaran Turki, bentuk–bentuk pemerintahan khilafah berbeda–beda. Misalnya, ketika pada zaman Nabi Muhammad Saw sampai &lt;em&gt;Khulafaur Rosyidin&lt;/em&gt; (para sahabat Nabi) itu tidak memiliki mekanisme pemilihan yang tetap, tidak terpatok pada periode kekuasaan tertentu, tidak ada pembagian kerja, birokrasi, dll. Tetapi hal ini tidak serta merta menutup ruang–ruang dialog dan demokrasi, walaupun kadarnya masih minim.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada demokrasi pada masa itu adalah ketika saat sahabat Nabi, Abu Bakar wafat kemudian digantikan Umar bin Khattab dan setelah itu model pemilihan pemimpin komisi pemilihan yang disebut formatur. Hal ini bisa di tinjau dengan adanya Abdurahman bin Auf sebagai ketua formatur yang akan menyelenggarakan pemilihan berdasarkan musyawarah sampai terpilihnya pemimpin baru, yakni Usman bin Affan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masa–masa setelah &lt;em&gt;Khulafaur Rosyidin&lt;/em&gt; ini ditutup oleh Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah dan ditandai dengan kemunculan berbagai dinasti dari mulai Dinasti Ummayah, Dinasti Abbasyiah, Dinasti Fatimiyah, dan banyak lagi sampai pada puncaknya dinasti/kekhalifahan Turki Ustmani. Kemudian masuk kepada keruntuhan sistem pemerintahan dinasti dan mengubah dominasi baru menjadi keyakinan bentuk pemerintahan modern seperti &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/perang-di-era-demokrasi-rumitnya-menentukan-makna-perang-pada-masa-modern/&quot;&gt;demokrasi&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/mengenal-sneevliet-kisah-awal-sosialis-belanda-yang-membangun-komunisme-di-indonesia/&quot;&gt;komunisme&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/sosialisme-abad-21-ala-chavez-proyek-sosialisme-2/&quot;&gt;sosialisme&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/modernitas-dan-kegagalan-liberalisme/&quot;&gt;liberalisme&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kenali-musuhmu-kenali-fasisme/&quot;&gt;fasisme&lt;/a&gt;, dll.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menyoal jejak khilafah di Indonesia sendiri bukanlah hal yang baru, karena dulu raja–raja di jawa menggunakan gelar Khalifah juga, misalnya raja di Yogyakarta yang menggunakan gelar Khalifatullah karena di jawa memiliki konsep raja adalah wakil Tuhan di Bumi. Walaupun sekarang sudah dihilangkan karena sifatnya sudah tidak mutlak lagi kekuasaan raja dan bertugas menjalankan fungsi pemerintahan saja. Namun yang perlu digarisbawahi adalah relasi antara demokrasi dan khilafah tidak selalu bertentangan jika dilihat menggunakan kacamata sejarah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Khilafah memiliki berbagai macam bentuk dalam menghadapi tuntutan setiap zamannya. Dalam sistem khilafah tidak ada aturan negara khilafah karena Islam tidak memiliki aturan yang jelas dalam &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/ibnu-khaldun-dan-masalah-kenegaraan/&quot;&gt;membentuk negara&lt;/a&gt;. Bisa diartikan khilafah adalah suatu kondisi di mana bentuk kehidupan yang sejahtera sesuai kebutuhan zamannya. Dari mulai zaman Nabi Muhammad Saw sampai berbentuk dinasti dan sekarang sistem pemerintahan kontemporer.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Maka dari itu, kurang tepat rasanya jika ada seruan membentuk negara khilafah. Justru entah itu lewat monarki, parlementer, demokrasi maupun komunis jika mampu menyajikan pemerintahan yang adil dan menyejahterakan juga melindungi segenap bangsanya itulah yang diharapkan. Ajaran khalifah adalah menjadi pemimpin yang seperti itu, yakni adil, amanah, dan mampu memimpin mengikuti kebutuhan zamannya bukan romantisme sejarah kejayaan yang lampau kemudian dipaksakan masuk kedalam kehidupan masyarakat modern.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mengapa tidak bisa dipaksakan? Karena memang secara kondisi jelas berbeda total. Dulu kehidupan masyarakat tidak serumit seperti sekarang, oleh sebab itu kita mengenal adanya lembaga yang mengelola administrasi, keamanan, komisi-komisi semuanya dibentuk untuk memberikan pelayanan terhadap publik. Di Indonesia sendiri saja jangankan menerapkan khilafah, ideologi lain saja harus masuk dengan berbagai syarat disaring betul sampai cocok untuk masyarakat Indonesia yang majemuk dan &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/belajar-ekonomi-sekaligus-belajar-pancasila/&quot;&gt;Pancasila&lt;/a&gt; merangkum semua keinginan masyarakat kita yang majemuk tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika melihat &lt;em&gt;grand design&lt;/em&gt; khilafah hari hari ini ingin menyatukan seluruh dunia menjadi satu dipimpin seorang imam itu alangkah utopisnya wacana tersebut. Mengingat berapa banyak masyarakat dari berbagai suku, tradisi dan keyakinannya masing–masing selama ratusan tahun diwariskan, kemudian akan digantikan dengan khilafah? Saya rasa kita perlu berkaca sebelum berwacana. Komunisme saja yang sempat populer abad ke-19 sampai abad ke–20 dengan Komintern (Komunis Internasional) yang juga hampir sama dengan konsep khilafah yakni kesatuan seluruh dunia dibawah satu komando, juga harus menelan pil pahitnya yang berujung keruntuhan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terminologi khilafah hari–hari ini menjadi suatu stigma yang menakutkan bagi sebagian pihak dan demokrasi adalah jawabannya karena paling dipuja di era modern sebagai bentuk pemerintahan paling efektif. Padahal kalau bisa diringkas, demokrasi adalah jalan konflik dan penyelesaiannya harus dengan upaya yang demokratis tidak otoriter.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bias yang terjadi juga seringkali kita mengumandangkan kebebasan tapi aspirasi dari &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/transkrip-interogasi-antonio-negri-1979/&quot;&gt;oposisi&lt;/a&gt; dibungkam dengan segala macam represi. Dialog antar warga negara dengan pemerintah menjadi satu arah dan dalam hal inilah kita menghadapi kebuntuan baik diskursus menyajikan sistem pemerintahan demokratis maupun dalam menanggapi isu khilafah.*&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;a href=&quot;/tag/andyan-zamrud/&quot;&gt;Sri Andiani Zamrud Al Azam (Andyan)&lt;/a&gt; adalah mahasiswa S1 Ilmu Politik di FISIP, Universitas Airlangga.&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>21 Sep 2020</pubDate>
        <link>/sintesis-demokrasi-dan-khilafah</link>
        <guid isPermaLink="true">/sintesis-demokrasi-dan-khilafah</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sejarah Dinasti Kabilah Emas: Terbitan Terbaru dari  KRS</title>
        <description>&lt;p&gt;Untuk ketiga kalinya, Kedai Resensi Surabaya kembali menerbitkan buku bertemakan sejarah! Kali ini, KRS mengambil kajian dari seorang sarjana Sejarah dan Kebudayaan Islam, &lt;a href=&quot;/tag/ari-nirwana&quot;&gt;Ari Nirwana&lt;/a&gt; mengenai Kabilah Emas (&lt;em&gt;Golden Horde&lt;/em&gt;). Dinasti Kabilah Emas yang banyak di antara Khan-nya beragama Islam ini jarang mendapat perhatian khusus di Indonesia. Oleh karenanya, penerbitan buku ini turut menjadi pengisi relung kajian yang masih perlu terus diramaikan tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;sejarah-dinasti-kabilah-emas-di-eropa-timur-dan-pengaruhnya-terhadap-dunia-islam-1226-1502-m&quot;&gt;Sejarah Dinasti Kabilah Emas Di Eropa Timur &lt;em&gt;dan Pengaruhnya terhadap Dunia Islam (1226-1502 M)&lt;/em&gt;&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://shopee.co.id/Sejarah-Dinasti-Kabilah-Emas-Ari-Nirwana-i.207062002.6051053944&quot;&gt;BELI Rp55000&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/ari-nirwana-sejarah-dinasti-kabilah-emas-bc.jpg&quot; alt=&quot;ari nirwana-sejarah dinasti kabilah emas-fc&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kekaisaran Mongol dikenal sebagai penghancur dinasti Abbasiyah dan peradaban Muslim saat itu. Namun, ternyata ada keturunan Jenghis Khan yang masuk ke dalam agama Islam, terutama dari Golden Horde (Kabilah Emas) di wilayah Rusia dan Eropa Timur. Kabilah Emas ini muncul dari anak pertama Jenghis Khan, Jochi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak sejarah peradaban Islam yang belum dikaji secara rinci dalam bahasa Indonesia. Seperti halnya Kabilah Emas ini, di mana dua khan-nya, Berke dan Uzbeg turut membantu membangun peradaban Islam yang sempat luluh lantak karena serangan dari sesama bangsanya, Hulagu. Berke Khan adalah khan pertama yang secara terang-terangan masuk ke dalam Islam. Pada zaman Uzbek Khan ini sampai pada puncak peradaban Islam di daerah kekuasaan Mongol.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kabilah Emas memiliki wilayah kekuasaan dengan proporsi yang sangat luas dan pada akhirnya melahirkan wilayah-wilayah Muslim di Rusia seperti Krimea, Kazan, dan Astrakhan. Buku ini akan mengulas mengenai awal mula dari Kabilah Emas hingga keruntuhannya dan beberapa ke-khan-an yang merupakan “anak” dari Kabilah Emas. Ke-khan-an ini juga yang turut berkontribusi dalam penyebaran Islam, baik di antara masyarakat Mongol, juga di wilayah Rusia.&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;Kedai Resensi Surabaya juga membuka kesempatan untuk menjadi &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Drop shipper&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; dan &lt;strong&gt;&lt;em&gt;Reseller&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; buku ini maupun &lt;a href=&quot;https://shopkrs.netlify.app&quot;&gt;buku terbitan KRS&lt;/a&gt; lainnya. Ada diskon khusus bagi &lt;em&gt;drop shipper&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;reseller&lt;/em&gt;. Hubungi WhatsApp KRS untuk info selengkapnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain opsi pembelian via website, pembelian buku-buku terbitan KRS juga bisa dilakukan via &lt;a href=&quot;https://shopee.co.id/kbmurba/&quot;&gt;&lt;strong&gt;Shopee&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; / &lt;a href=&quot;https://bukalapak.com/kbmurba&quot;&gt;&lt;strong&gt;Bukalapak&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; / &lt;a href=&quot;https://tokopedia.com/kbmurba&quot;&gt;&lt;strong&gt;Tokopedia&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt; KB. MURBA.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://api.whatsapp.com/send?phone=6282153777192&amp;amp;text=Salam.%20Saya%20ingin%20menjadi%20dropshipper%2Freseller%20buku%20KRS.&quot;&gt;Chat on WhatsApp&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>20 Sep 2020</pubDate>
        <link>/sejarah-dinasti-kabilah-emas-terbitan-terbaru-dari-krs</link>
        <guid isPermaLink="true">/sejarah-dinasti-kabilah-emas-terbitan-terbaru-dari-krs</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Dari Hungaria ke Kekaisaran Utsmani: Terbitan Kedai Resensi Surabaya</title>
        <description>&lt;p&gt;Di bulan Juli dan Agustus ini, Kedai Resensi Surabaya menerbitkan dua buku sejarah dari seorang raja yang menjadi pendiri kedua Hungaria dan sebuah imperium yang membawa peradaban Islam ke penjuru Eropa, Asia Minor, hingga Afrika. Ini adalah dua terbitan perdana dari Kedai Resensi Surabaya yang mengangkat sejarah (berbeda) dari daratan Eropa.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;raja-béla-iv-dari-hungaria-biografi-politik-raja-eropa-timur-abad-pertengahan-sebelum-invasi-pasukan-mongol&quot;&gt;Raja Béla IV dari Hungaria: Biografi Politik Raja Eropa Timur Abad Pertengahan sebelum Invasi Pasukan Mongol&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/product/raja-bela-iv-dari-hungaria/&quot;&gt;Beli Rp60,00&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;ul&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/KRS-1-FC-1-1024x1024.jpg&quot; alt=&quot;KRS-1-FC&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/KRS-1-BC-1024x1024.jpg&quot; alt=&quot;KRS-1-BC&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;

&lt;p&gt;Abad pertengahan menjadi salah satu abad yang kelam di Eropa. Terkadang disebut sebagai &lt;em&gt;abad kegelapan&lt;/em&gt;. Terlepas dari namanya yang terlihat mengerikan, bukan berarti tidak ada peristiwa atau figur yang menarik dari abad ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti Raja Béla IV dari Hungaria ini adalah raja yang menghadapi invasi Mongol pada zamannya. Ia juga mendapatkan julukan sebagai “Second Founder of the State” (Bapak Bangsa Kedua). Banyak intrik politik dan kebijakan Raja Bela IV membuatnya pantas menyandang gelar tersebut. Dari buku ini kita akan mengenal sosok yang menarik, yang mana membuktikan bahwa abad kegelapan sebenarnya tidak sepenuhnya gelap.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;ekspansi-kekaisaran-utsmani-1326-1699&quot;&gt;Ekspansi Kekaisaran Utsmani 1326-1699&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/product/ekspansi-kekaisaran-utsmani/&quot;&gt;Beli Rp70,000&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;ul&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/front-cover-ST-KRS-1-1024x1024.jpg&quot; alt=&quot;front-cover-ST-KRS&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;
    &lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/back-cover-ST-KRS-1-1024x1024.jpg&quot; alt=&quot;back-cover-ST-KRS&quot; /&gt;&lt;/p&gt;
  &lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;

&lt;p&gt;Kekaisaran Utsmani adalah salah satu kekaisaran Muslim terbesar di dunia. Wilayahnya mencakup beberapa wilayah di Asia hingga Hungaria (Eropa Timur). Mereka juga memiliki pasukan yang ditakuti oleh dunia Eropa, terutama pasukan khususnya: &lt;em&gt;Janissary&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini berisikan sepak terjang perluasan wilayah dari sebuah kekaisaran yang ekspansionis yang mampu menaklukkan Konstantinopel. Dimulai dengan meninggalnya Utsman I pada tahun 1326 hingga perjanjian Karlowitz pada tahun 1699 yang menjadi akhir dari ekspansi kekaisaran ini, buku ini akan mengulas satu per satu ekspedisi dan kampanye militer yang dilancarkan oleh Kekaisaran Utsmani. Ditulis oleh sejarawan militer ternama, buku ini akan menjadi sumbangan bagi khazanah mengenai Kekaisaran Utsmani.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>15 Aug 2020</pubDate>
        <link>/dari-hungaria-ke-kekaisaran-utsmani</link>
        <guid isPermaLink="true">/dari-hungaria-ke-kekaisaran-utsmani</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Mengenal Transoxiana dan Sumbangannya terhadap Peradaban Islam</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul buku&lt;/strong&gt;: Islam di Asia Tengah&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Muhammad Abdul Azhim Abu An-Nashr&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Al-Kautsar&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal buku&lt;/strong&gt;: xv+356 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun terbit&lt;/strong&gt;: 2009&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9789795927655&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;a href=&quot;http://bit.ly/tumbas-buku&quot;&gt;Pesan buku ini di KB. MURBA seharga &lt;strong&gt;Rp68,000&lt;/strong&gt; (sudah diskon dari harga asli Rp78,000).&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peradaban Islam sangatlah merentang dari tempat kelahirannya di jazirah Arab, meluas ke Timur Tengah, masuk ke wilayah-wilayah bekas kekuasaan Bizantium dan Persia lalu menyebar ke Asia Selatan, Afrika Utara, hingga Asia Tengah. Wilayah terakhir ini adalah apa yang akan dibahas oleh penulis buku ini. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nampaknya, wilayah yang dulunya bernama Transoxiana ini terpecah menjadi beberapa negara seperti Kazakhstan, Turkmenistan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan. Wilayah ini, menurut penulis, adalah wilayah yang subur di mana lahannya dapat digunakan untuk apa saja, mulai dari beternak, bertani hingga berdagang (karena masuk ke dalam jalur sutera). Telah bangkit dan runtuh banyak kerajaan di wilayah ini, tidak terlepas juga baik nomaden dan masyarakat menetap juga berkumpul di wilayah ini. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Transoxiana pula adalah tanah air dari jenderal muslim terkenal, Timur Lenk (&lt;em&gt;Tamerlane&lt;/em&gt;). Menghilangkan Transoxiana dalam pengenalan sejarah Islam sama dengan menghilangkan salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan peradaban Islam, termasuk kemajuan ilmu pengetahuan dan kekuatan ekspansinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Biar saya mulai dari Timur Lenk terlebih dahulu. Timur Lenk memiliki masa kecil yang diperdebatkan, yang pasti nama “Timur” berarti “Besi”, tapi kebanyakan menyepakati bahwa ia masih mempunyai hubungan darah dengan orang Mongol. Ada yang mengatakan bahwa ia mempunyai hubungan kekerabatan dengan Jenghis Khan sendiri. Banyak pula yang mengutarakan bahwa ia bukanlah orang yang suka bersenda gurau, perangainya selalu serius. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Timur Lenk tidak pernah menggunakan gelar sultan selama hidupnya, lebih memilih menggunakan gelar &lt;em&gt;amir&lt;/em&gt; setelah berhasil melakukan penaklukan dan menguasai seluruh Transoxiana dibantu oleh Tokhtamysh Khan, keturunan Jenghis Khan yang berkuasa atas Kabilah Emas (&lt;em&gt;Golden Horde&lt;/em&gt;). Tokhtamys sendiri pada akhirnya berkhianat dan peperangan di antara Tokhtamysh dan Timur Lenk sampai kepada wilayah Lithuania, di mana Adipati Agung Vytautas membantu Tokhtamysh melawan Timur. Dalam pengejarannya terhadap Tokhtamysh, Timur dan pasukannya menghancurkan beberapa kota terkenal seperti Astrakhan, Sarai dan Azov.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain pertarungannya dengan Tokhtamysh, Timur juga menaklukan pasukan India di bawah Shah Tughlugh. Meskipun menggunakan pasukan gajah yang ditakuti seantero Asia Tengah-Selatan, Timur berhasil memenangkan peperangan dan menghancurkan Delhi, sehingga kekuasaannya tidak hanya Transoxiana, tapi juga meliputi wilayah India. Selain itu, ialah keturunan dari Timur Lenk lah yang bernama Babur yang membangun imperium Muslim terkuat di India, Kekaisaran Mughal. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, kemenangan besarnya adalah di Ankara, di mana ia mengalahkan salah satu pasukan yang paling ditakuti bahkan oleh Eropa, Kekaisaran Utsmani, di mana ia menawan Sultannya, Bayezid sang Halilintar. Perseteruan di antara kedua amir dan sultan ini sudah ada semenjak lama, di mana mereka masih bertukar surat yang saling mengolok-olok. Timur menganggap bahwa Dinasti Saljuk lah yang berhak menguasai Anatolia, karena mereka telah diberi mandat sebagai vasal bangsa Mongol di Anatolia. Terlepas agamanya Islam, Timur masih mempercayai akan kejayaan Mongol, seringkali ekspansinya dibandingkan dengan ekspansi Jenghis Khan dan keturunannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dinasti Timuriyah yang dibangun oleh Timur Lenk runtuh setelah ia meninggal, di sisi lain, Utsmani masih bertahan selama berabad-abad kemudian, dan mereka masih melakukan penaklukan hingga wilayah Bulgaria, Serbia, Bosnia, Wallachia dan Hungaria. Bahkan kekuatan Utsmani di Anatolia pun tidak melemah, mereka juga mampu mengalahkan pasukan Dinasti Mamalik yang berhasil menghantam laju pasukan Mongol di Ain Jalut. Pada akhirnya Utsmani diberi gelar sebagai “Kekhalifahan” Utsmaniyah, satu-satunya yang bukan berdarah Arab, berbeda dengan Kekhalifahan Abbasiyah dan Umayyah sebelumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kembali kepada Transoxiana. Selain Timur Lenk, wilayah ini sempat dikuasai oleh banyak kekaisaran, termasuk Iskandar al-Maqduni (Alexander dari Macedonia), bangsa Tartar dan Mongol, beserta daulah-daulah lainnya yang jatuh bangun di wilayah tersebut. Bisa dibilang bahwa Asia Tengah atau Transoxiana adalah wilayah yang dinamis secara politis dalam perebutan kekuasaan yang cukup berdarah. Abdul Azhim menjelaskan semua ini dengan menekankan kepada peristiwa dan nama sehingga mudah dipahami. Sejarah yang ia bahas pun berkaitan dengan awal kebangkitan wilayah Transoxiana ini, baik sebelum masehi maupun sesudah masehi. Nampaknya, wilayah ini didominasi oleh penduduk badui/nomaden yang terbiasa menggembala karena wilayah yang subur dan berdekatan dengan sungai yang dikenal oleh barat sebagai Oxus (Transoxiana: setelah sungai Oxus).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah membahas mengenai Transoxiana di masa sebelum Islam, penulis pastinya mengulas bagaimana Islam masuk ke wilayah tersebut. Ia menyebutkan beberapa nama orang Muslim yang menaklukan Asia Tengah seperti Al-Hakam bin Amr Al-Ghifari, Ubaidillah bin Ziyad, dan Umayyah bin Abi Abdillah. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah penaklukan dijelaskan, penulis menguraikan bagaimana munculnya dinasti-dinasti politik Muslim yang otonom di wilayah Transoxiana/Asia Tengah, salah satunya adalah daulah yang terkenal di wilayah anatolia sebelum Utsmani: Daulah Seljuk (Salajiqah). Daulah ini pun pada kehancuran Abbasiyah akibat invasi pasukan Mongol memilih untuk menjadi negara abdi dari Mongol sehingga tidak turut dihancurkan, meskipun pada akhirnya penolakan banyak terjadi kepadanya sehingga memunculkan banyak “ghazi” (pejuang suci) yang bergabung di bawah Osman &lt;em&gt;the Bone-Breaker&lt;/em&gt;, pendiri Kekhalifahan Utsmaniyah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pembahasan mengenai Asia Tengah ini cukup didominasi oleh bangsa Turk, mulai dari halaman awal hingga pembahasan mengenai pusat-pusat perdagangan di Asia Tengah. Nampaknya Turk (Turki) mengacu tidak hanya kepada satu negara tapi sebuah bangsa yang tersebar di beberapa wilayah seperti Asia Tengah, Asia Selatan (di bawah Muhammad Ghor), Timur Tengah hingga Eropa nantinya. Timur Lenk sendiri merupakan orang Turko-Mongol (berdarah Turki dan Mongol), hingga konfederasi Cuman-Kipchak bernama Cumania atau &lt;em&gt;Desht-i-Qipchaq&lt;/em&gt; di bagian Timurnya dikuasai oleh rombongan orang Kipchak yang memiliki asal-muasal dari bangsa Turk.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini sangat menarik karena menyingkap kisah peradaban yang ada di wilayah yang jarang dibahas mengenai ke-Islaman (mayoritas didominasi Timur Tengah, Afrika Utara, dan Andalusia) yakni Asia Tengah. Di wilayah itu Islam berbaur dengan kebiasaan orang-orang badui dan menjadi kekuatan dominan hingga sekarang. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;a href=&quot;http://bit.ly/tumbas-buku&quot;&gt;Pesan buku ini di KB. MURBA seharga &lt;strong&gt;Rp68,000&lt;/strong&gt; (sudah diskon dari harga asli Rp78,000).&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>31 Jul 2020</pubDate>
        <link>/mengenal-transoxiana-dan-sumbangannya-terhadap-peradaban-islam</link>
        <guid isPermaLink="true">/mengenal-transoxiana-dan-sumbangannya-terhadap-peradaban-islam</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Pertautan Anarkisme dan Nasionalisme: Sebuah Kajian Lintas Negara, Lintas Ideologi</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Di Bawah Tiga Bendera&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Benedict Anderson&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerjemah&lt;/strong&gt;: Ronny Agustinus&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Marjin Kiri&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: ix+378 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: Desember 2015 (Cetakan Kedua)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9789791260480&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;sekilas-karya-benedict-anderson&quot;&gt;&lt;strong&gt;Sekilas Karya Benedict Anderson&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Siapa tak kenal Benedict Richard O’Gorman Anderson (atau bisa dipanggil Ben Anderson)? Ia adalah seorang Indonesianis (seorang pengkaji Indonesia) asal Inggris yang menempuh pendidikan di Cornell University dan menjadi pengajar di sana. Ia adalah salah satu Indonesianis didikan George McTurnan Kahin yang menjadi pembimbing disertasi doktornya. Hingga sekarang, nama Benedict Anderson selalu disebutkan dengan penuh kekaguman oleh mereka yang membaca buku-bukunya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa buku Ben Anderson yang terkenal adalah &lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://shopee.co.id/Kudeta-1-Oktober-1965-Ben-Anderson-dan-Ruth-McVey-i.207062002.7442452908&quot;&gt;Kudeta 1 Oktober 1965&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; (ditulis bersama Ruth Thomas McVey dan membuat “geger” karena analisisnya yang berbeda dengan analisis arus utama mengenai G30S, diterjemahkan dan diterbitkan oleh LKPSM, lalu sekarang oleh Penerbit Gading), &lt;strong&gt;Komunitas Terbayangkan&lt;/strong&gt; (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Pustaka Pelajar bersama Insist Press), &lt;strong&gt;Kuasa-Kata&lt;/strong&gt; (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Matabangsa), &lt;strong&gt;Revolusi Pemoeda&lt;/strong&gt; (awalnya diterjemahkan dan diterbitkan oleh Sinar Harapan, dan sekarang diterbitkan oleh Marjin Kiri juga), &lt;strong&gt;Hantu Komparasi&lt;/strong&gt; (diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Penerbit Qalam) yang semuanya membahas mengenai kalau tidak nasionalisme yang kajan mengenai Jawa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, buku yang sedang saya resensi ini memiliki nuansa berbeda, buku ini berbau “anarkisme” seperti yang dapat kita kenali dalam bagian subjudulnya, &lt;em&gt;Anarkisme Global dan Imajinasi Anti-Kolonial&lt;/em&gt;. Menariknya, buku ini juga tidak mengulas, baik Indonesia maupun &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/mengenal-politik-dan-kekuasaan-dalam-kebudayaan-jawa/&quot;&gt;Jawa&lt;/a&gt;, melainkan Eropa, Amerika Serikat dan Filipina yang berfokus pada bapak bangsa Filipina dan tokoh gerakan anarkisme di Eropa dan Amerika Serikat.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;pendahuluan&quot;&gt;&lt;strong&gt;Pendahuluan&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Ben sendiri dalam pendahuluan di halaman kedua buku ini menyebutkan bahwa ia berusaha melakukan “eksperimen astronomi politik dari gaya gravitasi anarkisme di antara gerakan nasionalis militan,” yang berarti melakukan perbandingan dan pertautan antara anarkisme dan nasionalisme di berbagai negara, meskipun mengulas anarkisme namun tetap ada koridor nasionalismenya sebagai fokus kajian Ben.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada halaman selanjutnya, diutarakan pula bahwa Hari Buruh (1 Mei) diperingati untuk para anarkis imigran (bukan Marxis) yang mendapat hukuman mati di Amerika Serikat pada tahun 1887. Tanggal ini sekarang seperti menjadi monopoli dari kelompok Marxis dengan warna merah meronanya dan dikait-kaitkan dengan perlambang &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/perkembangan-marxisme-melalui-tinjauan-hobsbawm/&quot;&gt;marxisme&lt;/a&gt;, komunisme atau &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/mengenal-sneevliet-kisah-awal-sosialis-belanda-yang-membangun-komunisme-di-indonesia/&quot;&gt;sosialisme&lt;/a&gt; radikal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hubungan yang erat atas kelompok-kelompok yang memperjuangkan pembebasan nasional di Kuba dan Filipina dengan para anarkis di Prancis, Spanyol, Italia, Belgia, dlsb. menjadi salah satu fokus dalam buku ini juga, fokus ini yang memperlihatkan bahwa perjuangan melampaui batas nasional, bahkan ideologis, bahwa solidaritas tidak bisa dihalangi oleh batasan-batasan yang fana.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;orang-filipina-isabelo-de-los-reyes-dan-jose-rizal&quot;&gt;&lt;strong&gt;Orang Filipina: Isabelo de Los Reyes dan Jose Rizal&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Pembahasan awal yang dilakukan Ben adalah seputar kerja ilmiah yang dilakukan oleh Isabelo de los Reyes, seorang “Filipina” yang mengabdikan hidupnya untuk memperkenalkan folklor (dimaknai olehnya sebagai “Kearifan Rakyat”) kepada dunia, khususnya Spanyol. Dalam karyanya, Reyes nampaknya melakukan kritik melalui folklor-folklor yang ia kumpulkan dan tuliskan dalam bahasa Spanyol, di mana beberapa di kalimat dan kata di antara folklor tersebut tidak ia ketahui padanan katanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di sana ia berusaha memperlihatkan bahwa tidak ada bahasa yang lebih superior, buktinya bahasa Spanyol tidak seluruhnya dapat mengartikan istilah-istilah yang digunakan oleh orang Ilokano (suku di Filipina di mana Reyes berasal).  Ia memberikan kritik antikolonial melalui folklor Ilokano yang ia kumpulkan yang ditujukan kepada para pembaca berbahasa Spanyol yang merupakan penjajahnya kala itu. Kajian yang dilakukan Reyes ini merupakan kajian sastra poskolonial yang menjadi pelopor kajian serupa dan termasuk mutakhir pada zamannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah mengulas mengenai si ahli folklor Ilokano, Isabelo de los Reyes, Ben bertolak kepada novelis terkemuka yang sekaligus bapak bangsa Filipina, Jose Rizal yang mana kedua karyanya, &lt;em&gt;Noli me Tanggere&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;El Filibusterismo&lt;/em&gt; merupakan fiksi asli di mana adegan di dalamnya belum pernah dikenal di Filipina. Pemikiran/karya Rizal ini yang menjadi inspirasi Ben dalam memberi salah satu judul bukunya &lt;strong&gt;Hantu Komparasi&lt;/strong&gt; yang genealoginya bisa ditarik ke pemikiran Rizal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jose Rizal memiliki sejumlah teman di Eropa yang bisa membuatnya menetap lama di benua itu selama 10 tahun. Pengembaraannya inilah yang menghasilkan dua novel terkemukanya, di mana novel pertamanya bertajuk antikolonial, yang kedua bergaya “mendunia.” Namun semuanya didasari pada satu hal yang sama: perlawanan. Bagian kedua buku Ben ini didedikasikan untuk mengulas apa saja yang dilakukan Jose Rizal di Eropa, hingga ada analisis di mana kemungkinan besar bukunya dalam beberapa bagian memuat Homeopati, sebuah istilah yang berkaitan dengan kesehatan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun beberapa kalimat dalam bagian ini juga membahas tentang berkembangnya pemikiran mengenai homoseksualitas di Eropa melalui karya-karya beberapa sastrawan benua tersebut. Bagian ini kebanyakan menuliskan mengenai bagaimana Rizal bertautan dengan pemikiran dan karya para sastrawan Eropa yang turut membentuk gaya menulisnya. Meskipun ia membaca &lt;em&gt;Max Havelaar&lt;/em&gt; setelah menerbitkan novelnya &lt;em&gt;Noli me Tanggere&lt;/em&gt;, nampaknya buku tersebut dinikmati olehnya karena memiliki nuansa antikolonial, meskipun ditulis oleh seorang Belanda.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;perkembangan-anarkisme&quot;&gt;&lt;strong&gt;Perkembangan Anarkisme&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Ben dalam buku ini memperlihatkan anarkisme sebagai fenomena lintas negara, di mana munculnya perkembangan teknologi pada abad kesembilan belas turut berkontribusi pada semakin kuatnya gerakan transnasional. Banyak yang melihat bahwa keluarnya &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/anarkisme-sebuah-pengantar-singkat/&quot;&gt;Mikhail Bakunin&lt;/a&gt; dari Sidang Internasionale di Den Haag pada 1872 menandakan pelepasan anarkisme dari pemikiran komunisme, namun hingga sekarang pemikiran itu masih ada dan terus berkembang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bahkan di Indonesia pun mulai mewaspadai anarkisme yang semakin dipermasalahkan layaknya terorisme. Hal ini tidak lepas dari stigma buruk yang dibentuk di Indonesia melalui permainan bahasa, di mana tanpa memahami secara mendalam, anarkisme dan tindakan anarkis dan para anarko dianggap sebagai perusuh dan perusak tatanan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Layaknya apa yang dijelaskan Jim MacLaughlin dalam bukunya, &lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://surabaya-book-reviews.blogspot.com/2016/09/kropotkin-dicurigai-tapi-juga-dipuji.html&quot;&gt;Kropotkin and The Anarchist Intellectual Tradition&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;, anarkisme memang dimaknai sebagai “ketidakadaannya negara.” Dampak dari pemaknaan tersebut adalah setiap pemikiran dan tindakan yang melawan negara, selalu dikaitkan dengan anarkisme, entah dengan kekerasan maupun tidak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mungkin keterkaitan anarkisme dengan kekerasan bisa kita dapati dalam tabel yang disuguhkan Ben dalam buku ini yang memuat sejumlah “pembunuhan politik” yang dilakukan oleh para pengikut anarkisme/nihilisme dari tahun 1894-1914 yang termasuk di dalamnya adalah Presiden Amerika Serikat, McKinley. Pembunuhan-pembunuhan ini yang dijiplak oleh kelompok nasionalis selanjutnya dengan sasaran yang berbeda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika kelompok nasionalis membunuh penguasa negeri mereka sendiri, kaum anarkis digerakkan oleh cita-cita mereka yang melintasi batas-batas negara. Tindakan pembunuhan ini dikarenakan doktrin anarkisme yang berkembang saat itu &lt;em&gt;propaganda by the deeds&lt;/em&gt; (propaganda lewat tindakan). Karena tindakan ini, kaum anarkis di berbagai negara sekarang menanggung kasus-kasus yang dilakukan oleh sesepuh mereka dulu. Anarkisme memiliki makna yang peyoratif (buruk) tidak terkecuali di Indonesia. Menurut saya, bagian buku ini yang berjudul “Dalam Bayang-bayang Dunia Bismarck dan Nobel” ini yang memiliki kadar pembahasan anarkisme yang cukup mendalam, meskipun Ben memang tidak jatuh pada perdebatan filosofis dan pengartian terhadap anarkisme, melainkan berfokus pada tindakan dan tulisan mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Anarkis lainnya yang disebut dalam buku ini adalah Errico Malatesta dari Italia, Francois Ravachol yang mendapatkan hukuman mati, ia dijelaskan sebagai sejenis orang suci bagi para pengikut anarkisme, terlepas dirinya pernah menjadi seorang penjahat, namun ia mengaku bahwa tindakannya didasarkan pada prinsip anarkisme dan melawan ketidakadilan. Begitu disucikannya orang yang satu ini hingga ada nyanyian untuk menghormatinya, nampaknya &lt;em&gt;idolatry&lt;/em&gt; juga ada di kalangan anarkis. Apa yang dilakukan Ravachol ini melahirkan sebuah efek domino di berbagai belahan dunia lainnya yang turut disebutkan dalam buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam &lt;em&gt;El Filibusterismo&lt;/em&gt;, Ben menunjukkan pada bagian mana Jose Rizal mempertautkan nasionalisme antikolonial dengan “propaganda lewat aksi” ala kelompok anarkis melalui rencana pengeboman yang akan dilakukan oleh tokoh utamanya dalam novel itu. Mungkin novel ini nantinya akan dilarang di Indonesia oleh pemerintahnya karena memuat unsur pengeboman. Meskipun tidak secara terbuka atau jelas ditunjukkan bahwa Rizal terpengaruh pemikiran anarkisme, nampaknya secara tersirat Ben berusaha mengatakan bahwa IYA, memang ada bagian anarkisme dalam pemikiran Rizal, bahwa kehidupannya yang lama di Eropa membawanya untuk berhubungan dengan banyak orang yang memiliki koneksi pula dengan kalangan anarkis. Bahwa globalisasi dan semakin meningkatnya teknologi informasi di dunia turut membantu menyebarkan pemikiran anarkisme, meskipun bertautan erat dengan pembebasan nasional atau nasionalisme antikolonial.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nampaknya memang semenjak abad kesembilan belas, anarkisme menjadi ideologi yang menarik, terlepas marxisme dianggap yang berhasil menjadi dominan di kalangan kiri. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>21 Jul 2020</pubDate>
        <link>/pertautan-anarkisme-dan-nasionalisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/pertautan-anarkisme-dan-nasionalisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Riamnya Amarah: Renungan Covid-19 Saya</title>
        <description>&lt;p&gt;oleh &lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;a href=&quot;/tag/john-holloway&quot;&gt;John Holloway&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pintu terbuka. Anda dapat merasakan energi yang terpendam bahkan sebelum wajahnya muncul. &lt;em&gt;Lockdown&lt;/em&gt; telah usai. Sebuah bendungan jebol. Mengeluarkan semburan amarah, kegelisahan, kefrustasian, impian, harapan, ketakutan. Seolahnya kita tampak tidak bisa bernafas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita semua telah dikunci. Terputus secara fisik dari dunia luar, kita telah berusaha untuk memahami apa yang terjadi. Virus yang aneh telah mengubah hidup kita, tapi dari mana asalnya? Ia pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok, tapi semakin banyak yang kita baca, kita menyadari bahwa ia bisa saja di manapun. Pakar telah mengingatkan selama bertahun-tahun kemungkinan akan sebuah wabah, bahkan jika mereka tidak memahami sebagaimana cepat hal itu menjalar. Ia tidaklah berasal dari tempat tertentu, melainkan berasal dari kehancuran atas hubungan kita dengan lingkungan alamiah. Semenjak industrialisasi pertanian, kehancuran pertanian di seluruh dunia, bertumbuhnya perkotaan, kehancuran habitat hewan liar, komersialisasi dari hewan-hewan ini demi keuntungan. Dan kita belajar dari para pakar bahwa jika tidak ada perubahan radikal dalam hubungan kita dengan bentuk-bentuk lain kehidupan, maka kemungkinan besar bahwa lebih banyak wabah akan datang. Hal itu adalah peringatan: menyingkirkan kapitalisme atau maju menuju kepunahan. Menyingkirkan kapitalisme, sebuah fantasi pastinya. Dan disanalah tumbuhnya ketakutan kita dan sebuah amarah bahkan mungkin harapan bahwa mungkin ada beberapa cara kita dapat melakukannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dan ketika &lt;em&gt;lockdown&lt;/em&gt; berlangsung, perhatian kita bergeser, bergerak melampaui penyakit ke soal yang diberitahukan kepada kita sebagai konsekuensi ekonomi. Kita bergerak ke dalam krisis ekonomi terburuk semenjak kisaran tahun 1930-an, terburuk selama 300 tahun di Inggris, ujar mereka. Lebih dari seratus juta orang akan jatuh miskin, kata Bank Dunia. Satu dasawarsa lagi hilang untuk Amerika Latin. Jutaan dan jutaan orang menganggur di seluruh dunia. Orang-orang kelaparan, orang-orang memohon, lebih banyak kejahatan, lebih banyak kekerasan, harapan hancur. Tidak akan ada pemulihan yang cepat, pemulihan apapun cenderung rapuh dan lemah. Dan kita berpikir: semua ini karena kita harus tinggal di rumah untuk beberapa bulan? Kita tahu tidak mungkin demikian adanya. Tentu saja kita akan sedikit lebih miskin jika orang berhenti bekerja selama beberapa bulan, tetapi jutaan orang pengangguran, orang mati kelaparan? Tentunya tidak. Istirahat selama beberapa bulan tidak dapat berdampak seperti itu. Justru sebaliknya, kita harus kembali segar dan penuh energi untuk melakukan semua hal yang perlu dilakukan. Dan kita lebih banyak berpikir dan kita menyadari bahwa memang krisis ekonomi bukanlah konsekuensi dari virus, meskipun mungkin dipicu olehnya. Dengan cara yang sama ketika wabah diprediksi, krisis ekonomi bahkan diprediksi dengan lebih jelas. Selama tiga puluh tahun atau lebih, ekonomi kapitalis benar-benar hidup dengan uang pinjaman: ekspansinya didasarkan pada pinjaman. Sebuah rumah penuh kartu bersiap-siap untuk runtuh. Ia hampirlah runtuh, dengan dampak yang paling buruk, di tahun 2008, tapi sebuah ekspansi pembaharuan dan lebih besar dari kredit menopangnya lagi. Komentator ekonomi tahu hal itu tidak dapat bertahan lama. “Tuhan memberikan Nuh pertanda berupa pelangi, tidak ada lagi air, dan api selanjutnya.”: krisis keuangan 2008 adalah banjir, tetapi waktu berikutnya, yang tidak akan tertunda lebih lama lagi, ialah api.&lt;strong&gt;[1]&lt;/strong&gt; Inilah yang kita jalani: api krisis kapitalis. Begitu banyak kesengsaraan, kelaparan, harapan yang hancur, bukan karena virus, tetapi untuk mengembalikan kapitalisme ke profitabilitas. Dan bagaimana jika kita menyingkirkan begitu saja sistem berdasarkan laba? Bagaimana jika kita keluar dengan energi baru kita begitu saja dan melakukan apa yang perlu dilakukan tanpa mengkhawatirkan keuntungan: membersihkan jalanan, membangun rumah sakit, membuat sepeda, memainkan musik, apapun lah. Tidak ada pengangguran, tidak ada kelaparan, tidak ada mimpi yang hancur. Dan para kapitalis? Entah gantung diri di tiang lampu terdekat (selalu merupakan godaan) atau lupakan saja. Lebih baik lupakan saja. Fantasi lain, tetapi lebih dari sekedar fantasi: kebutuhan mendesak. Ketakutan, kemarahan dan harapan kita tumbuh dalam diri kita.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dan ada lebih banyak, lebih banyak lagi, untuk memberi makan kemarahan kita selama &lt;em&gt;lockdown&lt;/em&gt;. Seluruh peristiwa virus Corona telah menjadi kedok besar kapitalisme. Hal yang jarang terbuka sebelumnya. Dengan banyak cara. Perbedaan besar dalam pengalaman &lt;em&gt;lockdown&lt;/em&gt;, sebagai permulaan, bergantung pada seberapa luas ruang yang Anda miliki, apakah Anda memiliki taman, apakah Anda memiliki rumah kedua yang dapat anda kunjungi. Terkait dengan ini, dampak yang berbeda dari virus pada orang kaya dan orang miskin, sesuatu yang telah menjadi lebih gamblang dan gamblang dengan semakin menyebarnya wabah ini. Terkait dengan hal itu, perbedaan besar dalam tingkat infeksi dan kematian di antara orang kulit putih dan kulit hitam. Dan ketidakcukupan layanan pengobatan yang mengerikan setelah tiga puluh tahun terabaikan. Dan ketidakmampuan yang amat parah di banyak negara. Dan perluasan mencolok pengawasan dan kekuasaan polisi dan militer di hampir semua negara. Dan diskriminasi dalam ketentuan pendidikan antara mereka yang memiliki akses internet dan mereka yang tidak, belum lagi isolasi lengkap sistem pendidikan dari perubahan yang terjadi di dunia di mana anak-anak tinggal. Dan begitu banyak perempuan yang terpapar kekerasan yang mengerikan. Semuanya ini, dan lebih banyak lagi, pada saat yang sama dengan pemilik Amazon dan Zoom dan begitu banyak perusahaan teknologi lainnya menuai keuntungan luar biasa dan pasar saham, didukung oleh tindakan bank sentral, dilanjutkan dengan transfer kekayaan tak beralasan dari si miskin untuk si kaya. Dan amarah kita tumbuh dan ketakutan kita, dan keputusasaan kita dan tekad kita bahwa hal itu tidak harus seperti demikian, bahwa kita TIDAK HARUS MEMBIARKAN MIMPI BURUK INI MENJADI KENYATAAN.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu kita mendengar pintu terbuka dan bendungannya jebol. Amarah dan harapan kita meledak ke jalanan. Kita mendengar mengenai George Floyd, kita mendengar perkataan terakhirnya, “saya tidak bisa bernafas”. Perkataan tersebut berkelindan di kepala kita. Kita tidak mendapati lutut polisi pembunuh itu di leher kita tapi kita juga tidak bisa bernafas. Kita tidak bisa bernafas karena kapitalisme mencekik kita. Kita merasakan kekerasan, kekerasan yang keluar dari diri kita.&lt;strong&gt;[2]&lt;/strong&gt; Tapi itu bukanlah cara kita, itu adalah cara mereka. Namun, harapan-amarah kita, harapan-kegusaran kita harus bernafas, harus bernafas. Dan mereka memang bernafas, dalam demonstrasi besar-besaran melawan kebrutalan polisi dan rasisme di seluruh dunia, dengan menjatuhkan patung pedagang budak, Edward Colston, ke sungai di Bristol, dengan pembentukan wilayah otonom Capitol Hill di Seattle, dalam pembakaran dari kantor polisi di Minneapolis, dalam sebegitu banyak kepalan tangan diangkat ke langit.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dan arus kemarahan-harapan, ketakutan-kelaparan-mimpi-frustasi terus mengalir, dari satu amarah ke yang lain, menjalin setiap amarah, dan meluap ke yang berikutnya. Kemarahan yang membara dalam diri kita tidak hanya menentang kebrutalan polisi, tidak hanya terhadap rasisme, tidak hanya terhadap perbudakan yang menciptakan dasar bagi kapitalisme, tetapi juga terhadap kekerasan terhadap perempuan dan semua bentuk seksisme, dan juga pawai besar 8 juta gelombang sembari bernyanyi. Rakyat Chili kembali turun ke jalan dan melanjutkan revolusi mereka. Dan rakyat Kurdistan mendorong kembali negara-negara yang tidak bisa mentolerir gagasan masyarakat tanpa negara. Dan orang-orang Hong Kong menginspirasi semua orang Tionghoa dalam penolakan mereka terhadap penghinaan dari komunisme: tidak ada lagi komunisme, ujar mereka, mari berkomunal. Dan &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/apakah-zapatista-adalah-perjuangan-anti-kapitalis/&quot;&gt;Zapatista&lt;/a&gt; membuat dunia dari banyak dunia. Dan petani meninggalkan tempat kumuh mereka dan kembali ke lahan mereka dan mulai memperbaiki hubungan mereka dengan bentuk kehidupan lainnya. Dan kelelawar beserta hewan liar lainnya kembali ke habitat alamiah mereka. Dan para kapitalis merangkak kembali ke habitat alami mereka, di bawah tangga. Dan buruh, buruh kapitalis, mesin mengerikan yang menghasilkan kekayaan dan kemiskinan dan menghancurkan kehidupan kita, berakhir dan kita mulai melakukan apa yang ingin kita lakukan, kita mulai menciptakan dunia yang berbeda atas dasar saling pengakuan atas martabat. Dan kemudian tidak akan ada dasawarsa yang hilang dan tidak ada pengangguran dan tidak ada ratusan juta orang yang di dorong dalam kemiskinan ekstrim dan tidak ada kelaparan. Dan kemudian, ya, maka kita bisa bernafas.*&lt;/p&gt;

&lt;h6 id=&quot;catatan&quot;&gt;Catatan&lt;/h6&gt;

&lt;p&gt;[1] Lihat bab terakhir dari karya Martin Wolf berjudul &lt;em&gt;The Shifts and the Shocks&lt;/em&gt;, Penguin Press, New York, 2014: “Kesimpulan: Api Dilain Waktu”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;[2] Lihat Linton Kwesi Johnson, “Time to Come”: “sekarang anda lihat bara api di mata saya/ mencium bau tubuhku/merasakan kekerasan, kekerasan/ keluar dari diri saya;/ hari-hati!” &lt;em&gt;Dread Beat and Blood&lt;/em&gt;, Bogle-L’Ouverture Publications, London, 1975.&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;/tag/john-holloway&quot;&gt;John Holloway&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; adalah Profesor Sosiologi di the Instituto de Ciencias Sociales y Humanidades, Benemerita Universidad Autonoma de Puebla di Mexico.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Artikel ini diterjemahkan oleh &lt;a href=&quot;/author/reza&quot;&gt;Reza&lt;/a&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>17 Jun 2020</pubDate>
        <link>/riamnya-amarah-renungan-covid-19-saya</link>
        <guid isPermaLink="true">/riamnya-amarah-renungan-covid-19-saya</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Free E-book) Cristobal Kay dan Robert N. Gwynne: Relevansi Teori Dependensi dan Strukturalis dalam Periode Neoliberal</title>
        <description>&lt;p&gt;Buku saku kedua dari Kedai Resensi Surabaya ini merupakan kajian pembangunan yang mengulas dua teori dasar dalam memperkenalkan studi pembangunan: strukturalisme dan teori dependensi dengan sudut pandang Amerika Latin. Kedua penulis menjabarkan keterkaitan dua teori tersebut dalam kondisi masa kini, bagaimana keduanya menghadapi pandangan kelompok neoliberal dan bagaimana strukturalisme melahirkan pandangan baru bernama neostrukturalisme. Semoga buku ini bermanfaat bagi siapapun yang ingin mendalami segala hal yang berhubungan dengan istilah “pembangunan”.&lt;/p&gt;

&lt;h6 id=&quot;abstrak&quot;&gt;Abstrak&lt;/h6&gt;

&lt;p&gt;Sebuah ekonomi politik baru sedang dibangun di Amerika Latin, ketika perekonomian nasional menjadi ditata ulang secara radikal dan diubah dan pengaturan sosial baru sedang dibuat. Perekonomian dan masyarakat Amerika Latin bereaksi terhadap perubahan ini dan mengaitkan kembali kepada permintaan atas dunia yang semakin kompetitif dan saling bergantung. Perubahan semacam itu terjadi dalam sebuah benua dari tata kelola pemerintahan demokratis, menyediakan saluran untuk menantang paradigma neoliberal. Disebutkan dalam artikel ini bahwa strukturalisme dan teori dependensi dapat memainkan bagian yang bermanfaat dalam proses melawan dan membangun paradigma pembangunan alternatif terhadap dominasi masa kini dari paradigma neoliberal.&lt;/p&gt;

&lt;h4 id=&quot;tentang-penulis&quot;&gt;Tentang Penulis&lt;/h4&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/wp-content/uploads/2020/05/C.-KAY-R.N.-GWYNNE-Relevansi-Teori-Dependensi-dan-Strukturalis-dalam-Periode-Neoliberal.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;images/Cover-depan-CK-RNG-KRS-211x300.jpg&quot; alt=&quot;Cover depan-CK-RNG-KRS&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/wp-content/uploads/2020/05/C.-KAY-R.N.-GWYNNE-Relevansi-Teori-Dependensi-dan-Strukturalis-dalam-Periode-Neoliberal.pdf&quot;&gt;Unduh e-book ini gratis.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://www.researchgate.net/profile/Cristobal_Kay&quot;&gt;Cristobal Kay&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; adalah Profesor Emeritus di bidang Rural Development and Development Studies di Instutute of Social Studies (ISS), Erasmus University Rotterdam, Den Haag, Belanda. Ia adalah ekonom ternama asal Belanda yang berfokus pada studi pembangunan juga menuliskan banyak artikel berkaitan dengan studi pembangunan dan kajian agraria.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://www.researchgate.net/profile/Robert_Gwynne&quot;&gt;Robert N. Gwynne&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; adalah Honorary Senior Research Fellow di School of Geography, Earth and Environmental Sciences di University of Birmingham. Lingkup kajiannya ialah mengenai industri agrikultur. Ia juga mengkaji mengenai strategi hulu ke hilir dari perusahaan Wine dalam rantai nilai global.&lt;/p&gt;

&lt;h5 id=&quot;tentang-penerjemah&quot;&gt;Tentang Penerjemah&lt;/h5&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;/author/reza&quot;&gt;Reza Maulana Hikam&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; adalah alumni Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Bersama &lt;a href=&quot;/author/faricha&quot;&gt;A. Faricha Mantika&lt;/a&gt; turut mengelola website Kedai Resensi Surabaya dan toko buku &lt;a href=&quot;https://instagram.com/kbmurba&quot;&gt;KB. MURBA&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>31 May 2020</pubDate>
        <link>/free-ebook-ckay-rngwynne</link>
        <guid isPermaLink="true">/free-ebook-ckay-rngwynne</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Mengenal Politik dan Kekuasaan dalam Kebudayaan Jawa</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Culture and Politics in Indonesia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penyunting&lt;/strong&gt;: Claire Holt&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: James Siegel, Lionel Landry, Benedict R. O’G. Anderson, Sartono Kartodirdjo, R. William Liddle, Taufik Abdullah, Daniel S. Lev, Clifford Geertz&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Cornell University Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: xiv+348 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 1972&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 08140665X&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini berisi beberapa artikel yang ditulis oleh para sarjana ahli di bidang sosial kebudayaan baik dari dalam maupun luar negeri. Diterbitkan oleh salah satu penerbit yang punya kepedulian terhadap sejarah Indonesia, sebuah penerbit universitas di Amerika yang punya program penelitian mengenai Indonesia berjudul Cornell Modern Indonesia Project. Nama-nama dalam buku ini adalah nama terkenal yang tulisannya sudah terbukti membuka khazanah baru nan menarik mengenai negeri khatulistiwa ini. Resensi ini mengungkap salah satu bagian yang ditulis oleh Benedict Anderson yang berjudul &lt;em&gt;The Idea of Power in Javanese Culture&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;konsep-politik-dan-kekuasaan-di-jawa&quot;&gt;&lt;strong&gt;Konsep Politik dan Kekuasaan di Jawa&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Diawali dengan kajian mengenai konsepsi politik Jawa yang berlawanan dengan konsepsi politik modern di &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kekuasaan-kedaulatan-dan-dominasi-dalam-perspektif-foucauldian/&quot;&gt;Barat&lt;/a&gt;. Kajian ini ditulis oleh Ben Anderson, ia menyuguhkan isi dari tradisi politik Jawa ini: &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, kekuasaan itu nyata atau konkrit, kekuasaan berada terpisah secara independen dari penggunanya, ia bukanlah dalil teoritis melainkan kenyataan eksistensial, kekuasaan yang tidak terlihat, misterius dan berbentuk energi keilahian yang membentuk semesta, kekuasaan itu termanifestasikan dalam semua bagian dari semesta seperti proses generasi dan regenerasi, semuanya dikelola oleh kekuasaan yang tak kasat mata. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, kekuasaan itu homogen, yang mana kekuasaan di tangan seseorang sama dengan kekuasaan di tangan orang lainnya. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, kuantum kekuasaan di alam semesta ialah berkelanjutan atau konstan, ia ada dan bukan merupakan produk dari organisasi atau individu, mendahului semuanya dan membuat semuanya yang ada, kuantitas totalnya tetap, meski distribusinya bisa berbeda. &lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt;, kekuasaan tidak memunculkan pertanyaan mengenai &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/foucault-dan-septimus-severus-sebuah-rezim-kebenaran/&quot;&gt;legitimasi&lt;/a&gt;, kekuasaan bukanlah masalah legitimasi, kekuasaan adalah kekuasaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam tradisi ortodoks, pencarian atas kekuasaan dilakukan melalui praktik ala yoga dan asketis ekstrim, biasanya dikenal dengan istilah bertapa atau semedi. Semuanya dirancang untuk mengkonsentrasikan dan memfokuskan esensi primordial. Salah satu kisahnya adalah para empu pembuat keris yang mampu membuat senjata dengan mengkonsentrasikan panas dalam tubuhnya ke bagian jempol tangannya. Konsep mengenai konsentrasi yang mendasari praktik asketisme berkaitan erat dengan gagasan mengenai kemurnian, sedangkan gagasan ketidakmurnian berkaitan dengan difusi (penyebaran) atau disintegrasi. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para penguasa di Jawa adalah mereka yang mampu mengkonsentrasikan dirinya sehingga membawanya kepada kemurnian individu. Bahkan dalam tradisi Jawa, seorang penguasa harus mengkonsentrasikan di sekitar dirinya segala objek atau orang yang memiliki atau memuat kekuasaan yang tidak umum. Mereka punya pusaka, keris, tombak, instrumen musik sakral dan lain sebagainya, juga berbagai jenis manusia yang aneh seperti albino, badut, peramal, dan orang kontet. Mereka yang ada di istana akan diserap kekuasaannya oleh sang penguasa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tradisi pemikiran politik orang Jawa menekankan konsentrasi sebagai pertanda dari kekuasaan, bukan penggunaan dari kekuasaan tersebut. Pertanda paling jelas dari kekuasaan seseorang adalah kemampuannya untuk berkonsentrasi: untuk memfokuskan kekuasaan personalnya, untuk menyerap kekuasaan dari luar, dan untuk mengkonsentrasikan di dalam dirinya pertentangan dari yang berlawanan. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu gambaran umum yang berkaitan dengan tipe penyerapan ini terhadap konsentrasi dari yang berlawanan, adalah pertarungan antara pahlawan dan musuhnya, di mana musuhnya yang kalah dan mati masuk ke dalam tubuh sang pahlawan, menambah kekuatannya. Seorang yang berkuasa ialah maskulin sekaligus &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/seorang-lelaki-bicara-feminisme/&quot;&gt;feminim&lt;/a&gt;, berisi kedua elemen yang saling berkonflik tersebut dan menjaganya dalam keseimbangan. Jika kemampuan untuk menyerap kekuatan musuhnya adalah klaim yang penting dalam memiliki kekuasaan, maka pertanda publiknya adalah “mendapatkan wahyu, andaru, atau pulung.”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertanda sosial dari konsentrasi kekuasaan adalah kesuburan, kesejahteraan, kestabilan, dan kedigdayaan. &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/seks-dan-kekuasaan-foucault-tidak-melulu-membahas-gelas/&quot;&gt;Kesuburan&lt;/a&gt; ini berkaitan dengan hal-hal seksual, melemahnya aktivitas seksual dapat dilihat sebagai berkurangnya kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk memberi hidup. Menariknya, tradisi politik Jawa juga mengenal keberadaan mesias, tapi bukan sebagai pertanda akhir zaman. Mesias akan selalu muncul pada zamannya sendiri-sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seorang penguasa dalam tradisi Jawa memiliki dua cara dalam naik ke tampuk kekuasaan: jikalau ia adalah pemimpin pertama dari sebuah dinasti, ia muncul sebagai orang yang dipercaya mendapatkan wahyu, sedangkan mereka yang melanjutkan sebuah dinasti selalu didasarkan klaim keturunan atau kepemilikan pusaka dan sejenisnya yang berkaitan dengan penguasa sebuah negara. Satu hal yang tidak berbeda cukup jauh dengan politik manapun adalah basis kewilayahan dalam politik, karena itu, musuh utama dari seorang penguasa adalah penguasa negara tetangganya kekuasaan semakin melemah ketika posisinya semakin jauh dari pusat. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk menjaga kekuasaan agar tidak ditarik oleh &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kenali-musuhmu-kenali-fasisme/&quot;&gt;musuhnya&lt;/a&gt; maka harus menyerap kekuasaan dari tetangganya. Penyerapan di sini dilihat sebagai penerimaan dari negara tetangga terhadap kekuasaan dari seorang penguasa. Kekuasaan dari penguasa diukur dari jumlah populasi yang dikuasainya, begitu pula petugas bawahannya akan memiliki jenis kekuasaan yang didasarkan pada hal yang sama.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;kualitas-kepribadian-penguasa-di-jawa&quot;&gt;&lt;strong&gt;Kualitas Kepribadian Penguasa di Jawa&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Kualitas yang biasanya ditekankan oleh para priyayi yang membedakan diri mereka dari orang biasa adalah &lt;em&gt;halus&lt;/em&gt;. Kehalusan dari jiwa berarti dapat mengendalikan diri, kehalusan dari tampilan adalah kecantikan dan keeleganan, kehalusan dari perilaku berarti kesopanan dan kesantunan. Biasanya kualitas ini dikaitkan dengan istilah &lt;em&gt;satria&lt;/em&gt;. Kehalusan sendiri adalah pertanda kekuasaan, karena kehalusan hanya dapat dicapai melalui konsentrasi energi. Sehingga lawan dari seorang satria adalah pamrih yang mana melakukan sesuatu karena ada keinginan dari pribadinya, kekuasaan dikaitkan dengan peribahasa Jawa: &lt;em&gt;sepi ing pamrih, rame ing gawe&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun yang dikenal sebagai &lt;em&gt;perintah halus&lt;/em&gt; yang berarti memberikan perintah dengan cara yang sopan dan tidak langsung yang terkadang terdengar seperti permintaan, tapi baik pemberi perintah dan penerimanya tahu bahwa itu perintah bukan permintaan. Orang dengan kekuasaan yang sebenarnya tidak perlu menggunakan intonasi tinggi untuk mengeluarkan perintah, kehalusan dari perintah adalah ungkapan eksternal dari &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/demokrasi-pembatasan-eksekutif-dan-kegagalan-partai-politik/&quot;&gt;kewenangannya&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kehalusan adalah manifestasi dari kekuasaan, ia bisa didapat melalui jalur asketisme tradisional dan kedisiplinan spiritual. Namun kedisiplinan spiritual ini tidak dapat dicapai dengan cara yang buruk, mencapainya hanya dimungkinkan melalui pendidikan dalam bentuk tertentu dari pengetahuan. Pengetahuan menjadi kunci dari kekuasaan. Dalam periode penting dalam kehidupan seorang &lt;em&gt;satria&lt;/em&gt; adalah periode dimana ia mengasingkan diri dan berada dibawah pengajaran dari seorang pertapa yang ia menjalani jalur untuk mendapatkan pengetahuan esoterik. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Melek huruf dari kelas penguasa menjadi simbol kekuasaan karena kemampuan untuk melakukan lompatan kualitatif dari kondisi buta huruf. Kekuasaan mereka tidak didapatkan melalui pembentukan konsep baru melalui masyarakat (penemuan ilmu atau istilah-istilah pengetahuan baru layaknya cendekiawan atau sarjana masa kini), tapi melalui kemampuan untuk menembus dan menjaga pengetahuan lama dan rahasia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kekayaan seharusnya mengalir kepada pemilik kekuasaan, sebagai konsekuensi dari kekuasaan. Sama seperti pusaka, populasi negara tetangga dan lainnya tertarik kepada pusat dari kekuasaan. Kekayaan yang amat sangat yang dimiliki oleh penguasa hebat di Jawa adalah atribut dari kekuasaan, bukan cara untuk mendapatkan kekuasaan. Maka dalam tradisi politik Jawa, kekayaan mengikuti kekuasaan, bukan sebaliknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari penjelasan kekuasaan di atas bukan berarti penguasa tidak memiliki kewajiban, kesejahteraan masyarakat bergantung pada kemampuan mengkonsentrasikan kekuasaan dari penguasanya, pertanda eksternal dari penurunan kekuasaan adalah pembusukan dan gangguan yang ada dalam masyarakat. Kesejahteraan dari masyarakat tidak bergantung pada aktivitas komponen individunya tapi kepada energi yang terkonsentrasi dalam pusatnya. Kewajiban mendasar pusat adalah kepada dirinya. Jika kewajiban itu terpenuhi maka kesejahteraan masyarakat akan pasti ada. Penguasa harus berperilaku dengan baik atau kekuasaannya akan berkurang dan menghilang dan bersamanya turut hilang tatanan dan kehalusan dalam sistem sosial.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;peranan-kritik-dalam-kekuasaan-di-jawa&quot;&gt;&lt;strong&gt;Peranan Kritik dalam Kekuasaan di Jawa&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Meskipun kekuasaan memiliki kebijaksanaan dalam tradisi politik Jawa, namun tetap ada individu yang memiliki peran sebagai kritikus kekuasaan, atau lebih halusnya “pengingat” dari yang berkuasa. Kelompok ini diwakili oleh &lt;em&gt;resi&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;begawan&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;adjar&lt;/em&gt; (dalam tradisi Islam Jawa diganti menjadi Kyai) yang biasanya berada di wilayah terasing jauh dari masyarakat. Keterasingan fisik mereka menandakan pemisahan dari saling ketergantungan terhadap kehidupan di masyarakat, mereka swadaya dan berada di luar tatanan politik. Mereka menarik diri dari masyarakat untuk mencari kewaskitaan, mempelajari rahasia semesta dan mempersiapkan diri untuk kematian. Peran umum dari seorang “intelektual” semacam ini adalah untuk mendiagnosis kebusukan dalam sebuah negara dan memperingatkan kejatuhan dari sebuah dinasti.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat mereka memperingatkan seorang penguasa, reaksi umumnya adalah kekerasan yang mereka dapatkan dari penguasa: dipukuli, disiksa bahkan dibunuh. Tapi kekerasan yang dilakukan ialah pertanda bahwa ramalan si “intelektual” sedang berjalan dan akan terjadi. Kekerasan yang dilakukan seorang penguasa terhadapnya menunjukkan bahwa sang penguasa dipenuhi dengan keinginan pribadi, sedangkan, karena si “intelektual” sudah terpisah dari masyarakat, tidak bisa dipertanyakan lagi bahwa tujuannya ialah tanpa pamrih. Dengan melakukan kekerasan terhadap para kritikusnya, rezim justru membenarkan kritik yang ditujukan padanya dan memperkuat otoritas dari prediksi yang dilakukan oleh kritikusnya.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;kritik-terhadap-artikel-benedict-anderson-ini&quot;&gt;&lt;strong&gt;Kritik terhadap Artikel Benedict Anderson Ini&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Konsepsi politik dan kekuasaan dalam tradisi Jawa ini memang sangat menarik dan menantang konsepsi umum dari konsep politik dan kekuasaan dari tradisi intelektual Barat pada umumnya. Kajian Benedict Anderson ini memang hanya berfokus pada Jawa dan tidak bisa menjadi sebuah pegangan umum dalam melihat konstelasi politik Indonesia di wilayah lainnya secara keseluruhan, namun cukup menggambarkan kekuasaan “pusat” Indonesia karena Jawa sebagai pusat dari kekuasaan dan politik di Indonesia, dua presiden pertama Indonesia pun menggunakan gaya kekuasaan dan politik Jawa dalam kepemimpinan mereka yang berhasil membuat mereka berkuasa dalam jangka waktu yang lama (&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/asal-usul-retaknya-hubungan-diplomatik-indonesia-malaysia/&quot;&gt;Soekarno&lt;/a&gt; dan &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kondisi-politik-indonesia-pasca-soeharto-dan-posisi-oligarki-sekarang/&quot;&gt;Soeharto&lt;/a&gt;) namun juga membawa keduanya jatuh dengan cara yang cukup tidak menyenangkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi para pembaca yang sangat mendalami dan sangat tertarik pada konsepsi dan teori politik dan kekuasaan ala Barat, maka artikel ini bisa jadi pembanding terhadap konsepsi dan teori tersebut, karena menggambarkan sesuatu yang sepenuhnya berbeda dengan Barat, namun konsepsi politik Jawa ini dipenuhi mistisisme yang akan ditolak mentah-mentah oleh para pendukung pemikiran politik Barat yang sangat pro terhadap ke-masuk-akal-an. Beberapa di antaranya akan dianggap tidak masuk akal dan kurang lengkap penjelasan yang diberikan oleh Ben Anderson. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kajian ini sebenarnya akan lebih komprehensif jika ada sarjana, akademisi, pemikir, teoritisi, intelektual, intelegensia, elit modern, kaum terpelajar (dan istilah apapun yang menggambarkan &lt;em&gt;orang pintar&lt;/em&gt;) yang melanjutkan studi ini dengan membedah satu per satu konsepsi politik yang ditawarkan Ben dalam artikel ini. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Secara keseluruhan artikel ini hanyalah sebagai suatu pengantar guna memahami cara berpikir orang Jawa mengenai kekuasaan dan politik, bukan membentuk teori dan konsep politik yang terpisah dari Barat, karena masih banyak istilah yang dihubungkan kepada konsepsi dan teori politik Barat. Tapi setidaknya kita harus mengacungi jempol usaha Benedict Anderson dalam memperkenalkan Indonesia di mata pembaca internasional, apalagi artikel ini ditulis dengan bahasa Inggris yang mudah dipahami. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>26 May 2020</pubDate>
        <link>/mengenal-politik-dan-kekuasaan-dalam-kebudayaan-jawa</link>
        <guid isPermaLink="true">/mengenal-politik-dan-kekuasaan-dalam-kebudayaan-jawa</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>(Free E-book) Andre Gunder Frank: Pembangunan Negara Terbelakang</title>
        <description>&lt;p&gt;Kajian mengenai pembangunan, perkembangan, dan pertumbuhan di suatu negara dan di dunia kerap kali didominasi oleh aspek ekonomi saja. Memang betul bahwa grafik, tabel, dan angka mempermudah orang untuk memahami permasalahan pembangunan (baca: ekonomi). Namun, dalam buku kecil ini Andre Gunder Frank menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Bahwa, dalam suatu negara yang tergolong terbelakang, berkembang, satelit, miskin, dunia ketiga, dan istilah lainnya yang menyatakan kekurangan “secara ekonomi” sebenarnya memiliki aspek/faktor lain yang menyebabkan negara tersebut menjadi seperti itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejarah dan politik, begitupula kondisi sosial turut berkontribusi pada keadaan suatu negara yang “minus.” Membandingkannya dengan negara lain (baca: dengan Eropa Barat, Amerika Serikat, atau Jepang) tidaklah pantas karena masing-masing negara memiliki aspek/faktor lain selain ekonomi yang berbeda-beda. Buku ini akan menjelaskan kenapa aspek/faktor lain itu sangat penting untuk kita pelajari meskipun buku ini awalnya terbit sebagai artikel pada tahun 1966 yang beberapa bagiannya masih relevan hingga sekarang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/wp-content/uploads/2020/05/Andre-Gunder-Frank-Pembangunan-Negara-Terbelakang-KRS.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;images/AGF-Pembangunan-Negara-Terbelakang-Cover-KRS-722x1024.jpg&quot; alt=&quot;AGF-Pembangunan-Negara-Terbelakang-Cover-KRS&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/wp-content/uploads/2020/05/Andre-Gunder-Frank-Pembangunan-Negara-Terbelakang-KRS.pdf&quot;&gt;Unduh e-book ini gratis.&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;E-book&lt;/em&gt; ini diterjemahkan dari artikel &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/amerika-latin-yang-tergantung-dan-terbelakang/&quot;&gt;Andre Gunder Frank&lt;/a&gt; yang terbit di &lt;a href=&quot;https://monthlyreview.org/&quot;&gt;Monthly Review&lt;/a&gt;, sebuah majalah sosialis independen, berjudul &lt;em&gt;&lt;a href=&quot;https://monthlyreviewarchives.org/index.php/mr/article/view/MR-018-04-1966-08_3&quot;&gt;The Development of Underdevelopment&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; atas seizin penerbit. Bebas disebarkan selama &lt;strong&gt;tidak untuk tujuan komersial&lt;/strong&gt; dengan tetap mencantumkan sumber (Monthly Review sebagai sumber bahasa Inggris dan Kedai Resensi Surabaya sebagai sumber bahasa Indonesia) dan penerjemah.&lt;/p&gt;

&lt;h4 id=&quot;tentang-penulis&quot;&gt;Tentang Penulis&lt;/h4&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/amerika-latin-yang-tergantung-dan-terbelakang/&quot;&gt;Andre Gunder Frank&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; adalah sosiolog, sejarawan ekonomi, dan teoritisi terkemuka dari teori pembangunan neo-marxis dan teori dependensi. Kajiannya kerap berkorelasi dengan tiga teoritisi lainnya, &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/eropa-dengan-segala-intervensinya/&quot;&gt;Immanuel Wallerstein&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/revolusi-negara-negara-berkembang-dan-terbelakang/&quot;&gt;Samir Amin&lt;/a&gt; dan Giovanni Arrighi. Ia adalah penulis dari karya ekonomi-politik Marxis klasik berjudul &lt;em&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/amerika-latin-yang-tergantung-dan-terbelakang/&quot;&gt;Dependent Accumulation and Underdevelopment&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;. Ia juga kerap menulis di salah satu jurnal sosialis Amerika Serikat, &lt;a href=&quot;https://monthlyreview.org/&quot;&gt;Monthly Review&lt;/a&gt; yang menerbitkan tulisan ini. Ia pernah menjadi Profesor di bidang Sosiologi dan Ekonomi di University of Chile dan Profesor di bidang Ekonomi Pembangunan di University of Amsterdam.&lt;/p&gt;

&lt;h4 id=&quot;tentang-penerjemah&quot;&gt;Tentang Penerjemah&lt;/h4&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;/author/reza&quot;&gt;Reza Maulana Hikam&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; adalah alumni Jurusan Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Bersama &lt;a href=&quot;/author/faricha&quot;&gt;A. Faricha Mantika&lt;/a&gt; turut mengelola website &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com&quot;&gt;Kedai Resensi Surabaya&lt;/a&gt; dan toko buku &lt;a href=&quot;https://instagram.com/kbmurba&quot;&gt;KB. MURBA&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>17 May 2020</pubDate>
        <link>/free-e-book-andre-gunder-frank-pembangunan-negara-terbelakang</link>
        <guid isPermaLink="true">/free-e-book-andre-gunder-frank-pembangunan-negara-terbelakang</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Politik, Pandemi, dan Panik: Zizek Angkat Bicara</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Pandemik! Covid-19 Mengguncang Dunia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Slavoj Žiźek&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerjemah: Khoiril Maqin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Penerbit Independen&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 158 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2020&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun 2020 ini ditandai dengan satu nama yang cukup dominan: virus corona juga disebut nCov-19 atau Covid-19. Sebuah virus yang pertama kali “viral” di Wuhan dan hanya dalam beberapa bulan menyebar ke seluruh dunia, virus ini “mengglobal”. Dalam sekejap Iran, Italia, Jerman, Indonesia pun tidak kebal terhadap virus ini, pemerintah dari tiap negara mengeluarkan kebijakannya masing-masing untuk menanggulangi penyebaran virus ini dan mengobati mereka yang terinfeksi. Seluruh dunia kebingungan untuk mencari vaksinnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bahkan Trump, sebelum Johnson &amp;amp; Johnson mengembangkan vaksinnya sendiri, ingin membeli vaksin yang sedang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Jerman yang bernama CureVac khusus untuk Amerika Serikat, namun Menteri Kesehatan Jerman menolaknya. Bahkan negara adidaya semacam AS pun putus asa karena alpanya vaksin untuk virus ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak intelektual, tidak hanya di kalangan dokter dan ahli farmasi, intelektual dan filsuf pun berkomentar, termasuk salah satu yang paling terkenal dan pedas dari Eropa, Slavoj Žiźek. Bahkan belum selesai virus ini ditanggulangi di seluruh dunia, pada awal 2020 Žiźek sudah menerbitkan bukunya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang berjudul &lt;em&gt;Pandemik! Covid-19 Mengguncang Dunia&lt;/em&gt;. Apa yang menarik dari buku ini? Tidakkah terlalu cepat untuk mengomentari wabah ini? Apakah ada hal tertentu yang ingin disampaikan Žiźek?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertama-tama yang harus kita ketahui ialah buku ini merupakan perenungan Žiźek selama virus ini merebak. Ia bahkan menyampaikan dalam bukunya bahwa anak-anaknya tidak mengunjunginya karena takut jika menginfeksinya dengan virus. Banyak hal yang akan diperkuat oleh virus ini dan mayoritas adalah hal-hal negatif seperti rasisme, namun juga ada kemungkinan dari sebuah “dunia yang baru” yang berdasarkan komunisme bukan seperti komunisme Tiongkok yang otoriter, tapi komunisme murni.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penyebaran yang sedang berjalan dari epidemik virus corona telah memunculkan sejumlah besar epidemik virus ideologis yang tertidur dalam masyarakat kita: berita-berita palsu, teori konspirasi yang paranoid, ledakan rasisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tersebar spekulasi bahwa virus corona bisa membawa kejatuhan kekuasaan Komunis di Tiongkok, dengan cara yang sama, seperti Gorbachev sendiri mengakui, bencana Chernobyl adalah peristiwa yang memicu kejatuhan komunisme Uni Soviet. Tapi ada sebuah paradoks di sini: virus corona juga akan memaksa kita untuk menemukan kembali Komunisme didasarkan kepercayaan pada masyarakat dan pada pengetahuan. Dan kita tidak hanya menghadapi ancaman-ancaman viral — bencana lain juga sedang menjulang di cakrawala atau bahkan sudah terjadi: kekeringan, gelombang panas, badai mematikan, dan sangat panjang catatannya, jawabannya bukan panik tapi kerja keras yang mendesak untuk memapankan sejenis koordinasi global yang efisien.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bukankah ini cara kita menghadapi epidemik virus corona yang meledak pada akhir 2019? Pertama, ada penolakan (tidak ada hal serius yang terjadi, hanya individu yang tidak bertanggung jawab yang menyebar kepanikan); lalu, amarah (biasanya dalam sebuah bentuk rasis dan anti-pemerintah: ini salah orang Cina, pemerintah tidak efisien…); selanjutnya masuk tawar-menawar (OK, ada beberapa korban, tapi tidak seserius SARS, dan kita bisa membatasi kerusakannya…); jika hal ini tidak bekerja, depresi datang (mari kita tidak bergurau dengan diri kita sendiri, kita semua mampus) … tapi bagaimana tingkat terakhir penerimaan akan terjadi? Ialah fakta yang aneh bahwa epidemik ini memperlihatkan sebuah fitur yang sama dengan ronde terakhir dari protes-protes sosial seperti yang terjadi di Prancis dan Hong Kong. Mereka tidak sekedar meledak lalu menghilang, mereka bertahan, membawa ketakutan dan kerapuhan permanen dalam hidup kita.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita terjebak dalam tiga krisis, menurut Žiźek: kesehatan (epidemik itu sendiri), ekonomi (yang akan menghantam dengan keras apapun yang menjadi hasil epidemik) dan psikologis. Ketika pihak berwenang mengetahui sebuah perusahaan menumpuk jutaan masker, menunggu momen yang tepat untuk menjualnya, tidak perlu ada negosiasi dengan perusahaan tersebut, masker-masker itu seharusnya diambil alih.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa Trump telah menawarkan 1 juta dolar kepada perusahaan biofarmasi yang berkantor di Tübingen bernama CureVac guna mengamankan sebuah vaksin virus corona “hanya untuk Amerika Serikat”. Kementerian Kesehatan Jerman, Jehn Spahn mengatakan bahwa pengambilalihan CureVac oleh pemerintahan Trump bukan pilihan: CureVac hanya akan mengembangkan vaksin “untuk seluruh dunia, tidak untuk negara tertentu”. Di sini kita mendapatkan contoh pertarungan antara privatisasi/kebiadaban dan kolektifisme/peradaban. Sistem lembaga kesehatan juga harus bergantung kepada pertolongan dari komunitas lokal untuk mengurus orang tua dan orang lemah. Dan, pada sisi yang berlawanan dari timbangan sejenis kerjasama internasional yang efektif harus diorganisir untuk memproduksi dan membagi sumber daya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Zizek rasa bermasalah untuk menggunakan istilah “perang” untuk perjuangan kita melawan virus: virus bukanlah musuh dengan rencana dan strategi untuk menghancurkan kita, ia hanyalah mekanisme bodoh yang mereplikasi dirinya sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku Žiźek ini muncul pada saat yang tepat ditengah-tengah wabah yang mem-paranoid-kan banyak negara ini, bahkan negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman dan Inggris, namun juga membuat negara berkembang seperti Indonesia semakin menyedihkan, dan pada era semacam inilah pemerintah Indonesia akan diuji dengan cobaan yang sangat besar, pastinya kritikan akan lebih besar ketimbang apresiasi, apalagi justru organisasi masyarakatlah yang pertama kali melakukan pertolongan secara langsung kepada masyarakat, sedangkan pemerintah, pada awalnya, disibukkan dengan penolakan mereka terhadap keberadaan virus ini di negeri khatulistiwa ini.*&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>11 May 2020</pubDate>
        <link>/politik-pandemi-dan-panik-zizek-angkat-bicara</link>
        <guid isPermaLink="true">/politik-pandemi-dan-panik-zizek-angkat-bicara</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kenali Musuhmu, Kenali Fasisme: Bagaimana Taktik Menghajar Musuh yang Suka Menindas</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Melawan Fasisme&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Clara Zetkin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerjemah: Joko Susilo&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://penerbitindependen.com/&quot;&gt;Penerbit Independen&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 165 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2020&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;ISBN: 9786239338202&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://shopee.co.id/product/207062002/6954820912/&quot;&gt;Beli Buku Ini&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya memberi judul dengan kecenderungan melihat fasisme sebagai musuh, hal ini membuat saya tidak lagi objektif dalam menulis, saya tidak melihatnya dengan jernih dan ilmiah, saya sudah terlalu berpihak ketika menulis resensi ini. Pertanyaannya, bukankah manusia selalu berpihak? Buat apa hidup kalau semuanya di tengah terus, buat apa meneliti sesuatu jikalau tidak punya &lt;em&gt;standing point&lt;/em&gt; dan ideologi yang kuat? Hanya untuk buku dan jurnal internasional? Buat apa kalau masyarakat umum tidak bisa membacanya? Itu kritik saya, sebelum memulai resensi ini, kepada para akademisi “netral” yang membaca resensi tidak ilmiah ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fasisme, Otoritarianisme, dan Kediktatoran selalu dipakai bergantian dan berdampingan satu dengan yang lain seperti orang kerap mengaitkan Sosialisme, Marxisme, dan Komunisme. Pastinya tiga kubu yang saya sebutkan pertama selalu berhadapan dengan tiga kubu yang terakhir secara filosofis, belum tentu secara praktik. Dalam bukunya &lt;em&gt;Asal-Usul Totalitarisme Jilid III: Totalitarisme&lt;/em&gt;, Hannah Arendt bahkan menyandingkan Hitler yang notabene perlambang dari fasisme dengan Stalin yang merupakan pimpinan Uni Soviet, salah satu negara komunis terkuat di dunia kala itu. Penyandingan ini berkaitan dengan bagaimana mereka berkuasa, bukan perkara ideologi. Ideologi bisa berbeda tapi kekuasaan bisa menghasilkan produk yang sama. Buku ini diambil dari sudut pandang penulis yang notabene seorang komunis yang menolak segala bentuk penindasan dan pemerasan oleh seseorang terhadap orang lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mari kita awali dengan pemaknaan Zetkin terhadap fasisme. Sederhananya, fasisme adalah kekerasan dan teror. Layaknya seorang &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/apakah-zapatista-adalah-perjuangan-anti-kapitalis/&quot;&gt;revolusioner&lt;/a&gt;, penulis melihat permasalah di dunia ini dalam perjuangan kelas, dalam konflik yang berkelanjutan antara kelompok proletar dan borjuis, di mana fasisme merupakan sebuah kekuasaan yang disuntik kekuatan oleh para borjuis. Para fasis adalah alat untuk menghantam kelas proletar. Sebagai pemikir Eropa, Zetkin juga memperlihatkan kondisi di mana fasisme bisa muncul dan tumbuh subur, ketika pemerintahan para kapitalis sedang menurun.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pembentukan massa fasis tidak terlepas dari masyarakat miskin atau yang dimiskinkan yang nampaknya ingin sebuah perubahan, namun ada peleburan dalam barisan kelompok fasis seperti yang disampaikan juga oleh Hannah Arendt dalam bukunya yang saya sebutkan dalam paragraf di atas juga dalam karya Daniel Guerin berjudul &lt;em&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/seluk-beluk-fasisme/&quot;&gt;Fascism and Big Business&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, bahkan Guerin melihat bahwa kelas menengah adalah pemasok massa terkuat dan terbanyak dalam gerakan fasis, tidak seperti yang diramalkan &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/marx-seorang-filsuf-sekaligus-ekonom/&quot;&gt;Marx&lt;/a&gt; bahwa mereka akan menghilang dengan sendirinya. Fasisme menjadi wadah bagi mereka yang “tunawisma politik”, tidak melihat apapun kelas mereka dan dileburkan menjadi satu &lt;em&gt;front&lt;/em&gt;, satu kelompok, satu partai, yakni Partai Fasis yang pada akhirnya menjadi pemenang, entah melalui pemilu atau perebutan kekuasaan secara paksa dan membentuk negara yang kuat nan otoriter. Adapun elemen revolusioner di dalam partai Fasis, namun pada akhirnya dihancurkan oleh elemen yang lebih dominan: kelompok reaksioner.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terlepas fasisme berusaha meleburkan setiap bagian dari masyarakat. Kelas borjuis tetap berusaha mempertahankan kekuasaannya agar dapat melakukan eksploitasi terhadap kelas pekerja untuk kepentingan berupa keuntungan. Mereka menyambut fasisme sebagai sekutu demi mempertahankan kekuasaannya. Zetkin memberikan dua karakteristik yang pasti ada dalam semua fasisme di berbagai negara: program revolusioner yang palsu dan penggunaan teror serta kekerasan untuk mencapai tujuan. Penulis memberikan contoh perkembangan fasisme di Italia di mana Mussolini mulai membangun basis massanya semenjak 1914 namun berkembang cukup lamban dan baru menguat pada 1920, hal ini dikarenakan kebanyakan penduduk Italia yang masih percaya pada sosialisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, seperti Hitler, Mussolini turut berusaha merebut basis massa dari kalangan buruh. Menguatnya fasisme berarti mengancam sosialisme, ketika sosialisme dibangun dengan pandangan yang internasionalis, fasisme membangun basisnya sebagai nasionalis. Pada awal-awal pembahasannya mengenai fasisme, Zetkin memusatkan perhatiannya kepada Mussolini dan para pendukungnya di Italia. Ia menguak akar historis, sosial, ekonomi dan politik dari kemunculan rezim fasis di Italia yang nantinya bergabung dalam satu Poros dengan Jerman di bawah Hitler dan Jepang di bawah Tojo.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah mengupas tuntas permasalahan fasisme &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/tenang-sebelum-badai/&quot;&gt;Italia&lt;/a&gt;, Zetkin bergerak ke Jerman, di mana sebaliknya, jika Italia berada di kubu pemenang, Jerman adalah kubu yang kalah yang dipaksa menandatangani Perjanjian Versailles. Kondisi sejarah antara di &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/pengantar-memahami-heidegger-sang-guru-dari-jerman/&quot;&gt;Jerman&lt;/a&gt; dan di Italia beda sekali pastinya namun mengeluarkan hasil yang sama. Begitupula kekalahan sosialisme demokrasi juga memuluskan jalan fasisme naik ke tampuk kekuasaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun nampaknya kajian Zetkin ini berusaha menekankan kepada sisi perlawanan praktis terhadap fasisme, namun sebenarnya lebih kepada ulasan mengenai fasisme untuk memahami sifat, sejarah dan kondisi pemerintah, partai atau kelompok yang mendukung fasisme dengan studi kasus utama Italia. Buku ini menyasar mereka yang suka pada kajian bersifat filosofis dan politis terutama masalah ideologis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun kritik yang dilontarkan Zetkin adalah kepada kelompok fasis, namun kelompok sosialis reformis juga turut tertampar karena ketidakmampuan mereka untuk melawan. Kealpaan dan kepasifan kelompok kiri menghasilkan pendukung fasis yang semakin kuat, apa yang dibutuhkan orang jahat adalah orang baik tidak berbuat apa-apa. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://shopee.co.id/product/207062002/6954820912/&quot;&gt;Beli buku ini dengan harga khusus Rp55.000 di KB. MURBA (klik).&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>09 May 2020</pubDate>
        <link>/kenali-musuhmu-kenali-fasisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/kenali-musuhmu-kenali-fasisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Tenang Sebelum Badai</title>
        <description>&lt;p&gt;Artikel ini adalah bagian keempat dari kronik psycho-deflation oleh &lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;/?s=bifo&quot;&gt;Franco ‘Bifo’ Berardi&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; yang terbit pertama kali di &lt;a href=&quot;https://www.neroeditions.com/calm-before-the-storm/&quot;&gt;NERO&lt;/a&gt;. Diterjemahkan oleh &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/author/faricha&quot;&gt;Faricha&lt;/a&gt; atas sepengetahuan penulis. &lt;a href=&quot;/reset&quot;&gt;Baca bagian &lt;strong&gt;kedua&lt;/strong&gt; di link ini&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selamat menikmati.&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/bifo.jpg&quot; alt=&quot;bifo-kedai-resensi-surabaya&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Franco ‘Bifo’ Berardi (&lt;a href=&quot;https://www.flickr.com/photos/malacapa/6347094736&quot;&gt;Foto: Luca Panella/Flickr&lt;/a&gt;)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Entry Date&lt;/p&gt;

&lt;ul&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#4-april&quot;&gt;4 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#6-april&quot;&gt;6 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#7-april&quot;&gt;7 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#8-april&quot;&gt;8 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#9-april&quot;&gt;9 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#10-april&quot;&gt;10 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#11-april&quot;&gt;11 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#12-april&quot;&gt;12 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#14-april&quot;&gt;14 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#15-april&quot;&gt;15 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;

&lt;h2 id=&quot;4-april&quot;&gt;&lt;strong&gt;4 April&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Lucia menemukan foto hitam putih dan mengirimkannya ke ponselku. Di foto itu, seorang wanita muda yang cantik mengenakan pakaian terbaiknya di hari Minggu, seperti yang biasa dilakukan anak perempuan di usia 30-an. Bersamanya, ada gadis lain.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di latar belakang ada bangunan yang mudah saya kenali. Wanita dan gadis itu berjalan bersama melalui Ugo Bassi, di belakang ada pedimen segitiga dari bangunan yang memisahkan Pratello dari San Felice. Wanita muda itu memandang ke depan, dengan pandangan yang agak kosong, sementara gadis kecil itu hampir memegang tangannya, tampaknya meminta perhatian, tetapi wanita itu tidak memandangnya, dia menatap ke depan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Wanita itu adalah ibuku, dan gadis itu adalah sepupunya, Maria.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku langsung bertanya-tanya siapa yang mengambil foto itu, siapa yang ada di belakang kamera. Aku yakin itu adalah Marcello, tunangannya. Kakek saya, Ernesto, mengizinkan Dora untuk pergi bersamanya di akhir pekan, tetapi dengan syarat untuk ditemani oleh seseorang, baik itu saudara laki-laki atau perempuan. Dora terlihat terganggu, agak angkuh, mungkin kesal dengan kehadiran sepupunya yang tidak diinginkan. Dia tidak menghadap ke arahnya [si gadis], dia menatap_nya_, pada fotografer yang menangkap momen itu. Dia melihat jauh ke depan, menuju masa depan yang dia bayangkan, pada hari raya musim semi di akhir 30-an—ketika ibuku baru berusia lebih dari dua puluh tahun, dan tragedi apapun tampak jauh. Kemudian perang datang dan menghancurkan, mengganggu kehidupan dan masa depan yang telah lama dia nantikan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/bifo-krs-1.jpg&quot; alt=&quot;bifo-krs-1&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;6-april&quot;&gt;&lt;strong&gt;6 April&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://www.economist.com/leaders/2020/04/02/covid-19-presents-stark-choices-between-life-death-and-the-economy&quot;&gt;&lt;em&gt;A grim calculus&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;. Judul artikel di The Economist minggu ini mengatakan semuanya. “Muram” berarti suram, murung, dan bahkan sengit. Kalkulasi menyedihkan yang memaksa kita. Sangat mudah untuk memahami apa artinya judul ini dari majalah yang telah mewakili ekonomi liberal selama lebih dari satu abad. Berapa banyak beban yang akan menimpa kita dari pandemi coronavirus ini dalam hal ekonomi, dan pertimbangan seperti apa yang diberikan kepada kita, seperti harus memilih di antara dua keputusan alternatif, yaitu untuk menutup semuanya dan hampir sepenuhnya memblokir segala produksi, distribusi—singkatnya, seluruh mesin ekonomi—atau untuk menerima kemungkinan sebuah pembantaian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya membaca di majalah London, “Gubernur New York, Andrew Cuomo, telah menyatakan bahwa ‘Kita tidak akan meletakkan angka dolar pada kehidupan manusia.’ Maksudnya sebagai seruan dari seorang lelaki pemberani yang negaranya kewalahan. Namun, dengan mengesampingkan pertukaran timbal balik, Tuan Cuomo sebenarnya menganjurkan pilihan—pilihan yang tidak mulai memperhitungkan serangkaian rapalan konsekuensi diantara komunitasnya yang lebih luas. Kedengarannya keras hati, tetapi angka satu dolar dalam kehidupan, atau setidaknya beberapa cara berpikir sistematis, adalah persis apa yang akan dibutuhkan para pemimpin jika mereka ingin melihat jalan keluar mereka melalui bulan-bulan menyedihkan yang akan datang. Seperti di bangsal rumah sakit itu, pertukaran tidak dapat dihindari.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kerumitannya semakin meningkat semenjak lebih banyak negara diserang covid-19. Dalam minggu sampai 1 April, penghitungan kasus dilaporkan meningkat dua kali lipat: kini hampir 1 juta. Amerika telah mencatat lebih dari 200.000 kasus dan telah melihat 55% lebih banyak kematian daripada China. Pada 30 Maret, Presiden Donald Trump memperingatkan soal “tiga minggu yang tidak pernah kita lihat sebelumnya”. Ketegangan pada sistem kesehatan Amerika mungkin memuncak selama beberapa minggu (lihat artikel). Gugus tugas kepresidenan telah meramalkan bahwa pandemi akan menelan biaya setidaknya 100.000-240.000 jiwa warga Amerika.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sekarang saja upaya melawan virus tampaknya begitu menguras segalanya. […] Namun dalam perang atau pandemi, para pemimpin tidak dapat melepaskan diri dari kenyataan bahwa setiap tindakan akan menimbulkan biaya sosial dan ekonomi yang besar. Untuk bertanggung jawab, Anda harus saling menumpuk satu sama lain. […] Pada musim panas, ekonomi akan mengalami penurunan dua digit dalam GDP triwulanan. Orang-orang akan bertahan berbulan-bulan dalam ruangan, menyakiti kohesi sosial dan kesehatan mental mereka. &lt;em&gt;Lockdown&lt;/em&gt; selama setahun akan menghabiskan sepertiga GDP Amerika dan zona euro. Pasar akan jatuh dan investasi tertunda. Kapasitas ekonomi akan layu ketika inovasi terhenti dan keterampilan telah membusuk. Akhirnya, bahkan jika banyak orang sekarat, biaya menjaga jarak bisa lebih besar daripada manfaatnya. Itulah sisi dari pertukaran yang belum seorang pun siap mengakuinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semuanya jelas. &lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt; menghadapkan kita dengan cara berpikir yang meskipun nampak begitu brutal, itulah yang realistis. Tajuk utama lainnya di majalah itu ialah, “&lt;a href=&quot;https://www.economist.com/britain/2011/07/21/soft-power-hard-hearts&quot;&gt;&lt;em&gt;Hard-headed is not hard-hearted&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;” (Keras kepala bukan keras hati). Siapa yang bisa menyangkalnya? Karena keputusan untuk menghentikan aliran kegiatan sosial dan ekonomi, para pemimpin politik telah menyelamatkan jutaan nyawa dalam tiga, enam, dua belas bulan. Tapi—&lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt; mengamati dengan konsistensi tanpa kompromi—ini akan menghabiskan banyak nyawa di masa yang akan datang. Kita menghindari pembantaian bahwa virus dapat membebani kita, tetapi skenario apa yang kita persiapkan untuk beberapa tahun ke depan, dalam skala global, dalam hal pengangguran, gangguan produksi dan rantai distribusi, dalam hal hutang dan kebangkrutan, pemiskinan dan keputusasaan?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tunggu sebentar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tajuk rencana &lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt; masuk akal, koheren, tidak terbantahkan, tapi hanya dalam konteks kriteria dan prioritas yang sesuai dengan bentuk ekonomi yang kita sebut kapitalisme. Suatu bentuk ekonomi yang menjadikan alokasi sumber daya, distribusi barang tergantung pada partisipasi dalam akumulasi modal. Dengan kata lain, hal itu membuat kemungkinan konkret untuk mengakses barang-barang yang berguna tergantung pada kepemilikan sekuritas moneter yang abstrak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nah, ini adalah model yang telah mengalokasikan sumber daya yang begitu besar untuk pembangunan masyarakat modern, saat ini telah berubah menjadi perangkap logis dan praktis yang tidak dapat kita temukan jalan keluarnya. Tapi sekarang, jalan keluar telah memaksakan dirinya secara otomatis, sayangnya dengan kekerasan. Bukan kekerasan pergolakan politik, tapi kekerasan virus. Bukan melalui keputusan sadar kekuatan yang diberkahi dengan kehendak manusia, tetapi penyisipan sel darah yang heterogen—seperti yang akan dilakukan tawon ke anggrek—sel darah yang mulai berkembang biak sampai organisme kolektif tidak dapat memahami dan menginginkan, tidak mampu menghasilkan, tidak dapat melanjutkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal ini telah menghentikan reproduksi, menyedot sejumlah besar uang yang akhirnya menjadi sedikit atau tidak ada gunanya sama sekali. Kita telah berhenti mengkonsumsi dan memproduksi, dan sekarang di sinilah kita, memandang birunya langit dari balik jendela dan kita bertanya-tanya bagaimana ini semua akhirnya—buruh, sangat buruk, kata &lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt;, kepada siapa gangguan siklus pertumbuhan dan akumulasi tampaknya menjadi peristiwa bencana yang menyebabkan kelaparan, kesengsaraan, dan kekerasan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku membiarkan diriku tidak menyetujui nada bencana &lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt;, karena aku maksudku soal “bencana” (&lt;em&gt;catastrophe&lt;/em&gt;) berbeda—seperti dalam etimologinya yang juga bisa berarti “sebuah belokan di mana Anda dapat melihat panorama lain.” &lt;em&gt;Kata&lt;/em&gt; dapat diterjemahkan sebagai “melampaui” (&lt;em&gt;beyond&lt;/em&gt;) dan &lt;em&gt;strofein&lt;/em&gt; artinya bergerak, berubah. Jadi, kita bergerak lebih jauh (&lt;em&gt;moved beyond&lt;/em&gt;), kita akhirnya melakukan langkah yang gagal dilakukan selama lima puluh tahun yang penuh tekad dan perjuangan secara sadar. Segala sesuatunya—atau hampir semuanya telah berhenti, sekarang adalah masalah memulai kembali (&lt;em&gt;restart&lt;/em&gt;) prosesnya, tapi menurut prinsip lain—tujuan daripada akumulasi abstrak, kesetaraan penghematan daripada kompetisi dan ketidaksetaraan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akankah kita dapat mengembangkan prinsip ini untuk menghidupkan kembali mesin—bukan mesin yang sama yang bekerja tanpa henti sebelumnya, tetapi yang elastis, sebuah mesin yang mungkin sedikit lebih goyah, tentunya lebih hemat, tetapi mesin yang ramah?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akankah kita mampu? Aku tidak tahu, dan di atas semua itu aku bahkan tidak tahu siapa yang akan membuatnya jadi “kita.” Siapa yang mampu melakukan apa?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bukan lagi politik, atau seni pemerintahan. Politik tidak mampu mengelola apapun dan di atas semua itu tidak mampu memahami apapun. Politisi miskin tampaknya diburu, mengejutkan, cemas. Permainan baru proliferasi rhizomatik dari sel-sel yang tidak dapat dikendalikan membutuhkan pengetahuan—bukan kehendak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karena itu, bukan lagi politik, tetapi pengetahuan. Tapi pengetahuan seperti apa?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bukan pengetahuan &lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt;, yang tak mampu melampaui cermin dari valorisasi, yang mengakses produk apapun sebagai syarat abstrak perhitungan moneter dan meningkatkan volume kehancuran untuk meningkatkan nilai abstrak. Maksudku pengetahuan konkret, pengetahuan yang tidak menerjemahkan laba menjadi nilai, tetapi tujuan menjadi kesenangan dan kekayaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apakah kita membutuhkan pesawat tempur F35? Tidak, kita tidak butuh. Selain mendukung aliansi militer yang sia-sia, mereka tidak berguna. Para pekerja itu lebih suka memproduksi kaleng tuna. Juga karena, tahukah Anda berapa banyak unit perawatan intensif yang dapat dibuat dari satu F35? Dua ratus.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku tahu, ini adalah dongeng yang diucapkan secara umum yang tidak memperhitungkan kondisi saling tergantung yang kompleks di belakangnya dan sebagainya. Oke, aku akan tutup mulut. Jadi, ayo dengarkan saja pidato para realis yang menyanyikan lagu sama berulang-ulang: jika kita ingin mempertahankan pekerjaan pada tingkat ini kita harus memproduksi senjata, kan? Kata realis &lt;em&gt;The Economist&lt;/em&gt;, baik yang di kanan maupun yang di kiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jadi kita akan terus membuat senjata untuk membuat semua orang bekerja delapan-sembilan jam per hari. Dalam satu bulan atau satu tahun dari epidemi, kesengsaraan massal akan menyusul, kemudian perang. Dan kepunahan yang baru saja kita rasakan, akan datang dan menyambut kita dengan kuda putihnya yang indah, seperti dalam &lt;a href=&quot;https://en.wikipedia.org/wiki/The_Triumph_of_Death_(Palermo)&quot;&gt;&lt;em&gt;The Triumph of Death&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; di Palazzo Abatellis, di Palermo.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagaimana jika sebaliknya kita memutuskan untuk membuat orang bekerja hanya untuk waktu yang diperlukan untuk menghasilkan apa yang berguna? Bagaimana jika kita memberi semua orang penghasilan terlepas dari waktu kerja mereka (sekalipun tidak berguna)? Bagaimana jika kita berhenti membayar untuk pesawat tidak berguna yang sudah mereka beli? Bagaimana jika kita mengacaukan obligasi internasional yang memaksa kita untuk membayar sejumlah besar uang untuk biaya perang?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di sini: pidato-pidato ini bukan lagi gembar-gembor seorang ekstremis, tetapi satu-satunya realisme yang memungkinkan. &lt;em&gt;There is no alternative&lt;/em&gt; 😉&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kawanku, Penny, menulis kepadaku dari London: “Aku hanya duduk dan menulis—kehidupan yang aneh ini sudah jadi lazim dan menenangkan tapi selalu ada tenang sebelum badai.” Selalu ada keheningan yang aneh sebelum badai meletus. Seolah mengatakan ada bagian terbaik yang akan datang ketika virus telah menarik diri. Pada saat itu orang-orang bodoh akan berpikir waktunya untuk kembali ke normal, sementara orang bijak sudah sibuk mempersiapkan badai yang lebih besar yang akan datang.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;7-april&quot;&gt;&lt;strong&gt;7 April&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Setelah bersembunyi selama hampir dua bulan, asma telah kembali hari ini, dan telah menghantuiku sepanjang hari. Berbaring di tempat tidur, aku terengah-engah tanpa oksigen dan tidak punya kekuatan untuk melakukan apapun.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di malam hari aku pergi untuk membuang sampah: organik, gelas, tidak terpisah. Aku berjalan perlahan di alun-alun kecil di sekitar rumah. San Donato Best Western Hotel tutup, dikunci dengan daun jendela ditarik. Aku berjalan sedikit melalui Zamboni untuk melihat menara. Tidak ada seorangpun di jalan ini di mana, sejak abad kedua belas, setiap siswa musim semi biasanya bergerombol dan berpacaran.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;8-april&quot;&gt;&lt;strong&gt;8 April&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Aku mengambil kopiku dan melihat ke alun-alun yang cerah. Bahkan hari ini ada seorang gadis yang keluar dari rumahnya, mungkin ia tinggal sendirian di sebuah apartemen studio di Via del Carro. Ia mengenakan pakaian hitam dengan tepian kuning, ia memegang ponsel di tangannya saat melakukan olahraga harian. Gerakannya sedikit canggung, ia mengangkat  kaki kanannya dan menahannya selama beberapa detik, tapi ponselnya menarik perhatiannya, kemudian ia mengangkat kaki kiri sambil menatap ponsel, kemudian berbalik dan meletakkan tangannya di atas dinding. Teleponku berdering, aku berjalan kembali ke dalam. Mereka menelponku dari Milan untuk bertanya apakah aku masih dapat mengirim rekaman untuk Radio Virus hari ini. Aku kembali ke jendela, gadis itu menghilang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika wakil-Nya di bumi tidak melarang menganggap penyakit ini sebagai hukuman Tuhan, aku akan berasumsi bahwa Tuhan adalah orang tua yang cerdas. Ia mengirim Johnson ke perawatan intensif terlebih dahulu, kemudian dia mengirim Menteri Israel yang homofobik, Litzman. Litzman sebelumnya menyatakan bahwa Covid adalah hukuman ilahi untuk homoseksualitas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sayangnya, ini adalah satu-satunya berita yang menghibut dari negara rasis itu. Untuk selebihnya, kronik politik Israel menceritakan tentang perkelahian tiada ujung antara penyiksa Ganz, Netanyahu yang korup dan si Nazi, Lieberman. Mungkin mereka akan maju untuk pemilihan keempat dalam tahun ini, ketika dunia di sekitar mereka sedang larut, mereka terlalu sibuk berdebat untuk menyadarinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut International Labour Organization di Jenewa (ILO), pandemi ini akan menyebabkan rata-rata 25 juta peningkatan pengangguran tahun ini. Di Amerika ada lebih dari sepuluh juta PHK dalam dua minggu, dan jumlahnya diperkirakan akan meningkat dalam beberapa hari mendatang. Memakai salah satu ungkapan paling populer saat ini, ini adalah angka yang belum pernah terjadi sebelumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kebijakan ekonomi tradisional tidak akan cukup untuk menghadapi fenomena ini. Entah kita akan menggunakan marginalisasi kekerasan dari sebagian besar populasi orang-orang yang merana di pinggiran kota, atau kita harus meninggalkan wacana “ekonomi modern”, utopia lama “pekerjaan penuh”, asumsi “upah buruh” dan secara harfiah memulai dari awal lagi sekali dan untuk selamanya. Yang pasti kini adalah akumulasi pengetahuan ilmiah, dan di atas semua itu kekuatan virtual pekerjaan kognitif, penemuan teknis serta kata puitis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi kriteria ekonomi yang sejauh ini mengatur hubungan dan prioritas mereka sudah pasti edan—habis, selamanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika kita mencoba memulihkan hubungan lama antara mereka yang memiliki kekayaan dan mereka yang harus bekerja untuk mencari nafkah, maka kesengsaraan akan menghasilkan sungai-sungai kekerasan, pengangguran untuk memberi makan pasukan nekat yang siap untuk apapun.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ini akan jadi soal mengambil alih ruang dan struktur produksi. Ini akan jadi soal mengatur akses ke sumber daya yang tersedia di bawah kondisi kesetaraan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita tidak dapat membuang waktu dalam ilusi untuk kembali ke “keadaan normal” di masa lalu karena ilusi ini berisiko menyeret apa yang tersisa ke dalam spiral kehancuran, tanpa kembali. Apa yang diharapkan konsumen dalam lima puluh tahun terakhir telah berlalu, dan tidak boleh kembali. Sistem pengharapan itu sendiri harus berubah secara radikal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika aku harus memilih suatu peristiwa, tanggal, dan tempat sebagai awal mula kiamat, aku akan mengatakan bahwa peristiwa itu adalah KTT Bumi (&lt;em&gt;Earth Summit&lt;/em&gt;) di Rio de Janeiro pada Juni 1992. Untuk pertama kalinya, negara-negara besar bertemu untuk menilai kebutuhan demi mengatasi bahaya yang mulai diungkapkan untuk pertumbuhan ekonomi. Pada kesempatan itu, Presiden Amerika Serikat, George Bush Sr. menyatakan bahwa “standar hidup rakyat Amerika tidak dapat dinegosiasikan.”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kini kita semua membayar untuk harga dirinya, yang mungkin melekat pada keberadaan bangsa yang lahir dari genosida, yang kekayaannya bergantung pada deportasi, perbudakan, perang, dan perampokan sumber daya dan tenaga orang lain. Bangsa itu akan segera menghadapi kehancuran dalam perang internal dan, sepatutnya, tidak akan selamat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/bifo-krs-2.png&quot; alt=&quot;bifo-krs-2&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;9-april&quot;&gt;&lt;strong&gt;9 April&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Setelah sebulan menyendiri dan merasa tidak pasti tentang implikasi situasi ini, terasa kegugupan tertentu dalam suara kawan-kawan yang menelponku, tapi juga dalam catatan tertulis, atau analisis yang biasa ku baca setiap hari. Aku tidak benar-benar membaca semuanya, tapi banyak memang yang ku baca.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam sebuah milis berjudul &lt;em&gt;Neurogreen&lt;/em&gt;, aku mendapat artikel hari ini yang &lt;a href=&quot;https://www.wired.com/story/coronavirus-apocalypse-myths/&quot;&gt;ditulis oleh Laurie Penny&lt;/a&gt;, diterbitkan di majalah California, WIRED, yang selama bertahun-tahun telah menjadi pelopor futuristik digital dan terutama imajinasi dan visi ultra-liberal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sungguh aneh menemukan artikel seperti itu di majalah yang biasanya sangat optimistis. Karya ini kemungkinan besar merupakan kisah pengalaman pribadi yang agak dramatis. Laurie Penny mendapati dirinya entah di mana hanya-Tuhan-yang-tahu, jauh dari rumah, dikejutkan oleh badai virus. “Kapitalisme tidak bisa membayangkan masa depan yang melampaui dirinya sendiri yang bukan penjagalan. […] Demokrasi sosial sedang dipulihkan dengan tergesa-gesa, karena—memparafrase Bu Thatcher—&lt;em&gt;there really is no alternative&lt;/em&gt; (benar-benar tidak ada alternatif).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejumlah 150 anggota keluarga kerajaan Saudi terkena virus. Bernie Sanders pensiun, Biden akan kalah dalam pemilihan, (atau mungkin tidak) jika pemilihan akan benar-benar diadakan. Delapan dokter meninggal di Inggris karena merawat pasien terkena virus. Mereka semua adalah orang asing: Pakistan, India, dari Mesir, India, Nigeria, Pakistan, Sri Lanka dan Sudan. Langit Delhi tampak bersih setelah bertahun-tahun tak pernah seperti itu. Di malam hari orang bisa melihat bintang-bintang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, Confindustria sedang terburu-buru untuk memulai lagi, bahkan jika berita yang datang dari China sama sekali tidak meyakinkan: meskipun Wuhan dibuka kembali, Heilongjiang ditutup. Pertarungan melawan coronavirus terasa seperti mencoba mengosongkan laut dengan ember—buka sini, tutup sana.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mungkin seharusnya kita tidak bertarung sama sekali, karena kalah perang sejak awal. Kita harus meminimalkan gerakan kita, kita harus menerima bahwa hal-hal yang kita gunakan di zaman modern akhirnya habis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mereka yang membayar harga paling mahal adalah mereka yang paling percaya dan terus percaya pada kehendak manusia yang kekuatannya tidak terbatas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Maklum bahwa laki-laki menginjak-injak, karena mereka ingin mengambil tongkat kerajaan kembali ke tangan mereka, mereka ingin mengatur masa depan mereka karena mereka percaya yang mereka lakukan di masa lalu begitu mulia. Tetapi, seperti yang diajarkan oleh virus kepada kita, kekuasaan tak terbatas itu adalah dongeng dan dongeng itu sudah berakhir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Entry Date&lt;/p&gt;

&lt;ul&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#4-april&quot;&gt;4 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#6-april&quot;&gt;6 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#7-april&quot;&gt;7 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#8-april&quot;&gt;8 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#9-april&quot;&gt;9 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#10-april&quot;&gt;10 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#11-april&quot;&gt;11 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#12-april&quot;&gt;12 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#14-april&quot;&gt;14 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#15-april&quot;&gt;15 April&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;

&lt;h2 id=&quot;10-april&quot;&gt;&lt;strong&gt;10 April&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;ANPI (Asosiasi Partisan Italia) mengusulkan untuk menjadikan 25 April (Hari Pembebasan) sebagai penunjukan demokrasi. Aku menerima panggilan itu dan menyediakan diri sebisa mungkin. Apakah aku juga akan menyanyikan Lagu Kebangsaan Mameli di awal perayaan? Aku menanti 25 April ketika aku menanti Misa Paskah Paus Fransiskus. Terlepas dari ateisme ku, aku senang mendengarkan Francesco malam itu, di alun-alun yang sepi. Dengan semangat yang sama, aku akan ambil bagian dalam acara virtual pada 25 April. Keilahian yang disembah oleh kaum demokrat sama ilusinya dengan tuhannya Fransiskus, tapi akan baik bagiku untuk merasakan kedekatan dengan jutaan orang.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;11-april&quot;&gt;&lt;strong&gt;11 April&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Di via Castiglione, di perbukitan Bologna, dua kilometer dari pusat kota, seseorang memfilmkan babi hutan dengan enam babi hutan kecil di belakangnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di Brussel, Belanda menegaskan kembali bahwa mereka yang membutuhkan uang harus menandatangani surat perjanjian yang menyatakan bahwa mereka akan membayar kembali. Kembali di tahun 2015, ketika itu adalah soal memberlakukan hukum kreditor di Yunani, Italia setuju dengan Belanda. Hari ini Italia tentu ingin menghindari perlakuan yang sama. Tetapi gagasan utang dan kredit tampaknya agak kacau hari ini, karena kebangkrutan dimaksudkan untuk memvalidasi sistem perdagangan yang sama. Sekali lagi, &lt;em&gt;there is no alternative&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berbicara soal Yunani, Stella dan Dimitri sedang menunggu kami di kepulauan pada bulan Juli. Selama lebih dari sepuluh tahun kami telah menyewa rumah kecil di antara pohon-pohon zaitun. Apa yang akan terjadi pada musim panas, bepergian, ke laut? Kami dengan hati-hati menghindari topik ini, Billi dan aku. Mungkin tidak akan ada perjalanan musim panas ini.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;12-april&quot;&gt;&lt;strong&gt;12 April&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Setelah kekasaran terbuka Rutte dan Hoekstra, Mrs. Ursula mencoba untuk mempermanis pil untuk orang-orang Italia yang sangat kesal dengan ketamakan orang Belanda yang sedikit ofensif. Apakah mereka akan memberikan MES tanpa syarat? Mengapa tidak ada lagi yang menyebut Coronabonds?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, semua orang menyetujui satu hal, seharusnya tidak ada yang bersih dari masa lalu—telah ku dengar itu beberapa kali dari negosiator Eropa. Mengapa lembaran bersih ini merupakan hal buruk bagi semua orang? Mungkin akan lebih baik untuk menyerah. “&lt;em&gt;Chi ha avuto ha avuto ha avuto chi ha dato ha dato ha dato scurdammoce ‘o passato simm’e Napule paisà&lt;/em&gt;” (Siapa yang dapat biarlah dapat, siapa yang memberi biarlah memberi, mari kita lupakan masa lalu kita dari Napoli, kawan). Sayangnya, kebijaksanaan mendalam dari ungkapan Neapolitan ini tidak dapat dipahami oleh para ekonom.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/bifo-krs-3.jpeg&quot; alt=&quot;bifo-krs-3&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;14-april&quot;&gt;&lt;strong&gt;14 April&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan oleh &lt;a href=&quot;https://ilmanifesto.it/rino-formica-la-globalizzazione-era-unillusione-serve-un-pensiero-nuovo/&quot;&gt;Il Manifesto&lt;/a&gt;, sosialis lawas Rino Formica mencatat bahwa kita tidak boleh percaya bahwa bertahan hidup saat ini lebih penting daripada berpikir, seperti yang disarankan oleh motto Latin &lt;em&gt;primum vivere deinde filosofari&lt;/em&gt; (hidup dulu baru berfilsafat). Jika kita tidak berfilsafat, Formica mengamati dengan bijak, kita berisiko tidak tahu pilihan apa yang harus diambil untuk hidup.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Marco Bascetta, untuk bagiannya, di &lt;a href=&quot;https://ilmanifesto.it/il-motto-sciagurato-del-tempo-chiamato-fase-due/&quot;&gt;Il Manifesto&lt;/a&gt; selalu menerbitkan refleksi (membingungkan, namun menarik) tentang motto Latin yang sama, sedikit dimodifikasi: &lt;em&gt;primum vivere deinde laborare&lt;/em&gt; (hidup dulu baru bekerja). Dia dengan tepat mengamati bahwa tidak akan ada pasar tanpa kehidupan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Agamben telah menulis beberapa kali bahwa atas nama &lt;em&gt;bare life&lt;/em&gt; kita bersedia menyerah pada kehidupan, dan pepatah Latin lain muncul di benakku, yang selalu lebih ku suka daripada yang disebutkan Formica, yaitu &lt;em&gt;navigare necesse est, vivere non est necesse&lt;/em&gt;. Untuk apa kita hidup ketika kita tidak lagi bisa bernavigasi?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk kedua kalinya presiden AS mengancam akan menangguhkan pendanaan untuk World Health Organization, karena, katanya, mereka bereaksi lambat dan salah terhadap pendekatan pandemi, dan mungkin karena mereka bahkan mengambil posisi pro-China. Dia juga secara diam-diam mengancam untuk memecat ahli yang paling absah di seantero sistem kesehatan Amerika, ahli virologi Anthony Fauci.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam beberapa hari terakhir, beberapa foto datang dari negaranya, menggambarkan tas berisi mayat, dibuang ke kuburan massal, digali bagi mereka yang bahkan tidak memiliki saran untuk membayar pemakaman atau penguburan, tepat di luar kota metropolis kosmopolitan, yaitu New York. Banyak yang terkejut memikirkan hal ini sebagai konsekuensi dari virus yang terkutuk, yaitu memaksa orang Amerika untuk menghindari pemakaman biasanya, dan rasa hormat kepada yang meninggal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kesalahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foto-foto itu bukan berita, mereka tidak ada hubungannya dengan epidemi. Faktanya, di negara itu, mereka yang tidak memiliki apa-apa dan mati seperti anjing biasanya dimakamkan seperti itu, ditahan di beberapa penjara, di kuburan massal, atau di pinggiran kota yang kaya raya. Itu normalitas yang diharapkan kembali.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;15-april&quot;&gt;&lt;strong&gt;15 April&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Beberapa berita yang menghibur: di California kerumunan tunawisma menempati flat dan villa yang dijual, tidak ada yang akan membeli pada saat ini. Beberapa berita yang mengganggu: di Lagos, warga dari beberapa lingkungan mempersenjatai diri untuk mempertahankan properti mereka dari gerombolan pencuri yang, dengan mengambil keuntungan dari jam malam, mencuri apa yang mereka bisa semalam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi bukankah ini mungkin masalah yang sama, bukankah ini disebabkan oleh kenyataan bahwa di saat-saat seperti ini, di saat-saat yang akan datang nantinya, properti pribadi menjadi sesuatu yang labil, lemah, rapuh? Entah bagaimana tidak teratur, miring.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aku membaca di Facebook: “Semua ini telah menciptakan iklim yang buruk. Kamu keluar dengan masker dan sarung tangan untuk berbelanja dan membeli koran, jika kamu perhatikan, semua orang saling curiga, dan jika seseorang terlalu dekat ada suasana teror hampir-hampir panik. Jika kita berhasil mengatasi virus ini, apakah kita juga bisa mengatasi perilaku ini? Aku tidak tahu. Akankah kita akan saling mengerutkan dahi selamanya?”*&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;/?s=bifo&quot;&gt;Franco Berardi&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; atau yang akrab disapa &lt;strong&gt;Bifo&lt;/strong&gt; adalah penulis, filsuf, teoritisi, dan figur terkemuka dari gerakan Autonomia Italia.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>03 May 2020</pubDate>
        <link>/tenang-sebelum-badai</link>
        <guid isPermaLink="true">/tenang-sebelum-badai</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Apakah Zapatista adalah Perjuangan Anti-Kapitalis?</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;oleh&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;John Holloway&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;*Artikel ini awalnya diterbitkan dalam Bahasa Spanyol dalam &lt;em&gt;Rebeldia&lt;/em&gt; No. 1 (Mexico City, November 2002). Pertanyaan mengenai judul diajukan oleh para penyunting dari jurnal tersebut. Beberapa gagasan yang disuguhkan di sini dikembangkan dalam Holloway (2002). Untuk Eloina Peláez, terima kasih banyak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Diterjemahkan oleh &lt;a href=&quot;/author/reza&quot;&gt;Reza&lt;/a&gt;. Foto: Susana Gonzalez/Newsmakers via &lt;a href=&quot;https://www.latinousa.org/2014/01/03/zapatista-anniversary/&quot;&gt;Latinousa.org&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;Gerakan Zapatista adalah (&lt;em&gt;is&lt;/em&gt;) gerakan bermartabat. Bukanlah telah (&lt;em&gt;was&lt;/em&gt;): adalah (&lt;em&gt;is&lt;/em&gt;). Dan tidak hanya untuk pribumi, tapi semuanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Martabat adalah sebuah gerakan. “Ini dan itu harus dibuat sebuah jalan untuk dilalui” (ujaran EZLN, 27 Februari 2001, di Puebla). Itu adalah sebuah ‘perjalanan susah dan berbahaya, sebuah penderitaan, sebuah pengembaraan, sebuah ketersesatan, sebuah pencarian akan tanah air yang tersembunyi, penuh gangguan yang tragis, mendidih, penuh dengan lompatan, letusan, janji kesepian, tanpa akhir sarat dengan kesadaran akan cahaya.’ (Bloch 1964, Vol. 2, hlm. 29)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Martabat tidak bergerak dalam sebuah jalan yang lurus. Jalur yang akan dijalani adalah jalur yang majemuk yang dibuat dalam proses perjalanan: jalur yang menolak pengartian. Lebih dari sekedar gerakan, ia adalah sebuah perjalanan, sebuah pengembaraan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebuah perjalanan, tapi bukan hanya berjalan-jalan saja. Martabat selalu sebuah perjalanan melawan sesuatu. Melawan segala hal yang menolak martabat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apakah hal-hal yang menolak martabat? Semua yang memaksakan sebuah topeng untuk kita dan memenjarakan kita dalam topeng itu.&lt;strong&gt;[1]&lt;/strong&gt; Dunia tanpa martabat berkata kepada kami, “anda adalah pribumi, jadi itulah yang dapat anda lakukan”; “anda adalah seorang wanita, itu sebabnya anda melakukan apa yang anda lakukan”; “anda homoseks, itu sebabnya anda berperilaku seperti ini”; “anda sudah tua dan kita tahu seperti apa orang tua itu”. Dunia tanpa martabat melampirkan diri kita pada sebuah definisi. Ia berkata kepada kita “jalanmu sejauh ini, anda tidak bisa melangkah lebih jauh”. Dan ia berkata lagi kepada kita “anda harus berjalan di jalan raya, bukan kemanapun yang anda inginkan”. Dunia tanpa martabat membatasi kita, mendefinisikan kita, tapi ia tidak mendefinisikan kita secara eksternal tapi dengan sebuah definisi yang menekan keberadaan kita.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi dari mana topeng tersebut muncul? Apakah rasisme? Apakah seksisme? Apakah homofobia? Ialah dari mereka semua. Tapi ia lebih dari mereka semua. Kita semua dipaksa menggunakan topeng. Kita semua terjebak dalam waktu yang homogen dan linear, waktu yang hanya berjalan ke depan, dalam sebuah garis lurus, waktu yang menolak kreatifitas kita, kemampuan kita untuk melakukan hal lain. Tidak hanya pribumi tapi seluruh diri kita dipaksa melihat film yang sama tiap hari: “Kita ingin kehidupan seperti dalam program film yang mana dapat memilih film yang berbeda-beda tiap hari. Sekarang kita telah bangkit dan membawa senjata karena lebih dari lima ratus tahun, mereka telah mewajibkan kita untuk melihat film yang sama setiap hari” (Subcomandante Marcos, La Jornada, 25 Agustus 1996). Tapi ada sebuah perubahan dari film yang kita dipaksa menontonnya setiap hari: ia semakin menjadi penuh kekerasan. Ia menjadi semakin jelas tiap hari bahwa waktu linear yang membawa kita ke depan, jalan raya lurus yang mana kita dipaksa menjalaninya, mengarahkan langsung kepada kehancuran diri sendiri dari kemanusiaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kekuatan apa ini yang memerangkap kita dalam waktu yang linear, yang membuat kita berjalan dalam jalan yang lurus menuju kehancuran diri sendiri, yang memerangkap perbuatan dalam topeng keberadaan? Apakah hal ini yang menegasikan martabat kita?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ialah pemecahan dari perbuatan. Martabat kita adalah perbuatan, kemampuan kita untuk berbuat dan berbuat sesuatu yang berbeda. Semut tidak memiliki martabat: mereka berbuat, tapi mereka tidak bisa memproyeksikan sebuah perbuatan yang berbeda untuk hari esok. Karena itu waktu mereka linear. Tapi “hal itu yang membuat langkah kita bangkit di atas hewan dan tumbuhan, hal itu yang membuat bebatuan ada di bawah kaki kita” (EZLN, &lt;em&gt;La Palabra&lt;/em&gt;, Vol. 1, hlm. 122) adalah kita berbuat dan memiliki kemampuan untuk berbuat sesuatu yang beda, untuk membuat sesuatu. Kita dapat merencanakan suatu perbuatan lalu melakukannya. Kemampuan ini untuk berbuat selalu bersifat sosial, apakah tampak seperti itu atau tidak. Perbuatan kita selalu mensyaratkan perbuatan orang lain, di masa kini dan di masa lampau. Perbuatan kita selalu menjadi bagian dari sebuah arus sosial dari perbuatan di mana hasil perbuatan mengalir ke perbuatan orang lain.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi di masyarakat masa kini, arus sosial dari perbuatan dirusak. Kapitalis mengambil apa yang menjadi perbuatan dan berkata “hal ini adalah milikku, milikku, milikku!” Dengan mengambil perbuatan, ia memecah arus sosial dari perbuatan, karena perbuatan selalu membangun di atas apa yang sudah diperbuat (hasil perbuatan). Dengan mengambil hasil perbuatan, para kapitalis mampu memaksa pembuat untuk menjual kemampuan mereka untuk berbuat (yang diubah menjadi kekuatan bekerja) kepadanya, sehingga ia sekarang memberitahu apa yang harus mereka perbuat. Dengan hal itu, si pembuat kehilangan kemampuan untuk berbuat sesuatu yang berbeda: sekarang mereka harus berbuat apa yang diperintahkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kapital adalah sebuah proses dari pemisahan. Ia memisahkan hasil perbuatan dari perbuatan, dan maka dari itu pembuat dari hasil perbuatan dan dari perbuatan mereka sendiri. Dalam gerakan yang sama, pembuat terpisah dari kekayaan yang telah mereka buat dan dari kemampuan untuk berbuat hal lainnya. Kita dibuat miskin dan dirampas dari subjektifitas kita. Kapital adalah sebuah proses pemisahan kita dari kekayaan atas buatan sosial manusia, dari martabat kita, dari peluang untuk melihat film yang berbeda di hari esok.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan memisahkan pembuat dari kemampuan untuk berbuat berbeda, kapital merendahkan perbuatannya. Kapitalisme adalah rezim dari “apa adanya”, “seperti itulah hidup”, “anda adalah perempuan dan begitulah perempuan”, “anda pribumi dan begitulah pribumi”. Di balik rasisme, seksisme, homofobia berdiri sebuah permasalahan yang lebih umum: dominasi dari topeng, label, identitas. Di balik penolakan tertentu dari martabat (“anda adalah orang India, seorang perempuan”) bersandar penolakan martabat yang lebih umum (“anda adalah anda, tidak lebih”). Martabat adalah perjuangan melawan negasinya sendiri: perjuangan untuk martabat di awali sebagai sebuah perjuangan melawan penolakan tertentu atas martabat (diskriminasi terhadap pribumi, terhadap perempuan), dan ia mengarah terus-menerus menuju saling pengakuan atas martabat, menuju persatuan martabat. Jalan-jalan bersimpangan, mengalir bersama, terpecah dan tergabung, mengalir dalam satu arah yang sama. Semua martabat yang sama, jika mereka jujur, dihadapkan tidak hanya pada negasi martabat tertentu, tapi terhadap negasi umum dari martabat yang menekankan sebuah label dan merendahkan potensi kita sebagai manusia kepada label tersebut. Gerakan dari martabat mengarahkan kita tidak hanya melawan penghinaan tertentu, tapi membawa kita lebih jauh, melawan penghinaan secara umum. Dan penghinaan secara umum adalah pelabelan orang, perendahan perbuatan kepada keberadaan. Dan penghinaan yang sangat amat buruk ini yang mana sekarang mengancam untuk menolak kemanusiaan dan mengarahkannya kepada kehancuran absolut dari kemanusiaan, penghinaan yang amat sangat ini muncul sederhananya dari jalan di mana perbuatan telah diorganisir, dari fakta bahwa kapital adalah pemisahan hasil perbuatan dari perbuatan, dengan apapun yang mengikuti hal itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perjuangan dari martabat untuk martabat, maka, adalah perjuangan anti-kapitalis. Tapi hal ini harus tidak menjadi label baru (“aku adalah sosialis, kamu adalah liberal”, “aku adalah seorang komunis, kamu adalah revisionis”). Perjuangan melawan kapital adalah perjuangan melawan proses pemisahan itu adalah kapital: pemisahan atas hasil perbuatan dari perbuatan, pemisahan dari kekayaan yang kita bentuk dari diri kita sendiri, pemisahan dari subjektifitas kita, martabat kita dari diri kita. Perjuangan untuk martabat adalah perjuangan melawan pemisahan, perjuangan untuk membawa bersamaan sesuatu yang dipisah oleh kapital, perjuangan untuk sebuah bentuk berbeda dari perbuatan, sebuah cara yang berbeda untuk menghubungkan satu dengan lainnya sebagai subjek yang aktif, sebagai pembuat. Perjuangan untuk martabat adalah perjuangan untuk mengemansipasi perbuatan dari keberadaan, perjuangan untuk membuat secara eksplisit arus sosial dari perbuatan. Perjuangan untuk martabat adalah perjuangan untuk membuat sebuah masyarakat didasarkan kepada pengakuan bahwa martabat di tempat yang didasarkan pada negasi martabat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagaimana kita bisa melakukannya? Apakah memungkinkan? Kita bisa berjuang, pastinya, tapi apakah benar-benar memungkinkan untuk membentuk sebuah masyarakat didasarkan kepada martabat, sebuah masyarakat yang melampaui kapitalisme? Apakah memungkinkan untuk membangun cara-cara alternatif dalam perbuatan di dalam kapitalisme, atau apakah kita tidak harus menghancurkan kapitalisme terlebih dahulu untuk membuat kemungkinan semacam itu? Apakah memungkinkan untuk membuat dan memperluas ruang martabat atau bukankah ruang semacam itu terikat untuk ditekan atau diserap olehnya? Apakah memungkinkan untuk membuat dan memperluas ruang kemartabatan di mana kapitalisme dihancurkan dan sebuah masyarakat didasarkan pada saling penghormatan dari martabat terbentuk?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pernah disampaikan bahwa satu-satunya cara untuk membangun relasi sosial didasarkan pada martabat adalah untuk menghancurkan kapitalisme terlebih dahulu lalu membuat masyarakat yang baru. Telah disampaikan bahwa perubahan dari kapitalisme menuju komunisme cukuplah berbeda dari perubahan dari feodalisme ke kapitalisme. Kapitalisme bertumbuh dari celah feodalisme, di dalam ruang yang ditinggalkan terbuka oleh dominasi feodal, tapi, dikatakan bahwa hal yang sama tidak dapat terjadi dengan komunisme: pembangunan dari relasi sosial baru membutuhkan kontrol kesadaran dari perbuatan sosial dan hal ini hanya dapat diperkenalkan pada tingkat masyarakat yang sebagai satu kesatuan. Perubahan dari kapitalisme menuju sebuah bentuk berbeda dari masyarakat oleh karena itu tidak dapat terjadi dengan perantara: ia hanya bisa terjadi dengan perebutan kekuasaan pada inti dari masyarakat, yang akan mengizinkan pengenalan terhadap sebuah kesosialan baru.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Permasalahan dengan argumen lawas adalah, terlepas dari segala hal lainnya, ialah cukup tidak realistis. Ia mengandaikan dunia adalah penjumlahan dari masyarakat-masyarakat yang berbeda-beda, masing-masing dengan negaranya sendiri, jadi tiap negara dapat dipahami sebagai pusat dari masyarakatnya. Tapi sekarang jelas bahwa dunia kapitalis tidak seperti itu dan tidak pernah seperti itu. Kapital adalah sebuah relasi teritorial yang penting, dalam arti bahwa faktanya bahwa relasi sosial dimediasi oleh uang berarti bahwa pengeksploitasi kapitalis dapat secara mudah berada di London dan pekerjanya berada di Afrika Selatan, atau produsen dari sebuah produk bisa di Puebla dan konsumennya ada di Hong Kong. Masyarakat kapitalis, maka, bukanlah sejumlah masyarakat yang dibatasi wilayah: ia adalah (dan selalu) satu masyarakat global yang didukung oleh sejumlah banyak negara. Untuk menguasai satu negara, maka, bukan untuk menaklukkan kekuasaan pada pusat masyarakat, tapi hanya untuk menduduki (dalam kasus terbaiknya) sebuah ruang tertentu dalam masyarakat kapitalis. Dengan kata lain, jika kita meninggalkan peluang untuk mengambil alih kekuasaan di seluruh atau kebanyakan negara pada waktu yang sama, satu-satunya cara yang memungkinkan untuk membayangkan perubahan revolusioner sebagai perubahan perantara, sebagai sebuah perubahan yang membawa celah dalam masyarakat kapitalis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita tidak dapat memikirkan perubahan radikal, sebagai sesuatu yang dibawa dari atas, atau sebagai pengenalan dari perencanaan pusat. Revolusi hanya bisa menjadi sebuah bangunan dari bawah. Tapi bagaimana kita bisa membangun martabat dalam sebuah masyarakat yang secara sistematis menegasikan martabat, bagaimana bisa kita membuatnya begitu kuat sehingga ia menegasikan masyarakat yang menegasikan diri kita?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ialah pertanyaan bukan mengenai revolusi, tapi juga bukan pemberontakan saja.&lt;strong&gt;[2]&lt;/strong&gt; Ia adalah pertanyaan mengenai revolusi.&lt;strong&gt;[3]&lt;/strong&gt; Revolusi (dengan R kapital), dipahami sebagai pendahuluan dari perubahan dari atas, tidak akan bekerja. Pemberontakan adalah perjuangan atas martabat dan akan tetap ada selama martabat dinegasikan. Tapi hal itu tidak cukup. Kita memberontak karena kita pemberontak, karena kita manusia. Tapi kita tidak hanya ingin berjuang melawan negasi martabat, kita ingin membuat masyarakat didasarkan pada pengakuan atas martabat. Tidak hanya pemberontakan, bukan Revolusi, tapi revolusi. Tapi apa maksudnya dan bagaimana kita melakukannya? Dalam perjuangan revolusioner ini, tidak ada bentuk-bentuk, tidak ada resep-resep, hanya sebuat pertanyaan penting yang penuh keputusasaan. Bukan pertanyaan hampa tapi sebuah pertanyaan dipenuhi ribuan jawaban.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Celah: ini adalah ribuan jawaban untuk pertanyaan mengenai revolusi. Di mana-mana ada celah. Perjuangan dari martabat merobek jalinan dominasi kapitalis. Ketika orang-orang menentang pembangunan bandara di Atenco, ketika mereka menentang pembangunan jalan di Tepeaca, ketika mereka menentang Rencana Puebla Panama, ketika para mahasiswa UNAM menentang pengenaan biaya, ketika para pekerja melanjutkan pemogokan untuk menolak pengenalan ritme kerja yang lebih cepat, mereka mengatakan “TIDAK, di sini tidak, di sini kapital tidak berkuasa!” Setiap kata TIDAK adalah nyalanya martabat, celah dalam aturan kapital. Setiap TIDAK adalah melarikan diri, penerbangan dari aturan kapital.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;TIDAK adalah titik awal dari seluruh harapan. Tapi hal itu tidak cukup. Kita berkata TIDAK kepada kapital di satu sisi, tapi ia tetap menyerang kita, memisahkan kita dari kekayaan yang kita buat, menolak martabat kita sebagai subjek aktif. Tapi martabat kita tidak dengan mudah ditolak. TIDAK memiliki momentum yang membawa kita ke depan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perjuangan mengatakan TIDAK seringkali membawa kita lebih dari itu. Dalam setiap perjuangan melawan kapital, hubungan relasi sosial alternatif dikembangkan. Mereka yang berjuang menyadari bahwa mereka tidak berjuang hanya melawan pemaksaan kapital tertentu, tetapi mereka berjuang untuk jenis relasi sosial yang berbeda. Terutama dalam beberapa tahun terakhir, banyak perjuangan telah memberikan tekanan besar pada struktur horizontal, pada partisipasi semua orang, pada penolakan struktur hirarkis kapitalisme: dengan demikian &lt;em&gt;mandar obedeciendo&lt;/em&gt; dari Zapatista, Majelis Horizontal dari para mahasiswa UNAM, &lt;em&gt;asembelas barriales&lt;/em&gt; dari Buenos Aires, tatanan yang dikembangkan oleh gerakan ‘anti-globalisasi’ di seluruh dunia, persahabatan yang berkembang dalam pemogokan. Semua ini adalah eksperimen yang sangat sering dan disadari, semua cara untuk mengatakan “kami tidak hanya mengatakan TIDAK kepada kapital, kami mengembangkan konsep politik yang berbeda, membangun serangkaian relasi sosial yang berbeda, berusaha mencari-cari masyarakat yang ingin kita bangun.”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi hal itu tidak cukup. Kita tidak bisa makan dari diskusi demokrasi, kita tidak bisa minum dari persahabatan. Tidak baik jika, setelah pembicaraan mengenai demokrasi dalam &lt;em&gt;asamblea barrial&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;frente Zapatista&lt;/em&gt; di malam hari, kita harus menjual kemampuan kita untuk berbuat (kekuatan kerja) kepada kapital di hari esoknya dan terlibat aktif dalam proses pemisahan yang dimaksud oleh kapital. Tapi di sini juga energi perjuangan membawa kita maju, dari berbicara menjadi berbuat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perjuangan yang berjuang tidak hanya untuk mengatakan TIDAK, tetapi untuk menciptakan relasi sosial lainnya dalam praktik yang didorong selangkah lebih maju, ke organisasi praktis dari perbuatan. &lt;em&gt;Asambleas Barriale&lt;/em&gt; di Argentina semakin bergerak dari membahas dan memprotes pemerintah menjadi pengambilan kehidupan mereka di tangan mereka sendiri dan pendudukan terhadap klinik yang sudah ditinggalkan, rumah-rumah yang kosong, bank-bank yang telah melarikan diri, dengan tujuan untuk menyediakan jaminan kesehatan yang lebih baik, dan untuk menyediakan tempat-tempat untuk dihuni orang-orang dan pusat-pusat yang digunakan untuk pertemuan atau diskusi. Ketika pabrik-pabrik tutup, para pekerja tidak hanya protes tapi mendudukinya dan menggunakan mereka untuk memproduksi barang-barang yang dibutuhkan. Celah menjadi sebuah tempat yang bukan hanya penolakan, bukan hanya untuk mengembangkan tatanan horisontal tapi untuk membangun sebuah bentuk alternatif dari perbuatan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tetapi hal itu tidak cukup. Celahnya seringkali kecil, perbuatan-perbuatan alternatifpun terisolasi. Bagaimana kita menghubungkan proyek-proyek alternatif ini? Jika dilakukan melalui pasar, pasar akan mendominasi mereka. Ia tidak bisa dilakukan dengan memperkenalkan perencanaan sosial dari atas, karena hal itu mengandaikan tatanan yang tidak ada dan tidak bisa ada pada saat itu. Hal ini tentu merupakan proses perbuatan dari bawah, secara sedikit demi sedikit. Di Argentina, gerakan barter, dalam manifestasi terbaiknya, adalah sebuah upaya untuk mengembangkan bentuk-bentuk lain dari artikulasi antara produsen dan konsumen (&lt;em&gt;prosumidores&lt;/em&gt;), tapi hal itu juga masih eksperimental.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tetapi tetap saja itu tidak cukup. Revolusi tidak mungkin kemiskinan. Gerakan revolusi berusaha untuk memperlihatkan secara eksplisit kekayaan dari perbuatan sosial. Tapi sekarang, kapital memisahkan kita dari kekayaan tersebut, ia berdiri sebagai penjaga gerbang dari perbuatan sosial dan memberitahu kita bahwa kita dapat mendapatkan akses ke kekayaan itu jika kita tunduk kepada aturan kapital, logika laba. Bagaimana kita dapat menghindari penjaga gerbang itu, menemukan cara-cara lain untuk menghubungkan kekayaan dari perbuatan dari jutaan manusia di seluruh dunia yang, mereka juga, mengatakan TIDAK atau ingin mengatakan TIDAK pada hubungn sosial dari kapital?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada setiap tingkat negara menawarkan dirinya sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita. Negara menyampaikan dengan menggema “Datanglah kepadaku, tata dirimu melaluiku, aku bukan kapital. Aku bisa menyediakan dasar bagi sebuah organisasi alternatif kesosialan.” Tapi hal ini adalah kebohongan, sebuah tipuan. Negara adalah kapital, sebuah bentuk kapital. Negara adalah bentuk khusus kapitalis dari relasi sosial. Negara sangatlah terikat ke dalam jaring global dari relasi-relasi sosial kapitalis yang mana tidak mungkin kesosialan anti-kapitalis dapat dibangun melalui negara, meskipun partai manapun yang duduk dalam pemerintahan. Negara menegakkan kepada kita sebuah relasi sosial hirarkis yang tidak kita inginkan; negara mengatakan bahwa kita harus realistis dan menerima logika kapitalis dan perhitungan dari kekuasaan ketika kita cukup jelas bahwa kita tidak menerima logika perhitungan tersebut. Negara mengatakan bahwa ia akan menyelesaikan permasalahan kita, bahwa kita tidak mampu menyelesaikannya, ia mereduksi kita menjadi korban, menolak subjektifitas kita. Negara adalah sebuah bentuk pendamaian perjuangan kita terhadap dominasi kapitalis. Jalan dari negara bukanlah jalan martabat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tentu ada banyak situasi di mana kita dapat mengubah sumber daya negara untuk keuntungan kita sendiri – seperti ketika &lt;em&gt;piqueteros&lt;/em&gt; menutup jalan untuk memaksa negara untuk memberikan dana kepada mereka yang mana mereka, &lt;em&gt;piquesteros&lt;/em&gt;, gunakan untuk mengembangkan bentuk alternatif dari perbuatan. Ada juga situasi di mana masuk akal untuk memilih satu partai daripada yang lain, untuk mempertahankan atau menciptakan lebih banyak ruang untuk gerakan kita. Tetapi negara tidak bisa menyediakan kesosialan alternatif yang awalnya ditawarkannya. BUMN, contohnya, tidak menyediakan sebuah organisasi yang berbeda dari perbuatan: mereka mengubah perbuatan menjadi pekerjaan dan merendahkannya ke gerakan dari kapital dengan cara yang sama seperti industri lainnya (hal yang sama juga terjadi di bekas Uni Soviet seperti di Inggris dan seperti di Meksiko). Meskipun jika ada situasi di mana kita mungkin ingin menggunakan negara, seperti kita menggunakan uang, penting untuk lebih jelasnya bahwa negara, seperti uang, adalah perwujudan relasi yang menolak martabat kita. Bukan melalui negara kita dapat menciptakan masyarakat berdasarkan martabat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu bagaimana? Pertanyaan ini menyiksa kita. Solusi lawas tidak bekerja, tidak dapat bekerja. Tapi bisakah solusi lain bekerja? Dapatkah perjuangan melawan negasi dari martabat benar-benar mengarahkan kita pada sebuah masyarakat didasarkan pada martabat, sebuah masyarakat yang di dalamnya kekuatan sosial dari perbuatan disetarakan (sebuah masyarakat komunis)? Kepastian tidak berada di sisi kita. Kepastian tidak bisa berada di sisi kita, karena kepastian ada hanya di mana martabat kemanusiaan ditolak, di mana relasi sosial sepenuhnya direifikasi, di mana orang sepenuhnya direduksi menjadi sekedar topeng. Satu-satunya kepastian untuk kita adalah bahwa martabat manusia berarti melawan sebuah dunia yang menolak martabat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Api martabat, kilatan petir, celah dalam dominasi kapitalis. Lihatlah peta kapitalisme dan lihat betapa sobeknya, seberapa besar celahnya, nyala api pemberontakan. Chiapas, Buenos Aires, Cochabamba, Quito, Caracas, dan seterusnya di seluruh penjuru dunia. Perjuangan kita adalah memperluas celah-celah itu sebagai ruang-waktu, untuk mengipasi nyala api martabat. Kadang-kadang nyala apa menerangi langit dan kita dapat melihat dengan jelas apa yang memberi kita harapan: penguasa bergantung kepada yang dikuasai, kapital bergantung pada kita, pada kemampuan untuk mengubah perbuatan kita menjadi pekerjaan yang bisa dieksploitasi olehnya. Ialah perbuatan kita yang membentuk dunia, kapital yang lari di belakangnya berusaha mengendalikannya. Kita adalah api dan kapital adalah pemadam kebakaran. Singkatnya: satu-satunya kekuatan produktif adalah kekuatan kreatif dari perbuatan manusia, dan relasi-relasi kapitalis dari perjuangan produksi sepanjang waktu mengandung kekuatan itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kapital takut kepada kita. Kapital melarikan diri dari kita, sama seperti kita melarikan diri darinya. Pelarian dan ancaman pelarian adalah fitur utama dari dominasi kapitalis. Tuan-tuan feodal tidak lari dari budak-budak mereka: jika budak-budak itu tidak berperilaku baik, tuannya tetap ada dan menghukum mereka, seringkali secara fisik. Tetapi beda halnya dengan kapitalisme. Kapital mengatakan kepada kami sepanjang waktu: “jika kamu tidak berperilaku baik, aku akan pergi”. Kita hidup dalam tekanan besar, di bawah ancaman mengerikan bahwa penguasa kita akan pergi dan meninggalkan kita. Dan seringkali kapital pergi, dan jutaan orang menjadi pengangguran, seluruh wilayah atau negara tinggal tanpa investasi, seluruh generasi ditinggalkan tanpa merasakan eksploitasi secara langsung. Di bawah neoliberalisme, ancaman untuk pergi ini dan kenyataan dari kepergian menjadi semakin sentral: itulah arti ekspansi kredit dan kebangkitan kapital keuangan. Semakin jelas kapital mengatakan “berperilakulah seperti robot, lakukan seluruh yang aku katakan atau aku akan pergi”. Semakin banyak, kapital melarikan diri dari fakta bahwa kita bukanlah robot, kapital melarikan diri dari martabat kita.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Martabat dan kapital tidaklah cocok. Semakin banyak kemajuan martabat, semakin sering kapital melarikan diri. Ketika pribumi bangkit, kapital melarikan diri. Ketika para buruh menduduki pabrik-pabrik, kapital melarikan diri. Ketika mahasiswa memberontak melawan penataan ulang dari edukasi, kapital melarikan diri. Ketika tampaknya pemerintah sayap Kiri mungkin memperkenalkan langkah-langkah yang memengaruhi laba, kapital melarikan diri (dan pemerintah berubah pikiran). Itulah sebabnya pertanyaan tentang bagaimana kita merespons pelarian kapital sangat penting bagi perjuangan untuk martabat (bahkan lebih mendasar ketimbang pertanyaan mengenai penindasan, karena penindasan selalu disajikan sebagai respon terhadap pelarian kapital). Apa yang akan kami jawab ketika kapital mengatakan “berperilakulah dengan baik atau kita akan pergi”? Apa yang akan kita katakan ketika kapital pergi?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Biarkan saja! Biarkan ia pergi! Itulah kepandaian hebat dari slogan orang Argentina “&lt;em&gt;Que se vayan todos!&lt;/em&gt;” (Biarkan mereka pergi!) Kapital mendominasi dengan mengancam kita bahwa ia akan pergi. Jadi, biarkan saja mereka pergi melarikan diri. Kita dapat mengelola dengan sempurna tanpanya. Kita akan bertahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Atau bisakah kita? Itu pertanyaan besarnya. Kapital bukan hanya sebuah proses penutupan celah. Dengan pergi dan dengan mengancam untuk pergi, hal itu juga membuka celah-celah potensial. Ketika kapital mengancam terlalu sering, maka buruh akan terdorong untuk mengatakan, “oke, pergilah sekarang, bawa uangmu, tapi kita akan tetap di sini bersama mesin-mesin dan bangunan-bangunan”. Ketika kapital pergi dari seluruh wilayah, maka orang akan didorong oleh pilihan dan kebutuhan untuk menemukan cara lain untuk bertahan. Mereka terdorong untuk membangun relasi-relasi sosial yang melampaui kapitalisme. Celah-celah terbuka tidak hanya melalui perjuangan-perjuangan kita tapi pelarian kapital dari martabat kita.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi bagaimana kita bertahan tanpa orang yang mengeksploitasi, ketika mereka mengontrol akses pada kekayaan dari perbuatan manusia? Itu adalah tantangan terbesarnya. Bagaimana kita memperkuat celah-celah sehingga mereka tidak hanya saku yang terisolasi dari kemiskinan tapi sebuah bentuk alternatif nyata dari perbuatan yang membuat kita dapat mengatakan kepada kapital “oke, pergilah, jika itu adalah hal yang selalu menjadi ancamanmu?” Di lain waktu kapital itu membuat kita pengangguran, dapatkah kita berkata “baiklah, sekarang kita bisa melakukan sesuatu yang lebih bermakna”? Di waktu lain ketika kapital menutup sebuah pabrik, bagaimana kita bisa mengatakan “pergilah sekarang, sekarang kita bisa menggunakan peralatan dan bangunan dan pengetahuan kita dengan cara yang berbeda”? Di lain waktu ketika kapital mengatakan “tolonglah bank-bank kita atau sistem keuangan akan jatuh”, bagaimana kita bisa mengatakan “biarkan dia jatuh, kita memiliki cara yang lebih baik untuk mengelola hubungan-hubungan kita”? Di lain waktu ketika kapital mengancam kita “aku akan pergi”, bagaimana kita bisa mengatakan “ya, pergilah, pergilah selamanya dan bawa kawan-kawanmu denganmu. &lt;em&gt;Que se vayan todos&lt;/em&gt;.”? Itulah permasalahan dari revolusi (dengan “r” kecil).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa arti revolusi? Ini pertanyaan, hanya bisa menjadi pertanyaan. Tapi bukan pertanyaan yang diam. Ini bukan pertanyaan yang macet di satu tempat, apakah tempat itu Saint Petersburg atau Selva Lacandona, atau Buenos Aires atau dalam suatu saat, apakah itu 1917, atau awal Januari 1994 atau 19/20 Desember 2001. Ia bukanlah pertanyaan yang bisa dijawab dengan sebuah formula atau resep. Ia adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan perjuangan, tapi refleksi teoritis adalah bagian dari perjuangan itu. Ia adalah pertanyaan dengan sebuah energi dan sebuah amarah dan sebuah kerinduan yang mendorongnya untuk maju. Mari kita selalu mendorong ke depan semua pertanyaan, sejauh yang kita bisa, dengan setiap tindakan politik, dengan setiap refleksi teoritik. &lt;em&gt;Preguntando Caminamos&lt;/em&gt; meminta kita berjalan. Ya, tapi kita berjalan dengan amarah, bertanya dengan penuh semangat.*&lt;/p&gt;

&lt;h6 id=&quot;rujukan&quot;&gt;&lt;strong&gt;Rujukan&lt;/strong&gt;&lt;/h6&gt;

&lt;p&gt;Bloch E. (1964), Tübinger Einleitung in die Philosophie, Bd. 2 (Frankfurt: Suhrkamp)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ejérito Zapatista de Liberación Nacional (1994) La Palabra de los Armados de Verdad y Fuego (Mexico City: Fuenteovejuna)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Holloway J. (2002), Change the World without taking Power, (London: Pluto)&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;[1]&lt;/strong&gt; Untuk Subcomandante Marcos, sebuah masyarakat bermartabat adalah sebuah masyarakat di mana orangnya “tidak perlu menggunakan topeng untuk berhubungan dengan lainnya”. Wawancara dengan Cristián Calónico Lucio, 11 November 1995, hlm. 61..&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;[2]&lt;/strong&gt; Dalam wawancaranya 9 Maret 2001 dengan Julio Scherer, Marcos mengatakan “kita melihat diri kita sendiri lebih sebagai seorang pemberontak yang ingin perubahan sosial. Hal itu, definisi dari revolusi klasik tidak cocok untuk kita.” (Proceso, 11 Maret 2001, hlm. 14). Marcos memang benar untuk menolak konsepsi lama dari revolusi, tapi konsep pemberontakan tidak cocok untuk mengkonseptualisasikan tantangan untuk merubah dunia. Perbedaan antara Revolusi dan revolusi lebih tepat. Lihat catatan selanjutnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;[3]&lt;/strong&gt; Dalam “Story of the Mirrors” (La Jornada, 9/10/11 Juni 1995, hlm. 17 (11 Juni), Marcos membicarakan revolusi yang “akan terjadi, secara prinsipil, sebuah revolusi yang merupakan hasil dari perjuangan di berbagai garda depan sosial, dengan berbagai metode, di bawah bentuk-bentuk sosial yang berbeda, dengan tingkatan komitmen dan partisipasi yang berbeda.” Ia mengatakan bahwa ia menggunakan huruf kecil, untuk menghindari polemik dari banyak pendukung dan pelindung REVOLUSI”)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>28 Apr 2020</pubDate>
        <link>/apakah-zapatista-adalah-perjuangan-anti-kapitalis</link>
        <guid isPermaLink="true">/apakah-zapatista-adalah-perjuangan-anti-kapitalis</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>INTEROGASI ANTONIO NEGRI 1979 (Pasca Pembunuhan Aldo Moro)</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: jelaskan kepada kami apa yang telah kamu tulis berkenaan dengan perlawanan bersenjata.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Berkaitan dengan perlawanan bersenjata, posisi saya telah dijelaskan sepenuhnya dalam buku saya, &lt;em&gt;33 Lessons on Lenin&lt;/em&gt;, yang merupakan penyelidikan kembali pemikiran Lenin yang mengarah kepada penerimaan terhadap perjuangan bersenjata sebagai sebuah momen inti dalam perkembangan dari perjuangan revolusioner dari kelas dan massa. Tapi saya telah, dalam seluruh pernyataan publik saya, selalu mengungkapkan penolakan mendalam, secara luas dan beralasan dari segala bentuk perlawanan bersenjata yang melibatkan militerisasi dari Gerakan dan aktivitas bawah tanah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Anda telah mengatakan bahwa kebanyakan dari kelompok militan dalam &lt;em&gt;Potere Operaio&lt;/em&gt; (P.O) berlawanan dengan klandestinisasi dan dengan perlawanan bersenjata. Saya akan memperlihatkan kepada anda dua dokumen yang ditemukan dalam berkas anda. Pertama adalah sebuah kertas stensil yang memuja perlawanan bersenjata dari beberapa kawan dalam P.O yang ditangkap karena memiliki bom molotov. Kedua, juga sebuah kertas stensil dengan kop surat P.O yang menjelaskan “kenapa Idalgo Macchiarini dan Robert Negret telah diculik dan diadili,” (dua manajer perusahaan, satu dari Sit-Siemens di Milan dan satunya dari Renault dari Paris). Saya harus mengingatkan anda bahwa Macchiarini diculik pada tahun 1972 dan tindakan tersebut diklaim oleh Brigade Merah (B.R).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: keduanya adalah leaflet yang dapat ditemukan dalam tumpukan dokumen dari organisasi manapun yang ada pada tahun 1968. Dalam perkara apapun, keduanya tidak mengindikasikan sebuah garis P.O. seperti pemujaan umum dan sembarangan bahwa Gerakan ini menganugerahkan inisiatif pertama dalam perjuangan bersenjata yang bersifat massal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jaksa Penuntut Umum&lt;/strong&gt;: Pernahkah anda membagikan leaflet semacam ini?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Saya mulai berhenti melakukannya sekitar sepuluh tahun yang lalu, kisaran 1970.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: saya memperlihatkan kepada anda materi tertulis ini berisi beberapa catatan yang saya percayai bahwa anda menulisnya. Apakah anda ingin memverifikasi kontennya?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: dokumen tersebut berisikan telaah dari situasi pada saat itu yang mana saya menyepakatinya. Dokumen itu sepertinya sepenuhnya milik saya, tanpa mengabaikan fakta bahwa hal itu mewakili hasil dari diskusi kolektif dan maka dari itu berisikan beberapa poin yang tidak saya sepakati. Pada umumnya, dokumen itu dicirikan oleh anggapan mengenai fakta yang tidak bisa diputarbalikkan mengenai hubungan kelas yang amat sangat antagonistik. Maka dari itu, ia juga berbicara mengenai strategi ala “Vietnam” dalam Gerakan dalam situasi yang ada dan tidak bisa diputarbalikkan. Ia menekankan pada aspek-aspek utama dalam perjuangan massa, yang diperjelas dalam bagian tengah dari dokumen yang sama mengenai empat kampanye: mengenai jam kerja dan upah, mengenai anggaran belanja publik, mengenai senjata nuklir dan mengenai terorisme Negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jelas sudah bahwa jika seseorang berbicara mengenai perlawanan ofensif (menyerang)—ia berbicara mengenai kondisi-kondisi material dari eksploitasi dalam hubungannya dengan kondisi-kondisi baru dari produksi sosial (pekerjaan sosial, pekerjaan &lt;em&gt;off-the-book&lt;/em&gt;, pekerjaan perempuan, berbagai metode untuk menghasilkan nilai lebih yang absolut dan maka dari itu eksploitasi yang brutal). Semua hal ini menjelaskan sebuah situasi dari antagonisme sosial yang ekstrim di antara kelas-kelas dan kelompok-kelompok sosial, yang mana kesimpulannya mengarah dalam sebuah bentuk istilah dari perang saudara. Perhatikan perbedaan besar dan dramatis yang dibuat tesis berkaitan dengan posisi B.R.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: saya tidak begitu melihat perbedaannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: perbedaan antara penanggalan kekuasaan dan pelemahan sistem politik. Faktanya, permasalahan mendasar adalah pelemahan sistem politik melalui penanggalan dari sistem sosial dari eksploitasi. Ini adalah proses revolusioner seperti yang saya maksud — sebuah proses material yang secara serentak merusak dominasi mesin kapitalis sepenuhnya dan menyediakan kebutuhan mendasar dari proletariat (perbaikan-diri). Proses insureksi (maka dari itu proses yang berkaitan dengan perang saudara) hanya dapat menempatkan dirinya pada akhir dari kerumitan dari gerakan sosial ini. Pada titik ledakan kontradiksi obyektif itulah perjuangan diintensifkan dan sistem ekonomi yang eksploitatif akan kesulitan menjaga fungsi hukumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jaksa Penuntut Umum&lt;/strong&gt;: Tapi saya masih tidak memahami perbedaannya dengan B.R.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Perbedaan antara apa yang saya katakan dengan ideologi dari B.R. berada pada poin-poin berikut. Pertama, konsepsi organisasi. B.R. memiliki gagasan keorganisasian yang sangat terpusat (partai), yang disajikan sebagai senjata fundamental dan eksklusif dan faktor penentu dalam pertarungan dengan Negara. Gerakan massa, meskipun dikatakan fundamental, dianggap tidak efektif tanpa petunjuk eksternal dari partai. Hal ini adalah ideologi klasik dari Internasionale Ketiga. “&lt;em&gt;Autonomia Operaia&lt;/em&gt;”, sebaliknya — didasarkan pada tradisi dari Marxisme revolusioner di Italia — menganggap organisasi sebagai organisasi massa yang menyaring dan menerjemahkan menjadi dirinya sendiri, menjungkirbalikkan organisasi kapitalis dari produksi sosial. “Autonomia” muncul dari pertumbuhan kebutuhan langsung dari proletariat. Ini adalah sebuah momen untuk pembongkaran melalui sebuah perjuangan melawan eksploitasi dan pembebasan dari kebutuhan proletar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kedua, konsep dari insureksi. Bagi B.R. konsep insureksi berhubungan dengan isu mengenai pengambilalihan kekuasan Negara. Bagi “Autonomia”, pengambilalihan adalah sebuah istilah yang tidak bermakna setidaknya karena dua hal: bahwa tidak ada kekuasaan negara yang ada di luar organisasi material dari produksi; bahwa tidak ada revolusi kecuali sebagai sebuah proses transisional dalam pembuatan dan hanya setengah disadari. Maka dari itu jelas sudah bahwa “Autonomia” menolak segala pemikiran terkait “kudeta” Negara melalui tindakan yang diarahkan terhadap lembaga. Segala tindakan harus mengarahkan dirinya menuju penyediaan atas kebutuhan fundamental dari proletariat. Bagi B.R. pembebasan proletariat dan segala usaha dan segala momen dari perjuangan dalam arti ini ialah mustahil jika tatanan kekuasaan Negara tidak diserang dan dihancurkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Saya akan memperlihatkan kepada anda sejajaran dokumen mengenai isu serikat, yang mana di antaranya disebutkan kalimat “serang dan putar mejanya”. Saya percaya bahwa tujuan ini ialah sama dengan organisasi bawah tanah dan militeristik seperti B.R.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Kebanyakan dari dokumen-dokumen ini — seperti yang sebelumnya kita bicarakan — telah diterbitkan dalam jurnal Rosso. Saya percaya bahwa panggilan untuk “serangan melawan bahkan perwakilan demokratis dari serikat” adalah bagian dari garis tetap yang permanen dari “Autonomia” dan hal ini dibenarkan oleh haluan umum dari hubungan politik dalam masyarakat ini. Ketika seseorang berbicara mengenai serangan terhadap tatanan serikat, ia bermaksud perlawanan massa terhadap serikat dan penggunaan hak demokrasi radikal dari para pekerja dan proletar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Jelaskan maksud dari ungkapan “poros terorganisir dari Otonomi” dan “poros pelengkap”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Ketika saya berbicara mengenai “poros terorganisir dari Otonomi” saya merujuk kepada pelopor massa otonom yang bertindak di pabrik-pabrik, dalam pelayanan organisasi, dalam daerah sekitar. Sedangkan “poros pelengkap” maksud saya adalah kelompok kecil spontan yang bekerja di wilayah Otonomi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Tapi apakah anda punya tujuan yang sama atau tidak dengan B.R?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Tampaknya bagi saya keliru untuk menyatakan hubungan yang tidak ambigu antara polemik anti perserikatan yang dikembangkan secara umum dalam gerakan Kiri Marxis dan praktik militer dari B.R.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Ingat bahwa anda juga memiliki dalam berkas anda dokumen yang berjudul &lt;em&gt;Outline for the Construction of a Workers Coordination&lt;/em&gt; (Garis Besar untuk Pembangunan dari Sebuah Koordinasi Pekerja). Di antara beberapa barang, dalam materi milik anda dikatakan “sejumlah banyak peleton pelayan majikan harus ditempatkan dalam situasi tidak berbahaya. Manajer adalah mata rantai pertama dari rantai terorganisir di mana perintah dari majikan dilaksanakan.” dan selanjutnya “Mari kita mengorganisir patroli proletarian yang bertujuan untuk menghilangkan penipu dari tempat kerja; mari kita buat patroli tersebut sebagai alat dari organisasi permanen di dalam dan luar pabrik…” Tidak mungkin dipertanyakan lagi bahwa hal-hal ini adalah tujuan sejenis dari B.R.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Dari pembacaan sekilas dari dokumen, saya percaya bahwa itu bukan tulisan saya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jaksa Penuntut Umum&lt;/strong&gt;: Tapi ingat bahwa dalam berkas anda ada dokumen lainnya ditulis tangan atau diketik oleh anda, dengan isi yang sama!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengacara&lt;/strong&gt;: Anda harus memberitahu kepada kami apa yang dibuktikan dalam dokumen ini! Aturan peradilan mewajibkan bahwa terdakwa harus dibuat sadar “dalam cara yang tepat dan jelas” tindakan yang dihubungkan kepadanya sebagai pelanggaran yang bisa dihukum dan semua bukti relatif terhadap tindakan tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jaksa Penuntut Umum&lt;/strong&gt;: Anda mencoba menghalangi jawaban atas pertanyaan itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: tidaklah berguna menjadi begitu bersemangat karena saya berkenan untuk menjawab pertanyaannya. Dalam berkas-berkas saya mengumpulkan materi yang saya tulis dan dokumen-dokumen dari berbagai posisi politik yang ada dalam Gerakan. Seluruhnya yang mana, seperti yang saya lakukan sebelumnya pada 1969-an, telah disumbangkan kepada sebuah yayasan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Agar lebih lengkap sekarang saya akan memperlihatkan pada anda tiga dokumen lainnya: sebuah manuskrip, &lt;em&gt;The Patrol, the Brigades, the Red Guard with Tennis Shoes&lt;/em&gt; (Patroli, Brigade, Garda Merah dengan Sepatu Tenis), materi yang diketik yang mana, di antara hal-hal lain, ia menyatakan bahwa “patroli menggunakan sepatu tenis menutupi wilayah si majikan dan menyerang musuh menyusun ulang kelas”; dan sebuah surat yang dialamatkan kepada anda, di mana pengirimnya sepakat dengan anda terkait praktik dari patroli tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Manuskrip itu adalah garis besar dari sebuah artikel yang saya tulis untuk Rosso. Gagasan mengenai patroli proletar terlihat bagi saya dapat menjadi sebuah alat yang berguna untuk proletariat masa kini, yang dipaksa menuju penyebaran wilayah dari aktivitas produksi, dipaksa melaksanakan pekerjaan yang tak tercatat, pekerjaan yang menyebar, pekerjaaan tersier. Hanya patroli yang akan mampu untuk membuat sebuah agregasi dari kekuatan-kekuatan ini yang tidak tergabung dalam pabrik besar dari kapital dan maka dari itu memperbolehkan pematangan perjuangan kelas dalam hal disesuaikan pada mobilitas dari tenaga kerja baru. Fungsi dari patroli adalah perwakilan ekonomi-politik dari proletar produktif yang terlibat dalam pekerjaan yang tidak tercatat, dengan tujuan mengembangkan kondisi kerja dan kehidupan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Kami mempercayai bahwa apa yang ada artikan sebagai “pematangan perjuangan kelas” dilaksanakan oleh patroli-patroli melalui penggunaan cara dengan kekerasan dan ilegal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Pada kebanyakan kasus dari pekerjaan yang dilaksanakan oleh para patroli tidak dilaksanakan melalui cara-cara kekerasan dan ilegal, melainkan melalui tekanan politik dan negosiasi. Kasus-kasus di mana ada kekerasan, saya percaya, menjadi suatu jenis yang sangat dikenal dalam sejarah dari perjuangan kelas ketika sektor-sektor dari kekuatan buruh yang tidak terorganisir meminta untuk pengakuan atas serikat. Seseorang seharusnya tidak lupa bahwa sejarah organisasi serikat di pabrik-pabrik besar telah melibatkan kekerasan — kekerasan, utamanya, sebagai reaksi terhadap kekuatan represif dari kapital.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Sekarang saya memperlihatkan kepada anda sejajaran dokumen lain yang telah anda simpan. Ada tulisan mengenai kolom, kader militer-politik, seksi logistik dan kerja massa. Khususnya adalah tugas dari struktur militer, termasuk “tindakan melawan musuh, tindakan pertahanan, pelatihan, pengambilalihan.” Akhirnya, persenjataan, pendanaan, dan perilaku klandestin. Apa yang ingin anda katakan perihal ini?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Itu bukan materi saya. Itu adalah dokumen di mana saya tidak memiliki hubungan sama sekali dengan jenis garis politik yang saya ikuti. Catatan dengan tulisan tangan di pinggiran kertas bukan tulisan tangan saya. Dokumen tersebut disebarkan di Milan di dalam Gerakan sebagai proposal untuk diskusi yang diikuti oleh masyarakat yang saya kira tergabung dalam Prima Linea.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Siapakah orang-orang tersebut?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Saya tidak bisa menyebutkan nama mereka kepada anda. Mereka adalah orang-orang yang berkumpul di bawah koordinasi “Autonomia”. Model organisasi dari dokumen-dokumen ini, namun, kurang lebih teroristik. Perdebatan dalam isu ini terjadi pada tahun 1976, gagasan-gagasan semacam ini menemui oposisi dalam Gerakan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Tapi mengapa anda menyimpan beberapa salinan dari teks yang sama?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Mungkin dokumen-dokumen ini diberikan kepada saya bertujuan untuk mendapat perhatian dan dukungan dari saya. Saya ingin memperjelas bahwa justru banyaknya informasi yang tersedia bagi saya yang memungkinkan saya untuk menantang posisi seperti itu secara lebih efektif.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Tapi seharusnya anda mampu untuk mengingat siapa orang-orang ini yang memberi anda dokumen ini dan meminta dukungan anda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Saya ulangi lagi, saya tidak bisa menjawabnya. Teroris tidak pernah memperkenalkan dirinya! Materi ini disebarkan ketika pertemuan publik dan biasanya tidak melalui tangan pertama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jaksa Penuntut Umum&lt;/strong&gt;: Jika anda berbicara dalam nada yang keras, anda mengingatkan saya kepada suara di telepon untuk Pak Moro!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Anda tidak punya hak untuk membuat tuduhan semacam itu! Anda harus membuktikan perkataan anda terlebih dahulu. Anda menghina saya!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengacara&lt;/strong&gt;: Saya meminta bahwa insiden ini dicatat!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Sepakat. Mari kita catat seluruhnya. Tapi mari kita lebih tenang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Singkatnya, mustahil bagi saya untuk mengidentifikasi mereka yang membawa dokumen ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: &lt;em&gt;Elementary Norms of Behavior&lt;/em&gt; (Norma Umum mengenai Perilaku) adalah judul dari dokumen ketik lainnya dari berkas anda. Konsep-konsep yang disampaikan di sini sama dengan yang ada di halaman ketik lainnya yang berjudul &lt;em&gt;Norms of Security and Work Style for the Irregular Forces&lt;/em&gt; (Norma dari Keamanan dan Gaya Bekerja untuk Kekuatan Ireguler) oleh B.R. yang ditemukan di apartemen dari Via Gradoli. Dengan dokumen-dokumen ini kita telah menemukan bukti berkaitan dengan keberadaan badan ilegal, klandestin, dan militer dalam Gerakan yang mana anda, Profesor Negri, bukanlah orang yang asing.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Pastinya saya tidak menulis dokumen tersebut. Ia merupakan bagian dari materi dokumen yang telah saya kumpulkan. Penting untuk diingat bahwa proses pembangunan dan identifikasi politik dari Autonomia di Milan yang telah dikembangkan pada tahun-tahun terakhir butuh untuk mengatasi jalan buntu ala militeris di dalam Gerakan. Seharusnya jelas bahwa Autonomia yang terorganisir dari Milan berjuang melawan jalan buntu ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Ada catatan tulisan tangan dalam leaflet yang saya punya di sini berkaitan dengan permasalahan Serikat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Mereka adalah bahan untuk sebuah diskusi mengenai organisasi dari perjuangan melawan pekerjaan di hari Sabtu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Apa makna ungkapan “I” (Aku) dalam leaflet tersebut?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Mungkin hal itu bermakna bahwa entah bagaimana saya melakukan sesuatu, atau bahwa saya ingin melakukannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Apakah pamflet ini, &lt;em&gt;Worker’s Power for Communism&lt;/em&gt; (Kekuatan Pekerja untuk Komunisme) milik anda? Jika hal itu adalah hasil dari kerja kolektif, apakah anda berpartisipasi di dalamnya?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Itu bukanlah pamflet saya dan saya tidak ikut campur tangan dalam pembuatannya. Saya tidak pernah menjadi bagian dari Komite Komunis Revolusioner yang dijadikan penulis yang ditulis pada halaman pertama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Siapakah orang yang mendukung, seperti yang anda katakan sebelumnya, “garis arahan dari B.R” dan inisiatif-inisiatif B.R sebagai sebuah momen penyatuan bagi Gerakan? Dan siapa yang membentuk “kelompok-kelompok kecil” yang mendukung “klandestin” dan “garis teroris”?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Susah, pastinya mustahil untuk dijawab.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Anda terus menerus berbicara mengenai penolakan akan perjuangan bersenjata. Kita telah mendapatkan transkrip dari pernyataan anda selama konferensi organisasi ketiga dari P.O pada September 1971. Anda menyampaikan pada saat itu bahwa “pengerukan” di satu sisi dan “militerisasi” di sisi lainnya sangatlah berkaitan, dan bahwa perkembangan dari “benturan” dan “organisasi” harus berjalan beriringan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Posisi itu (pernah disampaikan tanpa persiapan dan dalam sebuah konferensi yang membingungkan dan sangat rumit) ialah konsisten dengan posisi yang selanjutnya saya dukung. Jelas sudah bahwa sudut pandang dari perjuangan bersenjata, seperti yang disampaikan di sini, merujuk kepada sudut pandang yang diartikan dalam Marxisme klasik dan tidak berhubungan sama sekali dengan program tertentu dari militerisasi dari Gerakan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengacara&lt;/strong&gt;: Pertanyaan-pertanyaan ini tidak berhubungan. Terdakwa dipaksa dalam tiap poin untuk menyediakan jawaban yang tidak nyata pada bagian yang faktual, melainkan untuk melakukan analisis berkaitan dengan premis-premis filosofis, sebuah kosakata spesialis, dan hubungan antara permasalahan historis dan politik. Kelihatannya bagi kita bahwa anda berusaha mencari bukti dari jawaban-jawabannya. Kita, maka, meminta bahwa terdakwa ditanya langsung mengenai yang berkaitan dengan dakwaan terhadapnya. Khususnya dua laporan dari polisi rahasia dan saksi-saksi yang akan bersaksi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Saya sepakat. Mari kita undang terdakwa untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah berkaitan dengan mengikuti unsur pembuktian terhadap dirinya, sumber-sumber yang tidak bisa ditunjukkan tanpa merugikan penyelidikan kejaksaan.&lt;/p&gt;

&lt;ol&gt;
  &lt;li&gt;Pernyataan yang bagi Negri menolong untuk mengembangkan, di satu sisi, tindakan militer dari B.R dan di sisi lain, aksi massa dari Autonomia, satu-satunya yang dikoordinasikan dengan lainnya melalui struktur sentral (sentral dan pinggiran). Hubungan antara garda depan persenjataan dan basis dari Gerakan harus dipastikan dengan sentralisasi kaku (yang disebut dengan “sentralisme pekerja”) dari inisiatif dari massa dan garda depan.&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Pernyataan yang menurutnya, dalam pertemuan para anggota organisasi, Negri menganjurkan perlunya meningkatkan tingkat konfrontasi (sabotase bangunan industri, memukuli mandor pabrik, perampasan oleh proletar, dan penculikan dan penyitaan yang merujuk kepada pemimpin serikat, hakim-hakim, dan manajer pabrik), dengan tujuan menaklukkan kekuasaan.&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Pernyataan yang menunjukkan bahwa Negri menunjuk bahwa B.R. dan P.O. adalah struktur yang berkaitan, dan menurut pernyataan tersebut bahwa ia terlibat dalam perencanaan B.R.&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Pemberitahuan yang diberikan oleh anggota B.R kepada seseorang yang selanjutnya melaporkan kepada pihak berwajib di kejaksaan mengenai hubungan langsung antara B.R dan P.O.&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;Pernyataan yang mana anggota militan P.O. di Padua memiliki senjata dan bahan peledak yang tersedia dan sedang melatih diri mereka dalam teknik militer. Pernyataan yang menyatakan bahwa Negri mengajarkan “teknik” membangun bom Molotov.&lt;/li&gt;
&lt;/ol&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Saya sepenuhnya terkejut dengan unsur pembuktian yang dinyatakan di sini. Mereka tidak hanya tuduhan yang tidak benar, tapi benar-benar tidak mungkin dan tidak sesuai dengan semua yang telah saya katakan dan lakukan selama saya tergabung dalam P.O dan selanjutnya Autonomia. Oposisi antara P.O dan B.R sudah jelas dari dokumen dari dua kelompok itu sendiri. Hal itu tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa saya mengajarkan orang-orang untuk membuat bom Molotov, yang mana, omong-omong, saya tidak tahu bagaimana cara membuatnya. Saya tidak pernah menyampaikan dukungan untuk membuat hubungan antara aksi militer B.R dan aksi massa dari Otonomi yang terorganisir. Tuduhan itu murni palsu—mereka hanyalah fantasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Pada titik ini kita mempertanyakan seluruh tulisan-tulisan anda, mendakwa bahwa anda menyajikan program yang mengarah kepada perjuangan bersenjata dan pembentukan kediktatoran proletariat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Saya menolak legitimasi dari pertanyaan-pertanyaan anda dan dari laporan-laporan yang digunakan untuk membenarkan penangkapan saya. Tidak ada dalam buku saya yang memiliki hubungan organisasional secara langsung. Kewajiban saya sepenuhnya adalah sebagai intelektual yang menulis dan menjual buku!&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Hakim&lt;/strong&gt;: Jika anda selalu mengungkapkan penolakan terhadap perjuangan bersenjata, lalu beritahu kami bagaimana anda membenarkan frasa yang termuat dalam pamflet ini: “perjuangan heroik dari kawan-kawan B.R dan &lt;em&gt;Armed Proletariat Nuclei&lt;/em&gt; (NAP) adalah gunung es dari Gerakan.” Saya ingin anda memperhatikan bahwa dokumen, diambil dari berkas anda, ada catatan dan koreksi, beberapa yang kemungkinan besar adalah milik anda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Negri&lt;/strong&gt;: Iya, dokumen tersebut tampaknya milik saya; setidaknya catatan di pinggiran itu adalah buatan saya. Tapi dokumen itu berisi ungkapan Marxisme klasik. Untuk “demokrasi” seseorang harus memahami kediktatoran borjuasi dan untuk “kediktatoran proletariat”, bentuk tertinggi dari kebebasan dan demokrasi. Dan untuk kalimat yang dipertanyakan, memang perlu untuk mengakui sebagai fakta munculnya B.R. dan NAP sebagai ujung dari gunung es pergerakan. Ini tidak mengharuskan seseorang dengan cara apapun mengubah pengakuan menjadi pembelaan, dan ini sama sekali tidak menyangkal kesalahan besar dari garis B.R.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya telah mengungkapkan dengan cara yang penuh empati penolakan saya terhadap inisiatif B.R—sebuah posisi yang saya percayai bertepatan dengan sejumlah banyak mayoritas kawan-kawan Autonomia. Maka dari itu, jangan ada kebingungan. Pada waktu yang bersamaan bukan berarti kawan-kawan B.R tidak perlu dihormati. Karena perlu memiliki rasa hormat terhadap semua orang yang mencari tujuan proletar komunis, bahkan ketika seseorang sangat mengkritik strategi “pembunuhan”, yang berlawanan dengan seluruh premis dari Marxisme. Marx sendiri mengangkat topinya untuk Felice Orsini. Namun saya mengatakan sekali lagi bahwa terorisme hanya bisa dilawan melalui sebuah perjuangan politik massa yang otentik dan dalam gerakan revolusioner.*&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Catatan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diterjemahkan dalam Bahasa Inggris oleh III WW &amp;amp; Phil Mattera dalam situs &lt;a href=&quot;https://libcom.org/library/negris-interrogation-trial-transcript-1979&quot;&gt;Libcom.org&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh &lt;a href=&quot;/author/reza&quot;&gt;Reza Maulana Hikam&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foto dalam artikel ini dari &lt;a href=&quot;https://libcom.org/library/negris-interrogation-trial-transcript-1979&quot;&gt;Libcom.org&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>20 Apr 2020</pubDate>
        <link>/transkrip-interogasi-antonio-negri-1979</link>
        <guid isPermaLink="true">/transkrip-interogasi-antonio-negri-1979</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>RESET, Normalitas Tidak Boleh Kembali</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Pengantar&lt;/strong&gt; (KRS)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Artikel ini adalah bagian kedua dari kronik psycho-deflation oleh &lt;strong&gt;Franco ‘Bifo’ Berardi&lt;/strong&gt; yang terbit pertama kali di &lt;a href=&quot;https://www.neroeditions.com/reset/&quot;&gt;NERO&lt;/a&gt;. Diterjemahkan oleh &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/author/faricha&quot;&gt;A. Faricha Mantika&lt;/a&gt; dan &lt;a href=&quot;/author/reza&quot;&gt;Reza Maulana Hikam&lt;/a&gt; atas sepengetahuan penulis. Laiknya sebuah kronik, Bifo menuliskan sorotan menarik dari harinya, apa yang dipikirkan, direnungkan, atau dibaca pada hari ini. Pembaca dapat membaca kronik ini secara berurutan mulai tanggal 15 - 24 Maret atau secara acak dan mengandalkan daftar isi yang telah kami cantumkan di awal kronik dalam tiga laman.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagai seorang filsuf, teoritisi, intelektual, figur ternama dari gerakan Autonomia Italia; &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kisah-kisah-pembunuh-massal-dan-ironi-kepahlawanan/&quot;&gt;tulisan-tulisan Bifo selalu bernas&lt;/a&gt;. Menghadirkan sentakan penuh tenaga pada cara pandang kita terhadap kapitalisme, serta menawarkan &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/peluang-dan-potensi/&quot;&gt;renungan&lt;/a&gt; yang cukup radikal mengenai apa yang dapat kita lakukan selama dan setelah pandemi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selamat menikmati.&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/bifo-2-1024x699.jpg&quot; alt=&quot;Franco Berardi - RESET - Kedai Resensi Surabaya&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Franco ‘Bifo’ Berardi (&lt;a href=&quot;https://www.eugeniodamian.com/2018/11/manifiesto-post-futurista-franco-bifo.html&quot;&gt;Foto: Eugenio Fernández&lt;/a&gt;)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Entry Date&lt;/p&gt;

&lt;ul&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#15-maret&quot;&gt;15 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#16-maret&quot;&gt;16 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#17-maret&quot;&gt;17 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#18-maret&quot;&gt;18 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#19-maret&quot;&gt;19 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#20-maret&quot;&gt;20 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#21-maret&quot;&gt;21 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#22-maret&quot;&gt;22 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#23-maret&quot;&gt;23 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#24-maret&quot;&gt;24 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;

&lt;h2 id=&quot;15-maret&quot;&gt;&lt;strong&gt;15 Maret&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Dalam keheningan pagi, beberapa merpati yang kebingungan memandang ke bawah dari atap gereja dan nampak tertegun. Mereka tidak dapat memahami hamparan kosong perkotaan yang mereka lihat. Demikian pula saya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya membaca naskah pertama dari karya Jess Henderson, &lt;em&gt;Offline&lt;/em&gt;, sebuah buku yang akan diterbitkan dalam beberapa bulan ke depan (setidaknya buku itu harus terbit, tapi siapa yang tahu). Hari ini, kata “&lt;em&gt;offline&lt;/em&gt;” memperoleh makna yang filosofis: ialah cara untuk mendefinisikan dimensi fisik yang nyata dari, berlawanan dengan atau lebih baik disebut sebagai, pengurangan dari dimensi virtual.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya bertanya-tanya bagaimana hubungan antara &lt;em&gt;online&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;offline&lt;/em&gt; berubah selama pandemi, dan mencoba membayangkan apa akibatnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam tiga puluh tahun terakhir, aktivitas manusia telah amat mengubah sifat hubungan, proxemic, dan kognitifnya: sejumlah besar interaksi telah berpindah dari dimensi fisik dan konjungtifnya—dimana pertukaran linguistik menjadi tidak tepat dan ambigu (dengan demikian dapat dimaknai secara tidak terbatas), dan setiap tindakan produktif yang mengkonsumsi energi fisik, ketika tubuh berhubungan dengan alur aktivitas konjungsi—menuju dimensi yang terkoneksi, dimana operasi linguistik dimediasi oleh mesin komputer dan karenanya bereaksi terhadap format digital. Setiap kegiatan produktif sebagian dimediasi oleh automatisme, dan orang-orang lebih sering berinteraksi meskipun secara fisik tidak pernah bertemu. Kondisi keseharian dari seluruh populasi telah semakin dirantai ke perangkat elektronik yang terkait dengan banyak data. Persuasi telah digantikan oleh pervasi, sedangkan psikosfer dipersarafi oleh infosfer. Sambungan ini mengandaikan keakuratan yang tak berambut dan bebas debu. Virus komputer mungkin dapat mengganggu atau mengalihkan keakuratan ini, yang tidak mengetahui ambiguitas tubuh fisik dan juga tidak menganggap ketidakakuratan sebagai suatu kemungkinan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sekarang, ini dia, agen biologis memperkenalkan dirinya ke dalam rangkaian kesatuan sosial, membuatnya meledak, dan memaksanya menjadi tidak aktif. Konjungsi, bidang yang sebagian besar telah direduksi oleh teknologi yang terkoneksi, adalah penyebab penularan. Bersatu dalam ruang fisik telah menjadi bahaya mutlak yang harus dihindari dengan cara apapun. Konjungsi harus dicegah secara aktif—jangan tinggalkan rumahmu, jangan kunjungi teman, jaga jarak dua meter, jangan sentuh apapun di jalan….&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa yang kita alami di minggu-minggu ini adalah ekspansi besar-besaran dari waktu yang dihabiskan selama &lt;em&gt;online&lt;/em&gt;, dan hal ini tidak bisa dilakukan sebaliknya karena hubungan emosional, produktif, pendidikan harus ditransfer ke bidang di mana seseorang tidak dapat bersentuhan atau bergabung. Setiap sosialitas yang tidak sepenuhnya dalam konektivitas tak lagi ada.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu? Apa yang selanjutnya terjadi? Bagaimana jika koneksi yang berlebihan ini berakhir dengan pecahnya &lt;em&gt;mantera&lt;/em&gt;?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Maksud saya, cepat atau lambat wabah ini akan hilang (jika hal ini benar terjadi, kata mereka yang Italia [hilangnya wabah] itu mungkin sekitar 25 April) bukankah kita cenderung menghubungkan secara psikologis kehidupan &lt;em&gt;online&lt;/em&gt; kita dengan penyakit itu? Saya membayangkan ledakan gerakan kasih sayang yang spontan, mendorong sebagian besar populasi yang lebih muda untuk menutup layar konektivitas mereka, sebagai pengingat atas periode kesepian yang malang ini?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya mencoba untuk tidak menganggapnya terlalu serius, tetapi saya memang memikirkannya.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;16-maret&quot;&gt;&lt;strong&gt;16 Maret&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Bumi memberontak melawan dunia. Polusi terbukti berkurang. Satelit yang mengirimkan foto China dan Padania, sama sekali berbeda dari yang mereka kirim dua bulan lalu. Begitu terasa di paru-paru saya, yang belum pernah bernapas sedemikian baik selama sepuluh tahun terakhir, sejak saya didiagnosis menderita asma parah yang disebabkan oleh udara kota tempat saya tinggal.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;17-maret&quot;&gt;&lt;strong&gt;17 Maret&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Runtuhnya bursa saham begitu serius dan persisten, sehingga tidak layak lagi diberitakan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sistem bursa saham telah menjadi perwakilan dari realitas yang hilang: ekonomi permintaan dan penawaran tidak stabil, dan akan mengabaikan jumlah uang virtual yang beredar dalam sistem keuangan untuk waktu yang lama. Tetapi ini berarti bahwa sistem keuangan kehilangan cengkeramannya: di masa lalu, fluktuasi matematis menentukan jumlah kekayaan yang dapat diakses semua orang. Sekarang, mereka tidak lagi menentukan apapun. Sekarang, kekayaan tidak lagi tergantung pada uang yang kita miliki, tetapi pada apa yang menjadi milik kehidupan psikis kita.&lt;/p&gt;

&lt;blockquote&gt;
  &lt;p&gt;Ekonom yang telah menjanjikan bahwa selama tiga puluh tahun terakhir solusi untuk penyakit sosial apapun adalah memotong pengeluaran publik dan privatisasi, akan terisolasi secara sosial jika mereka mencoba membuka mulut lagi, mereka layak diperlakukan seperti apa adanya: idiot yang berbahaya.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Franco ‘Bifo’ Berardi, RESET, 17/03&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;

&lt;p&gt;Kita harus memikirkan penangguhan fungsi uang ini, karena mungkin ini adalah kunci untuk keluar dari bentuk kapitalis—untuk secara definitif memutuskan hubungan antara tenaga kerja, uang, dan akses sumber daya. Untuk menegaskan konsepsi berbeda tentang kekayaan, karena kekayaan bukanlah jumlah yang setara dengan uang yang saya miliki, tetapi kualitas hidup yang dapat saya alami.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/corona-economic-reuters.jpg&quot; alt=&quot;Dampak COVID-19, resesi ekonomi&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foto: Reuters&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ekonomi memasuki resesi, tetapi kali ini kebijakan dukungan pasokan tidak terlalu berguna, apalagi kebijakan dukungan permintaan. Jika orang takut untuk pergi bekerja, jika orang mati, tidak ada tawaran yang bisa diajukan. Dan jika kita dikurung di rumah, tidak ada permintaan yang bisa dinaikkan—selama sebulan atau bahkan dua, tiga bulan….&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cukup dengan memblokir mesin, blokir yang akan memiliki efek permanen. Mereka yang berbicara tentang kembali ke normalitas, berpikir mereka dapat mengaktifkan kembali mesin seolah-seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Agar mesin bekerja kembali, akan menjadi masalah tentang menciptakan segalanya dari awal. Kita harus siap untuk mencegahnya berfungsi seperti yang telah dilakukan selama tiga puluh tahun terakhir: agama pasar, liberalisme privat harus dianggap sebagai kejahatan ideologis. Ekonom yang telah menjanjikan bahwa selama tiga puluh tahun terakhir solusi untuk penyakit sosial apapun adalah memotong pengeluaran publik dan privatisasi, akan terisolasi secara sosial jika mereka mencoba membuka mulut lagi, mereka layak diperlakukan seperti apa adanya: idiot yang berbahaya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selama dua minggu terakhir saya telah membaca buku &lt;em&gt;Cara de pan&lt;/em&gt; dari Sara Mesa, &lt;em&gt;Lectura facil&lt;/em&gt; dari Cristina Morales, dan &lt;em&gt;Chanson Douce&lt;/em&gt; yang lempeng dari Leila Slimani yang mengerikan. Saya saat ini membaca Babine, seorang penulis Azerbaijan, ia berbicara mengenai Baku pada permulaan abad ke-20, tentang kekayaan dadakan yang diakumulasi melalui minyak dan keluarganya yang kaya raya, yang kehilangan segalanya selama revolusi Soviet.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lebih pada soal kesempatan daripada pilihan, bahwa tahun ini saya hanya telah membaca penulis-penulis perempuan, mulai dari novel Djavadi yang mengagumkan yakni &lt;em&gt;Disoriental&lt;/em&gt;, kisah mengenai kekerasan, pengasingan, kesepian dan nostalgia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi untuk saat ini, cukup dengan tragedi perempuan dan manusia. Cukup sudah. Jadi saya pergi dan mengambil bacaan yang lebih santai, &lt;em&gt;Orlando Furioso&lt;/em&gt; sebuah pembacaan dari Italo Calvino. Ketika saya mengajar, saya selalu merekomendasikannya kepada anak-anak. Saya telah membaca beberapa bab. Saya telah membacanya sepuluh kali dan dengan senang hati membacanya lagi.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;18-maret&quot;&gt;&lt;strong&gt;18 Maret&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Beberapa tahun lalu, saya dan kawan saya, Max—terinspirasi oleh Mago, kawan saya lainnya, menerbitkan sebuah novel yang tidak tahu mau diberi judul apa. Kami suka judulnya &lt;em&gt;KS&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Gerontomachia&lt;/em&gt;. Tapi pihak penerbit yang akhirnya harus menerbitkan buku itu (setelah, dapat dipahami, banyak yang menolaknya) memberi judul yang agak buruk namun jelas populer: &lt;em&gt;Morte ai vecchi&lt;/em&gt; (kematian bagi orang tua). Penjualan bukunya tidak begitu bagus, tapi mengisahkan suatu hal yang kelihatannya masih sangat relevan bagi saya. Timbul sejenis wabah yang tidak dapat dijelaskan: anak laki-laki berusia 13-14 tahun membunuh para orang tua-tua, pertama beberapa kasus yang terisolasi menjadi semakin sering, dan pada akhirnya kasus itu terjadi di mana-mana. Saya akan memberikan rincian atau misteri teknis-mistik dari alurnya. Intinya adalah orang-orang muda memutuskan untuk membunuh orang tua karena mereka meracuni atmosfer dengan kesedihan mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Malam ini terpikir oleh saya bahwa seluruh urusan virus korona ini dapat dibaca secara metaforis seperti itu: pada 15 Maret tahun lalu, jutaan anak perempuan dan laki-laki turun ke jalan sambil berteriak—engkau memberi kami sebuah dunia di mana kami tidak bisa bernapas, kau telah menjangkit atmosfer, sekarang sudah saatnya untuk menghentikannya, mengurangi konsumsi minyak dan batubara dan menurunkan tingkat debu-debu halus! Mungkin mereka berharap bahwa penguasa dunia akan mendengar permohonan mereka. Tapi seperti yang kita semua tahu, mereka kecewa: KTT Madrid pada bulan Desember, yang terakhir diantara banyak peristiwa internasional tentang perubahan iklim, hanyalah kegagalan lainnya. Emisi zat beracun tidak berkurang sama sekali dalam dekade terakhir, dan pemanasan global telah berkembang dengan baik. Perusahaan-perusahaan besar batu bara dan plastik tidak menunjukkan minat apapun untuk berhenti. Kemudian di beberapa titik, anak-anak marah dan membuat aliansi dengan Gaia, dewi yang melindungi planet bumi. Bersama-sama mereka meluncurkan pembantaian peringatan, dan orang-orang tua itu mulai mati seperti lalat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akhirnya semua berhenti. Setelah sebulan, satelit memotret tanah yang sangat berbeda dari sebelum &lt;em&gt;gerontomachy&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Entry Date&lt;/p&gt;

&lt;ul&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#15-maret&quot;&gt;15 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#16-maret&quot;&gt;16 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#17-maret&quot;&gt;17 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#18-maret&quot;&gt;18 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#19-maret&quot;&gt;19 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#20-maret&quot;&gt;20 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#21-maret&quot;&gt;21 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#22-maret&quot;&gt;22 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#23-maret&quot;&gt;23 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#24-maret&quot;&gt;24 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;

&lt;h2 id=&quot;19-maret&quot;&gt;&lt;strong&gt;19 Maret&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Lantaran saya tidak memiliki televisi, saya mengikuti liputan acara online: CNN, The Guardian, Al Jazeera, El pais… Kemudian saat makan siang, saya mendengarkan berita di radio.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seluruh dunia telah lenyap dari informasi apapun, kecuali virus korona. Hari ini tidak ada berita di radio selain wabah. Seorang teman dari Barcelona memberi tahu saya bahwa di berbicara kepada editor televisi nasional Spanyol: tampaknya ketika mereka mengirim berita tentang sesuatu yang bukan soal penularannya, mereka disuruh untuk enyah saja, atau disindir bahwa mereka menyembunyikan sesuatu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/bifo.jpg&quot; alt=&quot;Franco Berardi - RESET - Kedai Resensi Surabaya&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Franco ‘Bifo’ Berardi (&lt;a href=&quot;https://www.flickr.com/photos/malacapa/6347094736&quot;&gt;Foto: Luca Panella/Flickr&lt;/a&gt;)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya memahami perlunya menjaga perhatian publik terfokus kepada langkah-langkah pencegahan, dan saya memahami perlunya mengulangi ucapan “Anda harus tinggal di rumah” sampai seratus kali. Tetapi strategi media ini memiliki efek merancang kecemasan yang sama sekali tidak diperlukan; selain itu, hampir mustahil untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di Suriah Utara. Delapan sekolah dibom dalam satu hari di Idlib beberapa hari yang lalu. Dan apa yang terjadi di perbatasan Yunani-Turki? Tidak ada lagi kapal yang penuh dengan orang Afrika di Mediterania yang berisiko tenggelam atau yang dihentikan dan dikirim kembali ke kamp konsentrasi Libya? Tentu saja ada, lebih tepatnya sebenarnya, baru kemarin saya kebetulan menemukan berita di atas kapal dengan muatan 140 orang yang dikirim kembali oleh penjaga pantai Malta.&lt;/p&gt;

&lt;blockquote&gt;
  &lt;p&gt;Kita tidak dapat melihat bentuk konflik yang akan terjadi, namun kita harus mulai membayangkannya. Siapapun yang dapat membayangkan pertama kali akan menang.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Franco ‘Bifo’ Berardi, RESET, 20/03&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;

&lt;p&gt;Sekedar informasi terbaru, berikut adalah sebagian daftar dari 1 Maret hingga hari ini, mengenai apa yang terjadi di dunia, di samping soal wabah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari situs web &lt;em&gt;peacelink&lt;/em&gt; saya mencatat konflik bersenjata yang tidak berhenti selama tiga minggu terakhir, sementara kita semua khawatir tentang fakta bahwa tidak ada yang bisa meninggalkan rumah mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Libya&lt;/strong&gt;: Bentrokan kekerasan meletus di utara ketika pasukan Libyan National Army (LNA) berusaha untuk maju — &lt;strong&gt;Libya&lt;/strong&gt;: Pasukan Le Haftar membom 2 sekolah di Tripoli — &lt;strong&gt;Republik Demokratik Kongo&lt;/strong&gt;: Setidaknya 17 tewas dalam bentrokan dengan Allied Democratic Forces (ADF) — di Beni, &lt;strong&gt;Somalia&lt;/strong&gt;: 5 anggota al-Shabaab terbunuh dalam satu serangan pesawat AS/Nigeria: Enam tewas dalam serangan oleh Boko Haram di pangkalan militer di &lt;strong&gt;Damboa&lt;/strong&gt;, tentara Afghanistan melanjutkan operasi melawan Taliban — &lt;strong&gt;Afghanistan&lt;/strong&gt;: Taliban dan Pasukan Afghanistan bentrok di provinsi Balkh — &lt;strong&gt;Thailand&lt;/strong&gt;: 1 tentara tewas dan 2 lainnya cedera dalam bentrokan dengan militan di Selatan, &lt;strong&gt;Indonesia&lt;/strong&gt;: 4 pemberontak dari Tentara Pembebasan Papua Barat (WPLA) tewas dalam bentrokan dengan pasukan keamanan di Papua — &lt;strong&gt;wilayah Yaman&lt;/strong&gt;: 11 tewas dalam bentrokan antara pemberontak Houthi dan tentara Yaman di Taiz — &lt;strong&gt;Yaman&lt;/strong&gt;: 14 pemberontak Houthi tewas dalam bentrokan dengan pasukan pemerintah Yaman di provinsi Al-Hudaydah &lt;strong&gt;Turki&lt;/strong&gt;: Pejuang Turki menembak jatuh pesawat perang Suriah di atas Idlib — &lt;strong&gt;Suriah&lt;/strong&gt;: 19 tentara Suriah terbunuh dalam serangan pesawat nirawak (&lt;em&gt;drone&lt;/em&gt;) Turki.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seorang kawan mengirimi saya video yang menunjukkan deretan panjang truk militer di Bergamo. Saat itu malam hari, mereka bergerak perlahan. Mereka membawa sekitar 60 peti mati ke krematorium.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;20-maret&quot;&gt;&lt;strong&gt;20 Maret&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Saya bangun, bercukur, minum pil hipertensi, menyalakan radio dan… sial… lagu kebangsaan! Bisakah seseorang menjelaskan ke saya apa pasal antara lagu kebangsaan dengan kondisi yang sedang terjadi? Kenapa bawa-bawa semangat kebangsaan? Nyanyian yang sama juga menuntun tentara ke Kobarid, tempat seratus ribu orang meninggal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya mematikan radio dan bercukur dengan tenang. Sunyi senyap.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jun Hirose adalah seorang kawan berkebangsaan Jepang yang menulis buku tentang perfilman. Baru-baru ini, dia berkelana ke Amerika Selatan untuk mengenalkan edisi bahasa Spanyol dari bukunya, &lt;em&gt;Cine-Capital&lt;/em&gt;. Sekembalinya dari Buenos Aires, dia berencana untuk berhenti di Madrid dan Bologna, dimana saya dan Billi sedang menantinya. Ia adalah seorang yang menyenangkan dan jenaka, dan menjamunya selama beberapa hari selalu merupakan sebuah kegembiraan, setiap kali dia melewati Italia, setahun sekali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika infeksi [virus] telah sampai di Madrid dan meledak, dia terjebak di sana, dimana dia dijamu oleh seorang kawan baik lainnya, Amador Savater. Jadi sekarang, mereka bisa menghabiskan waktu bersama, dan saya sedikit iri dengan Amador karena Jun juga adalah seorang juru masak yang handal—dan saya suka sekali masakan Jepang. Di malam hari, mereka menjamu klub film kecil, dan beberapa malam yang lalu mereka membaca &lt;em&gt;The Thing&lt;/em&gt; oleh John Carpenter, sebuah film yang sangat sesuai untuk momen ini. Kemudian Amador menulis sebuah artikel untuk majalah Argentina, &lt;em&gt;lobosuelto&lt;/em&gt;. Amador menulis “&lt;em&gt;The Thing&lt;/em&gt; memantik beberapa pemikiran. Kita harus berpikir mengenai wabah ini sebagai sebuah gangguan. Gangguan stereotip automatisme, dan apa yang kita anggap remeh: sistem kesehatan, kota, makanan, masalah dan hubungan sehari-hari harus dipikirkan ulang dari awal.”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika karantina ini berakhir—jika memang berakhir dan tidak yakin juga akan berakhir—kita akan tanpa aturan, tapi juga tanpa automatisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Manusia kemudian akan mendapatkan kembali peran yang tentu saja tidak dominan dalam hal kebetulan—seperti yang diajarkan oleh virus kepada kita bahwa kehendak manusia tidak pernah menentukan—namun penting. Kita akan mendapatkan kesempatan untuk menulis ulang aturan dan memutus otomatisme apapun. Tapi ada baiknya untuk diketahui, bahwa ini tidak akan terjadi secara damai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita tidak dapat melihat bentuk konflik yang akan terjadi, namun kita harus mulai membayangkannya. Siapapun yang dapat membayangkan pertama kali akan menang—salah satu hukum universal sejarah. Setidaknya, saya rasa begitu.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;21-maret&quot;&gt;&lt;strong&gt;21 Maret&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Kelelahan, kelemahan fisik, kesulitan bernafas ringan. Bukan hal yang baru, sering terjadi pada saya, itu disebabkan oleh pil untuk melawan hipertensi, dan oleh asma saya, yang telah begitu baik terhadap saya selama sebulan terakhir, mungkin karena tidak ingin menakut-nakuti saya dengan gejala ambigu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ini adalah hari yang cerah, dengan langit yang bersih di hari pertama musim semi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seorang kawan dari Buenos Aires menulis kepada saya:&lt;/p&gt;

&lt;blockquote&gt;
  &lt;p&gt;“&lt;em&gt;Llegó el terror,&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;&lt;em&gt;if huele desde la ventana&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;&lt;em&gt;blunt as a flor cualquiera&lt;/em&gt;”&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;

&lt;p&gt;Entry Date&lt;/p&gt;

&lt;ul&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#15-maret&quot;&gt;15 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#16-maret&quot;&gt;16 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#17-maret&quot;&gt;17 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#18-maret&quot;&gt;18 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#19-maret&quot;&gt;19 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#20-maret&quot;&gt;20 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#21-maret&quot;&gt;21 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#22-maret&quot;&gt;22 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#23-maret&quot;&gt;23 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
  &lt;li&gt;&lt;a href=&quot;#24-maret&quot;&gt;24 Maret&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;
&lt;/ul&gt;

&lt;h2 id=&quot;22-maret&quot;&gt;&lt;strong&gt;22 Maret&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Wakil presiden dari Palang Merah China, Yang Huichuan, tiba di Italia, ditemani oleh dr. Liang Zongan dan dr. Xiao Ning, masing-masing merupakan profesor kedokteran paru di rumah sakit Sichuan dan wakil direktur pusat pencegahan nasional. Lima puluh delapan dokter, ahli penyakit menular, datang dari Kuba.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa hari yang lalu Menteri Ekonomi Jerman, Peter Altmaier, menanggapi permintaan dari Trump, menolak permintaannya untuk konsesi hak eksklusif untuk pengembangan vaksin virus korona yang dipelajari oleh perusahaan swasta di Tübingen. Menurut berita yang diterbitkan Die Welt, AS telah menawarkan CureVac, perusahaan farmasi Jerman, yang mengembangkan vaksin, sejumlah 1 miliar dolar untuk memperoleh hak untuk mengindustrialisasikan dan dengan demikian menjual produk tersebut secara eksklusif, begitu tes telah lengkap dan produk tersedia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Eksklusif. AS jadi yang pertama. Di negaranya Trump, antrian di depan toko-toko senjata api telah berkali-kali lipat belakangan ini. Di samping wiski dan tisu toilet, mereka membeli senjata api. Dalam sikap patuh, mereka tetap menuruti aturan untuk menjaga jarak satu meter, dan barisan itu hilang di batas cakrawala.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sementara itu, Partai Demokrat menolak Sanders, membunuh harapan untuk mengubah model yang sama yang telah mengurangi kehidupan seperti itu. Sejumlah 81% dari Partai Republikan terus mendukung si binatang pirang, Trump.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah akhir bencana, tetapi saya cukup yakin bahwa umat manusia pada umumnya akan mengembangkan sentimen terhadap orang-orang Amerika yang mirip dengan apa yang menyebar setelah 1945 terhadap orang-orang Jerman—musuh-musuh kemanusiaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Itu hal yang salah saat itu, karena banyak orang yang anti-Nazi Jerman telah dianiaya, dibunuh, diasingkan, dan sekarang pun salah karena jutaan anak muda Amerika mendukung calon presiden sosialis, sampai pencabutannya terhadap uang dan mesin media.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi tidak masalah apakah itu benar atau salah. Ini bukan masalah politik—horor tidak pernah dipilih secara rasional, tapi tanpa disadari terasa. Kengerian terhadap bangsa yang lahir dari genosida, deportasi, dan perbudakan.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;23-maret&quot;&gt;&lt;strong&gt;23 Maret&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Dokter yang telah merawat telinga saya selama 15 tahun merupakan seorang profesional dengan ketajaman diagnostik dan ahli bedah yang luar biasa. Dia melakukan operasi pada saya enam kali dalam sepuluh tahun, dan setiap operasi memiliki hasil yang sempurna, memungkinkan saya untuk memperpanjang kemampuan pendengaran saya selama 15 tahun. Beberapa tahun yang lalu dia memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit umum tempat dia beroperasi, dan sejak itu saya harus pergi ke klinik swasta untuk mendapatkan manfaat dari keahliannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karena saya tidak pernah memahami keputusannya, dia pernah mengatakan kepada saya tanpa basa-basi: sistem publik kini diambang keruntuhan karena penghematan yang disebabkan oleh situasi finansial saat ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Inilah kenapa sistem kesehatan Italia sedang berada di kaki terakhirnya, itulah kenapa 10% dokter dan paramedisnya terinfeksi, itulah kenapa unit perawatan intensif tidak cukup untuk menangani banyak pasien. Karena mereka yang memerintah di dekade belakangan telah mengambil petuah dari penjahat ideologis seperti Giavazzi, Alesina dan perusahaan. Apakah para brandal ini akan terus menulis tajuk rencana mereka? Jika virus korona memaksa kita untuk menerima seluruh populasi jadi tahanan rumah, apakah terlalu berlebihan untuk meminta orang-orang itu dilarang mengucapkan kata-kata di muka publik selamanya?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya tidak tahu apakah kita akan bisa keluar hidup-hidup dari badai ini, tapi jika bisa, kata privatisasi harus didaftarkan dalam catatan yang sama dengan kata &lt;em&gt;endlosung&lt;/em&gt; (solusi akhir).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kerusakan yang dihasilkan oleh krisis ini seharusnya tidak dihitung dalam hal ekonomi keuangan. Kita harus menilai kerusakan dan kebutuhan berdasarkan utilitas. Kita tidak harus menghadapi masalah keberhasilan dalam sistem keuangan, tetapi kita harus memastikan untuk menjamin kebutuhan dasar bagi semua orang. Adakah orang yang tidak menyukai logika ini karena mengingatkan mereka pada komunisme? Nah, jika tidak ada yang punya kata-kata yang lebih baik dan modern, kita masih berhak menggunakan kata-kata yang sama, agak lawas tapi masih sangat menarik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di mana kita akan menemukan cara untuk menghadapi kehancuran ini? Dalam pundi-pundi keluarga Benetton, misalnya, atau lebih tepatnya dalam pundi-pundi orang-orang yang memanfaatkan politisi budak untuk mengambil barang publik dengan mengubahnya menjadi alat kekayaan pribadi, dan membiarkan mereka membusuk ke titik kehancuran, yang menyebabkan terbunuhnya 40 orang yang mengemudi di jembatan Genoa.&lt;/p&gt;

&lt;blockquote&gt;
  &lt;p&gt;Kebosanan adalah kegelisahan, terasa sangat vital di dalam batin, ialah ketidakpuasan, agitasi. Kebosanan meneriakkan: ini bukan tempat di mana aku seharusnya berada, ini bukan apa yang seharusnya aku lakukan!&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Luigi d’Elia&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;

&lt;p&gt;Dalam majalah psikiatri &lt;em&gt;online&lt;/em&gt;, Luigi d’Elia menulis sebuah artikel berjudul &lt;em&gt;The pandemic is like a Collective Compulsory Health Treatment&lt;/em&gt; (Pandemi ini seperti perawatan kesehatan kolektif yang wajib—&lt;em&gt;pentj&lt;/em&gt;.). Meskipun ditulis dalam bahasa Italia, saya sangat merekomendasikan untuk dibaca, jadi saya akan memberi rangkuman singkat saja: TSO (bahasa Italia untuk perawatan sukarela) dipraktikkan ketika kondisi psikis seseorang dapat menyebabkan kerusakan bagi diri mereka sendiri atau orang lain, dan psikiater pintar manapun tahu bahwa itu bukan terapi yang disarankan, sebenarnya itu bukan terapi sama sekali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;D’Elia menyarankan kita semua yang sedang terpisah untuk mengubah kondisi pencegahan wajib saat ini menjadi kondisi terapeutik aktif, bergerak dari TSO ke TSV (perawatan kesehatan sukarela), artinya kita harus mengubah keadaan wajib penahanan kita menjadi proses analisis mandiri, terbuka untuk analisis diri orang lain. Saya percaya ini adalah salah satu saran yang paling tepat, tidak hanya berbicara secara psikologis, tetapi juga secara politis, salah satu yang berpikiran lebih maju dari yang saya baca sejauh ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita harus dapat mengubah kondisi terpenjara ini menjadi perkumpulan massa untuk analisis diri. D’Elia menyarankan sesuatu yang lebih akurat: objek perawatan analitik kita pada dasarnya haruslah ketakutan. “Jika fokus dengan baik, ketakutan adalah pendorong utama untuk perubahan. Jung mengatakan dengan jelas, “di mana ada rasa takut, ada tugas,” tulisnya. Apa itu objek ketakutan? Lebih dari satu: takut akan penyakit, takut bosan, dan takut akan seperti apa dunia ini ketika kita akhirnya meninggalkan rumah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi karena ketakutan adalah mesin perubahan, apa yang kita perlu kita lakukan ialah membentuk kesadaran akan kondisi untuk perubahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kebosanan bisa berguna diatasi pada tingkat psikologis yang berguna, karena seperti kata D’Elia: “Kebosanan bukanlah sikap apatis. Apati adalah pengunduran diri dari impotensi, ketenangan, kelembaman. Kebosanan adalah kegelisahan, terasa sangat vital di dalam batin, ialah ketidakpuasan, agitasi. Kebosanan meneriakkan: ini bukan tempat di mana aku seharusnya berada, ini bukan apa yang seharusnya aku lakukan! Aku harus berada di tempat lain dan sibuk dengan hal lain!”&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;tepat-sebelum-tengah-malam&quot;&gt;&lt;strong&gt;Tepat sebelum tengah malam&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Empat belas dari enam belas negara-negara di Eropa telah memutuskan untuk menutup perbatasan mereka. Apa yang tersisa bagi uni ini? Apa yang tersisa untuk uni adalah &lt;em&gt;Eurogroup&lt;/em&gt; yang hari ini bertemu untuk mendiskusikan langkah-langkah yang harus diambil untuk menghadapi keruntuhan ekonomi Eropa yang kelihatan di depan mata.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dua tesis saling berhadapan: untuk sekali ini, negara-negara yang paling terpengaruh oleh virus meminta kemungkinan intervensi pengeluaran yang tidak terikat pada pakta fiskal kriminal berdasarkan kesetaraan anggaran, bahwa kelas politik Italia yang berimprovisasi telah sebelumnya dilantik. Jawaban orang Jerman, Belanda, dan fanatik lainnya adalah—tidak, Anda hanya dapat membelanjakannya dengan syarat Anda menerapkan reformasi yang tepat. Apa artinya? Misalnya, bahwa reformasi sistem kesehatan akan semakin mengurangi unit perawatan intensif dan upah bagi pekerja rumah sakit?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi saya, kelihatannya yang paling fanatik dari semuanya ialah Dombrovski yang telah mati ini yang seharusnya melamar pekerjaan di rumah duku, karena dia mendapat peran fisik dan itu adalah bidang di mana kian lebih banyak dibutuhkan, terima kasih teruntuk orang-orang seperti dia.&lt;/p&gt;

&lt;h2 id=&quot;24-maret&quot;&gt;&lt;strong&gt;24 Maret&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Sementara Confindustria (The General Confederation of Italian Industry) di Italia masih menentang penutupan perusahaan-perusahaan yang tidak penting, yang berarti mobilisasi setiap hari dari jutaan orang yang dipaksa untuk mengekspos diri mereka pada bahaya infeksi, masalah yang terus muncul masih merupakan dampak ekonomi dari pandemi. Di halaman depan New York Times hari ini sebuah tajuk rencana oleh Thomas Friedman menyandang judul yang sangat mengesankan, “Bawa Amerika kembali bekerja – dan segeralah.”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Belum ada yang berhenti, tetapi para fanatik sudah khawatir untuk bersegera—kembali bekerja secepat mungkin, dan yang paling penting, tentang kembali bekerja seperti dulu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Friedman (dan Confindustria) memiliki argumen yang sangat baik di pihak mereka: pemblokiran kegiatan produksi yang berkepanjangan akan mengarah pada konsekuensi yang tak terbayangkan dari sudut pandang ekonomi, organisasi, dan bahkan politik. Semua skenario terburuk dapat terjadi dalam situasi di mana barang mulai menipis, pengangguran merajalela, dan sebagainya. Jadi, argumen Friedman harus dipertimbangkan dengan hati-hati, dan kemudian dengan cerdik dibuang. Mengapa? Bukan hanya karena alasan yang jelas bahwa jika Anda menghentikan kegiatan selama beberapa minggu dan kemudian kembali bekerja seperti sebelumnya, wabah justru akan berlanjut dengan amuk baru, membunuh jutaan orang dan menghancurkan masyarakat selamanya. Tentu saja, ini hanya pertimbangan marjinal dari sudut pandang saya yang sederhana.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertimbangan yang tampaknya paling penting bagi saya (yang implikasinya harus kita hamparkan dalam minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang) adalah sebagai berikut: kita tidak akan pernah dapat kembali ke keadaan normal lagi. Normalitas adalah apa yang membuat organisme planet ini begitu rapuh dan membuka jalan bagi pandemi, sejak awal.&lt;/p&gt;

&lt;blockquote&gt;
  &lt;p&gt;Saya menyadari bahwa saya mengatakan hal-hal yang lebih besar daripada diri saya sendiri, tetapi kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi pilihan-pilihan besar.&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;Franco ‘Bifo’ Berardi, RESET, 24/03&lt;/p&gt;

  &lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/&quot;&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;

&lt;p&gt;Bahkan sebelum pandemi meledak, kata “kepunahan” telah mulai muncul di cakrawala abad ini. Bahkan sebelum pandemi, tahun 2019 telah menunjukkan puncak kehancuran sosial dan lingkungan yang memuncak pada bulan November dengan mimpi buruk New Delhi yang tidak dapat dicegah dan kebakaran yang mengerikan di Australia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jutaan anak-anak yang berbaris di jalanan di banyak kota pada 15 Maret 2019 menuntut untuk menghentikan mesin kematian, kini telah mencapai inti dan dinamika perubahan iklim telah, untuk pertama kalinya, terganggu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah sebulan terkunci, udara di wilayah Po kembali menjadi udara yang nyaman dihirup. Berapa harganya? Harga yang sangat mahal, sekarang dibayar untuk nyawa yang hilang dan ketakutan yang merajalela, bahwa besok akan dibayar dengan depresi ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tetapi ini adalah efek dari normalitas kapitalis. Kembali ke normalitas kapitalis akan menjadi kebodohan yang sangat besar, kita harus membayar dengan percepatan menuju kepunahan. Jika udara Padana menjadi lebih nyaman dihirup berkat momok ini, maka akan menjadi kebodohan kolosal untuk mengaktifkan kembali mesin yang membuat Lembah Po tidak dapat dihirup dengan nyaman, karsinogenik, dan mangsa empuk bagi wabah virus berikutnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita harus mulai berpikir dari topik ini, dengan cepat dan amoral.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandemi tidak menyebabkan krisis keuangan. Tentu saja bursa saham merosot dan akan terus anjlok, dan seseorang akan mengusulkan (untuk sementara) menutup semuanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Unthinkable&lt;/em&gt; adalah judul artikel oleh Zachary Warbrodt yang diterbitkan di POLITICO, yang mengkaji secara mengerikan tentang kemungkinan menutup pasar saham.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tetapi kenyataannya jauh lebih radikal daripada hipotesis yang paling radikal: keuangan telah ditutup, bahkan jika bursa saham tetap terbuka, dan spekulan mendapatkan dolar kotor mereka dengan bertaruh pada kebangkrutan dan bencana—seperti yang dilakukan Senator Republikan, Barr dan Lindsay.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Krisis yang akan datang tidak ada hubungannya dengan krisis di tahun 2008, ketika masalahnya muncul karena ketidakseimbangan matematika finansial. Depresi yang akan datang tergantung pada intoleransi tubuh dan pikiran manusia terhadap kapitalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Krisis yang sedang berlangsung bukanlah krisis sebenarnya. Ini adalah &lt;strong&gt;RESET&lt;/strong&gt; (pengaturan ulang). Ini persoalan mematikan mesin dan menyalakannya lagi, setelah beberapa saat. Namun, ketika kita menyalakannya kembali, kita dapat memutuskan untuk membuatnya bekerja seperti sebelumnya, menghadapi risiko menemukan diri kita hidup dalam mimpi buruk yang sama lagi—atau kita dapat memutuskan untuk memprogram ulang, menurut ilmu pengetahuan, secara sadar dan sensitif.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika cerita ini akan berakhir, (dan dalam arti tertentu, tidak pernah berakhir, karena virus akan dapat surut tanpa menghilang, dan meskipun kita mungkin menciptakan vaksin, virus selalu dapat beradaptasi) kita harus menghadapi masa depresi luar biasa. Jika kita hanya berpura-pura kembali ke “normal” kita mungkin harus menghadapi kekerasan, totalitarianisme, pembantaian, dan kepunahan umat manusia sebelum akhir abad ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Normalitas tidak boleh kembali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita tidak perlu bertanya pada diri sendiri apa yang baik untuk pasar saham, atau untuk ekonomi hutang dan laba. Keuangan sudah enyah ke neraka, kita tidak ingin mendengarnya lagi. Kita harus bertanya pada diri sendiri apa yang benar-benar berguna. Kata “berguna” harus menjadi alfa dan omega produksi, teknologi, dan aktivitas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya menyadari bahwa saya mengatakan hal-hal yang lebih besar daripada diri saya sendiri, tetapi kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi pilihan-pilihan besar. Ketika cerita berakhir, jika Anda ingin siap, Anda harus mulai berpikir tentang apa yang berguna, dan bagaimana Anda bisa memproduksinya tanpa merusak lingkungan dan tubuh manusia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita juga harus memikirkan pertanyaan yang paling rumit: siapa yang memutuskan? Perhatikan, ketika masalah “siapa yang memutuskan?” muncul itu membawa pertanyaan “apa sumber legitimasi?” Ini adalah pertanyaan untuk memulai revolusi. Apakah kita menginginkannya atau tidak, ini adalah pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Franco Berardi&lt;/strong&gt; atau yang akrab disapa &lt;strong&gt;Bifo&lt;/strong&gt; adalah penulis, filsuf, teoritisi, dan figur terkemuka dari gerakan Autonomia Italia.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>08 Apr 2020</pubDate>
        <link>/reset</link>
        <guid isPermaLink="true">/reset</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Mengenal Sneevliet, Kisah Awal Sosialis Belanda yang Membangun Komunisme di Indonesia</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Sneevliet&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Kalam Jauhari&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Octopus&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: xiv+300 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: -&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://shopee.co.id/Sneevliet-Munculnya-Gerakan-Komunis-di-Indonesia-1913-1918-Kalam-Jauhari-i.207062002.7323238919&quot;&gt;BELI BUKU INI&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi mereka yang berkisah, bercerita, meneliti, mendalami, membahas, mengulas, menelisik, mengkaji, maupun menuliskan kajian mengenai komunisme di Indonesia rasanya tidak pantas jika tidak menyebutkan nama Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet (H.J.F.M. Sneevliet) yang kerap disebut Henk Sneevliet atau Sneevliet. Ia merupakan “sesepuh” pergerakan pemikiran sosialis-radikal, marxisme, dan komunisme di Indonesia, bahkan ketika masih disebut Hindia-Belanda. Banyak didikannya menjadi pemimpin awal dari Partai Komunis Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/sneevliet-1-historia.jpeg&quot; alt=&quot;Henk Sneevliet Kedai Resensi Surabaya&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Henk Sneevliet ketika menjadi sekretaris pada Semarangsche Handelvereeniging, 1917. Foto: dok. IISG via Historia.id&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di bawah bimbingannya, Vereniging voor Spoor en-Tramwegpersoneel (VSTP) juga berkembang. Ia pula yang menginisiasi munculnya Indische Social-Demokratische Vereeniging (ISDV) yang menjadi cikal-bakal PKI. Dengan begitu banyaknya “prestasi” organisasinya, terasa aneh baru 2018 muncul buku mengenai dirinya. Hal ini tak lain karena phobia bangsa Indonesia terhadap komunisme/marxisme-leninisme. Buku ini, bagi saya, adalah biografi politik Sneevliet pertama yang patut dibaca untuk mereka yang belajar tentang kelahiran dan perkembangan kiri di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Komunisme yang menjadi momok pemerintah Orde Baru di bawah &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kondisi-politik-indonesia-pasca-soeharto-dan-posisi-oligarki-sekarang/&quot;&gt;Soeharto&lt;/a&gt; dibawa ke Indonesia bukan oleh orang Indonesia sendiri, melainkan orang Belanda yang namanya sudah tertera dalam judul buku ini. Nampaknya kemiskinan sudah menjadi pembuka yang tepat terkait kehidupan awal Sneevliet sebelum menjadi sosialis-radikal hingga menjadi komunis. Ia bukanlah anak keluarga kaya seperti Ulrike Meinhof, namun lahir dari keluarga miskin di Belanda. Dia juga hanya menamatkan pendidikannya pada tingkat sekolah menengah negeri (HBS) dengan beasiswa yang diselesaikannya pada tahun 1900.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pekerjaannya pun bukan diawali sebagai politisi atau pebisnis, melainkan pekerja di perusahaan kereta api Belanda di Zutphen. Di sanalah Sneevliet berkenalan dengan Perhimpunan Buruh Kereta Api dan Tram Belanda (NV) sekaligus Partai Pekerja Sosial Demokrat (SDAP). Inilah awal mula karir politiknya. Penulis menggambarkan Sneevliet sebagai seorang yang memiliki kehandalan dalam bidang agitasi dan propaganda, dalam berorasi dan menulis di media massa (yang pada saat itu didominasi oleh koran/surat kabar). Meskipun SDAP adalah partai sosialis demokrat yang berhaluan evolusioner (perubahan secara berkala dan bertahap), namun Sneevliet terbukti menjadi orang yang revolusioner dan menjadi pihak radikal dalam SDAP.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/sneevliet-5-krs.jpeg&quot; alt=&quot;Henk Sneevliet Kedai Resensi Surabaya&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Henk Sneevliet (tiga dari kanan). Foto: via Histomil.com&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nampaknya &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/mahasiswa-sudah-berjuang-semenjak-pra-kemerdekaan-bung/&quot;&gt;Belanda&lt;/a&gt; tidak begitu membuat tertarik Sneevliet sehingga ia memutuskan untuk berangkat ke Hindia-Belanda dan sampai di tanah yang saat itu sedang dirundung eksploitasi pada 23 Maret 1913. Mungkin Sneevliet merasa bahwa perjuangan dan pemikirannya akan lebih bisa berkembang dan diterima di Hindia-Belanda, di mana eksploitasi telah dilakukan sehari-hari layaknya kebiasaan/tradisi. Ia pun memiliki koneksi yang luas sehingga ketika sampai di Indonesia, ia mendapatkan pekerjaan dengan cepat, lalu membangun sel-sel radikal-revolusioner dari sosialisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kenapa istilah komunisme belum tampak dominan dalam awal buku ini? Dikarenakan 1913-1916 ialah posisi dimana Russia masih berbentuk kerajaan dan Uni Soviet masih belum ada. Masih belum terlaksana Revolusi Oktober 1917, sehingga istilah yang dipakai adalah sosialisme, bukan komunisme. Sneevliet pun mengembangkan sosialisme, belum menggunakan istilah komunisme pada awal kedatangannya di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di Indonesia pun, Sneevliet juga bergumul dengan kelompok sosialis, meskipun ada yang berhaluan evolusioner seperti SDAP di Belanda. Namun perbedaan strategi evolusi maupun revolusi tidak menghalangi Sneevliet untuk membentuk kelompok yang bernama ISDV, perkumpulan sosial-demokrat yang menjadi asal-muasal PKI. ISDV sendiri diisi pula oleh sosialis evolusioner yang mayoritas berada di Batavia (Jakarta).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Awalnya ISDV mayoritas berisikan orang-orang Eropa di Indonesia, ada Sneevliet dan Baars dari golongan revolusioner, Westerveld dan Schotman mewakili kelompok evolusioner. Adanya dua kubu dalam ISDV ini membuat perkumpulan ini tidak bisa solid sekali, bahkan terkadang ada cekcok antara satu kubu dengan lainnya. Pada akhirnya kedua kelompok ini pecah, para pengikut sosialisme evolusioner membentuk SDAP Cabang Hindia-Belanda dan ISDV sepenuhnya dipegang oleh kubu Sneevliet.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/sneevliet-3-medium-1024x768.jpeg&quot; alt=&quot;Henk Sneevliet Kedai Resensi Surabaya&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Henk Sneevliet (tengah). Foto: via Historia.id&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perpecahan ini menguntungkan Sneevliet yang segera memegang kendali dan mengisi pos-pos yang ditinggalkan Westerveld dan kawan-kawannya dengan pribumi. ISDV juga sempat memiliki hubungan yang baik dan berkolaborasi dengan Sarekat Islam maupun Insulinde. Namun untuk bagian SI, ISDV lebih seperti melakukan penyusupan dan penyebaran pemikiran kiri dalam SI, terutama cabang Semarang di bawah kendali Semaun. Pertarungan pun dimulai dalam tubuh SI sehingga memunculkan SI-Merah dan SI-Putih, lalu disiplin organisasi dilaksanakan (tidak boleh ada keanggotaan ganda) sehingga seluruh anggota SI yang juga tergabung dalam ISDV (kelak PKI) terpental. Dari SI lah Sneevliet mendapatkan basis massa pribuminya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perkara dengan Insulinde, Sneevliet dan Douwes Dekker memiliki kesamaan untuk &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/mahasiswa-sudah-berjuang-semenjak-pra-kemerdekaan-bung/&quot;&gt;melepaskan Indonesia dari cengkraman Belanda&lt;/a&gt; tapi keduanya memiliki ideologi yang berbeda, di satu sisi Sneevliet adalah sosialis radikal, di sisi lain, Douwes Dekker adalah nasionalis yang tidak kalah radikal. Pada momen tertentu Insulinde (yang diisi oleh bekas anggota Indische Partij yang bubar) bersama-sama dengan ISDV menentang pemerintah kolonial, seperti dalam kasus Indie Weerbaar (semacam milisi pribumi Indonesia) yang dianggap akan digunakan untuk kepentingan kapitalis dan pemerintah kolonial saja. ISDV menganggap bahwa Indie Weerbaar adalah buruh yang berseragam, tidak lebih dan tidak akan menjadi sebuah angkatan perang untuk Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada suatu kisah menarik antara Sneevliet dengan pemerintah kolonial yang sebetulnya juga menjadi pelajaran sejarah bagi pemerintah sekarang maupun masyarakatnya. Hal ini diawali dengan jatuhnya kekaisaran Rusia pada Maret 1917. Sneevliet dengan segera menuliskan artikel berjudul &lt;em&gt;Zegepraal&lt;/em&gt; (Kemenangan) dalam surat kabar &lt;em&gt;De Indier&lt;/em&gt;. Artikel ini bernada kritis terhadap pemerintah dan dianggap mencelanya sehingga Sneevliet disidang karena tulisan tersebut. Ia dipermasalahkan atas dasar hasutan kebencian terhadap pemerintah kolonial. Namun, Sneevliet kembali bertanya mengenai batasan dalam menghina pemerintah yang dijawab oleh hakim bahwa seseorang harus tau sejauh mana ia dapat mencela pemerintah. Selanjutnya Sneevliet berujar bahwa apa yang disampaikan hakim bukanlah keadilan. Dari sini kita bisa mempelajari bahwa permasalahan peraturan perundangan berkaitan dengan penghinaan terhadap otoritas selalu multi-tafsir dan bisa menjadi peraturan untuk menghantam musuh pemerintah (bersifat politis). Hal ini nampaknya diulangi kembali dalam pemerintahan sekarang namun dengan kadar yang lebih dikurangi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/sneevliet-2-sejarahsemarang.jpg&quot; alt=&quot;Henk Sneevliet ISDV Kedai Resensi Surabaya&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Henk Sneevliet di Indonesia dengan ISDV. Foto: via Histomil.com&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain dengan kalangan pergerakan Indonesia, Sneevliet juga membangun koneksi, meskipun lemah, dengan Angkatan Laut Belanda di Indonesia saat itu. Angkatan Laut Belanda terkenal dengan pandangan tentaranya yang dekat dengan sosialisme, bahkan tidak jarang mereka melakukan pemogokan yang kerap mengganggu atasan mereka dalam hirarki ketentaraan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Unsur tentara memang penting dalam kelompok sosialis-radikal maupun komunis guna membangun tentara merah yang dekat dengan masyarakat. Tentara merah lah yang akan menjadi cikal-bakal tentara nasional apabila &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/revolusi-negara-negara-berkembang-dan-terbelakang/&quot;&gt;revolusi&lt;/a&gt; kelompok kiri berhasil di sebuah negara. Menghasut masyarakat sipil adalah satu urusan penting yang tidak genting, akan tetapi menghasut tentara sangatlah berbahaya bagi pemerintah &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/ide-politik-mengenai-poskolonialisme/&quot;&gt;kolonial&lt;/a&gt;. Inilah yang menjadi alasan usaha pengeluaran Sneevliet dari Indonesia pada saat itu. Perjuangan politik beliau berhenti pada tahun 1918. Meskipun ia hengkang dari Indonesia pada 1918, namun Sneevliet masih berjuang dalam politik di Tiongkok dan menjadi bagian Komintern (Komunis Internasional) sampai kematiannya di tangan Nazi Jerman pada tahun 1942. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>01 Apr 2020</pubDate>
        <link>/mengenal-sneevliet-kisah-awal-sosialis-belanda-yang-membangun-komunisme-di-indonesia</link>
        <guid isPermaLink="true">/mengenal-sneevliet-kisah-awal-sosialis-belanda-yang-membangun-komunisme-di-indonesia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Perang di Era Demokrasi: Rumitnya Menentukan Makna Perang Pada Masa Modern</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Multitude&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Michael Hardt &amp;amp; Antonio Negri&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Penguin Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: xviii+426 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2004&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9780143035596&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perang dan demokrasi di zaman kerajaan, begitu mungkin arti dari sub-judul buku &lt;em&gt;Multitude&lt;/em&gt; yang merupakan “sekuel” dari &lt;em&gt;Empire&lt;/em&gt;. Penulisnya terkenal sering berduet dalam menulis berbagai macam buku yang kritis, mereka adalah &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/dari-negri-untuk-marx-dan-foucault/&quot;&gt;Antonio Negri&lt;/a&gt; dan Michael Hardt. Tiap karya mereka berdua mendiskusikan tentang permasalahan-permasalahan yang penting pada abad 21. Buku ini mengulas masalah yang tidak hanya kontemporer, tapi berkelanjutan, yakni perang. Sampai sekarang, terlepas sudah terbentuk banyak badan yang berusaha untuk menyelesaikan masalah perang, namun masih saja manusia tak bisa melepaskan diri dari peperangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada yang berbeda dengan peperangan masa lalu dengan masa sekarang ialah usaha untuk mencegah perang saudara (&lt;em&gt;civil war&lt;/em&gt; atau peperangan dalam negeri), sehingga peperangan hanya dimaknai sebagai pertarungan antarnegara. Istilah lain yang digunakan untuk menjelaskan peperangan adalah konflik bersenjata, di mana aktornya sama-sama negara yang berdaulat, sedangkan perang saudara ialah peperangan antara aktor berdaulat dan tidak berdaulat. Peperangan bahkan terjadi pada batas internasional, konflik bersenjata makin menjadi-jadi di dunia internasional, Negri dan Hardt menyebutkan banyak wilayah konflik seperti Aceh, Irak, Kolumbia, dan Sierra Leone.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam melihat permasalahan perang ini, kedua penulis mengutip &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/sepotong-kisah-carl-schmitt-dalam-pengasingan/&quot;&gt;Carl Schmitt&lt;/a&gt; di mana tindakan dan motif politik didasarkan pada pemisahan kawan dan lawan. Pembahasan merembet kepada istilah &lt;em&gt;state of exception&lt;/em&gt; atau secara sederhana bisa diartikan sebagai kondisi darurat. Kondisi Darurat adalah konsep dari tradisi hukum Jerman yang merujuk kepada pembekuan sementara dari konstitusi dan peraturan perundangan. Tradisi panjang pemikiran ketatanegaraan bahwa pada waktu di mana krisis dan marabahaya merebak, seperti waktu peperangan, peraturan perlu ditangguhkan sementara dan kekuasaan yang luar biasa diberikan kepada pemerintahan yang kuat atau bahkan diktator untuk melindungi negara. Anggapan ini berkaitan dengan Amerika Serikat sebagai negara adikuasa dapat bertindak tanpa mengikuti aturan peperangan internasional demi menjaga keamanan dunia sampai pada pandangan bahwa mereka yang memberi perintah tidak perlu menaati perintahnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peperangan adalah sesuatu yang sangat rumit dan luas sehingga susah untuk memahaminya secara cepat. Ada cuplikan kisah mengenai Golem dalam buku ini, yakni sebuah makhluk raksasa dari tanah liat yang hidup dan mengikuti perintah dari pembuatnya. Kisah mengenai Golem ada banyak, namun yang dipakai adalah Golem milik Rabbi (pendeta Yahudi) Loew yang dibentuk untuk melindungi orang Yahudi dari serangan musuh dan tidak berhenti untuk membunuh karena dilahirkan sebagai alat pembunuh. Golem itu pada akhirnya turut membunuh siapapun, termasuk kawan, karena peperangan tidak mengenal kawan dan lawan, hanya pembunuhan. Penggambaran mengenai Golem membawa pemaknaan tentang bagaimana manusia terkadang tidak bisa mengendalikan penemuannya terkait peperangan dan justru membawa kerusakan yang lebih parah ketimbang yang telah diperhitungkan sebelumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Begitu seringnya manusia berperang sehingga perang telah menjadi kebiasaannya. Dulu, perang dianggap sebagai bagian dari politik, sekarang, politik adalah bagian dari perang. Bahkan istilah perang tidak hanya merujuk pada perang secara harfiah, namun sudah menjadi metafora untuk menggambarkan kompetisi yang bahkan tidak berdarah sama sekali. Wacana metafora dari peperangan digunakan untuk pergerakan politik yang strategis demi mencapai mobilisasi total dari kekuatan sosial untuk tujuan bersama layaknya akan berperang (contoh: &lt;em&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/revolusi-negara-negara-berkembang-dan-terbelakang/&quot;&gt;the war on poverty&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;). Peperangan yang dulu berhadapan dengan musuh yang nyata, material dan spesifik, sekarang mulai bergerak kepada peperangan melawan konsep yang imateriel seperti &lt;em&gt;drugs&lt;/em&gt; (narkoba), &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/pemberontak-atau-teroris/&quot;&gt;&lt;em&gt;terrorism&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; (terorisme) dan &lt;em&gt;poverty&lt;/em&gt; (kemiskinan). Konsekuensi dari peperangan semacam ini adalah perang tidak lagi bisa ditentukan waktu dan wilayahnya, bisa terjadi kapanpun, berapa lama pun dan di manapun.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ulasan mengenai peperangan membawa tulisan buku ini kepada terorisme yang dulu diarahkan kepada tindakan pengikut anarkisme melalui pengeboman yang mereka lakukan di Prancis, Rusia dan Spanyol. Hardt dan Negri selanjutnya memberi tiga pengartian dari terorisme, yakni revolusi atau pemberontakan melawan pemerintah yang sah; penggunaan kekerasan politik oleh pemerintah yang melanggar hak asasi manusia; dan praktik peperangan yang melanggar aturan berperang (termasuk serangan terhadap penduduk). Dari pengartian tersebut bisa dipahami bahwa terorisme bisa dilakukan oleh aktor negara maupun non-negara dan tidak melepaskan konsep kekerasan. Tapi terorisme tidaklah pasti, siapa yang menjadi teroris dan siapa yang menjadi pembasmi teroris juga berubah-ubah. Menariknya, kekerasan harus tetap dimonopoli oleh kekuatan yang sah, karena jika dunia berada pada keadaan tanpa kekerasan, maka seluruh kekerasan akan dianggap sebagai terorisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam peperangan, tidak ada lagi demokrasi, karena ditangguhkannya aturan. Penangguhan ini berarti masyarakat harus mematuhi secara penuh hirarki yang ada dan menangguhkan demokrasi dan pertukaran pikiran. Peperangan tidak pernah absolut, keabsolutan dari perang muncul ketika manusia menemukan senjata pemusnah massal seperti bom atom, di mana pemilik senjata sejenis itu akan memiliki kekuasaan atas kematian manusia lainnya dalam jumlah yang besar. Senjata semacam itu akan menghasilkan peperangan dalam skala dunia yang membuat “perang” menjadi istilah yang abadi dalam kehidupan manusia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perkembangan dalam istilah “perang” inilah yang memunculkan perubahan istilah lainnya. Dulu, negara terbiasa memakai istilah pertahanan yang bersifat reaktif, di mana musuh berasal dari luar. Sekarang, pertahanan diganti dengan keamanan yang bersifat lebih kekal, berkelanjutan dan menghadapi musuh tidak hanya dari luar, namun juga di dalam negeri. Keamanan (&lt;em&gt;security&lt;/em&gt;) merupakan pembentukan lingkungan melalui aksi militer atau polisi (polisi lebih memiliki peran aktif dalam peperangan di era modern, karena yang dihadapi adalah konsep abstrak yang juga bisa menjadi musuh dalam negeri).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Konsep lain yang bertautan dengan peperangan adalah kekerasan. Salah satu pilar utama dalam kedaulatan sebuah negara ialah keabsahan pemerintahnya untuk memonopoli kekerasan. Bahkan Negri dan Hardt menyatakan bahwa semua teori politik yang berkaitan dengan kedaruratan untuk menghadapi pemberontakan atau kudeta, berdiri atas dasar monopoli negara dan pemerintahnya atas kekerasan sampai pada titik—baik dari kelompok kanan (Weber) maupun kiri (Lenin) bersepakat—bahwa negara bersifat diktator. Akan tetapi, kekerasan bisa menjadi sah kalau memiliki landasan moral. Penentuan landasan moral inilah yang menjadi basis perdebatan tentang kekerasan mana yang legal. Ketidaksetaraan kekuasaan dan kekuasaan nampaknya juga menghalangi kesetaraan di mata hukum sehingga penentuan landasan moral didasarkan kepada siapa yang kuat dan berkuasa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/negri-dan-hardt.jpg&quot; alt=&quot;&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Michael Hardt (kiri) dan Antonio Negri (kanan). &lt;em&gt;&lt;a href=&quot;https://razaoinadequada.com/filosofos/antonio-negri/&quot;&gt;Sumber foto&lt;/a&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada satu sesi menarik dari buku Negri &amp;amp; Hardt ini ialah bagaimana mereka menunjukkan bahwa Samuel Huntington adalah seseorang yang mengabdi kepada kekuasaan yang berdaulat. Ia lah yang menyarankan bahwa demokrasi harus diatur oleh otoritas, berbagai macam bagian dalam masyarakat harus dijaga agar tidak terlalu aktif dalam penyelenggaraan pemerintahan. Huntington adalah orang yang memperkuat landasan kedaruratan bagi Amerika Serikat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semenjak abad kedua puluh, perang seperti menjadi kebiasaan manusia dalam hidup. Pada abad kedua puluh lah ada tiga peperangan yang selalu masuk ke dalam sejarah dunia, yakni perang dunia pertama, perang dunia kedua, dan perang dingin. Setelah jatuhnya Uni Soviet, perang yang sebelumnya dilakukan dalam skala besar, di mana unit-unit yang diturunkan dalam jumlah masif, sekarang sudah berubah menjadi peperangan dengan unit yang kecil, dapat bergerak di segala medan dan siap untuk diterjunkan dalam berbagai misi, bahkan untuk misi &lt;em&gt;search and rescue&lt;/em&gt;. Ditambah lagi perkembangan teknologi juga dimasukkan dalam perkembangan militer, terutama militer Amerika Serikat yang berusaha untuk meminimalisir resiko tentaranya. Perkembangan militer ini dinamakan &lt;em&gt;Revolution in Military Affairs&lt;/em&gt; (Revolusi Jawatan Militer/RMA).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peperangan dengan segala macam pernak-perniknya merupakan tema sentral dalam buku ini yang dituliskan oleh Negri dan Hardt menggunakan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti dan lugas. Sebelum membaca Multitude, saya menyarankan untuk membaca &lt;em&gt;Empire&lt;/em&gt; dan dilengkapi dengan &lt;em&gt;Commonwealth&lt;/em&gt;. Untuk kalian yang ingin mendalami pemikiran Marxis Otonomis (Autonomist Marxism) yang cenderung kepada anarkisme seperti &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/rumus-perlawanan-abad-21/&quot;&gt;Antonio Negri&lt;/a&gt;, Multitude adalah bacaan wajib untuk memahami pemikirannya. Buku bisa didapatkan di &lt;a href=&quot;https://periplus.com&quot;&gt;Periplus&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;https://amazon.com&quot;&gt;Amazon&lt;/a&gt; atau &lt;a href=&quot;https://bookdepository.com&quot;&gt;Book Depository&lt;/a&gt;. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>24 Mar 2020</pubDate>
        <link>/perang-di-era-demokrasi-rumitnya-menentukan-makna-perang-pada-masa-modern</link>
        <guid isPermaLink="true">/perang-di-era-demokrasi-rumitnya-menentukan-makna-perang-pada-masa-modern</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Mahasiswa Sudah Berjuang Semenjak Pra-kemerdekaan, Bung!</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Campaigning in Europe for a Free Indonesia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Klaas Stutje&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Nias Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xii+226 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2019&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;ISBN: 978-87-7694-264-9&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!”, Sebuah seruan yang memekakkan telinga dan terdengar sangat membanggakan kelasnya atau strata sosialnya sebagai seorang mahasiswa. Seruan tersebut menggambarkan bagaimana mahasiswa selalu mengelu-elukan dirinya dan pada titik tertentu suka dielu-elukan oleh masyarakat. Bahkan mahasiswa suka menyebut dirinya sendiri sebagai &lt;em&gt;agent of change&lt;/em&gt; mungkin juga &lt;em&gt;social control&lt;/em&gt;. Sematan ini menarik karena bisa dilihat bagaimana mahasiswa sekarang sangat membanggakan dirinya, sampai kelewat batas, sehingga—layaknya Soekarno di akhir hayatnya—suka menyematkan banyak gelar kepada diri mereka. &lt;em&gt;Is it worth it?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi tidak semua mahasiswa seperti itu. Biasanya yang suka berslogan, yang suka memberi istilah-istilah yang susah dipahami adalah mahasiswa yang baru terjun pada dunia pergerakan, namun tak pernah menyentuh dunia intelektual. Alhasil mereka memakai istilah yang tidak karuan untuk mengilustrasikan diri mereka. Ada mahasiswa yang dalam sunyi senyap melakukan advokasi, yang masih berjuang untuk masyarakat Indonesia secara ikhlas tanpa istilah-istilah tidak jelas seperti di atas. Mahasiswa yang masih bisa menjelaskan sesuatu dengan sesederhana mungkin agar masyarakat pun terdidik oleh tindakan mahasiswa. Mahasiswa semacam ini mengingatkan saya kepada &lt;em&gt;Perhimpoenan Indonesia&lt;/em&gt; (PI) di mana Mohammad Hatta pernah digembleng menjadi intelektual pro-rakyat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dulu, beberapa dekade sebelum kemerdekaan, ketika dimulainya politik etis, Belanda membuka peluang untuk pribumi Hindia-Belanda agar mendapatkan pendidikan yang cukup. Meskipun awalnya hanya segelintir pribumi berdarah bangsawan, lama-kelamaan hampir segala macam pribumi kelas atas yang bukan berdarah bangsawan juga bisa bersekolah. Pendidikan pun bisa ditempuh di Belanda, terutama untuk pendidikan tinggi. Di negeri penjajah inilah kesadaran nasional para mahasiswa Indonesia mulai berkembang. Nasionalisme ini berbentuk organisasi bernama Indische Vereeniging (IV) yang memiliki jurnal bernama Hindia Poetra (HP). IV &amp;amp; HP ini, meskipun memiliki kesadaran nasional, namun masih belum berbentuk perlawanan. Pekerjaan mereka hanya memberikan pencerahan dan gambaran terkait budaya yang ada di Hindia-Belanda, salah satu tokohnya yang terkenal adalah Noto Soeroto. Perkembangan awal IV menggambarkan organisasi yang tidak konfrontatif dengan pemerintah. Hal ini akan segera berubah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nama &lt;em&gt;Indische&lt;/em&gt; diubah menjadi Indonesische Vereeniging untuk menegaskan kembali istilah Indonesia sebagai identitas nasional para mahasiswa dari Hindia-Belanda ini. Perubahan ini terjadi lagi dari Indonesische Vereeniging menjadi Perhimpoenan Indonesia (PI) yang semakin memperkuat identitas dan perjuangan nasional para mahasiswa Indonesia di Belanda saat itu, yakni kemerdekaan Indonesia. Hal ini bahkan tergambarkan melalui surat kabar Hindia Poetra (HP) yang berubah nama menjadi Indonesia Merdeka (IM). Perubahan ini menandakan pendekatan yang lebih radikal, dari pendekatan budaya yang dilakukan oleh Noto Soeroto menjadi pendekatan politik yang dilancarkan oleh Mohammad Hatta, Iwa Koesoema Soemantri, dan kawan-kawannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam perjuangan mahasiswa Indonesia yang berkuliah di luar negeri, kasus pendakwaan terhadap Mohammad Hatta, Nazir Datuk Pamuncak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdulmadjid Djojoadiningrat sangatlah terkenal. Dalam persidangan, mereka dibela oleh Mr. J.E.W. Duijs dan pada akhirnya berhasil bebas dari dakwaan tersebut. Untuk mengetahui lebih lanjut apa yang menjadi permasalahan mereka bisa dibaca dalam buku &lt;em&gt;Membela Mahasiswa di Depan Pengadilan Belanda&lt;/em&gt; yang ditulis oleh Mr. J.E.W. Duijs dan &lt;a href=&quot;/download/ALI-SASTROAMIDJOJO-Empat-Mahasiswa-Indonesia-di-Negeri-Belanda-Tahun-1927.pdf&quot;&gt;&lt;em&gt;Empat Mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda Tahun 1927&lt;/em&gt;&lt;/a&gt; karya Ali Sastroamidjojo.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain nama-nama tersebut, kita juga akan menemukan dua nama dari Minahasa yang turut berperan di luar negeri, yakni Sam Ratulangi dan Arnold Mononutu. G.S.S.J. Ratu Langie merupakan mahasiswa Doktoral di Zurich yang turut mengembangkan koneksi mahasiswa Indonesia di luar negeri dengan membentuk Société des étudiants asiatiques (SDEA) yang di dalamnya tergabung banyak mahasiswa dari negara-negara Asia lainnya. Dari sinilah banyak mahasiswa Indonesia juga berhubungan dengan mahasiswa dari benua Asia lainnya dan membicarakan berbagai hal, mulai dari budaya hingga politik. Hal yang sama juga dilakukan Arnold Mononutu di Prancis yang berusaha menghubungkan mahasiswa Indonesia dengan berbagai kelompok perjuangan, baik komunis maupun nasionalis, dari negara Eropa maupun Asia. Isu kolonialisme nampaknya juga kuat di Prancis, salah satu penentang kolonialisme Prancis adalah Partai Komunis Prancis sendiri. Dari kegiatan Mononutu ini ia mendapatkan julukan dalam buku ini sebagai &lt;em&gt;ambassador without a country&lt;/em&gt; (duta besar tanpa negara).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kegiatan Manonutu di Prancis berakhir ketika polisi rahasia Belanda yang bertugas untuk mengawasi mahasiswa Indonesia di Eropa, &lt;em&gt;Raadsman voor Studerenden,&lt;/em&gt; menekan ayahnya agar tidak lagi mengirim uang untuk keperluan Manonutu di Prancis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selanjutnya, Stutje membeberkan bagaimana mahasiswa Indonesia, terutama Mohammad Hatta yang lancar berbahasa Inggris, Belanda, Prancis, dan Jerman pada akhirnya turut bermain dalam &lt;em&gt;League against Imperialism&lt;/em&gt; (LAI atau Liga melawan Imperialisme) di Brussel. Di tempat inilah pertemuan kontroversial antara Hatta dan Semaun terjadi, yang nantinya menjadi dalih pemerintah Belanda untuk menahan Hatta dan kawan-kawannya. Semaun lah yang memberi pintu masuk kepada Hatta dan PI untuk bergabung dalam LAI. Hatta sendiri memang tidak memiliki kecenderungan untuk menjadi komunis, ia lebih kepada pemikiran nasionalis, namun bukan nasionalis kolot yang nonkooperatif dengan kelompok lainnya. Nasionalisme ala Hatta mementingkan terbentuknya kerja sama antarpihak dengan tujuan yang sama: kemerdekaan Indonesia. Kerja sama antara komunis dan nasionalis bukanlah angan belaka baik bagi Semaun maupun Hatta.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada saat di mana Hatta dan kawan-kawannya memperlihatkan bahwa ada negara bernama Indonesia di luar negeri, pada saat itulah gejolak antikolonialisme juga berkembang di negara-negara jajahan, baik di Asia Tenggara, Asia Selatan (India), Tiongkok, maupun wilayah Afrika Utara hingga Selatan. Sehingga nama Indonesia sudah dikenal di kalangan mahasiswa internasional, terutama di Eropa. Hal ini membantu Indonesia untuk semakin dikenal dan didengar dalam kancah mancanegara. Namun ada satu kekurangan dalam buku ini, ialah penyebutan Indonesia sebagai &lt;em&gt;fatherland&lt;/em&gt; yang terkesan patriarki dan seperti menggambarkan kelompok Kanan-Jauh, padahal masyarakat Indonesia menyebut tanah airnya sebagai “Ibu Pertiwi”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu apa yang penting dari kisah panjang di atas? Hatta, Pamontjak, Manonutu, Ratu Langie, Sastroamidjojo, Djojoadiningrat dan mahasiswa lainnya yang berjuang untuk menggaungkan nama Indonesia di Eropa berjuang tanpa pamrih, perjuangan mereka jauh lebih sulit ketimbang mahasiswa masa kini, jadi tak perlulah mahasiswa sekarang berlagak layaknya pahlawan dan menjadi kelas tersendiri. Adalah mahasiswa yang baik dan pantas menjadi contoh ketika dalam sunyi mereka membantu dan menolong masyarakat di sekitarnya. &lt;strong&gt;(&lt;em&gt;rez&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Foto Hatta di The League against Imperialism: &lt;a href=&quot;https://historian.blog.se/tag/european-history/&quot;&gt;The Historian&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>06 Mar 2020</pubDate>
        <link>/mahasiswa-sudah-berjuang-semenjak-pra-kemerdekaan-bung</link>
        <guid isPermaLink="true">/mahasiswa-sudah-berjuang-semenjak-pra-kemerdekaan-bung</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Perusuh yang Bijaksana</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Artikel&lt;/strong&gt;: The hidden morale of the 2005 French and 2011 English riots&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Ferdinand Sütterluty&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Nama Jurnal&lt;/strong&gt;: Thesis Eleven&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Volume&lt;/strong&gt;: 121&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Nomor/Isu&lt;/strong&gt;: 1&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam pembukaan jurnal ini, penulis menyampaikan bahwa menyebut para perusuh (atau demonstran) dengan cara menstigmatisasi atau mengkriminalisasi mereka justru semakin membangkitkan semangatnya ketimbang mencegah mereka untuk melakukan pengrusakan, kekerasan dan perampokan. Sütterluty dalam jurnal ini berusaha untuk membuktikan bahwa istilah ‘kewarganegaraan’, wabil khusus gagasan mengenai kesetaraan konstitusional (kesetaraan di mata hukum) dan perlakuan yang setara di mana para perusuh beranggapan bahwa kesetaraan tersebut telah dilanggar, berperan utama dalam motivasi mereka bertindak dalam kerusuhan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Contoh yang diambil, seperti dalam judul, adalah kerusuhan di Prancis pada tahun 2005 dan kerusuhan di Inggris pada 2011. Kerusuhan di Prancis terjadi karena tindak kekerasan polisi yang berlebihan dalam menghadapi dua pemuda yang hidup di pinggiran paris: Zyed Benna (17) dan Bouna Traore (15) ditambah dengan Muhittin Altun (17), semuanya memiliki keturunan etnis luar Prancis. Sedangkan di Inggris kasusnya hampir serupa, Mark Duggan (29) yang berkulit hitam ditembak di pinggiran London oleh polisi dengan alasan yang masih belum jelas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut Sütterluty, ada empat karakteristik dalam kerusuhan di dua negara yang menjadi studi kasus, pertama, kerusuhan baik di Prancis maupun Inggris terjadi setelah serangan kepolisian terhadap contoh di atas. Polisi menggunakan monopoli negara dalam kekerasan secara berlebihan dan tidak tepat yang berdampak kepada matinya pemuda dari etnis minoritas. Kedua, ada preseden (contoh) sejarah terkait kerusuhan serupa dikedua negara yang dipicu pertarungan antara penduduk dan kepolisian. Ketiga, wilayah terjadinya kerusuhan memiliki ciri tatanan sosial yang sama, dimulai dari wilayah penduduk miskin kota. Terakhir, kedua kasus memperlihatkan pandangan publik tentang distrik (wilayah tempat tinggal) dan penduduknya dibentuk dengan menstigmatisasi wacana tentang orang pinggiran.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di Prancis, kejadian ini dapat diamati sebagai pergeseran makna ‘Arab’ menjadi &lt;em&gt;beur&lt;/em&gt; yang dihubungkan dengan fundamentalisme Islam dan terorisme dan menjadi sangat peyoratif (bermakna buruk). Surat kabar menyebut daerah &lt;em&gt;banlieues&lt;/em&gt; (istilah Prancis untuk daerah pinggiran) sebagai sumber pelaku bom bunuh diri yang berdampak pada pandangan pemuda &lt;em&gt;beur_dianggap sebagai musuh dalam selimut. Sedangkan di Inggris, mengutip Oliver James, bahwa kekerasan yang dilakukan oleh para pemuda sebagai hasil dari kemunculan budaya pemenang-orang kalah (_winner-loser culture&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan yang buruk terhadap daerah pinggiran sebagai tempat kriminalitas dan pengalaman akan tindak kepolisian dari orang-orang yang hidup di wilayah ini telah menghancurkan kepercayaan mereka terhadap penegakan hukum dan peraturan perundangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Telaah dari kerusuhan ini memaknai peristiwa tersebut sebagai kerusuhan rasial yang merupakan ekspresi konflik etnik, namun bukan antar etnik, melainkan etnik tertentu melawan rasialisme polisi. Pemaknaan kedua ialah kerusuhan ini adalah kerusuhan tanpa isu, akan tetapi kerusuhan yang menjadi contoh dalam jurnal ini merupakan reaksi dari serangan polisi dan menyasar kepolisian dan lembaga pemerintah yang berlawanan dengan pemaknaan kerusuhan tanpa isu. Pemaknaan terakhir ialah kerusuhan ini dilakukan oleh konsumen yang rusak (&lt;em&gt;defective consumers&lt;/em&gt;). Pemaknaan ketiga ini digunakan karena ada perampokan ketika kerusuhan terjadi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para perusuh meminta kesetaraan dan perlakuan yang setara sebagai warga negara. Di Prancis, slogan &lt;em&gt;liberté&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;égalité&lt;/em&gt;, _fraternité_digaungkan karena apa yang berlaku bagi warga negara Prancis seharusnya juga berlaku bagi penduduk di wilayah pinggiran di Prancis. Sasaran kerusuhan di Prancis ada dua, yakni kepolisian dan sekolah. Mereka meminta polisi untuk menghormati hak-hak warganya dan berperilaku sopan terhadap masyarakat. Pandangan normatif di atas yang menjadi pondasi amarah para perusuh di Prancis dan Inggris yang mayoritas adalah pemuda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada bagian perampokan, para perusuh/perampok dapat dilihat sebagai konflik tidak langsung dengan kepolisian karena para perusuh/perampok ingin memperlihatkan bahwa kepolisian tidak lagi berkuasa pada situasi itu. Mereka juga merupakan Yatim Piatu Politik (&lt;em&gt;political orphans&lt;/em&gt;), sebuah istilah yang dipinjam Ferdinand dari Gary Younge untuk menggambarkan mereka yang tidak terwakili secara politik. Namun para perusuh hanya beraksi terhadap pelaksanaan aturan pemerintah dan tindakan polisi, motivasi mereka bergabung dalam kerusuhan adalah balas dendan terhadap kepolisian terutama menuntut keadilan dan kesetaraan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kerusuhan merupakan hasil dari tindakan polisi yang tidak memegang asas kesetaraan di mata hukum (&lt;em&gt;equality before the law&lt;/em&gt;) dan bahwa tiap orang seharusnya memiliki akses yang sama terhadap aset budaya maupun material di masyarakat tanpa pandang bulu terkait latar belakang etnisnya. Kerusuhan memperlihatkan bahwa kesetaraan sipil tidak bisa hanya dimaknai prinsip hukum saja. Ketika kesetaraan bertemu dengan kenyataan sosial, maka harus dibawa lebih dari sekedar sudut pandang legal-formal (hukum) dalam dunia kehidupan sosial di masyarakat, tidak kurang, atau lebih khusus di wilayah pinggiran kota.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Jurnal dapat diunduh dengan membayar di:&lt;/em&gt; &lt;a href=&quot;https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0725513614528784&quot;&gt;https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0725513614528784&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;table&gt;
  &lt;tbody&gt;
    &lt;tr&gt;
      &lt;td&gt;_Foto: Ferdinand Sütterluty&lt;/td&gt;
      &lt;td&gt;Tyler Callahan/Unsplash_&lt;/td&gt;
    &lt;/tr&gt;
  &lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;
</description>
        <pubDate>13 Feb 2020</pubDate>
        <link>/perusuh-yang-bijaksana</link>
        <guid isPermaLink="true">/perusuh-yang-bijaksana</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Gagasan Keagamaan dan Kesenjangan Sosial</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Artikel&lt;/strong&gt;: The Role of Religious Ideas: Christian Interpretations of Social Inequalities&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Ferdinand Sütterluty (Goethe Universität, Jerman)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Nama Jurnal&lt;/strong&gt;: Critical Sociology&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Volume&lt;/strong&gt;: 42&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Nomer/Isu&lt;/strong&gt;: 1&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun&lt;/strong&gt;: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa yang membuat agama menarik bagi banyak orang sekarang adalah potensinya untuk melawan budaya arus utama (&lt;em&gt;mainstream culture&lt;/em&gt;). Gagasan keagamaan yang dimaksudkan Ferdinand Sütterluty adalah konten semantik (konten/isi yang berhubungan dengan bahasa dan logika) dari tradisi keagamaan yang menemukan jalannya kepada pemaknaan kognitif (&lt;em&gt;kognitif:&lt;/em&gt; usaha menemukan atau mendapatkan ilmu pengetahuan dan pemahaman melalui pikiran, pengalaman dan pengindraan) terhadap kenyataan, dalam kasus ini adalah kenyataan mengenai kesenjangan sosial. Gagasan keagamaan biasanya tertanam dalam bentuk yang metafora (&lt;em&gt;pengandaian&lt;/em&gt;, bukan sesuatu yang nyata dan butuh untuk dimaknai ulang sesuai dengan kenyataan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Agama yang dijadikan contoh oleh Ferdinand adalah Kristen (Katolik maupun Protestan, penggunaan Kristen merujuk kepada keduanya). Menurutnya, Kristen memiliki tradisi perlawanan terhadap kondisi sosial dan politik yang dialami sebagai tidak adil dan tidak bermoral. Hal ini terungkap dalam konsep &lt;em&gt;Exodus&lt;/em&gt;, dimana banyak bangsa Israel yang berpindah dari Mesir ke Tanah yang Dijanjikan. Mereka melakukan &lt;em&gt;Exodus&lt;/em&gt; dengan dipimpin oleh Nabi Musa a.s. Seperti yang disampaikan Ferdinand, kejadian ini bisa dimaknai sebagai usaha untuk mengantarkan bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir dan perlawanan mereka terhadap tekanan dan ketidakadilan dari kelas penguasa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebenarnya konsep migrasi politis semacam itu tidak hanya ada di Kristen atau Yahudi saja dengan contoh &lt;em&gt;Exodus&lt;/em&gt; yang dilakukan Nabi Musa dan bangsa Israel. Islam juga memiliki konsep yang sama bernama &lt;em&gt;Hijrah&lt;/em&gt;. Kesamaan dari dua istilah ini adalah sama-sama merupakan konsep migrasi politik dan sama-sama digunakan untuk menjelaskan perlawanan terhadap ketidakadilan, kesenjangan, dan kesewenang-wenangan (Nabi Musa a.s. bersama bangsa Israel melawan Firaun dan rakyat Mesir, sedangkan Nabi Muhammad Saw. dan kaum muhajirin melawan kaum kafir Quraisy di Mekkah). Perbedaannya cukup banyak, namun lebih kepada detail dari kisahnya. &lt;em&gt;Exodus&lt;/em&gt; merupakan tujuan itu sendiri, di mana mereka pergi dari Mesir untuk kembali kepada Tanah yang Dijanjikan, sedangkan &lt;em&gt;Hijrah&lt;/em&gt; merupakan salah satu proses di mana Nabi Muhammad beserta umat-Nya berpindah ke Madinah untuk mempersiapkan diri guna merebut kembali Mekkah dari orang Quraisy.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kembali kepada gagasan keagamaan dalam Kristiani. Selanjutnya interpretasi/pemaknaan terhadap &lt;em&gt;Exodus&lt;/em&gt; akan digunakan dalam beberapa contoh yang diberikan oleh penulis. Seperti pada tahun 1830-an, para pendeta reformis Protestan memobilisasi perlawanan terhadap perbudakan dan menikmati kesuksesan ketika mampu menghubungkan pertaubatan individu dengan reformasi sosial. Selanjutnya ada contoh gerakan teologi pembebasan di Amerika Latin yang bertujuan untuk membantu orang miskin. Mereka yang tergabung dalam gerakan ini bahkan menuding gereja Katolik dan pendetanya terlibat dengan kediktatoran kelas penguasa. Sehingga penganut teologi pembebasan bekerja sama dengan gerakan reforma agraria dan memengaruhi masyarakat lalu mendukung partai-partai reformasi sosial. Tujuannya adalah untuk membantu anggota masyarakat yang tidak beruntung dan terpinggirkan untuk melepaskan ikatan deprivasi ekonomi dan tekanan politik. Contoh Amerika Latin, dikutip dari Gustavo Guiterrez oleh Ferdinand, menggunakan narasi &lt;em&gt;Exodus&lt;/em&gt; sebagai metafora sejarah dalam teologi pembebasan yang dimaknai sebagai panggilan untuk ikut dalam perhelatan politik mengentaskan kemiskinan, eksploitasi, dan alienasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Narasi &lt;em&gt;Exodus&lt;/em&gt; dianggap oleh komunitas gerejawi sebagai pondasi dari perlawanan pembebasan melawan perbudakan, rasisme, dan tekanan. Memperlihatkan bahwa isi dari narasi keagamaan dapat memotivasi seseorang untuk bertindak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun dua bapak sosiologi juga menemukan bahwa agama berperan mendukung kesenjangan sosial. Dengan mengutip Emile Durkheim, Ferdinand menyampaikan bahwa agama, dalam konteks Kristiani, sebagai kekuatan yang membantu mencegah kondisi anomik dalam masyarakat karena mampu membatasi keinginan manusia. Lalu Max Weber menunjukkan bahwa gagasan keagamaan memberikan kepercayaan bahwa orang-orang terpilih adalah efektif dalam menawarkan strata sosial khusus untuk memastikan superioritas (kelebihan). Dapat ditarik kesimpulan bahwa gagasan keagamaan hanya menyediakan justifikasi (pembenaran) tambahan untuk tujuan budaya yang sudah mapan dari kesuksesan dan cetak biru (&lt;em&gt;blueprint&lt;/em&gt;) untuk praktik kolektif yang didesain untuk mendorong yang beriman agar melakukan panjat sosial (menjadi terpandang atau kaya).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semua relasi kekuasaan bergantung kepada pembenaran (justifikasi). Menurut Weber (dalam Ferdinand) bahwa kewenangan tidak dapat terlaksana tanpa dasar dari legitimasi (dukungan terhadap kewenangan atau kekuasaannya). Selanjutnya Rainer Forst dan Klaus Günther mengartikan tatanan pembenaran (&lt;em&gt;order of justification&lt;/em&gt;) sebagai tatanan norma yang menyediakan dukungan untuk tatanan dasar dalam masyarakat termasuk pelaksanaan kekuasaan dan pembagian (distribusi) dari barang dan peluang-peluang dalam kehidupan. Namun, bersamaan dengan seni, sastra, hukum, dan ilmu sosial, agama adalah ruang untuk refleksi diri yang bisa menjadi dasar untuk melegitimasi seseorang, akan tetapi di sisi lain dapat menjadi narasi perlawanan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kisah mengenai &lt;em&gt;exodus&lt;/em&gt; merupakan contoh penggunaan wacana keagamaan dalam perlawanan. Sedangkan selanjutnya turut dijelaskan bahwa agama juga dapat dijadikan pembenaran atas status seseorang yang lebih di atas manusia lainnya (membenarkan adanya kesenjangan sosial). Namun, inilah yang ingin ditunjukkan Ferdinand Sütterluty bahwa gagasan keagamaan sangatlah dinamis yang dapat digunakan untuk mendukung atau melawan kemapanan. Dapat memaknai kesenjangan sosial secara negatif maupun positif. Jadi, tak melulu gagasan keagamaan bersifat perlawanan, namun juga bisa digunakan untuk melegitimasi posisi seseorang yang sudah mapan. Bisa digunakan untuk memperkuat atau melemahkan kesenjangan sosial yang sudah ada. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Jurnal dapat diunduh dengan membayar di: &lt;a href=&quot;https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0896920513509823&quot;&gt;https://journals.sagepub.com/doi/full/10.1177/0896920513509823&lt;/a&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;table&gt;
  &lt;tbody&gt;
    &lt;tr&gt;
      &lt;td&gt;_Foto: Ferdinand Sütterluty&lt;/td&gt;
      &lt;td&gt;Tyler Callahan/Unsplash_&lt;/td&gt;
    &lt;/tr&gt;
  &lt;/tbody&gt;
&lt;/table&gt;
</description>
        <pubDate>12 Feb 2020</pubDate>
        <link>/gagasan-keagamaan-dan-kesenjangan-sosial</link>
        <guid isPermaLink="true">/gagasan-keagamaan-dan-kesenjangan-sosial</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Film dalam Keseharian Kita, yang Ekstrem Kini Jadi Mainstream</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku:&lt;/strong&gt; The Sky is Falling! The Unexpected Politics of Hollywood’s Superheroes and Zombies&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis:&lt;/strong&gt; Peter Biskind&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&lt;/strong&gt; Penguin Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit:&lt;/strong&gt; 2019&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku:&lt;/strong&gt; 252 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN:&lt;/strong&gt; 978-0-241-37387-3&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika film &lt;em&gt;Black Panther&lt;/em&gt; tayang di bioskop, seluruh dunia seolah menyorak kemenangan budaya Afrika-Amerika dalam pentas perfilman Hollywood. Sebagai film yang tokoh utamanya digambarkan berasal dari salah satu dari kelima suku di Afrika, hidup di tanah kaya vibranium, dan peradaban yang jauh lebih maju dibanding bagian dunia manapun, tak berlebihan jika dikatakan bahwa film &lt;em&gt;Black Panther&lt;/em&gt; dirayakan besar-besaran dibanding film superhero Marvel lainnya, bahkan hingga hari ini. &lt;em&gt;Black Panther&lt;/em&gt; bukan saja produk adaptasi komik, tetapi juga produk budaya—sentilan bagi isu rasisme Amerika.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menyusul &lt;em&gt;Black Panther&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;The Equalizer 2&lt;/em&gt; dengan tokoh utama Denzel Washington dalam salah satu adegan berkesan antara Robert McCall dan Miles, ia memberikan buku &lt;em&gt;Between the World and Me&lt;/em&gt; karya Ta-Nehisi Coates kepada Miles. Tampaknya seperti adegan biasa, tetapi telah membuka beragam interpretasi tentang apa maksud Denzel Washington atau Antoine Fuqua (sutradara) menyelipkan adegan tersebut. Sebagai informasi singkat, buku tersebut berisi tentang pengalaman seorang ayah kulit hitam yang berkisah kepada anaknya tentang cara ia menghadapi rasisme di Amerika. Di samping itu, Ta-Nehisi Coates merupakan penulis dan jurnalis Afrika-Amerika kenamaan yang kerap menulis persoalan politik, sosial, dan budaya Afrika-Amerika.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sekarang, mari kita pikirkan. Seberapa sering kita memikirkan bahwa adegan sekecil apapun dalam film mengandung makna politis atau menyentuh perdebatan sosial-budaya tertentu dari masyarakat kita? Apakah kita hanya pergi ke bioskop untuk melihat adegan dramatis demi menghilangkan penat, lalu melupakannya selang 2-3 hari kemudian? Selain itu, pernahkah kita menemui seorang figur publik membuat referensi ke film-film tertentu dalam pidatonya, entah itu sebaris kalimat yang khas dari film atau dari nama program yang dicetuskannya?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nyatanya, beberapa figur publik AS melakukannya, bahkan sekelas presiden. Dalam buku ini, Peter Biskind, seorang kritikus budaya dan sejarawan film dari Amerika Serikat, menyajikan serangkaian bukti bahwa film dan politik nyatanya tidak bisa dipisahkan. Sekalipun produser-produser film Hollywood tampaknya berusaha keras menghindari menyampaikan pesan politis melalui film, &lt;em&gt;toh&lt;/em&gt; film selalu menyajikan ruang terbuka bagi interpretasi oleh khalayak. Film pun bisa menjadi petunjuk kecenderungan politik hingga kondisi psikologis masyarakat AS seiring zaman.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam bagian pembuka, Peter Biskind menyatakan bahwa buku ini adalah tentang budaya populer (&lt;em&gt;pop&lt;/em&gt;/&lt;em&gt;popular culture&lt;/em&gt;) Amerika di era ekstremisme. Era ekstremisme yang ia rujuk di sini terkait dengan adu gagasan kelompok kiri dan kanan pasca Perang Dunia II, tetapi pada kenyataannya panggung politik turut diisi oleh kelompok tengah yang—meskipun sudah kena pukul dari kiri maupun kanan—masih menyuarakan istilah-istilah yang merendahkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para ekstremis itu, kelompok kiri dan kanan, sebenarnya telah tereksklusi dari perbincangan nasional. Namun, istilah “ekstrem” ternyata mengalami pencitraan ulang yang tak terduga. “Ekstrem” kini digunakan untuk merujuk kepada sesuatu yang keren, tidak biasa, unik, atau &lt;em&gt;out of the box&lt;/em&gt;. Ekstrem bukan lagi sebagai julukan biasa, tetapi sebuah ‘penghargaan’ atas inovasi yang tidak biasa. Sedangkan yang &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt; (arus utama), kini jadi &lt;em&gt;lamestream&lt;/em&gt; (arus lemah)—menurut istilah Biskind.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Era ekstremisme telah berada di depan mata sejak kemenangan Trump. Pada 2015, sebagian Republikan yang “sangat konservatif” jumlahnya meningkat dari 19% menjadi 33%. Adu gagasan kelompok kiri dan kanan AS berlangsung terutama pasca-Perang Dunia II. Komunisme sempat diminati, meski kemudian diburu mulai akhir 1940-an hingga 1950-an. Dalam gambaran Biskind, Amerika kian jatuh dalam polarisasi politik yang ekstrem.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sikap ekstrem ini bisa dilihat dari jenis film keluaran hollywood dan tingkat penerimaannya di bioskop, misalnya film mana saja yang tiketnya ludes dalam hitungan jam sejak film tayang perdana atau meraih pendapatan fantastis sehari sejak penayangan. Selain itu, orang kini cenderung lebih menyukai film yang menunjukkan adegan dimana sang karakter harus bertahan dalam kondisi ekstrem lalu menyelamatkan diri dengan cara-cara ekstrem (film-film superhero menjadi contoh yang baik untuk menjelaskan hal ini). Ringkasnya, film-film ekstrem ini punya plot sederhana saja: &lt;em&gt;Us vs Them&lt;/em&gt;. Dunia ini hanya ada hitam dan putih.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lebih jauh, Biskind mencoba menyajikan karakter film yang ‘berideologi’ kanan dan kiri. Film-film kanan umumnya adalah film soal xenofobia dan paranoid, khawatir dengan ancaman atau invasi dari luar. Sedangkan film-film kiri lebih menampilkan simpati, terhadap yang jahat sekalipun. Lebih menghargai dan menerima perbedaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun Biskind menyatakan bahwa sebagai &lt;em&gt;agent of change&lt;/em&gt; budaya telah diperlakukan hanya sebagai faktor tersier ataupun sekunder, kenyataannya ada saja sekelumit hal dari budaya yang dibawa ke ranah politik dan ekonomi. Budaya pada dasarnya mampu memberi warna terhadap narasi-narasi politik dan ekonomi yang kadangkala suram. Mencerahkan pidato yang umumnya terdengar muram. Misalnya saja, program antimisil Ronald Reagan, Biskind menyebut Reagan sebagai presiden hasil bentukan film pertama AS. Bagaimana tidak, saking kepincutnya dengan Star Wars, antimisil Reagan juga dinamai Star Wars Program. Ditambahi dengan kata-kata, &lt;em&gt;the force is with us&lt;/em&gt;. Selain itu, Biskind mensinyalir penamaan “Operation Geronimo” untuk misi membunuh Osama bin Laden diambil dari film-film era 1950-an yang menggambarkan Geronimo sebagai karakter ekstrem.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada hal yang sama antara politik dan film agar diterima banyak orang, yakni bahwa keduanya harus memiliki kisah menarik untuk disampaikan. Memiliki narasi yang kuat untuk dikenang. Menyuguhkan ciri khas, bukan retorika klise yang usang. Hollywood pada dasarnya berusaha untuk melindungi dirinya dari serangan berbau politis atau moral dengan menampilkan seperangkat narasi kebijaksanaan yang diterima umum. Pokoknya kelihatan apolitis, tidak ada ideologinya sama sekali. Tetapi, seiring perkembangan zaman, banyak film Hollywood yang diangkat dari naskah novel atau kisah nyata tak bisa lepas dari interpretasi seputar latar belakang penulis dan zamannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Film-film Hollywood pasca-Perang Dunia II menunjukkan AS yang mulai bersemi dalam balutan &lt;em&gt;pop culture&lt;/em&gt;. Berbeda dengan film-film Eropa yang masih terasa muram. Negara-negara Eropa pun masih dalam proses berbenah dari kerusakan akibat Perang Dunia II. Film yang menampilkan wajah-wajah segar seperti Gene Kelly, Marlon Brando, Jennifer Jones, dan David Niven dengan berlatar belakang berbagai negara di dunia, Asia hingga Eropa, menunjukkan keseriusan AS dalam menggarap film. Di samping itu, menunjukkan bahwa tidak ada tempat di dunia ini yang tak bisa dijangkau Hollywood. Dipoles menjadi karya layar lebar beromset milyaran dolar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kini, film-film Hollywood tak hanya dinikmati sebagai suguhan menarik pelepas penat di akhir pekan. Film-film seperti &lt;em&gt;Rogue One: A Star Wars Story&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Captain Marvel&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Black Panther&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Avatar&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Joker&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Glass&lt;/em&gt;, dan lain-lain dianggap membawa pesan penting tentang kondisi sosial masyarakat abad 21. Tidak hanya soal AS, tetapi juga seluruh dunia. Beberapa fans dari &lt;em&gt;franchise&lt;/em&gt; film tertentu mengkritisi film yang kurang menunjukkan sisi inklusif gender, penempatan peran yang terlihat rasis, diskriminasi gender dalam film, dan lain sebagainya. Keberanian sebuah &lt;em&gt;production house&lt;/em&gt; untuk menggebrak tabu akan diapresiasi jagad maya. Sebaliknya, yang menyangkal dukungan isu tertentu bisa jadi bakal diserang habis-habisan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu, (lagi-lagi) apa hubungannya dengan politik AS? Industri hiburan memandang bahwa bias liberal telah membuat mereka menjadi target abadi bagi kelompok kanan, ada kalanya ekstrem kanan. Sebagai contoh, pemilik sinema di Alabama menolak untuk menayangkan &lt;em&gt;Beauty and the Beast&lt;/em&gt; (2017) karena ada karakter gay di dalamnya. Atau kelompok sayap kanan alternatif yang menyerukan ajakan memboikot film &lt;em&gt;Rogue One: A Star Wars Story&lt;/em&gt; (2016) karena penulis naskahnya mendeskripsikan film tersebut dalam salah satu tweetnya sebagai film dimana &lt;em&gt;The Empire adalah organisasi supremasi kulit putih yang diadu dengan kelompok multikultural yang dipimpin oleh perempuan-perempuan berani&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini terbagi dalam empat bab dan dengan masing-masing bab berisi tiga sub-bab. Tiap bab mengambil judul dari film-film (atau serial) terkenal: &lt;em&gt;Winter Has Come&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Who’ll Stop the Rain&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Breaking Bad&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Heaven Can’t Wait&lt;/em&gt; (ada judul yang terdengar familiar?). Bagian awal penjelasan Biskind tampak tidak &lt;em&gt;nyambung&lt;/em&gt;, berputar-putar, setelah 8–10 paragraf baru bisa dipahami maksud argumennya ke arah mana. Tetapi, di samping pembukaan yang membingungkan itu, bagi yang tak terbiasa membaca buku sejenis tentang analisis film dan kaitan sosial-politiknya, akan lebih bingung lagi dengan penempatan referensi film yang acak dari Biskind. Meskipun demikian, dengan membaca dan mencerna pelan-pelan setiap referensi film yang digunakan Biskind, bisa kita bayangkan sendiri bangunan interpretasi yang hendak dikemukakan Biskind seperti apa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Biskind dalam buku ini berusaha membuat pembaca mengamini bahwa setiap film merefleksikan ideologi tertentu dan seiring waktu, yang ekstrem selalu lebih menarik, lebih diminati, dan lebih dicari. Ia memasukkan banyak rujukan film untuk menjelaskan argumennya, mulai dari yang terkait karakter, baris-baris percakapan, hingga adegan dalam film. Bagi penikmat film, buku ini bisa menjadi salah satu bacaan menarik untuk melihat sisi lain dari film Hollywood sebagai produk budaya dan politik—bacaan yang lebih ‘berat’ daripada sekadar menonton adegan dramatis di layar bioskop. Sedangkan bagi kritikus film hingga jurnalis, buku ini berguna sebagai pegangan dan rujukan untuk membaca pesan politik dan sosial-budaya yang dibawa oleh film-film lawas maupun terbaru garapan Hollywood. Atau membuat judul artikel yang menarik dengan rujukan &lt;em&gt;pop culture&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;(&lt;em&gt;ich&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>06 Feb 2020</pubDate>
        <link>/film-dalam-keseharian-kita-yang-ekstrem-kini-jadi-mainstream</link>
        <guid isPermaLink="true">/film-dalam-keseharian-kita-yang-ekstrem-kini-jadi-mainstream</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Memahami Nasionalisme dan Sejarah dengan Mudah</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Kesadaran Nasional Jilid I&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Slamet Muljana&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: LKIS&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2008&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: xii+358 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9791283559&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nama Slamet Muljana nampaknya menghilang ketika kita mengkaji nasionalisme. Bahkan akademisi muda jaman sekarang lebih suka menggunakan Benedict Anderson dalam menjelaskan perkembangan nasionalisme di Indonesia. Mungkin karena buku ini diterbitkan untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) sehingga para “maha”-siswa menganggap remeh. Namun justru disitu kelebihan buku ini. Sebagai buku yang ditujukan untuk siswa, maka Slamet Muljana menuliskan karyanya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga buku ini tidak hanya karya akademis namun termasuk buku populer.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diterbitkan untuk memperingati satu abad Kebangkitan Nasional yang ditandai dengan lahirnya Boedi Oetomo (Budi Utomo) pada tahun 1908, buku ini membawa topik nasionalisme sebagai kajian utamanya. Nasionalisme sendiri sedang dalam krisis di mana para pemuda sekarang lebih suka menjadi pengikut Islam yang bisa menyerempet kepada penolakan terhadap NKRI, komunisme yang avonturir, atau menjadi masa bodoh dengan ideologi. Dari ketiga jenis pemuda, yang ketiga adalah yang paling akut karena tidak akan menghasilkan apapun untuk bangsa dan negara kecuali seorang “pembayar pajak”. Agar tidak menjadi pemuda yang demikian, maka inilah pentingnya buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagai seorang sejarawan, Slamet Muljana memang menuliskan nasionalisme dari sudut pandang sejarah dan sejarah selalu dapat menjadi alat terbaik untuk membangkitkan nasionalisme. Lalu apa makna nasionalisme menurut penulis? Nasionalisme adalah manifestasi kesadaran bernegara atau semangat bernegara. Maka dari itu, nasionalisme dari kata &lt;em&gt;nation&lt;/em&gt; tidak hanya berkaitan dengan bangsa, melainkan negara (&lt;em&gt;state&lt;/em&gt;) sebagai wadah pemenuhan kebutuhan dan persatuan dari bangsa (atau bangsa-bangsa). Diawali dengan mengupas sejarah Budi Utomo yang merupakan cita-cita pendidikan, bukan cita-cita politik. Bertujuan untuk memajukan bangsa Indonesia melalui pendidikan bagi pribumi Indonesia. Pandangan ini dipertahankan oleh Budi Utomo hingga Kongresnya tahun 1929 yang ikut masuk ke dalam jalur politik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kenapa Hari Kebangkitan Nasional ditandai dengan kelahiran Budi Utomo di tahun 1908, karena BU adalah pertanda munculnya kesadaran bahwa ada yang tidak beres di daerah yang nantinya bernama Indonesia ini. Kesadaran itu muncul hanya di kalangan Priyayi, itupun dengan ruang lingkup Jawa dan Madura, akan tetapi kesadaran itu adalah titik utamanya. Belum lagi tujuan sosialnya untuk mencerdaskan masyarakat menjadi alasan lain kenapa BU dianggap sebagai organisasi pergerakan pertama, meskipun bukan pergerakan politik. Selanjutnya, banyak organisasi-organisasi lain yang bermunculan dengan membawa identitasnya masing-masing, &lt;em&gt;Indische Partij&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Indische Sociaal Democratische Vereniging&lt;/em&gt; (ISDV), Insulinde, Sarekat Islam dan Muhammadiyah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain BU, bagian awal buku ini turut mengulas usaha memperjuangkan kemerdekaan oleh kelompok politik seperti &lt;em&gt;Indische Partij&lt;/em&gt; yang digawangi oleh Douwes Dekker (pembaca juga harus mengingat bahwa ada dua Douwes Dekker, yakni yang menjadi asisten residen di Lebak dan pendiri &lt;em&gt;Indische Partij&lt;/em&gt; atau Partai Hindia). Bersama Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat, mereka didapuk sebagai Tiga Serangkai. Banyak tindakan ketiganya yang membuat mereka dibuang ke luar tanah air Indonesia, semua bertujuan untuk merintis kemerdekaan Hindia Belanda menjadi Indonesia Raya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pergerakan selanjutnya adalah hubungan antara agama dan nasionalisme, agama di sini awalnya adalah Islam yang digambarkan dengan terbentuknya Sarekat Islam (SI). Organisasi yang didirikan oleh H. Samanhudi ini menggunakan kata Islam karena kala itu yang dapat mempersatukan pribumi dan istilah yang dikenal pribumi adalah Islam. Kaum bumiputera belum mengenal “Indonesia” atau “Nasional”. Maka usaha merintis kemerdekaan juga dilakukan oleh pemeluk agama Islam secara nasional melalui SI.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam kelanjutannya, Sarekat Islam mengalami perpecahan antara kubu Tjokroaminoto dan Agus Salim melawan Semaun dan Darsono. Hal ini meningkat dengan penerapan disiplin partai yang mendepak golongan SI Merah di bawah Semaun dan Darsono sehingga mereka memilih untuk tetap tergabung di dalam ISDV ketimbang SI. Selanjutnya, SI pun pecah dengan keluarnya Sukiman Wirjosandjojo yang membentuk Partai Islam Indonesia (Pari) dan Agus Salim (setelah meninggalnya Tjokroaminoto) yang membentuk Pergerakan Penyedar. Hingga bisa kita lihat dalam buku ini bahwa kesaktian SI sebagai gerakan maupun organisasi nasional di Indonesia tidak terlepas dari peranan H. O. S Tjokroaminoto selalu ketuanya. Pada akhirnya, SI terpecah dan melemah. Meskipun begitu, SI masih tetap ada di Indonesia hingga sekarang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah mengulas tentang SI, Slamet Muljana juga membahas tentang gerakan yang dilakukan oleh kelompok marxis/komunis seperti, Tan Malaka, Semaun, Darsono, Alimin, Budi Sutjitro, Musso, Djamaluddin Tamin, Subakat, Ali Archam, Sardjono, H. M. Misbach dan nama-nama lainnya merupakan generasi awal PKI yang turut mendukung gerakan PKI hasil dari pertemuan Prambanan (kecuali Tan Malaka). Akibat dari gerakan tersebut adalah semakin diperketatnya pengawasan pemerintah kolonial Belanda terhadap gerakan nasionalis dan dibubarkannya PKI oleh Belanda. PKI terbukti tergesa-gesa dalam melakukan pemberontakan yang merugikan tidak hanya diri mereka sendiri, tapi kelompok-kelompok lain yang bertujuan untuk merintis kemerdekaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah mengulas kelompok BU, SI, hingga PKI, Slamet Muljana juga tidak lupa membahas kelompok yang secara eksplisit menggunakan kata “nasional” dalam namanya seperti Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai ini sangat erat dengan figur Soekarno yang diawali dengan &lt;em&gt;Algemeene Studieclub&lt;/em&gt; di Bandung lalu menjadi Perserikatan Nasional Indonesia dan pada akhirnya menjadi Partai Nasional Indonesia. Pengkategorian yang dilakukan oleh Muljana ditekankan kepada ideologi atau asas yang digunakan oleh organisasi/kelompok perintis kemerdekaan seperti Islam, Nasionalisme,  hingga Marxisme/Komunisme. Hanya BU yang tidak begitu dijelaskan terkait ideologi. Adapun uraian Muljana kerapkali memperlihatkan bahwa tokoh-tokoh nasional Indonesia sendiri sering bertarung sendiri antara yang satu dengan yang lainnya, seperti dicontohkan dalam perpecahan di tubuh SI.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Partai-partai dan kelompok-kelompok yang menggunakan istilah “nasional” dalam nama, anggaran dasar, maupun asas atau ideologinya mendapatkan porsi cukup banyak dalam buku ini, mulai dari Partai Nasional Indonesia (PNI) lalu Partai Indonesia (Partindo), Pendidikan Nasional Indonesia (PNI-Baru atau PNI-Pendidikan) hingga Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang digawangi A.K. Gani. Banyaknya kelompok-kelompok ini juga menandakan bahwa dalam perjuangannya, tokoh “nasionalis” di Indonesia juga tidak dapat menyelaraskan kepentingannya masing-masing, baik Syahrir dengan Sartono, Amir dengan Syahrir, bahkan Soekarno dan Hatta pun. Gerindo yang muncul setelah bubarnya Partindo merupakan kelompok nasionalis yang bisa dibilang “kooperatif” dengan Belanda yang berjuang melawan fasisme. Di Asia, pembawa fasisme adalah Jepang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Realitas yang ditangkap oleh Slamet Muljana sebenarnya menarik, bahwa kelompok nasional ini berusaha menarik massa tani dan buruh. Hampir dalam semua kelompok politik kecuali BU (BU lebih menekankan masyarakat ketimbang buruh &amp;amp; tani), baik SI, PKI, hingga kelompok nasionalis selalu menggunakan buruh dan tani sebagai basis untuk menarik massa politiknya, meskipun begitu, nasib buruh dan tani tidak berubah. Sehingga ada kesimpulan tersirat bahwa tani dan buruh hanya digunakan untuk kebutuhan politik saja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam perjuangan merintis kemerdekaan, ada dua taktik yang digunakan bapak Bangsa Indonesia: kooperatif dan nonkooperatif. Kooperatif ialah bekerja sama dengan pemerintah Belanda dalam memajukan rakyat, sedangkan nonkooperatif adalah taktik di mana gerakan nasional tidak mau bekerja sama dengan pemerintah kolonial. Tiap organisasi nasional Indonesia tidak selamanya menggunakan satu taktik/asas, melainkan berganti-ganti. Ada kalanya SI bersifat kooperatif, di lain waktu menjadi nonkooperatif. Banyak nama-nama yang tidak disingkat, terdengar hampir sama seperti Partai Indonesia (Partindo) dan Partai Indonesia Raya (Parindra). Meskipun terdengar sama, namun Partindo dan Parindra berbeda jauh dalam bergeraknya, Partindo ingin Indonesia merdeka, sedangkan Parindra ingin Indonesia mulia. Keduanya memiliki tujuan yang luhur namun cara yang berbeda dalam mencapai tujuannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak seluruh gerakan nasional bergerak di bidang politik, beberapa di antaranya berfokus pada bidang ekonomi, seperti Sarekat Islam awalnya adalah Sarekat Dagang Islam yang bergerak di bidang ekonomi dari para pedagang batik. Lalu Parindra memiliki program yang bertujuan memperkuat ekonomi rakyat melalui koperasi Rukun Tani. Kedua contoh tersebut kalah dominan dengan kelompok-kelompok atau partai-partai perintis kemerdekaan yang bergerak di bidang politik, bahkan dominasi partai politik yang sangat kuat justru kerap kali melahirkan kebijakan pemerintah kolonial yang keras.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam cerita sejarah nasional di Indonesia, sering ada gesekan antara golongan tua dan golongan muda, seperti yang diutarakan oleh Slamet Muljana, bahwa pembentukan BU diinisiasi oleh golongan muda, namun selanjutnya dijalankan oleh golongan tua yang memiliki pertimbangan lebih matang dalam melangkah. Kisah yang paling terkenal adalah usaha pemuda yang menculik dan mendesak Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan Indonesia setelah kejatuhan Jepang.Buku yang dibagi dalam berbagai macam kategori ini menyuguhkan kenyataan-kenyataan yang terjadi di Indonesia semasa usaha untuk merebut kemerdekaan dari tangan Belanda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini sangat pantas untuk dibaca segala kalangan karena bahasanya yang ringan dan gaya tutur penulis yang layaknya sedang bercerita. Memang tepat apabila buku ini diterbitkan untuk mendampingi para siswa SMA guna memahami sejarah nasionalnya dan mengenal kesadaran nasional juga nasionalisme. &lt;strong&gt;(&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;rez&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>25 Jan 2020</pubDate>
        <link>/memahami-nasionalisme-dan-sejarah-dengan-mudah</link>
        <guid isPermaLink="true">/memahami-nasionalisme-dan-sejarah-dengan-mudah</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Mewacanakan &quot;Demokrasi Deliberatif&quot; di Indonesia</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Diskursus Demokrasi Deliberatif di Indonesia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Fahrul Muzaqqi&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Airlangga University Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: xvii+233 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2019&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9786024730482&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://shopee.co.id/Diskursus-Demokrasi-Deliberatif-Indonesia-Fahrul-Muzaqqi-i.207062002.7910445453&quot;&gt;BELI BUKU INI&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demokrasi adalah pembahasan sentral dalam ilmu politik, karena mengulas wacana tentang kekuasaan yang meluas, yang berada di tangan rakyat. Kekuasaan semacam itu, begitu ideal dan imajinatifnya sehingga membutuhkan berbagai interpretasi dari ilmuwan politik, sehingga memunculkan berbagai istilah berkaitan dengan demokrasi, ada demokrasi prosedural, ada demokrasi esensial, demokrasi liberalis, demokrasi republikanisme hingga demokrasi deliberatif yang dibahas dalam buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jenis-jenis demokrasi di atas ialah modifikasi ilmuwan politik terhadap praktik demokrasi di daerahnya masing-masing. Bisa juga varian demokrasi tersebut adalah interpretasi para pengamat politik terhadap realitas sosial-politik di negaranya. Demokrasi pun tidak terlepas dari hubungan antara elit dan massa dalam praktik politik, adanya sirkulasi elit menandakan bahwa ada perebutan kekuasaan dan adanya demokrasi, karena tanpa demokrasi tidak mungkin ada perubahan wajah penguasa (kecuali ketika elit yang baru berkuasa justru menjadi diktator).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini merupakan pembahasan salah satu bentuk demokrasi, yakni demokrasi deliberatif yang merupakan skripsi dari Fahrul Muzaqqi. Penulis sendiri adalah dosen Departemen Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga yang mengampu mata ajar “Demokrasi dan Demokratisasi.” Fahrul juga aktif di Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) dan &lt;em&gt;Center for Security and Welfare Studies&lt;/em&gt; (CSWS).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis memulai buku ini dengan membeberkan sejajaran nama ilmuwan politik yang mengulas tentang demokrasi deliberatif atau konsep demokrasi yang mendekati demokrasi deliberatif, di antaranya adalah Jürgen Habermas, Joshua Cohen, Jon Elster, John Rawls, sampai Anthony Giddens. Pemikiran-pemikiran mereka dielaborasi sedemikian rupa guna memberikan gambaran umum tentang teori demokrasi deliberatif. Bagian ini mengajak kita untuk tidak bertumpu pada definisi tunggal terhadap arti demokrasi deliberatif melainkan proses pemahaman terhadap istilah tersebut. Penggunaan istilah deliberatif sendiri pertama kali digunakan oleh Joseph Bessette yang nantinya akan dikembangkan oleh pemikir-pemikir yang telah disebutkan sebelumnya, namun istilah deliberatif atau &lt;em&gt;deliberatio&lt;/em&gt; sendiri sudah dikenal semenjak zaman Pericles di era Yunani Kuno.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fahrul mengutarakan dalam Bab 1 bahwa demokrasi deliberatif mengandaikan legislasi secara nasional, partisipasi politik dan pemerintahan sipil berbasis komunikasi yang bebas dominasi di antara tarik menarik kuat dari &lt;em&gt;civil society&lt;/em&gt;, kelompok kepentingan, negara, dan pasar. Dalam istilah demokrasi deliberatif, aktivitas politik secara normatif digerakkan oleh rasio komunikatif yang berlawanan dengan pasar yang cenderung bergerak dengan rasio instrumental-strategis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selanjutnya, penulis menguraikan bahwa wacana demokrasi deliberatif tidak dapat dilepaskan dari elemen pentingnya, yaitu teori etika diskursus yang merupakan teori komunikasi politik yang berusaha mentematisasi permasalahan politik tertentu secara reflektif yang hendak memahami tingkatan-tingkatan komunikasi untuk mengubah segala aspirasi masyarakat sipil ke dalam bahasa sistem sehingga dapat diakomodasi dan dipahami oleh sistem politik. Demokrasi deliberatif juga tidak bisa dilepaskan dari rasionalitas komunikatif yang merupakan rasionalitas dialogis-intersubjektif di mana interaksi manusia digerakkan oleh tindakan komunikatif untuk mencapai saling pemahaman antar manusia yang bebas dan sederajat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demokrasi deliberatif turut menyentuh pemikiran Hannah Arendt tentang kekuasaan komunikatif yang artinya adalah kekuasaan bukanlah milik seseorang, melainkan pluralitas pelaku yang digabung untuk satu tujuan politik bersama. Kekuasaan ini tidaklah alamiah melainkan kreasi manusia berbentuk tindakan. Karena adanya pluralitas maka kekuasaan berkaitan erat dengan ruang publik, di mana aktor berkumpul dan bertindak untuk mencapai kepentingan publik, untuk itu, legitimasi politik bergantung pada kekuasaan yang terbentuk dalam dukungan dan persetujuan rakyat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perdebatan teoritik dalam buku ini sangat banyak dan kaya literatur namun di sisi lain dapat membuat bingung pembacanya, terutama orang awam yang tidak begitu terbiasa dengan istilah-istilah akademis dalam ilmu politik. Penggunaan bahasa, seperti &lt;em&gt;linguistifikasi&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;deliberatif&lt;/em&gt;, dan sejenisnya mungkin ke depan perlu lebih disederhanakan. Adapun perlu diberi porsi yang lebih terkait dengan relevansinya di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terkait relevansi demokrasi deliberatif di Indonesia, Fahrul memberikan beberapa contoh, termasuk munculnya Forum Warga. Adapun usaha beberapa pemerintah daerah yang membuka kantornya langsung untuk keluhan dari masyarakat juga dapat dilihat sebagai proses deliberasi di mana ada komunikasi, bahkan perdebatan antara masyarakat dan pejabat, hingga dampaknya adalah pembentukan ruang publik sebagai &lt;em&gt;platform&lt;/em&gt; untuk melaksanakan demokrasi deliberatif. Kemunculan Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) juga merupakan usaha untuk mendemokratisasi kehidupan birokrasi di Indonesia, di mana kebutuhan masyarakat di daerah bisa langsung didengar oleh pejabat terpilih maupun pejabat birokrasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, Indonesia juga sudah mengenal secara tersirat demokrasi deliberatif dalam bentuk musyawarah mufakat yang acap kali digunakan untuk menyelesaikan permasalahan. Dalam perkembangannya, kata musyawarah untuk mencapai mufakat menjadi landasan mayoritas warga Indonesia dalam menuntaskan permasalahan dengan jalan non-litigasi (tidak melalui meja hijau biasanya dalam bentuk mediasi biasanya). Adat di Indonesia sudah membiasakan masyarakat kita untuk menyelesaikan masalahnya dengan istilah “kekeluargaan”. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>11 Jan 2020</pubDate>
        <link>/mewacanakan-demokrasi-deliberatif-di-indonesia</link>
        <guid isPermaLink="true">/mewacanakan-demokrasi-deliberatif-di-indonesia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Thomas Aquinas sebagai Ilmuwan Politik</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Filsafat Politik &amp;amp; Hukum Thomas Aquinas&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Simplesius Sandur&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Kanisius&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: xi+355 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2019&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9789792158564&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam perkuliahan &lt;em&gt;Pemikiran Politik Barat&lt;/em&gt; (PPB) di jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga, tercantum nama Thomas Aquinas sebagai salah satu tokoh yang harus dipelajari pemikirannya. Adapun kajian mengenai Santo Aquinas hanya terbatas untuk diulas dalam 100 menit. Dampaknya adalah mahasiswa bisa saja kurang memahami pondasi pemikiran politik Barat yang muncul setelah “Abad Kegelapan.”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Santo Thomas Aquinas merupakan keturunan dari keluarga bangsawan (&lt;em&gt;aristocrat&lt;/em&gt;) di Italia yang selanjutnya menempuh jalan sebagai seorang biarawan dan mengembangkan ilmu teologi dalam Katolik. Ia dididik secara agamis dengan disekolahkan di &lt;em&gt;Studium Generale&lt;/em&gt; (kuliah umum) yang menjadi bagian dari Universitas Bologna di Italia. Dari perkuliahan ini dia mengenal pemikiran Aristoteles dan juga Averroes (Ibnu Rusyd) yang juga memiliki komentar-komentar terhadap pemikiran Aristoteles.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aquinas biasanya mulai dikaji setelah Santo Aurelius Agustinus dari Hippo. Aquinas hidup pada abad ketiga belas, akhir abad Pertengahan. Karyanya &lt;em&gt;Summa Theologica&lt;/em&gt; merupakan tulisan monumental yang hingga sekarang masih dikaji oleh kawan-kawan yang berfokus pada Teologi Politik (Katolik). Buku ini diawali dengan biografi pemikiran Aquinas, dimana disebutkan bahwa ia adalah anggota Ordo Dominikan yang juga disebut Ordo Pengkhotbah. Penulis mengutarakan bahwa pemikiran Aquinas merupakan antitesis dari pemikiran modern yang digawangi oleh Rene Descartes. Peresensi sepakat dengan pandangan penulis bahwa tanpa pemikiran Aquinas tidak mungkin muncul pemikiran modern Descartes. Kita akan mengenal cahaya apabila kita juga mengenal kegelapan, bukan berarti Aquinas adalah kegelapan dan Descartes adalah cahaya, tapi sebuah pemikiran muncul karena ada yang bisa diperbandingkan dengan pemikiran tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perbedaan yang mendasar antara Thomas Aquinas dengan Rene Descartes adalah metodologi dalam menemukan kebenaran dan cara pandang terhadap dunia, namun pemikiran Descartes lahir untuk mengkritik cara pandang dan metodologi Thomas Aquinas. Prinsip kebenaran dari pemikiran Aquinas yang lahir pada masa transisi abad memiliki relevansi di bagian kebenaran, di mana kebenaran selalu bersifat mutlak, bahwa manusia selalu diharapkan untuk menghindari yang buruk dan mendekati yang benar, sedangkan apa yang selalu diajarkan dalam Ilmu Politik mengenai “kebaikan bersama” merupakan salah satu pandangan yang dibawa oleh Thomas Aquinas, yang disebut &lt;em&gt;bonum commune&lt;/em&gt; (kebaikan Bersama).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pemikiran politik Aquinas berasal dari filsafat politik yang dicetuskan oleh Aristoteles. Ia menyebutnya sebagai &lt;em&gt;bonum commune&lt;/em&gt; atau kebaikan bersama. Politik dipahami sebagai suatu ilmu atau filsafat yang memiliki tujuan untuk mencapai kebaikan bersama. Pandangan semacam ini sangatlah ideal mengingat Thomas Aquinas adalah seorang Teolog. Dalam membicarakan filsafat politik ala Aquinas, karya yang dirujuk oleh Simplesius Sandur adalah &lt;em&gt;De regimine principum&lt;/em&gt; yang ditulis Aquinas untuk Raja Siprus dan komentarnya terhadap buku Aristoteles, &lt;em&gt;Politic&lt;/em&gt; yang berjudul &lt;em&gt;Sententia libri Politicorum&lt;/em&gt;. Aquinas mengkategorikan politik sebagai ilmu praktis dimana politik berkaitan dengan tindakan mengatur negara atau kota yang pandangan ini berasal dari Yunani (Aristoteles). Sehingga politik disebut sebagai &lt;em&gt;civilis scientia&lt;/em&gt;. Karena politik berhubungan dengan mengatur negara dan/atau kota, maka politik juga mengatur manusia dengan istilah &lt;em&gt;hominum considerat ordinatione&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apabila politik itu “mengatur” maka berhubungan pula dengan hukum (&lt;em&gt;lex&lt;/em&gt;), yang pada akhirnya bermuara pada ungkapan manusia sebagai &lt;em&gt;zoon politikon&lt;/em&gt;. Ranah akal (&lt;em&gt;reason&lt;/em&gt;) yang hilang dalam aktivitas politik membuat mereka yang terjun ke dalam politik praktis bertujuan mencari keuntungan pribadi (&lt;em&gt;bonum privatum&lt;/em&gt;).  Disimpulkan oleh penulis dalam komentarnya bahwa filsafat politik Thomas Aquinas berkaitan dengan persoalan yang menyangkut kepentingan manusia untuk mencapai kesempurnaan dalam aktivitas politiknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun buku ini juga melakukan perbandingan antara filsafat politik Aquinas dengan Agustinus. Agustinus, sebagai pemikir Nasrani yang lahir jauh sebelum Aquinas, membahas politik dalam ranah Cinta di karyanya Kota Allah (&lt;em&gt;De Civitate Dei&lt;/em&gt;), di mana dunia terpecah menjadi dua jenis kota: Kota Allah, di mana penduduknya berusaha mencapai kesempurnaan melalui cintanya terhadap Tuhan, sedangkan Kota Duniawi merupakan kota dimana penduduknya terlalu cinta kepada kebutuhan duniawi. Penyimpangan dari kecintaan terhadap dunia, yang melahirkan kecintaan terhadap duniawi, yang memunculkan suatu pemerintahan atau politik yang muncul suatu keinginan untuk mendominasi antara satu manusia terhadap manusia lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan Agustinus yang Neoplatonisme berbeda dengan Aquinas yang mendasari pemikirannya dari Aristoteles yakni &lt;em&gt;Politic&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Nicomachean Ethics&lt;/em&gt;. Pandangan yang melatarbelakangi pemikiran Aquinas adalah manusia sebagai &lt;em&gt;zoon politikon&lt;/em&gt; dimana identitas itu juga melekat dengan manusia sebagai &lt;em&gt;homo socius&lt;/em&gt; (manusia sosial/bermasyarakat) untuk melaksanakan &lt;em&gt;zoon politikon&lt;/em&gt; dalam kehidupan bermasyarakat. Secara kodrati, manusia adalah makhluk politik dan sosial yang hidup dalam sebuah komunitas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Disebutkan dalam buku ini bahwa Thomas Aquinas melihat bahwa masyarakat atau kelompok manusia tersusun atas perbedaan minimal dari segi kelamin, usia, jiwa yang berkaitan dengan tingkat pemahaman akan kebenaran dan pengetahuan. Manusia tidak sama bukan secara kodrati tapi dalam statusnya sebagai anggota masyarakat. Pemerintahan muncul dari suatu perbedaan dalam masyarakat. Untuk mencapai &lt;em&gt;bonum commune&lt;/em&gt;, masyarakat selalu mencari sosok yang dapat mengawal atau mengarahkan kepada kebaikan bersama tersebut. Sehingga natural apabila manusia (masyarakat) digerakkan oleh sesuatu atau seseorang yang lebih kuat, atau mungkin paling kuat (&lt;em&gt;primus interpares&lt;/em&gt;). Digerakkan oleh perintah-perintah orang yang lebih superior dari dirinya. Maka dari itu, baik Aristoteles atau Aquinas mempercayai monarki sebagai rezim yang terbaik (atau mungkin aristokrat).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dominasi dari manusia yang superior terhadap yang inferior menurut Aquinas adalah hal yang biasa. Kehadiran pemimpin menjadi syarat mutlak (absolut) untuk mencapai kebaikan bersama. Maka dari itu perbedaan mendorong terbentuknya struktur pemerintahan dalam masyarakat. Meskipun terlihat mendukung aristokrasi atau monarki yang di dalamnya ada perbedaan, namun penekanan Aquinas adalah pemimpin harus memiliki keutamaan yang dapat membawa masyarakat yang dipimpinnya mencapai &lt;em&gt;bonum commune&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam &lt;em&gt;De Regno&lt;/em&gt;, Aquinas menjelaskan tentang bagaimana manusia yang hidup bersama membentuk sebuah komunitas sosial yang dalam skala besar akan disebut sebagai negara, yang perlu ada pemimpinnya. Politik dalam pandangan Aquinas adalah tindakan yang didasarkan pada tujuan tertentu. Tujuan yang menjadi landasan seseorang bertindak. Karena aktivitas politik memiliki tujuan, maka seluruh potensi yang ada akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan untuk berpikir sehingga memiliki kehendak, menurut Sandur, kehendak dan kebebasan adalah satu kesatuan. Manusia adalah agen kebebasan yang selalu berkaitan dengan kebaikan yang tertinggi yakni Tuhan, seperti sifat manusia dalam Islam, manusia adalah &lt;em&gt;hanif&lt;/em&gt;, mendekat kepada kebaikan atau kebenaran yang mutlak yakni Allah S.W.T. Konsepsi kebebasan dari Aquinas menunjukkan kebebasan manusia untuk berpikir dan bertindak namun dengan tujuan mengenali kebaikan mutlak (Tuhan). Jadi tujuan akhir dari kehendak dan pikiran bebas manusia adalah Tuhan, maka dari itu filsafat politik Thomas berkaitan dengan moral dan etika. Maka dari itu moral merupakan perbuatan yang benar, karena perbuatan yang tidak benar tidak mungkin mencapai tujuan yang benar pula.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Simplesius Sandur mengutarakan bahwa Aquinas juga menyinggung terkait masyarakat, di mana masyarakat muncul untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu yang ada di dalamnya. Manusia secara individu tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri, maka dari itu, perbedaan yang ada dalam masyarakat membentuk interdependensi (saling ketergantungan) antara satu manusia dengan manusia lainnya. Peranan yang terbentuk bagi individu membuat mereka akan saling tergantung satu dengan lainnya karena perbedaan peran yang pasti ada dalam sebuah masyarakat. Bisa disimpulkan bahwa masyarakat terbentuk karena adanya kekurangan dalam individu, karena itu ia membutuhkan orang lain.Apa yang dijelaskan Sandur tentang pemikiran Aquinas baik tentang negara maupun masyarakat, saling berhubungan satu dengan yang lain karena merupakan satu kesatuan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan atau filsafat politik Aquinas memang terlihat sangat ideal, namun hal tersebut menjadi &lt;em&gt;moral compass&lt;/em&gt; kita dalam melaksanakan kegiatan politik agar tidak lupa dimensi moral dan etika guna mencapai kebaikan bersama. Guna memahami pemikiran politik Aquinas, rasanya perlu juga untuk mempelajari kondisi (baik dalam lingkup ruang maupun waktu) dimana ia hidup, maka dari itu periodisasi pemikiran politik barat dibentuk untuk membantu mahasiswa memahami pola pikir yang terbentuk dalam diri filsuf politik yang sedang diulas. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>16 Dec 2019</pubDate>
        <link>/thomas-aquinas-sebagai-ilmuwan-politik</link>
        <guid isPermaLink="true">/thomas-aquinas-sebagai-ilmuwan-politik</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Revolusi Negara-negara Berkembang dan Terbelakang</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: The Long Revolution of the Global South&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Samir Amin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: &lt;a href=&quot;https://monthlyreview.org/product/the-long-revolution-of-the-global-south/&quot;&gt;Monthly Review Press&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: 480 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2019&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9781583677759&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebuah buku telah diterbitkan pada tahun 2019 dengan nama Samir Amin sebagai penulisnya, padahal beliau wafat pada tahun 2018. Inilah hebatnya karya hasil pemikiran seseorang, bahkan setelah di liang lahat pun masih menghasilkan naskah (jangan dimaknai secara harfiah). Samir Amin, seorang penulis berhaluan Marxis dengan sudut pandang teori sistem dunia dan teori ketergantungan menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 12 Agustus 2018, akan tetapi keberhasilan seorang penulis dan pemikir adalah produk tulisan dapat berupa artikel, esai, sampai dengan buku, dan Samir Amin merupakan salah satu yang paling produktif dan paling berhasil.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya cukup terkejut mendapati buku ini setebal 480 halaman. Cukup tebal untuk hitungan karya tulis yang diterbitkan secara &lt;em&gt;posthumous&lt;/em&gt; (setelah wafat). Tak mengejutkan juga ketika melihat daftar isi bahwa buku ini dibagi secara tematik regional yang membahas keadaan beberapa wilayah seperti: jazirah Arab, Afrika, Asia, Amerika Selatan, Eropa Timur, Uni Soviet/Rusia, China, Vietnam dan Kuba. Negara-negara yang disebutkan pun kebanyakan menggunakan Sosialisme sebagai haluan politik / ideologinya. Memang penulis memiliki ketertarikan tersendiri untuk melihat negara-negara sosialis seperti apa yang ia sampaikan dalam bukunya &lt;em&gt;A World We Wish to See&lt;/em&gt; atau dalam terjemahan Bahasa Indonesianya, “Dunia yang Hendak Kita Wujudkan”, dimana pada halaman 6 - 10 menjelaskan tentang pembangunan cita-cita Sosialisme melalui Internasionale pertama hingga keempat (meskipun pandangan beliau cukup negatif terkait Internasionale Keempat yang disebutnya sebagai “sama sekali tidak menghasilkan inovasi”).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akan tetapi, sudut pandang Samir cukup positif dalam melihat Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTT Asia-Afrika) yang dilaksanakan di Bandung pada tahun 1955, lokasi pelaksanaan KTT membuat Amin kerap kali menyebutnya sebagai Konferensi Bandung yang dianggap berhasil karena menciptakan “satu lompatan besar bagi rakyat di Negara-Negara Selatan” dalam berbagai bidang (Amin: 2010, 10). Kata “Negara Selatan” merupakan ciri khas Amir, yang menurut saya, kerap digunakan Amir untuk menyebut negara-negara yang dianggap berkembang dan terbelakang dibanding negara-negara Utara atau Barat yang lebih superior dalam segala hal. Pemisahan antara Selatan dan Barat ini merupakan ciri khas Samir Amin, dimana koleganya (Andre Gunder Frank &amp;amp; Immanuel Wallerstein) juga melakukan hal yang sama dengan pemisahan menggunakan istilah: metropolis dan satelit (A. Gunder Frank) dan pusat serta periferi (Immanuel Wallerstein).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Samir Amin, dalam bukunya &lt;em&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/samir-amin-and-contemporary-capitalism-in-china/&quot;&gt;The Implosion of Contemporary Capitalism&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; di halaman 43, menyampaikan istilah &lt;em&gt;emergence&lt;/em&gt; berkaitan dengan &lt;em&gt;the south&lt;/em&gt; (negara-negara Selatan) karena negara Selatan sedang mendapati dirinya sedang naik daun pertumbuhan industrinya secara berkelanjutan (&lt;em&gt;sustainable&lt;/em&gt;) dan sedang memperkuat kapasitas industrinya untuk persaingan global. Salah satu contoh yang dianggap Samir Amin sebagai &lt;em&gt;Emerging Countries&lt;/em&gt; adalah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang menempuh jalur kapitalisme agar terintegrasi lebih cepat dalam Pasar Global, bahkan Amin menyebut kapitalisme RRT sebagai Kapitalisme Negara. Guna menjelaskan kapitalisme negara dari RRT, Amin (2013, 72) mengutarakan tujuan-tujuannya: untuk membentuk sistem industrial modern berdaulat dan terintegrasi, mengelola industri produksi kecil di perkotaan, dan mengontrol integrasi RRT ke dalam sistem dunia yang didominasi oleh kekuatan &lt;em&gt;The Triad&lt;/em&gt; (Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang). Kemajuan, menurut saya, merupakan hasil dari pergolakan yang dibentuk sejak Mao Zedong hingga Deng Xiaoping berkuasa yang selalu bergerak memasukkan RRT ke dalam sistem dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apabila di RRT terbentuk kapitalisme negara karena adanya Maoisme (komunisme ala China), negara-negara Arab juga menghadapi gejolak revolusi bernama Tentara &lt;em&gt;Arab Springs&lt;/em&gt;. Jika pergolakan di RRT untuk membentuk negara sosialis modern dimulai semenjak 1911 dengan berkembangnya ideologi nasionalisme yang digawangi oleh Dr. Sun Yat Sen, daerah Jazirah Arab memulai pergolakannya semenjak 1960-an dengan kemunculan-kemunculan Negara-Bangsa yang “tidak begitu demokratis” seperti Aljazair di bawah Boumediene, Mesir di bawah Gamal Abdul Nasser, dan rezim Baath di Irak dan Suriah. Mereka mendapatkan dukungan masyarakat karena program edukasi, kesehatan dan pelayanan publik lain yang masif, industrialisasi, garansi untuk mendapatkan pekerjaan dan mobilitas sosial (Amin: 2016, 6). Kegamangan akibat buruknya demokrasi di Jazirah Arab ini akan memunculkan &lt;em&gt;Arab Spring&lt;/em&gt; yang dimulai pada tahun 2011. Kedua kejadian di atas terjadi di negara-negara Selatan untuk membentuk suatu Negara-Bangsa baru terlepas memiliki hasil-hasil yang berbeda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masuk kepada buku terbitan tahun 2019. Buku ini dimulai dengan Bab mengenai Jazirah Arab. Pada halaman 51, Samir Amin berusaha memprediksi masa depan Jazirah Arab menjadi tiga: modernisme borjuis, politik Islam reaksioner dan Arab revolusioner yang universalis. Pergerakan modern di Jazirah Arab disampaikan dalam buku ini sama dengan di buku &lt;em&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/mesir-bangkit-bangun-demokrasi/&quot;&gt;The Reawakening of the Arab World&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, yang ditandai dengan munculnya Mesir di bawah Nasser, Baath di Irak dan Suriah, dan Aljazair di bawah Boumediene.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akar pergolakan di Jazirah Arab ini dimulai dengan sebutan yang sama seperti Renaisans, yakni Nahdah, artinya kebangkitan. Nahdah sendiri mulai muncul pada abad kesembilan belas. Nahda dalam konteks Arab merupakan reaksi atas keterkejutan. Istilah ini tidak menghasilkan suatu kemodernan dan sekularisme yang menjadi prakondisi untuk demokrasi yang menjadikan politik sebagai sebuah domain untuk inovasi yang bebas (Amin: 2019, 54). Maka dari itu, meskipun digunakan untuk pembaharuan, namun Nahdah berbeda dengan Renaisans yang membawa semangat sekularisme dan demokrasi, sedangkan Nahdah merupakan gerakan pembaharuan untuk interpretasi ulang terhadap agama guna menghindarkan Arab dari dampak yang tidak jelas atau kabur (&lt;em&gt;obscurantist&lt;/em&gt;). Gerakan politik Islam nantinya juga dibentuk untuk mematuhi kepentingan kelas komprador dan kapitalis (Amin; 2019, 58). Hal ini dapat ditunjukkan dengan bagaimana Saudi Arabia menjadi negara yang stabil di Jazirah Arab yang tidak terlepas dari kerjasamanya dengan Amerika Serikat, terutama permasalahan minyak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Daerah yang juga menjadi kajian Samir Amin dalam buku ini adalah Afrika. Mayoritas dari negara-negara Afrika adalah hasil dari kolonialisme dan kemunculan negara-bangsa yang tidak terlepas dari Konferensi Bandung dan Gerakan Non-Blok. Afrika dianggap rentan oleh Amin karena kebanyakan merupakan bekas daerah jajahan dan belum masyarakatnya masih belum “matang”. Kelompok komprador memanfaatkan kekosongan pemerintahan yang digunakan untuk keuntungan kaum komprador, hal ini merupakan akibat dari dekolonisasi yang terlalu cepat (Amin: 2019, 106). Kenyataan ini ditangkap oleh Samir Amin karena keadaan yang tidak stabil di negara-negara Afrika dan menjamurnya pemberontakan dengan berbagai macam ideologi. Dengan menghubungkan pernyataan Amin bahwa kelompok Islam politik patuh terhadap kepentingan kelompok kapitalis, maka di Afrika pun ada pemberontakan dengan Islam sebagai dasarnya seperti Al-Shabaab di Somalia dan Boko Haram di Nigeria. Selain itu ada &lt;em&gt;Lord’s Resistance Army&lt;/em&gt; yang menggunakan Nasrani sebagai pedomannya dan diduga berlokasi di Sudan Selatan juga merupakan pemberontakan yang cukup terkenal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyaknya pemberontak di Afrika menandakan ketidakmampuan pemerintahan negara-negara Afrika dalam menyelesaikan konflik pasca dekolonisasi. Beberapa negara dari benua Afrika yang dicontohkan penulis dalam buku ini adalah Ghana, Congo, Burkina Faso, Benin, Tanzania, Madagaskar, dan Ethiopia. Adapun Samir juga berdiskusi dengan pemikir ternama dari Afrika, Amilcar Cabral mengenai bunuh diri kelas dari borjuis kecil. Kata bunuh diri kelas berasal dari pemikiran Amilcar yang merupakan hasil observasinya terkait bagaimana para borjuis kecil berhubungan dengan para petani yang tercipta dari situasi yang terbentuk oleh peperangan, bagi Amilcar, perjuangan untuk sosialisme adalah proses jangka panjang (Amin: 2019, 139).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Samir Amin sebagai salah satu pemikir dengan haluan sistem dunia (melihat akumulasi kapital dalam skala dunia) sekelompok dengan Immanuel Wallerstein, Andre Gunder Frank dan Giovanni Arrighi. Maka dari itu fokus beliau adalah melihat fenomena-fenomena yang berkembang di negara-negara Selatan. Indonesia sebagai salah satu “negara berkembang” di Asia Tenggara juga tidak luput dari pembahasan Samir Amin. Ia mengutarakan bahwa semenjak 1966, Indonesia telah menjadi &lt;em&gt;off limit&lt;/em&gt; bagi orang seperti beliau, ia juga menyampaikan bahwa ia mengenal pimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mendengar fungsionaris pemerintah Sukarno ketika membahas tentang Gerakan Non-Blok. Menariknya, Samir Amin pada buku ini halaman 251 menyampaikan bahwa Sukarno sama dengan Gamal Abdul Nasser di Mesir, dimana secara mendasar keduanya anti-komunis dan kekuatannya didasarkan kepada kekuatan borjuis kecil, akan tetapi, perbedaannya terletak pada kekuatan PKI yang lebih besar ketimbang partai komunis Mesir, sehingga Sukarno harus menerimanya sebagai kawan. Begitu kuatnya PKI sehingga diberantas oleh pemerintahan Suharto.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ia juga menyampaikan bahwa ia berusaha dan berhasil menghubungi orang yang menolak untuk mendukung Rezim Suharto, yakni Adi Sasono yang disebut sebagai pejuang demokrasi dan keadilan sosial, juga pengkritik dari strategi pembangunan kapitalis yang didukung oleh Amerika Serikat dan Bank Dunia. Akan tetapi terlihat seperti ada kekecewaan dalam pandangan Amin ketika mengutarakan bahwa pada akhirnya Adi Sasono mendekat kepada B. J. Habibie. Amin sempat berlibur ke Bali pada 1973 dan belajar sedikit mengenai sejarah Indonesia dimana ia menyimpulkan bahwa stabilitas Indonesia bukanlah tujuan dari negara kapitalis seperti Amerika Serikat agar negara tersebut tetap dibawah hegemoninya. Tulisannya terkait Indonesia dihubungkan dengan Timor Leste juga. Selain Indonesia, negara Asia lainnya yang turut dibahas adalah Thailand, Malaysia, Korea, dan masih banyak jajaran negara “Selatan” lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak negara-negara lain yang turut diulas oleh Samir Amin, namun Indonesia memang punya bagian tersendiri bagi beliau karena menjadi promotor dan tuan rumah dari Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika di Bandung, dimana negara-negara Barat atau Utara menganggap bahwa para &lt;em&gt;underdog&lt;/em&gt; tidak mungkin bisa menghimpun kekuatan, menjadi terbantahkan. Samir Amin mendedikasikan hidupnya hingga meninggal pada 12 Agustus 2018 untuk mengulas bagaimana kekuatan imperialis komprador seperti Amerika Serikat, Eropa dan Jepang (&lt;em&gt;The Triad&lt;/em&gt;) untuk men-subjugasi negara-negara Selatan agar mereka tetap bergantung pada negara-negara Utara. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>13 Dec 2019</pubDate>
        <link>/revolusi-negara-negara-berkembang-dan-terbelakang</link>
        <guid isPermaLink="true">/revolusi-negara-negara-berkembang-dan-terbelakang</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Memperjuangkan Islam sebagai Dasar Negara: Masyumi dan Pergolakan Konstituante</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Menuju Republik Indonesia Berdasarkan Islam&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: K.H.M. Isa Anshari, Mr. Kasman Singodimedjo, Prof. Dr. A. Kahar Muzakkir&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Sega Arsy&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: 192 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2019 (Cetakan Kedua)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9786028635591&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Partai Majelis Syuro’ Muslimin Indonesia (Masyumi) merupakan partai dengan azas Islam tertua di Indonesia. Sejarah mengenai Masyumi bisa ditarik ke belakang sampai pada era penjajahan Jepang, di mana partai ini masih bernama Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Di dalamnya pun, partai ini tidak diisi oleh satu golongan saja, melainkan banyak organisasi maupun individu yang memperjuangkan Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama’ (NU), Persatuan Islam (Persis), dan lain sebagainya. Masyumi juga terkenal sebagai partai kader di mana anggotanya terkenal dalam meja perundingan seperti Mohammad Roem atau Mohammad Natsir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini merupakan kumpulan pidato dari tiga anggota Masyumi yang berlainan latar belakang: K.H. M. Isa Anshari dari Persis, Mr. Kasman Singodimedjo dan Prof. Kahar Muzakkir dari Muhammadiyah, akan tetapi semuanya melebur menjadi satu di Masyumi untuk memperjuangkan satu hal: Islam sebagai Dasar Negara. Permasalahan ini menjadi sangat menarik karena perjuangan menegakkan Islam ditempuh umatnya di Indonesia melalui dua front: konstitusional melalui Masyumi dalam sidang-sidang konstituante dan Jihad melalui peperangan yang dilakukan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo dan Darul Islam / Tentara Islam Indonesia (DI/TII)-nya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Naasnya, justru jalur konstitusional berakhir lebih dahulu dengan dibubarkannya Konstituante melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang dikeluarkan oleh Presiden Sukarno. Apalagi dengan pecahnya NU (menjadi partai sendiri) dari Masyumi turut berdampak kepada perolehan suara Masyumi pada Pemilihan Umum (Pemilu) pertama di tahun 1955. Meskipun Masyumi masih berada pada posisi kedua (setelah Partai Nasional Indonesia / PNI). Bisa dibilang, Masyumi selalu konsisten untuk memperjuangkan Islam sebagai Dasar Negara yang termaktub dalam buku ini. Salah satu perdebatan sengit mereka tidak hanya dengan PNI, melainkan juga dengan Partai Kristen dan pastinya, Partai Komunis Indonesia (PKI).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pidato pertama disampaikan oleh Prof. Abdul Kahar Muzakkir (orang yang berbeda dengan Kahar Muzakkar dari DI/TII). Ia merupakan tokoh Masyumi sekaligus Muhammadiyah yang turut dalam Panitia Sembilan yang merumuskan dasar negara Indonesia, di mana kalimat &lt;em&gt;Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya&lt;/em&gt; merupakan bagian penting dari hasil rapat Panitia Sembilan. Dengan hilangnya kalimat tersebut dalam dasar negara Indonesia, Kahar Muzakkir menganggap bahwa Pancasila telah dikebiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beliau diberi waktu dia wal sebagai saksi sejarah bahwa kalimat tersebut telah disepakati oleh seluruh hadirin dalam Panitia Sembilan, termasuk A. A. Maramis yang merupakan perwakilan kelompok Kristen. Dalam memperjuangkan Islam sebagai Dasar Negara, Kahar Muzakkir menyatakan bahwa jika ada yang mengkhianati perjanjian, maka bukanlah umat Islam yang sudah jelas-jelas kehilangan kesempatan dengan hilangnya kalimat “Syariat Islam” dalam dasar negara Indonesia. Uraian yang diberikan oleh Kahar Muzakkir merupakan jawaban dari pertanyaan Prof, Mr. Dr. R. M. Soeripto dari PNI kepada fraksi pendukung Islam sebagai Dasar Negara. Menariknya adalah, tiap anggota Masyumi yang berpidato dalam buku ini, memang dipersiapkan untuk menghadapi isu tertentu dalam sidang konstituante.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pidato kedua yang direkam dalam buku ini, disampaikan oleh Mr. Kasman Singodimedjo. Kasman menjelaskan bahwa dasar negara dapat digambarkan sebagai: rumusan pendapat yang sama dan/atau rumusan pendapat yang berbeda. Pendapat yang berbeda dalam merumuskan dasar negara ialah: Sosial-Ekonomi sebagai dasar negara, Islam sebagai dasar negara, atau Pancasila sebagai dasar negara. Namun ada pula persamaan pendapat dalam perumusan dasar negara bahwa dasar negara harus sesuai dengan kepribadian bangsa dan semangat perjuangan 17 Agustus 1945. Musyawarah diharapkan menjadi dasar untuk menyelesaikan segala permasalahan kenegaraan, jaminan terhadap kebebasan beragama dan beribadah juga jaminan terhadap perikemanusiaan dan keadilan sosial turut menjadi landasan yang diharapkan dalam perumusan dasar negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kesamaan pandangan dalam perumusan dasar negara Republik Indonesia terletak kepada harapan-harapan apa saja yang dapat dipenuhi oleh dasar negara tersebut, sedangkan apa bentuk dasar negara Indonesia masih diperdebatkan dengan melakukan pemaknaan masing-masing terhadap Pancasila bahkan melakukan kritik terhadap Pancasila seperti apa yang dilakukan oleh Masyumi guna menghadapi PKI. Namun tugas “menggebuk” PKI tidak dilakukan oleh Kasman. Argumentasi beliau ditekankan kepada permasalahan dasar negara dengan berpegang teguh untuk memperjuangkan Islam sebagai dasar negara melalui argumentasi-argumentasinya: sifat Islam yang universal, anggapan agama Islam terhadap kecerdasan berpikir manusia, diwajibkannya musyawarah dan demokrasi berlandaskan kebenaran dan hak oleh Islam, dan kewajiban pemimpin dalam Islam untuk bertanggungjawab kepada masyarakatnya dan Tuhannya (Allah).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mengenai kemaslahatan umat manusia, Kasman menyatakan bahwa Islam turut memiliki aturan untuk pemerataan dalam bentuk: zakat (fitrah dan maal), sedekah, wakaf, kurban, fidyah dan aqiqah. Hal tersebut menunjukkan bahwa agama ini berusaha mengentaskan kemiskinan melalui berbagai cara yang diatur olehnya. Menyalurkan kekayaan dari orang kaya kepada yang miskin. Ia pun menyampaikan bahwa orang Islam dianjurkan menjadi kaya, namun tidak menjadi imperialis-kapitalis, melainkan untuk menunaikan kewajibannya berkontribusi mengentaskan kemiskinan melalui cara-cara di atas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sesudah kedua orang tersebut menyampaikan pidatonya, masuk kepada orang terakhir sekaligus penutup, yakni K.H. M. Isa Anshari yang merupakan tokoh Persatuan Islam (Persis), sebuah organisasi Islam yang di dalamnya juga bernaung Ahmad Hassan dan Mohammad Natsir. Isa memulai pidatonya dengan membahas jasa para pahlawan perjuangan kemerdekaan. Bahwa kemerdekaan Indonesia bisa dicapai karena &lt;em&gt;ridho&lt;/em&gt; Allah pula, namun kecongkakan manusia membuatnya merasa bahwa kemerdekaannya adalah hasil jerih payahnya sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Isa Anshari juga menyampaikan perihal toleransi, yang menurut beliau harus bersifat “timbal-balik”. Dimana politik toleransi yang menurut politisi Islam ini, selalu digunakan agar umat Islam selalu mengalah. Apa yang disampaikan oleh Isa cukup menarik, karena kata toleransi-intoleransi selalu ditujukan kepada umat Islam, seperti yang disampaikan dr. Soetomo dalam biografi yang dituliskan oleh Roeslan Abdul Gani, &lt;em&gt;alm. Dr. Soetomo yang saya kenal&lt;/em&gt;, “ekstrimisme komunis, intoleransi agama Islam”. Kata intoleransi disandingkan oleh Dr. Soetomo kepada agama Islam. Politik yang demikian masih berlanjut hingga sekarang dengan dalih bahwa pelaku “intoleransi” adalah umat Islam atau yang “mengaku” atau “menggunakan” Islam. Naasnya, banyak pula masyarakat Indonesia yang notabene mayoritas beragama Islam, jatuh kepada pandangan yang demikian itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain bicara intoleransi, Isa Anshari juga “menghabisi” komunisme yang salah satunya dianggap sebagai anti-demokrasi. Dalam hal komunisme, Isa bahkan menuding Sukarno yang semakin dekat dengan kelompok PKI, memiliki perkataan yang beracun. Tudingan komunisme sebagai anti-Tuhan atau atheis juga tidak tanpa dasar. Beliau menyebutkan dengan mengutip dari karya Karl Marx dan F. Engels “&lt;em&gt;Manifes Partai Komunis&lt;/em&gt;” lalu Undang-Undang Dasar Union of Soviet Socialist Republic (USSR) Pasal 124, dan tulisan seorang ekonom Burma, U Kyau Min. Tulisan tersebut dihubungkan dengan tulisan-tulisan Jamaluddin Al-Afghani yang turut mengkritik komunisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menariknya, tokoh-tokoh Masyumi di atas juga menggunakan logika, argumentasi dan narasi, juga mengutip karya tokoh Marxisme dan Komunisme untuk menyuguhkan kesesatan logika yang ada di dalamnya. Akan tetapi, buku ini tidak turut menyuguhkan pada halaman berapa kalimat disebut dikutip. Penyampaian pidato pun dilakukan laksana bermain catur, siapa yang ahli dibidang apa akan digunakan dalam melawan pernyataan tertentu: Kahar Muzakkir sebagai orang yang terlibat dalam Panitia Sembilan diarahkan untuk memberi penjelasan tentang seluk-beluk pembentukan dasar negara, Kasman Singodimedjo yang bergelar &lt;em&gt;Meester in de Rechten&lt;/em&gt; (Mr) dihadapkan kepada argumentasi-argumentasi logis untuk menentang pernyataan yang berkaitan dengan Dasar Negara, dan Isa Anshari yang tergabung dalam Front Anti-Komunis juga menyampaikan pendapat tentang kesesatan komunisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini merupakan pelengkap untuk memahami pembahasan Islam sebagai dasar negara yang disampaikan Mohammad Natsir dalam buku yang berjudul “Islam sebagai Dasar Negara” yang merupakan pidatonya di depan sidang majelis konstituante untuk menentukan dasar negara Republik Indonesia di tahun 1957-1959. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>05 Dec 2019</pubDate>
        <link>/memperjuangkan-islam-sebagai-dasar-negara-masyumi-dan-pergolakan-konstituante</link>
        <guid isPermaLink="true">/memperjuangkan-islam-sebagai-dasar-negara-masyumi-dan-pergolakan-konstituante</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Anarkisme ala Rothbard: Kritik Negara dengan Pendekatan Ekonomis</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Anatomi Negara&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Murray N. Rothbard&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Penerbit Parabel&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: xxiii+100 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9786026171931&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Anarkisme memiliki banyak varian, ada anarko-sindikalisme yang dekat dengan kelompok buruh, ada anarko-feminisme yang digawangi oleh Emma Goldman, terdapat pula anarkisme-hijau yang peduli dengan kasus &amp;amp; permasalahan selutar lingkungan hidup, tapi yang menarik, ada pula anarko-kapitalisme atau libertarianisme seperti yang dibawa oleh Murray N. Rothbard.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Rothbard sendiri bisa dibilang teoritisi ekonomi namun memiliki kecenderungan tidak suka dengan campur tangan pemerintah dalam mekanisme pasar. Ketidaksukaan ini menjadi begitu radikal sehingga ia justru menjadi anarko-kapitalisme alih-alih menjadi liberal atau penganut ekonomi klasik. Buku-bukunya tetap membahas permasalahan ekonomi, namun erat hubungannya dengan penolakan terhadap keberadaan pemerintah di dalam ekonomi. Kelompok ekonom yang berhaluan sama dengan Rothbard biasanya disebut sebagai Mazhab Austria (Ludwig von Mises, Friederich A. Hayek, &amp;amp; Milton Friedman).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nuansa anarkisme dalam benak Rothbard terlihat betul dalam buku ini. Dibuktikan pada tulisan awal yang mempertanyakan metafora bahwa negara adalah “kami”. Penulis mencontohkan bahwasanya negara sering menyerang &amp;amp; melukai masyarakat nya sendiri sehingga tidak pantas disebut negara adalah kami. Metafora tersebut hanyalah untuk menarik massa dan supaya negara terdengar populis. Setelah itu, negara selalu represif. Maka dari itu, Rothbard memaknai negara sebagai organisasi dalam masyarakat yang berusaha untuk mempertahankan monopoli melalui penggunaan kekuatan dan kekerasan dalam wilayah teritorial tertentu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada bagian kedua, Rothbard berusaha mengulas sifat manusia melalui pandangan Franz Oppenheimer bahwa manusia mencari keuntungan dengan dua cara: cara ekonomis melalui produksi dan pertukaran barang dan cara paksaan dengan merebut barang atau jasa orang lain menggunakan paksaan dan kekerasan. Bisa direlasikan oleh para pembaca bahwa cara mencari kekayaan yang kedua ini mengilustrasikan pemerintah yang “memaksa” kita untuk membayar pajak, terlepas sudah banyak gagasan seperti &lt;em&gt;tax amnesty&lt;/em&gt; dan mulainya dikurangi pajak dalam berbagai bentuknya. Pajak yang masih lazim ditemui dan bertahan di Indonesia adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang sering kita temui di restoran.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan umum yang diutarakan Rothbard ketika menulis buku ini adalah setelah terbentuknya negara, maka pemimpin serta minoritas elit politik negara tersebut akan berusaha semaksimal mungkin mempertahankan kekuasaannya. Adapun para penguasa tersebut membutuhkan dukungan masyarakat yang tidak diberikan dengan aktif, melainkan pasif (&lt;em&gt;neriman&lt;/em&gt;). Para penguasa tersebut nantinya akan membuat sebuah ideologi untuk membenarkan pemerintahannya dan tugas intelektual ialah menyebarkan ideologi ini kepada khalayak umum.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis menjelaskan dengan sangat bagus bagaimana kaum intelektual “dibeli” oleh pemerintah dengan mendapat posisi diantara mereka (pemerintah). Hal ini terjadi karena posisi intelektual acapkali tidak aman di pasar bebas dan masyarakat tidak tertarik dengan aktivitas intelektual, sehingga mereka dibeli oleh pemerintah dan dengan itu, terbangunlah aliansi antara pemerintah dan kaum intelektual. Permasalahan ini seringkali kita dapati di Indonesia, tidak jarang orang yang dulu dianggap aktivis &amp;amp; intelektual justru menjadi bagian dari pemerintah yang ia tuding sebagai oligarki. Bisa pembaca pastikan bahwa intelektual tersebut pasti sudah diberi posisi yang menghasilkan uang untuk kehidupannya. Kalau saja bukunya laris terjual mungkin seorang intelektual tak perlu menggadaikan ideologi dan idealismenya untuk menghamba kepada pemerintah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal yang paling ditakuti pemerintah, menurut Rothbard, adalah ancaman terhadap kekuasaan dan keberadaannya. Adapun dua hal yang membuat negara runtuh: perang dan revolusi. Masyarakat bahkan dipaksa untuk turut serta mengamankan kedudukan negara dengan adanya wajib militer untuk “mempertahankan” dan “membela” negara, alih-alih sebenarnya mengorbankan penduduknya untuk mengamankan kekuasaan negara. Maka dari itu, kejahatan terbesar menurut negara bukanlah kejahatan terhadap individu dalam negara, tapi kejahatan yang akan merugikan negara seperti pajak. Bisa kita lihat, permasalahan yang kerap membelit Indonesia adalah korupsi. Adapun terorisme sudah menjadi kejahatan yang sifatnya politis sehingga menjadi prioritas pemerintah karena bersifat merongrong kekuasaan NKRI.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ulasan Rothbard tentang negara ini lah yang membuatnya dianggap sebagai seorang anarko yang mendukung kapitalisme. Ia mengutarakan bahwa kekuatan sosial adalah kekuasaan manusia atas alam yang akan menguntungkan bagi tiap individu yang turut serta dalam kekuatan tersebut, sedangkan kekuatan negara adalah kekuasaan atas manusia yang sifatnya parasitik dan koersif yang berusaha menyerap keuntungan dari manusia yang sudah menguasai alam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagai seorang anarko-kapitalis dan intelektual, kajian Murray Rothbard tidak terlihat sebagai kajian intelektual menara gading yang tidak dapat dipahami oleh masyarakat. Penggabungan bahasa yang propagandistik dengan bahasa yang ilmiah membuat siapapun (ahli maupun awam) mudah memahami dan mengikuti alur pikirnya. Bagi kawan-kawan yang ingin mempelajari berbagai macam varian anarkisme, saya sangat merekomendasikan Paket Belajar Anarkisme (PBA) dari KB. MURBA untuk menjadi pengantar terhadap tradisi intelektual kelompok anarko. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>09 Oct 2019</pubDate>
        <link>/anarkisme-ala-rothbard-kritik-negara-dengan-pendekatan-ekonomis</link>
        <guid isPermaLink="true">/anarkisme-ala-rothbard-kritik-negara-dengan-pendekatan-ekonomis</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Pahlawan Eks-Digulis yang Hilang dalam Arus Sejarah</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Thomas Najoan&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Petrik Matanasi&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Ultimus&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: xii+84 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2013&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 9786028331494&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejarah kita selalu melupakan orang-orang yang bernafaskan PKI, meskipun orang tersebut memiliki andil dalam merintis kemerdekaan. Para pejuang yang dibuang ke Boven-Digul rata-rata berpandangan komunis kalau tidak sosialis, sehingga mayoritas dari mereka tidak disebutkan namanya dalam buku pelajaran kita. Nama-nama itu harus kita telusuri sendiri dari berbagai sumber sejarah non-arusutama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apakah para pembaca yang budiman pernah mendengar kisah dari Aliarcham atau Thomas Najoan? Pastinya belum, kecuali saudara-saudari sekalian adalah sejarawan atau pecinta sejarah yang selalu ingin mencari figur-figur perjuang kemerdekaan selain elit politik kala itu. Nama-nama ini biasanya hanya dapat ditemukan dalam buku sejarah yang diterbitkan oleh penerbit independen, atau buku terbitan penerbit luar negeri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti buku ini, karya Petrik Matanasi, sejarawan muda yang progresif yang acapkali menuliskan kisah-kisah kecil seputar perjuangan kemerdekaan Indonesia atau cerita-cerita berkenaan dengan individu yang terlibas oleh pesatnya zaman. Seperti Thomas Najoan ini, kita tidak akan menemukannya di buku diktat sejarah untuk SD/SMP/SMA, kita hanya akan mengenalnya apabila mendalami sejarah lain dari Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Najoan adalah pria kelahiran Langowan pada tahun 1893, kedua orang tuanya bukanlah orang miskin, bisa dibilang ia adalah kelas menengah kala itu karena mampu bersekolah. Meskipun dikemudian hari ia berhalauan komunis, kehidupan awalnya diwarnai oleh Kristen, dimana daerah kelahirannya memiliki penduduk yang mayoritas Kristen. Begitupula dengan keluarganya. Seperti banyak pahlawan perintis kemerdekaan lainnya, Najoan bisa berbahasa Inggris maupun Belanda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ia juga diceritakan pernah bergabung dalam &lt;em&gt;Indische Partij&lt;/em&gt;. Kemungkinan besar, pemikiran sosialisme nya berkembang ketika dia bergabung dalam IP, sebelum datangnya Henk Sneevliet. Thomas Najoan sendiri merantau hingga Semarang di mana ia bekerja di Dinas Kesehatan Pemerintah Kolonial di kota pelabuhan itu. Menurut pengakuan Chalid Salim, saudara Agus Salim yang diasingkan ke Boven-Digoel, Thomas Najoan pernah bergabung dan menjadi pengurus dari &lt;em&gt;Vereniging van Spoor-en Tramwegpersonnel&lt;/em&gt; (VSTP) atau Serikat Pekerja Kereta Api dan Tram.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain di VSTP, ia dikabarkan juga bergabung dengan &lt;em&gt;Indische Sociaal-Demokratsche Vereniging&lt;/em&gt; (ISDV), cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI). Bergabungnya Najoan dengan ISDV menandakan bahwa ia adalah komunis generasi awal. Dia sendiri juga merupakan kawan diskusi dari Henk Sneevliet, pendiri ISDV. Hal ini menandakan bahwa Thomas Najoan adalah seorang intelektual organisatoris.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain di ISDV dan VSTP, Najoan juga aktif di Persatoean Perserikatan Kaoem Boeroeh (PPKB) yang dibentuk SI dan ISDV, Ia menjadi sekertaris di sana hingga digantikan oleh Agus Salim. Orang ini juga pernah melanglang buana ke Shanghai dan Bombay sebagai pimpinan Serikat Buruh Galangan Kapal. Ia menjadi salah satu orang, selain Semaun, yang sangat aktif dalam gerakan pemogokan buruh.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun ketika PKI terbentuk, Najoan juga tergabung di dalamnya. Hal ini dibuktikan ketika Najoan menjadi wakil dari PKI dalam &lt;em&gt;Radical Concentratie&lt;/em&gt; pada 12 November 1922. Selama aktif dalam dunia pergerakan, terutama setelah dipecat dari Dinas Kesehatan Masyarakat, Najoan sering melakukan kritik terhadap pemerintah kolonial, yakni pemerintah tidak memiliki uang jika berkaitan dengan pendidikan tapi selalu memiliki dana apabila membeli peluru.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Najoan juga berkiprah di media massa yakni Oestoesan Minahassa sebagai pemimpin redaksi (pimred), dia juga menjadi pimpinan &lt;em&gt;Nationale Minahasa Congres&lt;/em&gt; / NMC (Kongres Nasional Minahasa). Dengan &lt;em&gt;track record&lt;/em&gt; sebagai aktivis semacam itu, Najoan gagal masuk ke dalam &lt;em&gt;Minahasa Raad&lt;/em&gt; (Dewan Minahasa). Menjadi aktivis belum tentu menjamin kita akan menang dalam politik praktis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selama tahun 1920-an, kehidupan Thomas Najoan sangat dinamis, ia bergabung dengan berbagai macam organisasi, berjuang bersama buruh, merantau ke berbagai wilayah hingga membentuk sebuah kantor urusan hukum (&lt;em&gt;Kantoor Najoan&lt;/em&gt;). Dengan posisi Najoan yang tidak memiliki pendidikan hukum yang resmi maka ia adalah pokrol bambu. Hal ini ia rintis ketika gagal masuk ke dalam &lt;em&gt;Minahasa Raad&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diperkirakan ia diasingkan ke Boven-Digoel pada tahun 1927, bersama “generasi” pertama Digoelis. Penjelasan tentang kehidupan Najoan di tanah pengasingan tersebut bisa dibilang melankolis karena siksaan berasal dari alam sekitar, kehidupan yang begitu sunyi, membuat orang yang konon kabarnya periang seperti Najoan merasa kesepian. Keadaan seperti ini yang membuatnya ingin melarikan diri. Dari sinilah julukan Si Raja Pelarian muncul.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu kegiatan yang dilakukannya selama di Boven-Digoel adalah mengajar anak-anak yang lahir dan besar di sana. Di sinilah Najoan berkenalan dengan Sutan Syahrir, di mana kisah-kisah tentang Najoan mengalir. Syahrir nampaknya masih mengingat tindak tanduk dan peringai dari Najoan melalui buku Petrik Matanasi ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Organisatoris satu ini berusaha melarikan diri tiga kali dari Boven Digoel, pertama menuju Thursday Island di Australia lalu dikembalikan oleh Pemerintah Australia ke Belanda, yang kedua, Najoan ditipu oleh Suku Bian yang tergiur oleh Tembakau pemberian Pemerintah Kolonial. Suku Bian memperlakukan Najoan dkk dengan baik, ketika melewati pemukiman mereka. Lalu diberikan ke pemerintah Belanda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang terakhir membawanya kepada nasib naas, ia hilang tanpa jejak di belantara Papua. Konon kabarnya ia tertangkap oleh suku Kaya-Kaya Mappi yang masih kanibal saat itu. Sebagai salah seorang perintis kemerdekaan, Najoan menghilang namanya karena afiliasinya terhadap komunisme. Tapi kita harus ingat, PKI generasi 1920an berbeda jauh dengan PKI generasi pasca 1945. Generasi 1920-an lebih idealis dan totalitas karena mereka berjuang melawan pemerintah kolonial yang masih kuat, sedangkan PKI generasi 1945 sampai 1965 adalah PKI yang akan menjadi avonturis di gelanggang pemilu. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>01 Oct 2019</pubDate>
        <link>/pahlawan-eks-digulis-yang-hilang-dalam-arus-sejarah</link>
        <guid isPermaLink="true">/pahlawan-eks-digulis-yang-hilang-dalam-arus-sejarah</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Marhaenisme, Ideologi asal Indonesia</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku:&lt;/strong&gt; Antara Marhaenisme dan Marxisme&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis:&lt;/strong&gt; Sayuti Melik&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&lt;/strong&gt; Kendi&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku:&lt;/strong&gt; 103 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit:&lt;/strong&gt; 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN:&lt;/strong&gt; 97860225130328&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Marhaenisme. Banyak organisasi di Indonesia menyatakan azas atau ideologi yang dianutnya ialah Marhaenisme, banyak pula orang yang mengaku Marhaenis. Kata tersebut sepertinya menjadi kebanggaan orang Indonesia kepada dunia, sebuah sumbangsih dalam perkembangan pemikiran dan ideologi dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Presiden Soekarno sebagai pencetus Marhaenisme tidak melakukan monopoli terhadap ideologi tersebut, melainkan hanya memberi nama terhadap sebuah pemikiran yang memperlihatkan realitas masyarakat Indonesia, sebuah bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri (berdikari).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa bahkan membuat tulisan dan buku untuk menjelaskan apa itu Marhaenisme seperti Asmara Hadi, Aslama Nanda Rizal, Retor A.W. Kaligis, bahkan pengetik naskah proklamasi, Sayuti Melik. Nampaknya Marhaenisme memang pemikiran yang menarik untuk dituliskan dan dikaji secara akademis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sayuti Melik ternyata seorang yang lebih dari sekedar pengetik naskah proklamasi, ia juga wartawan dan anggota Partai Nasional Indonesia (PNI). Melalui buku ini, bisa dibilang bahwa Sayuti Melik adalah ideolog PNI yang suaranya didengarkan oleh para petinggi partai. Kerap memberikan saran dan arahan tentang bagaimana pemahaman Marhaenisme yang searah dengan kepentingan Bangsa Indonesia dan pemikiran Sukarno.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Artikel pertama dalam buku ini membandingkan pemahaman Marhaenisme dari Partindo dan PNI. Partindo yang digawangi oleh Asmara Hadi beranggapan bahwa Marhaenisme adalah Marxisme yang disesuaikan di Indonesia, sedangkan PNI lebih menekankan kepada nasionalismenya. Ada dialektika yang cukup berat dalam artikel pertama ini, sampai pada titik Marhaenisme manakah yang mewakili pikiran Sukarno.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terlepas ada penerimaan Marxisme sebagai metode ilmiah, PNI tidak menerima falsafah Marxisme sepenuhnya. Marhaenisme sendiri lebih memiliki kecenderungan dengan nasionalisme, bukan Marxisme. Marhaenisme adalah nasionalisme yang memiliki bumbu Marxisme, Islam dan pemikiran-pemikiran lainnya. Tampak sedikit penolakan Sayuti apabila Marhaenisme dikatakan penerapan Marxisme di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tulisan-tulisan dalam buku ini berusaha meyakinkan bahwa Marhaenisme bukanlah ideologi yang hanya mengekor kepada pemikiran Karl Marx atau Lenin, melainkan sebuah ideologi yang berdiri sendiri. Marhaenisme memiliki universalitasnya sendiri, hal ini bertentangan dengan pandangan bahwa ideologi ini adalah toepassing (pelaksanaan) dari Marxisme di Indonesia, karena jika hanya pelaksanaan maka universalitasnya terletak pada Marxisme bukan Marhaenisme nya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun Marhaenisme bukan toepassing Marxisme di Indonesia melainkan teori perjuangan Bangsa Indonesia. Pada titik ini, Sayuti Melik memberikan penekanan yang kuat. Ia berusaha memperlihatkan bahwa Indonesia mampu memiliki ideologi bertaraf internasional.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak hanya terpaku kepada Marhaenisme, Sayuti juga menjelaskan terkait Marxisme. Salah satu pemaknaan menurut arti kata yang ia berikan sangatlah sederhana: Marxisme adalah ilmu yang dikemukakan dan disampaikan oleh Karl Marx yang berisi filsafat dan ilmu perjuangan untuk merombak dunia yang sudah ada guna menciptakan dunia yang baru. Beliau juga memberikan pemaknaan menurut pengertian dan perbandingan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun corak kirinya masih terlihat dengan gaya penuturan bahasanya sekaligus keberpihakannya kepada Rakyat Indonesia, Sayuti terlihat sangat tidak ingin menyamakan Marxisme dan Marhaenisme. Ia beranggapan bahwa kedudukan Sukarno dan Marx ialah sama, sama-sama mencetuskan teori perjuangan, yang satu bernilai universal namun bersifat nasional, yang satu bersifat internasional.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku tipis ini bukan sekedar pamflet atau isi pidato dari tokoh nasional pada umumnya kala itu. Buku ini memang didesain untuk menjadi semacam pegangan untuk mereka yang ingin mendalami Marhaenisme. Buku ini merupakan perumusan Marhaenisme ala Sukarno melalui Sayuti Melik. Menariknya, sebegitu menghayati Marhaenisme, Sayuti menolak pengangkatan Sukarno sebagai presiden seumur hidup.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi para pembaca yang tertarik kepada Marhaenisme, saya sangat merekomendasikan buku ini sebagai pengantar untuk masuk ke dalam ideologi tersebut beserta alam fikir Sukarno. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>14 Sep 2019</pubDate>
        <link>/marhaenisme-ideologi-asal-indonesia</link>
        <guid isPermaLink="true">/marhaenisme-ideologi-asal-indonesia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Memetik Hikmah dari Naiknya Trump ke Tampuk Kekuasaan:Terpinggirnya Tirani Pakar</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku:&lt;/strong&gt; The New Authoritarianism: Trump, Populism, and the Tyranny of Experts&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis:&lt;/strong&gt; Salvatore Babones&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&lt;/strong&gt; Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit:&lt;/strong&gt; 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku:&lt;/strong&gt; xiv + 115 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN:&lt;/strong&gt; 978-1-509 53309-1&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://www.amazon.com/gp/product/1509533095/ref=as_li_qf_asin_il_tl?ie=UTF8&amp;amp;tag=shopkrs-20&amp;amp;creative=9325&amp;amp;linkCode=as2&amp;amp;creativeASIN=1509533095&amp;amp;linkId=b0cc5cd44abca231fb7c0cb386f4b98f&quot;&gt;BUY ON AMAZON&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa yang terlintas di benak pembaca ketika mendengar istilah ‘tiran’? Apakah presiden yang diktator, bertangan besi? Ataukah pemerintahan yang didirikan hasil dari kudeta militer? Atau tidak di antara keduanya? Dalam sistem demokrasi, mungkin kah seorang tiran muncul? Apabila membaca dari penuturan Salvatore Babones di buku ini, mungkin saja. Tiran tersebut, ujar Babones, wujudnya ialah pakar-pakar yang membantu birokrat memformulasikan kebijakan, menentukan definisi yang bermuatan politis dari istilah-istilah tertentu, dan memberi penilaian baik-buruknya tata kelola pemerintahan. Para pakar ini, membantu membangun indikator-indikator tata kelola pemerintahan yang demokratis. Dan ternyata, naiknya Trump ke tampuk kekuasaan, meminggirkan posisi para pakar yang telah lama menyamankan diri bersama birokrat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Definisi populer demokrasi dari Abraham Lincoln: &lt;em&gt;pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat&lt;/em&gt;; pada intinya adalah perpaduan (dan ketegangan) antara konservatisme, liberalisme, dan progresivisme. Ketiganya berkontribusi terhadap kesehatan dan kebaikan demokrasi. &lt;em&gt;Pemerintahan dari rakyat&lt;/em&gt;, dari keseluruhan rakyat dalam satu bangsa, berada tepat di jantung konservatisme. &lt;em&gt;Pemerintahan oleh rakyat&lt;/em&gt;, memastikan bahwa setiap orang memiliki peran/bagiannya dalam demokrasi, ada pada jantungnya liberalisme. Sementara &lt;em&gt;pemerintahan untuk rakyat&lt;/em&gt;, yang membawa kebermanfaatan bagi mayoritas rakyatnya, adalah jantungnya progresivisme. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Titik penting dimana Babones menjelaskan definisinya tentang apa itu Otoritarianisme Baru (The New Authoritarianism), dimulai dengan perkembangan “hak dan kebebasan individu” dalam gagasan liberalisme. Bergeser pada siapa yang kemudian bisa mendefinisikan mana yang jadi “hak” dan mana kewajiban, mana larangan, dan lain sebagainya. Pada akhirnya, bagaimana pendefinisian itu jatuh pada tangan pakar. Apa saja yang termasuk hak, apa saja tindakan melanggar hak, bagaimana sebaiknya mengadili pelanggar hak? &lt;em&gt;Tanya ahlinya&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para pakar lah yang menentukan dan membuat kebijakan yang cocok bagi warga negara. Mereka adalah orang-orang berpendidikan, punya status sosial yang bagus, dan retorika yang bagus. Sehingga, bagi Babones, kewenangan untuk mengidentifikasi hak-hak baru pada akhirnya memberikan pemegang kewenangan itu suatu kekuasaan untuk mendefinisikan demokrasi itu sendiri. Kewenangan ini menjadi landasan “otoritarianisme baru” yang melibatkan para pakar di dalamnya. Ketika para pakar menuliskan daftar panjang hak-hak itu, saat itulah kekuasaan &lt;em&gt;pemerintahan untuk rakyat&lt;/em&gt; telah lepas dari tangan rakyat, ke tangan pakar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan percaya diri Babones menyatakan, kalaupun prinsip liberal merasa dirinya terancam, &lt;em&gt;ya&lt;/em&gt; itu karena mereka telah begitu sukses. Lihatlah pada politik Amerika, Inggris, atau Uni Eropa. Lagipula, liberalisme berlandaskan gagasan bahwa kebebasan individu ialah kebajikan politik tertinggi. Selama tiga abad ini, liberalisme politik telah berkembang dari filsafat yang melindungi kebebasan menjadi filsafat yang menuntut hak asasi. Tetapi, untuk mendefinisikan dan menyusun hak-hak asasi manusia yang harus dipenuhi dan dilindungi pada akhirnya membutuhkan persetujuan orang banyak. Di antara ilmuwan politik liberal, hal ini diejek sebagai demokrasi “mayoritas”, dengan kata lain, seolah tidak demokratis sama sekali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kelompok liberal arus utama berpandangan bahwa penggambaran seperangkat hak asasi manusia yang dibutuhkan untuk memelihara kebebasan individu hanya dapat dilakukan oleh pakar. Yang dimaksud ‘pakar’ itu adalah para profesional terdidik. Orang-orang yang secara absah punya otoritas di bidangnya. Masalahnya, aktivitas politik itu unik. Dengan semakin meluasnya hak yang butuh didefinisikan, semakin banyak pakar yang dibutuhkan dari berbagai bidang keilmuan. Semakin para pakar dibutuhkan untuk turut menyusun kebijakan atau membantu membuat keputusan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Otoritarianisme gaya baru abad ini tidak lahir dari kelompok nasionalis, konservatif, atau sayap kanan. Otoritarianisme gaya baru abad ini adalah otoritarianisme liberal, yakni tirani pakar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Disadari atau tidak, domain publik kini sebenarnya penuh dengan gagasan-gagasan liberal—atau bahkan kendali liberal, setidaknya begitulah di Amerika Serikat. Meski di berbagai belahan dunia, bahkan di Amerika Serikat sekalipun, kelompok konservatif nampaknya sedang naik daun tak bisa disangkal bahwa prinsip-prinsip liberalisme telah melebur dalam kehidupan sosial politik. Di sekolah-sekolah, siswa dijejali dengan buku paket dan guru menyusun kurikulum yang pakemnya telah dibuat oleh negara. Dibuat oleh negara melalui rekomendasi pakar atau staf ahlinya tentu saja. Dari segi penelitian kesehatan hingga intelijen, telah banyak yang memohon agar politik jauh-jauh saja dari domain ini. Oke. Mari depolitisasi domain ini. Agar terlihat netral, domain ini jadi lahan basahnya para pakar yang tentu saja lebih mampu melakukan penelitian dan menyediakan rekomendasi kebijakan secara lebih &lt;em&gt;objektif&lt;/em&gt;. &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tetapi, setelah kenaikan Trump ke kursi kepresidenan lihat apa yang terjadi. Pendapat pakar dimentahkan begitu saja. Mereka (Trump dan pendukungnya) lalu meminta agar kebijakan publik dikembalikan ke tangan politik demokratis. Lalu, muncullah Bernie Sanders yang lebih diminati karena perlawanan populisnya. Meski populisme tidak punya rekam jejak bagus dalam merealisasikan tuntutannya, tetapi setidaknya seruan populis telah membangkitkan kesadaran politik rakyat AS. “Tiba-tiba saja”, rakyat AS peduli dengan kondisi politik di negaranya dibanding dasawarsa-dasawarsa lalu. Lebih lanjut, Babones berpendapat bahwa populisme mungkin tidak bagus untuk kebijakan, tetapi baik untuk demokrasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebenarnya, apa saja &lt;em&gt;sih&lt;/em&gt; kontribusi liberalisme bagi demokrasi? Menurut Babones, liberalisme tidaklah secara intrinsik buruk untuk demokrasi. Justru, liberalisme telah menjadi kekuatan pendorong yang cukup besar bagi demokrasi. Misalnya, hak pilih universal, hak kerahasiaan surat suara, hak untuk memilih sendiri perwakilannya berasal dari dukungan kelompok liberal. Demokrasi bisa beragam maknanya, tetapi inti dari gagasan demokrasi ialah rakyat dapat mengatur pemerintah, bukan sebaliknya. Hak untuk memilih merupakan hak fundamental dari demokrasi, dan perluasan dari hak itu merupakan salah satu pencapaian terbesar dari penyebaran liberalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam buku ini, Babones berupaya membela gagasan liberalisme, mengkritiknya, sekaligus mengingatkan para akademisi liberal untuk kembali ke &lt;em&gt;khittah&lt;/em&gt; liberalismenya. Edukasi politik seringkali mengalami kendala karena stigma warga negara terhadap pemerintah(-an) yang sudah terlanjur dianggap bobrok dan diisi politisi culas. Namun, dengan naiknya Trump, Babones meyakinkan kita untuk melihat sisi positifnya. Rakyat bisa langsung mengamati dan mengalami sendiri “kondisi bahaya” di negaranya. Dengan demikian, edukasi politik berjalan dengan sendirinya. Suara-suara kritik dari rakyat akan muncul pada saluran-saluran tak terduga, terutama media sosial. Melalui meme serta tajuk-tajuk berita. Kalau sudah begini, ada harapan bahwa rakyat bisa memiliki kondisi politik yang lebih baik setelah masa kepresidenan Trump berakhir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini menarik dibaca bagi mereka yang mendalami kajian demokrasi, apalagi bagi mereka yang sedang antusias dengan kajian populisme. Bagi pembaca umum, ini juga adalah buku yang cocok untuk dibaca sambil bersantai. Babones menguraikan argumennya dengan gaya yang &lt;em&gt;nyantai&lt;/em&gt; namun tetap bernas, tanpa gangguan gaya pengutipan ala akademisi. Boleh dibilang, buku setebal 115 halaman ini adalah buku saku untuk belajar memetik hikmah dari politik AS di bawah Trump, hasil analisis seorang “pakar” demokrasi dari universitas yang sudah terkenal dengan kajian demokrasinya, University of Sydney. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(ich)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>25 Jul 2019</pubDate>
        <link>/memetik-hikmah-dari-naiknya-trump-ke-tampuk-kekuasaan</link>
        <guid isPermaLink="true">/memetik-hikmah-dari-naiknya-trump-ke-tampuk-kekuasaan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Demokrasi Tidak Bermula di Yunani</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku:&lt;/strong&gt; The Life and Death of Democracy&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis:&lt;/strong&gt; John Keane&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&lt;/strong&gt; Pocket Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit:&lt;/strong&gt; 2009&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku:&lt;/strong&gt; xxxiii+958 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;https://www.amazon.com/gp/product/0393058352/ref=as_li_tl?ie=UTF8&amp;amp;camp=1789&amp;amp;creative=9325&amp;amp;creativeASIN=0393058352&amp;amp;linkCode=as2&amp;amp;tag=shopkrs-20&amp;amp;linkId=1a380a33d222e374d5f7667c4466d418&quot;&gt;BUY ON Amazon&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demokrasi, seperti yang umumnya telah diketahui, berasal dari Yunani. Secara etimologis, &lt;em&gt;demos&lt;/em&gt; berarti ‘rakyat’ dan &lt;em&gt;kratos&lt;/em&gt; berarti ‘kekuasaan’; jika digabung, demokrasi secara harfiah berarti pemerintahan rakyat. Istilah ini diyakini pertama kali muncul di negara-kota Athena. Tapi, bagaimana orang-orang Yunani memiliki ide untuk menciptakan suatu bentuk pemerintahan dimana (hampir) semua orang dapat berbicara di hadapan majelis dalam posisi yang setara? Ada benang merah yang terputus mengenai hal ini dan seringkali mengandung kerahasiaan dalam proses penelusuran sejarahnya. Menurut Keane, apa yang selama ini kita sebut sebagai demokrasi Barat atau demokrasi hasil temuan Yunani tidak lain adalah hasil plagiat, bahwa demokrasi sesungguhnya bukanlah temuan dari Yunani. Ia mengklaim bukunya ini sebagai yang pertama kali secara jauh sekali menarik asal-usul istilah demokrasi dan praktik demokrasi serta mengisi kekosongan yang ganjil dalam sejarah mengenai demokrasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;John Keane adalah seorang profesor Ilmu Politik di Universitas Sidney dan Wissenschaftszentrum Berlin—lembaga riset ilmu sosial—dari Australia. Ia dikenal secara luas sebagai seorang pakar demokrasi yang kreatif. Kepakarannya dibuktikan dengan sejumlah buku dan artikel yang ia tulis mengenai demokrasi serta dengan mendirikan Pusat Studi Demokrasi di London tahun 1989 (Centre for the Study of Democracy), sebuah pusat studi demokrasi pertama di dunia. Kini, ia juga merupakan direktur dari Sydney Democracy Network, sebuah inisiatif dari Universitas Sidney yang mempertemukan para pakar dan pengkaji demokrasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam buku ini, John Keane menguraikan perjalanan panjang sejarah demokrasi dalam ‘tiga babak.’ Tiga babak yang dipaparkan John Keane ini berdasarkan model demokrasi yang populer pada zamannya diikuti perkembangan berikutnya. Ketiga babak tersebut adalah &lt;em&gt;Assembly Democracy&lt;/em&gt; (demokrasi berbasis majelis)&lt;em&gt;, Representative Democracy&lt;/em&gt; (demokrasi perwakilan)&lt;em&gt;,&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Monitory Democracy&lt;/em&gt;. Babak terakhir (atau setidaknya, terakhir sejauh ini) adalah gagasan dari John Keane dalam menganalisis kondisi demokrasi hari ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demokrasi berarti denaturasi (penguraian) kekuasaan. Yang menyiratkan bahwa persoalan politik paling utama adalah bagaimana mencegah pemerintahan oleh beberapa orang saja (&lt;em&gt;rule by the few&lt;/em&gt;), atau oleh yang kaya atau yang berkuasa, yang mengklaim sebagai orang super. Demokrasi memecahkan masalah lama ini dengan berdiri untuk tatanan politik yang menjamin bahwa persoalan ‘siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana’ harus lah pertanyaan yang terbuka dan permanen. Demokrasi mengakui bahwa, meskipun manusia bukanlah tuhan atau malaikat, mereka setidaknya cukup baik untuk mencegah beberapa manusia yang berpikir seperti itu (berpikir mereka ‘setara’ dengan tuhan atau malaikat).&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;assembly-democracy&quot;&gt;Assembly Democracy&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;The Life and Death of Democracy&lt;/em&gt; mengkritik mitos bahwa demokrasi dimulai di Athena. Buku ini juga mempertanyakan pandangan dari Robert A. Dahl, John Dunn, dan sarjana lain, setelah demokrasi Athena memudar hampir di mana-mana, selama hampir 2000 tahun. Singkatnya, Keane ingin menelisik kepingan-kepingan yang hilang dari perjalanan demokrasi di Barat yang acap kali mengabaikan perkembangan demokrasi di Timur. Barat, selama ini, seolah hanya menyebarkan pandangan dan standar demokrasinya tanpa melihat bahwa Timur memiliki mekanisme &lt;em&gt;self-govern&lt;/em&gt; yang ternyata telah lebih dulu ada sebelum Barat memformulasikan mekanisme &lt;em&gt;self-govern&lt;/em&gt;-nya dan menggaungkannya sebagai penemuan ‘mujarab’ bagi racun otoritarianisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Data yang disajikan dan dipaparkan Keane dalam buku ini berasal dari daftar bukti-bukti arkeologi terbaru yang kuat, bahwa ada puluhan demokrasi Yunani kuno yang beberapa di antaranya bahkan lebih tua dari Athena. Akar istilah dan praktiknya dapat ditelusuri ke naskah Linear B periode Myceanean, tujuh sampai sepuluh abad sebelumnya, hingga ke peradaban akhir Zaman Perunggu (c. 1500-1200 SM). Sebenarnya, tidak jelas kapan Myceanean belajar menggunakan kata “dâmos” yang merujuk pada &lt;em&gt;sekelompok orang tak berdaya yang pernah memegang tanah bersama&lt;/em&gt;, atau kata seperti “damokoi” yang berarti &lt;em&gt;seorang pejabat yang bertindak atas dâmos&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal lain yang masih belum jelas adalah, apakah istilah-istilah tersebut—dan ‘keluarganya’, yang kita pakai hingga hari ini ketika berbicara tentang demokrasi—memiliki asal-muasal yang jauh hingga ke Timur, contohnya, di Sumeria kuno yang merujuk pada “dumu” yang berarti &lt;em&gt;penduduk,&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;putra-putra&lt;/em&gt;, atau &lt;em&gt;anak-anak&lt;/em&gt; dari suatu wilayah geografis. Tapi ketidakpastian ini seketika dibalikkan oleh penemuan arkeolog: ternyata praktik demokratis dari &lt;em&gt;self-governing assembly&lt;/em&gt; (majelis pemerintahan) juga bukanlah inovasi Yunani.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cahaya dari demokrasi berbasis majelis (&lt;em&gt;assembly-based democracy&lt;/em&gt;) awalnya berpijar di ‘Timur,’ di wilayah yang secara geografis kini kita kenal sebagai Syria, Iraq, Iran (dulunya adalah Syria-Mesopotamia). Model populer yang lazim dari &lt;em&gt;self-government&lt;/em&gt; ini kemudian diangkut ke arah timur, menuju benua India, dimana sekitar usai 1500 SM, di permulaan periode Veda, republik yang diperintah oleh majelis menjadi lazim. Model populer ini juga berjalan ke arah barat. Awalnya ke kota-kota &lt;em&gt;Phoenician&lt;/em&gt; (Fenisia) seperti Byblos dan Sidon, kemudian ke Athena. Dimana selama lima abad Sebelum Masehi, hal itu dianggap sebagai sesuatu yang unik bagi Barat, sebagai tanda keunggulannya atas ‘barbarisme’ di Timur.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika model majelis berkembang dan populer di Athena, demokrasi mulai mengakar di kota tersebut. Berkembangnya model majelis ini membawa serta berbagai aturan intitusional dan kebiasaan tambahan yang menjadi penyokongnya. Diantaranya adalah: konstitusi tertulis, ganjaran (gaji) bagi juri dan pejabat terpilih, kebebasan untuk berbicara di hadapan publik, instrumen voting, dan uji publik untuk calon juri atau pejabat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti halnya serbuk mesiu, cetakan, dan impor lainnya dari jauh, kedatangan dari majelis yang populer dan (kemudian) istilah ‘aneh’ dêmokratia, di wilayah yang kini kita kenal sebagai Barat, mengubah sejarah secara radikal. Ide mengenai &lt;em&gt;self-govern&lt;/em&gt; dalam demokrasi membawa pemikiran yang besar bahwa makhluk fana (mortal) dapat mengorganisasikan diri mereka sendiri dalam forum atau majelis secara setara, dimana mereka bisa berhenti sejenak untuk mempertimbangkan suatu hal, kemudian memutuskan dalam sebuah tindakan yang memiliki tujuan jelas. Demokasi dalam hal ini merupakan penemuan yang menggetarkan karena pada dasarnya, ini adalah bentuk pemerintahan manusia yang pertama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mengapa demokrasi dikatakan sebagai bentuk pemerintahan manusia yang pertama? Semua pemerintahan tentu saja ‘humanis’, dalam artian sederhana bahwa pemerintahan tersebut dibentuk, dibangun, dan dijalankan oleh manusia. Namun ada pengecualian dalam tipe pemerintahan demokrasi: demokrasi meminta orang melihat bahwa tidak ada manusia yang diukir di batu (maksudnya raja), bahwa segalanya dibangun di atas pasir waktu dan tempat yang berubah-ubah, maka dari itu, akan sangat bijaksana untuk membangun dan menjaga cara-cara hidup bersama secara setara, terbuka, dan fleksibel. Demokrasi membutuhkan pola pikir rasional yang tidak terbentur pada ketetapan-ketetapan Tuhan dan alam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam Islam, model majelis dan &lt;em&gt;self-govern&lt;/em&gt; justru mengakar kuat. Di Islam, semua orang berada dalam posisi yang setara. Bahkan, masjid-masjid tidak hanya sebagai tempat beribadah namun juga sebagai ruang publik. Dimana orang berkumpul, perempuan dan laki-laki, dalam posisi yang setara, membicarakan persoalan-persoalan yang harus diputuskan solusinya bersama. Masjid sebagai ruang publik di zaman Muhammad SAW, tidak hanya menjadi pusat perkumpulan majelis, tetapi juga tempat di mana orang berdagang, ada pasar di sana bahkan penjual anggur sekali pun.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada perkembangannya, Keane mengungkapkan bahwa banyak inovasi-inovasi dalam demokrasi yang selanjutnya dianggap sebagai komponen penting bagi cara-cara demokratis muncul dari peradaban Islam. Termasuk di antaranya adalah budaya percetakan dan usaha untuk mengelola serta memperkuat asosiasi &lt;em&gt;self-governing&lt;/em&gt;. Usaha untuk mengelola hal tersebut dibuktikan dengan adanya sumbangan masyarakat yang disebut &lt;em&gt;waqf&lt;/em&gt;, masjid yang terbuka untuk publik dan berbagai kegiatannya untuk bidang kehidupan ekonomi warga, serta kemitraan yang secara hukum independen dari penguasa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam ‘internal’ sejarah Islam sendiri, Islam mencemooh kerajaan, dan memicu sengketa tanpa akhir tentang kewenangan pemimpin. Keane mencatat bahwa peradaban awal Islam menekankan pentingnya kebajikan bersama (&lt;em&gt;shared virtues&lt;/em&gt;) seperti sikap toleransi dan saling menghormati antar mereka yang beriman dan yang skeptis, dan kewajiban penguasa untuk menghormati pemaknaan orang lain tentang kehidupan. Selama masa ini, muslim percaya bahwa manusia wajib memperlakukan alam (kehidupan) dengan penuh kasih sayang, selayaknya mereka setara, karena keduanya adalah ciptaan yang Maha Kuasa. Sebuah imperatif yang nantinya menjadi bermasalah bagi semua demokrasi.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;representative-democracy&quot;&gt;Representative Democracy&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Sejak abad ke-10, demokrasi memasuki babak sejarah kedua yang berpusat di kawasan Atlantik. Periode ini dibuka dengan perlawanan militer terhadap peradaban Islam di Semenanjung Iberia. Di babak ini pula, Amerika membuka lembar pengukuhan model demokrasinya. Babak ini menyaksikan perjuangan pengaruh-pengaruh lembaga keagamaan (gereja-gereja) dalam kehidupan sosial-politik, berkembangnya kota-kota baru, berbagai penaklukan, dan kemerdekaan Amerika. Serangkaian peristiwa dalam babak inilah yang kemudian melahirkan formula Demokrasi Perwakilan (&lt;em&gt;representative democracy&lt;/em&gt;). Bagaimana pun, masih belum jelas tentang siapa yang (benar-benar) pertama kali mencetukan istilah ‘demokrasi perwakilan.’&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagai sebuah cara untuk melabeli dan menangani kekuasaan, demokrasi perwakilan merupakan tipe sistem politik yang tidak biasa. Demokrasi ini berhenti di konstitusi tertulis, peradilan dan hukum yang menjamin prosedur yang independen yang masih memainkan peran penting dalam demokrasi hari ini: penemuan-penemuan seperti &lt;em&gt;habeas corpus&lt;/em&gt; (larangan untuk pemenjaraan dan penyiksaan), pemilihan berkala untuk eksekutif dan legislatif, pembatasan durasi jabatan politik, pemungutan suara melalui surat suara rahasia, referendum dan &lt;em&gt;recall&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;ellectoral colleges,&lt;/em&gt; partai politik yang kompetitif, &lt;em&gt;ombudsmen&lt;/em&gt;, organisasi masyarakat dan kebebasan bagi masyarakat. Era demokrasi perwakilan membuat Alexis de Tocqueville menyebutnya sebagai ‘&lt;em&gt;great democratic revolution&lt;/em&gt;’ yang merujuk pada penyeberannya dan nilai-nilai kesetaraan yang dibawa oleh demokrasi.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;monitory-democracy&quot;&gt;Monitory Democracy&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Ini adalah istilah (babak) yang dikemukakan oleh John Keane. Hari ini, kita menyaksikan perkembangan demokrasi yang luar biasa. Demokrasi telah menjadi kekuatan global dan bahasa global. Dua hal yang menjadi pemahaman umum ketika menyebut dan menggunakan istilah demokrasi dalam percakapannya adalah, untuk merujuk pada nilai kebebasan dan kesetaraan yang menyertainya. Demokrasi telah menjadi nilai utama yang mendunia (&lt;em&gt;universal value&lt;/em&gt;). Mereka yang tidak mendukung demokrasi, adalah noda-noda yang belum diputihkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa yang dimaksud dengan &lt;em&gt;monitory democracy&lt;/em&gt;? John Keane dalam penjelasannya merujuk pada institusi-institusi baru yang bermunculan untuk menyokong keberlangsungan demokrasi di berbagai negara. Segala upaya dilakukan oleh negara-negara demokrasi untuk mempertahankan demokrasi dan meraih citra positif tentang pelaksanaan demokrasi di negaranya. Para &lt;em&gt;watchdog&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;guide dog&lt;/em&gt; demokrasi ini telah mengubah dinamika politik dan geopolitik di banyak demokrasi. Dari cara pandang buku ini, sejarah kemunculan demokrasi ‘&lt;em&gt;monitory&lt;/em&gt;’ (demokrasi yang diawasi) adalah bentuk dari demokrasi ‘post-Westminster’ dimana alat-alat pengawasan kekuasaan (&lt;em&gt;power-monitoring&lt;/em&gt;) dan pengendalian kekuasaan (&lt;em&gt;power-controlling&lt;/em&gt;) telah dikembangkan secara horizontal dan vertikal-ke bawah melalui segenap tatanan politik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demokrasi, dalam uraian Keane, kini telah diperlakukan sebagai sebuah bentuk politik, sebagai sebuah cara hidup, yang unik karena mengasah rasa kolektif orang-orang dari kemungkinan ‘siapa mendapat apa, kapan, dan bagaimana,’ dan apakah mereka layak mendapatkan hak istimewa mereka atau justru mendapat kemalangan. Seiring berjalannya waktu, orang semakin mempertanyakan perlunya tiran, monarki, pemilik budak, dan lain sebagainya. Ini menunjukkan ada efek denaturasi dari demokrasi seperti yang disadari Alexis de Tocqueville. Sehingga, buku ini berupaya untuk mendemokrasikan pemahaman kita tentang demokrasi dengan meningkatkan rasa temporalitasnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku setebal nyaris 1000 halaman ini menarik untuk dibaca karena akan membuka pandangan kita tentang model-model lama demokrasi yang bersemi di Timur. Bagaimana model komunikasi antar pedagang dan pemerintah di negara-negara Islam terdahulu kemudian berkembang menjadi demokrasi berbasis majelis, kemunculan demokrasi perwakilan, hingga kondisi demokrasi hari ini. Dari yang awalnya demokrasi bersemi di Timur, lalu ke Barat, kini kembali lagi ke ‘Timur’ melalui cara-cara ‘Barat’. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(ich)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>22 Jul 2019</pubDate>
        <link>/demokrasi-tidak-bermula-di-yunani</link>
        <guid isPermaLink="true">/demokrasi-tidak-bermula-di-yunani</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Bukan Bajak Laut tapi Barang Bajakan, Antropologi Barang yang Menarik</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku:&lt;/strong&gt; Fake Stuff&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis:&lt;/strong&gt; Yi-Chieh Jessica Lin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&lt;/strong&gt; &lt;a href=&quot;https://routledge.com&quot;&gt;Routledge&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku:&lt;/strong&gt; 88 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2011&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN:&lt;/strong&gt; 9780415883030&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Siapa yang tidak pernah membeli barang bajakan? Tanpa mengurangi rasa hormat, pasti kebanyakan para pembaca suka membeli barang bajakan. Faktor utamanya adalah mahalnya harga barang otentik/asli ketimbang barang bajakan tapi dengan merk yang sama. Kalau kita mengenalnya dengan sebutan Barang KW. Hampir segala macam merk pakaian, tas, sepatu, jenis &lt;em&gt;fashion&lt;/em&gt; lainnya juga memiliki KW-nya masing-masing. Barang KW lah yang dapat menyentuh lapisan paling bawah masyarakat sehingga mereka masih &lt;em&gt;update&lt;/em&gt; &lt;em&gt;style&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;fashion&lt;/em&gt; tiap waktu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tanpa bermaksud memberikan cap yang buruk, tapi tidak jarang barang-barang KW atau palsu tersebut terdapat tulisan &lt;em&gt;Made in China&lt;/em&gt; (buatan Cina). Hal ini yang membuat saya membeli buku ini dan ingin mengulasnya. Sebuah karya lulusan Harvard University, penulisnya merupakan asisten profesor di National Chung-Hsing University di Taiwan. Ia memang menggeluti disiplin Antropologi. Kajiannya yang kali ini membahas tentang Antropologi Barang, dengan tema: Barang Palsu (atau Barang KW atau Barang Bajakan). Ia menghubungkan keberadaan barang-barang ini dengan perekonomian Cina sebagai negara yang sedang bangkit.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lin sendiri tidak memungkiri bahwa Cina memang salah satu produsen terbesar dari barang-barang KW. Tidak jarang kita menemukan merk buatan Cina yang &lt;em&gt;memper&lt;/em&gt; (sama) dengan nama merk perusahaan internasional seperti iPhone menjadi Hi Phone dan APhone. Perubahan nama ini adalah salah satu bentuk &lt;em&gt;counterfeit goods&lt;/em&gt; (barang palsu) dengan harga yang sangat miring. Tidak hanya sebagai produsen, Cina juga menjadi pasar dari barang-barang palsu ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis berusaha mengartikan barang KW/ bajakan/ palsu sebagai: (1) penggunaan merk atau cap tanpa seizin pemilik merk, (2) kemiripan nama merk dengan sengaja, (3) penjualan tanpa izin terhadap barang-barang ber-merk atau stok lebih. Pengertian barang-barang KW untuk mempermudah pemahaman para pembaca karena buku ini memang ditujukan untuk mahasiswa. Adapun barang palsu menciderai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Tiga pasar utama dari persebaran barang KW di Cina adalah Shanghai, Beijing, dan Shenzhen. Pembahasan mengenai barang palsu ini menantang karena pastinya tidak ada yang blak-blakan mengatakan bahwa barang yang ia jual adalah barang palsu. Ada kerahasiaan yang menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti di lingkup barang KW.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Barang bajakan ini terus berkembang karena kebutuhan masyarakat terhadap barang murah tapi ingin mendapatkan sebuah merk yang tenar atau setidaknya merk yang hampir sama dengan merk yang kondang. Sehingga yang dibeli oleh masyarakat sebenarnya bukan hanya barang akan tetapi simbol yang melekat pada barang tersebut. Pembeli barang KW tidak peduli apakah barang yang ia beli itu palsu atau asli selama barang tersebut dapat memenuhi hasratnya akan sebuah merk. Simbol adalah sebuah nilai tambahan dalam barang namun memiliki faktor yang besar apakah sebuah barang akan dibeli atau tidak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Harga-harga barang dari barang KW (&lt;em&gt;shanzai&lt;/em&gt;) sangatlah murah, salah satu contoh yang diberikan oleh Yi adalah &lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt; bajakan. Tidak jarang namanya hampir-hampir sama dengan merk asli/ otentiknya seperti Sony menjadi SCNY, Anycall menjadi Anycat. Perubahannya hanya satu dua huruf saja namun terkadang kita tidak bisa membedakan jauh antara yang asli dan yang palsu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis juga melakukan analisis biaya terhadap &lt;em&gt;shanzai&lt;/em&gt; seperti komponen dengan kualitas rendah, tempat pembuatan bukan pabrik melainkan rumah privat, tidak memiliki layanan pelanggan, tidak memiliki kontrol kualitas, distribusi berbasis jejaring, tidak diiklankan, tidak ada manajemen merk, logo yang dipalsukan secara yang menyerupai logo kondang dengan sengaja, menghindari operasi pajak dan dijual di retail-retail elektronik. Hal-hal diatas lah yang menjadikan harga barang bajakan sangat murah tapi produsennya masih mendapatkan untung yang sangat besar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh Yi, saya menjadi paham kenapa orang tua dari teman saya melarang membeli &lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt; dari Cina karena salah satunya adalah kualitas rendah namun produsennya sangat diuntungkan dari penjualan &lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt; tersebut. Memang telepon genggam menjadi salah satu topik utama yang diulas oleh penulis karena perkembangan pesatnya. Meskipun melawan HAKI dengan melakukan sedikit modifikasi, namun telepon genggam &lt;em&gt;shanzai&lt;/em&gt; ini memenuhi kebutuhan pasar. Inovasi yang mereka lakukan merupakan inovasi yang dibutuhkan oleh kalangan menengah ke bawah sehingga pasar mereka sangat pesat akan permintaan (&lt;em&gt;demand&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menariknya, para pemalsu dan pembajak ini juga tidak bebas dari pembajakan. Ada barang bajakan yang berusaha membajak barang bajakan lainnya yang sudah sukses, inilah barang bajakan dari barang bajakan. Sebuah ironi yang lucu nan menarik karena hal seperti itu adalah resiko dari bajak membajak. Tindakan pemerintah Cina terhadap barang &lt;em&gt;shanzai&lt;/em&gt; pun masih belum jelas, ada pejabat yang menganggap barang tersebut sebagai ancaman terhadap barang asli, namun ada yang melihat &lt;em&gt;shanzai&lt;/em&gt; sebagai produk dari demokrasi dan budaya populer sehingga mendukungnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini penting untuk dibaca oleh mereka yang sedang berdagang, mahasiswa, dan siapapun yang bekerja dengan menghadapi atau bersentuhan dengan produk Cina untuk memahami sifat dari barang-barang Cina tersebut. Apalagi Indonesia akan menghadapi kerjasama dengan Cina dalam bentuk One Belt One Road (OBOR) atau juga disebut Belt and Road Initiatives (BRI). Apakah OBOR akan membawa gelombang barang palsu ke dalam Indonesia ataukah justru barang-barang semacam itu memang ditunggu-tunggu oleh penduduk Indonesia? Pertanyaan inilah yang menjadi alasan saya kenapa membeli buku ini (selain juga karena diterbitkan oleh penerbit kondang, Routledge). &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Jun 2019</pubDate>
        <link>/bukan-bajak-laut-tapi-barang-bajakan-antropologi-barang-yang-menarik</link>
        <guid isPermaLink="true">/bukan-bajak-laut-tapi-barang-bajakan-antropologi-barang-yang-menarik</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Asal-Usul Retaknya Hubungan Diplomatik Indonesia-Malaysia</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;  Konfrontasi, The Indonesia-Malaysia Dispute 1963-1966&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;  J.A.C. Mackie&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;  Oxford University Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt; 368 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;  1974&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;  0-19-638247-5&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia yang terkenal dengan permainan katanya sekaligus kemampuan berpidatonya merupakan salah satu tokoh berpengaruh di tahun 1940-1960an di kancah politik mancanegara. Gerakan Non-Blok yang digaungkan olehnya dan Konferensi Asia-Afrika yang digelar di Bandung selama kepemimpinannya menandakan bahwa ia memang diperhitungkan oleh politisi dalam negeri maupun dunia internasional.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun kita harus sepakati bahwa di akhir masa kepemimpinannya, Indonesia dilanda banyak permasalahan. Yang paling terkenal adalah inflasi sebesar 650%, G-30S (Gerakan 30 September), dan Ganyang Malaysia. Indonesia yang saat itu sedang naik daun di panggung perpolitikan dunia memiliki harga diri yang sangat tinggi dan mudah terhina dengan perkataan politisi mancanegara. Tidak jarang Soekarno suka melawan dengan perkataan yang sama-sama provokatifnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kebiasaan untuk melontarkan bahasa yang tidak awam dan provokatif ini terbukti menjadi tindakan yang kurang bijak. Tindakan semacam itu, namun tidak dibarengi dengan sumberdaya yang memadai tidak lebih hanyalah bualan atau gertakan semata tanpa berani melakukan pukulan, hasilnya adalah sebuah konflik &lt;em&gt;remang-remang&lt;/em&gt; seperti dalam buku ini. Seorang peneliti asal Australia, Mackie berusaha mengulasnya dengan ilmiah dengan mempertimbangkan kedua sisi: Indonesia dan Malaysia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis menyatakan bahwa permasalahan antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1963-1966 ini merupakan konflik yang amat kecil dari sudut pandang militer namun tidak bisa diabaikan dalam hal politik, terutama hubungan antar negara. Peran negara seperti Filipina dan kebijakan dari Inggris, Australia, Amerika dan Rusia. Buku ini muncul untuk menelaah sebuah konflik hangat antara dua negara tertangga di Asia Tenggara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Konfrontasi ini meningkat pada Juli sampai Desember 1964 dalam hal militer, Indonesia melancarkan apa yang disebut dengan Operasi Dwi Komando Rakyat (Dwikora) untuk menghadapi permasalahan di Kalimantan. Konflik di Kalimantan ini serat dengan perebutan perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. Banyak telaah yang muncul akibat tindakan agresif Indonesia kepada Malaysia, salah satunya adalah keinginan untuk membentuk Pan-Melayu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menariknya, Mackie menyampaikan bahwa konfrontasi yang dilakukan Indonesia terhadap Malaysia hanyalah gertakan ketimbang tekanan militer. Semua tindakan yang diambil oleh elit politik Indonesia hanyalah tindakan setengah hati dan tidak berusaha untuk benar-benar mengobarkan peperangan dengan negara tetangganya. Hal ini bisa dianggap demikiran karena di dalam negeri dari kedua negara menghadapi permasalahan yang serius sehingga memberhentikan konfrontasi tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di Malaysia sedang terjadi konflik rasial antara penduduk Melayu dan Cina, sedangkan di Indonesia ada G-30S yang berakhir dengan hancurnya Partai Komunis Indonesia (PKI), turunnya Soekarno dan terbentuknya Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto. Menurut penulis, apabila kejadian-kejadian ini terlaksana 12 bulan kemudian, mungkin akan ada benturan militer di Sarawak antar kedua negara ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Revolusi yang terjadi di Brunei Darussalam pada 8 Desember 1962 menjadi pembuka konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia. Meskipun sentimen anti-Malaysia tidak begitu berkembang di Brunei, namun konflik itu menjadi alasan Indonesia untuk menuding Malaysia sebagai pendukung neo-kolonialis yang ditunggangi oleh Inggris. Tujuan yang diperkirakan dari tindakan Soekarno ini adalah menghalang-halangi pembentukan Malaysia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perilaku Indonesia ini dipicu dengan semakin dekatnya hubungan antara Cina dan Indonesia yang membentuk Poros Jakarta-Peking. Hal ini bisa terjadi karena perkembangan PKI dan kedekatannya dengan Soekarno kala itu. Ketua PKI pada masa itu, Dipa Nusantara Aidit mengikuti Poros Peking, berbeda dengan Njoto yang lebih dekat dengan Poros Moskow. PKI Poros Peking ini mempengaruhi Soekarno yang menuding musuh-musuh politiknya sebagai antek Neo-Kolonialisme dan Imperialisme (Nekolim), sebuah retorika lampau yang masih diikuti oleh kelompok nasionalis sekarang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perdana Menteri Malaysia saat itu, Tunku Abdul Rahmad dituding sebagai antek Inggris Raya oleh Soekarno karena Malaysia melakukan tekanan terhadap para pejuang kemerdekaan dari Brunei Darussalam. Salah satu propaganda yang dipakai oleh Soekarno adalah &lt;em&gt;New Emerging Forces&lt;/em&gt; atau NEFO (negara dunia ketiga yang berusaha memerdekakan diri) melawan &lt;em&gt;Old Established Forces&lt;/em&gt; atau OLDEFO (negara dunia pertama yang suka menjajah dan berusaha mengeksploitasi negara dunia ketiga bersama antek-anteknya).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertarungan kedua negara ini diperlihatkan oleh pemimpinnya, dimana Tunku Abdul Rahman menuding Indonesia berada dibalik pemberontakan di Brunei, dan dilawan oleh Soekarno dan Subandrio yang menganggap hal tersebut sebagai tudingan palsu. Soekarno menyatakan bahwa sentimen terhadap Malaysia sepenuhnya adalah masalah prinsipil dari doktrin pasca-KTT Asia-Afrika mengenai &lt;em&gt;New Emerging Forces&lt;/em&gt;. Tunku bahkan menuding adanya pengaruh PKI terhadap tindakan Indonesia yang agresif kepada Malaysia, yang dibantah oleh Soekarno dan menuding Tunku sebagai anti-komunis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia ini juga terjadi pada ranah diplomatis, di mana penulis juga menjelaskan secara kronologis bagaimana usaha penyelesaian konfrontasi dilakukan. Kedua belah pihak sama-sama keras kepala, namun Malaysia, lebih tepatnya Tunku hanya ingin mengetahui alasan kenapa Indonesia begitu agresif terhadap Malaysia, sedangkan Indonesia memiliki alasan yang lebih ideologis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perseteruan kedua negara ini berusaha diselesaikan oleh pihak ketiga, yakni Filipina, namun baik perwakilan Malaysia, Tunku maupun perwakilan Indonesia, Subandrio, sangat tidak ramah terhadap satu dengan yang lain, meskipun mereka berdua menerima ajakan bernegosiasi oleh Filipina. Indonesia menganggap kerjasama Malaysia-Inggris akan membentuk sebuah pangkalan militer Inggris di Asia Tenggara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Propaganda atau isu yang berkembang di Indonesia terkait konfrontasi ini berkutat kepada beberapa alasan: terbentuknya Malaysia sebagai boneka kepentingan Inggris, Malaysia menjadi ancaman atas keamanan Indonesia, dan keberlanjutan pengaruh neo-kolonialis di Asia Tenggara. Sejak 1962, Indonesia menganggap pembentukan Malaysia hanya untuk memenuhi kepentingan dagang maupun strategis (militer) yang bekerja-sama dengan kelompok feodal dan tokai-tokai tionghoa di Malaysia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kewaspadaan Indonesia ini juga muncul karena alasan sejarah, di mana Indonesia merasa bahwa kemerdekaan tidak semudah yang didapatkan oleh Malaysia. Ketika Indonesia ingin merdeka, negeri ini memberikan banyak negosiasi sekaligus pengorbanan dalam menghadapi imperialis seperti Belanda. Pemimpin kolonial tidak serta-merta memberikan kekuasaan mereka atas dasar kebaikan hati, bahwa menurut Soekarno, kemerdekaan itu harus direbut melalui perjuangan. Apabila kemerdekaan diberikan, maka negara yang mendapat kemerdekaan tidak lebih dari boneka negara &lt;em&gt;nekolim&lt;/em&gt; atau negara yang tidak memiliki kepribadian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menteri Luar Negeri Indonesia juga menyatakan bahwa Malaysia tidak lebih dari kolonialisme Inggris dalam bentuk baru. Tujuannya adalah menjaga dan mempertahankan kepentingan ekonomi, politik, dan militer dari Inggris. Pandangan-pandangan yang dilontarkan oleh elit-elit politik Indonesia ini tidak terlepas dari kondisi politik Indonesia pasca-revolusi yang masih berapi-api meskipun sudah hampir dua dekade.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Indonesia yang pada zaman itu sangat anti-imperialis, menggunakan alasan keamanan sebagai penolakan terhadap terbentuknya Malaysia dikarenakan Indonesia merasa dikelilingi oleh agen-agen imperialis, Inggris dibalik Malaysia, Amerika dibalik Filipina dan Australia. Akan tetapi sampai berakhirnya konflik Malaysia-Indonesia, tudingan bahwa Inggris akan menjadikan Malaysia sebagai agen nekolimnya tidak terbukti, hal itu hanyalah ketakutan berlebihan dari Soekarno dan elit politiknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak hal lain yang diulas oleh Mackie dalam buku setebal 368 halaman ini, ia berfokus kepada hubungan diplomatik yang retak antara Indonesia dan Malaysia semenjak awal 1960an. Permusuhan ini terbukti laten hingga beberapa tahun kemudian, masih ada sentimen anti-malaysia di Indonesia, bahkan beberapa perebutan pulau dan budaya dilakukan antara Indonesia dan Malaysia. Orang Indonesia juga sempat menyebut Malaysia sebagai Malingsia, karena asumsi bahwa tindakan mereka yang suka mencuri, baik kebudayaan maupun pulau.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi para pembaca yang ingin mendalami konflik internasional, resolusi konflik dan diplomasi, saya sangat menyarankan buku ini sebagai pembuka sejarah konflik diplomatik Indonesia dengan negara tetangganya. Semoga resensi ini dapat memberikan manfaat atau paling tidak informasi singkat bagi para pembaca. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>08 May 2019</pubDate>
        <link>/asal-usul-retaknya-hubungan-diplomatik-indonesia-malaysia</link>
        <guid isPermaLink="true">/asal-usul-retaknya-hubungan-diplomatik-indonesia-malaysia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Menemukan Kembali Nama Islami dalam Kajian Sosiologi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Applying Ibn Khaldun&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Syed Farid Alatas&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://www.routledge.com/Applying-Ibn-Khaldun-The-Recovery-of-a-Lost-Tradition-in-Sociology-1st/Farid-Alatas/p/book/9780415678780&quot;&gt;Routledge&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xvi+207 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2014&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;ISBN: 978-0-415-67878-0&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa hari terakhir, saya menemukan infografis yang mendalami tentang Ibnu Khaldun dari organisasi mahasiswa yang berbasis di Jogjakarta. Kajian-kajian yang mereka lakukan nampaknya memang mulai mengangkat Ibnu Khaldun sebagai salah satu sosiolog yang patut menjadi rujukan awal para mahasiswa sosiologi di universitas manapun. Pemikir muslim tersebut layaknya tertimbun oleh kemegahan perkembangan pemikiran Barat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah berabad-abad menghilang dalam dunia akademik (sosiologi), Ibnu Khaldun dihidupkan kembali oleh seorang Profesor Sosiologi di National University of Singapore (NUS) bernama Syed Farid Alatas. Nama Alatas memang tidak asing bagi mereka yang kerap membaca karya-karya Syed Hussein Alatas alias S.H. Alatas. Farid adalah anak dari almarhum S.H. Alatas. Keduanya memiliki kertertarikan yang sama mengenai perkembangan keilmuan di dunia Islam, dan buku ini memang dipersembahkan Prof. Farid untuk mendiang ayahnya. Tidak seperti Vedi R. Hadiz, Syed Farid Alatas bukanlah orang yang terkesima dengan ide-ide Barat, namun lebih memilih untuk menggali khazanah-khazanah sosiologi dari pemikir Islam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis menjelaskan di awal bukunya, bahwa Ibnu Khaldun adalah salah satu akademisi yang kerap tidak dihiraukan, pandangan-pandangannya terpinggirkan. Memang benar dalam kasus ini, apabila para pembaca mencari buku daras tentang sosiologi, maka nama-nama yang tertera dalam buku itu adalah: Auguste Comte, Emile Durkheim, Max Weber, Talcott Parsons, Niklas Luhmann, sampai dengan yang paling mutakhir: Anthony Giddens.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Padahal, konsep &lt;em&gt;Ashabiyah&lt;/em&gt; yang dibawa oleh Ibnu Khaldun dapat menjelaskan perkembangan dan penurunan legitimasi maupun kekuatan dari sebuah negara. Karyanya yang paling monumental adalah &lt;em&gt;Muqaddimah&lt;/em&gt; yang merupakan kitab klasik yang mengulas tentang permasalahan-permasalahan sosial di Jazirah Arab. Ibnu Khaldun sendiri membagi masyarakat menjadi dua: mereka yang hidup dengan cara nomaden (berpindah-pindah) disebut sebagai &lt;em&gt;bedouin&lt;/em&gt; dan mereka yang menetap (&lt;em&gt;sedentary&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masyarakat &lt;em&gt;Bedouin&lt;/em&gt; atau baduy lebih kuat dibanding dengan &lt;em&gt;sedentary&lt;/em&gt;, karena baduy selalu menghadapi alam yang keras. Kebanyakan dari masyarakat baduy adalah seorang penggembala atau pemburu, sehingga ketahanan mereka jauh lebih kuat ketimbang masyarakat yang menetap. Menurut Farid, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa bentuk mata pencaharian yang membedakan satu masyarakat dengan masyarakat lainnya dan juga berhubungan dengan jumlah kekayaan. Masyarakat yang awalnya hidup tidak menetap dan menjadi penggembala, apabila menjadi kaya, mereka akan menetap dan mengadopsi budaya &lt;em&gt;sedentary&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masyarakat yang menetap maupun nomaden tidak hanya hidup berdampingan dan saling berinteraksi, namun ada fakta bahwa masyarakat yang menetap dulunya adalah masyarakat baduy, maka ada pula hubungan historis diantara keduanya. Ibnu Khaldun menganggap bahwa orang yang menetap dulunya merupaka orang baduy yang sudah berkecukupan sehingga tidak perlu lagi berpindah-pindah tempat guna memenuhi kebutuhan hidupnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kelompok nomaden pun lebih baik secara moral ketimbang masyarakat yang menetap. Hal ini diungkapkan oleh Farid dalam bukunya, karena masyarakat nomaden akan menahan diri untuk menggunakan barang-barangnya sesuai dengan kebutuhannya, sedangkan masyarakat yang menetap lahir dari kebudayaan berkecukupan dan suka akan kemewahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun perbedaan lainnya dari kedua jenis masyarakat ini adalah keberanian. Masyarakat yang menetap disebuah wilayah sudah terbiasa dengan kemewahan sehingga, menurut Farid, memiliki kehidupan yang berkemudahan. Akan ada pihak berwenang yang menjaga keamanan mereka yang dibarengi dengan pembagian kerja untuk memenuhi kebutuhan. Di sisi lain, kelompok baduy kekurangan fasilitas yang dimiliki oleh masyarakat yang menetap, mereka membutuhkan senjata untuk berburu dan perlindungan diri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masyarakat nomaden/baduy juga memiliki kelebihan dibidang &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt;. Konsep &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; ini adalah konsep yang unik dari Ibnu Khaldun, biasanya diartikan sebagai kohesi sosial, kesamaan nasib, jiwa korsa yang pastinya lebih kuat dalam masyarakat baduy. &lt;em&gt;Asabiyah&lt;/em&gt; ini yang memfasilitasi aktivitas sosial dan mekanisme perlindungan dalam masyarakat yang berpindah-pindah tempat tinggalnya. Dari konsep ini, maka muncul sebuah pemimpin superior dengan &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; terkuat, yang memiliki kewenangan maupun kesetiaan dari anggota lainnya dalam sebuah kelompok masyarakat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kelemahan dari masyarakat yang menetap disebuah wilayah adalah ketergantungan berlebih mereka terhadap hukum yang berlaku. Sifat alamiah dari masyarakat semacam ini adalah mayoritas dari penduduk akan dikuasai oleh minoritas elit. Hukuman yang bertujuan untuk menegakkan hukum/peraturan-perundangan akan menghancurkan keteguhan masyarakatnya karena penghinaan yang mengikuti penegakan hukum tersebut, dampaknya adalah rasa malu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kelemahan di atas tidak dimiliki oleh kaum baduy karena mereka mengandalkan kemampuan mereka daripada hukum. Namun, Farid juga mengutip dari Ibnu Khaldun, bahwa pengikut Nabi Muhammad S.A.W adalah orang-orang yang tunduk kepada peraturan namun memiliki keteguhan yang kuat. Hal ini dikarenakan kemampuan mereka untuk menahan diri dari internal diri mereka sendiri sebagai hasil dari kepercayaan dan agama mereka (Islam).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ulasan selanjutnya yang diberikan Farid Alatas dalam buku ini berkenaan dengan &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; yang dibagi menjadi tiga bentuk: hubungan darah/kekeluargaan (&lt;em&gt;silat al-rahim&lt;/em&gt;), hubungan patron-klien (&lt;em&gt;wala&lt;/em&gt;’), dan aliansi (&lt;em&gt;hilf&lt;/em&gt;). &lt;em&gt;Asabiyah&lt;/em&gt; terkuat terdapat pada jenis pertama, hubungan darah yang membentuk rasa solidaritas begitu kuat, namun apabila hubungan kekerabatan menurun dan dianggap tidak penting, maka hubungan patron-klien dan aliansi akan mengambil alih kekuasaan. Kekuasaan yang didasarkan pada hubungan kekerabatan akan membentuk sebuah dinasti, dimana &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; nya akan sangat kuat, karena pemimpinnya benar-benar dalam satu kelompok yang sama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika sebuah dinasti berada pada puncak kekuasaannya, mereka akan meminggirkan &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; yang telah memfasilitasinya untuk menuju pada kekuasaan tersebut. Hal ini terjadi karena ketika seseorang mencapai puncak kekuasaan, ia akan menaruh kelompoknya (keluarganya) pada posisi-posisi penting dalam pemerintahan, namun dengan pemberian tersebut, maka kelompoknya menjadi musuh potensial untuk menggulingkannya, sehingga sang pemimpin merasa perlu untuk menjadi independen dari &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; ini, pada akhirnya menggantikan orang-orang tersebut dengan klien (merubah bentuk &lt;em&gt;asabiyah silat al-rahim&lt;/em&gt; menjadi &lt;em&gt;asabiyah wala’&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ibnu Khaldun melihat kemewahan sebagai halangan dalam memimpin karena kehilangan kebiasaan dari hidup keras di padang pasir secara nomaden, sehingga &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; ataupun keteguhan dan keberaniannya perlahan memudar. Pada akhirnya, para baduy yang berubah menjadi penduduk tetap di suatu wilayah akan merasakan kemewahan dan kehilangan identitas mereka. Orang-orang tersebut akan menjadi tamak akan kekuasaan dan berusaha menyingkirkan siapapun yang dianggap berpotensi untuk merebut tahtanya. Kekuasaan inilah yang mengikis &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; (jiwa korsa, rasa persamaan nasib).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kombinasi paling kuat adalah gabungan antara &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; dan agama yang menghasilkan semangat yang bahkan bisa membuat pasukan menjadi berani mati dan mengalahkan musuh yang berlipat-lipat lebih banyak jumlahnya. Dalam teorinya, Ibnu Khaldun menyebutkan bahwa agama dapat menjadi pendukung untuk mempekuat kekuasaan dan kewenangan yang di dapat sebuah dinasti dari &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; nya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Syed Farid Alatas menjelaskan bahwa dalam pandangan Ibnu Khaldun, &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; (jiwa korsa, rasa akan kesamaan nasib, dan kohesi sosial) menjadi sangat penting dalam mempertahankan kekuasaan, karena membentuk kemampuan manusia dalam bekerjasama untuk mencapai kepentingan &lt;em&gt;ummat&lt;/em&gt;. Teori tentang &lt;em&gt;asabiyah&lt;/em&gt; ini dipinggirkan oleh pandangan-pandangan akademisi modern yang kebarat-baratan dan hanya menganggapnya sebagai pelengkap wacana sosiologi apabila melihat studi kasus di Afrika Utara dan Timur Tengah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini sejenis dengan karya Muhammad Haniff Hassan dari Nanyang Technological University (NTU) yang mengulas pemikiran Abdullah Azzam dalam bukunya &lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/abdullah-azzam-jihadis-yang-humanis/&quot;&gt;The Father of Jihad: Abd Allah Jihad Ideasand Implications to National Security&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;, namun lebih menekankan kepada pandangan-pandangan Jihad yang dibawa oleh Abdullah Azzam, sedangkan Syed Farid Alatas menekankan kepada pemikiran sosiologi dari Ibnu Khaldun. Keduanya memberikan biografi intelektual mengenai pemikir dunia Islam, namun dari kiblat yang bisa dibilang berseberangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya sangat menyarankan buku &lt;strong&gt;Applying Ibn Khaldun: The recovery of a lost tradition in sociology&lt;/strong&gt; ini untuk menjadi buku pegangan di Departemen Sosiologi, FISIP, Universitas Airlangga. Membawa sebuah pandangan baru (yang sebetulnya lama) untuk diulas. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>19 Apr 2019</pubDate>
        <link>/menemukan-kembali-nama-islami-dalam-kajian-sosiologi</link>
        <guid isPermaLink="true">/menemukan-kembali-nama-islami-dalam-kajian-sosiologi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Karya Anda, Riwayatmu Kini</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Oleh Reza Maulana Hikam dan Mujadid Salim&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jam tangan menunjukkan pukul 10.00, kami berdua masuk ke dalam sebuah toko buku tua yang terletak di Jln. Praban No. 55, Surabaya. Suasana dalam toko buku itu memang menarik buat kita berdua, karena memberikan sensasi yang &lt;em&gt;vintage&lt;/em&gt; layaknya menjajaki tempat bersejarah. Toko buku tersebut bernama Karya Anda yang berdiri semenjak 1970-an menurut Bu Sarwo Asri, salah seorang pegawai yang bekerja di sana semenjak masih gadis. Karya Anda didirikan oleh Pak Umu Arman Muklis yang memang berfokus pada perbukuan dalam bentuk CV.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebelum berdomisili di Praban, Karya Anda berada di Jembatan Merah. Namun, berpindah kantor ke tempat yang sekarang sedang kami kunjungi, semenjak 1980an hingga sekarang. Tidak hanya toko buku, Pak Muklis dulunya juga memiliki penerbitan sekaligus percetakan dengan nama yang sama, akan tetapi sudah tutup semenjak 2010, di mana banyak berkembang toko buku online yang terus menjadi saingan dari Karya Anda. Kami hanya menemukan Toko Buku Karya Anda di Surabaya, namun menurut pengakuan Bu Sarwo, toko buku ini pernah membuka cabang di Jakarta ketika masih ramai-ramainya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/IMG_20190318_115102.jpg&quot; alt=&quot;karya-anda-kedai-resensi-surabaya-1&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/IMG_20190318_115047.jpg&quot; alt=&quot;karya-anda-kedai-resensi-surabaya-3&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;https://i2.wp.com/kedairesensisurabaya.com/wp-content/uploads/2020/04/IMG_20190318_115152.jpg?ssl=1&quot; alt=&quot;karya-anda-kedai-resensi-surabaya-5&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun percetakan Karya Anda tidak terletak di Praban, melainkan mengontrak tempat di wilayah Perak, Surabaya. Sebenarnya, percetakan yang dimiliki oleh Pak Muklis ada tiga: Karya Anda, Usaha Nasional, dan Al-Ikhlas (yang berfokus mencetak buku-buku dengan tema Islam).Bu Sarwo juga menyampaikan bahwa ketika masih jaya-jayanya, Toko Buku Karya Anda mampu bersaing dengan Toko Buku Sari Agung di dekat Tunjungan Plaza, toko buku yang sekarang sudah tutup.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain Sari Agung, adapun Gramedia yang sekarang justru semakin berkembang dan memiliki penerbit. Gramedia adalah salah satu toko buku monopolistik yang pernah kami kenal. Akan tetapi persaingan tidak selalu ketat, kala itu. Menurut Bu Sarwo, baik Karya Anda, Gramedia ataupun Sari Agung saling melengkapi. Ketika tidak ada satu buku di Sari Agung, mereka akan mengambil di Karya Anda, begitu pula sebaliknya. Hal ini juga berlaku pada Gramedia yang mengambil, baik dari Karya Anda dan Sari Agung.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat masih tenar, Toko Buku Karya Anda bahkan juga menyuplai Blauran untuk buku-buku pelajaran dari penerbit seperti Yudhistira dan Erlangga. Nahas, menurunnya Karya Anda ketika para penerbit buku pelajaran tidak lagi menaruh bukunya di toko buku ini, melainkan langsung menyuplainya ke sekolah-sekolah kisaran tahun 2000an. Toko Buku Karya Anda memiliki berbagai macam koleksi, para pembaca akan menemukan buku terbitan lama dari penerbit alumni yang berfokus pada bidang hukum, LP3ES yang memiliki spesifikasi di bidang sosial, ekonomi dan politik. Adapun buku-buku eksakta, pendidikan, psikologi, dan yang masih banyak adalah buku bertema keIslaman.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit-penerbit tersebut langsung mengirimkan buku-bukunya ke Karya Anda. Pasokan buku-buku pun masih mengalir ke toko buku di jalan Praban ini, namun tidak se-masif saat masih jaya-jayanya. Karena masih banyak buku bertemakan keIslaman, menurut Bu Sarwo, banyak mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) yang kerap berkunjung ke Karya Anda. Bahkan para dosennya juga memesan beberapa eksemplar langsung ke toko buku ini. Kami berdua memang suka berkunjung dan berbelanja di Karya Anda karena koleksi buku-bukunya yang susah kita temui di toko buku modern seperti Togamas dan Gramedia. Selain itu, harga yang sangat terjangkau juga menjadi salah satu alasan toko buku ini pantas menjadi rujukan mahasiswa dalam membeli buku-buku perkuliahannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah berbincang dengan Bu Sarwo, kami pun lanjut mencari referensi perkuliahan, alhasil, tulisan Sudargo Gautama, Bintoro Tjokroamidjojo, dan Sumitro Djojohadikusumo yang sudah tidak beredar luas berhasil kami sabet. Kami sangat menyarankan para pembaca untuk mengunjungi toko buku ini, karena koleksi-koleksinya yang menarik dan pastinya tidak perlu merogoh kocek yang banyak. Apabila mengunjungi Toko Buku Karya Anda, kami menyarankan para pembaca untuk menggunakan sepeda motor, agar bisa diparkir di Blauran V. Toko buku lawas ini tutup pada jam 16.00.&lt;/p&gt;

&lt;script src=&quot;https://steller.co/site/static/js/steller.js&quot;&gt;&lt;/script&gt;

&lt;blockquote&gt;
  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Update:&lt;/strong&gt; Per 1 Desember 2019, toko buku ini tutup permanen.&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;P.S. Artikel ini sebelumnya tayang di situs web Klub Seri Buku.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Reza Maulana Hikam &lt;em&gt;adalah koordinator divisi Humas di Klub Seri Buku dan mahasiswa S1 Ilmu Administrasi Negara di FISIP, Universitas Airlangga&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mujadid Salim &lt;em&gt;adalah anggota divisi Humas di Klub Seri Buku dan mahasiswa S1 Hukum Pemerintahan di FH, Universitas Airlangga&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>29 Mar 2019</pubDate>
        <link>/karya-anda-riwayatmu-kini</link>
        <guid isPermaLink="true">/karya-anda-riwayatmu-kini</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Seluk-Beluk Perkreditan di Mata Begawan Ekonomi Indonesia</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt; Kredit Rakyat di Masa Depresi&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; Soemitro Djojohadikusumo&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt; &lt;a href=&quot;http://www.lp3es.or.id/&quot;&gt;LP3ES&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt; xxxvi+313 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt; 1989&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt; 979-8015-51-7&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Siapa yang tidak mengenal begawan ekonomi Indonesia? Prof. Soemitro Djojohadikusumo, salah satu Guru Besar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Banyak karyanya menjadi buku pegangan di berbagai jurusan yang terkait dengan ekonomi, terutama ekonomi pembangunan. Ia merupakan salah satu pakar ekonomi pertama di Indonesia yang kerap mengulas pembangunan dan memperkokoh pemahaman Bangsa Indonesia terkait pentingnya perencanaan dan analisis ekonomi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sekilas, Soemitro adalah anak dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pejuang yang mendirikan Bank Negara Indonesia (BNI). Ia sempat berkiprah sebagai Menteri Keuangan pada tahun 1952-1953 dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). Banyak muridnya akan menjadi teknokrat di zaman Orde Baru, kita mengenalnya dengan nama “Mafia Berkeley”. Adapun anaknya, Prabowo Subianto terjun ke ranah politik praktis dan Hasyim Djojohadikusumo menjadi salah satu pengusaha sukses di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku yang akan saya bahas dalam ulasan ini merupakan disertasi doktoralnya di Nederlandsche Economise Hogeschool di Rotterdam, Belanda, sekarang menjadi Erasmus University Rotterdam dengan judul &lt;em&gt;Het Volkscredietwezen in de Depressie&lt;/em&gt;. Karya Soemitro ini diberi pengantar singkat oleh ekonom progresif yang pernah berkiprah di HMI: M. Dawam Rahardjo. Apa yang beliau bahas di sini adalah sebuah pandangan baru di masa itu, yang masih menarik untuk dibaca, simak resensinya sebagai berikut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di era modern ini, para pembaca akan mengenal Kartu Kredit, biasanya disingkat CC sebagai alat pembayaran yang cepat, namun tidak pernah kita memahami bagaimana kredit sejatinya berjalan. Ekonomi mungkin terlihat gampang, tapi tidak segampang yang terlihat. Sebelum masuk ke dalam kredit, Soemitro mengulas tentang uang. Secara sederhana, uang adalah alat tukar, memudahkan seseorang yang dulunya dengan sistem barter harus menemukan barang yang tepat untuk ditukar, dengan kemunculan uang, cukup menggunakannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan adanya peralihan dari sistem barter ke penggunaan uang, orang telah menanam tanaman tertentu untuk memperoleh uang. Tanaman yang disebutkan Soemitro di halaman 5, bertujuan untuk melunasi hutang pajak, sehingga mendapat julukan “Taneman Padjeg” (tanaman pajak). Tidak hanya dengan menanam tanaman, banyak juga yang ingin mendapatkan uang dengan menjual jasanya sebagai buruh di kota atau perkebunan milik orang Barat. Contoh yang diberikan Soemitro memang disesuaikan dengan era pada saat disertasi ini ditulis, 1940-1942.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jalan masuk menuju pembahasan perkreditan adalah melihat uang sebagai satuan hitung, dimana ada unsur waktu yang menyisip di antara kita memberi dan menerimanya kembali. Satuan hitung ini akan menjadi tumpuan apabila sistem barter sudah mencapai tahapan paling maksimalnya sehingga harus digantikan dengan uang guna mempermudah berhitung. Ada satu konsep yang penting dari kredit: Bunga.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Soemitro menjelaskan bunga melalui teori yang dicetuskan oleh von Bohm Bawerk. Bunga merupakan wujud dari kondisi psikis manusia yang menilai terlalu rendah kebutuhannya pada masa mendatang. Adapun penulis mengutarakan bahwa setiap orang yang berada dalam kesulitan, akan bersedia untuk memberikan pengorbanan yang banyak dan besar di masa mendatang, asal saja ia dapat mengatasi kesulitan yang sekarang (tertera di halaman 11).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis juga mengutarakan bahwa penghasilan yang kecil mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan ketidaksabaran yang tinggi. Efek kemiskinan juga membuat manusia tidak rasional, antara lain: menurunkan kemampuan untuk melihat ke depan, melemahkan disiplin diri, menyebabkan seseorang menjadi pasrah akan nasibnya asal ia dapat memenuhi kebutuhan yang mendesak dalam waktu cepat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seseorang dapat menjadi fatalis dalam menghadapi masa depan karena sifat penghasilan di masa depan selalu terpaut dengan resiko dan ketidakpastian yang berdampak pada ketidaksabaran dalam memperoleh penghasilan itu sendiri. Ketidaksabaran ini dibentuk oleh unsur-unsur sebagai berikut: pandangan ke depan, pengendalian diri, kebiasaan, harapan hidup, kepedulian terhadap hidup orang lain, dan gaya hidup.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Faktor lain yang turut membuat orang meng-kredit adalah keinginan untuk mendapatkan penghargaan sosial dengan ukuran-ukuran tradisional yang mendorong orang-orang desa untuk melakukan pengeluaran yang melampaui kemampuan mereka. Peminjaman juga terdorong atas kondisi sosial dan psikis lingkungan si peminjam yang sebenarnya merugikan mereka sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di sisi lain, para pemberi pinjaman, seperti yang diutarakan Soemitro, sebenarnya tidak tertarik kepada pengembalian uang mereka dengan segera, akan tetapi bertujuan untuk mengikat si peminjam dengan perpanjangan pinjaman. Dampaknya adalah melanggengkan ketergantungan ekonomi dari si peminjam terhadap pemberi pinjaman. Kalau di masa modern ini kita mengenalnya dengan istilah rentenir atau lintah darat. Pandangan si peminjam sendiri yang menganggap bahwa melunasi bunga menjadi kewajiban, bukannya melunasi uang pokok pinjaman juga menjadi faktor pendorong ketergantungan ekonomi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perkreditan swasta yang tidak terorganisir ini justru memberikan dampak buruk bagi masyarakat Indonesia yang masih dalam masa transisi sistem ekonomi barter ke sistem ekonomi uang. Hal ini disebut buruk karena tingginya bunga yang diberikan tidak sebanding dengan penghasilan rendah yang dimiliki oleh masyarakat. Kredit seharusnya membantu masyarakat untuk menyelesaikan masalah di musim paceklik, maka dari itu diperlukan perkreditan yang terorganisir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain masalah kredit di Indonesia pada masa itu, Soemitro turut mengulas tentang keadaan ekonomi dunia yang berdampak negatif terhadap negara jajahan seperti Indonesia. Pertama karena adanya krisis ekonomi di tahun 1929, diikuti dengan semakin menguatnya kebijakan proteksionisme sebagai sebuah kebijakan yang mengetatkan perdagangan antar negara. Indonesia yang bertumpu pada ekspor kala itu, merasa dirugikan karena banyak aturan yang turut membuat susah pelaksaan ekspor barang-barang Indonesia, terutama hasil pertanian dan perkebunan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Soemitro turut memperlihatkan dalam tabel yang ada di bukunya berkaitan dengan penurunan jumlah ekspor dari tahun 1929 dengan jumlah 1.483 juta Gulden menjadi 539 juta Gulden di tahun 1936. Tidak hanya ekspor, namun impor pun menurun drastis. Keluarnya Pond Sterling (mata uang Inggris) dari ikatannya terhadap emas, turut merugikan Indonesia yang menggunakan Gulden Belanda yang masih mengikuti hitungan emas, akibatnya ada pertarungan antara Blok Pond Sterling dan Blok Emas, dimana negara yang masuk Blok Emas akhirnya harus melakukan devaluasi mata uangnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kebijakan deflasi dengan segera dilancarkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda melalui perusahaan-perusahaan asing di Indonesia dengan menggunakan ketidakberdayaan masyarakatnya, yakni memotong upah para pekerja, sehingga terjadi kelangkaan uang. Karena kelangkaan uang ini, terjadi proses pemiskinan yang cepat. Kelangkaan juga berdampak dengan menghilangnya barang-barang simpanan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari dan pada akhirnya, masyarakat Indonesia terpaksa menggadaikan tanahnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pokok bahasan lainnya dalam buku ini adalah Bank Rakyat yang berfungsi untuk menyediakan kredit bagi kebutuhan petani. Permasalahan besarnya adalah kredit yang seharusnya digunakan untuk produksi seperti membeli pupuk, bibit padi, alat pertanian malah juga digunakan untuk konsumsi pribadi seperti membeli perabotan rumah dan membeli pakaian. Maka dari itu Soemitro menyatakan bahwa tidak ada gunanya membedakan antara kredit produksi dan kredit konsumsi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bank-bank rakyat ini nantinya berdiri dibawah satu lembaga bernama &lt;em&gt;Algemene Volkscredietbank&lt;/em&gt; (AVB). AVB akan memberikan dua jenis pinjaman: pinjaman musiman dan pinjaman angsuran. Guna menjelaskan mengenai perkembangan perkreditan melalui AVB, Soemitro juga memuatnya dalam bentuk tabel. AVB sendiri hanya menerima kredit dalam bentuk uang sehingga harus diperhitungkan betul pendapatan para peminjam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;AVB pun berdiri pada tahun 1934 yang sepenuhnya berbentuk layaknya perusahaan, dimana ada jajaran direksi yang dipimpin oleh Presiden-Direktur (Direktur Utama) dan dua orang Direktur, sedangkan mereka akan dibantu oleh Komisi Pengawas dan Pembantu Pusat (komisioner). Adapun Prof. Soemitro turut menjelaskan manfaat-manfaat dari pengorganisasian bank rakyat dalam bentuk AVB sebanyak 6 manfaat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain berbicara mengenai teori dan bank rakyat, penulis membagi studi kasus menjadi dua: Jawa-Madura dan Luar Jawa. Studi kasus ini kebanyakan berkutat di Jawa sebagai pulau yang padat penduduk. Pembagian studi kasus pun ada yang menjelaskan kondisi baik perkreditan maupun bank rakyat di masa depresi. Ia juga menjelaskan tentang aspek ekonomis terkait perkembangan perkreditan maupun bank rakyat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penjelasan Prof. Soemitro dalam buku ini sangatlah mudah dipahami layaknya buku-bukunya yang lain dengan menggunakan bahasa Indonesia yang sangat baku. Meskipun terkesan sedikit kaku, namun ulasan beliau tentang kredit rakyat memang lugas dan jelas. Walaupun buku ini merupakan terjemahan dari disertasi berbahasa Belanda, tetapi penerjemahannya sangat tepat dan tidak membuat pembaca bingung. Bagi para mahasiswa Ekonomi Pembangunan, saya sangat menyarankan untuk membaca karya ini sebagai pembuka dalam memahami perkreditan di Indonesia karena memuat dimensi historis, akan menjadi tugas pembaca untuk menyelaraskan dengan kondisi yang ada di Indonesia sekarang. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>20 Mar 2019</pubDate>
        <link>/seluk-beluk-perkreditan-di-mata-begawan-ekonomi-indonesia</link>
        <guid isPermaLink="true">/seluk-beluk-perkreditan-di-mata-begawan-ekonomi-indonesia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Memahami Krisis Ekonomi dari Pakarnya</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;  Mengelola Bank Indonesia Dalam Masa Krisis&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; J. Soedradjad Djiwandono&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt; LP3ES&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt; xiii+398 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt; 2001&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt; 979-8391-94-1&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kala berkunjung ke website S.Rajaratnam School of International Studies (RSIS), tempat di mana Tito Karnavian menempuh doktoralnya, para pembaca akan menemukan nama J. Soedradjad Djiwandono sebagai salah satu profesor di bidang ekonomi internasional. Saat itu pula kita akan sadar, bahwa kita memiliki ekonom terkemuka yang mengajar di Singapura. Sebelumnya saya akan memperlihatkan sepak terjang Prof. Dradjad (panggilan akrabnya).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Soedradjad Djiwandono adalah ekonom dari Indonesia yang menempuh S1 nya di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan menempuh dua S2 dari University of Wisconsin dan Boston University lalu di akhiri dengan Ph.D di Boston University. Ia tergolong sebagai akademisi tulen karena pernah menjadi peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Visiting Scholar di John. F. Kennedy School of Government, dan peneliti di Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ia pernah menjadi Gubernur Bank Indonesia (BI) pada masa krisis ekonomi Asia (1993-1998). Buku ini adalah testimoni bagaimana Prof. Dradjad mengelola bank sentral kita dalam keadaan krisis ekonomi di Asia. Sebelum saya mengulasnya, penulis pernah menjelaskan kepada saya, bahwa keadaan krisis pada tahun 1997/1998 sangatlah terasa di Indonesia, karena negara khatulistiwa ini menjadi salah satu di antara tiga negara yang menjadi pusat krisis, lainnya adalah Thailand dan Korea Selatan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis mengutarakan bahwa krisis yang terjadi di Indonesia memang merupakan bagian dari Krisis Ekonomi Asia dikala 97/98 yang menular dari Thailand dan Korea Selatan. Terutama berasal dari krisis valas yang terjadi di Thailand, dan jatuhnya nilai Baht dari negara gajah putih tersebut. Dalam melihat krisis perekonomian, secara teoritik Prof. Dradjad menyebutkan bahwa krisis di Asia berbeda dengan Amerika Latin, di mana di Asia, pemerintahnya tidak menghadapi defisit anggaran. Adapun dua pendekatan di mana pendekatan pertama melihat adanya penularan krisis dari faktor eksternal, sedangkan pendekatan lainnya melihat faktor regional negara yang sedang dilanda krisis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Prof. Dradjad berargumen bahwa buku ini dituliskan dalam sudut pandang kebijakan moneter di Indonesia karena berfokus kepada tugas Bank Indonesia sebagai bank sentral yang mengatur segala macam kebijakan ekonomi di Indonesia. Ada program-program penyempurnaan Bank Indonesia semasa penulis menjabat, yakni dalam lingkup perbankan, moneter dan sistem pembayaran. Program ini bertujuan guna mempersiapkan BI sebagai bank sentral yang akan berperan dalam menyatukan ekonomi nasional Indonesia dengan ekonomi dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti pada paragraf sebelumnya, bahwa pendekatan dalam melihat krisis perekonomian ada dua, yakni krisis ekonomi disebabkan oleh kepanikan finansial yang melanda banyak negara akibat proses penularan, dan yang kedua adalah krisis ekonomi merupakan akibat dari kelemahan ekonomi nasional karena pelaksanaan kapitalisme kroni seperti yang dijelaskan oleh penulis dalam buku ini. Keduanya merupakan pendekatan yang umum dipakai ketika AFC (Asian Financial Crisis) terjadi pada 97/98.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut penulis, krisis di atas terjadi karena adanya euforia terhadap perkembangan pasar valas yang ditunjang dengan perkembangan industri finansial, dampaknya adalah gelembung ekonomi atau &lt;em&gt;economic bubbles&lt;/em&gt;. Krisis ini juga merupakan lanjutan pada krisis pinjaman jangka pendek negara-negara berkembang pada tahun 1980an. Dalam keadaan euforia, ada kejutan yang menimbulkan perubahan sentimen pasar sehingga mengakibatkan para pelaku pasar mengeluarkan diri dari mekanisme pasar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun dampak sosial-politik yang sangat negatif dari krisis disebutkan pula oleh Prof. Dradjad, yakni peningkatan jumlah pengangguran, peningkatan jumlah anak putus sekolah, kerusuhan yang memuncak di 1998, dan tumbangnya Orde Baru sebagai ledakan krisis ekonomi Asia di tahun 1997/1998. Salah satu faktor krisis yang ada di Indonesia adalah lemahnya peran perbankan yang berdampak pada depresiasi mata uang hingga 70% setelah Rupiah sempat stabil dihadapan dolar Amerika Serikat (AS) dalam jangka waktu yang panjang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam keadaan krisis ini, pemerintah Indonesia meminta bantuan pinjaman ke Dana Moneter Internasional (IMF) melalui anggota &lt;em&gt;ad hoc&lt;/em&gt; nya di Indonesia, yakni Profesor Widjojo Nitisastro. Memang, menurut saya, yang sangat terkenal dari Indonesia tak lain adalah para ekonomnya yang menyandang banyak gelar dari pengembaraan ilmu pengetahuan di luar negeri, nahasnya, para ekonom ini mendapatkan cap yang buruk di Indonesia, sehingga tidak jarang kita menemukan nama-nama mereka yang disebut dengan “Mafia Berkeley”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada Bab kedua ini, Prof. Dradjad menjelaskan dengan sangat seksama terkait langkah-langkah yang hendak ditempuh Pemerintah Indonesia di kala itu, mulai dengan pengaktifan kembali Prof. Nitisastro, sampai dengan koordinasi Menteri Keuangan dan Gubernur BI ketika pinjaman dana dari IMF turun. IMF sendiri menjawab dengan positif permohonan bantuan Pemerintah Indonesia dan menganggap permohonan tersebut sebagai langkah yang baik dalam memperkokoh kebijakan ekonomi, seperti yang dituturkan Prof. Dradjad dalam buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis juga menjelaskan perbedaan &lt;em&gt;precautionary arrangement&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;stand-by arrangement&lt;/em&gt; dalam fasilitas (pinjaman) yang diberikan IMF. Ulasan yang bersifat mendetail ini tidak pernah diberikan oleh kelompok-kelompok yang mengaku berhalauan Marxis dalam mengulas perekonomian suatu negara, sehingga tidak jarang para ekonom didikan Amerika Serikat lebih di dengar di berbagai negara, terutama negara berkembang dan menjadi penasehat ataupun analis di IMF, WTO ataupun Bank Dunia (karena ketiga organisasi ini tidak peduli dengan perang ideologi, namun kebih menekankan kepada kebijakan dan analisis ekonomi).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karya Prof. Dradjad ini turut mengulas cara bermain dari IMF, di mana penggunaan kata &lt;em&gt;arrangement&lt;/em&gt; mengilustrasikan sebuah kesepakatan dari perjanjian yang dipahami oleh pihak peminjam dan IMF dengan tujuan ada perbaikan ekonomi juga jaminan bahwa dana yang dipinjam akan dikembalikan. Adapun penulis menyebutnya sebagai paket kebijakan yang menyangkut resktrukturisasi sektor keuangan melalui kebijakan fiskal dan moneter. Walaupun bahasannya pada lingkup perbankan, namun dengan diambilnya Bank Indonesia sebagai pusat kajiannya menjadikan buku ini memiliki bahasan yang cukup luas: Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sasaran dari kebijakan Pemerintah Indonesia perihal permasalahan krisis ekonomi adalah kestabilan nilai tukar. Menurut penulis, sasaran macam ini tergolong jangka pendek, tetapi akan memakan waktu yang cukup lama karena membutuhkan kelembagaan dan struktur ekonomi yang efektif dan efisien. Penggunaan kata efektif dan efisien adalah ciri khas pakar ekonom semacam Prof. Dradjad. Hampir mustahil menemukan ekonom yang tidak menggunakan kedua istilah tersebut dalam karya-karyanya, bahkan perkembangan ilmu pengetahuan yang bersifat terapan akan menekankan kepada permasalahan efektivitas dan efisiensi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kebijakan pemerintah dan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) turut diulas pula dalam buku ini. Media massa selalu memperlihatkan BLBI sebagai masalah besar yang harus diusut tuntas karena “merugikan negara”, namun kasus ini tidak selesai karena sejatinya BLBI adalah kebijakan, bukan sebuah kasus korupsi. Maka dari itu, penting juga memberikan pembelajaran terhadap wartawan yang meliput masalah ekonomi dan bisnis, akibat pemberitaan miring mereka terhadap BLBI, Prof. Dradjad juga mendapatkan predikat buruk melalui media massa di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini sangat saya rekomendasikan bagi para mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan di Universitas Airlangga guna memahami krisis ekonomi Asia yang terjadi di Indonesia. Karya Soedradjad Djiwandono ini layaknya gabungan antara pengalaman pribadi dengan teori ekonomi. Alhasil, buku ini memiliki landasan teoritik yang kuat dengan studi kasus Indonesia, terlebih lagi berfokus kepada sektor ekonomi yang menarik yaitu perbankan: Bank Indonesia. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Mar 2019</pubDate>
        <link>/memahami-krisis-ekonomi-dari-pakarnya</link>
        <guid isPermaLink="true">/memahami-krisis-ekonomi-dari-pakarnya</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Gagal Paham Laskar Jihad—Buku Panduan Memahami Kelompok Salafi Kontemporer</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Laskar Jihad&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Noorhaidi Hasan&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: LP3ES&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: xi+363 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2008&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt;: 979-3330-74-7&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa minggu yang lalu, para pembaca akan menemukan kabar berkaitan dengan &lt;a href=&quot;https://news.okezone.com/read/2019/03/01/340/2024287/panglima-laskar-jihad-ja-far-umar-bersama-6-pengikutnya-jadi-tersangka&quot;&gt;penangkapan Ja’far Umar Thalib di Papua&lt;/a&gt;. Banyak akademisi yang mengaitkan aktivitas Ja’far dengan terorisme, padahal dia hanyalah pendakwah, meskipun pendekatannya konservatis sekali. Jika para akademisi tersebut mempelajari lebih jauh tentang konservatisme di Indonesia, mereka pasti mengetahui bahwa Ja’far bukanlah bagian dari jejaring teroris, melainkan salah satu tetua dari jaringan Lasykar (organisasi paramiliter bercorak Islam) di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku yang merupakan karya staf pengajar Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini merupakan disertasi PhD dalam menutup masa pembelajaran di Utrecht University, Belanda. Tidak disempitkan pada Laskar Jihad (LJ), penulis juga mengulas secara singkat Laskar Pembela Islam (LPI), sebuah organisasi paramiliter dari Front Pembela Islam (FPI) dibawah Habib Rizieq Shihab. Penulis memang menekankan bahwa laskar-laskar ini memang memiliki tujuan untuk menegakkan Syariat Islam di Indonesia, namun itulah perbedaannya dengan jejaring teroris.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apabila kelompok semacam Jamaah Islamiyah (JI) atau Jamaah Anshorut Daulah (JAD), juga Negara Islam Indonesia (NII) berusaha mendirikan Darus (Negara) Islam di Indonesia, para laskar ini hanya ingin syariat Islam dilaksanakan di negeri khatulistiwa ini, tanpa melalui jalur politik-konstitusional atau jalur politik-revolusioner (makar). Hasan mengutarakan bahwasanya Laskar Jihad muncul sebagai organisasi paramiliter yang menyatukan para pemuda beraliran Salafi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Organisasi yang menaungi LJ adalah Forum Komunikasi Ahlus Sunnah wal Jama’ah (FKAWJ) yang telah berdiri semenjak tahun 2000. Pendiri dari Laskar Jihad ini adalah Ja’far Umar Thalib bersama beberapa tokoh Salafi lainnya yang turut disebutkan dalam buku ini. Ja’far sendiri merupakan seorang keturunan Hadrami yang lekat dengan organisasi seperti Al-Irsyad dan Persatuan Islam (Persis). Seperti yang dituturkan oleh Hasan, bahwa Ja’far yang pernah belajar di Pakistan, juga menyempatkan untuk bertempur di medan Afghanistan pada tahun 1980an.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Laskar Jihad awalnya merupakan unit keamanan dari FKAWJ yang dibagi ke dalam empat batalyon yang diberi nama sesuai dengan empat khalifah dalam Islam pasca meninggalnya Rasulullah. Adapun menurut Hasan, LJ merupakan salah satu organisasi paramiliter Islam yang kerap mengirimkan sukarelawan jihad ke wilayah-wilayah konflik di mana umat Islam sedang menghadapi represi seperti di Poso dan Maluku. Selain itu, mereka pun juga memiliki pelatihan yang diberikan oleh personil Resimen Mahasiswa (Menwa). Kamp pelatihan dari LJ terletak di Bogor.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menariknya, Noorhaidi Hasan menyingkap pula bahwa Laskar Jihad, dengan pandangan negatif yang disematkan padanya, ternyata melakukan hal-hal positif yang bahkan tidak terpikirkan oleh organisasi “moderat” macam NU atau Muhammadiyah, yakni mendirikan Taman Kanak-Kanak Islam, Sekolah Islam, kursus baca Qur’an terpadu. Kegiatan-kegiatan ini menandakan bahwa LJ bukanlah kelompok teroris beringas yang hanya karena ada kata “Jihad” dalam namanya lalu dengan mudahnya disematkan pandangan teroris padanya. Kelompok ini tetap memiliki tujuan untuk mempertahankan umat Islam sekaligus melakukan dakwah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hasan mengidentifikasikan kemunculan Laskar Jihad semenjak tahun 1980an dengan munculnya para pemuda yang berpakaian jubah panjang, bersorban, celana ¾ dan memiliki janggut panjang. Ciri-ciri tersebut cocok sekali dengan pemuda Salafi yang acapkali mengaku mengikuti jalur dari Salafus Salih (orang saleh terdahulu). Mungkin pada saat itu belum ada panggilan yang pas, namun sekarang kita mengenalnya dengan nama Pemuda Hijrah, Go Hijrah dan Indonesia Tanpa Pacaran. Penjelasan Hasan dalam Bab 1 ini memperlihatkan bahwa fenomena hijrah sebenarnya ada jauh sebelum Ustad Media Sosial terkenal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pastinya gerakan semacam ini menekankan pada pemurnian aqidah umat Islam tanpa menekankan sebuah perubahan politis dan mendirikan negara Islam. Tema-tema diskusi yang mereka adakan pun tidak mengenai pembentukan negara Islam, melainkan berkenaan dengan akhlaq, busana umat Islam, aqidah dan segala permasalahan keagamaan sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan kaum Salafi bahwa sebelum adanya perubahan pemerintahan, maka masyarakat harus diajak melaksanakan Islam secara kaffah. Perubahan dalam masyarakat ini, menurut Hasan, akan terlaksana secara evolusioner (pelan-pelan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak hanya LJ, Hasan juga mengutarakan bahwa pasca Reformasi, banyak ekspansi kaum Salafi yang bahkan mengalahkan pamor dari NII. Mereka membentuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab (LIPIA). Adapun kemunculan penerbit-penerbit seperti Gema Insani Press (GIP), lalu Al-Kautsar, Risalah Gusti, Pustaka Mantiq dan banyak penerbit lainnya yang turut disebutkan. LIPIA begitupula penerbit-penerbit tersebut merupakan jalur perluasan pemikiran Salafi yang nantinya juga menjadi landasan organisasi seperti Laskar Jihad.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun awalnya apolitis, namun Laskar Jihad menjadi patahan dari gerakan-gerakan Salafi yang sedang “bingung”. FKAWJ dan LJ adalah organisasi yang lahir akibat keprihatinan melihat konflik sektarian yang terjadi di Maluku dan dorongan untuk ber-Jihad ke sana. Adapun penulis menguaknya melalui teori mobilisasi dan gerakan sosial yang menggunakan massa (sumberdaya manusia) sebagai alat utama gerakan ini dapat berhasil. Gerakan sosial ini membentuk kelompok-kelompok Salafi menjadi kelompok baru yang ikut dalam panggung politik Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak seperti kelompok preman yang bergerak tanpa landasan, Laskar Jihad bergerak atas landasan fatwa seperti ketika berangkan ke Maluku, dilandasi oleh fatwa yang dikeluarkan oleh Muqbil ibn Hadi al-Wadi’i tentang kewajiban umat dalam ber-Jihad, terutama di daerah konflik seperti Maluku. Jihad-jihad yang dilakukan LJ bersifat defensif (perlindungan) sehingga ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh para mujahidnya, salah satunya dilarang mengakibatkan kekerasan fisik sesama umat Islam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menariknya, mereka yang tergabung dalam LJ dan sedang berangkat ke Maluku untuk ber-Jihad akan mendapatkan pendanaan dari FKAWJ yang bertanggung jawab atas pengiriman mereka dan juga memberikan bantuan terhadap keluarga-keluarga yang sedang ditinggal ber-Jihad. Pendanaan ini didapatkan melalui iuran wajib anggotanya dan donasi yang dikumpulkan melalui masjid-masjid dan permintaan di pinggir jalan. Namun penulis mengutarakan bahwa donasi besar tidak di dapat melalui sumbangan di masjid-masjid, melainkan donatur dari kalangan menengah ke atas yang juga termasuk kalangan militer.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu konsepsi yang menjadi inti dari kelompok Salafi semacam LJ adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Aswaja’), guna menjadi seorang pengikut Nabi Muhammad sejati, maka seseorang harus mempraktikkan seluruh ajarannya secara konsisten dan bergumul membentuk kelompok yang bersama-sama menerapkan ajaran Rasulullah. Selain Aswaja’, kelompok Salafi juga mengikuti ajaran Al-Qanthani dalam kitabnya Al-Wala’ wal Bara’ (konsepsi loyalitas dan permusuhan dalam Islam), kitab ini juga dipelajari oleh kelompok mujahid, meskipun semua yang membacanya belum tentu mujahid.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Laskar Jihad dengan keberhasilannya mengirimkan sumber daya manusia ke Maluku, di dukung dengan hubungan baik elitenya dengan kelompok militer. Hasan juga mengutarakan bahwa kedekatan ini berdampak pada pendaratan ribuan anggota LJ di Pelabuhan Slamet Riyadi yang tidak dihadang oleh TNI sama sekali, malah beberapa hasil wawancara dari buku ini menunjukkan bahwa mereka disambut hangat oleh personil militer, adapun beberapa yang berangkat dengan menumpang kapal-kapal TNI.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para politisi kondang juga turut mendukung tindakan Laskar Jihad ini seperti Sumargono dan Eggy Sudjana (alumni HMI-MPO), begitupula Amien Rais hingga sekertaris Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Hussein Umar. Dukungan-dukungan inilah yang membuat nama LJ semakin membesar. DDII pun pernah membentuk Komite Penganggulangan Krisis (KOMPAK) yang nantinya di Poso akan membentuk kelompok Mujahididn KOMPAK Kayamanya (MKK) dan menjadi salah satu jejaring teroris nomer dua setelah Mujahidin Tanah Runtuh (MTR) bentukan Jamaah Islamiyah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun LJ bisa dibilang sebagai kelompok yang berjihad untuk mempertahankan Maluku maupun Poso, namun mereka tidak dihitung sebagai kelompok teroris karena tidak menjalankan aksi-aksi teror yang menyerang musuh, namun lebih menekankan penggunaan kekerasan sebagai pertahanan sebagai Jihad Al-Daf. Kirsten E. Schulze juga pernah mengulas tentang LJ dalam pusaran konflik Ambon (Maluku), inilah yang membedakan karya Schulze dengan Hasan, dimana Schulze hanya melihat LJ melalui konflik Ambon, sedangkan Hasan menuliskan LJ secara lengkap bersama kaitannya dengan kelompok FKAWJ.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini memang menjadi rujukan yang pas untuk mempelajari Laskar Jihad secara menyeluruh, di mana kelompok ini masih sangat lemah dalam literatur ilmiah di Indonesia. Ditunjang dengan pandangan yang miring tentang LJ yang tidak bisa membedakan kelompok konservatif dengan kelompok teroris, buku ini mampu memberikan batasan mana kelompok teroris dengan yang bukan. Bagi mereka yang ingin mengulas tentang Laskar Jihad, buku ini akan menjadi pegangan yang pas dan sudah teruji secara akademis sebagai disertasi. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>17 Mar 2019</pubDate>
        <link>/gagal-paham-laskar-jihad-buku-panduan-memahami-kelompok-salafi-kontemporer</link>
        <guid isPermaLink="true">/gagal-paham-laskar-jihad-buku-panduan-memahami-kelompok-salafi-kontemporer</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Bisakah Preman Bermain di Panggung Politik?</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt; Politik Jatah Preman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; Ian Douglas Wilson&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt; Marjin Kiri&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt; xxi+315 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt; 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt; 978-979-1260-83-1&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Murdoch University memang menjadi salah satu lembaga pendidikan tinggi yang menarik jika mengkaji tentang Indonesia dari sudut pandang teori sosial kritis. Bagaimana tidak, hampir beberapa akademisi asal Murdoch selalu memberikan nuansa yang menarik, mulai dari Richard Robison, Vedi Hadiz, Airlangga Pribadi (dosen Universitas Airlangga, alumni Murdoch) sampai dengan Ian Douglas Wilson ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diawali dengan karya Robison yang berjudul Indonesia, &lt;em&gt;The Rise of Capital&lt;/em&gt;, lalu Vedi menulis bukunya yang berjudul &lt;em&gt;Reorganising Power in Indonesia&lt;/em&gt; bersama Robison dan Palgrave pun menerbitkan karya Airlangga Pribadi yang berjudul &lt;em&gt;The Vortex of Power&lt;/em&gt;. Semua buku tersebut memiliki satu kesamaan: menganalisis politik di Indonesia melalui pendekatan Marxian. Mulai dari kelompok teknokrat, birokrat, intelektual, sampai dengan preman menjadi lingkup kajian para intelektual asal Murdoch.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Baik buku yang ditulis Airlangga ataupun Vedi Hadiz selalu berhubungan dengan politik elektoral, sebut saja pemilu biar gampang. Bahasan semacam ini memang memiliki daya tarik tersendiri bagi khalayak umum di Indonesia. Buku satu ini pun tidak terlepas dari pemilu, meskipun menekankan kepada relasi preman dengan pandangan ekonomi-politik, dan berusaha melihat peran preman dalam pemilu maupun sebagai pengusaha keamanan. Seperti apa pembahasannya? Mari simak sebentar ulasan saya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti karya-karya ilmiah lainnya yang dipopulerkan oleh Penerbit Marjin Kiri, buku ini menyuguhkan kerangka teoritik yang kuat. Pada halaman satu, penulis mengutip salah satu akademisi sosial-politik terkenal bernama Charles Tilly mengenai hubungan antara pemerintah dan “para spesialis kekerasan”. Kelompok tersebut memiliki panggilan khusus di Indonesia: Preman. Ya, para preman ini memiliki caranya sendiri untuk masuk ke dalam sendi-sendi pemerintahan Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ian Wilson mengutarakan bahwa kelompok preman justru makin menjadi-jadi pasca Soeharto lengser dari tampuk kekuasaan. Peran preman yang dituliskan oleh Wilson mengutip dari penjelasan C.A. Trocki, dimana mereka tampil sebagai penerima politik elektoral demokratis, yakni sebagai kandidat, penggerak massa, mengancam pesaing, dan lain sebagainya. Adapun kutipan dari Mazaki dan Rozaki memperlihatkan bahwa pemerintah mengandalkan kekerasan yang ada di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Studi kasus yang disuguhkan pun dimulai dengan Orde Baru yang mempekerjakan preman sebagai alat negara guna menjatuhkan oposisi, menarik setoran dan mengawasi masyarakat. Berbeda dengan Orde Baru, garda preman dewasa ini memiliki identitas lokal. Kekuasaan para preman yang awalnya terpusat di Orde Baru, maka sekarang lebih bersifat kedaerahan. Wilayah kekuasaan mereka berada pada tataran kampung.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kekuasaan spasial ini tidak hanya membuat politik nasional tidak lagi menggiurkan bagi para preman, namun kelompok-kelompok preman semakin menjamur pada tataran daerah seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya. Dengan adanya desentralisasi, para preman dan “pengusaha kekerasan” dapat memperkuat dirinya dengan pemerintah yang secara bersamaan juga membuat mereka semakin mandiri dari sokongan pemerintah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan diatas memperlihatkan bagaimana pemerintah justru dalam keadaan tergantung dengan para preman dan sebaliknya, para preman menjadi semakin mandiri. Pandangan ini ada benarnya di tataran politik lokal, dimana wilayah seperti Surabaya memang dikuasai preman tergantung pada wilayahnya. Sebuah partai bisa masuk dan mendapatkan dukungan apabila turut bekerjasama dengan para jagoan di sebuah daerah. Kita mengenal banyak istilah mulai jawara, jagoan, sampai dengan blater yang kerap diidentikkan dengan premanisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Studi kasus yang menarik juga disuguhkan oleh Ian Wilson dalam bentuk Tanah Abang. Menurutnya, ada pergeseran kekuasaan preman di sana yang mengikuti perubahan kekuasaan di Jakarta. DKI Jakarta sebagai ibukota menjadi tempat urbanisasi yang besar, dibalik kemegahannya, banyak kehidupan jalanan yang menjadikan preman sebagai sumber kewenangan informal dibalik perekonomian jalanan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tanah Abang dijadikan tempat relokasi bagi pedagang-pedagang kaki lima yang digusur oleh pemerintah dan dari sinilah para preman berjaya sebagai alat pengamanan pasar. Preman memiliki hubungan dengan pemerintah karena pengelola Pasar Tanah Abang adalah PD Pasar Jaya yang notabene merupakan perusahaan negara. Nama-nama seperti si Pitung dan Haji Sabeni lahir dari wilayah ini, bahkan kasus Hercules Rozario Marcal asal Timor Timur merupakan preman yang ada di Tanah Abang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Preman-preman Tanah Abang menggunakan setiap jengkal tanah untuk alat memungut biaya, segala macam istilah uang di area ini juga diutarakan oleh penulis. Orang seperti Hercules merupakan hasil dari kerasnya kehidupan di Jakarta. Ia awalnya hanya penjaja rokok yang kerap dikompas (dimintai uang secara paksa, &lt;em&gt;red&lt;/em&gt;) oleh preman-preman, namun melakukan perlawanan. Pada tahun 1993, namanya kian melejit dan makin banyak pengikutnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kedekatan Hercules dengan Orde Baru bukan lah bentuk kesetiaan, akan tetapi lebih kepada strategi Hercules bersama gengnya untuk mempertahankan diri dan melakukan transaksi ekonomi: tugas-tugas kekerasan yang tidak bisa secara langsung dilakukan oleh pemerintah. Perpecahan dalam gengnya pun terjadi akibat tertembaknya anggota geng: Manuel Soares. Hal ini membuat beberapa pengikut Hercules justru pindah halauan ke SMID dan PRD dalam perjuangannya melawan rezim Orde Baru. Dulu kawan sekarang lawan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tindakan preman yang meminta uang kepada pedagang membuat para pedagang miris karena merasa pelindung mereka juga menjadi penghisap dalam satu waktu sekaligus. Pengejawantahan Wilson berkenaan dengan preman dapat disejajarkan dengan uraian Nigel Cawthorne mengenai Mafia sebagai kriminalitas terorganisir di Italia dan Amerika Serikat. Hanya berbeda perawakan, namun secara watak dan perilaku sama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nama-nama seperti Prabowo dan Sutiyoso juga disebutkan dalam buku ini sebagai “beking” dari kelompok-kelompok preman yang mereka bentuk sendiri. Menurut penulis, hal semacam ini sudah lazim. Menariknya, praktek “beking” semacam ini memang masih ada hingga sekarang. Tidak peduli wilayah perkotaan maupun pedesaan, preman tetap ada, namun “beking” biasanya ditemukan di perkotaan yang memiliki iklim kompetisi tinggi antar geng preman.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasca keruntuhan Soeharto dan masuknya Indonesia ke dalam Demokrasi Liberal, muncul pula satgas-satgas partai yang bertugas mengamankan partai politiknya, berbondong-bondong preman bergabung ke dalam satgas partai. Tugas satgas ini, seperti yang dituliskan oleh Wilson adalah sebagai pengaman acara kampanye atau konferensi partai, pengawal pribadi anggota senior partai, dan kader-kader akar rumput yang bertugas menyebar berita partai di tingkat lokal. Akan tetapi ada kerjaan sampingan yang menjadikan satgas partai menjadi preman dalam panggung politik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tugas sampingan tersebut adalah penyerangan terhadap jurnalis, mengintimidasi pesaing politik, bahkan warga juga menjadi sasaran intimidasi untuk mencoblos partai tertentu. Hal semacam ini sebenarnya sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat Indonesia, tapi baru Ian Wilson yang menuliskan dalam buku ilmiahnya. Dua partai yang sering disebut dalam buku ini yang memiliki satgas yang aktif: PDIP dan PKB. Keduanya memiliki caranya masing-masing untuk menggalang perlindungan dan memberikan pengamanan bagi konstituennya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Uraian Wilson memang benar apabila mengaitkan PKB dan NU dengan Banser dan Ansor sebagai satgas mereka. Seperti yang dapat kita lihat dengan mata kepala sendiri, Banser maupun Ansor menjadi alat pengamanan agenda-agenda yang diselenggarakan oleh NU maupun PKB. Tidak hanya dititik itu, pasca pengeboman gereja di tahun 2000, kedua satgas ini juga menawarkan pengamanan gereja dengan bayaran. Keamanan menjadi salah satu sektor bisnis yang menarik baik bagi kelompok preman, maupun satgas partai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Organisasi semacam Pemuda Pancasila, Front Pembela Islam, dan Barisan Serbaguna mungkin menjadi contoh besar organisasi/satgas yang cenderung dekat dengan kekerasan (terutama fisik). Nama-nama tersebut memberikan rasa takut bagi pendengarnya dan kebanggaan bagi mereka yang tergabung di dalamnya. Tindakan-tindakan mereka kepada khalayak umum di Indonesia selalu melibatkan faktor-faktor dan tujuan politis di belakangnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karya Ian Douglas Wilson ini kurang lebih sama dengan buku Vedi Hadiz, &lt;em&gt;Localising Power in Indonesia&lt;/em&gt;, namun studi kasus yang berbeda memberikan nuansa yang berbeda pula. Meskipun keduanya mengulas &lt;em&gt;strongmen politics&lt;/em&gt;, Vedi lebih menekankan kepada keadaan pasca-otoritariannya, sedangkan Wilson lebih mengulas kondisi di lapangan dan hubungannya dengan teori ekonomi-politik dan politik-elektoral. Kesamaannya adalah penggunaan bahasa yang sama-sama rumit (bahkan buku Wilson ini terdapat istilah-istilah yang terdengar aneh).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi para pembaca yang ingin mendalami &lt;em&gt;strongmen politics&lt;/em&gt;, saya menyarankan untuk membaca &lt;em&gt;Localising Power in Indonesia&lt;/em&gt; sebelum masuk ke Politik Jatah Preman ini. Kasus-kasus yang berkaitan dengan buku Wilson ini dapat kita temui di sekitar kita. Pasar yang berada di dekat rumah para pembaca pasti tidak terlepas dari biaya keamanan dari preman. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;P.S. Resensi ini awalnya dimuat di situs web Klub Seri Buku. Ilustrasi oleh Faricha.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>04 Mar 2019</pubDate>
        <link>/bisakah-preman-bermain-di-panggung-politik</link>
        <guid isPermaLink="true">/bisakah-preman-bermain-di-panggung-politik</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kritikan Habib Rizieq Shihab Terhadap Pemikiran Liberal</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt; Hancurkan Liberalisme Tegakkan Syariat Islam&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; Habib Rizieq&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt; Suara Islam Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt; XII+202 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt; 2011&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt; 978-602-99857-0-2&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Siapa yang tidak kenal dengan Habib Rizieq Shihab? Salah satu tokoh agama dari Front Pembela Islam yang dinobatkan sebagai Imam Besar Umat Islam. Beliau adalah keturunan Arab yang menjadi pusat dari FPI dan laskar-laskar sejenisnya, salah satu penggerak dari Aksi Damai Bela Islam 212. Ia adalah tokoh yang dianggap kontroversial, banyak yang mengikutinya, tapi tidak jarang yang menghujatnya. Kita selalu mengenal Habib Rizieq melalui aksi-aksinya, untuk sekarang, mari kita lihat bagaimana pemikirannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini mengulas mengenai kesesatan pemikiran liberal, yang menurut penulis, merupakan penyakit pemikiran yang bertahap. Tahapan liberal adalah: relativisme, skeptisisme, agnotisisme, dan atheisme. Ia mengibaratkan empat tahapan ini layaknya kanker dari stadium satu hingga empat dengan penjelasan kenapa tiap tahapan semakin merusak pemikiran. Keempatnya berkaitan dengan bagaimana seseorang semakin kehilangan keimanannya demi rasionalitas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak hanya orang-orang Barat yang terjangkit penyakit liberal ini, umat Islam pun tidak lepas dari pemahaman liberal. Pemikiran umat Islam yang liberal ini berakar dari Nasr Hamid Abu Zayd, salah satu pemikir Islam Liberal asal Mesir yang difatwa mati dan melarikan diri ke Barat. Di buku ini, Rizieq menolak keras pemahaman Nasr Hamid yang menganggap bahwa ke-Tuhanan dan segala hal yang tak kasat mata yang ada dalam dogma agama sudah tidak selaras dengan zaman, karena menurut Rizieq, percaya kepada yang tak kasat mata merupakan salah satu penyanggah utama keimanan seseorang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Komentar yang diutarakan Rizieq kepada pandangan pemikir liberal asal Mesir tersebut berasal dari pembacaannya terhadap &lt;em&gt;Naqd Al-Khitaab Al-Diinii&lt;/em&gt;. Ia juga tidak sepakat bahwa agama hanya dipahami sebagai identitas kepercayaan yang mereduksi ke-Tuhanan sebagai sebuah mitologi, bahwa semuanya harus sesuai dengan rasionalitas. Yang kurang dari kritik Habib Rizieq berkenaan dengan pandangan ini adalah pandangan personalnya terkait buku karangan Nasr Hamid Abu Zayd. Namun ia juga membeberkan beberapa pemikir Islam di Indonesia yang terjangkit pemikiran ala liberal ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pemikir tersebut adalah Gus Dur, Cak Nur, Ulil Abshar, Dawam Rahardjo, Luthfi Syaukani, Syafi’i Ma’arif, dan Abdul Munir Mulkhan yang dianggap sebagai gerbong liberal pengikut Nasr Hamid. Ia juga menyebutkan kenapa orang-orang di atas digolongkan sebagai pemikir liberal melalui tulisan-tulisannya yang dimuat di jurnal dan berbagai pidato mereka. Sekali lagi, meskipun kritikan penulis terhadap cendekiawan liberal tersebut menandakan bahwa ia mencermati karya-karya mereka, namun kurang melakukan kritik yang mendalam terhadap pemikiran nan membeberkan kalimat-kalimat yang membuat mereka masuk dalam kategori liberal. Akan tetapi ia sepakat dengan fatwa MUI No. 7 Tahun 2005 yang menganggap ajaran Nasr Hamid sebagai ajaran yang sesat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis juga menuding kelompok liberal sebagai antek asing, karena ada kategorisasi yang dilakukan oleh Rand Corporations, dimana laporan mereka yang subyektif digunakan untuk kepentingan Barat. Kategorisasi ini adalah: fundamentalis, modernis, liberalis, dan tradisionalis. Kelompok fundamentalis bercirikan pro-Syariat Islam dan Anti-Barat; kelompok modernis yang pro-Demokrasi Barat, anti-Khilafah Islam tapi tetap kritis terhadap pandangan Barat; kelompok liberalis yang menjadi antek Barat karena tidak kritis terhadap pandangan Barat; dan kelompok tradisionalis yang netral, pro-Demokrasi Barat namun juga mendukung Khilafah Islamiyah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kategorisasi ini memang menggunakan logika penyederhanaan, namun menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat awam di Indonesia. Ada stigmatisasi terhadap keempat kelompok tersebut yang berusaha dibentuk oleh penulis guna melakukan kritik terhadap liberalisme yang menjangkiti pemikiran umat Islam. Dalam bagian kategorisasi ini, Rizieq mengutarakan adanya usaha untuk liberalisasi agama yang didalangi oleh Amerika Serikat (AS) di Indonesia melalui Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). AS juga menggandeng Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berkedok agama dengan memberikan bantuan dana secara berkelanjutan dari tahun 2004 sampai 2009.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut Rizieq, kelompok liberal di Indonesia pun belum total dalam liberalismenya karena masih menggunakan Islam sebagai kedok untuk menjalarkan pemikiran sesatnya. Penafsiran &lt;em&gt;Islam rahmatan lil alamin&lt;/em&gt; digunakan kelompok liberal untuk menjustifikasi tindakan-tindakan mereka yang sebenarnya berlawanan dengan Aqidah. Rizieq menjelaskan dengan cukup gamblang perihal masalah ini, meskipun tetap, gaya bahasa dalam kritiknya tidak akan diterima oleh cendekiawan liberal dengan pandangan liberal di Indonesia. Dalil yang digunakan Rizieq dalam melawan pandangan liberal ini berasal dari Tafsir Fi Zhalil Qur’an karya Sayyid Quthb, Tafsir Al-Azhar tulisan Buya Hamka, dan Tafsir Al-Misbah dari Quraisy Shihab.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan liberal yang anti-kekerasan menghilangkan Jihad dalam istilah-istilah yang mereka gunakan, agar terlihat toleran. Untuk bagian ini, saya sepakat karena orang-orang liberal tersebut menghilangkan salah satu istilah yang penting dalam Islam. Bahkan, seperti yang dibeberkan Rizieq, Sumanto yang menulis “Lubang Hitam Agama” menganggap bahwa peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah dan para Sahabat-Nya hanyalah sebuah dongeng. Sampai sekarang, Sumanto Al-Qurtuby tidak tepat dianggap sebagai intelektual muslim karena tulisannya selalu membuat kontroversi di kalangan umat Islam sendiri. Sebagai intelektual, yang dalam Islam dikenal sebagai Ulama’, harusnya mendamaikan dan memberi pemahaman yang mendalam kepada seluruh umat Islam dimana ia bertempat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Istilah-istilah yang digunakan oleh kelompok liberal pun tidak pada tempatnya. Seperti penggunaan hermeneutika, yang menurut salah satu profesor asal Jerman yang dikutip oleh Rizieq dalam bukunya ini, bahwa hermeneutika tidak ditujukan untuk melakukan pemaknaan atau penafsiran terhadap Al-Qur’an. Penggunaan istilah yang tidak tepat ini memang menghasilkan pemahaman tentang Islam yang tidak jelas. Dalam memahami konteks Jihad pun, seharusnya seseorang menggunakan istilah-istilah dalam Islam agar mampu membedakan perjuangan (Jihad) dengan perang (Qital) atau teror (Irhab). Pentingnya penggunaan istilah ini pernah diulas secara singkat oleh Khairul Ghazali dalam bukunya: Aksi Teror Bukan Jihad.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagian kedua dalam buku ini lebih mengulas mengenai narasi yang melawan liberalisme di Indonesia, dengan judul &lt;strong&gt;Tegakkan Syariat Islam di Negeri Ini&lt;/strong&gt;. Berisi sepuluh sub-bagian yang membahas mengenai pentingnya penegakkan Syariat Islam di Indonesia. Pembahasan NKRI Bersyariah sebenarnya ada semenjak buku ini dituliskan dan beberapa intelektual yang mengomentari tentang konsep Rizieq tersebut, secara tidak langsung mengikuti cara berpikirnya Rizieq, meskipun dibalut dengan gaya yang kritis. Penulis telah mampu menorehkan konsep yang diperdebatkan oleh akademisi “liberal” di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun karya Habib Rizieq Shihab ini bukan tergolong kajian ilmiah dengan teknik penulisan ilmiah, namun lebih pantas dikategorikan sebagai non-fiksi populer. Kenapa populer? Karena penggunaan bahasa yang mudah dipahami oleh khalayak umum, terlepas masih ada logika penyederhanaan di dalamnya. Saya sangat merekomendasikan para “akademisi” pengamat FPI untuk membeli dan membaca buku ini, agar memahami alam pikir Imam Besar mereka, agar tidak menjadi akademisi kaleng yang hanya mengamati FPI melalui media massa saja. Jadilah intelektual yang menimbang tidak hanya dari tindakan, namun juga pemikiran. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>02 Mar 2019</pubDate>
        <link>/kritikan-habib-rizieq-shihab-terhadap-pemikiran-liberal</link>
        <guid isPermaLink="true">/kritikan-habib-rizieq-shihab-terhadap-pemikiran-liberal</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Perkembangan Marxisme Melalui Tinjauan Hobsbawm</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt; How to Change the World&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; Eric J. Hobsbawm&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt; Yale University Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt; 470 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt; 2011&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt; 978-0-300-17616-2&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sudah lama saya tidak mengulas mengenai buku yang bertajuk Marxisme. Ideologi yang kerap disandingkan dengan warna merah ini memang selalu menarik untuk dibahas. Kenapa demikian? Karena banyaknya varian Marxisme yang dapat kita diskusikan. Mulai dari Inggris sampai dengan Amerika Serikat memiliki Marxis nya masing-masing dengan gaya berpikir yang berbeda, namun tetap dalam lingkup yang sama: Dialektika Materialisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa Dialektika Materialisme itu? Saya tidak akan membicarakannya dalam review saya kali ini. Jika ingin memahami istilah tersebut dengan komprehensif, silakan baca Das Kapital karya Marx sendiri. Buku ini ditulis oleh sejarawan asal Inggris, Eric Hobsbawm yang memang berkelindan mengenai Marxisme, Komunitas Fabian dan Sosial-Demokrasi di negara dengan mata uang Poundsterling tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertanyaan pada halaman sebelas dari buku ini menjadi pertanyaan mendasar yang patut kita tujukan kepada Marxis di era modern ini: “Apakah pemikiran Marx dapat diterapkan pada Abad Kedua puluh satu?”. Pertanyaan ini masih menjadi tanda tanya besar bagi saya sendiri. Hobsbawm mencontohkan keruntuhan pemikiran Marx salah satunya dengan jatuhnya Pemerintah Uni Soviet (Rusia).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Padahal Uni Soviet menjadi contoh pertama kekuatan Marxisme dengan ekonomi terencananya, diikuti oleh negara lain seperti Cina dan Kuba. Ekonomi terencana ini tidak dijelaskan secara eksplisit oleh Marx dalam karya-karyanya, akan tetapi diimprovisasi oleh Soviet sendiri. Ada permasalahan permanen yang dibentuk oleh Kapitalisme yang dikritik oleh Marx: pencarian profit semaksimal mungkin oleh kapitalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebuah fakta menarik yang jarang dipahami oleh penganut Kiri di Indonesia bahwa komunisme sudah ada sebelum Karl Marx mendeklarasikan dirinya sebagai komunis di tahun 1843, bahkan Engels lebih dulu: 1842. Komunis pertama di Jerman bernama Wilhelm Weitling yang menyebut dirinya sebagai komunis pada tahun 1838.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada permasalahan akut dalam komunisme, yakni tidak adanya preseden (pendahulu) yang bisa menjadi contoh dari sebuah masyarakat komunis yang akan dibentuk oleh Marx dan Engels. Ide mereka hanya ditarik dari karya Thomas More (Utopia). Judul buku dari Thomas More ini menjadi istilah yang digunakan untuk menggambarkan masyarakat ideal di masa depan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karena berhubungan dengan masyarakat, maka Sosialisme, Komunisme dan Marxisme tidak terlepas dari politik, bahkan banyak tokoh revolusioner menekankan politik sebagai sarana utama dalam revolusi. Bentuk sebuah negara berasal dari kehidupan material dari masyarakatnya, yang didalamnya terdapat unsur ekonomi-politik. Perpindahan dari kapitalisme yang runtuh menuju komunisme terjadi akibat kontradiksi yang memang ada dalam kapitalisme itu sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semangat revolusi berkobar dengan semakin banyaknya proletar dan kelas pekerja yang terbentuk akibat perluasan dagang dari kapitalisme. Negara berdiri sebagai alat dari para kapitalis untuk menundukkan para tenaga kerja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun buku Manifesto Partai Komunis (Communist Manifesto) dituliskan sebagai dokumen formal dari organisasi dimana Engels dan Marx merupakan anggota didalamnya: Liga Keadilan, yang berubah nama menjadi Liga Komunis.pada tahun 1847. Kelompok ini memiliki tujuan utama untuk menggulingkan kekuasaan para Borjuasi di Eropa, membangun pemerintahan Proletariat dan mengakhiri pertarungan kelas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Liga Komunis merupakan alat menuju masyarakat tak berkelas dan hilangnya kepemilikan pribadi. Namun Liga Komunis ini ada sebelum Manifesto Partai Komunis selesai dituliskan pada tahun 1848.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Marxisme mulai naik daun semenjak menyebarnya Manifesto tersebut dan selalu dikaitkan dengan komunisme dan sosialisme di berbagai belahan dunia. Ideologi ini semakin meningkat popularitasnya semenjak keberhasilan Revolusi Oktober 1917, dimana Lenin dan Proletarnya berhasil menggulingkan rezim Tsar Nikolas Kedua dan membentuk Republik Sosialis Uni Soviet.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah kemunculan Uni Soviet, Partai Komunis menjadi tren global dan muncul di berbagai negara seperti Cina, Kuba, Indonesia dan beberapa negara lainnya. Tidak jarang partai-partai oposisi memegang asas Sosialisme, Komunisme atau Marxisme. Bahkan terbentuk pula Komintern (Komunis Internasional), dimana Tan Malaka pernah menjadi anggotanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perkembangan marxisme juga didukung dengan berkembangnya media cetak, dimana karya-karya Marx diterbitkan, diperbanyak dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa yang awalnya hanya dalam Bahasa Jerman dan Rusia. Marxis Ortodoks pun mulai menentukan standar internasional dari Marxisme yang kita sebut sebagai Materialisme Dialektis dan Historis. Pemikiran tersebut menjadi standar baku bagi mereka yang ingin belajar Marxisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Intelektual dunia semakin radikal dengan marxismenya karena melihat kegagalan kapitalisme (krisis kapitalisme) dalam Depresi Besar pada tahun 1930. Para Intelektual ini, semakin tertarik kepada Marxisme, Komunisme dan Sosialisme karena melihat ketahanan Uni Soviet bertahan ditengah-tengah krisis ekonomi, terutama kelompok Fabian dari Inggris yang dibentuk oleh Beatrice Webb dan Sidney Webb.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada era 1930-an, jajaran ideologi kiri mendapat tantangan dari Fasisme, salah satu ideologi yang “mengganggu”. Hobsbawm mengutarakan tiga alasan kenapa Fasis patut dilawan pada era itu: Karena mereka fasis, karena mereka menolak kebebasan, dan karena mereka selalu mengajak berperang. Alasan kedua lah yang menjadikan Fasisme berbahaya. Bagi penganut Fasisme, mereka pasti menolak pemikiran Marx, begitu pula John Stuart Mills, dan pemikir lain yang mengutamakan kebebasan dalam pondasi pemikirannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kajian Marxisme untuk melawan fasisme (anti-fasis) berbeda dengan kajian marxisme pasca perang. Marxisme pada dekade 1960-an telah ditelan dalam perguruan tinggi yang membuatnya menjadi ilmiah dan terintegrasi dengan ilmu-ilmu sosial. Namun ketertarikan para ilmuan terhadap marxisme dan anti-fasisme dimulai semenjak dekade 30-an, ketika ilmuwan seperti J. Robert Oppenheimer yang membuat bom atom menjadi anti-fasis dan tertarik terhadap komunisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Gerakan-gerakan di Dunia Ketiga (cont: Amerika Latin) juga memiliki dampak terhadap perkembangan marxisme, karena gerakan-gerakan tersebut menjadikan sosialisme sebagai tujuannya. Model sosialisme yang dianut oleh gerakan terkait diambil dari rezim-rezim bercorak Marxisme (Uni Soviet dan Cina). Dampaknya adalah tulisan para Marxis mengenai kolonialisme pun juga semakin marak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti yang kita ketahui, kemunduran marxisme ditandai dengan melemahnya rezim-rezim komunisme dan sosialisme seperti Uni Soviet, dan kekalahan Uni Soviet dalam Perang Dingin memunculkan sentimen anti-komunisme yang kuat di berbagai belahan dunia. Apalagi semenjak 1990an, para miliarder memiliki gelar akademis mulai menjamur, bahkan menurut seorang humoris, krisis tahun 2008 disebabkan milyader cerdas ini bermain saham dan menciptakan algoritma yang lebih susah dipahami oleh para kapitalis sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hasil dari Perang Dingin menandakan kemenangan kapitalisme demokrasi-liberal ala Barat. Akan tetapi pemikiran Marx masih bertahan hingga sekarang untuk mengingatkan bahwa Kapitalisme pun tidak menawarkan sesuatu yang bersifat pasti. Walaupun demikian, para pembaca dapat melihat bahwa marxisme masih menjadi pemikiran yang digandrungi para akademisi ilmu sosial dan pemuda di berbagai belahan dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di salah satu halaman dalam buku ini, Hobsbawm mengutarakan hanya Rasulullah Muhammad S.A.W yang mampu menandingi Karl Marx perihal cepatnya penyebaran pemikiran ke seluruh penjuru dunia. Kalimat ini menandakan bahwa Marxisme dan Islam sama cepatnya dalam perluasan dan perkembangannya. Yang menjadi pertanyaan besar ialah: Bisakah keduanya disamakan? &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;P.S. Resensi ini awalnya tayang di situs web Klub Seri Buku. Ilustrasi oleh Faricha.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>05 Feb 2019</pubDate>
        <link>/perkembangan-marxisme-melalui-tinjauan-hobsbawm</link>
        <guid isPermaLink="true">/perkembangan-marxisme-melalui-tinjauan-hobsbawm</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Abdullah Azzam, Jihadis yang Humanis</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku:&lt;/strong&gt; The Father of Jihad&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis:&lt;/strong&gt; Muhammad Haniff Hassan&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&lt;/strong&gt; Imperial College Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku:&lt;/strong&gt; 368 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit:&lt;/strong&gt; 2013&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN-13:&lt;/strong&gt; 978-1783262878&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;*** &lt;em&gt;Resensi ini turut diunggah di situs web penulisnya, &lt;a href=&quot;http://haniff.sg/pautan/bedah-buku-the-father-of-jihad-abd-allah-azzams-jihad-ideas-and-implications-to-national-security/&quot;&gt;Muhammad Haniff Bin Hassan&lt;/a&gt;.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi mereka yang mendalami tentang Jihad, terutama akademisi atau pembuat kebijakan yang berkaitan dengan “terorisme”, pasti tidak asing dengan nama Abdullah Azzam, salah satu ideolog &lt;em&gt;Makhtab Al-Khidmat&lt;/em&gt; (MAK), embrio dari Al-Qaeda. Beliau adalah jihadis fenomenal yang khutbahnya disandingkan dengan seruan-seruan Che Guevara perihal perjuangan dan perlawanan, namun karya dan pemikirannya masih sangat jarang diulas oleh akademisi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku karya Doktor Haniff Hassan ini menarik karena menjadi satu-satunya buku yang mengulas pemikiran Abdullah Azzam sebagai penggagas gerakan Jihad global. Penulis mengulas Azzam melalui karyanya: buku dan naskah pidatonya, untuk memperlihatkan perkembangan pemikiran dalam diri Jihadis Afghanistan ini. Ada dua aspek pemikiran Azzam yang berdampak kepada kebijakan keamanan nasional di berbagai negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertama, ialah kewajiban bagi seorang muslim untuk mengambil kembali wilayah umat Islam yang sekarang sedang diduduki oleh pemimpin non-muslim. Kedua, kewajiban untuk memerangi wilayah non-Muslim lainnya hingga mereka tergabung dalam Negara Islam (atau bisa disebut dengan Ke-Khalifahan Global).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menariknya, pandangan-pandangan Jihad yang dikobarkan oleh Abdullah Azzam nyatanya berbeda dengan Jihad gaya Al-Qaeda dan kelompok jihadis arusutama lainnya. Perbedaan ini justru bisa menjadikan pemikiran Azzam menjadi tandingan bagi pandangan Jihad lainnya, bahkan senjata deradikalisasi. Aspek Jihad Azzam menjadi oposisi karena menolak memberontak pada pimpinan yang beragama Islam dan penyerangan yang membabi-buta, juga menolak menggunakan cara-cara yang menebar teror.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;ancaman-terorisme&quot;&gt;Ancaman Terorisme&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Menurut penulis, terorisme sebelum 9/11 adalah permasalahan yang sifatnya lokal atau nasional, terbatasi oleh wilayah-wilayah kekuasaan sebuah negara. Kasus-kasus sebelum 9/11 pun memang bersifat domestik (Taliban hanya beroperasi di Afghanistan, begitupula Al-Qaeda hanya memiliki yurisdiksi yang kecil). Akan tetapi semenjak serangan 9/11 menandakan perubahan metode penyerangan kelompok teroris yang menganggap bahwa penyerangan harus dibawa ke ranah mancanegara, bahwa ada &lt;em&gt;far-enemy&lt;/em&gt; yang juga harus dibasmi dan menjadikan kasus ini sebagai permasalahan keamanan global.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perubahan ini dikarenakan berubahnya karakter para Jihadis (mujahidin) yang ingin membawa peperangan kepada musuhnya. Negara yang menjadi sasaran adalah Amerika Serikat utamanya, dengan negara-negara lain, bahkan yang berpenduduk muslim, yang berkolaborasi dengan AS dalam memerangi kelompok mujahidin ini. Negara yang tidak ikut-ikutan, namun dianggap memiliki kebijakan yang represif terhadap umat Islam oleh para Jihadis, seperti Filipina, Cina, Thailand, India &amp;amp; Rusia juga menjadi sasaran mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Serangan 9/11 juga menjadi pemicu persebaran tindak terorisme, karena dianggap memperlihatkan titik lemah sekaligus dampak tindak terorisme kepada negara yang disasar (AS). Umpan balik AS dengan menyerang Afghanistan dan Irak justru membuat banyak Muslim malah mendukung tujuan-tujuan kelompok teroris yang digambarkan dengan penyerangan di Madrid, London, Istanbul, Bali, Jakarta dan banyak wilayah lainnya. Akan tetapi dengan kemunculan inisiatif berbagai negara dalam menghadapi terorisme, kelompok teroris seperti IRA justru memilih untuk menghentikan aktivitasnya untuk menjaga kelangsungan hidup dari tujuan mereka.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;mujahidin-sebagai-sumber-kelompok-teroris&quot;&gt;Mujahidin sebagai Sumber Kelompok Teroris&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Dengan mendominasinya kelompok Jihadis dalam ranah terorisme, mereka adalah satu-satunya kelompok yang bertahan, salah satunya adalah Al-Qaeda (lalu ISIS). Menurut penulis, telah menjadi sebuah kewajiban untuk mendirikan Negara Islam (&lt;em&gt;Islamic State&lt;/em&gt;) yang dikelola oleh pemimpin yang beragama Islam sebagai jalan untuk mencapai gaya hidup yang benar-benar Islami. Namun Hassan berkilah bahwa tidak seluruh umat Islam yang ingin gaya hidup Islami adalah mujahidin. Adapun mereka yang menginginkan hal yang sama dengan kelompok mujahidin namun memilih untuk menempuh jalur damai dan demokratis (kalau di Indonesia PKS).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para Jihadis ini mempercayai bahwa non-muslim tidak akan membiarkan umat Islam untuk hidup dengan damai, dan Jihad bersenjata adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan supremasi (kekuasaan) bagi Islam. Pandangan ini selalu diulang-ulang oleh Osama bin Ladin saat berpidato. Mereka menganggap Jihad adalah kewajiban semua muslim karena banyak wilayah umat Islam yang diduduki oleh non-muslim dan harus direbut kembali dibawah ke-Khalifahan Islam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jihadis ini dianggap sebagai kelompok teroris karena menyasar masyarakat sipil dan kelompok tak bersenjata dengan alasan: Membalaskan dendam penduduk muslim yang mati ditangan musuh, penduduk sipil di negara musuh bertanggungjawab atas tindakan pemerintahnya dengan memilih pemerintah tersebut dalam pemilunya, dan tindakan tersebut adalah &lt;em&gt;necessary evil&lt;/em&gt; (kejahatan yang dibutuhkan) untuk kebaikan bersama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu metode yang paling sering digunakan kelompok mujahidin ini adalah bom bunuh diri yang disebut sebagai &lt;em&gt;amaliyat istishhadiyah&lt;/em&gt; atau operasi syahid. Kematian para Jihadis dalam usaha memperjuangkan Islam tidak dianggap sebagai bunuh diri yang haram dalam Islam, melainkan mati syahid. Kelompok Jihadis ini juga memiliki pandangan yang sama dalam melihat dunia: mereka versus musuhnya, musuhnya selalu berkonspirasi melawan mereka, dan selalu menggunakan penyederhanaan juga generalisasi.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;pandangan-azzam-mengenai-jihad&quot;&gt;Pandangan Azzam Mengenai Jihad&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Dalam perjuangan awalnya, beliau berhubungan dengan Ikhwanul Muslimin (PKS kalau di Indonesia) yang didirikan oleh Syaikh Hasan Al-Banna, maka dari itu, pandangan-pandangan awalnya mengenai Islam sedikit banyak terinspirasi oleh Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb, juga Ibnu Taimiyah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan Azzam mengenai dunia seperti yang dikejawantahkan oleh Haniff Hassan adalah sebagai berikut: Islam diatas agama lainnya dan menjadi satu-satunya agama yang diakui Tuhan; Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa, Yang Berhak menentukan mana yang halal dan haram dimana manusia hanya menjadi Khalifah untuk menegakkan aturan-Nya; Islam adalah satu-satunya jalan paling komprehensif untuk seluruh manusia, segala kebaikan seperti keadilan, kebebasan dan kebahagiaan hanya didapatkan melalui ajaran Islam; Muslim wajib mempertahankan dan melaksanakan Islam secara totalitas; inti dari Islam adalah Tauhid dan hidup dengan menjalankan syariat adalah implementasi ke-Tauhid-an; cara terbaik untuk memahami Tauhid dan melaksanakan syariah adalah dengan mengikuti pandangan Salafi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan lainnya dari Azzam adalah: terbentuknya Negara Islam atau ke-Khalifahan sangathlah mendasar dalam menegakkan Islam sepenuhnya; Muslim mempunya kewajiban untuk memastikan bahwa Islam akan menguasai dunia untuk membentuk kembali ke-Khalifahan; Kehidupan adalah pertarungan secara berkelanjutan antara kebenaran (Islam) dengan kobohongan (jahiliyah/ kepercayaan lainnya); Jihad bersenjata untuk supremasi Islam adalah fitur utama dalam kehidupan umat Islam; umat Islam diharuskan bersikap waspada, tegas, keras, dan ketat terhadap orang kafir; Muslim harus mengikuti pandangan dalam kitab Al-Wala’ wal Bara’; dan perting untuk membentuk kelompok inti umat Islam sepertu Al-Qaeda yang berkomitmen untuk memberikan pendidikan dan pelatihan berkenaan dengan pendidikan Agama Islam dan pelaksanaannya, termasuk Jihad bersenjata.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam beberapa tulisan Azzam seperti &lt;em&gt;Al-Aqidah wa Atharuha Fi Bina Al-Jayl&lt;/em&gt; (Keimanan terhadap Islam dan dampak Perkembangannya) bahwa ia juga terinspirasi dari Ibnu Taimiyah berkenaan dengan pandangan Salafinya dan penolakannya terhadap Sufisme. Partisipasi Azzam dalam perjuangan di Afghanistan tidak hanya untuk mempertahankan wilayah umat Islam dari invasi Soviet, namun juga memperjuangkan pandangan duniawinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Azzam mendefiniskan Jihad dari Al-Qur’an dan Al-Hadis sebagai perlawanan terhadap orang kafir yang dikejawantahkan oleh keempat Mahzab dalam Islam. Memperluas pemaknaan Jihad baginya akan mengacaukan perintah dalam Al-Qur’an untuk melawan orang kafir yang sudah menjadi kewajiban seluruh umat Islam di dunia. Kata &lt;em&gt;fisabilillah&lt;/em&gt; (di Jalan Allah) yang acapkali disandingkan dengan Jihad juga bermakna berperang melawan orang kafir. Jihad adalah puncak keimanan seorang Muslim menurut Abdullah Azzam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sang mujahid juga mempercayai bahwa Jihad di awal peradaban Islam membawa Agama ini ke dalam masa kejayaan. Ia menganalisis hijrah Rasulullah Muhammad S.A.W dan kewajiban untuk melaksanakan Jihad membuat banyak orang Arab untuk masuk ke dalam Islam. Jihad umat Islam lah yang menghancurkan dua negara adikuasa pada saat itu, Persia dan Romawi, dibawah kepemimpinan Para Khalifah. Dampaknya tidak hanya perluasan wilayah namun juga semakin bertambahnya kekayaan peradaban Islam. Dimana pada tahun-tahun selanjutnya membuat Islam menjadikan Islam sebagai entitas politik dan peradaban hegemonik yang dihormati sekaligus ditakuti dalam pandangan orang kafir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ia percaya bahwa Islam tidak akan menjadi seperti masa keemasannya apabila umat Islam meninggalkan jalur Jihad. Sebuah pandangan yang sama dengan Al-Faraj. Tanpa Jihad maka umat Islam akan dikalahkan oleh kesesatan secara ekonomi, politik, kebudayaan dan ketentaraan. Jihad adalah jalan untuk menegakkan Hukum Allah S.W.T dan melawan tujuan buruk dari kelompok-kelompok yang sesat. Ajaran Islam mengenai kesabaran dan kepasrahan tidak akan tercapai apabila seorang Muslim belum teruji dalam ber-Jihad dalam peperangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sang mujahid juga membagi wilayah menjadi empat: Darul Islam (Negara Islam); Darul Harbi (Wilayah Perang atau daerah konflik) dimana umat Islam di tekan oleh pemerintahnya yang bukan umat Islam; Darul Al-Ahd, yakni negara yang berdamai dengan Islam, tidak menjadi sasaran Jihad bersenjata (salah satunya adalah PBB); dan Negara lainnya yang penduduknya muslim tapi hukum yang berlaku bukanlah Hukum Allah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada empat tahapan ber-Jihad menurut Azzam yang dikejawantahkan dalam buku ini: Hijrah yang dimaksudkan adalah berpindah tempat ke Darul Islam; I’dad yakni persiapan berperang pasca berhijrah, termasuk di dalamnya adalah pelatihan fisik dan perang, begitupula pengembangan spiritual dan pemikiran dalam ranah &lt;em&gt;fiqh&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;aqidah&lt;/em&gt; juga &lt;em&gt;fikrah&lt;/em&gt; (bagian ini pengembangan spiritual dan intelektual penting agar para mujahidin tidak berubah menjadi penjarah); Ribat dimana umat Islam mulai masuk ke dalam medan perang yakni Darul Harbi, mereka yang mati dalam tahapan ini adalah orang yang mati syahid, mereka harus membuat pos-pos pertahanan; dan yang terakhir adalah Jihad itu sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jenis Jihad menurut Abdullah Azzam ada dua: Jihad Al-Daf (jihad untuk mempertahankan diri), adalah Jihad yang diwajibkan untuk seluruh umat Islam dalam daerah konflik untuk mempertahankan dirinya, apabila mereka tidak mampu, maka seluruh umat Islam dalam kisaran 90km harus memberikan pertolongan kepada mereka, kalau masih tidak memadai, maka seluruh umat Islam di dunia harus masuk ke dalam medan perang; dan Jihad Al-Talab (jihad untuk menyerang musuh) yang merupakan Jihad untuk melawan Darul Harbi, Jihad macam ini harus dilaksanakan setahun sekali oleh pemimpin Islam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jihad akan menjadi Fardhu Kifayah minimum setahun sekali, namun semenjak kejatuhan Andalusia di tangan umat Nasrani di tahun 1492, maka Jihad menjadi Fardhu Ayn yang harus dilaksanakan terus-menerus sampai wilayah jajahan tersebut kembali ke tangan umat Islam. Beberapa karyanya memperlihatkan bahwa Ilmuan Muslim bersepakat apabila Jihad hukumnya telah menjad Fardhu Ayn apabila ada satu inci wilayah umat Islam diambil oleh orang kafir, salah satunya adalah Afghanistan yang akan diduduki oleh Uni Soviet.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam ber-Jihad adapun &lt;em&gt;Daf al-Sail&lt;/em&gt;, dimana umat Islam wajib mempertahankan harkat dan martabatnya apabila diserang. Istilah ini meskipun mengacu kepada individu, namun bisa digunakan untuk menjustifikasi Jihad dalam taraf nasional. Karena Jihad semenjak kejatuhan Andalusia adalah Fardhu Ayn, maka dalam ber-Jihad tidak diperlukan meminta izin kepada siapapun, bahkan orang tua.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jihad harus mengalahkan kepentingan pribadi karena untuk kebaikan yang lebih besar (&lt;em&gt;greater good&lt;/em&gt;). Muslim wajib mendonasikan kekayaannya untuk Jihad daripada mengumpulkan kekayaan untuk kepentingan pribadinya. Azzam pun berpendapat, diperbolehkan untuk menggunakan Zakat untuk Jihad, meskipun pada akhirnya tidak menyisakan apapun untuk tujuh orang yang seharusnya menjadi sasaran Zakat. Menyumbang untuk Jihad bukan berarti membebaskan seorang Muslim dari kewajiban ber-Jihad itu sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Partisipasi dalam ber-Jihad tidak diwajibkan apabila, Jihad tidak dalam keadaan Fardhu Kifayah apalagi Fardhu Ayn (yakni tidak saat Darul Islam telah ditegakkan, atau wilayah yang sedang mempertahankan dirinya dari serangan kafir bisa mempertahankan dirinya sendiri). Umat Islam diperbolehkan untuk mundur dari peperangan apabila jumlah musuh melampaui mereka, ini diperbolehkan apabila Fardhu Kifayah, namun ketika Fardhu Ayn, maka seorang Muslim harus terus berperang meskipun sendirian (darah penghabisan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sasaran Jihad menurut Azzam adalah petarung kafir, perompak/perampok/bandit, pemberontak. Dalam ranah orang kafir, hanya petarung yang diperbolehkan menjadi sasaran ber-Jihad. Jihad harus mengikuti &lt;em&gt;the rules of engagement&lt;/em&gt;. Namun harus mengutamakan untuk dakwa sebelum ber-Jihad apabila menghadapi pemberontak atau perompak dkk. Menariknya, Azzam tidak memperbolehkan menyerang masyarakat sipil (perempuan, anak-anak, lansia, orang tak bersenjata dan pendeta).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Azzam juga mengharamkan untuk menyerang &lt;em&gt;dhimmiys&lt;/em&gt; dan mereka yang telah membuat perjanjian damai dengan umat Islam dan mereka yang telah menyerah. Ia juga menghimbau untuk menghancurkan properti atau barang seminimal mungkin, diharukan menyerang titik lemah musuh namun tidak menghancurkan infrastruktur sepenuhnya. Beliau sangat memegang teguh pandangan bahwa dilarang untuk membunuh umat Islam. Nyawa umat Islam sangatlah berharga seperti Mekkah bagi seluruh umat Islam. Namun aturan ini tidak berjalan untuk Azzam bagi Muslim yang bertarung bersama rezim komunis Afghanistan, mereka adalah orang sesat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perjanjian damai yang menghentikan Jihad dalam waktu yang tidak ditentukan, terumata Jihad yang Fardhu Ayn tidak diakui oleh Azzam. Perjanjian damai boleh ditandatangain apabila sudah mengklaim kembali tanah kekuasaan umat Islam. Namun ketika perjanjian damai sudah ditandatangani, seluruh umat Islam wajib melaksanakan perjanjian tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Membunuh tahanan perang diperbolehkan apabila mereka menolak untuk berjalan bersama Jihadis dan apabila mereka sakit dan tidak mampu berjalan, membuat mereka menjadi beban. Namun semuanya kembali pada diskresi dari pihak yang berwenang. Tapi Azzam dengan tegas menolak penyiksaan terhadap tahanan perang.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;dampak-gagasan-azzam-terhadap-keamanan-nasional&quot;&gt;Dampak Gagasan Azzam terhadap Keamanan Nasional&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Karena pandangannya yang menganggap bahwa tanah-tanah kekuasaan umat Islam harus dibawah dikembalikan kepada mereka, maka pandangan ini dapat mengganggu keamanan negara-negara yang dulunya pernah dibawah kekuasaan Islam seperti Palestina, Spanyol, Hungaria, Bulgaria, Chechnya, bahkan Singapura, menurut Haniff Hassan. Jihad bersenjata wajib dilakukan untuk negara-negara ini, seluruh Muslim yang hidup di negara tersebut harus berusaha menegakkan Darul Islam, jika tidak mereka akan mati dalam keadaan penuh dosa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan Azzam juga memfasilitasi terbentuknya kelompok-kelompok seperti Al-Qaeda yang akan menggulirkan Jihad di berbagai belahan dunia. Karena Ia memercayai Jihad Al-Talab dimana peperangan adalah jalan terakhir, maka seluruh umat Islam pada akhirnya harus memerangi kelompok-kelompok kafir. Karena Fardhu Kifayah untuk melaksanakan Jihad Al-Talab, maka paling tidak setahun sekali umat Islam harus melancarkan serangan pada negara-negara yang menolak untuk masuk ke dalam Islam yang hanya dapat dihentikan melalui perjanjian damai dan gencatan senjata secara temporer. Dampaknya adalah seluruh negara di dunia akan menghadapi peperangan secara konstan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akibat pertarungan ideologis, sebenarnya sekutu Azzam adalah Amerika Serikat dan Saudi Arabia yang berusaha mengeluarkan komunisme dan Uni Soviet dari Jazirah Arab.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sudut pandang Abdullah Azzam juga bisa dijadikan alat melawan pandangan berbahaya yang dibawa Al-Qaeda sekarang, yakni: menghimbau untuk tidak memberontak terhadap pemimpin yang beragama Islam; menghimbau untuk tidak menyerang negara-negara Barat, tidak memperbolehkan pengikutnya untuk menganggu kehidupan umat Islam lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun Azzam menghimbau untuk: tidak melaksanakan serangan yang membabi-buta yang berdampak kepada kematian masyarakat sipil; tidak berperang diluar zona konflik; tidak menggunakan taktik teror seperti pemboman, penculikan, perampokan, dan pembajakan. Di berbagai negara, pandangan semacam ini bisa digunakan untuk melakukan deradikalisasi dan mencegah tindakan terorisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Belum ada buku yang mengulas pemikiran Abdullah Azzam secara mendalam bahkan layaknya Biografi Pemikiran serinci karya Muhammad Haniff Hassan ini, dan memang tidak ada. Pembahasan mengenai kelompok teroris dewasa ini selalu berfokus pada kelompok, namun tidak mendalami watak para ideolognya, sehingga kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh pemerintah yang mempelajari buku-buku terorisme selalu bersifat reaktif karena tidak memahami alam berpikir para Jihadis/mujahidin. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;*** Resensi ini turut diunggah di situs web penulisnya, &lt;a href=&quot;http://haniff.sg/pautan/bedah-buku-the-father-of-jihad-abd-allah-azzams-jihad-ideas-and-implications-to-national-security/&quot;&gt;Muhammad Haniff Bin Hassan&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>01 Feb 2019</pubDate>
        <link>/abdullah-azzam-jihadis-yang-humanis</link>
        <guid isPermaLink="true">/abdullah-azzam-jihadis-yang-humanis</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Etika Pembangunan ala Des Gasper, Bagian Studi Pembangunan yang Terlupakan</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku:&lt;/strong&gt; The Ethics of Development&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Des Gasper&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit:&lt;/strong&gt; &lt;a href=&quot;https://www.euppublishing.com/&quot;&gt;Edinburgh University Press&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku:&lt;/strong&gt; 272 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit:&lt;/strong&gt; 2004&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN:&lt;/strong&gt; 9780748610587&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi mahasiswa yang membicarakan tentang ekonomi, politik, sosiologi, administrasi publik, kebijakan publik dan studi pembangunan pastinya pernah mendengar nama Des Gasper, terutama mereka yang pernah berkuliah di Eropa. Beliau adalah dosen &lt;em&gt;Public Policy and Management&lt;/em&gt; di Institute of Social Studies, Den Haag yang sekarang menjadi International Institute of Social Studies dibawah Erasmus bertempat di Belanda. Namanya acapkali disandingkan dengan &lt;em&gt;Logical Framework Analysis&lt;/em&gt; (LFA/LogFrames).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kali ini, peresensi tidak akan membahas tentang LFA nya karena analisis semacam itu termasuk rumit dan sering digunakan oleh lembaga donor yang bergerak dibidang pembangunan seperti USAID, AUSAID, Ford Foundations dan lembaga donor lainnya. Tetapi peresensi akan mengulas tentang bukunya yang berbicara mengenai dimensi etika dalam pembangunan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini sejatinya akan mengulas mengenai cara menerapkan kebijakan atau program penanggulangan kemiskinan dengan baik, dimulai dengan membeberkan beberapa kontradiksi dalam program pembangunan: fokus mendalam tentang kebijakan kesehatan, namun masih banyak orang yang pesakitan; penekanan kepada keamanan dan perdamaian sedangkan kehidupan yang penuh dengan kekerasan, bahkan tidak jarang kekerasan yang direncanakan; menekankan pada pentingnya lingkungan dan alam sekitar, namun banyak terjadi pencemaran; pentingnya pemaknaan namun banyak masalah yang tidak bermakna (tidak penting) yang menjadi fokus; pertanyaan-pertanyaan tentang kewajiban dan siapa yang melaksanakannya.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;makna-etika-ethics&quot;&gt;Makna Etika (Ethics)&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Kontradiksi-kontradiksi diatas memperlihatkan akan pentingnya etika dalam pembangunan yang bertugas untuk meluruskan tujuan pembangunan. Etika pembangunan sejatinya dapat ditemui secara tersirat dalam karya-karya filsuf Eropa seperti Jeremy Bentham, Karl Marx, John Locke dan John Stuart Mills. Sedangkan di negara-negara selatan ada Mao Tse-Tung, Mahatma Gandhi dan Julius Nyerere. Adapun para sosiolog yang turut mempengaruhi etika pembangunan adalah Gunnar Myrdal dan Peter Berger. Lembaga akademis berkenaan dengan topik ini muncul seperti International Development Ethics Association (IDEA) yang pada tahun 1980 diketuai oleh Onora O’Neill dan pada 2002 dipimpin oleh Nigel Dower.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mengutip dari Crocker bahwa Etika Pembangunan (&lt;em&gt;development ethics / DE&lt;/em&gt;) adalah penilaian normatif dan etis terhadap cara dan tujuan pembangunan global dan negara dunia ketiga. Penulis menjelaskan etika dalam beberapa konsep: konsep etika yang berhubungan dengan kepercayaan substantif tentang apa yang baik, buruk, benar dan salah dalam hubungan antar manusia; dan bisa juga dimaknai dengan teori dan prinsip yang menuntun moralitas. Maka dari itu etika pembangunan secara sederhana adalah dimensi etika dalam studi pembangunan, teori tentang permasalahan etika dalam pembangunan, dan studi mengenai teori tentang permasalahan pembangunan dan permasalahan lainnya yang berhubungan dengan pembangunan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peranan etika pembangunan adalah sebagai sub-disiplin pada studi pembangunan dan menjadi lingkup etika profesional layaknya etika bisnis atau etika medis. Maka dari itu, buku ini, menurut penulis juga ditujukan kepada para pekerja profesional di ranah kepemerintahan. Selain pemerintah, adapun agen moral seperti Lembaga Swadaya Masyarakata (NGO/LSM), komunitas, lembaga donor internasional, media massa, universitas (akademisi) dan perusahaan privat juga menjadi target pembaca buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karena target pembaca yang luas, maka etika pembangunan juga harus menjadi: inter-disipliner dimana berbagai macam disiplin ilmu atau akademisi dari berbagai latarbelakang keilmuan juga mempelajari dan mengembangkannya, internasional dimana etika pembangunan dipelajari sekaligus dipraktekkan baik oleh pemikir dari negara berkembang atau negara maju, dan membawa sudut pandang global yang melingkupi negara maju maupun berkembang sebagai studi kasus dari etika pembangunan.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;makna-pembangunan-development&quot;&gt;Makna Pembangunan (Development)&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Selain etika, Des Gasper juga menjelaskan tentang &lt;em&gt;development&lt;/em&gt; (baca: pembangunan), yang sering digunakan berbagai orang sebagai istilah yang menggambarkan &lt;em&gt;progress&lt;/em&gt; (baca: perkembangan). Secara evaluatif, pembangunan dapat dimaknai sebagai kualitas kehidupan seseorang, yang pemaknaannya harus diikuti dengan kesepakatan mengenai pemaknaan etika, sehingga saat diterapkan, tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Adapun pembangunan diartikan secara postif/pasti dengan melihat permasalahan seperti urbanisasi dan pendapatan per kapita. Baik secara evaluatif maupun positif, pembangunan bertujuan untuk merubah sebuah kondisi/situasi negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pemaknaan pembangunan juga berkutat di wilayah universal atau relatif. Bagi kelompok universalis, pembangunan dapat dinilai secara universal seperti Produk Nasional Bruto (PNB) yang diadopsi di berbagai negara dan menjadi acuan internasional. Sedangkan pengikut pandangan relatifis menyebutkan pembangunan itu tergantung lingkup waktu dan tempat, mengenai kebutuhan dari kelompok sasaran dari pembangunan. Pembangunan dalam pemaknaan netral bisa berhubungan dengan perubahan struktural dan fundamental atau intervensi dan tindakan, sedangkan dalam makna evaluatif, pembangunan bisa jadi perkembangan atau panggung untuk pengembangan, yang bertujuan pada perkembangan dari apa yang dalam tahap “pembangunan”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pembangunan dapat dilihat sebagai perubahan yang dapat dimaknai sebagai proses perubahan atau hasil perubahan. Dalam penggunaan yang paling dasar, pembangunan dapat dimaknai pertumbuhan ekonomi dan hasilnya merupakan Produk Domestik Bruto (PDB), Produk Nasional Bruto (PNB) atau pendapatan per kapita. Pengukuran ekonomi nasional dalam bentuk barang atau jasa yang dilakukan tiap tahun. Selain itu, pembangunan juga dimaknai sebagai tindakan atau intevensi untuk mencapai perkembangan.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;efektivitas-dan-efisiensi-dalam-pembangunan&quot;&gt;Efektivitas dan Efisiensi dalam Pembangunan&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Salah satu jalur untuk menghitung efektivitas adalah dengan melihat tingkatan keberhasilan dalam memenuhi tujuan. Efektivitas menekankan kepada dampak yang didapatkan ketika kebijakan pembangunan telah dilaksanakan. Pandangan ini biasanya digunakan oleh para pembuat kebijakan (&lt;em&gt;policymaker&lt;/em&gt;). Sedangkan Efisiensi tidak hanya melihat pencapaian namun juga keseimbangan dan proporsi antara pendanaan dan keuntungan yang didapat. Mengukur efisiensi memang menggunakan mekanisme pasar mengenai untung-rugi. Menghitung dan membandingkan pengeluaran dan pemasukan dalam nominal keuangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Efektivitas memiliki pemaknaan yang luas selama tujuan pembangunan dicapai sedangkan efisiensi lebih kepada memaksimalkan hasil dengan hitungan uang, sehingga hanya barang yang dapat dibeli oleh tiap orang yang dihitung dalam permasalahan efisiensi. Semua aktivitas yang berhubungan dengan efisiensi haruslah dapat dimonetisasi (dihitung dengan uang) dan hubungannya dengan konteks sosial dan alamiah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun efektivitas berkaitan dengan keputusan yang diambil, dimana keputusan tersebut adalah prioritas dari sejajaran permasalahan yang ingin diselesaikan. Keputusan harus dilakukan dengan sadar, masuk akal dan senyap. Berkaitan pula tentang aspek yang penting dan ditekankan tergantung pada pengalaman pembuat keputusan. Kriteria yang dibentuk untuk efektivitas menjebak para pembuat dan pelaksana kebujakan dalam pandangan layaknya dilorong gelap, mereka akan hanya bisa memprediksi konsekuensi yang diinginkan (&lt;em&gt;intended consequences&lt;/em&gt;) namun tidak memperhitungkan konsekuensi yang tak diinginkan (&lt;em&gt;unintended consequences&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun tujuan-tujuan pembangunan yang dianggap efektif kerap bertabrakan dengan pandangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebenarnya. Penulis memberikan contoh dengan mengutip dari Hoksbergen yang mengulas kebijakan-kebijakan pembangunan USAID memiliki permasalahan sebagai berikut: terlalu menekankan pada individualisme karena tujuannya untuk meningkatkan pendapatan individu; berorientasi pada pasar karena dianggap pilihan pasar adalah pilihan yang terbaik; nilai-nilai selain yang digunakan USAID tidak akan dimasukkan dalam program pembangunannya; dan mengutamakan dampak yang dapat dihitung.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Efisiensi adalah konsep yang dapat dimaknai apabila tujuan-tujuan telah disepakati dalam sebuah program pembangunan. Istilah ini selalu dekat dengan konsep-konsep ekonomis dan tidak ada istilah lain yang mampu menandinginya, bahkan kebijakan akan dihapuskan apabila terbukti tidak efisien. Efisiensi ekonomi berkutat kepada: penerimaan terhadap pembangian kekuasaan diranah moneter, kemampuan dalam memperhitungkan dampak ekonomi, pendekatan bisnis dan ekonomi dalam menentukan pilihan menjadi pilihan yang paling rasional, dan asumsi sesat bahwa nilai mata uang mewakili kebutuhan manusia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hubungan antara pembangunan, efektivitas dan efisiensi terlihat dari: masukan (&lt;em&gt;input&lt;/em&gt;), pengeluaran/hasil (&lt;em&gt;output&lt;/em&gt;), nilai dari pengeluaran tersebut, dan tujuan yang berisikan: kualitas kehidupan, kesetaraan, partisipasi, konstistensi mengikuti prosedur, dan nilai lain yang berhubungan dengan kebudayaan. Efisiensi ekonomi dapat dilihat dengan mengurangi pengeluaran dengan pemasukan (&lt;em&gt;efficiency=output-input&lt;/em&gt;). Konsistensi juga disebut dengan prediktabilitas, dimana hasil dapat diprediksi sebelum keluar.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;mengenai-keadilan&quot;&gt;Mengenai Keadilan&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Pada bagian awal buku ini menceritakan tentang bagaimana etika pembangunan ingin dan berusaha mencegah kesengsaraan di dunia yang tidak bisa dihindari oleh banyak individu. Harga dari perubahan yang dibawa oleh pembanguna kerap dikenakan kepada yang lemah seperti pada hutang internasional atau &lt;em&gt;structural adjustment programs&lt;/em&gt; (SAP). Keadilan dalam pembangunan dikategorikan menjadi tiga hal: pembagian hasil atau keuntungan dari pembangunan, melihat kesenjangan yang ada di masyarakat, dan pertumbuhan (dalam terma ekonomi). Keadilann pasti selalu berhubungan dengan keadilan dalam lingkup hukum.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mengutip dari Julius Nyerere ada tiga aspek yang harus dipenuhi demi mencapai keadilan dalam sebuah Bangsa: perbedaan dalam pemasukan individu, akses ke dalam pelayanan publik, dan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan. Ketiga hal tersebut berdampak pada kehidupan yang sejahtera dan kesetaraan dimata hukum. Michael Walzer juga dikutip mengenai kriteria keadilan: jaminan atas pemenuhan kebutuhan dasar, pasar untuk barang dagangan, pembagian sumberdaya kepada masyarakat, lapangan pekerjaan, pendidikan, kasih sayang, pengakuan dan kekuatan politik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Keadilan dapat dikaitkan pula dengan kesetaraan. Segala hal yang tidak setara maka tidak adil, maka dari itu, penyelesaian masalah harus setara dalam pembangunan. Namun pendekatan macam ini dibantah dengan pendekatan kebutuhan dasar, dimana kebutuhan dasar manusia berbeda-beda, kebutuhan orang dewasa tidak mungkin sama dengan balita, begitupula antara balita dengan lansia. Adapun pandangan ekonomis tentang keadilan bertumpu pada upah, dimana upah/gaji didapatkan dari pekerjaan yang seseorang lakukan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Alokasi yang adil terhadap sumberdaya yakni dengan memberikan sumber daya bagi mereka yang mampu mengelolanya dengan baik, dan keadilan juga berkenaan dengan prosedur yang baik yang dibatasi oleh wilayah. Keadilan bergantung kepada dimana kita menginjakkan kaki.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;luasnya-etika-pembangunan--perbandingan&quot;&gt;Luasnya Etika Pembangunan &amp;amp; Perbandingan&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Meskipun masih banyak konsep yang perlu diulas dalam etika pembangunan, ada baiknya para pembaca membeli buku Des Gasper ini. Pada bab selanjutnya, masih ada ulasan mengenai kekerasan, keamanan, pembangunan manusia, kebutuhan dasar dan kebutuhan manusia begitupula dengan kebudayaan yang selalu dianggap bertabrakan dengan pembangunan. Dimana letak etika dalam dimensi-dimensi pembangunan diatas turut diulas oleh dosen ISS ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku mengenai &lt;em&gt;Development&lt;/em&gt; banyak ditemukan di ranah ekonomi seperti karya Michael P. Todaro yang kerap mengulas tentang teori pembangunan, namun dengan pendekatan yang neoliberal. Buku Todaro ini juga membicarakan keberadaan negara dunia ketiga yang ulasannya kurang lebih sama kuatnya dengan karya Des Gasper, namun buku ini menekankan kepada kelompok-kelompok non-pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan pembangunan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku terbitan Zed Books juga sering mengulas tentang pembangunan, terutama permasalahan-permasalahan pembangunan. Dalam buku yang disunting oleh Wolfgang Sachs, &lt;em&gt;The Development Dictionary&lt;/em&gt;, ada ulasan singkat tentang etika, namun karena hanya satu bab, pastinya tidak semendalam Des Gasper. Apalagi &lt;em&gt;logical framework analysis&lt;/em&gt; yang digunakan Gasper termasuk masih jarang diulas dalam buku-buku bertemakan pembangunan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain itu, ada buku pegangan tentang pembangunan berjudul &lt;em&gt;Understanding Development&lt;/em&gt; karya Paul Hopper. Buku ini mengulas segala lini mengenai pembangunan, mulai Millenial Development Goals dan Sustainable Development Goals sampai pada paradigma &lt;em&gt;ethno-development&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;post-development&lt;/em&gt;. Pembahasan ethno dan post ini memuat ulasan mengenai letak etika pembangunan yang kurang lebih sama dengan Des Gasper dengan menekankan model pembangunan yang menyesuaikan dengan kebutuhan di suatu wilayah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan fokus pada etika dalam pembangunan, karya Des Gasper ini menjadi salah satu bahan ajar yang menarik dalam studi pembangunan dan juga pantas digunakan bagi mereka yang bekerja di ranah pembangunan, baik sebagai &lt;em&gt;policymaker&lt;/em&gt; ataupun mereka yang bekerja di lembaga donor internasional. Meskipun beberapa sub-bab buku ini terkesan sangat filosofis, akan tetapi ada contoh-contoh yang dibeberkan oleh penulis yang turut menunjang kemudahan pembaca dalam memahami makna filosofis yang ada. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>30 Jan 2019</pubDate>
        <link>/etika-pembangunan-ala-des-gasper-bagian-studi-pembangunan-yang-terlupakan</link>
        <guid isPermaLink="true">/etika-pembangunan-ala-des-gasper-bagian-studi-pembangunan-yang-terlupakan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kisah-Kisah Pembunuh Massal dan Ironi Kepahlawanan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Heroes&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Franco “Bifo” Berardi&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://versobooks.com&quot;&gt;Verso&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 224 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2015&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;ISBN-13: 978-1-78168-578-5 (Paperback)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah seorang Marxis asal Italia, Franco Berardi merupakan pemikir garda depan berhalauan &lt;em&gt;otonomist&lt;/em&gt; (gabungan marxisme dengan anarkisme) di Eropa yang karyanya belum begitu marak diulas di Indonesia. Ia pernah mengajar di Academy of Brera, Milan. Beberapa karya lain yang pernah ia terbitkan adalah &lt;em&gt;The Soul at Work&lt;/em&gt; oleh penerbit Semiotext(e) dan &lt;em&gt;Futurability: The Age of Impotence and The Horizons of Possibilities&lt;/em&gt; oleh Verso Books.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam karyanya yang kali ini, Franco Berardi atau kerap disapa Bifo, menuliskan pikirannya yang terinspirasi oleh penembakan massal di Aurora, Colorado di bulan Juli 2012 bertempat di sebuah bioskop. Pembunuh massal tersebut bernama James Holmes, yang menurut Bifo, bertindak tanpa membaca teks-teks tertentu berkaitan dengan tindakannya. Penulis berusaha menghubungkan antara pembunuhan massal di Aurora dengan film yang sedang bermain di bioskop dimana peristiwa itu terjadi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bifo menekankan bahwa ia tidak sedang menulis pembunuh berantai yang sadis, namun seorang yang menjadi kriminal demi publisitas dan mencari jalan keluar dengan bunuh diri setelah melakukan tindakannya (Holmes pernah beberapa kali berusaha untuk bunuh diri saat dipenjara).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para pembunuh semacam ini adalah pahlawan bagi pandangan nihilisme yang pernah berkembang di Rusia. Sebuah pemikiran yang menganggap bahwa kehidupan ini tanpa tujuan dan tak bermakna, banyak dari nihilis yang juga menjadi teroris. Pandangan ini diilustrasikan dengan baik oleh Fyodor Doestoevsky dalam bukunya &lt;em&gt;Demon&lt;/em&gt;. Bifo menganggap bahwa individu semacam James Holmes adalah pahlawan dalam pemikiran nihilisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis juga mengartikan pahlawan (&lt;em&gt;heroes&lt;/em&gt;) sebagai orang yang mampu menundukkan alam dan menguasai peristiwa-peristiwa dalam sejarah dengan kehendak dan keberanian mereka. Mereka digambarkan sebagai penemu dan pembangun sebuah kota dan menghancurkan iblis-iblis yang mengganggu kehidupan manusia, sebuah ilustrasi kepahlawanan dari era renaisans.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu pemikir yang turut menggambarkan peran kepahlawanan dalam buku ini adalah Niccolo Machiavelli melalui bukunya Sang Pangeran (&lt;em&gt;The Prince&lt;/em&gt;). Seorang pahlawan adalah pendiri negara-bangsa, pembangun infrastruktur industri dan membentuk identitas bersama sebuah kaum.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bentuk klasik kepahlawanan ini menghilang ketika era modernitas, dimana kompleksitas dan kecepatan dari persitiwa di dunia menjadi lebih cepat ketimbang kehendak manusia sendiri. Apa hasilnya? Epos kepahlawanan digantikan dengan mesin simulasi yang membentuk identitas kita layaknya sub-budaya populer semacam rock, punk, dan lain sebagainya. Kondisi semacam ini yang memunculkan tragedi peradaban: ilusi dianggap sebagai kenyataan dan identitas menjadi bentuk kepemilikian (berlawanan dengan identitas bersama).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut Bifo, pahlawan mulai menghilang pada tahun 1977, mereka tidak terbunuh oleh musuhnya, melainkan berpindah tempat ke dimensi lain (1977 adalah tahun dimana Star Wars pertama kali keluar).  Para pahlawan tidak lagi berada di dunia nyata, melainkan dunia simulasi visual dan stimulasi saraf. Dari sini, Bifo menggambarkan dengan tidak langsung akan kemunculan &lt;em&gt;box office&lt;/em&gt; yang menjadi tempat bertenggernya para pahlawan kita sekarang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada dekade kedua dari abad keduapuluhsatu, banyak kenyataan dari peradaban sosial berubah menjadi sekedar abstraksinya: algoritma, keganasan matematika dan akumulasi uang. Kekuatan dari simulasi yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya mengubah bentuk fisik menjadi gambar, seni visual dan bahasa-bahasa yang telah tunduk pada rezim periklanan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dampaknya adalah kesensitifan sosial manusia berkurang, anak-anak sekarang lebih banyak belajar kosakata dari mesin (handphone, laptop, televisi) ketimbang dari orang tuanya yang pada akhirnya tidak mampu mengembangkan solidaritas, empati, dan kemandirian. Sejarah telah digantikan dengan sejajaran gambar yang terpisah-pisah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penjelasan di atas disandingkan oleh Bifo dengan kasus James Holmes dimana ia memakai kostum sebelum melakukan tindakan kejinya. Para penonton lainnya hanya menganggap Holmes sebagai fans dari film Batman yang akan diputar, semuanya berubah ketika tembakan mulai dilontarkan dan membunuh 12 orang dan melukai sekitar 70 orang dalam bioskop. Menariknya, dibuat topeng yang membentuk wajah James Holmes dijual sebesar 500 dollar Amerika yang menyandingkan dirinya dengan &lt;em&gt;The Joker&lt;/em&gt; (penjahat difilm Batman) untuk Halloween.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;E-Bay, tempat dimana topeng itu dijual, menghapus postingan penjualan karena kebijakan mereka yang tidak memperbolehkan penjualan yang mendapat untung dari tragedi kemanusiaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis juga memperlihatkan bahwa James Holmes menyebut dirinya sebagai &lt;em&gt;The Joker&lt;/em&gt; kepada para polisi dan menganggap bahwa dirinya sedang berakting di film Batman. Karena tindakan Holmes, aktris yang menjadi &lt;em&gt;Catwoman&lt;/em&gt;, Anna Hathaway memberikan ucapan duka, Chistopher Nolan, sutradara dari &lt;em&gt;The Dark Knight Rises&lt;/em&gt; juga memberikan ucapan duka atas tragedi yang terjadi saat pemutaran filmnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dampak lainnya adalah penarikan komik &lt;em&gt;Batman Incorporated #3&lt;/em&gt; oleh DC Comics dan cuplikan film &lt;em&gt;Gangster Squad&lt;/em&gt; oleh Warner Bros karena keduanya memperlihatkan momen seseorang memberikan tembakan, DC dengan perempuan yang menodongkan pistol ke arah kelas yang penuh dengan siswa dan Warner Bros dengan salah satu karakternya melakukan adegan penembakan di bioskop.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bab awal dari buku ini turut mengulas kehidupan personal James Holmes seperti peribadatannya, senjata yang ia gunakan, bahkan pribadi Holmes yang terkucilkan, dilihat melalui akun website kencan yang ia ikuti dan ditolak sebanyak tiga kali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kenapa publisitas yang dicari? Penjelasan Bifo mengenai hal ini dikaitkan olehnya dengan pernyataan Andi Warhol bahwa di masa depan, seseorang dapat menjadi terkenal dalam limabelas menit. Bagi Bifo, orang bisa terkenal karena tindakannya masuk kedalam televisi, dan hal itu akan membuktikan keberadaan orang tersebut di dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kasus yang mengilustrasikan penjelasan diatas ada pada Pekka Erik-Auvinen, seorang siswa Finlandia yang melakukan penembakan di sekolahnya. Ia mempublikasikan rencana penyerangannya melalui video di YouTube yang menggambarkan foto sekolahnya yang pecah berkeping-keping dan memperlihatkan seorang memegang pistol dan diarahkan ke kamera.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah unggahan tersebut, terjadilah penembakan beberapa jam kemudian di &lt;em&gt;Jokela School&lt;/em&gt;, tempat dimana Auvinen bersekolah. Ia menembak mati sembilan siswa bersama Kepala Sekolah dan seorang perawat. Setelah kejadian penembakan, ia bunuh diri dengan menembakkan pistolnya ke kepalanya sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Auvinen pernah menjelaskan pandangan hidupnya dalam website yang ia miliki bahwa ia mengikuti pandangan eksistensialis sinis, Humanis anti-manusia, Darwinis anti-sosial, atesi dan idealis realistis. Pandangan ini keluar sebelum penembakan terjadi. Ia juga membuat &lt;em&gt;Natural Selector’s Manifesto&lt;/em&gt; yang menganggap bahwa seleksi alam sudah tidak lagi lurus. Menganggap bahwa manusia sudah menjadi tolol dan dunia mereproduksi orang tolol lebih cepat ketimbang manusia-manusia berkualitas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tulisan buatan Auvinen ini disandingkan oleh Bifo dengan pandangan Nazi yang suka melakukan pembunuhan massal (pemikiran dan tindakan yang sama dengan Auvinen). Beberapa aspek yang sesuai dengan Nazisme dalam manifesto Auvinen adalah kekerasan, de-humanisasi korban dan rasisme. Manifesto yang dikeluarkan Auvinen ini adalah deklarasi retoris dalam filosofi pembunuhan massal. Bifo melakukan analisis yang menarik terhadap manifesto ini. Penulis menyambungkan tulisan anak berumus 18 tahun dengan Thatcherisme, Neoliberalisme dan program-program aktivis Tea Party.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kejahatan adalah tindakan yang memperkuat dan memperkokoh ketenaran. Semakin sadis dan menjijikkan kejahatan seseorang, maka semakin narsis karena penegasan melalui media yang digunakan untuk menyebarkan kejahatannya seperti YouTube.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak jarang para penjahat dunia nyata yang hidup dalam dunia angan, dimana mereka mengilustrasikan diri mereka sendiri dengan karakter antagonis tertentu seperti kasus James Holmes, namun ada penjahat yang menginginkan ketenarannya sendiri seperti yang dilakukan Auvinen.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penjelasan Bifo yang menarik berkenaan James Holmes yang menggambarkan hubungan antara media (film) dengan kejahatan. Holmes berusaha memimikri karakter dari Batman (Joker), ia berhasil menghilangkan batasan antara layar kaca dan dunia nyata, bahkan memaksa para penonton Batman berpartisipasi dalam kisah yang hanya ingin mereka tonton (Batman). Tujuannya adalah memecahkan batasan dari pertunjukkan. Usahanya telah mengaburkan batasan antara kenyataan dan imajinasi. Ia ingin untuk masuk dalam pertunjukan, dan pada momen tertentu, pertunjukan Batman memang terasa nyata, namun menghasilkan kematian yang nyata pula. James Holmes adalah personifikasi Joker yang merusak batasan antara dunia nyata dan dunia visual, sayangnya yang keluar dari Batman adalah penjahatnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peristiwa buruk lainnya adalah kasus pembunuhan di &lt;em&gt;Columbine High School&lt;/em&gt;, dimana dua orang bernama Eric Harris dan Dylan Klebold membunuh satu guru, duabelas siswa dan melukai 27 siswa lainnya, pada akhirnya mereka bunuh diri. Kasus ini terjadi pada akhir abad keduapuluh, penulis tidak menyertakan tanggal pastinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Motivasi Harris ternyata seleksi alam yang terinspirasi dari game yang berjudul &lt;em&gt;Doom&lt;/em&gt;, dimana hanya yang terkuat bertahan dengan membunuh mahluk yang lemah. Bifo mengutarakan bahwa ada mutasi psikis karena terpapar video game terlalu lama, bukan karena konten dari game, tapi rangsangan dimana mereka ingin merasakan sensasi dari game tersebut dengan melakukan pembunuhan. Kasus seperti ini jarang ditemui tapi menjadi contoh mutasi pemikiran manusia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan perkembangan teknologi yang pesat, manusia lahir dengan hubungan yang erat dengan mesin informatika (banyak anak kecil yang main PUBG, AOV, Mobile Legend, Dota 2, dll di Indonesia, bahkan kontak mengontak lebih sering pakai media sosial daripada bertatap muka). Mereka ditaklukkan oleh entitas komunikasi virtual yang tidak sensitif sama sekali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karena kehilangan sensitifitas, maka empati seseorang terhadap manusia lainnya pun berkurang. Empati sendiri bukan emosi alamiah, melainkan kondisi kejiwaan yang terbentuk. Apabila tidak ada usaha membentuk kondisi kejiwaan semacam itu, maka hilang juga sensitifitas manusia. Inilah yang disebut dengan mutasi pemikiran, emosional dan kejiwaan oleh Bifo.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kembali kepada kasus Eric Harris, ia memakai kaos bertuliskan “seleksi alam”. Penulis beranggapan bahwa Harris tumbuh dan berkembang di dekade neoliberal, selalu memiliki hasrat untuk menjadi pemenang dan menjadi yang nomor satu. Ia memahami bahwa ia tidak akan jadi pemenang kalau hanya bermain game, maka ia mengambil pilihan bahwa ia akan menjadi pemenang pada momen tertentu. Kejahatan yang ia lakukan merupakan dorongan dari kegagalannya dalam kompetisi di game dan perpeloncoan yang ia terima saat di sekolah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kawannya, Dylan Klebold juga mendapatkan perlakuan yang sama di Sekolahnya, sehingga memiliki tendensi untuk melakukan balas dendam. Baik Harris maupun Klebold, menurut Bifo, merupakan malapetaka yang diciptakan neoliberalisme yang selalu berusaha untuk menang. Dalam kategori sosial neoliberalisme, hanya ada pemenang dan pecundang. Filosofi macam ini membentuk absolutisme kapitalis yang didasarkan atas seleksi alam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada kosakata serapan dalam bahasa Inggris yang turut diulas Bifo, yakni Amok, yang diambil dari kosakata Melayu, Amuk. Amuk menurut Bifo adalah cara untuk membangun ulang reputasi seseorang sebagai orang yang ditakuti dan disegani. Saat meng-amuk batasan antara pelaku dan sekitarnya menjadi mengabur dan juga batasan antara terbunuh dan dibunuh menghilang, kepanikan menjadi faktor pendorong seseorang meng-amuk.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kasus menarik lainnya yang diangkat oleh Berardi adalah pembunuhan massal yang dilakukan oleh Seung-Hui Cho atau panggil saja Cho di Virginia Polytechnic Institute and State University. Tindakannya membunuh 32 orang dan melukai 17 orang. Selalu ada kisah dibalik tindakan irasional yang dikejawantahkan oleh Bifo dalam buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cho merasa tidak tepat pindah ke Amerika Serikat karena keluarganya tidak bisa berbicara bahasa Inggris, ia merasa terisolasi bersama adik perempuannya. Ia merasa kehilangan arah mengenai identitasnya: kebudayaan dan bahasanya (meskipun selama dua tahun setelah pindah, ia dan adiknya belajar membaca dan menulis dalam bahasa Inggris), ia merasa tidak berada di tempat yang benar. Di Sekolah ia belajar dan berinteraksi dengan bahasa Inggris, sedangkan di rumah ia berbicara bahasa Korea, hal ini yang menurut Bifo menjadi landasan frustasi dari Cho.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Amarah yang bertendensi untuk membunuh dapat terkumpul selama bertahun-tahun dan meledak dalam sekejap. Cho adalah personifikasi dari amarah tersebut, yang muncul karena kesepiannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bifo dalam bukunya ini juga menjelaskan bahwa &lt;em&gt;crime&lt;/em&gt; (kejahatan) dan &lt;em&gt;crisis&lt;/em&gt; (krisis) berasal dari akar kata Yunani yang sama, yakni &lt;em&gt;krisis&lt;/em&gt; yang berarti seleksi, penghakiman atau pemisahan. Krisis merupakan situasi dimana norma tidak lagi ketat di dunia, dan memberi jalan bagi persebaran kejahatan. Bifo menyebutkan bahwa film &lt;em&gt;The Purge&lt;/em&gt; menggambarkan kejahatan sebagai jalan menanggulangi krisis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu contoh yang diangkat oleh Bifo adalah Nazi yang melembagakan kejahatan sebagai alasan untuk perbaikan krisis di Jerman. Mereka yang melembagakan kejahatan berasal dari kalangan Borjuis karena mereka adalah kelas yang sangat membatasi diri dalam bergumul. Kekuasaan mereka didasarkan pada kepemilikan aset.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pembunuhan massal lain yang dikupas oleh Bifo adalah kasus Andres Breivik di Oslo, membunuh delapan orang dengan bom dan 69 orang lainnya dengan tembakan. Ia menderita Alexythimia, sebuah penyakit dimana ia tidak bisa mengenali dan menjelaskan perasaannya, penyakit dimana seseorang kehilangan empati secara keseluruhan. Ia tidak lebih dari mesin. Mesin neo-konservatif idiot menurut Bifo yang berusaha membuat manifesto cacat yang menolak marxisme, feminisme dan Islam di Eropa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis menganalisis kasus Breivik sebagai obsesi atas identitas yang bersumber dari kebencian terhadap Islam. Ia mengidentikkan dirinya sebagai orang terpilih yang akan mengangkat kejayaan Eropa dan melihat semua yang dekat dengan Islam sebagai musuh. Meskipun tidak secara terang-terangan mengidentikkan dirinya sebagai fasis, namun Breivik dengan manifestonya memiliki karakteristik fasisme, yakni obsesi terhadap identifikasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Breivik adalah hasil dari rumah tangga yang terpecah, dimana ibu dan bapaknya bercerai ketika Breivik berumur satu tahun, perceraian ini kemungkinan besar memberi dampak terhadap hilangnya perasaan dalam diri Breivik. Kesesatan mental yang dirasakan pemuda ini terbentuk dari lingkungannya yang tidak karuan ditambah dengan pandangan nasionalisme Eropa yang berlebihan lengkap dengan Islamofobia, personifikasi mental buruk penduduk Eropa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak kasus-kasus lainnya yang dikejawantahkan oleh kawan saya, Bifo. Namun baik James Holmes, Pekka-Erik Auvinen, Eric Harris, Dylan Klebold, Seung-Hui Cho dan Andres Breivik adalah gambaran mutasi pemikiran yang melanda generasi muda di Barat. Mereka merupakan pahlawan dari kelompok nihilis yang menganggap kehidupan tidak bermakna. Semuanya adalah pahlawan dari sudut pandangnya masing-masing yang memiliki manifestonya sendiri dan berusaha mencari perhatian dengan kejahatan yang mereka lakukan. Mereka adalah produk negatif perkembangan media dan teknologi yang memiliki penyakit mental masing-masing.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun berisikan kisah yang suram, buku Bifo ini memiliki daya tariknya tersendiri, belum lagi pembahasan filosofis yang menyentuh ranah psikoanalisa membuat buku ini serasa supranatural. Membaca karya Bifo ini seperti menjadi detektif yang sedang melihat kasus pembunuhan lengkap dengan diagnosa penyakit jiwa dan rekonstruksi kejadian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini menjadi satu-satunya jenis buku yang mengulas nihilisme secara akademis, lebih sastrawi ketimbang Nietzsche namun lebih akademis daripada &lt;em&gt;Demon&lt;/em&gt; karya Doestoevsky. Menjadi bacaan ringan yang sedikit kelam sambil mengisi waktu luang di musim hujan. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>21 Jan 2019</pubDate>
        <link>/kisah-kisah-pembunuh-massal-dan-ironi-kepahlawanan</link>
        <guid isPermaLink="true">/kisah-kisah-pembunuh-massal-dan-ironi-kepahlawanan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Perpolitikan Bajingan—Campuran Antara Populisme, Nasionalisme dan Kharisma</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt; The Politics of Fear&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; Ruth Wodak&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt; SAGE Publication&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt; xvi+238 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt; 2015&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;ISBN&lt;/strong&gt; 978-1-4462-4699-3&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun SAGE terkenal dengan buku-buku akademis yang terkadang membosankan dibenak pembacanya, untuk &lt;em&gt;The Politics of Fear&lt;/em&gt; ini, sudah menarik semenjak melihat sampulnya. Apalagi analisis yang tidak hanya menyuguhkan tulisan namun gambar membuat pembaca akan semakin larut dan asyik dalam membaca atau mengulasnya. Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk masuk dalam perkuliahan ilmu politik universitas manapun di Indonesia, guna melihat gaya kampanye dan relasi elit-massa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dosen maupun mahasiswa Ilmu Politik di dunia pasti tidak asing dengan istilah populisme, tapi masih jarang yang mengetahui makna populisme sesungguhnya. Istilah ini sangat sering disandingkan dengan Oligarki atau hegemoni ala pemikir Marxis dan Gramscian. Namun terma ini mulai terkenal semenjak dikenalkan oleh pemikir Pos-Marxisme, Ernesto Laclau.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Populisme memang diperkenalkan dan kerap digunakan sebagai pisau analisis oleh kelompok Kiri. Berbagai pemikir kerap melihat gerakan politik yang terbentuk di negara-negara modern berhubungan dengan populisme. Laclau mengulas populisme melalui bukunya yang berjudul &lt;em&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/mengenal-laclau-mengenal-populisme/&quot;&gt;On Populist Reason&lt;/a&gt;&lt;/em&gt; yang diterbitkan oleh Verso. Adapun yang melihat gerakan umat Islam dan hubungannya dengan Populisme seperti dalam buku &lt;em&gt;Islamic Populism in Indonesia and The Middle East&lt;/em&gt; yang ditulis oleh Vedi R. Hadiz.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika melihat di beberapa &lt;em&gt;website&lt;/em&gt; seperti CounterPunch, Jacobin atau Monthly Review, populisme ternyata ditemukan dalam gerakan kiri maupun kanan, tidak jarang juga yang tulisannya menghujat populisme kanan seperti yang terjadi di Inggris (melalui Brexit-nya), Jerman dengan kebangkitan Neo-Nazi, dan Amerika Serikat dengan terpilihnya Donald J. Trump sebagai Presiden ke 45 yang berasal dari Partai Republik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu apa yang membedakan buku Ruth Wodak ini dengan ulasan populisme lainnya? Simak review saya di bawah ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ruth Wodak sebagai Profesor Emeritus di Universitas Lancaster, Inggris, berfokus pada kajian wacana. Ia terkenal pernah menulis mengenai analisis wacana bersama punggawa studi ini, Norman Fairclough. Wodak memiliki fokus analisis wacana kritis (critical discourse analysis) dan hubungan antara penggunaan bahasa (kata dan kalimat) dalam politik praktis, yang akan diulas dalam buku ini, dengan menggunakan wacana populisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis memulai bukunya dengan memperlihatkan naik daunnya kelompok kanan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi di Uni Eropa, seperti Prancis (Marine Le Pen), Belanda (Geert Wilders), Jerman (Neo-Nazi), dan Inggris (Theresa May). Partai-partai kanan ini memiliki karakteristik yang sama: xenofobia, dan anti terhadap imigran.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karakteristik yang berada di partai-partai kanan ini juga bermacam-macam: pandangan yang sama dengan kelompok fasis seperti yang terjadi di Italia dan Jerman, ketakutan dan ancaman yang dirasakan dari keberadaan umat Islam seperti yang diangkat di Belanda, permasalahan akan identitas nasional yang terjadi di Inggris Raya dan kedekatan dengan kelompok Kristen fundamentalis di Amerika Serikat yang membentuk perilaku reaksioner. Akan tetapi, dari semua isu ini memiliki satu kesamaan: semuanya adalah imajinasi politik mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam melempar isu, Wodak berargumen bahwa ada dua cara sebuah partai memainkan isu mereka: &lt;em&gt;politics of fear&lt;/em&gt; (politik ketakutan) yang menggunakan kelompok minoritas sebagai kambing hitam atas banyaknya masalah dalam negeri, dan &lt;em&gt;arrogance of ignorance&lt;/em&gt; (arogansi kebodohan), di mana partai kanan selalu mengkampanyekan sesuatu yang menarik akal sehat namun dengan gaya yang anti-intelektualitas dengan gaya berpikir pra-modernis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Partai sayap kanan menawarkan jalan singkat untuk menjawab ketakutan-ketakutan yang telah ada di negaranya dengan membentuk kambing hitam dan musuh terhadap permasalahan dalam negeri. Membentuk kambing hitam atau musuh ini melalui penggunaan stereotip buruk yang ada dalam masyarakat dan membentuk wajah musuh dalam bayangan khalayak umum. Maka dari itu Wodak penggunaan keliyanan (&lt;em&gt;others&lt;/em&gt;) sebagai salah satu caranya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini juga bertujuan untuk membangun bagaimana partai-partai ini, secara berkelanjutan, membangun ketakutan yang diarahkan kepada pandangan umum terhadap kelompok-kelompok minoritas yang diantagoniskan melalui retorika (permainan kata) dan komunikasi partai kanan kepada khalayak umum.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertanyaan umum yang akan muncul di pemikiran para pembaca adalah: Apa sebenarnya populisme sayap kanan itu? Wodak mengejawantahkan populisme sayap kanan sebagai ideologi politik yang menolak konsensus politik yang sudah ada dan biasanya menggabungkan liberalisme dan anti-elitisme. Sayap kanan ini juga dikategorikan populisme karena menggerakkan orang-orang biasa yang menolak pandangan para elit.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Populisme memecah sebuah negeri menjadi dua kelompok: masyarakat umum dan elit. Ada antagonisme dalam pemikiran ini, dimana akan ada kawan dan lawan, musuh dan teman, kita dan mereka. Populisme diambil dari bahasa Latin yaitu populi, yang berarti masyarakat. Mengutip dari Musolff, populisme merupakan pemerintahan oleh masyarakat secara penuh. Makna ini akan berlawanan dengan pemerintahan dengan gaya elitisme dan aristokrasi yang menganggap bahwa pemerintahan hanya bisa dipegang oleh segelintir orang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fenomena populisme pertama kali muncul dalam bentuk gerakan agraria di Amerika Utara dan peronisme di Argentina, meskipun populisme kerap disandingkan dengan kelompok sayap kanan, sebenarnya populisme mengacu kepada demokrasi yang murni ditujukan untuk kepentingan masyarakat umum, maka dari itu populisme sebenarnya tidak mengacu kepada sayap kanan maupun kiri namun kepada kepentingan masyarakat. Para pengikut populisme menyepakati adanya representasi guna membawa kepentingan masyarakat, namun menolak keberadaan elit.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karena kepentingan masyarakat yang dibawa oleh populisme, maka tidak jarang kelompok sayap kanan seperti Jerman di era Nazi, memperlihatkan Hitler sebagai perwakilan dari masyarakat Jerman kala itu. Permainan kata yang digunakan oleh kelompok sayap kanan itu adalah kemunculan mesiah atau juru selamat yang akan membangun ulang negerinya menuju jalan yang lebih makmur dengan mengantagoniskan kelompok-kelompok oposisi sebagai sumber masalah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu teori yang disandingkan dengan populisme adalah politik identitas. Mengutip dari Taggart, penulis mengutarakan bahwa ada tiga konsep utama dari politik identitas populisme sayap kanan: pertama, penggunaan istilah “masyarakat” sebagai fitur utama yang masuk kedalam istilah lain yaitu tanah air, dimana posisi masyarakat adalah pusat dari tanah air; kedua, dengan munculnya konsep masyarakat maka ada konsep keliyanan (&lt;em&gt;others&lt;/em&gt;) yang dijadikan musuh oleh kelompok populis sayap kanan; ketiga, adanya dinamika yang menjaga hubungan antagonistik antara “kita” (masyarakat), “mereka” (elit), dan “musuh” (keliyanan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan uraian diatas, maka Wodak memaknai populisme sebagai hubungan antagonistik antara “kita” dan “mereka”, istilah “mereka” dapat dimaknai sebagai elit, atau mereka yang benar-benar bukan asli dari suatu negara dimana populisme terjadi (imigran) atau mereka yang memiliki perbedaan dan jumlahnya sedikit (minoritas yang dieksklusikan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berhubungan dengan populisme adalah gaya berkenaan dengan komunikasi politik yang disampaikan para politisi partai sayap kanan. Komunikasi politik ini muncul dalam ranah: iklan politik, kontrol politik dan pembentukan opini publik sekaligus perilaku publik terhadap kelompok yang dieksklusikan. Pada tataran komunikasi politik inilah wacana-wacana yang diangkat para populis sayap kanan diangkat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Wacana yang diangkat oleh populis sayap kanan pun akan diperluas lingkupnya sehingga negara atau pemerintah seakan-akan menghadapi berbagai macam ancaman akan kedaulatannya. Seperti wacana imigran di Eropa akan dimasak dan dibumbui sedemikian rupa agar dapat diarahkan kepada wacana keamanan dan kewarganegaraan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kasus imigran ini juga diarahkan menuju permasalahan pendidikan dan urusan luar negeri, mengenai siapa yang harus bertanggungjawab atas imigran dari Timur Tengah dan bolehkah mereka mendapatkan pendidikan di Eropa sementara kewarganegaraan mereka masih bermasalah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain politik eksklusi yang dilakukan kelompok kanan terhadap minoritas, pandangan lain yang turut menunjang populisme dan politik ketakutan adalah nasionalisme. Penulis mengutarakan bahwa nasionalisme memang sudah usang pasca Perang Dunia II, namun sebagai fenomena global masa kini, nasionalisme telah bangkit kembali. Gagasan mengenai bangsa (&lt;em&gt;nation&lt;/em&gt;) menekankan kepada inklusivitas dan solidaritas. Bersamaan dengan itu, ide mengenai kebangsaan juga diartikan dalam lingkup etnisitas sampai rasial, sehingga bisa juga digunakan untuk menendang keluar mereka yang bukan termasuk etnis atau ras tertentu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada lima asumsi dasar dalam bab mengenai nasionalisme: identitas bangsa selalu dibentuk dalam konteks tertentu, pembentukan identitas ini diikuti dengan proses inklusivitas atau eksklusivitas kelompok tertentu (terbentuknya pemahaman antara “kita” dan “mereka”), identitas selalu diproduksi dan dibentuk sebagai simbol, nasionalisme partai sayap kanan selalu menggunakan gaya berpolitik yang memisah atau membatasi sudut pandang, dan karena tindakan mereka yang negatif, kebanyakan partai politik selalu berusaha mengakomodasi lebih banyak sudut pandang supaya partai sayap kanan tidak pernah menang dalam panggung perpolitikan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal lain yang turut diulas Wodak adalah politik perbatasan, dimana perbatasan sekarang diartikan dengan penggunaan bahasa, etnisitas dan budaya. Dengan pendefinisian semacam ini di Eropa, maka benua tersebut bukan maju kepada sebuah persatuan yang ditandai dengan kosmopolitanisme, posnasionalisme dan globalisasi, melainkan kembali kepada zaman parokial, tradisional dari sebuah negara-bangsa yang tertutup.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menariknya, Wodak juga mengambil pemahaman tentang kebangsaan dari Benedict Anderson, yang mengilustrasikan bangsa sebagai komunitas imajiner, sebuah konstruksi pemikiran. Kemauan masyarakat untuk mati demi bangsanya merupakan hasil dari ikatan emosional manusia dengan sebuah entitas seperti fatherland, Paman Sam, Mother Russia, dan Ibu Pertiwi (kalau di Indonesia). Keterikatan emosional ini terbentuk melalui sosialisasi terus-menerus mengenai identitas nasional simbolik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Unsur lain yang turut membantu naik daunnya kelompok kanan di Eropa adalah politik kharismatik. Praktek politik semacam ini akan mengunggulkan individu melalui sosial media, pemberitaan, kampanye politik, pidato, dan konferensi pers yang ditujukan kepada penonton tertentu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Anekdot menarik yang disuguhkan dalam politik kharismatik adalah pembicaraan penulis dengan seorang supir taksi menuju Bandara Manchester. Sang supir mengutarakan bahwa Nigel Farage (politisi sayap kanan di Inggris) memberikan pidato yang memukau. Pidato tersebut dapat dipahami oleh si supir sehingga ia terkesima dan berubah haluan, yang awalnya memilih Partai Buruh, namun pada pemilu Mei 2015 di Inggris, ia akan memilih partai tempat Farage berkecimpung, karena Farage dapat menyentuh hatinya melalui ujaran-ujarannya. Ia menggunakan bahasa yang “populis” untuk menarik pendengar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Analisis Wodak memperlihatkan politisi semacam Farage mampu menggunakan bahasa yang lugas untuk memberikan kepastian kepada pendengarnya, bahwa ia berada di sisi mereka. Partai populis kanan di Uni Eropa menggunakan bahasa yang sederhana untuk memperlihatkan kepedulian mereka terhadap amarah dan kekhawatiran masyarakat mengenai permasalahan dalam negerinya. Yang membuat mereka populis adalah penggunaan kalimat yang seolah-olah melawan para elit yang sedang merusak negeri itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak politisi Eropa yang juga menggunakan logika berbalik, dimana dalam satu kalimat ia menolak adanya kekerasan, namun dengan justifikasi bahwa kaum elit tidak mendengarkan suara rakyat, mereka justru menekankan penggunaan kekerasan terhadap kelompok yang tereksklusikan pada kalimat selanjutnya. Justifikasi atau pembenaran ini akan diarahkan untuk mempermasalahkan kelompok tertentu yang nantinya digunakan untuk mengunggulkan posisi tawar mereka di depan mata khalayak umum.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Argumentasi yang acap kali digunakan selalu mengandung unsur argumentum ed verucundiam (memperkuat logika karena kualitas kepribadian si politisi) dan argumentum ad populum (argumentasi yang diikuti karena menyentuh perasaan para pendengarnya). Mengutip dari S. Hansson, penulis juga menyertakan pandangan bahwa tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pengikut kelompok kanan akan dibenarkan dengan cara mythopoesis (meramalkan sebuah kisah apabila “tindakan” tersebut tidak dilakukan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karena buku ini berbicara mengenai praktek politik, maka penulis juga memberikan data-data seperti hasil pemilu, pamflet dan poster pemilu, bahkan menganalisis perkataan dari pidato para politisi sayap kanan yang berhasil menarik simpati khalayak umum. Analisis semacam ini menggunakan teknik analisis dengan pendekatan Analisis Wacana Kritis (&lt;em&gt;Critical Discourse Analysis&lt;/em&gt;) guna melihat kesesuaian data dengan gagasan yang disandingkan (populisme).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini adalah bacaan lebih lanjut dari karya Ernesto Laclau, On Populist Reason, dimana Laclau hanya mengulas populisme secara wacana dari berbagai sumber bacaan. Laclau mendirikan pondasi untuk studi tentang populisme di abad ke-21 yang disempurnakan oleh Wodak dengan sumbangan data-data kuat mengenai penggiringan wacana dalam pemilu di negara-negara Uni Eropa yang bercorak populisme kanan. Kedua buku ini sama bagusnya namun berbeda pandangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi para pembaca yang ingin mengetahui populisme secara filosofis, karya Laclau merupakan bacaan yang tepat, apabila ingin mengetahui prakteknya di lapangan, karya Ruth Wodak ini menyuguhkan studi kasus dan telaahan yang komprehensif mengenai praktek populisme. Ditunjang dengan penggunaan bahasa yang sedikit rumit, yang dituju, baik oleh penerbit maupun penulis adalah pembaca dari kalangan akademisi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika para pembaca ingin membahas konteks di Indonesia, Vedi Hadiz memberikan ulasan menarik tentang populisme yakni Islamic Populism in Indonesia and the Middle East, dengan lingkup umat Islam yang pastinya berbeda jauh dengan pandangan Wodak yang berkutat di Eropa. Keduanya memiliki lokus yang berbeda dengan pisau analisis yang berbeda. Kelebihan karya Wodak ini terletak, lagi-lagi, pada teknik analisis datanya yang masih jarang digunakan di dunia akademik. Pendekatan posmodernis sangat terlihat dalam tiap babnya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;P.S. Resensi ini awalnya dimuat di situs web Klub Seri Buku.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>09 Jan 2019</pubDate>
        <link>/perpolitikan-bajingan-campuran-antara-populisme-nasionalisme-dan-kharisma</link>
        <guid isPermaLink="true">/perpolitikan-bajingan-campuran-antara-populisme-nasionalisme-dan-kharisma</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Peringatan Pemanasan Global dari Seorang Wakil Presiden</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: An Inconvenient Sequel&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: &lt;a href=&quot;https://www.algore.com/&quot;&gt;Al Gore&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;http://crownpublishing.com/archives/imprint/rodale-books&quot;&gt;Rodale&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 320 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;ISBN: 978-1-63565-108-9 (Paperback)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nama Al Gore belum begitu &lt;em&gt;familiar&lt;/em&gt; ditelinga orang Indonesia, tidak hanya yang awam, bahkan para akademisinya pun. Beliau merupakan kader Partai Demokrat yang cemerlang, terutama pada aktivismenya dibidang lingkungan. Yang menarik, tidak hanya aktivis, pada tahun 1993 sampai 2001, ia merupakan Wakil Presiden Amerika Serikat ke-45, semasa Presiden Bill Clinton. Gore memiliki ketertarikan mendalam terhadap kasus perubahan iklim dan pemanasan global, karena memperkenalkan akan bahayanya kedua hal tersebut, Al Gore berhasil menyabet Hadiah Nobel Perdamaian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Aktivis tanpa karya hanya menjadi omong kosong, untuk itu Al Gore memiliki sejajaran buku yang akan membuat kita berpikir keras. Namun, bukunya yang satu ini merupakan alat Gore untuk memperkenalkan pemanasan global kepada khalayak umum. Sehingga isi bukunya sangatlah menarik, tidak seperti buku teoritik pada umumnya. Seperti apa isi bukunya? Mari simak &lt;em&gt;review&lt;/em&gt; saya yang kali ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika membuka buku ini, para pembaca akan kebingungan mencari daftar isi. Karena memang tidak ada. Buku ini dimulai dengan renungan-renungan tentang perilaku manusia terhadap lingkungan sekitarnya. Hubungan kita dengan alam. Dampak-dampak negatif yang telah kita buat, baik secara sadar maupun tidak. Kenaikan suhu terjadi sangat cepat, bahkan malam hari bisa lebih cepat dibandingkan siang, sehingga gelombang panas bukanlah hal yang jarang kita temukan di masa pemanasan global ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bencana iklim ini tidak tanpa sebab. Peristiwa ini terjadi akibat dari akumulasi pemanasan global dan polusi secara berkelanjutan yang dilakukan oleh manusia terhadap atmosfir bumi. Memanasnya lautan juga berdampak kepada matinya terumbu karang yang nantinya akan mengganggu ekosistem laut. Disisi lain, memanasnya air laut juga berdampak pada migrasi ikan secara masif yang makin berkurang jumlahnya karena penangkapan ikan yang berlebihan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Efek rumah kaca juga semakin meningkatkan kadar pemanasan global. Penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang berlebihan pasca Perang Dunia Kedua merupakan sebab utama bumi semakin memanas. Sekarang, hampir seluruh kegiatan manusia selalu ditopang oleh bahan bakar minyak. Ada salah satu gambar pada halaman 40-41 yang mengilustrasikan tentang pekerjaan dan aktivitas manusia yang banyak menggunakan bahan bakar minyak berpolusi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Alhasil, pemanasan global akan menghasilkan suhu yang sangat panas ditambah dengan keadaan yang lembab akan membuat tempat tinggal kita merasa semakin panas. Suhu terpanas pada tahun 2015 menurut penulis, ada di Bandar Mahshahr, Iran, yang mencapai 74’. Semenjak 2001, terjadi kenaikan suhu bumi yang secara berkelanjutan sampai dengan sekarang. Yang tidak disangka, gelombang panas ini telah melelehkan jalan-jalan yang kita lewati dan menelan korban jiwa. Pada tahun 2015 juga, gelombang panas menelan sekitar 2500 korban jiwa di Pakistan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Air Laut dan pemanasan global tetap memiliki dampak alamiah, salah satunya adalah terfokusnya panas di lautan akan memunculkan badai yang lebih destruktif ketimbang sebelumnya, salah satu contoh yang diutarakan oleh Al Gore adalah Badai Super Haiyan yang menerpa Kota Tacloban di Filipina di tahun 2013. Ribuan orang mati dalam bencana alam ini. Penjelasan yang mengalir dari Al Gore memperlihatkan bahwa Badai Super Haiyan ini sebenarnya merupakan dampak dari ulah manusia yang dimulai dengan penggunaan BBM berlebihan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika air memanas, maka sesuai dengan teori &lt;em&gt;hydrological cycle&lt;/em&gt; akan menguap keatas dan menjadi awan. Penjelasan macam ini kerap kita dapatkan saat SMA, namun tidak dijelaskan secara rinci bahwa ada yang namanya &lt;em&gt;atmospheric river&lt;/em&gt;, yakni sebuah awan yang bergerak membentuk seperti sungai yang mengalir. Aliran ini bisa membawa air dalam jarak yang jauh sehingga hujan yang kita dapati sekarang, bisa saja berasal dari Samudra Atlantik atau Samudra lainnya yang jauh dari tempat dimana kita tinggal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun air-air yang dibawa oleh &lt;em&gt;atmospheric rivers&lt;/em&gt; dapat jatuh bersamaan (sekaligus), Seperti yang terjadi pada Phoenix, Arizona di tanggal 18 Juli 2016. Kejadian ini disebut dengan &lt;em&gt;rain bombs&lt;/em&gt;. Cuaca yang iklim akan menghasilkan bencana yang lebih sering terjadi. Cuaca ekstrim ini dimulai semenjak 1980. Ada wilayah yang akan sering diterpa banjir namun ada pula negara-negara yang dilanda kekeringan seperti India di awal tahun 2016. Kekeringan pun berbahaya karena muncul dari cuaca panas yang ekstrim, maka berkemungkinan untuk memunculkan kebakaran hutan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akibat kekeringan yang berkepanjangan dan kebakaran hutan, banyak bahan pangan yang ikut musnah yang berdampak kepada kenaikan harga pangan yang tajam. Saat harga pangan mencapai puncaknya, permasalahan politik dan sosial pun masuk. Salah satunya Pemerintah Tunisia yang berhadapan dengan masyarakatnya sendiri di tahun 2011 dan mulainya Arab Spring. Baik karena kericuhan, kekeringan dan kemiskinan yang mendorong penduduk dari Timur Tengah seperti Syria bermigrasi ke negara lain. Mengutip dari Departemen Pertahanan AS bahwa perubahan cuaca akan berujung kepada kelangkaan air dan pangan, penyakit menular dan pengungsi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Krisis cuaca di beberapa daerah di dunia berasal karena kekurangan air. Penggunaan air oleh manusia hanya 11% untuk kebutuhan personal, 19% untuk urusan pabrik dan 70% digunakan untuk agrikultur (pertanian dan peternakan). Ada fakta menarik yang juga diutarakan oleh Gore adalah hubungan antara virus dengan perubahan iklim. Pada cuaca yang buruk, baik virus Zika dan nyamuk &lt;em&gt;Aedes Aegypti&lt;/em&gt; hidup sedikit lebih lama dan nyamuk bisa menyebarkan virusnya dengan cepat, tepat sebelum dia mati, sedangkan pada cuaca biasa, nyamuk mati terlebih dahulu sebelum virus mampu berkembang didalamnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sekarang, manusia kebingungan dan berinovasi untuk memunculkan energi terbarukan yang tidak memiliki dampak negatif terhadap perubahan cuaca yang berdampak kepada pemanasan global. Beberapa contoh yang diberikan oleh Al Gore adalah pembangkit tenaga listrik di Skotlandia, inovasi semacam ini juga diterapkan di Denmark, yang pembangkit listrik tenaga anginnya berjalan 24 jam sehari. Chile lebih dahulu dalam perkara energi terbarukan, negara Amerika Selatan ini mengembangkan pembangkit listrik tenaga matahari semenjak 2013.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kasus perubahan iklim dan pemanasan global ini disertai dengan semakin langkanya barang tambang seperti minyak bumi dan batu bara. Kanada bahkan membuat kebijakan publik sendiri perkara batu bara, untungnya pembangkit listri bertenaga batu bara ini menimbulkan polusi yang membuat pemanasan global semakin menjadi. Untuk itu pemerintah Kanada menutup pembangkit listrik semacam ini di tahun 2014.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak studi kasus yang dibeberkan oleh penulis berkenaan dengan pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi di dunia, pendekatan environmentalisme sangat kental dan Al Gore memiliki cara yang berbeda dalam mengutarakan problematika ini. Dia menekankan kepada ulah manusia yang merusak alam, sedangkan beberapa aktivis lingkungan lainnya sepeti Naomi Klein, menghubungkan perubahan iklim dengan kapitalisme seperti dalam bukunya &lt;em&gt;This Changes Everything&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang menjadi kelebihan dari buku Al Gore dibanding karya Klein adalah penggunaan foto yang menjelaskan lebih jauh terhadap bencana yang manusia dapatkan ketika merusak alam, sedanhkan buku karya Naomi Klein hanya menggunakan tulisan. Kelebihan ini di dukung dengan adanya data statistik tentang segala hal yang berkaitan dengan pemanasan global dan perubahan iklim. Ditambah dengan dua kolom khusus, yakni &lt;em&gt;Profile&lt;/em&gt; yang membicarakan tentang orang-orang dari berbagai macam disiplin ilmu yang memiliki ketertarikan dalam menyelesaikan permasalahan alam ini dan &lt;em&gt;Deep Dive&lt;/em&gt; yang mengulas peristiwa tertentu yang berkaitan dengan tema buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Gaya penyampaian yang santai dengan penggunaan bahasa yang lugas membuat buku ini pantas untuk menjadi pengantar tentang permasalahan lingkungan yang sedang kita hadapi. Ketika buku ini diterbitkan dalam Bahasa Indonesia, judul yang sesuai adalah &lt;em&gt;Pemanasan Global dan Perubahan Iklim Untuk Pemula&lt;/em&gt;. Cocok bagi para pembaca yang ingin mengawali studi tentang &lt;em&gt;Global Warming&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.blogspot.com/search/label/rez&quot;&gt;(rez)&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>29 Dec 2018</pubDate>
        <link>/peringatan-pemanasan-global-dari-seorang-wakil-presiden</link>
        <guid isPermaLink="true">/peringatan-pemanasan-global-dari-seorang-wakil-presiden</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Israel dan Anti-Semitisme Baru dalam Pusaran Konspirasi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Beyond Chutzpah&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: &lt;a href=&quot;http://normanfinkelstein.com/&quot;&gt;Norman G. Finkelstein&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://www.ucpress.edu&quot;&gt;University of California Press&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xi+332 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2005&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kata konspirasi selalu disandingkan dengan kelompok yahudi. Mulai dari kepresidenan Amerika Serikat hingga peperangan di timur tengah. Belum lagi dengan “bumbu” piramid bermata satu yang diyakini sebagai lambang Dajjal. Adapun konspirasi dimaknai sebagai sesuatu yang belum terbukti dan hanya angan dan persepsi buruk saja. Sekiranya para pembaca yang budiman menelusuri sejarah anti-semitisme, pandangan kita akan berubah total. Banyak kisah sejarah yang diselewengkan oleh kelompok Zionis. Jika para pembaca menganggap buku ini hanyalah omong kosong, lalu kenapa University of California mau menerbitkannya? Apakah UCPress adalah bagian dari konspirasi? Entahlah, yang pasti, Finkelstein bukanlah seorang penggemar Israel.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semenjak kemunculan anti-semitisme baru pasca terbentuknya Israel. Negara berlambang bintang Daud itu dijuluki sebagai yahudi berbagai bangsa. Mereka muncul sebagai akumulasi kolektif dari yahudi-yahudi yang tersebar di berbagai negara dan bangsa lalu membentuk negara sendiri. Jikalau anti-semitisme awalnya adalah gerakan anti agama yahudi, anti-semitisme baru adalah gerakan anti yahudi yang ditujukan kepada penganutnya, sebuah ekspresi kebencian terhadap Israel. Para pendukung Israel memberikan penjelasan bahwa kemunculan Israel adalah akibat dari gerakan anti-semitisme. Hanya di Amerika Serikat dan Jerman, Israel tidak mendapat kritik secara terus-menerus, sedangkan di negara seperti Inggris, banyak kritik yang ditujukan kepada kelompok yahudi dan mendukung negara-negara Arab, namun analisis media Inggris masih menunjukkan adanya bias pemberitaan yang malah mendukung keberadaan Israel.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Anti-semitisme baru ini digunakan sebagai justifikasi dari Israel dalam mempertahankan wilayah mereka. Studi yang dilakukan oleh Phyllis Chesler menunjukkan bahwa tindakan-tindakan anti-semitisme baru diikuti oleh pemberitaan dari media massa pendukung Israel yang menunjukkan bahwa posisi yahudi sedang diserang seperti era Hitler. Banyak pemberitaan yang memperlihatkan bagaimana Israel mempertahankan diri mereka dari serangan negara-negara Arab, namun tidak satupun operasi militer Israel terhadap negara-negara tersebut diulas, ujar Chesler. Dua contoh konkrit penyerangan Israel yang tidak pernah dipublikasi secara masif adalah invasi ke Sinai pada tahun 1956 (dimana justru negara Arab yang dituding anti-semit) dan invasi ke Lebanon pada tahun 1987.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di negara seperti Jerman yang pernah menjadi lumbung anti-semitisme terbesar dibawah Hitler, sekarang menjadi pecinta-semit, Israel bagaikan memegang kepala dari Jerman menurut Finkelstein. Para pendukung Israel akan mengeksploitasi tragedi-tragedi yang dilakukan oleh Partai Nazi dan melalui cara itu, mereka akan berusaha meredam kritik yang ditujukan kepada pimpinan Israel. Pada tahun 2003, salah satu komisi Uni Eropa untuk rasisme dan xenophobia dituduh menutupi berkas-berkas anti-semitisme. Mereka berkilah bahwa ada berkas yang berjudul &lt;em&gt;Manifestations of Anti-Semitism in the European Union&lt;/em&gt; yang dibuat tapi tidak didistribusikan karena masih kurang data empirik. Salah satu yang menuduh komisi tersebut adalah &lt;em&gt;Zentrum fur Antisemitismusforschung&lt;/em&gt; (ZfA) dari Universitas Teknik Berlin. Dalam tuduhannya, mereka menyebutkan bahwasanya usaha menutupi dokumen itu adalah perilaku buruk yang tersisa dari Jerman semaca Hitler.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meski tuduhan apapun dilayangkan oleh para pendukung Israel dan Zionis kepada Uni Eropa, menurut Finkelstein, Uni Eropa tidak akan mudah tunduk dan mendukung Israel. Mereka (UE) memang mendukung keberadaan umat Yahudi di wilayahnya dan mengakui kejahatan kemanusiaan dalam &lt;em&gt;Holocaust&lt;/em&gt; namun Yahudi pun memiliki kemampuan untuk menjadi pelaku kejahatan dan menolak untuk selalu mendukung kebijakan yang dikeluarkan Israel. Pandangan UE ini dianggap sebagai tindakan anti-semitisme bagi para pendukung Israel dan Yahudi. Data-data yang dikumpulkan dalam Manifestasi diatas berdasarkan pada kejadian-kejadian buruk yang terjadi pasca operasi militer Israel (Operation Defense Shield) dilaksanakan. Gerakan anti-semitisme yang disebutkan disana adalah gerakan simpati terhadap Palestina di Spanyol yang para pemudanya mendukung PLO dan membranding organisasi tersebut sebagai gerakan kiri yang progresif, Italia dimana banyak barang-barang Paletina menjadi ikon di kongres partai komunisnya, Irlandia (kedutaan Israel mendapat telepon yang berisi celaan), pembakaran bendera Israel dan demo pro-paletina di Belgia, dan beberapa negara lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada paragraf kedua sudah dijelaskan perbedaan antara anti-semitisme dan anti-semitisme baru. Gerakan anti-semitisme baru ini tidak muncul dari wilayah-wilayah yang diserang oleh Israel, namun justru dari organisasi HAM internasional seperti Amnesty International dan kelompok-kelompok kiri dan liberal juga memberikan dukungan terhadap Palestina dan mencemooh kebijakan Israel. Yang mencengangkan adalah motor dari gerakan anti-semitisme baru ini justru kelompok yahudi kiri layaknya Noam Chomsky yang selalu konsisten dan bersemangat dalam mengkritik kebijakan Israel. Dalam keadaan genting ini, kata neoconservatives di AS menjadi sinonim yahudi, karena mayoritas pendiri pemikiran itu adalah kaum yahudi konservatif.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Finkelstein menganalisis pandangan Ron Rosenbaum yang dengan mudah menuduh kelompok-kelompok pro-Palestina sebagai kelompok yang menyuburkan keberadaan anti-semitisme baru. Dengan lugunya ia menuliskan dalam bagian &lt;em&gt;Introduction&lt;/em&gt; di bukunya &lt;em&gt;Those Who Forget The Past&lt;/em&gt; bahwasanya penduduk Israel ingin hidup damai, namun penduduk Palestina yang selalu melakukan kekerasan, sehingga Israel memilih untuk mempertahankan hidup mereka dengan berperang (&lt;em&gt;defensive war&lt;/em&gt;). Dengan bangga Rosenbaum menyebut peristiwa anti-semitisme sebagai Holocaust kedua. Rosenbaum sendiri menuding bahwa Eropa ingin mengeluarkan seluruh Yahudi dari wilayahnya. Tesis ini dipandang sebagai konsekuensi kelahiran Israel yang merupakan tanah yang dijanjikan layaknya juga keinginan Eropa membuang orang yahudi dari tanah air mereka (penduduk Eropa). Karya Rosenbaum ini dikritik oleh Finkelstein sebagai kisah fantasi yang tidak akan terjadi dan hanya konspirasi belaka yang tidak memiliki bukti empirik sama sekali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan yang diberikan Finkelstein ini menggunakan metode analisis diskursus. Ia menganalisis semua pemberitaan dan penulisan yang berkaitan dengan Yahudi, Israel, Anti-Semitisme dan perang di timur tengah. Selain Noam Chomsky, bisa dibilang bahwa Finkelstein adalah akademisi yang sama tajamnya dalam mengkritisi kebijakan Israel juga mengkritik karya-karya pendukung Israel secara akademik dan berdasarkan kepada data-data yang jelas. Buku ini merupakan pengejawantahan bagaimana Israel dan kelompok Zionis menggunakan anti-semitisme baru sebagai senjata untuk menggalang simpati dunia internasional. Yahudi sendiri terpecah menjadi dua kubu, Zionis dan Refusenik, dimana Finkelstein merupakan contoh dari Yahudi Refusenik. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>11 Apr 2018</pubDate>
        <link>/israel-dan-anti-semitisme-baru-dalam-pusaran-konspirasi</link>
        <guid isPermaLink="true">/israel-dan-anti-semitisme-baru-dalam-pusaran-konspirasi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Merumuskan Makna dan Relasi Publik dengan Pemerintah ala John Dewey</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Public and Its Problems&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: John Dewey&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://www.ohioswallow.com/&quot;&gt;Swallow Press&lt;/a&gt; &amp;amp; Ohio University Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 236 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1991 (reprinting)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Amerika Serikat, &lt;em&gt;the Land of Dream&lt;/em&gt;, memang mencetak banyak inteletual beraliran pragmatisme. Dalam jajarannya adalah John Dewey dari Vermont. Beliau merupakan seorang filsuf abad kesembilanbelas akhir yang memberi corak pemikiran kepada intelektual AS selanjutnya. Ia merupakan seorang pengajar di Universitas Michigan dan Universitas Chicago yang keduanya merangsang perkembangan pemikiran empirisme rasional. Dari dua universitas tadi, ia mengembangkan psikologi fungsional. Sekarang karya Dewey sering diperbincangkan dan dikutip dalam permasalahan publik, terutama mengenai pandangan pragmatismenya, salah satunya adalah buku ini yang merupakan pembukuan dari beberapa perkuliahan yang pernah ia sampaikan dan disunting menjadi karya yang monumental. Simak resensinya sebagai berikut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dewey pada bab awal menjelaskan mengenai negara (state), dimana pemaknaan dia mengenai state ialah seperti seorang dirijen dalam orkestra yang terus-menerus mengajak orang lain untuk memainkan instrumen sedangkan ia sendiri tidak, negara itu sangat sempit tapi juga sangat penting, mereka memiliki kemampuan untuk menjaga tiap individu didalamnya supaya tidak bertengkar sesamanya. Namun negara merupakan bentuk tersempurna dari kapasitas manusia dalam bekerjasama antara satu dengan yang lain. Teori-teori modern mengenai negara mengambil aspek rasionalitas dan keinginan manusia yang dibuat seakan-akan menakjubkan, diluar kemampuan individu dalam keinginan dan tujuan hidupnya, hal tersebut lah yang membuat negara layaknya sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam negara kita akan mengenal apa yang disebut sebagai publik, namun pemahaman kita mengenai hal tersebut tidak pernah komprehensif. Publik bukanlah umum atau masyarakat saja, melainkan masyarakat yang mengenal nilai baik dan buruk. Publik pastinya membutuhkan perwakilan, maka dari itu munculah perwakilan mereka seperti legislator, senator, eksekutif untuk menjalankan keinginan dari negara. Perwakilan ini akan berusaha memperjuangkan keinginan dan kepentingan publik tadi. Karena didalam publik ini ada organisasi politik untuk perwakilan mereka, maka publik menjadi bagian dari entitas politik (&lt;em&gt;political state&lt;/em&gt;). Publik, bagi Dewey, merupakan masyarakat secara menyeluruh yang diikat oleh sebuah prinsip tertentu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari permasalahan publik lah, negara ini muncul guna mengatur, mengelola dan menyelesaikan permasalahan mereka. Dewey menyebutkan kelemahan dari ilmu politik klasik jika berbicara tentang negara ialah adanya unsur-unsur kegaiban di dalamnya, padahal secara mendasar, negara memiliki dua karakteristik: lokalisasi geografis dan temporal (wilayah dan waktu). Pada zaman dahulu kala, negara hanyalah sebuah bayangan yang menguasai keluarga-keluarga di wilayahnya akan tetapi tidak membuat peraturan seperti sekarang, kekuasaan mereka sebatas mendapatkan upeti dan status saja. Semakin berkembang zaman, pemikiran semacam itu akan ditinggalkan dan negara akan mulai membuat regulasi yang sifatnya memaksa. Akan tetapi, pemaksaan tersebut akan bertabrakan dengan pandangan bahwasanya negara adalah manifestasi dari keinginan dan kepentingan warga negaranya, lalu kenapa justru memaksa warga negaranya? Pertanyaan semacam ini akan menimbulkan sebuah sayembara kekuatan antara sang penguasa dan yang dikuasai. Justifikasi dari para penguasa dalam menegakkan regulasi ialah: kepentingan umum (&lt;em&gt;common will&lt;/em&gt;), dari sinilah terpecah pandangan antara publik dan privat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berjalannya negara sebagai manifestasi dari kepentingan umum menghasilkan aturan hukum (&lt;em&gt;rule of law&lt;/em&gt;). Aturan hukum ini berguna untuk menata perilaku individu dalam bertemu dan berhubungan dengan individu lainnya. Peraturan mem-formulasikan konsekuensi jangka panjang .  Hal tersebut adalah cara berperikalu bagi seorang manusia selain akal sehatnya, peraturan muncul untuk mencegah hal-hal yang di luar akan sehat manusia terjadi dalam kehidupan bernegara. Karena sifatnya mengikat, seringkali keputusan yang dibuat oleh individu terpengaruh oleh produk hukum yang berlaku di negaranya. Guna mengamankan apa yang diinginkan oleh negara, maka hukum telah menjadi sebuah akal sehat yang diwujudkan (embodied reason) sebagai cara untuk mengatur perilaku manusia. Akal manusia ini selalu bersifat fungsional bukan kausalitis (sebab-akibat), maka dari itu, penekanan negara dalam aturan hukum adalah fungsi penegakannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Publik, sekejam dan serasional apapun tetaplah manusia. Mereka punya tendensi untuk selalu mengutamakan kelompok-kelompok yang memiliki kebutuhan berlebih dalam kehidupannya sehari-hari seperti anak-anak dan lansia. Publik akan selalu berusaha untuk membuat transaksi yang terjadi didalam lingkungannya menjadi seimbang. Apabila ada hal-hal yang tidak seimbang, maka akan terjadi intervensi publik (&lt;em&gt;public interventions&lt;/em&gt;) pada permasalahan yang tidak seimbang tersebut. Mari kita lihat di Indonesia semacam revisi UU MD3 yang dimana banyak masyarakat menolaknya, karena revisi UU MD3 tersebut merupakan hasil transaksi yang tidak seimbang yang terlalu menguntungkan satu pihak saja. Munculnya Mahkamah Konstitusi (MK) juga menjadi penanda bahwa pemerintah memfasilitasi adanya intervensi dari publik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Maka dari itu, jika kita melihat secara luas, hanya ada dua bagian dalam permasalahan sosial dan politik: publik dan negara. Beberapa paragraf sebelumnya sudah sering menjelaskan mengenai publik, lalu apa itu negara? Dewey memaknai negara sebagai sesuatu yang dapat diidentifikasikan juga sebagai pemerintah, atau negara merupakan entitas tersendiri yang selanjutnya berusaha membuat sebuah agensi yang disebut dengan pemerintah (negara dan pemerintah sebagai dua entitas yang berbeda namun saling berhubungan). Pandangan yang kedua ini merupakan yang komprehensif dalam membentuk teori mengenai negara dan pemerintah. Pemerintah merupakan sekelompok orang yang diamanati untuk menjalankan kepentingan umum (&lt;em&gt;common will&lt;/em&gt;) dari negara yang abstrak, paradigma semacam ini dapat menyelamatkan nama negara meskipun pemerintahnya korup. Negara merupakan sesuatu nilai yang ideal, dimana pemerintah merupakan bentuk konkrit yang sewaktu-waktu dapat berubah, bahkan melenceng dari nilai-nilai ideal tadi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dewey memang berusaha untuk membentuk teori yang konkrit dalam memaknai publik, karena itu, pemaknaan publik sendiri dalam bahasa Indonesia masih belum bisa ditentukan secara pasti, terkadang publik dimaknai sebagai masyarakat, adapun publik adalah umum, masih sangat tergantung konteks kalimat tersebut. Tetapi yang pasti dalam karya Dewey ini adalah relasi antara negara dan publik yang didasarkan kepada kepercayaan. Kita akan bingung apabila secara cepat membaca buku ini tanpa memahami kata per kata, karena karya Dewey yang satu ini merupakan kumpulan perkuliahan yang ia sampaikan di Larwill Foundation of Kenyon College di Ohio. Semoga resensi yang diberikan tidak serumit membaca bukunya.&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>08 Apr 2018</pubDate>
        <link>/merumuskan-makna-dan-relasi-publik-dengan-pemerintah-ala-john-dewey</link>
        <guid isPermaLink="true">/merumuskan-makna-dan-relasi-publik-dengan-pemerintah-ala-john-dewey</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Selamat Datang Xenofeminisme, Feminisme untuk Era Teknologi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul buku: Xenofeminism&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Helen Hester&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://politybooks.com&quot;&gt;Polity&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun terbit: 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal buku: 169&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Istilah yang berawalan dengan ‘xeno-‘ memiliki arti asing atau dari asal-muasal yang berbeda. Misalnya saja, &lt;em&gt;xenophobia&lt;/em&gt;, yakni ketakutan terhadap orang asing. Sedangkan yang hendak saya ulas di sini, xenofeminisme atau XF, merupakan istilah yang tak hanya asing bagi banyak orang saat ini tapi juga mengundang kontroversi bagi yang telah bersentuhan dengannya. Xenofeminisme memang baru-baru saja muncul, adapun Manifesto Xenofeminisme (XFM) baru muncul tahun 2015 yang dipublikasikan oleh &lt;a href=&quot;https://www.laboriacuboniks.net/&quot;&gt;Laboria Cuboniks&lt;/a&gt;. Untuk diketahui, nama Laboria Cuboniks sendiri merupakan anagram dari Nicolas Bourbaki, nama samaran kolektif bagi Matematikawan abad 20 yang kebanyakan berasal dari Perancis. Sedangkan Laboria Cuboniks merupakan nama samaran kolektif bagi enam feminis dibalik XFM. Jika pembaca pergi ke situs web Laboria Cuboniks, pembaca akan dihadapkan pada tampilan website yang—&lt;em&gt;ala tumblr&lt;/em&gt;, jika boleh dibilang demikian—berlatar belakang gambar bergerak (GIF) dari potongan film James Whale, &lt;em&gt;Bride of Frankenstein&lt;/em&gt;. GIF itu menunjukkan bagian permukaan dari apa yang ingin dibahas xenofeminisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya ingin meletakan definisi yang diungkapkan buku ini tentang xenofeminisme pada bagian awal sebelum mengulas lebih lanjut untuk langsung menunjukkan apa itu xenofeminisme. &lt;em&gt;Xenofeminisme adalah bentuk feminisme yang teknomaterialis, anti-naturalis, dan meniadakan gender&lt;/em&gt;. Xenofeminisme sampai taraf tertentu dapat dilihat sebagai usaha untuk mempersatukan cyberfeminisme, poshumanisme, akselerasi, neorasionalisme, feminisme materialis, dan lain-lain yang bertujuan untuk memadukan berbagai proyek yang sesuai dengan kondisi politik kontemporer. Dengan serangkaian hal tersebut, xenofeminisme bukan merakit suatu gabungan politik tapi merakit sebuah politik yang tanpa ‘infeksi kemurnian.’ Bentuk feminisme ini hendak merespon &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/science-fiction-ala-ilmu-sosial-masa-depan-krisis-otomasi-dan-ekologi/&quot;&gt;kondisi zaman yang mulai dipenuhi automasi&lt;/a&gt; dan pesatnya perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Pembahasan mengenai reproduksi menjadi artikulasi terdepan dari xenofeminisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sepanjang pembahasan dalam buku ini, Helen Hester akan sering merujuk pada manifesto kontroversial Shulamith Firestone, &lt;em&gt;The Dialectics of Sex&lt;/em&gt;, untuk menjelaskan apa yang dimaksudnya dengan ‘teknomaterialis, anti-naturalis, dan meniadakan gender’(&lt;em&gt;technomaterialist, anti-naturalist, and gender abolitionist&lt;/em&gt;). Hester mengungkapkan bahwa karya Firestone ini mengangkat pendekatan yang ambisius, membangun, dan luas untuk membayangkan masa depan yang lebih emansipatoris. Inilah yang secara mendalam telah membentuk bayangan xenofeminis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Xenofeminisme merupakan sebuah usaha untuk mengartikulasikan politik gender secara radikal yang cocok dengan era globalitas, kompleksitas, dan teknologi. Pembahasan mengenai teknologi selalu menyisakan pesimisme karena dikhawatirkan akan mengurangi tenaga kerja manusia. Xenofeminisme justru punya minat kritis terhadap teknologi dan memposisikannya sebagai lingkup potensial bagi kegiatan aktivis. Memang, xenofeminisme mengakui bahwa teknologi tidak lekat dengan kebermanfaatan—bahkan tidak juga netral—tapi sesungguhnya dibatasi dan dibentuk oleh hubungan sosial. Dengan demikian, teknologi perlu dikonseptualisasikan sebagai fenomena sosial, sehingga dapat disediakan untuk transformasi sosial melalui perjuangan kolektif. Teknologi bisa mendorong terciptanya alat, pengetahuan, maupun proses untuk tujuan-tujuan politik gender. Xenofeminisme berusaha menyebarkan teknologi yang ada untuk merekayasa ulang dunia secara strategis. Inilah apa yang dimaksudnya sebagai &lt;strong&gt;teknomaterialis&lt;/strong&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jadi, mengapa feminisme yang berimbuhan ‘xeno-‘? Slogan xenofeminisme, &lt;em&gt;politics for alienation&lt;/em&gt;, punya maksud bahwa xenofeminisme menganggap alienasi sebagai dorongan untuk menghasilkan dunia baru. Kita semua teralienasi, menurut XFM. Melalui kondisi yang teralienasi inilah kita bisa membebaskan diri kita. Bangunan kebebasan melibatkan alienasi, alienasi sebagai buruh dari bangunan kebebasan. Bebas dari apa? Bebas dari norma-normal biologi serta dari naturalisme esensialis yang berbau teologi. Teknologi punya potensi untuk membebaskan kita dari kondisi yang tidak menguntungkan secara alamiah, dengan mendorong kemandirian reproduksi dan memungkinkan kita untuk melakukan kontrol atas apa yang terjadi pada tubuh kita.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam mendefinisikan &lt;strong&gt;anti-naturalis&lt;/strong&gt;, Hester berpijak pada penjelasan Firestone dalam &lt;em&gt;The Dialectics of Sex&lt;/em&gt; mengenai kehamilan. Mengutip Firestone, kehamilan merupakan perubahan bentuk sementara dari tubuh seseorang demi sebuah spesies. Kehamilan dan kelahiran merupakan proses yang menyakitkan, beresiko, dan penuh kesulitan bagi tubuh yang melangsungkan hal ini. Sehingga, dia (Firestone) memandang bahwa pengembangan teknologi reproduksi baru—termasuk, tapi tidak terbatas pada, inseminasi buatan—sebagai kesempatan yang belum pernah ada sebelumnya untuk mengakhiri penindasan bagi yang tidak dapat hamil. Tidak ada hal yang harus diterima sebagai tetap, permanen, atau ‘pemberian’ dalam arti material maupun sosial. Xenofeminisme hendak membentangkan dan melayari cakrawala baru—atau cakrawala yang sampai saat ini masih banyak dari kita ingin menghindarinya. Siapapun yang dianggap ‘tidak alamiah’ dalam kuasa norma-norma biologis, siapapun yang ditempa ketidakadilan atas nama tatanan alam, akan menyadari bahwa glorifikasi atas ‘alam’ tidak memiliki apapun untuk ditawarkan kepada kita. &lt;em&gt;Trans, queer,&lt;/em&gt; difabel, orang-orang yang terdiskriminasi karena kehamilan atau tugas pengasuhan anak—xenofeminisme sangat anti-naturalis terkait hal ini. Tercermin jelas dalam slogannya yang lain: &lt;em&gt;if nature is unjust, change nature!&lt;/em&gt; (jika alam tidak adil, ubahlah alam!)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada titik &lt;strong&gt;peniadaan gender (&lt;em&gt;gender abolitionism&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;, xenofeminisme melihat bahwa klaim rasionalitas yang dalam ‘sifat alamiahnya ‘ merupakan patriarki berarti mengakui kekalahan. Sejarah didominasi oleh tangan-tangan lelaki, ini faktanya. Tapi apa yang mau kita lakukan sekarang? Pikiran kita telah terbuka, tinggalkan pemikiran patriarki tersebut dan jadilah rasional. Ilmu pengetahuan itu bukanlah ekspresi dari gender, tapi penangguhan gender. Jika hari ini kita masih berbicara tentang dominasi ego maskulin, maka kita tidak akan pernah terangkat dari kondisi yang tidak setara. Xenofemenisme begita menolak penggunaan istilah patriarki sebagai alasan kita harus berjuang demi mendobrak ketidakadilan gender. Laboria Cuboniks tidak hanya ingin membongkar gender, tapi juga struktur lain yang menjadi dasar penindasan (ras, kelas, ketidakcacatan tubuh, dan lain-lain). Peniadaan gender ini, singkatnya, adalah ambisi untuk membangun masyarakat dimana sifat-sifat yang saat ini dirakit dibawah rubrik gender tidak lagi menyediakan kisi-kisi untuk operasi kekuasaan yang asimetris. Hal ini harus lebih dari menuntut pengakuan untuk kategori identitas yang lebih luas—dimana memungkinkan adanya pengkategorian diri (&lt;em&gt;self-categorizing&lt;/em&gt;). Pengakuan adanya gender &lt;em&gt;yang tak terkira banyaknya&lt;/em&gt; hanyalah langkah pertama dalam menolak gender &lt;em&gt;apapun&lt;/em&gt; sebagai dasar dari penanda yang tetap.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Xenofeminisme diinvestasikan dalam membangun masa depan yang asing. Yang perlu dilakukan adalah menentang gambaran umum mengenai masa depan—yaitu yang umumnya memandang masa depan tidak jauh berbeda dari sekarang dalam hal nilai atau mungkin masa depan sudah tidak ada karena bencana iklim. Dalam buku ini, Helen Hester hendak menunjukkan bahwa gagasan yang dibawa oleh xenofeminisme membuat kita memikirkan ulang tujuan penggunaan teknologi demi tujuan reproduksi, dan tentu saja, esensi reproduksi itu sendiri. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(ich)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>07 Apr 2018</pubDate>
        <link>/selamat-datang-xenofeminisme-feminisme-untuk-era-teknologi</link>
        <guid isPermaLink="true">/selamat-datang-xenofeminisme-feminisme-untuk-era-teknologi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Tips-Tips Mengelola Negara dari Xi Jinping</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Governance of China II&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Xi Jinping&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Foreign Language Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 619 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berbicara mengenai Republik Rakyat Cina (RRC) di abad keduapuluhsatu, maka ada nama Xi Jinping yang sangat melekat padanya. Nama ini menggema layaknya Mao Tse-Tung dan Deng Xiaoping dimasa lampau. Bahkan kabar terakhir yang kita dengar di berita, beliau dihampiri oleh pimpinan besar Republik Demokratik Korea Utara, Kim Jong Un. Perawakan yang tenang, murah senyum dan berwibawa ini ternyata memiliki kemampuan berpidato yang tidak kalah dengan Hitler atau Soekarno, namun dengan wajah tenang layaknya Soeharto. Memang sudah ciri khas negeri panda ini dalam membukukan pidato-pidato pemimpinnya, jika dulu kita mengenal buku &lt;em&gt;Quotes From The Chairman Mao&lt;/em&gt;, sekarang kita diperkenalkan oleh &lt;em&gt;Foreign Language Press&lt;/em&gt; dengan buku &lt;em&gt;The Governance of China&lt;/em&gt; jilid 1 dan 2. Resensi ini akan menguraikan kunci kesuksesan RRC di era demokrasi ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini menggolongkan pidato Xi dalam beberapa bagian. Yang pertama adalah bagaimana RRC masih mampu mempertahankan ideologi komunisnya hingga era neoliberal ini. Bagi Xi, Uni Soviet runtuh akibat mempertanyakan doktrin-doktrin Marxisme yang harusnya ditaati tanpa pertanyaan. Cina mampu mempertahankan ideologi yang dianggap gagal ini karena marxisme merupakan keinginan dari Rakyat Cina sendiri. Ia mengejawantahkan bahwasanya Marxisme adalah ilmu sosial modern yang dapat digunakan untuk menyelesaikan segala permasalahan sosial, ekonomi dan politik yang ada di dunia ini. Pertarungan kelas menjadi basis utama untuk menyetarakan kesenjangan ekonomi yang terjadi di banyak negara. Kunci keberlanjutan dari Sosialisme, Komunisme dan Marxisme adalah kedisiplinan yang diwujudkan didalam partai terkait. Dan memang kedisiplinan tersebut cocok dengan budaya rakyat Cina yang termasuk &lt;em&gt;rigid&lt;/em&gt; dan juga &lt;em&gt;ulet&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di bawah pimpinan Xi, Cina berusaha menjadi super disiplin dengan program kerja yang diusungnya melalui pembuatan peraturan-perundangan yang ketat bagi partai maupun seluruh masyarakat Cina. Korupsi yang dilakukan oleh perjabat negara adalah akibat hilangnya kedisiplinan tersebut yang diawali dengan ketidaktaatan terhadap peraturan-perundangan, maka dari itu, penegakan hukum merupakan ujung tombak utama dalam penegakan kedisiplinan. Sanksi merupakan senjata utama dalam menghilangkan korupsi dari bumi manusia ini. Beliau mencetuskan &lt;em&gt;Law-Based Governance&lt;/em&gt; dimana tata kelola pemerintahan semuanya harus sesuai dengan aturan yang sudah dicanangkan, segala tindakan diluar aturan itu adalah usaha untuk merusak pengembangan kapasitas dari lembaga negara RRC. Pengembangan kapasitas dan institusi merupakan impian Xi Jinping untuk kemajuan Cina.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun prinsip-prinsip &lt;em&gt;Good Governance&lt;/em&gt; terselip dalam agenda Xi Jinping dalam memerintah baik RRC maupun Partai Komunis Cina (PKC) dengan menekankan kepada seluruh aparat negara maupun petugas partai bahwa posisi masyarakat Cina adalah penguasa. Ia pun menekankan kepada para pejabat tinggi Cina agar tidak sering berlibur, terutama keluar dari wilayah administratif pejabat tersebut, karena jika ada permasalahan penting yang harus diselesaikan, maka pejabat tersebut merupakan penanggungjawab utama. Dalam penegakan hukum, masyarakat adalah aktor utamanya, mereka juga menjalankan tugas untuk mengawasi tindakan para pejabat negara. Partisipasi aktif masyarakat dalam penegakan hukum inilah yang merupakan sebuah kelebihan sistem pemerintahan di Cina yang berusaha menggabungkan peraturan-perundangan bergaya sosialis, kapitalis dan fitur-fitur budaya Cina yang selalu harus dipegang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terlepas dari ideologinya yang komunis, ternyata Cina dibawah Xi Jinping sudah bergerak kepada Pasar Bebas. Salah satu komponen penting dalam pertumbuhan ekonomi, menurut Xi, adalah investasi. Cina butuh menghilangkan hambatan-hambatan yang ada dalam masuknya arus investasi demi pertumbuhan ekonomi yang lebih pesat. RRC harus menggalakkan ekspor demi pertumbuhan ekonominya menjadi lebih pesat, masyarakat harus mengurangi konsumsi berlebih dan mulai menjadi produsen berbagai macam barang dan jasa yang dapat diekspor ke luar RRC. Keunggulan komparatif utama dari Cina adalah banyaknya tenaga kerja dengan upah yang rendah tapi masuk akal. Kualitas produksi barang dan jasa juga bertumpu pada kualitas &lt;em&gt;human capital&lt;/em&gt; yang ada di suatu negara, maka diperlukan pengembangan sumberdaya manusia yang besar guna mengurangi ketergantungan terhadap negara lain. Budaya konsumtif yang sekarang marak di dunia internasional menjadikan sebuah keuntungan tersendiri bagi Cina. RRC membutuhkan inovasi teknologi perindustrian demi mempercepat dan memperbanyak produk yang nantinya akan menjadi konsumsi dalam negeri maupun ekspor.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akan tetapi, dengan industrialisasi pesat yang terjadi di RRC, maka polusi pun akan merajalela dan masyarakat sekarang sangat membutuhkan lingkungan hidup yang bersih. Maka sudah menjadi kewajiban negara untuk membenahi dan mewajibkan pendirian usaha yang sifatnya ramah lingkungan (pembangunan yang rendah karbon harus digalakkan). Hal ini tidak terlepas dari sejarah industrialisasi dan pembangunan Cina yang acapkali melupakan faktor lingkungan yang sekarang berdampak kepada masyarakat Cina sendiri. Alokasi sumber daya lama merupakan permasalahan lain yang juga harus dihadapi oleh pemerintah Cina. Xi Jinping menyarankan penggunaan ekonomi Keynesian guna menyelesaikan problema alokasi sumberdaya. Pemerintah harus mengontrol sumberdaya ini dan secara bersamaan menerapkan &lt;em&gt;Flying Geese Paradigm&lt;/em&gt; demi mempercepat pertumbuhan ekonomi secara makro. RRC harus benar-benar mampu memahami perubahan-perubahan yang terjadi dalam pasar bebas, terutama permintaan dan suplai yang dibutuhkan oleh dunia internasional. Sebisa mungkin RRC menyediakan &lt;em&gt;demand&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;RRC sendiri harus beradaptasi dengan perekonomian &lt;em&gt;New Normal&lt;/em&gt; dengan meningkatkan kualitas dan memperbanyak inovasi dari produk-produk yang ada di Cina. Sekarang, produktivitas kerja adalah panglima bagi RRC. Dalam perekonomiannya yang berkembang pesat, pemerintah di sebuah negara tidak boleh melupakan adanya kesenjangan GDP dari tiap daerah. Negara tidak boleh berfokus kepada pertumbuhan GDP secara nasional agar meninggikan derajat dirinya secara ekonomi namun melupakan bahwa disparitas terjadi dalam pertumbuhan GDP tersebut. Jika hal ini terjadi, maka negara lalai dalam menyejahterakan masyarakatnya, dan apabila pemerintah RRC melakukan hal tersebut, maka PKC telah menjual harga diri ideologis dan identitasnya agar diperhitungkan di dunia perekonomian internasional. Harus ada koordinasi pembangunan antar daerah agar memudahkan faktor produksi gerak bebas tapi terarah. Cara semacam ini disebut dengan &lt;em&gt;regional zoning plan&lt;/em&gt; yang jika diimplementasikan dengan baik akan menghasilkan distribusi pelayanan publik yang adil.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mahzab neoliberal yang ada dalam Xi Jinping tercermin dari pidatonya yang mengharapkan bahwa RRC membiarkan pasar bebas menentukan alokasi sumber daya. Pemerintah harus mengembangkan perannya di ranah-ranah yang tidak dapat dijangkau oleh pasar. Namun, meskipun pasar bebas diperbolehkan melakukan penentuan alokasi, pemerintah masih berperan sentral dalam mengawasi gerak-gerik pasar bebas. Pemerintah harus mengutamakan pengembangan pelayanan publik dibanding mengitung harga pasar, seperti menyediakan sekolah yang dapat diakses oleh kalangan bawah, jaminan kesehatan, juga melakukan manajemen sosial dan memproteksi lingkungan hidup penduduknya. Pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah harus menarget kelompok-kelompok yang memang membutuhkan pelayanan tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kemampuan Cina dalam mengembangkan sumber dayanya dan berujung kepada produktivitas tinggi ini berasal dari kepemimpinan Xi yang tidak konfrontatif terhadap negara lain. Ia mempromosikan RRC yang ramah dan terbuka. Kunci keberhasilan ekonomi adalah &lt;em&gt;consumer-driven production&lt;/em&gt; (produksi yang didasari oleh keinginan konsumen). Ia membuat RRC menjadi pabrik internasional yang membuat banyak perusahaan tertarik untuk berinvestasi dan membangun pabrik di sana, dengan itu akan menyediakan lapangan kerja yang banyak untuk penduduk Cina. Buku ini ialah kiat-kiat yang mendorong maraknya barang bertulisan &lt;em&gt;Made in China&lt;/em&gt; yang wajib dibaca oleh administrator, pengusaha dan birokrat di negara-negara sedang berkembang agar mampu menjadi &lt;em&gt;New Industrialized Countries&lt;/em&gt; (Negara Industri Baru) yang dapat bersaing dalam skala internasional. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>04 Apr 2018</pubDate>
        <link>/tips-tips-mengelola-negara-dari-xi-jinping</link>
        <guid isPermaLink="true">/tips-tips-mengelola-negara-dari-xi-jinping</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Memahami Arena Pertarungan Budaya dari Revolusi Aljazair</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Algerian Sketches&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Pierre Bourdieu&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://politybooks.com&quot;&gt;Polity&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 390 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2013&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagai seorang antropolog maupun sosiolog sejati, seseorang pastinya akan menuliskan sebuah karya ilmiah mengenai keadaan suatu bangsa, negara, wilayah atau suku di suatu daerah. Levi-Strauss selaku bapak antropologi modern, sudah sering melakukan hal tersebut. Bagaimana dengan Pierre Bourdieu tersohor? Alumni Ecole Normale Superiure ini pernah menetap pada tahun 1950an di Aljazair dan meneliti tentang masyarakatnya. Dalam penelitiannya, ia terjebak dalam peperangan di sana. Aljazair dan Kabylia merupakan pusat penelitiannya, disanalah pemikiran-pemikiran etno-sosiologi muncul. Dari tempat itulah, antropologi mulai menemukan jiwanya. Di tempat itulah ia melihat peperangan yang tidak lagi politis, namun memang benar-benar perang untuk mempertahankan diri. Buku inilah yang menjadi hasil pengamatan dan penelitiannya selama menetap di Aljazair, saya akan mencoba untuk meresensinya sedikit.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasca perang kemerdekaan Aljazair, menurut Bourdieu, membuat masyarakatnya saling bertarung satu sama lain. Revolusi kemerdekaan di Aljazair telah mengubah struktur dan tatanan masyarakatnya menjadi benar-benar anti-kolonialis namun membawa dampak baik berupa peningkatan minat membaca dari masyarakatnya. Mutasi budaya yang terjadi berupa perlawanan terhadap budaya-budaya yang dianggap sebagai hasil dari kolonialisme. Mereka menjadi negara yang kolonialphobik. Revolusi yang terjadi menimbulkan jarak antara penjajah dan yang dijajah semakin jauh dan membuat dua kubu ini semakin bermusuhan (lebih tepatnya masyarakat Aljazair yang memusuhi). Namun Bourdieu tidak menyalahkan masyarakat Aljazair yang masih mau menerimanya, karena dia datang hanya untuk belajar, bagi beliau, kolonialisme selalu datang diikuti oleh peperangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, keberadaan kolonialisme yang ia jelaskan dari kasus Aljazair adalah munculnya kasta penjajah dan kasta terjajah. Pastinya untuk memperkenalkan inferioritas kepada kasta terjajah, maka kasta penjajah perlu melakukannya dengan paksaan. Paksaan yang dimaksud oleh Bourdieu disini ialah dengan kekerasan fisik maupun psikis. Untuk itu, perdamaian merupakan sebuah ancaman terhadap keberadaan kolonialisme itu sendiri. Kolonialisme harus selalu menggunakan kekerasan dan peperangan sebagai alat penekannya. Tanpa kekerasan dan paksaan, maka kasta terjajah akan melakukan perlawanan dalam bentuk revolusi guna menghilangkan status inferior mereka. Sistem kolonial harus dilawan secara radikal dengan cara melakukan revolusi prinsip-prinsip yang dibawanya dan dihilangkan dari tempat dimana revolusi itu terjadi, dalam kasus ini, Aljazair.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Perang di Aljazair bukanlah peperangan suci, akan tetapi usaha dalam merebut kebebasan, perang ini tidak didasari pada kebencian akan tetapi pergulatan terhadap sistem yang menekan, peperangan ini bukan mengenai Arab melawan Prancis, ataupun Islam melawan Kristen”. Kalimat tersebut merupakan propaganda yang keluar ketika perang revolusi Aljazair bergulir. Kata-kata disana adalah propaganda yang sebenarnya menunjukkan karakteristik asli dari revolusi itu sendiri. Propaganda itu merupakan kebenaran yang dibalik, karena dalam peperangan itu, kubu muslim dari Aljazair dan kelompok kristen dari Prancis lah yang memang sedang berperang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika bicara mengenai revolusi untuk kemerdekaan, permasalahannya tidak sedangkal mengenai pergulatan ekonomi borjuis dan proletar. Perang kemerdekaan adalah perang gagasan dalam skala masif dimana satu gagasan berusaha membentuk sistem dan yang lainnya pun melakukan hal yang sama untuk melawan gagasan satunya. Dalam kemerdekaan pun kita bicara mengenai pembentukan identitas suatu bangsa. Peperangan tersebut akan menentukan identitas bangsa pemenang sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat, sebuah status yang rela direbut dengan darah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada awal-awal masa setelah kemerdekaan, resistensi terhadap budaya-budaya kolonial masih terasa dan mereka berusaha mengilustrasikan identitas sendiri. Mereka (Penduduk Aljazair) berusaha menentukan identitasnya dalam bentuk bahasa yang mereka gunakan, pakaian adat mereka, kebiasaan yang dilakukan mereka. Mereka sudah pasti menolak mentah-mentah segala hal yang berbau kolonial. Bahkan penolakan mereka ialah terhadap seluruh peradaban Barat (Eropa). Akan tetapi, lambat-laun, mereka akan menerima nilai-nilai dan budaya dari Barat sebagai sesuatu yang baru, karena generasi sudah berganti. Bourdieu bahkan menjelaskan bahwa pemuda Aljazair yang hidup lama setelah perang revolusi, akan menyukai budaya Eropa dan berusaha menggabungkan identitasnya dengan identitas orang barat. Penduduk Aljazair sendiri sekarang sudah menyebar ke berbagai negara dan banyak budaya yang masuk ke Aljazair dan berusaha untuk berintegrasi dengan budaya Aljazair.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bourdieu memformulasikan pandangannya mengenai revolusi Aljazair ini sebagai sesuatu yang layak untuk diperbincangkan. Ia berusaha untuk menguak pertarungan budaya antara penduduk Aljazair dengan para penjajah dari Prancis. Pertarungan budaya ini menghasilkan &lt;em&gt;phobia&lt;/em&gt; sementara yang akan surut dengan berjalannya waktu. Namun pastinya sisa-sisa dari kebudayaan kolonial itu masih ada, terutama mental jajahan pastinya tersisa, tetapi Bourdieu adalah antropolog dan sosiolog, bukan seorang psikolog atau psikoanalis. Ia akan lebih membahas mengenai arena pertarungan budaya yang terjadi ketimbang mentalitas penjajah dan jajahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini merupakan kumpulan tulisan Bourdieu juga wawancaranya dengan Mouloud Mammeri, seorang penulis Kabyle mengenai relasi kekuasaan dan bahasa, juga perbincangannya Franz Schulteis berkenaan dengan fotografi. Dalam buku ini pula ada penjelasan refleksif mengenai definisi dari antropologi yang dilengkapi dengan suratnya kepada Andre Nouschi. Buku ini sebenarnya menarik, penggunaan bahasanya bisa dibilang tergolong &lt;em&gt;advance&lt;/em&gt; dan tebal bukunya membuat kita sedikit malas untuk mengangkat atau membawa buku ini. Adapun penjilidan yang terlalu ketat akan membuat kita kesusahan dalam membuka bukunya. Belum lagi spasi yang berdempetan membuat mata agak sedikit mengantuk, tapi semua itu adalah perjuangan yang pas untuk sebuah ilmu pengetahuan dari Boudieu. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>03 Apr 2018</pubDate>
        <link>/memahami-arena-pertarungan-budaya-dari-revolusi-aljazair</link>
        <guid isPermaLink="true">/memahami-arena-pertarungan-budaya-dari-revolusi-aljazair</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Usaha Menyelaraskan Pembangunan dan Pelestarian Alam Menurut Emil Salim</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Pembangunan Berwawasan Lingkungan&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Emil Salim&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;http://www.lp3es.or.id/&quot;&gt;LP3ES&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 237 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: Cetakan Keenam, 1993&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Emil Salim, nama ini akan menggema dan pasti dikenal oleh penduduk Indonesia di tahun 1980an. Salah satu dari Mafia Berkeley yang memang lulusan University of California at Berkeley untuk PhD dan MA nya. Dan memang, rata-rata alumni Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia menjadi ekonom yang tajam dalam melakukan prediksi. Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup selama 1978-1993 setelah sebelumnya menjadi Menteri Perhubungan pada tahun 1973-1978, dan Menteri Negara Bidang Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara (1971-1973). Di zaman pasca-Soeharto pun, ketika kepemimpinan Indonesia dipegang oleh Susilo Bambang Yudhoyono, ia diangkat menjadi salah satu Dewan Pertimbangan Presiden yang fokusnya adalah lingkungan hidup. Karir yang amat panjang menandakan bahwa beliau memang orang yang dipercaya oleh Indonesia untuk mengemban amanah sebagai pejabat negara. Tidak hanya menjadi birokrat, namun Emil Salim merupakan intelektual garda depan di Indonesia dan Asia Tenggara yang namanya sudah mendunia. Dan buku ini merupakan salah satu karyanya yang monumental.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Manusia dalam berinterasi dan bersosialisasi dengan manusia lainnya pasti tidak terlepas dari lingkungan hidup disekitarnya. Bahkan sejak zaman batu, manusia sudah bergantung kepada alam sekitar dengan cara berburu untuk mencari makannya. Semakin berkembangnya zaman, manusia pun pasti ikut berkembang, namun terkadang dengan melupakan alam sekitarnya. Menurut Salim, hakikat pembangun adalah membangun manusianya, apabila pembangunan itu terjadi di Indonesia, maka masyarakat Indonesia lah yang harusnya dikembangkan. Dalam melakukan pembangunan terhadap masyarakat, maka ada dua komponen yang patut diperhatikan: kemajuan lahiriah yang bersifat material dan kemajuan batiniah yang bersifat imaterial. Kedua hal tersebut adalah dasar dalam melakukan pembangunan untuk mencapai Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dalam melaksanakan pembangunan sendiri dilakukan secara bertahap dan tidak bisa dengan cara cepat, maka dari itu pemerintah selalu mencetuskan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun manusia menjadi subyek begitu pula obyek utama dalam pembangunan, namun lingkungan hidup tidak kalah pentingnya bagi Emil Salim. Jika rusak lingkungan hidup di suatu wilayah, maka rusak pula tatanan sosial yang ada di sana. Beliau berargumen, untuk memahami kondisi lingkungan hidup kita, hal paling mendasar yang harus dipahami adalah dua jenis sumber daya alam (SDA): yang dapat diperbarui (ternak dan pertanian) dan yang tidak dapat diperbarui (tambang). Melalui pengkategorian yang ada tadi, kita harus bijaksana dalam menggunakan sumber daya alam, terutama yang tidak dapat diperbarui. Kelangkaan sumber daya alam akan berimplikasi pada perekonomian, sebelum terjadi hal buruk terhadap perekonomian, maka alangkah baiknya manusia bertindak bijaksana terlebih dahulu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi Emil, pengelolaan sumber daya alam diutamakan bagi daerah yang menghasilkan sumber daya alam tersebut dengan pola yang mengindahkan kelestarian lingkungan hidup. Beliau menjelaskan bahwa kita harus menekan permintaan akan sumber daya alam yang terus meningkat agar tidak memunculkan eksploitasi lingkungan hidup yang berlebih. Sumber daya alam yang ada di Jawa, Madura dan Bali sudah menipis semenjak kita merdeka, dan seharusnya para penduduk dari tiga wilayah ini maupun korporat yang bertempat di tiga daerah itu, mulai memikirkan dampak jangka panjang apabila sumber daya alam terus menerus digerus. Jangan sampai kepentingan personal atau kelompok merugikan masyarakat umum.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kebijakan yang paling sesuai untuk menjaga lingkungan hidup adalah &lt;em&gt;eco-development&lt;/em&gt; dimana pemerintah berusaha menyelaraskan pembangunan dengan pelestarian alam sekitar. Faktor utama yang akan menjadi penopang kebijakan ini ialah kemampuan masyarakat dan juga pemerintah dalam melaksanakannya. Ia menjelaskan pentingnya lingkungan hidup ialah menjadi rumah bagi baik flora maupun fauna yang memiliki ekosistem tersendiri, yang dari ekosistem tersebut ada rantai makanan, apabila habitatnya rusak, maka rusak pula rantai makanan yang ada dan mereka pastinya akan mencari habitat lain. Apabila dari rantai makanan ini ada yang terputus, pastinya akan mengganggu kehidupan manusia pula. Maka dari itu pembangunan pabrik harus melihat kepentingan lingkungan hidup ini pula. Keuntungan dari pabrik tidak sesuai dengan kerusakan alam yang terjadi akibat pabrik tersebut. Maka dari itu, ia menyarankan pembangunan pabrik harus memiliki izin lingkungan hidup (kita sekarang mengenalnya dengan sebutan AMDAL yan dimulai sejak 1982).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Permasalahan yang didapati di Indonesia adalah permasalahan negara berkembang pada umumnya: pertumbuhan penduduk yang semakin pesat, dan akibatnya: desakan terhadap pertumbuhan ekonomi. Walaupun Emil Salim memiliki pandangan yang kelihatannya ingin melestarikan lingkungan hidup, namun ia tetap lulusan Amerika Serikat. Latar belakang pendidikan ini yang berdampak pada pandangannya mengenai kemiskinan. Baginya, kemiskinan yang terjadi adalah ketidakmampuan masyarakat dalam menikmati sumber daya alamnya. Maka dari itu, setiap perusahaan yang ingin mendirikan pabrik, harus memiliki kewajiban untuk memakmurkan masyarakat yang ada di sekitarnya (kita sekarang mengenalnya dengan &lt;em&gt;Corporate Social Responsibility&lt;/em&gt; – CSR). Usaha pelestarian global sendiri sudah digawangi oleh PBB dengan pembentukan UNEP (United Nations Environment Programme). Namun Emil Salim mengkritik Stockholm (kemunculan Environtalisme) dan UNEP karena lemahnya transfer teknologi ramah lingkungan dari negara-negara Utara kepada negara di Selatan. Maka dari itu Indonesia dalam melestarikan sumberdaya alamnya supaya dapat beriringan dengan pertumbuhan ekonomi terkadang menempuh jalur &lt;em&gt;trials and errors&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun dalam pelestarian sumber daya alam, Emil Salim mencetuskan bahwa ada Wilayah Tak Terlanggar yang didalamnya merupakan cagar alam bagi flora dan fauna yang terancam hajat hidupnya. Indonesia yang terbagi dalam berbagai wilayah ekologi harus menyisihkan paling tidak 10% untuk ekosistem mahluk hidup selain manusia. Beliau menyarankan bahwa hutan seluas 122 juta hektar wajib disisihkan 48 juta hektar untuk tetap menjaga linkungan hidup di Indonesia dan untuk relokasi flora dan fauna yang ekosistemnya terganggu oleh pembangunan yang dilakukan oleh manusia. Adapun pemanfaatan tanah dan sumber daya alam harus melihat urgensi sehingga tidak setiap waktu sebuah sumberdaya alam diambil hanya untuk ditimbun di gudang. Adapun pembahasan mengenai kawasan penyangga merupakan ide dari Emil Salim yang mulai diterapkan di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terlepas dari preferensi politik yang dimiliki oleh Emil Salim, namun kita tidak bisa menafikkan bahwa beliau punya keahlian dan kemampuan dalam usahanya menyelaraskan pembangunan manusia dan pelestarian sumberdaya alam. Saya sangat menyarankan buku ini dibedah dan didiskusikan oleh para LSM yang mendukung pelestarian sumberdaya alam. Marilah kita merdeka dalam berpikir, semoga tidak hanya Murray Bookchin yang akan dibicarakan namun juga anak bangsa seperti Emil Salim. Buku ini bisa menjadi referensi untuk mata kuliah teori pembangunan agar kita tidak berfokus pada industri saja tapi juga pada alam sekitar kita. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>31 Mar 2018</pubDate>
        <link>/usaha-menyelaraskan-pembangunan-dan-pelestarian-alam-menurut-emil-salim</link>
        <guid isPermaLink="true">/usaha-menyelaraskan-pembangunan-dan-pelestarian-alam-menurut-emil-salim</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Memahami Birokrasi, Sebuah Pengantar Singkat</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Birokrasi dalam Masyarakat Modern&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Peter M. Blau dan Marshall W. Meyer&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Penerbit Universitas Indonesia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xiii+237 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1987&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada pepatah bahasa inggris yang berbunyi &lt;em&gt;Old but Gold&lt;/em&gt;. Benar juga ternyata pepatah itu. Terkadang dalam memahami sesuatu kita membutuhkan penjelasan yang instan, dan buku-buku era 80an menyuguhkan penjelasan semacam itu. Itulah yang menjadi alasan kenapa saya mengulas buku yang terkategori usang ini. Yang membuat orang akan tertarik pada buku ini adalah kata Birokrasi dan Modern yang ada di sampul bukunya. Belum lagi diterbitkan oleh Universitas Indonesia, yang tak lain biasanya menerbitkan buku daras. Memang benar, setelah dibaca cukup lama, kita akan tahu bahwa buku ini merupakan &lt;em&gt;textbook&lt;/em&gt; mengenai birokrasi diabad keduapuluh. Sudah terlalu panjang basa-basinya, lalu apa isinya? Akan saya jelaskan mulai paragraf dibawah ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dimulai dengan pernyataan negatif, yakni pandangan buruk orang terhadap birokrasi yang terkesan selalu berbelit-belit. Kekolotan dari birokrasi menjadi trauma psikis bagi masyarakat umum. Bahkan di Indonesia, tidak jarang uang administrasi dalam birokrasi merupakan kata lain dari uang suap kepada para aparat negara. Penghalang terhadap kebahagiaan dalam hidup ialah birokrasi yang berbelit dan menyusahkan. Namun menurut kedua orang ini, bukan itu birokrasi. Pemaknaan negatif diatas hanyalah interpretasi terhadap birokrasi itu sendiri. Lalu apa sejatinya birokrasi itu? Bagi mereka berdua, birokrasi merupakan organisasi yang dirancang untuk banyak orang yang sedang melakukan tugas administratif secara sistematik dan bertujuan untuk mengefisienkan administrasi, meskipun birokratisasi terkadang menciptakan hal yang sebaliknya, namun itu bukanlah tujuan utama birokrasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu organisasi apa saja yang disebut birokrasi? Semua organisasi yang memuat unsur administrasi dan ditata sedemikian rupa dengan peraturan yang ada. Pada suatu titik, birokrasi dapat menjadi alat yang kuat bagi kelompok yang berkuasa untuk melakukan dominasi terhadap kelompok-kelompok lain yang lebih inferior (terutama jika negara yang disebut sebagai birokrasi itu). Birokrasi yang merupakan sarana administrasi yang besar juga rasional memiliki kemampuan berbuat baik maupun buruk. Organisasi ini memegang kunci dalam pencatatan dan penjagaan berkas-berkas yang dimiliki oleh sebuah kelompok. Di era modern ini, birokrasi diharapkan menjadi sarana untuk mewujudkan distribusi pendapatan dan pengaruh warga negara. Prasayarat untuk mengembangkan taraf hidup adalah perbaikan administrasi yang paling utama. Kita lihat saja, sekarang, orang membutuhkan BPJS demi meringankan beban pembayaran saat berobat, dan didalam BPJS sendiri sarat dengan syarat administratif yang harus dipenuhi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam pelaksanaan birokrasi sendiri, individu harus memiliki spesialisasi dalam bidang tertentu sehingga ada pembagian tugas yang cukup jelas (ini adalah paradigma lama yang dituliskan dalam buku ini). Adapun dalam sebuah organisasi besar, yang memiliki banyak pegawai, ketidakefisienan terjadi akibat lemahnya komunikasi dari manajemen tingkat atas yang berupa perintah, turun sampai kepada level pekerja teknis. Di antara penyaluran perintah ini, pasti ada perubahan penyampaian perintah yang dapat berimplikasi pada perbedaan interpretasi dan membuat jalannya organisasi tersebut tidak efisien.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Agar tidak terjadi tumpang tindih (overlapping), maka penting dibuat sebuah peraturan mengenai tugas pokok dan fungsi (dalam pemerintah kita menggunakan perundang-undangan). Aturan ini wajib dipatuhi guna mencegah adanya &lt;em&gt;overlapping&lt;/em&gt; tersebut. Selain itu, peraturan ini dibuat bertujuan untuk menyelaraskan gerak antar tiap individu dalam sebuah organisasi, agar mereka tidak bertabrakan saat mengerjakan sesuatu. Bahkan Blau dan Meyer sendiri mencontohkan ada penemuan baut dan mur yang berusaha mengefisienkan pembuatan mobil, namun gagal akibat ketidaktaatan terhadap peraturan dan juga tidak adanya komunikasi antar penemu tersebut, meskipun dalam satu perusahaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut dua penulis buku ini, administrasi dalam sebuah birokrasi tidak boleh dipengaruhi oleh emosional orang yang ada didalam birokrasi tersebut. Guna meningkatkan efisiensi, maka harus dihilangkan hubungan intim yang bersifat interpersonal (antar manusia, hubungan intim disini tidak bicara mengenai seks, namun hubungan adik-kakak, anak-bapak yang mempengaruhi promosi maupun seleksi dan rekrutmen) dan jika sudah masuk ranah administrasi, maka profesionalitas yang dijunjung. Kita akan mengambil seseorang dalam sebuah spesialisasi terhadap jabatan yang dibutuhkan demi efisiensi berjalannya organisasi. Kedekatan boleh digunakan landasan apabila orang yang akan diangkat atau dimasukkan kedalam sebuah jabatan juga memiliki kompetensi di jabatan tersebut. Namun pandangan semacam ini yang membuat birokrasi selalu dicap tidak memiliki hati. Memang tidak, karena birokrasi mengutamakan rasionalitas sebagai landasan geraknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kemunculan sistem birokrasi sendiri ditandai dengan perkembangan teknologi juga praktek administrasi dalam sebuah organisasi. Namun untuk perubahan struktur dalam birokrasi akan sangat lambat karena sebuah organisasi cenderung berpegang atas azas-azas awal didirikannya organisasi tersebut. Lemahnya kepekaan terhadap perkembangan teknologi yang mampu membantu perkembangan birokrasi menjadi bumerang terhadap teori birokrasi itu sendiri dan menjadi alasan munculnya stigma buruk terhadap birokratisasi. Karena itu, untuk mengubah birokrasi suatu organisasi, acapkali dilakukan pendekatan sosiologis guna memahami masyarakat didalam organisasi tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari buku ini kita tidak bisa menafikkan bahwasanya birokrasi dan organisasi lahir dari rahim pemikiran sosiologi kontemporer yang berkembang diabad kesembilanbelas (1800an). Penting rasanya buku ini dibaca oleh para calon administrator dalam pemerintahan agar mampu memahami mengenai seluk-beluk birokrasi yang terkadang dipahami sangat minim oleh masyarakat luas. Buku ini merupakan pengantar menjalankan birokrasi dengan efisien yang hampir seluruh bab didalamnya menjelaskan secara substansial mengenai birokrasi. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>31 Mar 2018</pubDate>
        <link>/memahami-birokrasi-sebuah-pengantar-singkat</link>
        <guid isPermaLink="true">/memahami-birokrasi-sebuah-pengantar-singkat</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Demokrasi, Pembatasan Eksekutif dan Kegagalan Partai Politik</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Good Government&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Pierre Rosanvallon&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;http://www.hup.harvard.edu/&quot;&gt;Harvard University Press&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 338 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun banyak yang masih belum kenal Rosanvallon, saya akan tetap mengulasnya. Sapa tau untuk memperkenalkan juga siapa beliau. Akan saya mulai dengan sedikit menceritakan siapa beliau. Seorang profesor sejarah politik modern dan kontemporer di College de France, salah satu institusi pendidikan ternama di Prancis. Bagi profesor mana pun dari universitas di Eropa yang sudah pernah menyampaikan kuliah umum di institusi ini, tidak dipertanyakan lagi keahliannya akan bidang yang dia geluti, termasuk Rosanvallon. Fokus kajian beliau adalah demokrasi dan pasca-kebenaran (Post-Truth). Dalam bukunya yang satu ini, ia benar-benar mendekonstruksi pandangan-pandangan yang ada dalam demokrasi itu, semua hanyalah ilusi. Seperti apa itu? Mari simak resensinya sebagai berikut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti yang kita ketahui, demokrasi telah menjadi pusat perhatian banyak ilmuwan sosial-politik selama beberapa dekade akhir ini. Rezim yang ada acapkali disebut demokratis, namun bagaimana rezim tersebut mengelola sumber dayanya tidak demokratis sama sekali. Sehingga demokrasi menjadi sebuah kata yang paradoks. Demokrasi ini muncul dan terasa hanya pada balot suara untuk pencoblosan, pada situasi yang demikian, banyak figur publik yang menunjukkan sikap mengayomi masyarakat. Pemilu yang sangat kompetitif dianggap sebagai pertanda berkembangnya demokrasi. Inilah yang disebut sebagai demokrasi minimalis atau demokrasi elektoral. Akan tetapi, tidak bisa dinafikkan bahwa setelah terpiih para politisi seringkali meninggalkan masyarakat yang memilihnya. Untuk itu, demokrasi yang sebenarnya belum lah tercapai dengan sepenuhnya. Demokrasi sekarang hanya bisa bicara pemilu dan representasi yang tidak merepresentasikan sama sekali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kehidupan politik sendiri telah terlembagakan sedemikian rupa yang akhirnya membentuk sebuah rezim. Permasalahan tersebut berkaitan dengan tindakan-tindakan pemerintah, manajemen persoalan negara, dan kewenangan untuk memutuskan dan menguasai. Meskipun dulu demokrasi sangat erat dengan legislatif, akan tetapi sekarang lebih mengarah pada eksekutif, terutama perkara penyelenggaraan negara. Justru partai politik yang membantu legislatif, sekarang menjadi bagian dari organ eksekutif. Kekuatan dari pemerintah harus dipahami sebagai sesuatu yang prosedural dan substansial. Dalam penyelenggaraannya ada tujujan praktis juga rasaional untuk menstabilkan keadilan dengan menegakkan kebiasaan yang terbentuk melalui sanksi-sanksi hukum (makna dari &lt;em&gt;rule of law&lt;/em&gt;). Gangguan dalam menegakkan hal ini adalah para reformis politik yang berusaha mengarahkan gerak pemerintah agar didominasi oleh keinginan segelintir orang saja.  Jika hal tersebut terjadi, maka kegagalan demokrasi akan terjadi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pawa awalnya, kekuatan atau kekuasaan eksekutif berusaha dibatasi dengan adanya tindakan-tindakan yang harus berdasarkan aturan main yang dibuat oleh legislatif. Abbe Sieyes, salah satu pembuat Konstitusi Perancis tahun 1971, menyampaikan bahwa fungsi legislatif adalah pengawasan terhadap tindakan eksekutif. Maka dari itu, akan selalu ada pertarungan politik antara eksekutif dan legislatif untuk saling mengambil domain kekuasaan. Ketidakpercayaan terhadap eksekutif ini muncul akibat Revolusi Perancis, dimana menurunnya kepercayaan publik berimplikasi pada pecahnya revolusi. Para pemikir pasca-revolusi selesai berusaha membatasi kekuasaan raja, bahkan menghilangkan raja dan membentuk republik yang terdiri atas dua unsur kuat: legislatif dan eksekutif. Hal ini yang disebut Rosanvallon sebagai Pemerintah tanpa kepala pemerintah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun pembahasan mengenai partai politik yang seharusnya menjadi sebuah penjembatan antara pemerintah dengan masyarakat, nyatanya pada sistem yang demokratis tidak ada hal seperti itu. Partai politik mengkritik pemerintah serta-merta hanya untuk menggulingkan kekuasaan dari pemerintah dan mengambil alih kekuasaan tersebut.  Menurut Rosanvallon, partai politik hanya menjadi alat untuk memperebutkan agenda yang ada dalam lembaga eksekutif. Bahkan partai politik lebih tertarik kepada kepentingan yang dibawa pemerintah dibanding kepentingan masyarakat. Hal tersebut berdampak kepada orientasi perwakilan mereka di dewan perwakilan yang akan mengutamakan kepentingan partainya ketimbang kepentingan dari daerah yang diwakilinya. Dalam melakukan kritik pun, tujuan utama dari partai politik adalah mengumpulkan kekuatan semaksimal mungkin daripada menyuarakan kegelisahan rakyatnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, lambat-laun masyarakat mulai pandai dalam melihat situasi mereka sendiri. Mereka mulai mampu mengorganisir dirinya sendiri tanpa perlu perantara seperti partai politik untuk menyuarakan kepentingannya. Salah satu gerakan yang dicontohkan oleh Rosanvallon adalah Occupy Wall Street yang menggambarkan gerakan tanpa pimpinan utama, semua orang berhak bersuara dan tanpa ada kepentingan partai politik tertentu didalamnya. Mereka hanya meminta satu hal seperti yang diminta oleh gerakan sosial lainny di berbagai belahan dunia: Akuntabilitas. Untuk melaksanakan transformasi demokrasi secara sempurna, maka diperlukan pemenuhan terhadap empat dimensi: kegiatan sipil (&lt;em&gt;civic activity&lt;/em&gt;), rezim politik, bentuk dari masyarakat (&lt;em&gt;forms of society&lt;/em&gt;) dan bentuk pemerintah. Keberhasilan dari demokrasi bertumpu kepada sejauh mana masyarakat mampu mengontrol kekuasaan eksekutif.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demokrasi sendiri membentuk dirinya sebagai tiga hal: demokrasi sebagai rezim, yang ditandai dengan kemunculan lembaga-lembaga negara yang mencorakkan rezim politik tertentu, lalu demokrasi sebagai bentuk masyarakat, namun masyarakat seperti apa? Masyarakat yang menjunjung kesetaraan. Meskipun ada kelas dan strata dalam masyarakat namun bagaimana pemerintah memperlakukan mereka tidak akan ada bedanya, inilah yang menjadi esensi dari demokrasi semenjak revolusi Prancis pertama kali bergulir. Dan yang terakhir, demokrasi sebagai bentuk pemerintah yang menjadi esensi dari buku ini. Bentuk terakhir inilah yang menjadi esensi dari buku ini. Jika kita bicara pemerintah maka bagian eksekutif lah yang akan kita bedah secara mendalam, dan buku ini menyuguhkan hal itu dengan sangat substansial. Dari wejangan-wejangan dan pertimbangan juga gagasan yang dibawa Pierre Rosanvallon ini, kita akan mempertanyakan, apakah final demokrasi yang kita anut sekarang? &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>29 Mar 2018</pubDate>
        <link>/demokrasi-pembatasan-eksekutif-dan-kegagalan-partai-politik</link>
        <guid isPermaLink="true">/demokrasi-pembatasan-eksekutif-dan-kegagalan-partai-politik</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kondisi Politik Indonesia Pasca-Soeharto dan Posisi Oligarki Sekarang</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Reorganising Power in Indonesia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Richard Robinson &amp;amp; Vedi R. Hadiz&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://www.routledge.com/asianstudies&quot;&gt;Routledge Curzon&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 304 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2004&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini adalah salah satu yang paling dicari, terutama bagi mahasiswa program studi ilmu politik, Universitas Airlangga. Jika kita akan membicarakan oligarki dalam konteks Indonesia, maka para staff pengajar akan mengarahkan kita kepada buku ini. Dari sub-judulnya sudah terlihat ada “oligarchy”. Kedua penulis buku ini memang ahli dibidang itu, bahkan untuk Om Vedi, hampir segala macam hal yang berkaitan dengan politik pasti memuat unsur oligarki, di era modern ini. Buku ini memiliki banyak bab yang memang menjelaskan keberadaan politik di Indonesia pasca turunnya Soeharto dari kursi presiden. Namun peropolitikan tidak selesai hanya disitu, pasca reformasi, oligarki mulai bangkit lagi. Seperti apa kebangkitan itu? Saya akan mengulas secara singkat dalam resensi ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kejatuhan Soeharto memang meruntuhkan oligarki yang dibangun olehnya, namun tidak serta-merta menghilang. Perubahan ini tidak tanpa perlawanan terhadap perubahan menuju pemerintahan dalam bentuk pemerintahan liberal dan ramah pasar. Kekuatan-kekuatan lama masih ada dan masih kuat namun terbentuk dalam partai-partai dan organisasi baru dengan dinamika yang baru pula. Era pasca-Soeharto ini lah yang membentuk partai politik menjadi kuat lagi dan tidak di kekang oleh pemerintah, dengan DPR dan MPR sebagai bagian utama dalam kontestasi politik mereka. Partai politik telah menjadi ujung tombak dari kepentingan para kontestan dan juga sebagai kekuatan pengimbang dari pemerintah yang terpilih. Seiring dengan runtuhnya kekuatan pusat, maka daerah (provinsi/ kabupaten/ kota) menjadi kekuatan yang sedang naik daun di Indonesia, keberadaan desentralisasi memunculkan raja-raja kecil di daerah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah reformasi, kekuasaan presiden telah di minimalisir sehingga tidak terjadi kekuasaan seperti baik Soekarno maupun Soeharto. Bahkan dalam pembuatan peraturan perundangan, kelompok legislatif diberi kekuasaan, tidak sekedar menyepakati peraturan perundangan yang dibuat oleh presiden seperti dizaman Soeharto, namun bersama presiden membuat dan mengesahkannya. Dari sini, eksekutif dalam posisi melemah, sedangkan legislatif semakin kuat dan memiliki kemampuan untuk menggulingkan eksekutif apabila dalam laporan pertanggungjawaban tidak sesuai dengan amanat rakyat. Mereka (MPR) telah mampu melakukan impeachment di era pasca-reformasi, tidak sepeti dizaman Soeharto, dimana pertemuan lima tahunan MPR hanyalah ritual belaka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun pasca-Soeharto, kondisi politik di Indonesia semakin parah dengan munculnya ketidakpercayaan terhadap kalangan militer yang pada akhirnya akan melahirkan organisasi-organisasi paramiliter. Kemunculan dwifungsi ABRI di era Orde Baru memunculkan sebuah trauma sejarah yang sama menyakitkannya dengan G30S. Kita sendiri secara tidak sadar selalu masih menyimpan dendam terhadap kelompok militer kita sendiri. Meskipun militer sendiri sudah tidak berpolitik, namun masih banyak perwira atas yang sudah purnawirawan masih menjaga agar militer bisa tetap berpolitik, namun pada akhirnya tetap banyak yang menolak pandangan semacam itu. Akan tetapi, memang masih banyak alumni militer yang masih ingin berkiprah di politik, lihat saja di televisi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah adanya reformasi, harapan utama yang dibawa adalah adanya kebebasan. Perubahan dalam bentuk kebebasan itulah yang diinginkan oleh masyarakat. Indonesia sedang dalam transisi rezim otoriter menuju era demokrasi-liberal. Semenjak pemilihan tahun 1999 untuk legislatif, harapan yang diinginkan mulai muncul bersamaan dengan kemunculan berbagai partai baru yang menandakan kebebasan berserikat. Adapun kepentingan-kepentingan baik golongan tua maupun muda yang nantinya akan bermuara pada usaha mereformasi lembaga negara. Cara utama dalam melaksanakan hal tersebut di zaman Pak Habibie selaku presiden adalah membuka pendaftaran bagi partai politik baru beserta revisi undang-undang menganai partai politik. Cara untuk menghancurkan sisa-sisa orde baru adalah dengan membuka keran demokrasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun seperti itu, Golkar sebagai bekas partai tunggal dominan semu, memiliki kekuatan yang masih besar. Bahkan Habibie sendiri masih bertumpu pada Golkar saat masih menjabat sebagai presiden (selain di ICMI). Golkar masih memiliki kekayaan juga ketenaran di panggung politik dimana dua hal itu adalah sumberdaya politik utama jika kita berbicara mengenai pemilu. Selain Golkar sendiri muncul partai-partai lain yang berisi berbagai macam orang, baik baru maupun lama, kepentingan bersifat birokratik ataupun politis. Kadang partai baru pun pemainnya tetap pemain lama. Wajah-wajah yang mulai menguat di publik adalah Megawati Soekarnoputri, Alm. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Amin Rais, mereka adalah personifikasi pembaharuan pasca-Soeharto di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Organisasi massa mulai banyak bermekaran di Indonesia, terutama serikat buruh. Publikasi bebas oleh media massa sudah dibuka kembali. Pembenahan atau reformasi lembaga negara yang pertama kali diperbaiki pasca-Soeharto adalah DPR, dimana militer diberi hanya 55 kursi yang nantinya akan semakin berkurang. Jumlah representasi pun dikurangi yang awalnya mencapai 1000, dikurangi hingga 700an yang sampai pada ambang batas 500 DPR dan 135 DPD. Pembahasan representasi ini akan masuk kepada permasalahan pemilu, permasalahan pemilu akan berimbas kepada PNS yang sudah tidak diperbolehkan lagi berafiliasi kepada partai politik. Secara tersirat, perturan semacam itu akan menghilangkan akar kemenangan Golkar dari birokrasi dan mencegah partai lain berperilaku sama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari penjelasan yang diutarakan Richard Robinson dan Vedi Hadiz dalam buku ini, sangat terlihat bahwa ekonomi dan politik juga ekonomi politik di Indonesia setelah Pak Harto lengser sangatlah fluktiatif. Banyak perubahan yang cukup signifikan semenjak reformasi bergulir. Ada yang menganggap demokrasi di Indonesia gagal, ada yang berpendapat beda. Semua memang punya hak untuk menyampaikan pendapatnya, itulah yang dulu diperjuangkan oleh reformis tahun 1998. Meskipun kelihatannya menarik, namun bahasa yang digunakan dalam buku ini tidak semudah seperti judulnya. Banyak kosakata baru yang memang akan membantu kita dalam memahami ilmu politik lebih mendalam. Belum lagi penjelasan yang sangat rinci dan acapkali berputar-putar menandakan bahwa ini adalah buku yang cukup berat dan cocok memang untuk dibaca para akademisi yang ingin mengetahui sekilas sejarah ekonomi politik di Indonesia setelah era otoriter. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>27 Mar 2018</pubDate>
        <link>/kondisi-politik-indonesia-pasca-soeharto-dan-posisi-oligarki-sekarang</link>
        <guid isPermaLink="true">/kondisi-politik-indonesia-pasca-soeharto-dan-posisi-oligarki-sekarang</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Lahirnya Libertarianisme, Suksesnya Liberalisme, Menguatnya Ekonomi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Apa Yang Pemerintah Lakukan Terhadap Uang Kita&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Murray N. Rothbard&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Penerbit Granit&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 106 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2007&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kali ini, saya akan meresensi buku yang agak ke-kanan. Mungkin para pembaca akan bertanya-tanya, kenapa? Karena sudah waktunya kita belajar adil sejak dalam pikiran, kata Pram. Ketertarikan kita (terutama mahasiswa, karena saya sedang menjadi mahasiswa) biasanya pada pergerakan yang condong kepada kelompok kiri. Namun bukan berarti kita harus menutup ruang berpikir kita terhadap perkembangan kelompok kanan. Lalu seperti apa pemikiran kelompok kanan? Siapa saja yang sebenarnya digolongkan pada kelompok ini? Para pemikir kanan biasanya mengutamakan kebebasan individu dalam berekspresi, namun konteks yang digunakan adalah ekonomi. Para ekonom dari kelompok kanan salah satunya adalah Murray Newton Rothbard, seorang pengikut mahzab Austria. Ia sangatlah lihai dalam menjelaskan ekonomi dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari, Seperti apa pemikiran professor Rothbard? Silakan simak resensinya berikut:&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku tipis ini perlu dibaca golongan akademisi, karena pandangan Rothbard sangatlah filosofis dan juga praktis. Ia mengejawantahkan mengenai ekonomi sebagai bagian utama dari kehidupan sehari-hari. Secara etimologis memang benar, bahwa ekonomi adalah ilmu yang membahas mengenai pemenuhan kebutuhan. Dalam memenuhi kebutuhan, penting rasanya kita melakukan pertukaran barang (barter). Dasar argumentasi kuat dari Rothbard disini merusak pandangan kita mengenai barter. Kita acapkali menganggap bahwa pertukaran haruslah seimbang, namun pada dasarnya kita menukarkan sesuatu karena secara psikis kita menganggap barang yang akan kita dapat dari pertukaran tersebut akan menguntungkan kita. Mari kita berpikir secara rasional dan obyektif, manusia mana yang ingin merugi? Hampir seluruh pertukaran yang ada di dunia ini didasarkan pada untung rugi, bukan kesamaan nilai dari suatu barang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Maka dari itu, guna melaksanakan “keadilan”, negara memunculkan uang yang nantinya akan diedarkan. Kita bicara tentang intervensi pemerintah, tapi kita lupa, bahwa uang yang kita bawa dalam dompet kita merupakan intervensi pemerintah mengenai pertukaran. Adanya sumber daya yang tersebar hampir di berbagai wilayah di suatu negara membuat pemerintah melakukan intervensi yang cukup kuat dalam permasalaha kepemilikan pribadi. Fungsi redistribusi pemerintah ini yang berusaha ditekan oleh kelompok liberal-klasik dan melimitasi ruang geraknya dalam bidang ekonomi. Bagi Rothbard, tidak perlu pemerintah, masyarakat hanya perlu untuk berinovasi agar barang-barang ini dapat terdistribusi di seluruh wilayah dan ada pertukaran yang dilakukan oleh masyarakat sendiri. Jika tidak, maka seseorang akan berswasembada sendiri dan jika masih tidak mampu berswasembada, maka dia akan mati tentunya, ujar Rothbard.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Rothbard berargumen dalam bukunya bahwa pertukaran sendiri ada dua: langsung dan tidak langsung. Dalam pertukaran langsung, pastinya tidak beda jauh daripada swasembada, karena usaha untuk memproduksi barang akan juga direduksi oleh usaha mencari barang yang cocok dengan kebutuhan atau keinginan produsen. Levelnya akan primitif dan relatif hanya akan ada sedikit inovasi. Perkembangan peradaban akan ditentukan melalui pertukaran tidak langsung yang relatif bertele-tele namun merupakan sebuah usaha kita untuk memperluas cakupan barter agar mudah mendapatkan barang yang kita inginkan. Pertukaran tidak langsung ini dilakukan dengan cara menukarkan barang yang kita miliki kepada seseorang untuk sebuah barang yang nantinya akan dapat digunakan untuk menukarkan barang yang kita inginkan. Ia memberikan contoh yang cukup rumit namun mudah dipahami setelah dibaca dua atau tiga kali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lalu muncul lah uang sebagai nilai tukar yang baku. Kemunculan uang ini guna mempermudah kita dalam mencari barang yang kita butuhkan dalam nominal tertentu sesuai standar baku yang sudah ditentukan. Uang membuat pertukaran menjadi lebih kuantitatif karena memiliki standar baku tersebut. Lalu siapa yang punya hak membuat uang? Awalnya manusia bebas membuat uang ini dengan bentuk seragam (logam mulia). Banyak standar uang moneter yang sejarah awalnya merupakan uang logam. Rothbard mencontohkan kisah bangsawan Bohemia yang mencetuskan dolar dan juga poundsterling yang awalnya merupakan ukuran baru terhadap satu pon perak. Diawal kemunculan uang, hanya ada perak dan emas sebagai alat tukar yang legal. Kemunculan uang-uang di berbagai negara memang menganggu pasar bebas yang sebenarnya akan menentukan sendiri mengenai nilai tukar yang paling cocok digunakan di dalam pasar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam percetakan koin/uang, Rothbard sempat mengutarakan mengenai percetakan yang dilakukan oleh sektor swasta agar lebih efisien. Akan tetapi ide ini akan ditolak oleh banyak golongan menurutnya, karena ada ketidakpercayaan public terhadap sektor swasta yang dianggap akan selalu mengambil keuntungan dari percetakan koin/uang tersebut. Maka dari itu banyak yang mempercayakan percetakan uang/koin terhadap pemerintah. Baginya, kegunaan pemerintah bukan pada percetakannya, namun pada pencegahan adanya kecurangan dalam percetakan uang/koin, dan serahkan percetakan uang/koin kepada swasta. Ketika percetakan uang/koin ini diberikan kepada pemerintah, maka persaingan akan mati dan pemerintah akan menggunakan kekuasaannya untuk memonopoli percetakan uang/koin. Bagaimana kita akan tahu mengenai kecurangan dalam percetakan uang koin apabila hanya pemerintah yang bisa mencetaknya dan menyimpan informasi mengenai percetakan uang dengan dalih keamanan negara. Kita tidak pernah tahu proses percetakan selain apa yang ada didalam dompet kita menurut professor Rothbard.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seringkali kita di-_plokotho_ oleh pemerintah kita sendiri. Lihat saja, banyak pajak yang harus kita bayar dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan untuk bekerja pun kita dimintai pajak, untuk makan di restoran kita juga dipungut pajak, semua tidak terlepas dari pajak. Uang yang tadinya sudah ditentukan oleh pemerintah ternyata akan direnggut oleh pemerintah kembali. Peredaran uang sendiri dilakukan utamanya oleh Bank Sentral milik pemerintah. Secara fundamental, manusia hanya memiliki kebebasan dalam mencari uang, tapi tidak tahu-menahu mengenai uang tersebut. Adapun hal-hal semacam inflasi muncul sebagai sebuah kebohongan pemerintah agar peredaran uang di wilayahnya kembali kepada kantong pemerintah sendiri. Sekarang, ekonomi tidaklah dikuasai oleh seorang konglomerat, melainkan diakusisi oleh pemerintah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya sedih untuk memotong penjelasan dengan tiba-tiba, namun memang tulisan ini sudah cukup panjang bagi resensi. Banyak penjelasan lain yang akan membuat kita semakin membenci pemerintah kita berkenaan dengan permasalahan ekonomi. Kita akan salah besar jika mengira Rothbard ini seorang kapitalis tulen, ia merupakan pencetus Libertarianisme dan Anarko-Kapitalisme. Hampir seluruh karyanya menolak keberadaan pemerintah sebagai kekuatan tunggal dominan dalam sebuah negara. Ia menganggap bahwa masyarakatnya yang seharusnya berjaya. Masyarakat yang mana yang dimaksud? Masalah pembelaan masyarakat mana itu adalah hak tiap intelektual untuk menentukan. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>25 Mar 2018</pubDate>
        <link>/lahirnya-libertarianisme-suksesnya-liberalisme-menguatnya-ekonomi</link>
        <guid isPermaLink="true">/lahirnya-libertarianisme-suksesnya-liberalisme-menguatnya-ekonomi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>George Monbiot Berkisah tentang Politik Baru</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul buku: Out of the Wreckage&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: &lt;a href=&quot;https://www.monbiot.com/&quot;&gt;George Monbiot&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://versobooks.com&quot;&gt;Verso&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal buku: 214&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dunia kita terbentuk dari serangkaian cerita. Cerita adalah sarana yang kita gunakan untuk menjalankan dunia ke arah yang kita kehendaki—atau yang dikehendaki orang lain, tergantung siapa yang punya cerita paling berpengaruh. Cerita memungkinkan kita untuk menafsirkan isyarat-isyarat yang rumit dan bertentangan. Cerita memainkan fungsi kognitif yang mendasar bagi manusia, yakni sebagai sarana bagi Otak Emosional kita menerima informasi yang dikumpulkan oleh Otak Rasional kita. Ketika kita menghadapi suatu isu yang sangat kompleks dan mencoba untuk memahaminya, yang kita cari bukanlah fakta-fakta yang konsisten dan dapat dipercaya, tetapi cerita yang konsisten dan dapat dipahami.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi George Monbiot, suatu cerita membentuk pandangan kita tentang mana yang sebenarnya masuk akal. Kita mengumpulkan fakta untuk membuat cerita yang runtut dan bagi kita masuk akal, pun sama halnya bagi orang lain. Bagaimana kita tahu bahwa cerita tersebut masuk akal? Semua tergantung pada kebenaran yang telah lama kita yakini. Dalam memandang berbagai kondisi di dunia ini, bayangkanlah bahwa dunia ini tersusun atas serangkaian cerita. Cerita-cerita tersebut sebagian besar telah tersusun dan bertahan sejak lama. Kalau ingin mengubah suatu kondisi yang kita anggap tak lagi masuk akal, maka buatlah cerita baru. Cerita yang lebih kuat, memiliki alur yang runtut dan masuk akal. Meskipun jika cerita tersebut sekadar rekaan, tapi apabila disampaikan secara runtut dan menyangkut kebenaran yang diyakini orang banyak, cerita itu punya kesempatan untuk memenangkan sebuah zaman.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam buku ini, Monbiot hendak menunjukkan bahwa layaknya cerita dalam film &lt;em&gt;Lord of the Rings&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Narnia&lt;/em&gt;, cerita yang tersaji dalam dunia nyata juga menyajikan pahlawan dan penjahat. Beberapa di antaranya memiliki pola cerita yang sama, dikisahkan sejak lama dengan tokoh yang berbeda-beda. Dalam politik, ada cerita yang berulang dan selalu menarik perhatian kita. Kira-kira begini ceritanya: Kekacauan menimpa suatu wilayah, disebabkan oleh keku yang kuat dan jahat yang melawan kepentingan kemanusiaan. Sang pahlawan—bisa seorang individu atau sekelompok orang—memberontak terhadap kondisi ini, melawan kekuatan jahat, mengatasi kekacauan tersebut meskipun ada kemungkinan munculnya perselisihan, hingga akhirnya dapat mengembalikan ketertiban.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam versi cerita Neoliberal, dunia jatuh ke dalam kekacauan karena adanya kecenderungan kolektif dari negara yang sangat kuat, umumnya ditunjukkan oleh keburukan Nazisme dan Stalisnisme, namun juga terbukti dalam segala bentuk perencanaan negara dan semua usaha untuk membentuk kondisi sosial. Kolektivisme menghancurkan kebebasan, individualisme, dan kesempatan. Pahlawannya, tentu saja para pengusaha, mengerahkan pemulihan kekuasaan melalui pasar, membebaskan masyarakat dari perbudakan negara. Sehingga, ketertiban dalam versi cerita ini berwujud Pasar Bebas. Serta banyak lagi versi cerita politis lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tapi tunggu dulu, karya Monbiot ini bukanlah sebuah buku panduan untuk menulis karya fiksi atau merancang propaganda. Menilik dari subjudul buku ini, &lt;em&gt;A new politics for an age of crisis&lt;/em&gt;, Monbiot ingin menawarkan sebuah pandangan politik baru yang diyakininya akan membantu kita keluar dari masa-masa krisis ini. Buku ini sebagai ‘petunjuk’ mencari jalan keluar atas buku yang ia tulis sebelumnya ‘&lt;em&gt;How Did We Get into This Mess?&lt;/em&gt;’&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Monbiot menghubungkan temuannya dari studi-studi neurosains, psikologi, dan biologi evolusioner dengan kemungkinan merumuskan jalan keluar bagi situasi krisis. Ia meyakini bahwa manusia berkesempatan menciptakan perubahan yang signifikan terhadap situasi krisis jika mereka sadar tentang kondisi alamiah dirinya yang unik dan mau bekerja sama. Dari temuannya pada ketiga studi tersebut, manusia memiliki level altruisme tinggi—yakni lebih mementingkan kesejahteraan orang lain dibanding dirinya sendiri. Dengan bekerja sama untuk memperbaiki kondisi sosial kita, kita akan menjadi pahlawan dalam cerita kita sendiri dan mematahkan lingkaran setan. Melalui perpaduan kekuatan kebersamaan dan rasa memiliki, kita akan menemukan kembali fakta sentral yang membentuk kemanusiaan, yakni altruisme dan sikap saling membantu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Monbiot menamai politik baru yang digagasnya ini sebagai &lt;em&gt;Politics of Belonging&lt;/em&gt;. Melalui aksi bersama untuk menghidupkan kembali masyarakat yang merespon dan melawan pengerdilan kehidupan sosial dalam bentuk apapun, bersama-sama kita dapat menciptakan kehidupan bermasyarakat yang tentram. Dimana ada alienasi, kita tekankan suatu perasaan keterikatan antarsesama individu dan lingkungan. Dimana diri kita tertekan antara negara dan pasar, kita akan mengembangkan ekonomi baru yang menghargai sesama manusia beserta bumi kita. Dimana kita diabaikan dan dieksploitasi, kita akan menghidupkan dan mengambil kembali demokrasi beserta politik dari siapapun yang telah merenggutnya. Dengan demikian, kita  bisa mengklaim kembali kebahagiaan kita, kemandirian, harga diri, dan lingkungan kita. Kita akan sekali lagi menjadi bagian dari masyarakat dan diri kita sendiri. Inilah esensi dari &lt;em&gt;Politics of Belonging&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karya Georgeo Monbiot ini adalah begitu ramah dan bersahabat dalam menjelaskan masa krisis yang saya baca sejauh ini—jika tidak disebut idealis. Tapi boleh jadi, seperti saya, calon pembaca atau pembeli buku ini akan beranggapan bahwa buku ini terkesan sangat serius jika hanya menilik dari sampul buku saja. Namun di dalamnya, George Monbiot menjelaskan temuan-temuan dan gagasannya dengan begitu mengalir. Seperti ketika membaca karya &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/menguak-warisan-neoliberal-milton-friedman/&quot;&gt;Naomi Klein&lt;/a&gt;, kiranya karena keduanya (Monbiot maupun Klein) pernah berkecimpung dalam dunia jurnalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada sekilas kesamaan antara &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/dongeng-tentang-kebaikan-kapitalisme/&quot;&gt;Nicole Aschoff&lt;/a&gt; dan George Monbiot dalam membuka bab pertama dalam buku mereka: mereka menggunakan istilah ‘kisah/cerita’ (&lt;em&gt;story&lt;/em&gt;). Bagi &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/dongeng-tentang-kebaikan-kapitalisme/&quot;&gt;Aschoff&lt;/a&gt;, adalah rangkaian kisah yang bisa menghasilkan puja-puji bagi kapitalisme. Kisah tersebut melindungi citra kapitalisme yang aslinya buruk. Dan sekarang, kapitalisme sedang sangat butuh kisah, mereka—para kapitalis—membentuk kisahnya melalui aksi-aksi filantropis, prakarsa sosial melalui organisasi, dan lain sebagainya. Sedangkan bagi George Monbiot, suatu kisah membentuk persepsi kita tentang mana yang sebenarnya masuk akal. Kisah lah yang mengisi dunia kita. Bisa berperan untuk mempertahankan atau bahkan menghancurkan tatanan sosial yang telah lama ada. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(ich)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>24 Mar 2018</pubDate>
        <link>/george-monbiot-berkisah-tentang-politik-baru</link>
        <guid isPermaLink="true">/george-monbiot-berkisah-tentang-politik-baru</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kunci Permainan Politik ala Fukuyama</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Trust&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Francis Fukuyama&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;http://simonandschusterpublishing.com/simonandschuster/&quot;&gt;Free Press&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 457 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1995&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mungkin beberapa dari pembaca pernah mendengar nama Francis Fukuyama. Seorang pemikir tersohor dari Amerika Serikat. Ia merupakan salah seorang konsultan kebijakan publik yang sering kali memberikat pandangan-pandangannya kepada pemerintah AS. Terlepas dari namanya yang terkenal, ia merupakan pengikut pandangan Neo-Conservatives yang marak di era George W. Bush sebagai presiden dengan jargon terkenal mereka: If You are not with us, then you are against us (Jika kalian tidak bersama kita, berarti kalian melawan kita). Pandangan ini bisa dibilang sangat mengikat dan menjadikan AS hampir sama berbahayanya dengan Jerman semasa Hitler atau Italia semasa Mussolini. Akan tetapi, preferensi politik semacam itu adalah pilihan pribadi, saya disini tidak akan mengulas kehidupan personal dari Fukuyama, melainkan menguraikan sedikit dari isi bukunya yang tebal ini. Selamat menikmati bacaan singkat ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Patut kita luruskan terlebih dahulu, bahwasanya TRUST diartikan sebagai kepercayaan, dan bukan kepercayaan yang sifatnya takhayul dan berhubungan dengan religi, namun kepercayaan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Kepercayaan antar manusia. Meskipun kita akan membicarakan mengenai hasil akademis dari Fukuyama, tapi nuansa ideologis yang biasanya hanya terasa pada tulisan-tulisan golongan kiri, terasa benar dalam buku yang mendukung kapitalisme ini. Sering dalam hampir tiap paragrafnya akan kita temui kata kapitalisme. Ia menganggap bahwa hampir seluruh lembaga negara di berbagai belahan dunia sedang berusaha mengadopsi sistem demokrasi liberal untuk mengembangkan kemampuan dalam negerinya secara maksimal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cara beliau menulis pun bentuknya sangat deduktif. Pada bab awal, Fukuyama menuliskan hal-hal umum dan luas semacam demokrasi dan lembaga negara, namun seiring kita membuka lembar-lembar baru, ia akan menjelaskan sampai kepada unit terkecil, keluarga. Bagi dia, semua negara akan memiliki unit terkecil ini, yang nantinya akan membangun sebuah masyarakat dan juga bangsa. Ia mengutip dari Samuel Huntington, bahwa benturan antar peradaban tidak lagi terjadi akibat permasalahan ideologis, namun lebih kepada ranah kultural yang terasa keberadaannya dalam unit terkecil negara (keluarga). Masyarakat sendiri berkembang atas dasar kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang ada didalamnya, yang nantinya bisa menjadi sebuah budaya yang dilakukan turun-temurun atas dasar penghormatan terhadap budaya. Konflik di dunia pasca perang dingin tidak lagi berbicara mengenai ideologi yang dianut, namun budaya yang berkembang. Lihat saja Indonesia, pertarungan antara budaya pop dengan budaya tradisional masih kentara di daerah-daerah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, dalam kehidupan modern, budaya juga mempengaruhi permasalahan paling krusial dalam kehidupan, ekonomi. Ekonomi sendiri adalah bagian integral dari kehidupan sosial dan politis yang dilakukan oleh manusia. Fukuyama mengartikan ekonomi sebagai usaha manusia berkumpul untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka masing-masing, sebelum kembali kepada kehidupan sosialnya. Dalam kehidupan ekonomis manusia ini, ada unsur sosial dimana saat memenuhi kebutuhan tersebut, mereka berkumpul. Hampir dalam seluruh kegiatan ekonomi, manusia akan saling berhadapan satu sama yang lain, apalagi dalam bekerja. Tempat kerja adalah sebuah ruang yang menghubungkan satu manusia dengan yang lain, hubungan ini menarik mereka keluar dari kehidupan privatnya dan memberikan mereka waktu untuk berkumpul dengan manusia lain. Pertemuan di tempat kerja tidak hanya mengenai usaha untuk mencari penghidupan (upah/gaji) akan tetapi juga tujuan penting dari hakikat manusia itu sendiri (berkumpul).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang menarik adalah pandangan Fukuyama bahwasanya manusia selalu berusaha agar martabatnya diakui oleh manusia lainnya. Hal tersebut adalah inti dari proses sosial yang dialami oleh tiap individu di muka bumi. Jika dulu martabat ditandai oleh kemampuan berperang, sekarang, status ekonomi akan lebih penting daripada angkat senjata. Ya, aktivitas ekonomi merupakan bagian penting dari kehidupan sosial yang terikat dengan norma, etika, kewajiban moral dan kebiasaan yang ada dalam tiap masyarakat. Buku ini melukiskan bagaimana kemampuan berkompetisi dan ketahanan sebuah bangsa didasarkan oleh kepercayaan yang ada antar manusia. Penjelasan mengenai hal ini ia contohkan salah satunya saat pabrik Mercedes-Benz akan bangkrut, Bank Sentral Jerman meminjamkan sejumlah uang kepada pemilik pabrik agar produksi mobil bisa tetap berjalan. Peminjaman uang ini tidak didasarkan atas sebuah kalkulasi keuntungan yang akan didapatkan oleh pabrik tersebut, namun kepercayaan Bank Sentral Jerman bahwasanya di masa depan, Mercedes-Benz akan mengembalikan uang tersebut dan juga kepercayaan mereka terhadap pemilik merk tersebut ketimbang kelompok arab yang akan membeli pabrik Mercedes-Benz saat akan bangkrut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam sektor privat sendiri, memecat pekerja akan menimbulkan ketidakpercayaan terhadap pemilik perusahaan yang mungkin berdampak pada demonstrasi atau mogok kerja yang nantinya akan mengganggu proses produksi. Hal semacam ini juga tidak terelakkan untuk negara, saat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah rendah, maka ketidakstabilan akan terjadi di berbagai ranah, negara akan menjadi kacau karena kerusuhan pasti terjadi dimana-mana. Kunci untuk perkembangan manusia adalah kepercayaan terhadap orang lain. Solidaritas, terutama dalam ranah ekonomi merupakan tujuan utama dari perkembangan manusia dan kisah akhir dari sejarah (The End of History).  Manusia, jika akan mencapai &lt;em&gt;The End of History&lt;/em&gt; ini harus memiliki motivasi yang melebihi kepentingan individu dan juga mempercayai satu sama lain. Hal ini juga berlaku dalam permainan politik, adanya kerjasama antar partai politik ialah didasarkan kepada kepercayaan terlebih dahulu, bukan adanya pembagian kursi didepan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di abad keduapuluhsatu ini, kapital yang paling digandrungi adalah social-capital. Apa itu? Sebuah kemampuan manusia berjejaring antara satu sama yang lain sehingga mampu mengembangkan diri dengan sendirinya, juga kemampuan manusia dalam bekerjasama untuk tujuan yang sama dalam sebuah organisasi. Dalam permasalahan social-capital ini, Fukuyama mengutip John Coleman, bahwasanya social-capital muncul dari kemampuan manusia berhubungan satu sama lain. Hubungan ini muncul tidak hanya melalui norma dan nilai namun juga munculnya kepercayaan antar individu yang akan memperkuat sekelompok manusia tadi. Jika tidak ada kepercayaan antar manusia dalam sebuah kelompok, maka tiap individu akan berusaha untuk menjatuhkan satu sama lain. Kegagalan sebuah rezim biasanya ditandai dengan hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah, begitupula memperkuatnya sebuah rezim akan muncul akibat meningkatnya level kepercayaan masyarakatnya. Kepercayaan adalah kunci utama dalam kehidupan manusia. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>23 Mar 2018</pubDate>
        <link>/kunci-permainan-politik-ala-fukuyama</link>
        <guid isPermaLink="true">/kunci-permainan-politik-ala-fukuyama</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Analisa Diskursus, Bahasa Kekuasaan dan Metode Penelitian</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: How To Do Critical Discourse Analysis&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: David Machin &amp;amp; Andrea Mayr&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://us.sagepub.com/en-us/nam/home&quot;&gt;Sage Publications&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 236 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2012&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kalangan aktivis, terutama yang berada didalam kampus, kerap menyampaikan mengenai diskursus, analisa diskursus, analisa wacana hingga diskursus wacana (wacana-wacana). Keterbatasan dalam mengelola informasi dan juga mendapatkan akses informasi juga menjadi alasan kenapa mereka sangat hebat dalam berbicara namun tidak paham akan apa yang dibicarakan. Semangat membaca para aktivis ini sangat tinggi, namun hanya membaca apa yang ingin mereka baca, sehingga sudut pandangnya pun terlampau sempit. Ada asiknya jika semua buku berusaha dipahami dan dimaknai, maka dari itu muncul analisa diskursus kritis (&lt;em&gt;critical&lt;/em&gt; &lt;em&gt;discourse analysis/CDA&lt;/em&gt;). Untuk memahami apa itu CDA, saya berusaha merangkum sedikit dari buku daras mengenai CDA ini, selamat menikmati.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika bicara mengenai CDA maka kita berbicara mengenai pencarian makna, berusaha melakukan interpretasi. Namun apa yang kita interpretasikan? Fenomena. CDA sendiri muncul utamanya untuk menganalisa pembicaraan, ceramah dan pidato yang disampaikan seseorang, juga teks-teks yang ditulis oleh seseorang sehingga peneliti mampu menangkap makna yang berusaha disampaikan oleh yang diteliti. Gaya analisa ini merupakan keturunan dari analisa konten (&lt;em&gt;content analysis&lt;/em&gt;) namun dengan cakupan yang lebih luas, yakni bahasa dengan gaya interpretasi dari &lt;em&gt;cultural studies&lt;/em&gt;. Bahasa dan tatanan kalimat dapat mengarahkan pembaca atau pendengar kepada sebuah kesimpulan tersendiri yang memang menjadi tujuan, baik penulis ataupun pembicaranya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;CDA tidak terlepas dari perkembangan ilmu linguistic kritis (&lt;em&gt;critical linguistic&lt;/em&gt;) yang dikembangkan oleh Roger Fowler dan kawan-kawannya di tahun 1979 yang membicarakan bagaimana kata dan kalimat dapat digunakan untuk penyebaran sebuah ideologi secara terselubung. Dalam buku ini, CDA digambarkan sebagai bagian dari &lt;em&gt;visual analysis&lt;/em&gt; yang menganalisa gerak-gerik seseorang dari media massa dan menjadi bagian dari &lt;em&gt;media and cultural studies&lt;/em&gt;. Namun semuanya tidak terlepas dari penggunaan bahasa sebagai alat utama untuk melakukan interaksi sosial antar manusia. Bahasa berhubungan erat dengan bagaimana kita bertingkah dan bagaimana kita berhubungan dengan orang lain. Bahasa merupakan bagian dari cara manusia melihat dunia ini, entah baik maupun buruk. Budaya sendiri terbentuk karena bahasa yang sudah biasa digunakan oleh masyarakat di suatu tempat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diskursus mendapat peran penting yang mendasar dalam CDA, akan tetapi, perlu diejawantahkan terlebih dahulu arti dari diskursus itu sendiri. Diskursus dalam buku ini diartikan sebagai bahasa dalam arti yang sesungguhnya tanpa ada interpretasi lebih lanjut. Posisi diskursus sendiri begitu luas. Diskursus biasanya digunakan untuk menangkap sebuah fakta yang nanti akan disampaikan dalam arena sosial, politik dan budaya yang berbeda. Adapun makna lain diskursus adalah sebuah ide luas yang dijelaskan melalui dua komponen bahasa: kata dan kalimat. Agar kita mampu memahami diskursus dan ideologi yang ada dalam sebuah pidato atau teks maka kita harus melihat kemungkinan-kemungkinan pemilihan atau penggunaan tiap kata dalam sebuah pembicaraan atau teks. Perbedaan kata yang digunakan akan memunculkan perbedaan interpretasi pula dan akan berujung kepada kesesatan dalam pengartian atau pemaknaan. Contoh: “pengungsi adalah sebuah ancaman terhadap kesatuan dan persatuan bangsa kita” (&lt;em&gt;Refugees are a threat to our national unity&lt;/em&gt;), kita dapat merasakan saratnya ideologi nasionalisme dalam kalimat tersebut, meskipun tidak disampaikan secara langsung.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menggunakan CDA berarti mempertanyakan kekuasaan. Seperti yang kita ketahui, kekuasaan muncul karena seseorang yang dapat lebih mengakses sumber daya ketimbang mayoritas lainnya. Dari kelebihan akses ini muncul kelebihan individu (kekayaan atau kepandaian) yang memunculkan stratifikasi. Status lah yang akan dikejar oleh orang yang “berlebih” ini dan pada saat mendapatkan status yang cukup tinggi, akan digunakan untuk mendominasi kelompok lain yang lebih rendah statusnya, dari sinilah muncul teori Elite-Massa. Tujuan CDA adalah menguak hubungan sosial semacam apa yang ada dalam sebuah teks (lisan maupun tulisan) secara eksplisit maupun implisit. Dunia dibentuk seperti apa melalui teks yang sudah sarat dengan kekuasaan. Pasti ada &lt;em&gt;blueprint&lt;/em&gt; dalam sebuah teks kekuasaan baik berupa propaganda ataupun pidato, bahkan perdebatan pun.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya mencoba menuliskan dengan singkat peng-klasifikasi-an yang dilakukan melalui CDA: personalisasi dan impersonalisasi, individualisasi dan kolektivisasi, spesifikasi dan generalisasi, nominalisasi dan fungsionalisasi, representasi individu melalui jabatan yang diterima, anonimisasi (dihilangkan nama pemberi informasi karena sesuatu), agregasi (di-angka-kan), perbedaan antara “kita” dan “mereka” (menandakan adanya perpecahan dan perbedaan kubu), surpresi.  Penggunaan bahasa dalam CDA sangat penting dan diperhatikan, tiap kata merepresentasikan sebuah pesan yang ingin diberikan kepada pembaca atau pendengar (komunikan). Dan asumsi utama CDA, bahwa tiap pesan pasti memiliki unsur politisnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam berkata atau menulis, subjek akan menempatkan diri. Penempatan diri ini tadi akan dianalisa melalui CDA untuk melihat apa yang ingin disampaikan oleh si pembicara atau penulis. Ada pembicara atau penulis memberikan jarak dengan apa yang dia bicarakan atau dia tulis dengan asumsi utama bahwa mereka tidak suka dengan objek (objek akan dianggap inferior). Yang kedua, bisa saja penulis atau pembicara menempatkan diri sebagai yang menghadapi objek (berhadapan tidak selalu bertengkar atau berseteru), bahwa mereka mengamati obyeknya dari dekat. Namun posisi objektivikasi subjek yang akan dilihat lebih lanjut oleh para peneliti yang menggunakan pendekatan CDA ini. Munculnya posisi subjek yang superior dan objek yang inferior menjadi salah satu unsur sebuah penelitian menggunakan CDA sebagai alat untuk menganalisis data.&lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Mar 2018</pubDate>
        <link>/analisa-diskursus-bahasa-kekuasaan-dan-metode-penelitian</link>
        <guid isPermaLink="true">/analisa-diskursus-bahasa-kekuasaan-dan-metode-penelitian</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Dana Bantuan dan Kenyataan di Baliknya</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Why We Lie About Aid?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Pablo Yanguas&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://zedbooks.net&quot;&gt;Zed Books&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: vii+267 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;AID atau dalam bahasa Indonesia kerap disebut sebagai dana bantuan, merupakan sesuatu yang tidak asing, baik untuk lembaga negara ataupun lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO). Banyak negara, terutama yang masih berkembang, kerap menerima dana bantuan, dari negara lain maupun dari lembaga donor internasional. Seperti apa lembaga donor internasional? Pastinya pernah mendengar AUSAID atau USAID kan? Bahkan tidak sedikit pula yang “proyekan” dengan mereka. Tidakkah terbersit mengenai uang miliaran tersebut muncul darimana? Dan kenapa mereka sangat dermawan dalam membagikan miliaran uang tersebut? Banyak pertanyaan yang seharusnya muncul saat kita menerima dana bantuan yang tidak kecil nominalnya. Namun memang nalar kritis bias dibungkam dengan uang, itu sudah menjadi tradisi yang menarik di bumi ini. Buku karya Pablo Yanguas ini akan menguak lika-liku mengenai dana bantuan yang mengalir di seluruh dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diawali melalui sebuah cerita mengenai dana bantuan dari Irlandia kepada Nigeria guna menanggulangi kemiskinan disana, malah dikorupsi oleh perdana menteri yang sedang menjabat. Permasalahan ini tidaklah sebegitu &lt;em&gt;booming&lt;/em&gt;, namun Irlandia meminta uangnya untuk dikembalikan dan mereka akan turun sendiri untuk melihat distribusi uangnya. Pertanyaan dari masyarakat dan media massa Irlandia pun mulai bertubi-tubi keluar mengenai transparansi dana bantuan yang sampai &lt;em&gt;kecolongan&lt;/em&gt; dan masuk dompet pejabat Nigeria. Muncul berbagai pertanyaan dari publik Irlandia mengenai asal muasal dana bantuan tersebut, setelah itu, kenapa sampai salah sasaran? Publik Irlandia sangatlah pandai jika mempertanyakan hal ini. Meskipun hanya seperser dari pemasukan negara, namun banyak yang juga membutuhkan dana bantuan tersebut didalam negeri seperti juga diluar negeri. Pandangan macam inilah yang jarang diperhitungkan oleh lembaga donor.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak bisa dinafikkan bahwa pembangunan sangat erat dengan ekonomi dan politik. Pembahasan mengenai pembangunan sendiri selalu dikategorikan ekonomi-politik di berbagai penerbit, hanya penerbit semacam Zed Books yang memberi label khusus &lt;em&gt;development&lt;/em&gt;.  Usaha-usaha mencapai apa yang disebut dengan kemajuan dan pembangunan juga tidak terlepas dari konflik politik yang ada di suatu negara. Kemunculan revolusi industri pun bisa ditarik jauh hingga Glorious Revolution di Inggris, begitupula perkembangan yang ada di Amerika Serikat berasal dari perang saudara yang terjadi demi melawan perbudakan, begitupula transisi demokrasi yang terjadi di Spanyol setelah lama dihinggapi oleh kediktatoran dari kelompok kanan maupun kiri. Pembangunan sendiri menggaungkan perubahan, maka dari itu jurnal ternama mengenai pembangunan berjudul &lt;em&gt;Development and Change&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dana bantuan lah yang menjadi katalis dari perubahan tersebut. Dana inilah yang membantu perubahan terjadi di tingkat nasional maupun lokal di suatu daerah. Bahkan tidak jarang juga mendorong pemimpin sebuah negara atau daerah untuk berinovasi demi perubahan. Namun semua hal ini hanyalah topeng untuk menutupi luka yang masih ada dan membusuk seiring berjalannya waktu. Kita hanya akan melihat hal-hal yang baik saja untuk diekspos ke media massa maupun laporan pertanggungjawaban. Menurut Yanguas, memberikan pil untuk anak-anak yang terjangkit malaria tidaklah menyelesaikan sepenuhnya permasalahan malaria yang terjadi di Afrika, seperti pula memberikan sekolah kepada yang membutuhkan bukan berarti mereka akan mendapat pendidikan sesuai dengan standar lembaga donor. Kemiskinan, kemelaratan dan kebodohan yang berusaha diselesaikan oleh lembaga donor tidak akan selesai, karena keburukan-keburukan tersebut adalah sesuatu yang dipelihara oleh institusi korup yang menerima bantuan dana tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak buku lain yang sudah pernah membahas mengenai dana bantuan, seperti &lt;em&gt;Why Nations Fails&lt;/em&gt; karya Daren Acemoglu dan James Robinson, dan juga beberapa pemikir sosial dan politik lainnya yang berusaha menemukan akar masalah dalam dana bantuan. Akan tetapi, argument Yanguas dalam buku ini benar-benar komprehensif, dimulai dari institusi korup yang acapkali menggelapkan dana bantuan tersebut. Dana bantuan tidaklah hanya berkutat kepada transaksi bahwa uang yang dikeluarkan harus membantu tiap orang yang ada di negara penerima dana, namun dana bantuan juga berbicara mengenai perubahan pola piker secara mendasar agar tidak diselewengkan. Permasalahan penggelapan dana bantuan ialah karena pola piker yang masih terbelakang dan tidak berfokus pada pengembangan individu warga negara, melainkan memperkaya personil dari lembaga negara penerima dana bantuan. Pemikiran yang bersifat abstrak seperti etika dan moralitas kurang ditekankan dari lembaga donor internasional, sehingga banyak uang yang diselewengkan. Moral dan Etika dianggap tidak aplikatif.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku &lt;em&gt;Why Nations Fails&lt;/em&gt; yang benar-benar mem-booming jika bicara mengenai pembangunan. Kedua penulis buku ini adalah keturunan dari kelompok neo-institutionalism yang sedang marak di berbagai belahan dunia, bahkan Perdana Menteri David Cameron pun ikut membacanya. Banyak ide-ide yang dicetuskan oleh mereka berdua mengenai polarisasi dunia, antara demokrasi dan kediktatoran, antara korupsi dengan peraturan perundangan dan antara kolusi melawan pasar bebas. Pandangan dalam buku Yanguas ini pun juga kurang lebih sama mengenai lingkungan dan juga kekayaan ditangan beberapa orang saja, namun fokusnya kepada lembaga donor yang tidak boleh kita lupakan dan menjadi ciri-khas buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Politik perubahan yang dibahas dalam buku ini pun juga bisa dianggap baik maupun buruk. Contoh yang diberikan oleh si penulis adalah Sierra Leon pasca perang saudara. Presiden Ahmad Tejan Kabbah di tahun 1999 mengeluarkan kebijakan &lt;em&gt;War Against Corruption&lt;/em&gt;. Sekilas terlihat menarik, namun kebijaka tersebut bukanlah inisiatif Tejan, melainkan sebuah kebijakan yang dikendalikan oleh lembaga donor yang membantu Tejan secara finansial saat maju sebagai presiden. Mereka menyerukan kepada Tejan untuk mengubah system keuangan yang tidak efisien agar dana yang digelontorkan dapat tepat sasaran. Hasilnya adalah Komisi Anti-Korupsi yang dibantu oleh Departemen Pembangunan International dari Inggris (DFID). Terlepas komisi ini independen, namun penujukkan anggota dilakukan oleh Presiden Tejan dan secara finansial bergantung kepada DFID. Setelah beberapa tahun berjalan, CAC memang berhasil untuk menanggulangi beberapa masalah korupsi yang sesuai dengan kemampuan mereka, tetapi tidak bertentangan dengan keinginan Presiden ataupun DFID. Tetap masih ada halangan dalam membersihkan korupsi sepenuhnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa lembaga donor yang disebutkan ialah: DFID (Inggris), Irish Aid (Irlandia), World Bank, GTZ (Jerman), Open Society Initiative (George Soros), UN Peacebuilding Fund, IMF dan masih banyak lagi, dimana lembaga donor internasional tersebut memiliki keterbatasan seperti: kontrak tanpa kondisi, dijelaskan bahwa kontrak pemberian dana bantuan tidak memberikan kontribusi sama sekali dalam meningkatkan GDP dikarenakan ketergantungan yang terbentuk dari kontrak tersebut, dana yang masuk hanyalah digunakan untuk barang atau jasa sekali pakai, tidak berbentuk pengembangan diri individu di negara penerima dan bantuan; Usaha untuk melakukan harmonisasi yang kerap gagal, karena harmonisasi terkesan dipaksakan oleh lembaga donor tanpa melihat kondisi pemerintah yang ingin terus berkuasa, mereka (lembaga donor) ingin menukar kepemilikan pribadi demi kesejahteraan masyarakat yang biasanya akan berhadapan dengan pemerintah dan nantinya justru memunculkan ketidakselarasan antara pemerintah dan lembaga pemberi dana bantuan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa problematika lain juga diungkap dalam buku bertebal 267 halaman ini mengenai dana bantuan. Sebelum menyelam lebih dalam, saya sarankan untuk membaca buku &lt;em&gt;Why Nation Fails&lt;/em&gt; sebagai pengantar. Meskipun bukan buku daras, karya Pablo Yanguas ini menggunakan bahasa yang cukup rumit dan memiliki beberapa singkatan yang harus kita cari lebih jauh penjelasannya. Maklum, karya ini hasiol riset beliau selama puluhan tahun dan dirangkum dalam satu buku yang dahsyat. Penggunaan judul yang popular sebenarnya menjad &lt;em&gt;platform&lt;/em&gt; dari Zed Books tiap kali mereka menerbitkan buku. Penerbit inilah yang berhasil mempopulerkan karya ilmiah. Saya sangat menyarankan penerbit ini bagi yang mengambil perkuliahan Studi Pembangunan atau Ekonomi Pembangunan. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>16 Mar 2018</pubDate>
        <link>/dana-bantuan-dan-kenyataan-di-baliknya</link>
        <guid isPermaLink="true">/dana-bantuan-dan-kenyataan-di-baliknya</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Science Fiction ala Ilmu Sosial; Masa Depan Krisis Otomasi dan Ekologi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul buku: Four Futures: Visions of the World After Capitalism&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: &lt;a href=&quot;http://www.peterfrase.com/&quot;&gt;Peter Frase&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://versobooks.com&quot;&gt;Verso&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal buku: 150 hlm&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa jadinya jika pekerjaan sehari-hari kita, bahkan pekerjaan di pabrik dikerjakan oleh robot? Bagaimana jika pekerjaan seorang hakim dalam menganalisis perkara hukum dapat lebih mudah melalui otomasi dan komputerisasi? Bukan tidak mungkin lagi jika beberapa tahun ke depan semakin banyak produk-produk yang akan mempermudah pekerjaan di kantor, sekolah, institusi pemerintah, pabrik, bahkan di rumah. Semuanya berkat otak encer ilmuwan sains di berbagai belahan dunia. Para ilmuwan sosial, termasuk ekonom, akan mulai merumuskan teori-teori sosial-ekonomi baru untuk menganalisis kondisi ini. Menelaah bagaimana kiranya memaksimalkan keuntungan dan mengurangi resiko kerugian. Sedangkan para pebisnis tentu akan menyambut kemajuan ini dengan sorak gembira. Biaya pegawai bisa dipotong, proses produksi bisa lebih efektif dan efisien, lalu keuntungan perusahaan akan naik. Dengan adanya otomasi pula, mungkin orang tak perlu menghampiri toko dan pasar dapat lebih cepat merespon permintaan. Tapi benarkah otomasi dan komputerisasi adalah yang selalu kita inginkan dan kita butuhkan?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di sisi lain, kita tidak bisa menafikkan kenyataan bahwa dibalik pembuatan mesin-mesin canggih, ada bahan baku yang tak selalu mudah didapat. Banyak di antaranya didapat dari hasil tambang, diolah melalui serangkaian proses produksi secara sedemikian rupa agar bisa digunakan untuk merancang teknologi teranyar. Pembukaan tambang pun bisa mengancam lingkungan. Tanah tambang yang telah lama digali cenderung tak bisa lagi ditanami, apalagi ditinggali. Tak banyak tentunya orang yang mau tinggal di dekat lingkungan tambang, biasanya hanya para pekerja atau penduduk asli yang tak punya uang untuk pergi ke lain tempat. Bukan hanya itu saja persoalan lingkungan yang berdampak pada menurunnya kualitas hidup. Konsentrasi global karbondioksida di atmosfer abad ini diklaim sebagai yang terparah sejak tiga juta tahun yang lalu. Sehingga diprediksi bahwa pada tahun-tahun mendatang bukit es Antartika akan semakin berkurang (meleleh), air laut semakin asam, serta meluasnya kekeringan dan meningkatnya badai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demikianlah dunia yang kita tinggali saat ini. Penuh dengan bencana lingkungan dan meningkatnya otomasi. Sudah terdengar cukup mengkhawatirkan?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peter Frase berargumen bahwa dua hal tersebut, yang kini menghantui dunia kita, merupakan dua krisis yang saling berkontradiksi. Di satu sisi, ketakutan atau kekhawatiran terhadap perubahan iklim, sumber dari bencana lingkungan, ialah ketakutan tentang ‘terlalu sedikit.’ Lantaran mengantisipasi tentang kelangkaan sumber daya alam, hilangnya lahan pertanian dan lingkungan tinggal, serta yang paling mengkhawatirkan tentunya akhir dari bumi yang mampu mendukung kehidupan. Sedangkan ketakutan terhadap otomasi, anehnya, adalah ketakutan tentang ‘terlalu banyak’. Ekonomi yang sepenuhnya menggunakan robot dan memproduksi terlalu banyak barang, dengan sedikitnya kebutuhan akan pekerja manusia sehingga barangkali tidak butuh pekerja lagi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selama setidaknya lima tahun terakhir, kita menyaksikan berbagai pembaharuan dan kemajuan dibidang teknologi. Banyak robot dengan segudang keahlian diperkenalkan, didukung oleh kecerdasan buatan. Adanya robot dan teknologi yang semakin canggih membuat waktu bersantai kita lebih banyak, tapi juga mengakibatkan pengangguran besar-besaran dan memperkaya 1% orang terkaya. Frase mengutip Brynjolfsson dan McAfee yang menyebut era ini sebagai ‘&lt;em&gt;The Second Machine Age&lt;/em&gt;.’ Apabila &lt;em&gt;The First Machine Age&lt;/em&gt; merujuk pada Revolusi Industri—yang mengganti tenaga manusia dengan kekuatan mesin—maka era ini,  postindustri, menggantikan kemampuan kita untuk memahami dan membentuk lingkungan kita. Tapi sesungguhnya, persoalan tentang kekhawatiran pengurangan tenaga kerja manusia akibat teknologi ialah kekhawatiran yang tak pernah berubah sepanjang sejarah kapitalisme. Namun memang, pada era ini, kita menghadapi peningkatan kemajuan teknologi secara cepat dan menghadapi kemungkinan ‘nyata’ yang secara drastis mengurangi kebutuhan akan pekerja manusia. Singkatnya, ini memang &lt;em&gt;trend&lt;/em&gt; dari kapitalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perhatian Frase bukan pada dampak yang dalam jangka pendek telah jelas tak terelakkan: pengangguran. Tetapi ia mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemungkinan jika di kemudian hari robot digunakan untuk kepentingan politik kelompok tertentu saja dan gembar-gembor isu pengangguran hanya akan mengalihkan kita dari dampak jangka panjang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selanjutnya, ada lagi krisis yang setidaknya sama pentingnya bagi masa depan kapitalisme dan umat manusia, yakni krisis ekologi. Pertanyaan pokok yang senantiasa meliputi persoalan perubahan iklim bukan ‘apakah perubahan iklim sedang terjadi’ tapi ‘siapa yang akan bertahan dari perubahan tersebut.’ Bahkan dalam suatu skenario terburuk pun, ilmuwan bukan memperdebatkan bagaimana jika Bumi tidak bisa dihuni lagi. Apa yang akan terjadi—dan yang sedang terjadi—adalah perebutan tempat dan sumber daya yang semakin meningkat ketika habitat kita semakin mengalami kemunduran.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Frase berargumen bahwa banyak buku mengenai masa depan dunia kerja, selalu menekankan bahwa kerja yang dilakukan oleh manusia (buruh manusia) akan usang di masa depan. Yang ada tinggallah otomasi sepenuhnya. Dan yang selalu ditekankan adalah bagaimana kita beradaptasi terhadap otomasi tersebut, mempersiapkan pendidikan yang menuntun pada adaptasi terhadap otomasi, bukannya bagaimana teknologi yang diciptakan menyesuaikan dengan kebutuhan kita terhadap pemerataan kesejahteraan. Teknologi akan menciptakan jurang ketidaksamarataan yang lebih lebar, itu pasti, karena tidak semua orang bisa membeli teknologi paling baru yang harganya acapkali tak murah. Menurutnya, yang hilang dari pembahasan Brynjolfsson dan McAfee serta kebanyakan penulis tentang masa depan &lt;em&gt;postwork&lt;/em&gt; adalah &lt;em&gt;politik&lt;/em&gt;, lebih spesifik lagi ialah &lt;em&gt;perjuangan kelas.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peter Frase melabeli cara yang digunakannya dalam usaha menjelajahi kemungkinan konflik politik di masa depan dengan menggunakan pedoman ilmu sosial dan fiksi spekulatif sebagai: &lt;em&gt;social science fiction.&lt;/em&gt; Istilah fiksi spekulatif sebagai pedoman analisis dan krisis sosial nampaknya memang agak asing, tapi ini sebenarnya bisa kita temukan ketika membaca buku &lt;em&gt;H.G. Wells – The Time Machine&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Mary Shelley – Frankenstein.&lt;/em&gt; Atau jika ingin menemukannya dalam karya yang lebih baru, bisa membaca &lt;em&gt;The Hunger Games&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Divergent&lt;/em&gt; serta masih banyak lagi. Singkatnya, karya-karya inilah yang melampaui batasan-batasan zamannya untuk memandang jauh ke depan atas konsekuensi tindakan kita hari ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika otomasi adalah hal yang konstan (tidak berubah), sedangkan krisis ekologi dan kekuatan kelas adalah variabel. Pertanyaan ekologi adalah, kira-kira, seberapa buruk efek dari perubahan iklim dan kekurangan sumber daya akan mengakhiri kehidupan makhluk hidup. Frase mengajukan empat model di dunia yang menghadapi kelangkaan atau keberlimpahan, disandingkan dengan hirarki atau persamaan: komunisme (&lt;em&gt;communism&lt;/em&gt;), sosialisme (&lt;em&gt;socialism&lt;/em&gt;), rentisme (&lt;em&gt;rentisme&lt;/em&gt;), dan pemusnahan (&lt;em&gt;exterminism&lt;/em&gt;). Kira-kira begini kombinasi yang digambarkan Frase: sumber daya berlimpah – ada persamaan: komunisme, sumber daya berlimpah – ada hirarki: rentisme, sumber daya langka – ada persamaan: sosialisme, dan sumber daya langka – ada hirarki: pemusnahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kini, keempat masa depan yang diajukan Frase bukan sedang menunggu untuk muncul dan meruntuhkan kapitalisme, tapi telah berlangsung melalui aktivisme-aktivisme yang dilakukan berbagai komunitas untuk tujuan lingkungan, sosial, politik, ekonomi, maupun budaya. Seperti biasa, salah satu seri dari Jacobin ini menyuguhkan pandangan-pandangan baru dengan isu-isu populer yang menarik bagi &lt;em&gt;new left.&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(ich)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>15 Mar 2018</pubDate>
        <link>/science-fiction-ala-ilmu-sosial-masa-depan-krisis-otomasi-dan-ekologi</link>
        <guid isPermaLink="true">/science-fiction-ala-ilmu-sosial-masa-depan-krisis-otomasi-dan-ekologi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Keperempuanan dan Seks sebagai Pekerjaan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Playing The Whore&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Melissa Gira Grant&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://versobooks.com&quot;&gt;Verso&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 134 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2014&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kapitalisasi selalu dibahas melalui sudut pandang kelompok ter-marjinalkan. Banyak permasalahan politik dan ekonomi yang tidak selalu berbicara mengenai buruh dan tani untuk bagian yang “terpinggirkan”. Bahkan dalam industri hiburan pun banyak kelompok-kelompok semacam itu. Hiburan dalam hal ini bukan mengenai perfilman atau permainan, namun hiburan yang bersifat ilegal di banyak negara, yakni prostitusi. Isu mengenai prostitusi acapkali tidak pernah se-_booming_ layaknya &lt;em&gt;International Women’s Day&lt;/em&gt; atau politik perburuhan dengan _May Day-_nya. Banyak gagasan lahir untuk menghilangkan praktik-praktik prostitusi diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Akan tetapi, keinginan untuk menghilangkan industri ilegal ini tidak dianggap sebagai pembebebasan bagi para pekerja seks, karena mereka sendiri tidak memiliki keterampilan lain sebagai modal bekerja. Dalam resensi kali ini, saya akan memfokuskan mengenai pembahasan jati diri para pekerja seks.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Industri penyedia jasa seks dan para aktornya, tiap waktu selalu berkembang dan memperbarui metode-metodenya untuk mengamankan usaha mereka. Semenjak tahun 1970-an, kata prostitusi jarang digunakan dan berubah menjadi pekerja seks. Perubahan sebutan ini menandakan bahwa bisnis prostitusi merupakan bisnis yang menggunakan tenaga kerja perempuan dan sangat kental eksploitasi di dalamnya. Tidak jarang mucikari melakukan kekerasan jika pekerja seks yang ia miliki tidak menghasilkan keuntungan yang cukup banyak. Adanya kata tenaga kerja disini, berarti pekerja seks merupakan buruh pula yang menggunakan cara yang berbeda dalam mencari keuntungan. Pendekatan yang digunakan penulis ialah dengan bahasa, seperti kelahiran kata &lt;em&gt;prostitution&lt;/em&gt; di Inggris pada abad keenambelas sebenarnya digunakan untuk jual-beli. Ada pergeseran makna yang cukup signifikan dan merugikan bagi perempuan, karena pergeseran makna ini diperuntukkan bagi jenis kelamin perempuan secara umumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Belum lagi kata &lt;em&gt;whore&lt;/em&gt; yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pelacur, lonte, perek dan sebagainya, merupakan kata yang lebih tua lagi ketimbang &lt;em&gt;prostitution&lt;/em&gt;. Bahkan dalam injil ada sebutan &lt;em&gt;the whore of Babylon&lt;/em&gt;. Penulis mengutip Laura Agustin, mengenai &lt;em&gt;whore&lt;/em&gt; yang sejatinya tidak ditujukan kepada pekerja seks komersial, namun bagi mereka yang melakukan hubungan seksual tanpa menikah dan tidak mendapatkan keuntungan material apapun (melakukan seks hanya demi kesenangan pribadi), berkonotasi buruk, dan tidak bermoral tanpa ada keterkaitan dengan uang. Kata &lt;em&gt;whore&lt;/em&gt; sendiri ditujukan kepada perempuan yang tidak lagi terhormat di mata masyarakat. Pandangan kedua ini yang menyebabkan pekerja seks komersial selalu mendapat kata &lt;em&gt;whore&lt;/em&gt; yang disematkan pada dirinya. Padahal sebenarnya, pekerja seks ialah seperti buruh namun dengan cara yang berbeda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adanya diskriminasi terhadap kalangan pekerja seks dan homoseksual di abad kesembilanbelas yang telah melahirkan pergeseran makna dan memunculkan kelompok marjinal selain orang miskin, buruh dan tani. Di awal bab mengenai prostitusi, penulis mengutip perkataan Henri LeClerc yang maknanya kurang lebih sebuah tantangan untuk membedakan perempuan telanjang dengan pekerja seks perempuan telanjang. Ada yang tersirat dalam perkataan LeClerc yang ingin disampaikan oleh si penulis, bahwa sejatinya, semua orang, tidak dapat dibedakan secara kodrati, namun kita sendiri yang menciptakan pembedaan (diferensiasi) tersebut dan bahkan sampai men-strukturasi-nya hingga menjadi sebuah hirarkhi dimana ada pekerjaan terhormat dan tidak terhormat. Kita sangat cepat melakukan justifikasi atau tuduhan terhadap orang-orang yang melakukan pekerjaan yang mungkin berbeda dan jarang sekali dilakukan. Keberadaan politik eksklusi yang membuat para pekerja seks dicap sebagai barang rusak bahkan diperlakukan tidak seperti layaknya manusia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pekerja seks sendiri yang mayoritas perempuan, menjadi sebuah alat atau instrument untuk merendahkan martabat perempuan. Beberapa pembahasan mengenai pekerja seks justru mendudukkan mereka sebagai obyek diskusi dan penelitian. Carol Leigh, seorang aktivis keperempuanan menghadiri konferensi dan lokakarya mengenai industri seks yang berjudul &lt;em&gt;Sex Use Industry&lt;/em&gt;. Dia sangat menolak judul tersebut dan meminta panitianya untuk merubah menjadi &lt;em&gt;Sex Work Industry&lt;/em&gt;. Penggunaan kata &lt;em&gt;Use&lt;/em&gt; dalam judul itu mengilustrasikan siapapun yang hadir dalam konferensi dan lokakarya tersebut sebagai sebuah benda untuk digunakan, sedangkan audiens yang hadir merupakan pekerja seks, mereka tidak melakukan seks untuk kesenangan melainkan mencari uang. Pekerjaan mereka yang datang adalah penyedia jasa layanan seks, bukan sekedar digunakan tanpa upah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Politik dari pekerjaan seks ini tidak terlepas dari stigma yang terbangun bahwa pekerjaan tersebut adalah milik perempuan. Obyektivikasi dari perempuan merupakan salah satu masalah utama. Lelaki memang jarang bekerja dalam sektor ini, namun meskipun mereka bekerja, mereka disebut sebagai mucikari, jarang pula bersemat pandangan-pandangan negatif. Kemunculan pandangan negatif ini juga diakibatkan banyaknya konsumen dibidang pelayanan jasa seks adalah lelaki, sehingga untuk memenuhi &lt;em&gt;demand&lt;/em&gt; tersebut dibutuhkan banyak perempuan pula.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam buku ini disoroti bagaimana dalam kubu feminis sendiri terjadi perdebatan mengenai pekerja seks. Feminis seperti Sheila Jeffreys and Janice Raymond tidak sepakat untuk mengadvokasi perempuan pekerja seks karena mereka masih bergantung kepada lelaki, bahkan mereka menolak untuk menyebut para pekerja seks sebagai seorang perempuan. Perdebatan semacam ini menurut Gira Grant membuat pekerja seks menjadi sebuah identitas politik yang memiliki serikat dan gerakan politik tersendiri. Pekerja seks komersial sendiri berkembang pesat dan merambah kepada situs-situs online, tidak hanya berbentuk layanan seks, namun pornografi dapat dikategorikan sebagai salah satu industri seks yang paling digandrungi dan mudah mengaksesnya, kecuali di beberapa negara yang mengatur perkara pornografi, seperti di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Melissa Gira Grant sendiri merupakan kontributor di The Guardian, Editor di Jacobin dan juga seorang penulis lepas yang dulunya merupakan pekerja seks. Ia bekerja seks untuk membiayai karir menulisnya dan sekarang ia berhasil menjadi penulis lepas. Grant juga menjadi seorang aktivis pekerja seks yang selalu berusaha mengungkap adanya eksploitasi dan diskriminasi terhadap kelompok marjinal ini. Ia memang benar-benar berhasil sebagai seorang penulis, kenapa? Karena penggunaan bahasanya dalam buku ini memang renyah dan mudah untuk dipahami. Buku-buku dari editor &lt;a href=&quot;https://jacobinmag.com&quot;&gt;Jacobin&lt;/a&gt; memang selalu menarik para pembaca dibidang pergerakan karena isu-isu yang diangkat memang kekinian dengan penggunaan judul dan bahasa yang populer, belum lagi sampul yang sederhana nan memikat. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>14 Mar 2018</pubDate>
        <link>/keperempuanan-dan-seks-sebagai-pekerjaan</link>
        <guid isPermaLink="true">/keperempuanan-dan-seks-sebagai-pekerjaan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Pengantar Memahami Heidegger, Sang Guru dari Jerman</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Heidegger dan Mistik Keseharian&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Fransisco Budi Hardiman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://www.gramedia.com/vendor/kepustakaan-populer-gramedia&quot;&gt;Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xiii+214 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Filsafat merupakan sebuah mata ajar dan disiplin ilmu pengetahuan yang begitu digandrungi di Eropa. Dalam memproduksi filsuf kontemporer, ada dua negara yang selalu berlomba-lomba dalam mencetak para filsuf, yakni Jerman dan Perancis. Berbagai aliran pemikiran berkembang pesat melalui dua negara itu, belum lagi ideologi. Salah satu aliran yang paling diminati ialah eksistensialisme. Secara &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt;, kita mengenal eksistensialisme melalui pemikiran Jean-Paul Sartre, namun, bapak eksistensialisme sejati ialah Martin Heidegger, sang pendukung NAZI. Iya, dia dipinggirkan dari nama-nama filsuf tersohor karena preferensi politik yang berbeda. Buku Pak Franky ini berusaha memperkenalkan kita kepada sosok terbuang ini sebagai usaha memahami (pengantar) atas pemikiran yang selanjutnya merebah ke berbagai penjuru dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di awal buku ini, Pak Franky memang menjelaskan mengenai pribadi Heidegger semasa muda. Orang yang melakukan kritik terhadap agama, bukan lah berasal dari keluarga yang lemah imannya, akan tetapi lahir dari keluarga yang taat terhadap agamanya. Saat remaja, Heidegger bercita-cita untuk belajar di seminari (sekolah katolik), ia sempat mengenyam pendidikan itu namun keluar karena sakit dan mulai lah dunianya masuk kepada krisis kepribadian. Beliau menjadi lebih tertarik kepada pemikiran-pemikiran filosofis, terutama yang dibawa oleh Edmund Husserl (Fenomenologi). Semasa ini, Heidegger sangatlah memuja pemikiran Husserl dan membaca hampir seluruh karyanya. Buku ini menjelaskan pula bahwa karya &lt;em&gt;Sein und Zeit&lt;/em&gt; milik Heidegger sering menggunakan fenomenologi dalam penulisannya, ia acapkali mengajak para pembaca untuk menikmati fenomena yang sedang terjadi disekitarnya secara mendalam. Yang paling menarik dari bab awal buku ini adalah penggunaan kata Sang Pelihat (&lt;em&gt;Zauberer&lt;/em&gt;) bukan dalam pemaknaan melihat masa depan, tapi mencermati fenomena.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cara ia melihat sebuah fenomena yang biasa saja menggunakan sudut pandang yang luar biasa, acapkali disebut sebagai Ontologi. Inilah cara pandang filsafat yang cukup tenar hingga sekarang. Ia dijuluki sebagai Raja Filsafat karena kemampuan menyerap pengetahuan dibidang filsafat yang cukup luas, dari era Yunani Kuno hingga abad pertengahan yang membahas metafisika. Namun memang kepandaian dan kesetiaan merupakan hal yang berat untuk dimiliki oleh seseorang. Kendati sangat cemerlang dalam ilmu pengetahuan, dalam kehidupan berumahtangga, ia memiliki satu istri bernama Petri, namun juga berkencan secara rahasia dengan pemikir besar asal Jerman yang saat itu masih belia, Hannah Arendt. Meskipun begitu, cinta kasih ini tak sampai di akhir hayat kedua orang tersebut, dan Heidegger tetap secara resmi bersama istrinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Heidegger memberikan dukungan kepada Partai Nazi pada tahun 1931 dan secara terbuka mendukung Hitler pada tahun 1933. Dari dukungannya inilah ia mendapat kursi rector di Universitas Freiburg dan secara resmi bergabung dengan Nazi sebagai salah satu intelektualnya. Dalam lingkaran intelektual Nazi inilah, Heidegger mengembangkan konsep lebensraum (ruang hidup) dan bekerja bersama Carl Schmitt (seorang yuris ternama dari Jerman yang ikut hilang namanya karena preferensi politik yang salah). Ada tiga permasalahan yang akan mengganggu pemikiran kita jika hendak mempelajari Heidegger: hubungan dengan Hannah Arendt, keberpihakan dengan Nazi dan permasalahan Heidegger dengan system agama Katolik. Memang benar mengenai tiga hal yang diutarakan dalam buku ini, tiga hal itu adalah “noda” dalam kehidupan Heidegger.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akan tetapi, ketimbang membahas kontroversi Heidegger, ada baiknya saya kembali kepada pemikiran Heidegger yang sedikit demi sedikit dituangkan dan dirangkum di buku ini. Apa sih yang mudah dari Heidegger? Tidak ada. Namun Pak Franky mengutip Natanson mengenai Fenomenologi, bahwa istilah tersebut merupakan ilmu mengenai permulaan (&lt;em&gt;sciences of beginnings&lt;/em&gt;), maka dari itu patut dan benar jika kita menempatkan diri kita sebagai pemula dibidang filsafat ketika membaca karya Martin Heidegger. Hal-hal alamiah yang ada disekitar kita, yang menjadi fenomena, mulailah kita amati dengan khidmat dan memahaminya dengan mendalam. Kita dudukkan diri kita seperti seorang bayi yang baru lahir dan berusaha memahami kondisi sekitar. Fenomenologi yang anti terhadap sikap alamiah memunculkan kebiasaan filsafat untuk mempertanyakan segala hal yang ada disekitar kita, mulai mencari mengenai kebenaran, memunculkan sikap kritis terhadap keberadaan benda-benda yang kita lihat. Mengutip dalam buku ini, jika melihat matahari seolah-olah baru pertama kalinya, kita tak akan percaya begitu saja bahwa benda itu ada di atas sana, diluar kesadaran kita. Mulai muncul pertanyaan akan matahari tersebut, apakah benda itu didalam pikiran kita atau justru diluar? Fenomenologi inilah yang digunakan oleh para filsuf untuk mendekatkan diri secara murni dengan fenomena yang sedang terjadi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini bukanlah sekedar buku yang membahas kehidupan pribadi seorang Martin Heidegger, melainkan sebuah biografi intelektual yang berisi pemikiran asli dari Heidegger beserta penjelasan-penjelasan yang mudah dipahami oleh pemula dibidang filsafat. Bagi para pembaca pemula untuk filsafat, jangan hanya membaca karangan mengenai/dari Aristoteles, Plato dan Socrates, namun ada baiknya membuka bab filsafat kontemporer dengan membaca Heidegger. Dan buku ini adalah salah satu pengantar filsafat yang substansial dengan bahasa yang mudah dicerna, kita akan dapat memahami dengan sederhana istilah yang dicetuskan oleh Martin Heidegger melalui Heidegger dan Mistik Keseharian ini. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>09 Mar 2018</pubDate>
        <link>/pengantar-memahami-heidegger-sang-guru-dari-jerman</link>
        <guid isPermaLink="true">/pengantar-memahami-heidegger-sang-guru-dari-jerman</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Membincang Konsep Ruang Bersama Foucault</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Globalizations of Space&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Mariangela Palladino &amp;amp; John Miller (ed)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://www.routledge.com/&quot;&gt;Routledge&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 219 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apakah para pembaca yang budiman bosan dengan Foucault? Karena peresensi belum bosan-bosannya mengulas tentang filsuf tersohor asal Perancis ini. Banyak istilah yang ia cetuskan, seperti &lt;em&gt;governmentality&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;discourse analysis&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;pastoral power&lt;/em&gt;, hingga yang menarik adalah &lt;em&gt;heterotopia&lt;/em&gt;. Berbagai macam pertanyaan meliputi keberadaan istilah ini, karena salah satu yang paling jarang diuraikan. Pembahasan inipun hanya ada dalam sebuah jurnal yang ditulis Foucault berjudul &lt;em&gt;Of Other Spaces: Utopias and Heterotopias&lt;/em&gt;. Saya tidak akan begitu mengulas artikel yang bisa pembaca cari, akan tetapi bagaimana peneliti lain memandang istilah Foucault ini. Selamat menikmati resensi singkat ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Heterotopias, utamanya, membahas mengenai geografi dan ke-wilayah-an. Buku ini sejatinya merupakan kumpulan tulisan mengenai heterotopias tersebut. Diawali dengan penjelasan seperti umumnya, ketertarikan Foucault terhadap ilmu pengetahuan dan hubungannya dengan kekuasaan. Ternyata dalam relasi tersebut, ada istilah penting bernama strategi.  Foucault sendiri menjelaskan bahwa penggunaan ilmu pengetahuan ada didalam teknik dominasi yang bernama peperangan, dan salah satu bagian yang paling esensial dari peperangan adalah strategi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Konsepsi Heterotopias sendiri muncul karena pertanyaan para geografer dari jurnal Herodote mengenai pentingnya “ruang” (untuk mempermudah penyebutan istilah maka disini R nya akan saya tulis dengan huruf kapital untuk Ruang). Foucault berusaha membangun ilmu pengetahuan filsafat untuk basis Ruang, sehingga pengertian geografi tidak melulu membahas sesuatu yang bersifat material dan membosankan, namun diwarnai melalui sentuhan filsafat. Ruang dalam konteks hubungan tadi, adalah sebuah penempatan manusia. &lt;em&gt;Emplacement&lt;/em&gt; merupakan kata yang secara sempit diartikan sebagai “tempat” dalam bahasa Indonesia, merupakan jajaran koordinat ruang dan waktu yang menunjukkan pula ketertarikan Foucault terhadap permasalah geografis. Adapun kata Ruang merupakan alternatif dari sejarah yang ada pembenaran sekaligus komplemen didalamnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kesulitan kita dalam memahami Foucault terutama terletak dari diangkatnya ide-ide abstrak seperti Ruang. Kita tidak perlu membuka terlebih dahulu interpretasi atau pemaknaan terhadap apa yang diutarakan Foucault sebagai sesuatu yang bersifat metafora, pahami sebagai apa yang sebenarnya kita pahami. Heteropia merupakan Ruang, maka pahami Ruang sebagai Ruang, sebagai antitesa dari waktu. Tidak perlu kita memaknai dengan terlalu berbelit, atau mungkin memang penulisan saya yang berbelit? Entahlah, kurang lebih isi buku saya sampaikan apa adanya, sesuai dengan kemampuan saya menyerapnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada beberapa tempat yang ia sebutkan sebagai heterotopias adalah rumah bordil, kebun binatang, sekolah asrama, penjara dan kuburan. Area-area atau Ruang ini adalah ruang yang bersifat aneh dan unik, adanya sifat aneh dan unik ini yang menandakan keberadaan Ruang sebagai Heterotopia. Terkandung dalam Heterotopia adalah konsep heterotopologi (cari sendiri di internet) dan autobiografi yang ia tulis untuk kesenangan pribadi. Gunakan waktu luang untuk memahami Foucault secara personal jika ingin memahami dengan benar-benar, istilah yang ia jelaskan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa pandangan dalam buku ini juga berusaha melihat Heterotopia melalui paradigma kesehatan, dimana Ruang digambarkan sebagai bagian tubuh, dan heterotopia adalah bagian tubuh yang abnormal, lebih tepatnya bagian tubuh yang muncul pada tempat yang abnormal. Adapula yang ia contohkan mengenai heterotopia didalam bukunya &lt;em&gt;The Order of Things&lt;/em&gt; adalah penataan yang tanpa perataan atau keteraturan. Dicontohkan dalam Kitab Mahluk Khayali karya Jorge Luis Borges yang menjelaskan hewan-hewan mistis yang dibentuk seperti kamus, namun saran sang penulis agar tidak dibaca secara teratur.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kemunculan ketidakteraturan dalam sebuah ruang yang teratur dapat disimpulkan sebagai salah satu bagian dari heterotopias yang membingungkan. Kata ini dituding belum selesai dan ambigu oleh penulis lainnya dalam buku ini akibat adanya multi-interpretasi. Heterotopias merupakan epos mengenai Ruang, pembahasan abad keduapuluh mengenai jauh dan dekat, kanan dan kiri, jarak, arah mata angin dan sebagainya yang berkaitan dengan Ruang. Penjelasan mengenai Ruang ini sendiri tersebar di berbagai esainya yang beberapa masih belum dibukukan. Membaca Foucault, tidak semudah membaca LKS SMA atau buku daras, namun tidak sesulit yang kita kira, asalkan dilakukan dengan bahagia, maka setidak-tidaknya akan ada beberapa kalimat yang pasti dipahami oleh para pembacanya (pembaca Foucault).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya menyarankan, sebelum membaca buku ini, ada baiknya untuk memahami artikel Foucault &lt;em&gt;“Of Other Spaces”&lt;/em&gt; yang bahasanya cukup sastrawi. Memang, Foucault secara implisit ingin mewarnai dunia dengan tulisan-tulisannya yang selalu membuat orang terheran-heran. Kemampuan dia dalam membedah ide-ide disekitar kita dan mencetuskan berbagai macam istilah baru merupakan sebuah kemampuan yang jarang kita temukan di abad keduapuluhsatu ini. Sekarang, kemampuan seseorang dilihat bukan berdasarkan gagasan yang ia bawa, tapi berapa nominal yang ia dapatkan. Sudah, cukup sekian dulu, mungkin jika akan berlanjut ke jilid dua untuk pembahasan Heterotopias ini, akan muncul tidak jauh setelah resensi ini. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>01 Mar 2018</pubDate>
        <link>/membincang-konsep-ruang-bersama-foucault</link>
        <guid isPermaLink="true">/membincang-konsep-ruang-bersama-foucault</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Pemimpin Sebagai Subyek, Memaknai Kata Parresia</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Foucault on Leadership&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Nathan W. Harter&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Routledge&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 119 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sudah beberapa bulan yang lalu, sejak saya meresensi buku yang berkaitan dengan filsuf terbesar Perancis, Michel Foucault. Kali ini saya akan mengambil salah satu penerbit yang terbiasa memilih sampul buku yang membosankan, Routledge. Terlepas dari sampulnya yang buruk rupa, penerbit ini merupakan referensi unggulan bagi para ilmuan sosial dan politik sama halnya seperti Sage Publication. Penulis dari buku ini bernama Nathan W. Harter, seorang pakar kepemimpinan yang sedang naik daun. Meskipun tidak begitu tenar namanya, namun bukunya seringkali digunakan sebagai rujukan jurnal-jurnal ilmiah se-level &lt;em&gt;Index Scopus&lt;/em&gt; yang ditakuti. Untuk menggambarkan secara singkat diawal paragraf ini, buku karya Harter ini bisa dibilang &lt;em&gt;more than meets the eye&lt;/em&gt;. Kenapa begitu? Silakan simak resensi singkatnya sebagai berikut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saya pribadi sangat sepakat dengan apa yang diutarakan Pak Harter dalam bukunya. Ia menyampaikan bahwa karya Foucault bukanlah bacaan yang mudah, jika ada yang dapat memaknai dengan cepat, maka orang itu belum membaca secara mendalam. Dalam menuliskan karyanya sendiri, Foucault bergaya layaknya sastrawan yang hasil tulisannya adalah prosa. Memang benar, acapkali bukunya Foucault serasa seperti sebuah kisah ilmiah. Itulah kelebihan Foucault. Karakteristik yang mengilustrasikan Foucault adalah kompleksitas, ia selalu membahas permasalahan sederhana yang ternyata didalamnya jauh lebih kompleks daripada apa yang kita ketahui, seperti salah satu perkuliahan yang pernah saya ikuti, sang dosen membahas Foucault hanya mengenai “gelas”. Entah yang terlalu rumit Foucaultnya atau terlalu dangkal pembacaan dosennya saya tidak berani menilai.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cukup kiranya menjelaskan Foucault sebagai individu di paragraf atas, sekarang saya mencoba menguak karya yang menghubungkan Foucault dengan teori kepemimpinan. Pertama, ada sedikit perbedaan dalam kata kekuasaan dan kepemimpinan, jika kita membaca bukunya Foucault, Beliau memang jarang mengutarakan &lt;em&gt;leadership&lt;/em&gt;, ia lebih cocok menggunakan &lt;em&gt;power&lt;/em&gt;, namun bukan berarti ia bicara mengenai perebutan kekuasaan (pemilu), akan tetapi mengenai penggunaan kekuasaan. Penggunaan kekuasaan inilah yang nantinya akan disebut sebagai &lt;em&gt;the practice of government&lt;/em&gt; (praktek pemerintahan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini merupakan usaha dari Pak Harter dalam memaknai, menginterpretasikan dan menafsirkan dari perkuliahan-perkuliahan yang diberikan oleh Michel Foucault, bukan menuliskan biografi kehidupannya. Perkuliahan yang dimaksud adalah di &lt;em&gt;College de France&lt;/em&gt; dan difokuskan pada pembahasan governmentality. Jika mencari secara langsung tanpa dengan giat membaca bukunya Foucault, para pembacanya tidak akan paham mengenai tulisan. Ke-instan-an bukanlah gaya menulis ala Foucault yang kompleks. Karena itu, kita harus bersabar dan teliti juga cermat dalam memahami setiap paragraf dalam karya tulis pemikir Perancis ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagian yang cukup banyak diulas dalam buku ini ialah Yunani dan para pemikirnya. Socrates, Plato dan Homer sering disebutkan oleh Foucault dalam perkuliahannya ditahun 1980-1983 di College de France. Terutama mengenai &lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt; yang dituliskan dalam buku &lt;em&gt;On The Government of Self and Others&lt;/em&gt;. Menurut Foucault yang dijelaskan dalam bukunya Pak Harter ini, ia melihat bahwa justru manusia adalah obyek dari pengetahuan yang mereka ciptakan. Manusia mempelajari diri mereka sendiri. Menariknya, manusia melakukan diskursus mengenai mereka sendiri. Pembahasan &lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt; politik sendiri melingkupi tiga bagian yakni: pengetahuan (mencari kebenaran yang disebut &lt;em&gt;alithea&lt;/em&gt;), kekuasaan atau teknik governmentality (pembahasan struktur yang disebut &lt;em&gt;polithea&lt;/em&gt;) dan bentuk dan praktek dalam mengatur diri sendiri yang disebut sebagai etika.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tiga hal tersebut juga dihubungkan menjadi &lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt; yang didalamnya ada empat elemen: berbicara secara bebas, berbicara atas namanya sendiri (tanpa representasi atau delegasi), menyampaikan kebenaran juga tidak berbicara hal-hal yang tidak masuk akal dan yang terakhir, semua pembicaraan ini beresiko untuk sang pembicara. Perkembangan ilmu kepemimpinan juga didasarkan pada empat elemen &lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt; tersebut. Pada posisi ini, pemimpin menjadi subjek, tidak lagi sebuah objek. Namun, &lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt; ini membutuhkan pendengar yang baik, kalau tidak, maka segala hal yang diucapkan oleh pemimpin tidak akan berguna, begitupula sebaliknya, segala macam keluhan dan saran kepada pemimpin juga tidak akan didengarkan (jika menggunakan logika terbalik, yang mendengarkan bukan hanya masyarakatnya namun juga pemimpinnya).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt; biasanya menjadi subjek utama, sehingga yang memiliki peran sebagai penasehat tidak dianggap sebagai &lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt;. Penasehat ini berbeda-beda jenisnya tergantung pada usaha mereka dalam menyampaikan kebenaran menggunakan berbagai macam metode. Seseorang yang dianggap mampu melihat masa depan dan mampu mendengarkan wahyu dari para dewa acapkali disebut sebagai nabi atau peramal. Jika seseorang didengarkan nasehatnya karena kebijaksanaan dan pengalaman hidupnya yang sudah lama, maka seseorang tersebut biasanya dipanggi &lt;em&gt;Sage&lt;/em&gt; (orang bijaksana atau sejenis filsuf). Sedangkan mereka yang memberikan nasehat dalam permasahalahan teknis dan penyelesaiannya pun teknis, maka mereka dianggap sebagai seorang &lt;em&gt;trainer&lt;/em&gt; (pelatih) seperti Jenderal. &lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt; lah yang menjadi seseorang yang diberi saran.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, &lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt; bukanlah sebuah mahluk, melainkan hak khusus yang diberikan kepada seseorang guna melayani kebutuhan masyarakat di sebuah kota (polis). Kebebasan berbicara dan keharusan menyampaikan kebenaran menjadi permasalahan akut yang dihadapi dalam sebuah kota. Pastinya kita tidak akan enak secara terbuka saling menghina antara satu sama lain, begitupun menyindir. Adapun manusia lebih menyukai berbicara kepada orang yang memberi pujian kepada diri mereka. Manusia tidak mampu memahami mana yang patut didengar dan mana yang patut dipahami, yang berdampak pada kerancuan pikiran dalam berpolitik. Maka terkadang, &lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt; memang digambarkan sebagai pemuda yang seringkali berkonsultasi kepada “mereka yang menyampaikan kebenaran”. Tidak hanya mendengarkan puji-pujian. Dari hal ini, kita akan memahami apa yang dimaksud Foucault sebelumnya (dalam kuliah &lt;em&gt;On The Government of The Living&lt;/em&gt;) sebagai rezim kebenaran.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun terlihat tipis, hanya 119 halaman, namun hampir setiap kata dalam buku ini layak dibahas dan benar-benar mengejewantahkan pemikiran Foucault mengenai &lt;em&gt;Parresia&lt;/em&gt; dengan gamblang. Apa yang saya ulas hanyalah sebagian kecil dari wawasan yang begitu akbar. Kehebatan Foucault ialah ilmu pengetahuan dan metode berpikir yang ia miliki relevan digunakan hampir di segala bidang keilmuan masa kini. Saya sendiri masih sangat terbatas dalam memahami Foucault secara menyeluruh. Selain dia adalah seorang filsuf, pengajar, aktivis, sejarawan, psikolog, arkeolog dan peneliti yang sangat disanjung selama dua abad terakhir ini. Jika para pembaca bingung dalam memahami Foucault, jangan menyerah, pasti bisa. &lt;em&gt;Eh bien, c’est la vie&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>25 Feb 2018</pubDate>
        <link>/pemimpin-sebagai-subyek-memaknai-kata-parresia</link>
        <guid isPermaLink="true">/pemimpin-sebagai-subyek-memaknai-kata-parresia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Seluk-Beluk Fasisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Fascism and Big Business&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Daniel Guerin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;http://www.pathfinderpress.com/&quot;&gt;Pathfinder&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 364 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2001&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mungkin nama sang penulis, Daniel Guerin, belum begitu terkenal di Indonesia. Banyak kelompok meng-klaim beliau sebagai penganut alirannya, namun melalui buku-bukunya, ia sebenarnya merupakan seorang anarkis sejak dalam pikiran. Dia benar-benar benci dengan keberadaan ideologi yang bernama Fasisme. Ideologi tersebut lah yang dianggap selalu membawa malapetaka dimana-mana. Sepakat dengan pemaknaan Negri, bahwa Fasis itu berasal dari kata Faeces, yang bermakna kotor, maka panggilan fasisme merupakan ideologi yang benar-benar kotor. Maka dari itu, Jerman dibawah Hitler tidak menyebut ideologinya sebagai fasisme, tapi Nazism. Dalam buku inilah akan diulas mengenai fasisme dan bagaimana mereka bertahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di pembukaan, Guerin menjelaskan bahwa tujuan bukunya adalah mendiagnosa keberadaan fasisme yang dia anggap sebagai sebuah penyakit. Penyakit yang sangat destruktif. Ia berusaha menemukan fenomena yang sama dari dua negara fasis di Eropa saat perang dunia kedua, Italia dan Jerman. Dia menyatakan bahwa alat untuk melakukan dominasi dari suatu kelas atas kelas lainnya merupakan negara. Menariknya, borjuis selalu mendukung adanya demokrasi, namun di Italia dan Jerman, mereka berubah dari demokrasi menjadi tirani (fasis). Ternyata, perubahan tersebut merupakan keinginan kelompok borjuis untuk menghantam keinginan kelompok kiri yang akan melaksanakan revolusi proletarian, mereka (borjuis) berusaha mencegah terjadinya hal tersebut dan menyokong sekuat tenaga agar kelompok ultra-nasionalis menang dalam pemilihan dan nantinya akan mengamankan bisnis para borjuis tadi. Karena janji politik untuk mengamankan kursi, maka para politisi harus mengamankan bisnis para kapitalis. Dibalik kampanye kelompok fasis, dana mengalir dari para konglomerat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam mengumpulkan kekuatan, sebuah ideologi harus memiliki basis massa. Lalu siapakah basis massa kelompok fasis? Tulang punggung dari kelompok fasis adalah masyarakat kelas menengah di perkotaan. Kelas menengah inilah yang semakin lama semakin berkembang, meskipun diramalkan akan hilang oleh Karl Marx, namun nyatanya tidak. Kelas menengah lama memang sudah hilang, namun kelas menengah baru mulai membesar. Mereka memiliki berbagai macam dagangan yang sifatnya independen namun pendapatannya kurang lebih seperti upah, bukan dalam bentuk saham. Kelas menengah baru ini malah tidak mau disejajarkan dengan kelompok proletar, mereka berharap dapat menjadi borjuis suatu hari. Maka dari itu, janji paling besar kepada borjuis adalah kelompok fasis, dari sana lah mereka, secara sadar, mau mendukung kemenangan fasisme di negaranya masing-masing.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun fasisme menggunakan mistisisme dalam perkembangannya. Kegunaan mistisisme adalah memperkuat kepercayaan para pengikutnya terhadap sang pimpinan. Salah satu aspek terpenting dari fasisme adalah loyalitas dari anggota partainya, loyalitas ini dibangun entah dengan imajinasi ataupun kebersamaan. Kepercayaan kepada sang pemimpin menjadi dasar utama loyalitas ini, maka dari itu, fasisme acapkali mendefinisikan diri mereka tidak hanya sebagai sebuah ideologi, namun juga agama. Seorang akan melakukan segala hal selama hal tersebut diperintahkan oleh sang pimpinan. Meminjam pandangan Gustave Le Bon, massa dari kelompok fasis harus dipahami melalui sudut pandang psikologi massa, dimana massa ini hanya bisa ditaklukkan dengan gambaran seorang pemimpin yang sempurna dan hanya mampu memahami sesuatu yang sangat sederhana sehingga mudah jatuh pada sentimen perasaan. Teori sudah tidak akan tembus dihadapan massa, melainkan kemampuan retorika yang akan menyentuh hati mereka. Terutama dengan doktrin kepercayaan yang memperketat loyalitas para massa ini terhadap sang pemimpin, maka fasisme akan semakin kencang dalam melakukan indoktrinasinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Personifikasi negara dalam seorang pemimpin adalah ciri khas dari fasisme. Seperti yang kita pahami, Jerman di era Partai Nazi, acapkali dikumandangkan sebagai berikut: Hitler adalah Jerman dan Jerman adalah Hitler. Dibalik Hitler sendiri, ada Carl Schmitt dan Martin Heidegger yang menteorikan pandangan &lt;em&gt;lebensraum&lt;/em&gt; (ruang hidup) kepada masyarakat umum di Jerman. Hampir seluruh agama tunduk kepada reich ketiga dan dibalik itu, pembentukan Hitler sebagai &lt;em&gt;Fuhrer&lt;/em&gt; tidak dilakukan dalam satu malam. Perencanaan meng-agama-kan fasisme sudah muncul sejak berdirinya suatu partai. Jika golongan atas (borjuis) bergabung dengan para fasis karena simbiosis mutualisme guna keamanan ekonomi dan politik, maka kalangan bawah bergabung kepada kelompok fasis karena kepercayaan mereka terhadap sang pemimpin untuk membawa kejayaan terhadap negaranya. Dan jangan lupa, peran pemuda sangatlah penting dalam pergerakan fasisme, yang pasti dituju terlebih dahulu adalah kaum pemuda, baik di Italia maupun Jerman. Kenapa pemuda? Karena yang punya semangat memberontak paling besar adalah para pemuda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peran propaganda tidak kalah penting bagi para fasis. Propaganda adalah senjata utama mereka dalam menyebarkan mistisismenya, juga menarik perhatian dari massa. Bahkan di zaman Nazi, ada kementerian yang khusus membicarakan propaganda, yakni Kementerian Propaganda dan Pencerahan Publik dibawah pimpinan Joseph Goebbels, ahli propaganda Jerman. Bagi kelompok fasis, propaganda merupakan salah satu fungsi dari negara modern. Ada beberapa bagian yang harus dipenuhi dalam propaganda: penggunaan metode teknis yang modern, penggunaan simbol secara intensif, pengulangan sebagai penekanan, kekuatan dari tiap kata yang digunakan, sugesti dan pengumpulan masif dari massa (jangan sampai yang datang pidato hanya 1-2 orang). Dari sinilah loyalitas dan mistisisme dibangun, untuk itu banyak masyarakat Jerman yang rela untuk mati demi Hitler, demi &lt;em&gt;Fatherland&lt;/em&gt;. Propaganda inilah semacam dakwah bagi para fasis, dan sang pemimpin sebagai gembala/nabi nya. Sedangkan dombanya tetaplah massa yang terkumpul.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fasisme setelah menancapkan tombak kekuasaannya, pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengamankan kemenangannya. Pada titik ini, mereka akan semakin memperluas dan memperbesar propagandanya, lalu (seperti yang dibenci kelompok kiri) menghilangkan atau memusnahkan segala macam bentuk oposisi beserta kritikannya. Sehingga pada akhirnya hanya ada satu partai tunggal dominan. Pada titik ini, kemampuan fasisme dalam menyelamatkan rezimnya memang lebih ampuh ketimbang ideologi lain, namun rasa takut akan menjadi kebencian, dan setelah kebencian bisa muncul pemberontakan, baik dari dalam ataupun luar (jika ekspansionis). Dari segala sendinya, buku ini menjelaskan dengan lengkap mengenai fasisme dan komponen-komponen yang dimiliki oleh para fasis, ditulis dalam bentuk kritis. Mungkin Guerin sudah mati saat menulis kisah ini di Jerman era Hitler atau Italia era Mussolini. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>19 Feb 2018</pubDate>
        <link>/seluk-beluk-fasisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/seluk-beluk-fasisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Makna Mendalam Informasi dari Cesar Hidalgo</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Why Information Grows&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Cesar Hidalgo&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Penguin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xxi+232 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2015&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita hidup di era informasi, bukan? Semua hal yang ingin kita ketahui ada dalam genggaman tangan kita. Kita mengenal apa yang disebut dengan internet dan juga &lt;em&gt;search engine&lt;/em&gt;, dari sanalah segala macam informasi bisa kita dapatkan. Ada kasus pembunuhan Charlie Hebdo, hanya berselang beberapa menit, muncul berita mengenai pembunuhan tersebut, ada kasus korupsi, tidak berapa lama kita sudah mengetahui siapa saja yang terjerat kasus itu. Hampir semua orang tidak dapat lari dari kejaran perkembangan informasi, salah satunya adalah berita. Berita sendiri sudah tidak hanya dalam bentuk cetak atau di televisi, namun berita online sudah mulai menjamur, baik yang &lt;em&gt;mainstream&lt;/em&gt; maupun yang &lt;em&gt;non-mainstream&lt;/em&gt;. Cesar Hidalgo sebagai salah satu profesor muda di MIT berusaha menguak perkembangan informasi ini dengan cemerlang, ia lah pelopor teori Big Data yang terlah digunakan di berbagai belahan dunia, dan buku ini adalah rangkuman dari pemikirannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini berisi beberapa tulisannya yang terlihat acak, namun tidak. Hidalgo menjelaskan di awal bab, bahwa hampir seluruh bagian hidup kita terhubung antara satu dengan yang lain. Bagi dia, sebuah obyek adalah gambaran dari informasi, coba saja, para pembaca pasti pernah disuruh menjelaskan mengenai pribadi masing-masing, entah dalam sebuah pembicaraan basa-basi sampai kepada wawancara kerja. Begitupula dalam mengisi formulir pendaftaran di suatu organisasi, seseorang diharuskan memberikan informasi yang jelas mengenai pribadinya. Jangan lupa juga, setiap kali kita mendaftar untuk surat elektronik, ada form biodata yang harus diisi berupa informasi kita. Karena itu, informasi adalah aspek terpenting dari alam semesta kita. Dari mana lagi kita tahu bahwa bumi kita bulat kalau bukan karena informasi yang kita dapatkan melalui berbagai sumber.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Usaha-usaha mereplikasi DNA pun sama. Dalam melakukan hal tersebut, yang direplikasi bukanlah bendanya, namun informasi yang nanti digunakan untuk melakukan replikasi. Tanpa informasi, segala macam cara untuk melakukan hal tersebut akan sirna. Manusia sendiri memiliki kelebihan dari mahluk hidup lainnya, semua berkat kemampuan kita dalam berinteraksi yang lebih dan implikasinya pada pemberian dan penerimaan informasi yang lebih juga. Kelebihan manusia sendiri adalah dapat membuat sebuah benda yang berasal dari imajinasi–yang merupakan salah satu sumber informasi. Informasi sendiri terbentuk dari sebuah jaringan interaksi sosial antar-manusia yang nantinya akan membentuk dan menjadi kumpulan informasi. Kumpulan informasi inilah yang membentuk sebuah ilmu pengetahuan (&lt;em&gt;knowledge&lt;/em&gt;) yang dapat dikembangkan oleh manusia. Ilmu pengetahuan ini mampu berkembang melebihi kapasitas satu manusia, karena tadi, terkumpul dari jaringan informasi yang sangat luas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pengetahuan melibatkan hubungan atau jaringan antar entitas. Hubungan atau jaringan ini digunakan untuk memprediksi apa yang akan datang. Contoh yang diberikan Hidalgo adalah kemampuan manusia dalam memahami bahwasanya rokok akan menimbulkan kanker paru-paru, maka ilmu pengetahuan akan digunakan baik untuk mencegah atau mengobati saat hal tersebut terjadi. Adapun Hidalgo menjelaskan mengenai keterampilan (&lt;em&gt;knowhow&lt;/em&gt;). Keterampilan ini berhubungan dengan sesuatu yang bersifat kinerja, contoh yang diambil beliau adalah sesuatu yang tidak pernah kita pikirkan, yakni berjalan. Baginya, jalan merupakan keterampilan/kemampuan dalam melakukan sesuatu dengan kaki. Keterampilan ini merupakan sesuatu yang secara tidak sadar kita miliki yang digunakan untuk melakukan kehidupan kita sehari-hari. Banyak hal yang kita lakukan secara tidak sadar sejatinya adalah sebuah keterampilan yang sudah biasa kita lakukan sehingga kita tidak sadar mengenai hal tersebut. &lt;em&gt;Knowhow&lt;/em&gt; ini bersifat mekanistik sedangkan &lt;em&gt;knowledge&lt;/em&gt; terkadang bersifat abstrak dan filosofis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Informasi sendiri biasanya digunakan untuk menjelaskan sesuatu yang bersifat fisik agar kita dapat memahaminya dengan lebih mudah. Informasi, menurut Hidalgo, dibedakan menjadi dua: informasi sebagai sesuatu atau informasi mengenai sesuatu. Yang kedua adalah bagaimana kita menjelaskan benda fisik. Informasi sendiri perlu untuk dibentuk dalam sebuah benda. Perkembangan informasi sendiri sejalan dengan semakin berkembangnya dunia fisik kita. Ia menjelaskan hal ini melalui kisahnya yang sedang membaca sebuah surat kabar Chile dimana ada Bugatti termahal dengan harga berkisar 2,5 juta dollar, lalu ia membandingkan dengan berapa harga tersebut jika dihubungkan dengan harga perak, Ia mengajak kita untuk berimajinasi ketika kita memiliki Bugatti tersebut, dan saat menggunakannya ternyata hancur. Pastinya, kehancuran Bugatti tersebut membuatnya tidak lagi berharga, karena kehancuran Bugatti itu juga merupakan hancurnya informasi yang ada didalamnya. Harga 2,5 juta dollar adalah tiap benda mahal yang ada didalam Bugatti tersebut, tiap benda itu bisa ditata menjadi sebuah Bugatti karena adanya informasi yang membantu perusahaan terkait dalam membangun Bugattinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nilai dari Bugatti ada dalam tiap atom yang membentuk mobil mahal tersebut secara fisik, itulah informasi. Ia mengutip Claude Shannon, dimana informasi merupakan ukuran minimum dari sebuah komunikasi yang dibutuhkan untuk menyampaikan pesan. Contoh lain yang ia gunakan dengan lebih sederhana adalah Twitter. Dalam menggunakan Twitter, hanya ada 140 kata yang bisa dituliskan, maka dari itu, terkadang informasi itu harus disampaikan secara singkat, padat dan jelas (kalimat efektif). Bedanya dengan Bugatti ialah: Bugatti digunakan sebagai alat transportasi, akan tetapi Twitter digunakan untuk media komunikasi antar manusia (jauh maupun dekat, tergantung pemakainya). Dalam menggunakan Twitter sendiri, kita secara sadar atau tidak telah memberikan berbagai informasi, entah itu benar atau tidak, tergantung bagaimana kita memaknai informasi tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Memang memusingkan saat nanti para pembaca yang baik hati memutuskan untuk membeli buku profesor MIT ini. Penggunaan tata bahasanya bisa dikatakan cukup berat karena ia berusaha menghubungkan antara teori informasi yang eksak dengan kehidupan manusia yang tak menentu. Akan tetapi usaha Hidalgo ini adalah untuk menjembatani antara dunia eksakta dengan sosial. Melalui bab-bab selanjutnya, ia akan menyelami hubungan informasi secara teknis dan mekanis dalam memaknai hidup yang kita jalani sekarang. Informasi berasal dari manusia sendiri, teknologi hanyalah penunjang dalam menyampaikan atau menerima informasi. Kenapa informasi berkembang? Karena manusia selalu ingin sesuatu yang baru, mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui. Informasi lah yang akan mengilustrasikan watak dari manusia. Maka dari itu, jika para pembaca penasaran dengan penjelasan lebih lanjut, silakan beli bukunya, karena resensi ini hanyalah rangkuman informasi dari buku yang sangat luas maknanya. Satu informasi lagi (entah penting atau tidak), buku ini dikategorikan “ekonomi”, bukan teknologi. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Feb 2018</pubDate>
        <link>/makna-mendalam-informasi-dari-cesar-hidalgo</link>
        <guid isPermaLink="true">/makna-mendalam-informasi-dari-cesar-hidalgo</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Pemberontak atau Teroris?</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Al-Qaeda&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Christina Hellmich&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://zedbooks.net&quot;&gt;Zed Books&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 212 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2011&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Nama Al-Qaeda acapkali kita dengar berkonotasi sebagai terorisme. Mereka lah yang katanya bertanggungjawab terhadap tragedi 9/11 di tahun 2001. Namun pasca penabrakan terjadi, mereka memang mengaku, bukan dituding sebagai pelaku dalam tindak terorisme tersebut. Siapa kira ternyata, bahwa Al-Qaeda merupakan kelompok pemberontakan pada awalnya, bukan organisasi terorisme. Kelompok pemberontak ini merupakan bentukan para veteran perang Afghanistan. Mereka terbentuk di tahun 1988 yang pada saat itu diketuai oleh Azzam dengan wakilnya, Osama bin Laden. Hanya selang satu tahun, 1989, Azzam meninggal dan digantikan oleh wakilnya, si kaya Osama. Tidak lama setelah kepemimpinan dipegang Osama, mereka berpindah dari Afghanistan ke Sudan, disana mereka diterima oleh pemerintahan Sudan. Meskipun setelah itu berpindah-pindah ke beberapa tempat pasca tahun 1996, namun tujuan mereka tetap, menyebarkan Jihad ke seluruh dunia. Apakah Al-Qaeda memang menjadi momok dunia, benarkah mereka adalah wajah yang kerap dipandang oleh kaum non-muslim? Mari kita baca resensi singkat ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Awalnya, Al-Qaeda merupakan kelompok milisi pemberontak yang dibangun di Afghanistan untuk melawan kekuatan Komunis dari Soviet yang berusaha melakukan invasi. Seruan melawan penjajah ini disebut sebagai Jihad dan yang ikut dalam jihad disebut dengan mujahidin/mujahid. Pertarungan ini tidak hanya diserukan di dalam Afghanistan, namun seluruh pemuda muslim di berbagai penjuru dunia untuk ikut bergabung mempertahankan Afghanistan. Pemimpin-pemimpin dari Al-Qaeda bukan lah orang bodoh. Dalam buku ini dijelaskan bahwa tiap orang memiliki kelebihan masing-masing: Osama bin Laden merupakan anak dari saudagar kaya di Saudi, Abdullah Azzam merupakan seorang Doktor (Dr. Abdullah Azzam), Ayman Az-Zawahiri ialah seorang ahli bedah dan Said Quthb lah yang mengilustrasikan jalur Jihad dan guru dari semuanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jihad Afghanistan menjadi bersifat global karena seruan yang dilakukan oleh Abdullah Azzam. Jika bicara mengenai beliau, ia lah yang memanggil dan merekrut berbagai umat Islam di seluruh penjuru dunia untuk bergabung dalam Al-Qaeda dan mempertahankan Afghanistan dari penjajah Ateis yakni Uni Soviet. Sekeras apapun Azzam, ia hanya meminta wilayah-wilayah Islam kembali dipimpin oleh umat Islam, meskipun pemimpinnya sekuler. Inilah yang menjadi perbedaan pendapat dengan pemimpin-pemimpin lainnya. Dia masih mentolerir keberadaan Islam Sekuler dan menolak adanya pertarungan diantara umat Islam sendiri, sebuah pandangan yang membawanya kepada liang lahat. Ia mati karena bom mobil yang diledakkan pada tahun 1989 di Pakistan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah kematian Syaikh Azzam ini, kepemimpinan Al-Qaeda berada ditangan wakilnya, Bin Laden. Patut kita pahami bahwa Bin Laden sedikit lebih agresif dibanding Azzam. Adapun sebelum itu Azzam dan Bin Laden sempat membuat biro penyaluran tenaga Mujahidin bernama Maktab Al- Khidmat (MAK). MAK inilah yang menjadi ujung tombak perekrutan sebelum Al-Qaeda terbentuk. Dibawah kepemimpinan Bin Laden, MAK sangatlah subur merekrut para mujahidin, dana yang digelontorkan kisaran 25.000 dollar Amerika per bulan agar biro ini tetap berjalan dengan baik. Meskipun datang dengan panggilan Jihad, namun tetap harus profesional dan dibayar layaknya tentara yang sedang bekerja atau dinas diluar negeri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang menarik adalah Laporan Komisi 9/11 yang menandai dengan tebal bahwa dana dari Amerika Serikat lah yang membuat Al-Qaeda subur semasa perlawanan mereka terhadap dominasi Soviet. AS bermain tidak dengan menurunkan tentara namun aliran dan suntikan dana besar yang membuat pemberontakan ini tetap mampu menjaga dirinya dengan baik. Sebenarnya MAK inilah yang menjadi pondasi kemunculan Al-Qaeda, dimana Bin Laden dan Azzam sepakat bahwa biro tersebut dipersiapkan untuk kelompok Jihad dimasa depan. Banyak sumber yang disebut dalam buku ini mengenai kelahiran Al-Qaeda, namun tetap ide mengenai nama tersebut dicetuskan oleh Abdullah Azzam, karena Osama sendiri mengatakan bahwasanya nama Al-Qaeda sudah dikumandangkan semenjak peperangan melawan Soviet (saat itu masih bernama MAK).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Membahas struktur Al-Qaeda sendiri memunculkan banyak perdebatan. Ada pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qaeda merupakan himpunan organisasi islamis yang ketat namun dibawahnya ada organisasi-organisasi yang lemah secara struktur dan dikoordinir oleh Al-Qaeda, adapun yang menganggap Al-Qaeda sebagai sebuah kesatuan tersendiri yang memiliki kemampuan untuk mengumpulkan dana sendiri dan memiliki berbagai komite didalamnya, dipimpin oleh Majelis Syuro’ (Ring 1 Bin Laden).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut Sageman, Al-Qaeda adalah sebuah kelompok yang menjadi promotor jaringan global untuk Jihad. Kelompok ini sebenarnya adalah gerakan sosial yang mendukung seruan Jihad di berbagai belahan dunia dan tidak hanya terpusat di Timur Tengah saja. Namun, pasca pengeboman kedubes AS di Afrika Timur pada tahun 1998, salah satu pelaku tertangkap bernama Khalfan Khamis Muhamed menyatakan bahwa ia tidak pernah bersumpah (bai’at) kepada kelompok yang bernama Al-Qaeda. Dari testimoni Khalfan ini, ditarik kesimpulan bahwa Al-Qaeda bukanlah sebuah organisasi, namun taktik aktivisme yang digunakan Azzam, bahkan aktivisme tidak hanya berkonotasi pada kelompok kiri, namun kelompok Islam “radikal” pun memiliki gaya aktivisme nya tersendiri yang lebih jitu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berbagai macam argumen dikeluarkan oleh para peneliti mengenai gerakan Islam yang awanya berbasis di Afghanistan ini. Tudingan apapun dilayangkan kepada Al-Qaeda sebagai kelompok teroris, Islam Radikal, Islam garis keras, namun tetap, sejak awal hembusan pendirian Al-Qaeda, nama ini bernuansa pemberontakan. Digagas guna memunculkan sebuah perlawanan terhadap ketidakadilan di Afghanistan, perlakuan Soviet yang semena-mena melahirkan sebuah pondasi atas gerakan sosial yang paling ditakuti di dunia saat ini. Meskipun Al-Qaeda mulai surut pasca meninggalnya Osama bin Laden, namun deru-deru perlawanan dan pemberontakan masih terdengar hingga saat ini. Inilah Al-Qaeda, pemberontakan yang masih ada hingga sekarang. Mereka merupakan kelompok pemberontak kontemporer di era politik global, maka dari itu &lt;a href=&quot;https://www.zedbooks.net/shop/series/rebels/&quot;&gt;Zed Books&lt;/a&gt; menerbitkannya dalam seri &lt;em&gt;Rebel,&lt;/em&gt; sejajar dengan Zapatista, PKK dan FARC. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>17 Feb 2018</pubDate>
        <link>/pemberontak-atau-teroris</link>
        <guid isPermaLink="true">/pemberontak-atau-teroris</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Mengenal Laclau, Mengenal Populisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: On Populist Reason&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Ernesto Laclau&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://versobooks.com&quot;&gt;Verso&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xii+276 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2005&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semenjak gerakan 212 pada tahun 2016 lalu, ada satu teori yang gempar dibicarakan dimana-mana, bahkan sering digunakan sebagai bingkai teoritis, yakni populisme. Pakar-pakar ilmu politik semacam profesor Vedi Hadiz menyandingkan teori itu dengan Islam, sehingga tercipta populisme Islam, yang katanya ditunggangi oleh oligarki tertentu. Banyak pro dan kontra terkait pandangan Tuan Vedi, tudingan dilayangkan karena ia sendiri tidak berada ditempat saat aksi 212 terjadi di Jakarta. Namun bukan itu yang penting, tapi populismenya. Orang banyak membahas populisme ini mengacu kepada Om Vedi, kenapa tidak ditelisik langsung dari sumbernya? Simak resensi berikut ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Populi jika dipahami secara etimologis berasal dari bahasa latin yang artinya rakyat. Atau terkadang ada yang mengartikannya sebagai populasi. Menurut Laclau sendiri, populism adalah sebuah analisa politik yang memang kerap digunakan untuk mendeskripsikan berbagai pandangan mengenai sebuah gerakan politik. Dalam populisme sudah menolak dikotomi kanan atau kiri, ia merupakan pergerakan lintas kelas. Laclau sendiri mengutip Margaret Canovan untuk menolong dia mendefinisikan populisme sebagai sosialisme dari negara terbelakang yang menghadapi permasalahan modernisasi. Populisme sendiri memproklamirkan bahwa keinginan dari masyarakat berada diatas dari keinginan apapun. Dua fitur utama dari populisme Canovan ialah sebuah seruan terhadap masyarakat dan anti-elitisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Laclau juga meminjam pemaknaan Kenneth Minnogue mengenai populisme baik sebagai retorika yang acapkali diplagiat untuk jargon sebuah pergerakan dan juga ideologi. Ciri khas populisme adalah hilangnya pergerakan tersebut pasca kondisi telah berubah.  Namun hal diatas apabila populisme terjadi di negara-negara semacam AS, adapun populisme di negara berkembang adalah sebuah bentuk gerakan yang hanya dapat ditemukan di daerah terpinggirkan dari sebuah sistem industrial. Populisme juga dapat dimaknai sebagai tindakan performatif yang memiliki rasionalitasnya tersendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam memaknai populisme, bagi Laclau dibutuhkan juga pemahaman mengenai psikologi massa, maka di buku ini terkadang mengacu kepada Gustave Le Bon jika bicara relasi antara populisme dengan psikologi. Situasi dari gerakan populis pun sifatnya ambigu dan berada pada batas-batas kelembagaan (mereka terkadang berada diluar kelembagaan yang akan dilawan), melawan sebuah sistem tapi memiliki agen didalam sistem yang ditolak, maka perlawanan berasal dari luar sistem dan berusaha dengan sekuat tenaga untuk memenuhi keinginan mereka melalui pergerakan massa tersebut. Populisme dapat menjadi pondasi subversif melawan sebuah rezim dan juga pondasi untuk membangun tatanan yang baru disaat pondasi rezim lama sudah mulai goyah. Populisme sendiri merupakan sebuah sistem struktural yang dibuat oleh penggagas gerakan itu sendiri dan memiliki kebiasaan untuk melawan sebuah lembaga, meskipun ada agen mereka didalam lembaga terkait. Dari populisme kita belajar memahami bedanya melawan dan menolak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Acapkali populisme berhadapan dengan oligarki karena sikap populisme yang menolak elitisme. Banyak gerakan yang terjadi di seluruh belahan dunia dalam bentuk demonstrasi dan sejenisnya merupakan gerakan populisme yang sadar maupun tidak sadar. Adapun dalam populisme pastinya dibutuhkan kemampuan beretorika yang kuat, jika tidak, maka gerakan yang dibuat akan cepat hancur sebelum permintaan yang diajukan dikabulkan, seperti BEM SI. Merancang populisme, jika tidak memiliki landasan yang kuat tidak akan bertahan lama, memang pada beberapa titik, populisme sebenarnya jalur kekuatan masyarakat, yang didalamnya dapat berisi kan kekuatan ideologi lainnya. Jika kita melihat populisme yang ada di 212, yang menjadi pondasi kuat dalam gerakan ini adalah agama yang menjadi pemersatu mereka, sehingga gerakan 212 tidak hanya menjadi “populisme” belaka, namun dapat menjadi &lt;em&gt;pressure group&lt;/em&gt; bagi pemerintah. Namun populisme digambarkan oleh Laclau, pada satu kaki berada dalam sistem, kakinya yang lain berada diluar sistem.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Guna memahami populisme, maka kita harus dapat melihat contohnya di dekat kita. 212 telah menjadi contoh yang konkrit dalam populisme di Indonesia, Islam adalah muatan lain, namun yang utama adalah populismenya. Mengenai tudingan keberadaan beberapa oligarki yang ada dalam gerakan populisme Islam, itu hanyalah mitos yang ditujukan kepada gerakan 212, bagaimana gerakan anti-elitisme malah merawat oligarki didalamnya. Tudingan semacam itu hanyalah sebuah kebetulan saja dan bersifat interpretatif, maklum, terkadang beberapa orang melihat dunia ini dengan cara yang terlalu rumit, padahal sebenarnya sangatlah sederhana. Penulis tidak mendukung gerakan 212, hanya mencoba untuk melihat dengan lebih obyektif melalui pandangan asli populisme, tidak melalui kacamata orang lain. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>16 Feb 2018</pubDate>
        <link>/mengenal-laclau-mengenal-populisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/mengenal-laclau-mengenal-populisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Novel Filosofis ala Kang Mahfud</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Belajar Mencintai Kambing&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Mahfud Ikhwan&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Mojok&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: x+179 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kali ini saya ingin meresensi buku yang ringan sebagai usaha untuk rehat dari buku-buku pemikiran yang terlalu berat untuk dihadapi tiap waktu. Dari berbagai buku yang bisa digunakan untuk beristirahat dan mengisi kembali tenaga berfikir, novel merupakan pilihan terbaik. Novel pun punya berbagai macam kategori, entah horor, perjuangan, kisah cinta ataupun komedi, bahkan yang filosofis pun ada. Akhir-akhir ini Indonesia sedang marak dilanda novel bergenre cinta, sehingga corak perjuangan ala Pram pun tersingkirkan dari daftar novel yang harus dibaca pemuda. Namun, beberapa genre berusaha mengimbangi kebangkitan kisah cinta ini, salah satunya adalah komedi. Mojok adalah salah satu diantara beberapa penerbit yang bisa dibilang asik dalam memilih penulis yang akan diterbitkan oleh mereka, susah juga nulis kreatif, tapi buat mereka yang tembus Mojok, tidak ada keraguan padanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Konon, buku yang akan saya resensi ini adalah karya penulis yang mulai naik daun di Indonesia. Beliau mendapatkan juara 1 Sayembara Menulis Novel dari Dewan Kesenian Jakarta di tahun 2014. Beberapa karyanya juga diterbitkan oleh penerbit lain, seperti &lt;em&gt;Dawuk&lt;/em&gt; yang diterbitkan oleh Marjin Kiri dan blognya yang dibukukan oleh EAbooks dengan judul &lt;em&gt;Aku dan Film India Melawan Dunia&lt;/em&gt;. Jujur saja, saya pribadi sangat mengagumi karya-karyanya yang berbahasa renyah. Paling tidak apa yang dia angkat bukanlah sekedar romansa anak sekolahan yang sensasional dan penuh &lt;em&gt;quotes&lt;/em&gt; akan tetapi sesuatu yang bernilai filosofis namun ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Si penulis buku bahkan dikisahkan dalam salah satu artikel Mojok yang penulisnya adalah Tarli Nugroho.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika sebelumya saya menjelaskan bahwa novelis Indonesia sekarang kerap mendayu-dayu, maka beda sekali dengan Bang Mahfud. Dalam novelnya yang berjudul “Belajar Mencintai Kambing” ini berisi tujuhbelas cerita dalam tiga bagian, yakni: Belajar, Mencintai dan Kambing. Cerita-cerita yang dia kisahkan pun kerap membuat kita berpikir sejenak dan menghayati bahwa memang ada hal-hal kecil dalam hidup ini yang tidak tersentuh oleh pikiran kita yang melangit. Salah satunya dalam kisah Kubukan Wungkal. Kisah tersebut merupakan tulisan yang ia sadur dari seseorang yang tidak mau disebutkan namanya. Bertempat di suatu daerah yang memiliki kubangan air besar yang disebut &lt;em&gt;kobokan wungkul&lt;/em&gt;, kubangan tersebut merupakan tempat penduduk sekitar mencuci alat kerjanya (pekerjaan warga sekitar kebanyakan petani). Mitos yang menyebar mengenai tempat itu ialah barangsiapa mengeluh di &lt;em&gt;kobokan wungkul&lt;/em&gt; maka dia akan menjadi gila.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Entah benar atau tidak, karena mitos itu yang menyebar, maka banyak orang yang tidak berani mencoba kebenaran mitos tersebut. Lalu dikisahkan ada seorang mahasiswa yang sedang KKN atau apa (tidak jelas apa yang ia lakukan di tempat itu), melihat ada seseorang yang duduk di pinggir &lt;em&gt;kobokan wungkul&lt;/em&gt; dan melakukan kegiatan yang berbeda dengan penduduk lainnya. Bilamana orang lain mencuci perkakas kerjanya, orang tersebut menulis! Perbedaan ini sungguh dikagumi oleh mahasiswa tersebut, karena di lingkungan ia belajar (Perguruan Tinggi), menulis merupakan hal yang mulia. Akan tetapi, orang lain mengingatkan dia untuk tidak mendekatinya, mereka mengatakan bahwa dulu, orang itu merupakan tukang potong rumput buta huruf yang pernah marah kepada anaknya di pinggir &lt;em&gt;kobokan wungkul&lt;/em&gt; karena bukannya membawa perkakas untuk memotong rumput, malah membawa bolpoin, dari situlah ia mulai hilang akalnya. Namun kisah semacam ini tidak dipercaya dengan mudah oleh seorang mahasiswa terpelajar, ia menganggap bahwa lelaki tersebut dianggap gila karena melakukan hal yang berbeda dengan penduduk lainnya. Masuklah penjelasan filosofis oleh penulis cerita mengenai makna kegilaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Si mahasiswa tidak menghiraukan sedikitpun peringatan warga sekitar, ia tetap bersikukuh untuk mendekati dan jika beruntung, mengajak bicara si penulis di pinggir &lt;em&gt;kobokan wungkul&lt;/em&gt; itu. Ia memandang lelaki tersebut layaknya patung Rodin, benar-benar ia agungkan orang itu. Ternyata orang yang dianggap gila menoleh dan berkata padanya. Ia tidak sepakat bila mahasiswa membawa sabit, menurutnya mahasiswa itu membawa bolpoin. Beberapa kalimat yang diutarakan orang gila itu seketika menjadi seperti kritikan terhadap para mahasiswa. Tidak hanya sampai disana, bahkan si gila itu mengejar si mahasiswa dan seketika tulisan dalam kisah ini layaknya memang sedang ditulis oleh si mahasiswa itu sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kisah tesebut saya ambil dari halaman 37 yang merupakan salah satu dari kisah paling menarik dalam buku ini. Saya pribadi tidak mampu menuliskan sejelas dalam cerita, karena tulisan ini adalah resensi, bukan usaha untuk &lt;em&gt;plagiat&lt;/em&gt;. Dari kisah &lt;em&gt;kobokan wungkul&lt;/em&gt; itu, yang paling saya garis bawahi adalah bagaimana masyarakat itu menganggap orang lain gila hanya karena berbeda. Masalah seperti ini kerap kita lakukan, terutama dengan cara menggunjing orang yang dianggap gila atau aneh. Kisah tersebut hanyalah sepenggal dari banyak kisah lain yang lebih menakjubkan. Sosok antagonis dan protagonis sendiri tidak terlalu diperlihatkan, karena ini novel komedi filosofis, bukan novel perang. Saya sangat menyarankan untuk membaca buku ini, terutama bagi kalian yang merasa sepi dan sunyi hidupnya. Jangan terkecoh dengan sampul dan judulnya, kisah dalam buku ini sangat lah berharga untuk dibaca, apalagi diresapi tiap baitnya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>12 Feb 2018</pubDate>
        <link>/novel-filosofis-ala-kang-mahfud</link>
        <guid isPermaLink="true">/novel-filosofis-ala-kang-mahfud</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Dongeng tentang Kebaikan Kapitalisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The New Prophets of Capital&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: &lt;a href=&quot;https://nicoleaschoff.com&quot;&gt;Nicole Aschoff&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://versobooks.com&quot;&gt;Verso&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal buku: 154 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun terbit: 2015&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Punya perusahaan besar itu tidak mudah. Konsekuensinya adalah harus tahan dituding-tuding sebagai kapitalis yang serakah. Bill Gates merasakan sendiri tudingan pahit itu ketika Microsoft terkena kasus hukum antimonopoli Amerika Serikat. Microsoft dituduh melakukan monopoli dan terlibat dalam tindakan anti-kompetisi. Pasalnya, Microsoft menjual peramban web Internet Explorer yang dipaketkan dengan sistem operasi Microsoft Windows. Saat itu, peramban web seperti Netscape Navigator dan Opera tidak dapat diunduh atau dipasang secara gratis. Tindakan Microsoft tersebut dianggap membatasi pasar peramban web dan menyalahgunakan kekuasaan monopoli. Kasus ini diangkat oleh Departemen Kehakiman AS, 18 negara bagian, dan Washington DC yang disidangkan antara tahun 1998-2001. Setelah kasus antimonopoli, film &lt;em&gt;Antitrust&lt;/em&gt; yang merupakan sindiran terhadap kekejaman, ketamakan, dan monopoli Bill Gates muncul di tahun 2001.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semua itu adalah gambaran tentang Bill Gates 20 tahun yang lalu. Kini kita melihat Bill dan Melinda Gates yang begitu disanjung-sanjung atas tindakan filantropis mereka. Bahkan baru-baru ini Gates Foundation setuju untuk membayar hutang vaksinasi polio Nigeria ke Jepang sejumlah 76 juta dolar. Nicole Aschoff menyebut apa yang dilakukan Gates Foundation sebagai &lt;em&gt;philantrocapitalism&lt;/em&gt;. Dimana kelompok 1% orang-orang terkaya di AS mengarahkan sejumlah besar uangnya untuk tujuan sosial dan kemanusiaan. Mereka ingin memanfaatkan kekuatan kapitalisme yang telah membuat mereka luar biasa kaya untuk membantu seluruh orang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kekuatan organisasi non-pemerintah, seperti Gates Foundation, Amnesty International, CARE, Oxfam, dan lain-lain, semakin penting sejak runtuhnya sistem Bretton Woods di tahun 1970-an dan krisis hutang Amerika Latin di tahun 1980-an. Proyek Pembangunan yang diganti menjadi Proyek Globalisasi ternyata justru menyebabkan berbagai krisis ekonomi dan kemanusiaan, memperlebar jurang ketimpangan. Untuk memperbaiki semua itu, lembaga internasional seperti PBB, Dana Moneter Internasional, dan Bank Dunia mendorong negara-negara kurang beruntung (negara miskin) untuk melibatkan organisasi non-pemerintah internasional dalam program perbaikan sosial-ekonominya. Organisasi semacam ini dianggap dapat bekerja lebih efisien dan lebih tahu banyak hal dibanding institusi lokal. Mereka dapat bekerja dengan sangat baik karena beberapa di antaranya punya pendanaan yang sangat besar. Misalnya Amnesty Internasional yang anggaran tahunannya lebih besar (295 juta dolar) daripada Dewan HAM PBB (177 juta dolar) berdasarkan data tahun 2012.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kemunculan berbagai organisasi non-pemerintah dipicu oleh meningkatnya kesenjangan akibat semakin banyaknya orang-orang super kaya. Fungsinya sebagai semacam katup yang membebaskan ‘dosa-dosa’ kapitalisme. Sekarang, pertanyaan pentingnya adalah: kenapa mereka mau berdonasi sedemikian banyaknya setelah menghasilkan miliaran dolar? Beberapa berpendapat semua itu untuk keringanan pajak, atau sederhananya karena merasa itu sebagai kewajiban warga negara. Pendekatan yang lebih ideologis menyatakan bahwa orang-orang kaya mau memutuskan sendiri apa yang ingin ia lakukan dengan uangnya daripada menyerahkannya kepada negara begitu saja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam kasus Bill Gates, sangat mungkin salah satu alasannya untuk menjadi filantropis dipicu oleh kasus yang pernah membelit perusahaannya. Dalam suatu wawancara ketika itu, Gates menyatakan akan dengan senang hati menyerahkan keberuntungannya agar masalah antimonopoli hilang. Selain itu, kematian ibunya akibat kanker payudara di tahun 1994 yang sempat menasihatinya untuk menyegerakan cita-cita filantropisnya bisa jadi turut menjadi pemicu bagi Gates. Terlepas dari berbagai motif yang mungkin mendasari Gates dalam melakukan tindakan filantropisnya, menurut Aschoff, cara-cara yang Gates gunakan dalam mendonasikan uangnya bisa dibilang kreatif_._ Seperti tindakannya yang mendanai riset kesehatan agar vaksin segera tersedia. &lt;em&gt;It’s a creative capitalism&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagaimanapun, Gates Foundation adalah lembaga swasta. Kehendak mereka untuk memutuskan bagaimana sejumlah besar uangnya digunakan tidak dapat diatur dan diketahui. Harapan tentang dunia yang lebih baik beserta rencana-rencana yang hendak diwujudkannya bukan milik pemerintah. Bagi pemerintah AS, organisasi seperti Gates Foundation beserta Rockefeller, Carnegie, Buffet, Ford, Open Society Foundation, dan lainnya, sangat tidak demokratis. Karena mereka melakukan apapun yang mereka inginkan dengan uangnya. Tidak ada proses demokratis tentang bagaimana rakyat bisa menentukan kegunaan uang tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak hanya ‘cerita’ tentang Bill dan Melinda Gates yang disuguhkan Nicole Aschoff dalam buku ini. Tersaji pula ‘cerita’ tentang Sheryl Sandberg, &lt;em&gt;Chief Operating Officer&lt;/em&gt; Facebook, yang memprakarsai Lean In Foundation. Sebuah yayasan yang mendukung kesamaan kesempatan bagi perempuan dalam menduduki posisi penting dalam lingkungan kerjanya. John Mackey dengan Whole Foods Market-nya. Seorang pendukung pasar bebas. Serta Oprah Winfrey, cerminan kapitalisme spiritual yang menekankan pada pesan-pesan pemberdayaan diri. Sebagai editor di majalah &lt;em&gt;new left&lt;/em&gt; Amerika, &lt;em&gt;Jacobin&lt;/em&gt;, dan dosen Sosiologi di Boston University, ia dapat menjelaskan dengan ringan dan mudah dipahami. Kita pun akan sangat jarang menemukan istilah yang sulit dicerna yang biasanya bertebaran di buku-buku bertema kapitalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Membaca buku ini kita seperti membuka lapisan-lapisan cerita sukses orang-orang terkaya dunia sembari menyadari bahwa solusi mereka tidak akan menyudahi ketimpangan sosial-ekonomi, menghapus kemiskinan, ataupun menyelesaikan masalah lingkungan. Tujuannya bukanlah redistribusi pendapatan. Yang mereka lakukan adalah memelihara sumber daya manusia, institusi, dan mempertahankan struktur yang mendasari kapitalisme sejak lama. Agar orang-orang menopang dan memperkuat sistem tersebut untuk jangka panjang. Singkatnya, jangan mudah diperdaya kapitalisme dan jangan gentar terhadap tantangan sosial-ekonomi di masa depan. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(ich)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>10 Feb 2018</pubDate>
        <link>/dongeng-tentang-kebaikan-kapitalisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/dongeng-tentang-kebaikan-kapitalisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Memahami Tantangan Fundamentalisme Modern</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Politik Identitas&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Thomas Meyer&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Pemuda Muhammadiyah &amp;amp; Friedrich Ebert Stiftung, Jakarta&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 94 Halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2004&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peresensi: Dian Dwi Jayanto&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kekhawatiran terhadap menguatnya fenomena fundamentalisme semenjak tahun 1980-an semakin menjadi-jadi. Hal tersebut bisa dilacak dari beberapa fenomena dunia yang terus mengemuka. Diantaranya, kelompok fundamental mendapat pendukung besar parlemen untuk berkuasa di Mesir maupun Algeria; India sebagai negara demokrasi terbesar di dunia memiliki partai Hindu fundamentalis Bharatiya Janata Party (BJP), partai terkuat kedua di parlemen India, kelompok fundamentalis minoritas Islam dan kelompok imigran yang didirikan dalam kebudayaan negara yang cenderung mayoritas beragama Islam terus tumbuh, sebagaimana HTI di Indonesia. Fenomena fundamentalisme bukan hanya menampakkan buktin kembalinya agama dalam kehidupan politik, tapi bagaimana kehidupan politik hendak dikendalikan berdasarkan kepercayaan agama versi mereka sendiri, serta menyingkirkan tafsir lain.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berkaitan dengan diskursus di atas, secara garis besar tulisan Thomas Meyer menaruh perhatian utama terhadap fenomena muncul dan menguatnya kembali berbagai bentuk gerakan religi dan etnisitas fundamental sebagai sebuah wujud gerakan politik. Meskipun diakui oleh Meyer bahwa gerakan fundamental mendapatkan tantangan di berbagai kebudayaan di dunia, namun sebuah penelitian empiris menunjukkan dalam kondisi sosial ekonomi yang terpuruk, setiap kebudayaan bisa menjelma menjadi kebudayaan fundamental.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lantas, apa pengertian fundamental itu sendiri?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Istilah fundamental pertama kali digunakan dalam sebuah rangkain publikasi tulisan yang berjudul “The Fundamentals” pada tahun 1910 hingga 1915 di Amerika Serikat. Rangkaian ini juga memegang judul yang terkenal &lt;em&gt;“A Testimony to Truth”&lt;/em&gt;. Pada tahun 1919, kaum protestan yang mempublikasikan tulisan-tulisan tersebut mendirikan organisasi sedunia dengan nama &lt;em&gt;“Word Christian Fundamentals Association”&lt;/em&gt;. Alhasil, &lt;em&gt;term&lt;/em&gt; fundamentalisme lekat dengan keyakinan Kritiani yang berusaha menepatkan diri dalam kepentingan umum dan akademik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun bermula dari terminologi dalam dunia kristiani, pada fase selanjutnya fundamentalisme juga merujuk pada kelompok-kelompok atau kebudayaan yang memiliki ciri-ciri khas yang sama. Dalam berbagai bentuk kerangka pikir dan isi ajaran fundamentalisme yang mungkin sangat berbeda, kesamaan yang dapat dilacak adalah karakter &lt;em&gt;“impuls ideal typical”&lt;/em&gt;, yaitu sama-sama mengklaim memiliki hak istimewa yang lebih tinggi dibanding berbagai kebudayaan lainnya; merasa benar untuk melakukan tuntutan untuk merealisasikan etika yang berlaku di kebudayaan mereka untuk ditegakkan secara umum dan di dalam kehidupan kebudayaan yang normal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada tataran tertentu, fundamentalisme bisa menjadi semacam “totalitarianisme” meskipun tidak keseluruhan. Artinya, fundemantalisme bukan berarti merefleksikan sebuah kebudayaan tertentu, melainkan lebih menekankan pada sisi “gaya” dari suatu peradaban khusus dengan ciri yang diungkap sebelumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pemahaman ini kemudian mengantarkan Meyer untuk mengkritik tesis dari Samuel Hutington tentang skenario dunia dalam “Benturan Peradabannya dan Masa Depan Politik Dunia”. Menurut Meyer, Hutington memperlakukan semua budaya yang berbenturan, entah Barat, Timur, India, Tiongkok dan lain-lain seakan-akan masing-masing berdiri sendiri sebagai budaya yang fundamentalisme. Bagi Meyer, pertikaian antar kebudayaan bukan merujuk pada sebuah peradaban tertentu, namun pada gaya sebuah kebudayaan tersebut memperlakukan kebudayaan lain. Sebab, terkadang sebuah kebudayaan yang sangat berbeda namun memiliki kesamaan dalam hal struktur sosial politik, sebagaimana Portugal dan Turki yang secara kebudayaan sangat berbeda tapi memiliki kesamaan terhadap penilaian yang relatif rendah terhadap individualisme, penerimaan tinggi atas ketidakadilan serta penghindaran ketidakpastian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akhirnya, Thomas Meyer menjawab fenomena fundamentalisme sebagai tantangan bagi keberlangsungan dunia global yang bersifat inklusif dan terbuka bagi segala kebudayaan. Di belahan dunia manapun, tatanan dunia global membutuhkan nilai-nilai dan norma inti yang dapat dihayati oleh seluruh kebudayaan, meskipun dengan bahasa, simbol dan gambar yang berbeda. Dan fundamentalisme menawarkan keabsolutan budaya yang mengancam bagi keberlangsungan tata kehidupan global.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada bagian akhir tulisannya, Meyer mengemukakan empat faktor yang menunjang menguatnya fundamentalisme dalam suatu masyarakat, yaitu: pertama, identitas budaya kelompok masyarakat luas mendapat tantangan yang merupakan hasil dari perubahan mendadak dari norma yang ada, mulai dari status sosial ekonomi, gaya hidup dan seterusnya yang semakin menjerumuskan masyarakat dalam ketidakpastian. Kedua, Terdapat krisis sosial yang dialami masyarakat dalam bentuk penurunan relatif pada status kelompok sosial luas, marginalisasi dan kemunduran mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketiga, krisis ekonomi yang mengakibatkan ketidakpastian berkepanjangan, meningkatkan pengangguran dan seterusnya. Keempat, lemahanya kepercayaan pada partai-partai politik yang ada dan kelompok elit dalam mengatasi persoalan yang ada di masyarakat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Melacak dari faktor-faktor di atas, strategi untuk mengalahkan fundamentalisme tidak cukup hanya dengan memerangi atau secara intelektual, tapi dengan “jalan keluar terpercaya perlu diajukan untuk mengatasi masalah sosial dan ekonomi yang dapat membuat fundamentalisme menjadi kuat pada sektor-sektor yang termarginalkan di dalam masyarakat”. (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;ddj)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>08 Feb 2018</pubDate>
        <link>/memahami-tantangan-fundamentalisme-modern</link>
        <guid isPermaLink="true">/memahami-tantangan-fundamentalisme-modern</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Ilmu Administrasi Tidak Membosankan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Philosophy and Public Administration&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Edoardo Ongaro&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Edward Elgar Publishing&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xi+275 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Administrasi, kata ini acapkali berkonotasi membosankan dimanapun kita berada. Administrasi pula yang selalu kita anggap rumit dan menjadi penghalang hidup tenang. Singkat kata, kita alergi terhadap kata administrasi. Bahkan tidak sedikit yang enggan untuk melaksanakan tugas-tugas administratif guna meyelesaikan sebuah permasalahan, contohnya membuat paspor, membuat E-KTP, laporan kehilangan ke kepolisian dan berbagai macam hal lain yang tanpa sadar telah bersinggungan dengan administrasi. Tidak jarang juga bahkan mahasiswa yang berkuliah di jurusan administrasi (terutama administrasi negara atau publik) bosan dengan mata kuliahnya sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada anggapan bahwa administrasi adalah pelajaran mengenai orang membosankan yang melakukan hal-hal yang membosankan dan teknis. Akan tetapi, Profesor Ongaro tidak sepenuhnya sepakat dengan paradigma semacam itu, ia membawa angin segar bahwasanya perkuliahan administrasi publik juga memiliki dimensi filosofisnya, silakan disimak resensi singkat ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dimensi filsafat ini tidak begitu diminati di administrasi publik dewasa ini. Administrasi lebih condong kepada teknis ketimbang pembahasan dialektis ala filsuf. Dari pembelajaran seperti ini, maka ilmu administrasi melahirkan teknokrat sekaligus birokat handal namun bukan intelektual dengan kemampuan diskursus maupun analisa yang tajam. Buku karya Ongaro ini menjadi penting, karena merangkum segala bagian filosofis dari ilmu ini dan berada dalam satu penulis yang sama hingga pembahasannya mengalir dengan baik. Beberapa akademisi sudah berusaha mendahului Ongaro, seperti Geert Boucakert dan Christopher Pollitt yang mengulas permasalahan manajemen publik secara merinci, Christopher Hood yang membahas dimensi budaya dalam antropologi yang sejatinya dapat dikaitkan dengan manajemen publik, dan banyak contoh lainnya yang dikejawantahkan dalam buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam administrasi publik pun memiliki doktrin yang bermacam-macam. Beberapa doktrin itu adalah positivisme yang mempromosikan ilmu pengetahuan ilmiah sebagai dasar dari kehidupan manusia. Begitupula dalam administrasi yang harus digunakan manusia, maka pengetahuan yang melandasi arah geraknya haruslah ilmiah, tidak sekedar spekulasi belaka. Ilmu pengetahuan dianggap hanya dapat terakses melalui pola seperti ilmu eksak dan metodenya di ikuti pula oleh ilmu sosial. Dalam perspektif semacam ini, ilmu pengetahuan seperti ilmu administrasi negara haruslah memiliki fakta yang pasti, hal ini membuat pandangan para ilmuan menjadi keras dan kolot. Fakta tersebut menjadikan ilmu pengetahuan terkait menjadi solid dan tidak terpatahkan. Pandangan yang positivis semacam ini kerap memiliki sudut pandang yang optimis karena kemajuan ilmu pengetahuan dianggap juga akan memajukan masyarakat, karena kapasitasnya untuk menyelesaikan masalah kemanusiaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan lain dalam filsafat yang terkait dengan administrasi publik ialah strukturalisme. Sebelumnya, strukturalisme adalah pendekatan filsafat yang langsung menohok kepada struktur sosial dalam masyarakat, dimana nantinya akan mengkarakteristikkan masyarakat melalui dimensi ruang dan waktu. Sedihnya, pendekatan yang dibawa oleh Louis Althusser dan Michel Foucault ini sangat jarang digunakan di administrasi dikarenakan, entah para akademisi administrasi publik tidak tertarik dengan pendekatan ini atau akademisi administrasi publik tidak terlatih dalam pembahasan dan analisa yang terlalu dalam yang acapkali digunakan oleh para pemikir strukturalis. Adapun pandangan ini membedakan struktur sosial dengan lembaga (institusi) karena lembaga adalah bentukan manusia, sedangkan struktur sosial, keberadaannya mendahului eksistensi manusia dan karena itu pastinya bukan produk dari manusia itu sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, perlu sekiranya memperdalam pemahaman strukturalis dalam administrasi publik, agar para akademisi mampu memahami semacam apa agen politik melakukan tugas-tugasnya di masyarakat, dan tidak semua lembaga bersifat administratif, ada juga yang berbentuk administratif-politis (contoh: Bakesbangpol).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu paradigma yang cukup mencengangkan adalah Marxisme yang ternyata dapat berhubungan dengan administrasi publik. Dapat kita ketahui bahwa Antonio Gramsci, seorang teoritisi marxis berkebangsaan Italia, pernah menjelaskan mengenai sudut pandangnya bahwa Partai Politik adalah jajaran baru dari para “Pangeran” ala Macchiavelli. Partai politik ini berusaha untuk menaklukkan masyarakat yang secara otomatis akan menaklukkan pula pemerintah yang memimpin masyarakat tersebut, entah melalui mutasi, reformasi atau revolusi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Analisa bergaya marxisme atau bernuansa Gramsci dapat digunakan dalam agenda neoliberal dan hubungannya terhadap penyebaran pemikiran “New Public Management” (NPM) di berbagai belahan dunia. NPM merupakan produk dari neoliberalisme, sehingga teori yang muncul pun selalu menguntungkan pergerakan golongan neoliberal, terutama dalam bentuk privatisasi yang terjadi di berbagai negara. Gagasan Gramsci ini secara garis besar telah dikemukakan guna mendukung kepentingan ekonomi dari kubu-kubu yang memiliki prioritas dan agenda masing-masing. Diskursus publik ialah mengenai bagaimana sebuah organisasi publik bekerja bukanlah wilayah dimana para pemikir berdebat untuk menyelesaikan permasalahan barang publik akan tetapi sebuah arena pertarungan dimana kepentingan kelompok akan lebih aktif berperan bersama “intelektual organik” agar dapat mendominasi secara global, nasional maupun lokal, demi membentuk sebuah organisasi publik yang akan memperluas pengaruhnya (sebuah kelompok kepentingan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dan pendekatan terakhir yang penulis akan bahas adalah eksistensialisme. Pertama, penulis tidak percaya jika eksistensialisme yang justru menjadi titik tekan dalam pendekatan yang mampu digunakan secara meluas di bidang administrasi. Pendekatan ini dilahirkan oleh Martin Heidegger (filsuf asal Jerman di era Nazi) dan dipopulerkan oleh Jean Paul Sartre dari Perancis. Eksistensialisme besar di tengah-tengah amarah mahasiswa di Perancis dan mereka menuntut bahwa para “administrator” yang seharusnya melaksanakan kewajibanya melebihi tugas yang dibebankan, agar memahami permasalahan yang seharusnya ditanggulangi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Eksistensialisme disini menunjuk para administrator tadi untuk lebih mampu bertindak &lt;em&gt;luwes&lt;/em&gt; agar keberadaan mereka dapat memproyeksi masa depan yang lebih baik. Pendekatan ini mengumandangkan kebebasan administrator publik dalam bertindak guna untuk menyelesaikan kebutuhan publik yang butuh diselesaikan secepat mungkin. Birokrat yang memiliki keilmuan lebih mengenai sebab-akibat dari sesuatu yang ia lakukan dapat mengaplikasikan keilmuan mereka untuk memenuhi kepentingan publik, dan bukan untuk kepentingan diri sendiri (karena akan menyebabkan korupsi dan sejenisnya). Mereka harus memahami hakikat keberadaan mereka sehingga dapat melaksanakan tugas semaksimal mungkin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, semenjak munculnya “Public Governance”, kesadaran ini juga harus ditularkan kepada warga negara agar mereka awas terhadap kinerja para administrator, semua demi pelaksanaan kebijakan yang efektif dan efisien juga kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang didapat. Jadi peran aktif masyarakat juga menentukan kepuasan mereka sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terpaksa penulis harus memotong penjabaran mengenai pendekatan-pendekatan filsafat dalam administrasi negara, karena masih banyak lagi pandangan-pandangan para filsuf yang sejatinya dapat diterapkan dalam studi ke-administrasi-an. Buku ini hanyalah pengantar bagi para administrator, dosen, mahasiswa ilmu administrasi dan khalayak umum (karena penggunaan bahasa yang halus) untuk memahami bahwa ilmu filsafat sangat bisa masuk kepada ranah-ranah teknis. Karya profesor Ongaro ini telah mendobrak paradigma ilmu administrasi yang membosankan menjadi sebuah ilmu yang patut dihargai akan kerumitannya, tidak hanya mekanis namun juga bersifat lentur dan selalu berkembang. Buku ilmiah ini sangat disarankan oleh penulis untuk menjadi salah satu referensi di seluruh departemen maupun jurusan ilmu administrasi publik. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>08 Feb 2018</pubDate>
        <link>/ilmu-administrasi-tidak-membosankan</link>
        <guid isPermaLink="true">/ilmu-administrasi-tidak-membosankan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Asal Muasal Neoliberalisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: A Research Agenda for Neoliberalism&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Kean Birch&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Edward Elgar Publishing&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: x+193 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa hari yang lalu, saya membaca &lt;a href=&quot;https://www.jacobinmag.com/2014/12/foucault-interview&quot;&gt;artikel wawancara&lt;/a&gt; antara majalah Jacobin dengan Daniel Zamora mengenai Foucault. Perbincangan yang menarik itu dimuat dalam website The Jacobin dan memperjelas pula kedudukan Foucault sebagai salah satu punggawa neoliberalisme. Lucunya, banyak yang membenci kata ini tapi tidak paham arti katanya. Tidak sedikit pula yang menolak untuk mempelajarinya, hanya karena dituding sebagai sumber eksploitasi. Itulah penyakit intelektual masa kini yang tergolong separatis antara satu sama lain hanya karena berbeda pandangan, intelektual jaman sekarang suka &lt;em&gt;baper&lt;/em&gt; jika dikritik, terutama yang dari Indonesia. Tapi apakah para pemikir neoliberalisme sama? Mari kita cari tahu dari ulasan singkat dibawah ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kean Birch menguraikan neoliberalisme sebagai istilah yang menggambarkan susunan yang ada dalam masyarakat dewasa ini. Istilah ini berkonotasi buruk, menghina dan kadang merendahkan pandangan pemikir yang menganggap bahwasanya pasar tidak perlu diintervensi (diganggu) dan diatur oleh pemerintah dalam hal kompetisi dan pembentukan harga. Orang seperti Friedman (Milton) beranggapan bahwa pasar sangatlah efisien dan akan membentuk harga yang paling murah. Hayek juga berpendapat mengenai pentingnya peran pemerintah hanya untuk memastikan pasar berjalan dengan baik. Namun pemerintah tidak boleh campur tangan terlalu dalam, karena mereka memiliki kemungkinan untuk menjadi otoriter dan mengganggu kestabilan pasar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mengartikan neoliberalisme sendiri ternyata bergantung pada sudut mana kita berdiri melihat asal muasal ideologi ini. Bagi kawan-kawan yang sudah dicekoki marxisme, pastinya selalu akan menghujat neoliberalisme sebagai iblis yang menghantui kehidupan para buruh. Untuk mereka yang terbuka pikirannya seperti Foucault, neoliberalisme adalah sebuah pandangan mengenai lapisan-lapisan yang ada di masyarakat, tidak hanya lapisan ekonomi akan tetapi juga budaya dan menjadikan neoliberalisme sesuatu yang pantas untuk didiskusikan di ranah akademis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menguak kisah neoliberalisme, ternyata bermula dari pandangan neo-konservatisme yang kerap ditempelkan pada Mahzab Chicago (ternyata Amerika punya mahzab) yang dimiliki oleh saudara Milton Friedman. Adapun yang mengatakan (Mirowski dan Plehwe) asal muasal neoliberalisme adalah &lt;em&gt;Mont Pelerin Society&lt;/em&gt; (MPS) di tahun 1947. Yang pasti, neoliberalisme diawali dengan tumbangnya kapitalisme ala &lt;em&gt;laissez-faire&lt;/em&gt; dari liberalisme di abad kesembilanbelas atau kisaran 1800an. Kelahiran kelompok liberal ini pada kisaran 1920an yang ditandai dengan munculnya Mahzab Ordo Liberal yang merupakan gabungan pemikir-pemikir liberal yang sebelumnya individualis, namun sekarang bergabung dalam satu kelompok tersebut. Beberapa mahzab lainnya ialah Mahzab Chicago, Mahzab Inggris (LSE), Mahzab Austria dan beberapa mahzab yang kalah namanya dengan pemikir marxis, namun lebih nyata dalam menyelesaikan masalah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketika pertemuan di Colloque Walter Lippman tahun 1938 di Paris, para mahzab ini berkumpul dan secara tidak langsung menyebut diri mereka sebagai liberal baru (prototip neoliberal), namun pada saat ini masih belum ada sebutan neoliberalisme. Dalam pertemuan ini, para partisipan mendiskusikan mengenai cara-cara untuk menerapkan gagasan-gagasan liberal dalam sebuah kebijakan, bidikan mereka sudah memasuki tahap kebijakan yang diterapkan oleh negara, bukan hanya demonstrasi. Gaya berpikir semacam inilah yang membuat intelektual neoliberal acapkali beberapa dekade lebih maju ketimbang para aktivis marxis yang konon kabarnya menyebut diri mereka “progresi revolusioner”, padahal tidak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasca pertemuan di Colloque Walter Lippman, kelompok pemikir ini menyebar ke hampir seluruh belahan dunia sebagai efek melarikan diri dari kejaran fasisme. Beberapa tahun kemudian, Friedrich Hayek menginisiasi pertemuan di desa Mont Pelerin, Switzerland dengan kawan-kawan “neolib” nya dan melahirkan MPS sebagai pusat pemikiran kolektif neoliberalisme. Beberapa tujuan dari MPS ini masih ada sampai sekarang, seperti: mendefinisikan ulang makna pemerintah agar dapat membedakan pemerintah fasis dengan liberal, analisa dan eksplorasi dari krisis masa kini agar menemukan pesan moral juga penyelesaian ekonominya, memunculkan metode untuk menetapkan sebuah peraturan agar kebebasan seorang manusia tidak menjadi basis bagi kekuatan predatoris, dan beberapa pandangan lain yang sampai sekarang (secara tidak sadar) masih kita gunakan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perkembangan neoliberalisme hingga dewasa ini jarang sekali menyebut diri mereka sebagai kelompok neoliberal, karena konotasi buruk yang disematkan oleh musuh mereka. Naasnya, musuh mereka ini tidak memahami betul apa yang harus dilakukan sehingga jatuh hanya pada wacana dan fungsi kritik saja tanpa solusi yang kuat, tidak seperti golongan neoliberal. Kelompok neoliberal juga mengembangkan pandangan &lt;em&gt;ideational&lt;/em&gt; yang mampu menjelaskan kenapa sebuah organisasi kerap berubah-ubah (sesuai kebutuhan organisasi). Neoliberalisme ini sangat menarik dibahas karena kedekatannya dengan konsep &lt;em&gt;governmentality&lt;/em&gt; yang dibawa oleh Michel Foucault, meskipun menurut Birch konsep tersebut masih kurang dinamis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak lagi yang dibahas oleh Kean Birch dalam bukunya ini. Saya sangat merekomendasikan untuk membeli dan membaca buku ini agar kita memahami dengan komprehensif makna dari neoliberalisme, baik secara sosial-politik maupun ekonomi. Dengan penggunaan bahasa yang bisa dibilang keluar koridor “ilmiah” dan terkesan komunikatif, ini adalah buku Penerbit Edward Elgar yang tidak membosankan, jarang bisa menemukan buku ilmiah dengan bahasa yang renyah semacam ini. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>04 Feb 2018</pubDate>
        <link>/asal-muasal-neoliberalisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/asal-muasal-neoliberalisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Pieterse dan Mitos Ketentaraan Amerika</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Is There Hope For Uncle Sam ?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Jan Nederveen Pieterse&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Zed Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 216 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2008&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akhir-akhir ini sedang &lt;em&gt;booming&lt;/em&gt; kisah mengenai kemampuan Presiden Jokowi dalam melakukan taktik &lt;em&gt;smoke and mirrors&lt;/em&gt; yang ditulis oleh wartawan senior John McBeth di Asia Times. Kekagetan khalayak umum di Indonesia adalah penggunaan kata yang belum pernah mereka dengar dan menganggapnya sebagai tuduhan serius kepada Pak Presiden. Jikalau publik lebih bisa berpikir dengan kepala dingin, maka tulisannya bukan tuduhan, akan tetapi kritikan. Harusnya kita dapat membedakan antara tuduhan dan kritikan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di Amerika Serikat, kritikan merupakan hal yang biasa saja. Masyarakat sudah menjadi sangat terbuka, sehingga para wartawan maupun intelektual yang melakukan kritik terhadap pemerintah AS semacam Naomi Klein ataupun Noam Chomsky ditolerir, &lt;em&gt;toh&lt;/em&gt; dari kritikan mereka, pemerintah AS akan paham kebijakan mana yang seharusnya mereka perbaiki. Dari jajaran para pengkritik ini, ada seorang dosen dari Universitas California di Santa Barbara yang cukup keras jika melakukan kritikan, dia adalah Profesor Jan Nederveen Pieterse.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam bukunya ini, Pieterse mengkritik AS bukan dengan teori &lt;em&gt;smoke and mirrors&lt;/em&gt; akan tetapi menggunakan kata &lt;em&gt;American Bubbles&lt;/em&gt; dimana pemerintah AS memilih untuk menarasikan kepribadian mereka melalui media massa, para politisi, para guru, film, musik, dan novel sebagai sebuah komunitas yang terbayangkan. Kata &lt;em&gt;bubbles&lt;/em&gt; (gelembung)  disini mengilustrasikan bagaimana pemerintah AS seringkali membesar-besarkan apa yang mereka mampu lakukan. Gelembung tersebut berisikan banyak gelembung lain yang merepresentasikan keseberagaman penduduk Amerika dan berbagai macam kisah yang ada didalamnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa komponen gelembung yang paling ditonjolkan oleh Amerika Serikat adalah kekuatan militer mereka selaku negara adikuasa, hubungan mereka dengan Israel, pengaruh kuat dari perusahaan swasta dan masih banyak cerita lainnya. Yang paling menjadi perhatian dari Pieterse adalah absennya kekuatan sosial di masyarakat Amerika sekarang. Memang ada kelompok-kelompok sosial dan wajah-wajah yang merepresentasikan mereka, namun dalam media, mereka hanya dilukiskan, tidak diwawancarai secara langsung semisal ada permasalahan yang menyangkut hajat hidup masyarakat yang berkenaan dengan kelompok sosial terkait. Media berperan penting dalam membantu absen nya kekuatan sosial ini, karena tidak bersinggungan secara langsung.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penjelasan berikutnya mengenai teori gelembung ini adalah kebiasaan negara-negara ekspansionis atau hegemonik mengenai kemampuan militer mereka. Amerika sendiri adalah merupakan negara hegemonik terbesar di dunia dengan kemampuan untuk mengatasi konflik yang besar. Menurut Pieterse, mereka mempromosikan kekuatan militernya lebih dari bidang lain seperti pendidikan dan kejaksaan. Hal ini ditopang pula oleh industri mainan yang memproduksi &lt;em&gt;GI Joe&lt;/em&gt; dan juga game semacam &lt;em&gt;America’s Army&lt;/em&gt;, belum lagi saluran TV yang bernama &lt;em&gt;The Pentagon Channel&lt;/em&gt; tiap detiknya menyiarkan cerita mengenai tentara Amerika.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kekuatan militer ini didukung sangat besar oleh industri perfilman di Amerika yang juga menggunakan helikopter, pesawat perang, dan tentara yang sedang tidak bertugas dengan harga yang rendah. Semuanya disetujui oleh Pentagon karena dianggap akan memberi aura positif terhadap dinas ketentaraan di AS dan menunjang rekrutmen tentara. Bahkan CIA dan FBI pun mendukung perfilman ketentaraan Amerika yang dapat membenarkan anggaran mereka yang selalu dianggap sebagai sebuah pemborosan bagi publik yang skeptis. Beberapa contoh film yang berhubungan dengan ketentaraan: Black Hawk Down(2001), Rambo vol. 1-4 (1982, 1985, 1988, 2008), 12 Strong (2018), Captain America (2011) dan masih banyak lagi contohnya yang mengangkat kisah kepahlawanan para tentara Amerika.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu kasus fabrikasi (pembuatan) kisah ketentaraan yang terlampau heroik ialah cerika serdadu Jessica Lynch yang menurut &lt;em&gt;Washington Post&lt;/em&gt; melakukan perlawanan dengan menembakkan seluruh amunisinya hingga habis. Dan juga kisah mengenai Pat Tillman yang katanya mati karena hujan tembakan dari musuh di Afghanistan, ternyata mati ditembak oleh salah satu tentaranya sendiri. Pastinya sangat memalukan saat fabrikasi yang dilakukan oleh pemerintah AS gagal memberikan glorifikasi terhadap para tentaranya. Namun masyarakat masih memiliki kepercayaan yang cukup tinggi, sampai pada angka 79%.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kisah-kisah dan pemberitaan yang sering kita tonton atau kita baca mengenai kemampuan tentara dan juga intelijen AS dalam berperang yang kerapkali di fabrikasi ini merupakan contoh nyata dari keberadaan &lt;em&gt;American Bubble&lt;/em&gt;. Jika kita mempercayai dengan cepat kisah dan berita tersebut, maka kita akan membenarkan seluruh kebijakan perang AS, maka kita akan melihat invasi sebagai sebuah usaha pembebasan dan demokratisasi, Intelijen yang tidak memproduksi kepandaian sama sekali, perang yang bersifat preventif yang sebenarnya tidak preventif sama sekali, sebuah koalisi dengan Irak yang sebenarnya bukan bentuk dari sebuah koalisi (dapat ditemukan dalam film 12 Strong antara Jendral Abdul Rashid Dostum dengan salah satu tim dari kesatuan baret hijau). Pesan yang disampaikan oleh Pieterse disini ialah jangan mudah mempercayai informasi dari Amerika Serikat.&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>02 Feb 2018</pubDate>
        <link>/pieterse-dan-mitos-ketentaraan-amerika</link>
        <guid isPermaLink="true">/pieterse-dan-mitos-ketentaraan-amerika</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Lahirnya Penjara, Sebuah Kisah Mengenai Surveillance</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Discipline and Punish&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Paul-Michel Foucault&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Vintage Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 333 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1995&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selang beberapa menit sebelum meresensi buku &lt;em&gt;Discipline and Punish&lt;/em&gt; ini, peresensi berusaha menuliskan intisari dari buku &lt;em&gt;The Order of Things&lt;/em&gt;, namun gagal karena keterbatasan kemampuan dalam memahami apa maksud dari buku tersebut. Memang karya-karya Foucault termasuk berat dalam memahaminya, terutama karena kosakata yang sangat jarang kita gunakan ternyata muncul dalam barisan kalimat Foucault.  Dalam tulisannya yang satu ini, saya meyarankan para pembaca yang antusias untuk membuka gambar dalam mesin pencari dengan kunci: Panoptikon.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu ide yang diangkat dalam buku ini adalah panoptikon yang diuraikan sebagai sebuah sistem pengawasan terhadap tiap individu. Studi kasus yang diambil adalah kejadian wabah di abad ketujuhbelas. Adanya sistem hirarki dimulai dari pengawas yang disebut &lt;em&gt;syndic&lt;/em&gt; ditugaskan untuk mengamankan tiap rumah oleh si penguasa kota sebagai tingkat komando paling atas. Pengawasan ini dilakukan secara berkala dan dalam tempo yang tidak ditentukan atau hingga wabah selesai ditanggulangi. Dalam penyelesaian wabah tersebut, ada cita-cita politik didalamnya untuk menciptakan masyarakat sempurna dan disiplin yakni dengan menekankan peraturan perundangan dari setiap detail kehidupan tiap penduduknya, menghasilkan sebuah sistem pendisiplinan yang ketat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Wabah telah memunculkan sebuah proyek pendisiplinan melalui pemisahan tiap individu yang diwajibkan guna mencegah melebarnya wabah. Wabah pula yang menghasilkan organisasi dengan kontrol dan pengawasan terhadap tiap individu yang disertai percabangan dan penguatan kekuasaan di suatu wilayah yang terjangkit. Inilah yang menjadi cita-cita “utopis” yang mengilustrasikan sebuah kota yang diperintah secara sempurna. Kesempurnaan menjadi &lt;em&gt;trademark&lt;/em&gt;. Mereka yang terkena wabah akan disingkirkan dan “diperbaiki”, akan tetapi mereka dikumpulkan dalam sebuah tempat tersendiri agar dapat diperbaiki secara terus-menerus hingga kembali sempurna.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cara-cara dalam menangani wabah digunakan lagi di abad kesembilanbelas secara berkelanjutan di tempat-tempat yang berisi manusia tidak sempurna. Tempat-tempat tersebut ialah rumah sakit jiwa, penjara, lapas, panti asuhan, bahkan rumah sakit. Dari kemunculan tempat/lembaga semacam itu, muncul pula cap terhadap manusia tidak sempurna seperti narapidana, orang gila, orang sakit, dll. Tempat yang digunakan, terutama penjara, dalam mengawasi mereka lah yang disebut Panoptikon.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foucault mengilustrasikan panoptikon yakni tempat luas berisi banyak sel dan ditengah-tengah ada sejenis tower yang mengawasi sel-sel tersebut. Tiap individu dalam sel tersebut merupakan objek yang harus diawasi, dia dapat dilihat namun tidak dapat melihat. Ia menjadi obyek informasi namun tidak dapat berkomunikasi dengan orang lain selain sipir/penjaganya. Tujuan dari panoptikon adalah untuk memberi pemahaman kepada tahanan atas kesalahan mereka dan juga memastikan bahwa kekuasaan berfungsi kepada mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Panoptikon ini juga untuk memperlihatkan bahwa kekuasaan itu ada di sekitar kita namun terpusat tapi tetap bisa mengawasi seluruh gerak-gerik kita. Pada suatu sisi kita memang tidak dapat melihat siapa yang mengawasi kita, tapi kita harus tetap waspada bahwa ada (negara) yang selalu mengawasi tiap individunya. Panoptikon merupakan bentuk dari kekuasaan, kita/narapidana tahu bahwa ada benda tersebut (panoptikon/negara), namun disisi lain kita/narapidana tidak benar-benar paham mengenainya (panoptikon/negara).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kekuasaan yang berada dalam arsitektur panoptikon tidak hanya untuk penguasa itu sendiri, akan tetapi mereka berkewajiban melakukan perbaikan terhadap abnormalitas yang ada (disekitarnya). Foucault mencontohkan panoptikon dalam tiga ranah: sipir atau penjaga yang bertugas pula mencari cara paling ampuh untuk memberikan hukuman paling efektif guna memunculkan rasa jera dari narapidana, dokter yang mengobservasi pasiennya demi mencari pengobatan yang sesuai dan mandor dalam pekerjaan tiap orang agar giat bekerja. Panoptikon merupakan sebuah testimoni atas pengetahuan (penemuan) yang nantinya berhubungan dengan penggunaan kekuasaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berubahnya kekuasaan seiring berjalannya waktu patut digarisbawahi. Diabad ketujuhbelas, jika ada wabah, kekuasaan langsung meluas kemana saja melalui agen-agennya guna mengawasi ketidaksempurnaan atau abnormalitas, lalu ditemukan panoptikon agar lebih mudah dalam melakukan pengawasan dan pembenahan dimana manusia-manusia yang tidak sempurna tadi dikumpulkan dalam suatu tempat tertentu lalu dipisahkan antara satu sama lain dan menjadi objek agar dapat diperbaiki dan dikembalikan ke masyarakat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun kekuasaan tiap personel dalam panoptikon ternyata didapat tidak secara serta-merta, mereka adalah orang yang dipilih oleh masyarakat dan bekerja untuk masyarakat, dipilih secara demokratis kata Foucault. Karena itu masyarakat boleh memasuki RSJ ataupun penjara dengan mengikuti aturan yang berlaku. Jika institusi pengkoreksian melarang masyarakat untuk masuk dan melihat kedalamnya, maka institusi itu menjadi tiran dan tidak dapat membenahi lagi manusia-manusia yang tidak sempurna.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Panoptikon muncul sebagai sebuah instrumen dalam melaksanakan kekuasaan yang bukan lagi hanya untuk kedaulatan para raja, namun sebuah relasi kedisiplinan yang membentuk karakter menjadi manusia yang sempurna. Fungsi koreksi inilah yang membedakan penggunaan kekuasaan zaman kegelapan dan era modern ini. Bertugas untuk membuat masyarakat berjalan sesuai dengan aturan melalui tekanan mekanisme kedisiplinan dalam bentuk paksaan yang halus demi merubah perilaku individu menjadi lebih baik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak pembahasan lain yang menarik dalam buku &lt;em&gt;Discipline and Punish&lt;/em&gt; ini. Beberapa diantaranya adalah mengenai penghakiman, kontrol sosial, siksaan, paksaan, pendisiplinan, dsb. Inilah karya Foucault yang secara gamblang menjelaskan mengenai kekuasaan namun pada tataran kedisiplinan sebagai tujuannya. Terlepas pendekatannya yang terlampau filosofis, namun buku ini dikategorikan kriminologi oleh Vintage, sebuah arkeologi mengenai kriminalitas, kegilaan dan kedisiplinan. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>24 Jan 2018</pubDate>
        <link>/lahirnya-penjara-sebuah-kisah-mengenai-surveillance</link>
        <guid isPermaLink="true">/lahirnya-penjara-sebuah-kisah-mengenai-surveillance</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Dari Foucault Untuk Seluruh Dokter dan Mahasiswanya</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Birth of Clinic&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Michel Foucault&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Vintage&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xix+215 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1994&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foucault tidak henti-hentinya membuat kita kaget dan terkesima. Meskipun ia menjadi salah seorang filsuf yang bekerja sebagai pengajar sekaligus sejarawan, namun ternyata ekspektasi orang tua Foucault menginginkan dia menjadi dokter. Jika saja ia memilih menjadi dokter, namanya tidak akan se-tenar sekarang, ia hanya akan menjadi dokter selazimnya yang hanya membuka praktek, namun tidak begitu banyak menorehkan karya. Akan tetapi meskipun begitu, ia tetap menuliskan mengenai kesehatan, dalam sudut pandang arkeologi dan sejarah. Mungkin buku ini adalah permintaan maaf sekaligus ungkapan rasa terima kasih Foucault terhadap orang tuanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menjelaskan tubuh manusia, Foucault menyebutnya sebagai sebuah ruang. Ruang dimana segala macam penyakit berasal dan tersebar. Juga sebagai sebuah ruang dimana ada gambaran garis, volume, rute dan beserta geometri yang menyatu menjadi sebuah atlas yang ia sebut sebagai anatomi. Tubuh yang berpenyakit atau tubuh dari orang sakit merupakan sekumpulan fakta dan data sejarah yang bersifat temporer, singkat kata, tubuh itu adalah obyek penelitian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun penyakit-penyakit telah diberikan sebuah kategorisasi sesuai dengan ruang-ruang bagian tubuh, contohnya ialah ingusan (catrrh) selalu berada pada bagian kerongkongan, penyakit semacam disentri pasti berada di bagian usus, seperti halnya katarak hanya terjadi di mata. Dalam ruang tubuh kita juga terjadi hubungan vertikal yang kerap memunculkan penyakit, seperti demam yang merupakan perhelatan antara suhu dingin dan panas.  Demi memahami penyakit, dokter harus seperti pelukis yang sering-sering mengamati obyek lukisannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lukisan yang digambarkan oleh para dokter harus sesuai dengan bentuk manusia. Perbedaan dari penyakit yang diidap oleh seorang pasien akan dapat dipahami apabila sang dokter memahami betul persamaan dan perbedaan gejala-gejala penyakit para pasiennya. Gangguan berupa penyakit ini setelah dianalisa oleh si dokter akan mengeluarkan abstraksi kehidupan si pasien, termasuk umur, cara hidup, lingkungan tempat tinggal, dari situ lah para dokter akan mendapatkan sebuah pencerahan akan apa yang sedang diidap oleh pasiennya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Intervensi yang dilakukan oleh dokter adalah kekerasan berupa pemaksaan, namun memiliki justifikasi demi penyembuhan tubuh sang pasien. Saat penyebab penyakit ialah gaya hidup yang tidak sehat atau lingkungan yang kotor, semacam kurang makan atau terlalu sering bekerja, tempat tinggalnya kumuh, maka tugas dokter, bagi Foucault akan berubah menjadi politis. Penyembuhan diawali dengan melawan pemerintah yang buruk sehingga ada warga negaranya yang sakit dikarenakan lingkungan kotor. Namun kisah ini sangatlah berbelit.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foucault juga menguraikan mengenai klinik, sebuah tempat dimana para pasien bersemayam. Menurut dia, ide mengenai tempat tidur untuk para pasien di sebuah tempat khusus ini berasal dan menjamur dari abad kedelapanbelas. Di sinilah manusia (yang sakit) menjadi objek untuk diamati yang dibentuk menjadi elemen yang dapat dianalisa agar dapat memformulasikan penyembuh (obat-obatan). Klinik lah yang merupakan tempat untuk melihat pasien secara terus menerus dan membuat ilmu pengobatan tidak pernah menghilang. Prototipe klinik yang pertama didirikan oleh Francois de la Boe pada tahun 1658 di Leyden. Klinik lah yang menjadi pondasi dasar dari pelajaran kedokteran. Dan pelajaran bagaimana cara memperlakukan pasien dengan benar. Kenyamanan dalam klinik juga merupakan fokus utama klinik itu, jika pasien tidak nyaman bisa memperburuk keadaannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perkembangan ilmu kedokteran sendiri sempat terhambat selama 150 tahun akibat tidak diperbolehkannya melakukan otopsi/pembedahan. Penolakan keras berasal dari kelompok agamis dan mereka yang beranggapan bahwa tindakan tersebut tidak bermoral. Pada saat-saat kegelapan tersebut, pembedahan mayat dilakukan secara tersembunyi untuk menemukan ilmu-ilmu yang berada di balik tubuh manusia, untuk memahami cara kerja bagian tubuh kita. Semua dilakukan atas nama ilmu pengetahuan. Pasca abad pencerahan, mayat yang awalnya hanya makanan bagi cacing malah menjadi sumber ilmu kedokteran yang berlanjut hingga era modern ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foucault juga berargumen dalam buku ini mengenai pentingnya sertifikasi dokter dan kualifikasi yang harus dipenuhi seseorang untuk menjadi dokter. Dibentuk dalam suatu peraturan perundangan yang disebut sebagai &lt;em&gt;The Decrees of Marly&lt;/em&gt;. Bagi Foucault, seseorang tidak seharusnya melakukan pengobatan jika tidak memiliki lisensi. Dengan formalisasi pendidikan kedokteran di Fakultas Kedokteran, dokter tidak lagi melakukan penemuan-penemuan hebat namun hanya mengajar di ruang kelas. Hal ini membuat pendidikan dokter menjadi mahal dan ditambah lagi setelah lulus mereka masih harus belajar bersama beberapa dokter ternama yang membuat biaya mereka belajar berlipat-lipat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejak formalisasi ini, hilanglah budaya &lt;em&gt;master-apprentice&lt;/em&gt; dalam dunia pengobatan. Tidak lagi &lt;em&gt;medicine&lt;/em&gt; dimaknai sebagai pengobatan namun kedokteran (pergeseran makna). Perlu kualifikasi tertentu dalam menjadi dokter, posisi tabib sudah menghilang dari bumi manusia ini. Dokter meminta para pasiennya untuk memahami bahwa tubuh yang bersifat biologis berbeda dengan yang politis (Hobbesian), kesehatan hanya terfokus pada diri masing-masing individu, tidak menegakkan hukum atau memerintah individu yang lain.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak pembahasan mengenai sejarah pengobatan dan kedokteran yang diungkap oleh Foucault dalam buku ini. Tidak dapat dipungkiri bahwa karyanya yang satu ini adalah yang ketiga paling berat untuk dipahami setelah &lt;em&gt;The Archeology of Knowledge&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;The Order of Things&lt;/em&gt;. Pastinya penulisan Foucault selalu kronologis dan penuh aktor baru yang dimana kita sendiri belum pernah mendengar namanya. Penggunaan bahasa dalam buku ini pun tingkatnya cukup rumit, perlu kamus bahkan untuk mahasiswa filsafat maupun kedokteran sendiri. Akan tetapi sisi baiknya adalah bertambahnya kosakata kita dalam bahasa Inggris. Akhir kata, resensi mengenai Foucault adalah yang paling berat yang pernah saya lakukan, sampai pening ini kepala, semoga bermanfaat. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>22 Jan 2018</pubDate>
        <link>/dari-foucault-untuk-seluruh-dokter-dan-mahasiswanya</link>
        <guid isPermaLink="true">/dari-foucault-untuk-seluruh-dokter-dan-mahasiswanya</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Piketty dan Ekonomi Global</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Chronicles&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Thomas Piketty&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Viking/Penguin Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 181 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Thomas Piketty, nama ini belum begitu kondang di Indonesia, maklum salah seorang profesor yang masih muda (46 tahun). Dia adalah salah seorang profesor dibidang ekonomi di Paris School of Economics. Namanya tidak begitu dikenal hingga ia menuliskan &lt;em&gt;masterpiece&lt;/em&gt;-nya yang berjudul &lt;em&gt;Capital in the Twenty-First Century&lt;/em&gt;, buku tersebut langsung melejit dan menjadi laris di seluruh belahan dunia. Sejak itulah ia dikenal sebagai salah satu akademisi berhalauan marxis. Sebuah generasi baru dari marxis abad dua satu seperti beliau, Naomi Klein, Danny Dorling dan kawan-kawan sejawatnya. Berikut ini adalah sedikit ulasan mengenai karyanya yang lain, selamat menikmati.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini merupakan kumpulan esainya yang mengisi kolom-kolom koran ataupun media mainstream lainnya. Adapun beberapa tulisan dalam buku ini pernah dibukukan sebelumnya, seperti &lt;em&gt;Why Save The Bankers?&lt;/em&gt; Artikelnya berisi mengenai krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat. Krisis moneter tersebut membuat Bank Sentral Amerika hendak dengan cepat me-nasionalisasi sementara dari sistem finansial yang ada. Piketty berargumen bahwa usaha tersebut memang hebat, namun hanya akan membebankan para pembayar pajak. Kenapa? Karena usaha nasionalisasi membutuhkan dana, dan sebagai bagian dari pemerintah AS, Bank Sentral Amerika mendapat gelontoran dana tersebesar melalui pembayar pajak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa minggu setelah permasalahan di AS, Piketty juga menjelaskan problematika yang muncul di Uni Eropa (UE). Mereka berusaha mendirikan bank kontinen Eropa setelah melihat AS menasionalisasi bank-bank yang ada. UE tidak melihat dampak terhadap para pembayar pajak. Adanya perbedaan antara pendapatan domestik bruto (PDB) dengan kekayaan nasional di negara-negara seperti Perancis membuat kesenjangan semakin meluas dan pada titik ini, strategi kapitalistik macam apapun tidak dapat menyelesaikannya. Apalagi Bank Dunia yang selalu bermotto mengentaskan kemiskinan nyatanya makin membuat negara maju maupun berkembang semakin banyak angka kemiskinannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Amerikanisasi yang terjadi di berbagai belahan dunia, memperlihatkan bahwa pemerintah mau melakukan apa saja, bahkan berhutang sekalipun untuk menyelamatkan bank. Padahal, dalam perbankan, nasabah yang memiliki segalanya. Yang dilindungi seharusnya adalah nasabahnya, bukan banknya. Perbankan tidak memiliki apa-apa, semua uang dan pemasukan dari Bank berasal dari nasabah. Nasabah ini pastinya adalah para pembayar pajak pula, maka dari itu, regulasi yang dikeluarkan pemerintah seharusnya mengamankan para nasabah, bukan bank dan bankirnya. Seharusnya ada garansi dari para pemilik saham maupun manajer bank bahwa mereka akan mengganti uang nasabahnya jika ada kesalahan dalam sistem perbankannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam masa krisis, menurut Piketty ada beberapa perdebatan yang akan masuk dalam benak kita. Terutama mengenai upah dan profit, mana yang didahulukan? Mengambil studi kasus di Prancis, ia mengatakan bahwa kesenjangan di negara menara Eiffel tersebut semakin meluas dalam satu dekade terakhir ini (antara 1998-2005) dimana banyak orang kaya terlindungi dengan kebijakan yang mengamankan posisi mereka dari pajak. Pabrik-pabrik di Prancis mendapat untung bersih hampir setengah dari uang yang dikeluarkan untuk membayar upah pekerja. Keuntungan semacam ini membuat kesenjangan di Prancis semakin membesar, karena keuntungan sebesar itu dibagi oleh hanya beberapa pemegang saham, sedangkan dana untuk upah yang notabene “lebih” besar dibanding keuntungan bersih perusahaan, dibagi oleh pekerja yang begitu banyak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasar dan Pajak merupakan inti pemikiran dari Piketty sejauh ini, banyak dari tulisannya yang kerapkali menaganalisa kebijakan dalam maupun luar negeri mengenai perpajakan dan hubungannya dengan pasar. Ia pun mengeluarkan pandangan bahwasanya negara terkadang harus berhadapan dengan pasar dalam menentukan sebuah kebijakan yang layak pakai. Di Eropa pun sekarang mulai membuat kebijakan yang bahkan melawan pasar dan melimitasi geraknya melaui regulasi-regulasi dari Uni Eropa dengan cara memberikan tagihan-tagihan pendapatan nasional kepada parlemen Eropa untuk diaudit ulang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semua ini berhungan dengan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dapat terlaksana dengan dua syarat: pertumbuhan jumlah penduduk atau pertumbuhan produktivitas pekerja yang nantinya akan berdampak pada naiknya pendapatan per kapita. Dua hal diatas ialah untuk mencapai efisiensi yang didambakan oleh para ekonom. Ahli-ahli ekonomi dewasa ini mempercayai pasar bebas dan juga perdagangan bebas karena itulah yang diajarkan kepada mereka, bahwa pelaksanaan ekonomi yang paling efisien ialah melalui pasar bebas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para ekonom jaman sekarang sedang berlomba-lomba mencari cara agar dapat menciptakan laba sebanyak mungkin dan menguntungkan mereka yang mempekerjakan para ahli ekonomi tersebut. Bertumpu kepada pasar bebas yang kompetitif adalah cara untuk memaksimalkan keunggulan komparatif baik perusahaan maupun negara. Akibatnya selama hampir tiga dekade terjadi liberalisasi perdagangan dimana-mana. Redistribusi pajak pun yang menjadi tujuan utama negara menjadi terbengkalai dan dinomerduakan. Pajak menjadi senjata utama negara untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dilimpahkan kepada kelas menengah-kebawah, sedangkan orang kaya mendapat keuntungan dari pemotongan pajak, padahal mereka sudah diuntungkan dengan globalisasi dan liberalisasi perdagangan. Setiap kebijakan pemerintah pastinya seperti domino, saat satu jatuh, lainnya juga ikut jatuh. Sekilas pandangan Piketty sangat lah luas namun terfokus sekali dalam mengulasnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk beberapa artikel, Piketty membahas ekonomi dengan sangat melebar, ia kerapkali melakukan perbandingan antar negara dengan tiap kebijakan ekonomi yang diambil. Lalu memberikan gambaran umum mengenai kebijakan tersebut dan dampaknya kepada penduduk negara terkait. Penggunaan bahasa Monsieur Piketty pun sangat mudah, yang membuat sulit ialah mencari benang merah dari tulisan-tulisannya yang terlihat &lt;em&gt;random&lt;/em&gt; ini. Tulisan beliau berdampak pada resensi kali ini yang terlihat random, dalam mencari benang merahnya, penulis kembalkan kepada para pembaca yang budiman. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>20 Jan 2018</pubDate>
        <link>/piketty-dan-ekonomi-global</link>
        <guid isPermaLink="true">/piketty-dan-ekonomi-global</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Menguak Warisan Neoliberal Milton Friedman</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul buku: The Shock Doctrine&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Naomi Klein&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Penguin Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal buku: 558 hlm&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun terbit: 2007&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Resensi kali ini barangkali bukanlah dari buku terbitan paling baru. Tetapi buku ini termasuk buku penting untuk memahami cara kerja kapitalisme Amerika Serikat. Semua bermula dari temuan Naomi Klein terhadap pola pikir Milton Friedman, pemikir neoliberal yang merancang bangunan kapitalisme Amerika Serikat. Ia juga yang menjadi penasihat kebijakan ekonomi diktator Chile, Pinochet, Perdana Menteri Inggris, penguasa Rusia, menteri keuangan Polandia, direktur Dana Moneter Internasional, beberapa presiden Amerika Serikat, dan tiga pimpinan Federal Reserve Amerika Serikat. Sebagai seorang jurnalis, dalam menulis buku ini Klein dituntun dengan intuisinya untuk mengungkap fakta dibalik naiknya kebijakan pro-kapitalis di masa krisis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Istilah ‘the shock doctrine’ mengemuka bukan tanpa alasan. Tahun 2005, ketika badai Katrina mengguncang Amerika Serikat, beberapa politisi dan pengusaha memandang ini sebagai kesempatan untuk ‘bekerja sama’ membenahi New Orleans, salah satu area terdampak badai. Terutama pembenahan sistem perumahan rakyat dan pendidikan. Tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa pembenahan itu akan berujung pada peningkatan proyek perumahan dan kondominium. Dampak badai yang meluluhlantakkan perumahan dan fasilitas umum dipandang sebagai proses ‘pembersihan’ terhadap sistem sosial-ekonomi di wilayah New Orleans yang telah lama dicap gagal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berada di tengah-tengah pengungsi di Louisiana, Klein mendengar langsung berbagai ungkapan kemarahan dan kekecewaan terhadap pernyataan Richard Baker, anggota kongres Republikan, yang dengan tenang menyebut bencana itu sebagai pembersihan yang dilakukan Tuhan. Dampak dari badai Katrina membuka kesempatan baru untuk memulai semuanya dari awal dengan sistem yang lebih baik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah seorang yang juga melihat adanya kesempatan dibalik tragedi ini adalah Milton Friedman. Ia menyebut ini sebagai kesempatan untuk mereformasi sistem pendidikan New Orleans secara radikal. Gagasan radikal Friedman ialah, daripada pemerintah Amerika Serikat menghabiskan uang untuk membangun dan menata kembali sistem sekolah negeri di sana, lebih baik masyarakat diberikan &lt;em&gt;voucher&lt;/em&gt; pendidikan untuk bersekolah di sekolah swasta. Uang yang tadinya hendak digunakan untuk membangun sekolah negeri, dialirkan untuk mensubsidi sekolah swasta. Sehingga, setelah badai Katrina banyak &lt;em&gt;charter school&lt;/em&gt; bermunculan. Yakni sekolah yang didanai pemerintah atau bersama dengan publik, tetapi dijalankan oleh swasta.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi Friedman, adanya sekolah gratis merupakan campur tangan yang tidak adil dalam pasar. Di tengah kebingungan akibat badai, kebijakan akan diambil berdasarkan gagasan-gagasan yang mengemuka disekitar masa bencana. Solusi Friedman ini di kemudian hari akan menjadikan hal yang secara politik tidak mungkin menjadi hal yang tidak terelakkan lagi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kolaborasi pemerintah dan swasta dalam membangun kembali daerah terdampak bencana tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Sri Lanka, Klein menemui manuver serupa. Begitu ada tragedi bencana alam, para politisi, pengembang, dan pakar akan saling berhubungan. Membicarakan berbagai kesempatan yang menguntungkan ditengah hiruk-pikuk kebingungan negara. Inilah metode yang telah lama menjadi pilihan perusahaan untuk mempercepat tujuannya: menggunakan momen trauma kolektif untuk terlibat dalam gerak radikal perubahan sosial dan ekonomi. Sementara orang-orang yang terdampak bencana berpikir bagaimana membangun kembali apa yang dahulu mereka punya, para kapitalis tidak tertarik untuk membenahi apa yang sebelumnya ada. Ruang publik dan kekuatan komunitas melemah di masa bencana.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah mengamati apa yang terjadi di Chile, Sri Lanka, New Orleans dan beberapa wilayah yang dilanda bencana, Klein melihat ada pola manuver sosial-ekonomi yang sama. Ia menemukan bahwa gagasan untuk mengeksploitasi krisis dan bencana sudah menjadi &lt;em&gt;modus operandi&lt;/em&gt; Milton Friedman sejak lama. Bentuk kapitalisme fundamentalis Milton Friedman selalu membutuhkan bencana terlebih dahulu. Ia mempelajari ini dari krisis di Chile. Ketika ia menyarankan pemotongan pajak, perdagagan bebas, privatisasi pelayanan, memotong pengeluaran sosial dan deregulasi pada Pinochet.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perubahan yang dibawa Friedman dan pengikutnya dikenal sebagai revolusi ‘Kampus Chicago’ (&lt;em&gt;Chicago School&lt;/em&gt;). Friedman memperkirakan bahwa hal yang cepat, tiba-tiba, dan ruang lingkup pergeseran ekonomi akan memancing reaksi psikis di wilayah publik yang ‘mendukung penyesuaian’. Metode yang diakuinya sebagai taktik yang &lt;em&gt;menyakitkan&lt;/em&gt; ini disebut “shock treatment”ekonomi. Pandangan Friedman ini selanjutnya diterapkan oleh pemerintah yang hendak menerapkan sistem pasar bebas, metode terapi kejut (&lt;em&gt;shock therapy&lt;/em&gt;) ini menjadi pilihan. Artinya, bencana atau krisis bisa direkayasa untuk meluncurkan suatu sistem atau kebijakan baru. Inilah mengapa Klein menyebutnya sebagai ‘shock doctrine’.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun 2017 lalu, ketika sebagian wilayah Amerika Serikat mengalami kerusakan akibat musim badai Atlantik, analisis Klein dalam buku ini kembali mengemuka. Buku ini adalah bacaan umum untuk memahami bencana yang dibawa oleh kapitalisme melalui gagasan eksploitasi bencana alam dan krisis (&lt;em&gt;shock doctrine&lt;/em&gt;). Dengan kemampuan jurnalismenya, Klein mampu membawa kita untuk memahami setiap peristiwa dengan jeli. Sistem ekonomi yang dibawa oleh pasar bebas &lt;em&gt;seolah&lt;/em&gt; menawarkan kebebasan yang selalu didambakan dunia kita saat ini. Klein ingin menekankan bahwa meskipun gagasan Friedman sebagian dapat diletakkan dalam proses yang demokratis, tetapi untuk penerapannya secara penuh butuh pemimpin bertangan besi. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(ich)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Jan 2018</pubDate>
        <link>/menguak-warisan-neoliberal-milton-friedman</link>
        <guid isPermaLink="true">/menguak-warisan-neoliberal-milton-friedman</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Menelaah Kultur, Multikultur, dan Postkultur</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Kultur, Multikultur, Postkultur&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Joel S. Kahn&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Institute of Nation Development Studies (INDeS)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: XVII + 267&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: Oktober 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peresensi: Dian Dwi Jayanto&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebelumnya perlu dipaparkan, tulisan ini merupakan review (bukan resensi) dari buku yang yang ditulis oleh Joel S. Kahn yang berjudul “Kultur, Multikultur, Postkultural: Keragaman Budaya dan Imperialisme Kapitalisme Global” (2016). Penulis menjadikan review ini menjadi tiga bagian atas dua pertimbangan. Pertama, mengikuti aturan main yang telah ditetapkan oleh pihak redaksi Kedai Resensi Surabaya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kedua, semakin panjang sebuah artikel tulisan di internet menjadikan pembaca segera beralih dan tidak tidak akan selesai terbaca semuanya. Apalagi tulisan ini cukup berat bagi yang tidak terlalu suka membaca terkait wacana-wacana semacam multikultural, pluralisme dan sebagainya yang bukan dalam perbincangan kehidupan keberagamaan, sebagaimana secara sempit dipahami banyak orang di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketiga, efek dari tidak selesai membaca karena bosan akan mendatangkan sepenggal pemahaman yang di era media informasi internet cukup berbahaya. Sebagaimana belakangan marak terjadi pemelintiran sebagian informasi di era digital. Sehingga, penulis menyarankan untuk membaca artikel ini secara tuntas, atau tidak sama sekali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ok, mari kita mulai berdiskusi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di negara dunia ketiga yang kebanyakan merupakan wilayah-wilayah bekas imperialisme, postkolonial menjadi sebuah wacana idola. Sebab, postkolonial dianggap merupakan sebuah paradigma yang mengusung perjuangan emansipatoris, serta sebuah pandangan yang secara telanjang berani menyatakan tantangannya kepada imperialisme Barat beserta dampak-dampak bagi negara bekas jajahan yang tersisa. Selain itu, dia juga dianggap sebuah wacana yang benar-benar keluar atau menunjukkan diri sebagai gagasan berbeda dan mengingkari dominasi diskursus kebudayaan yang disusun berdasarkan pakem kolonial.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam buku &lt;em&gt;Kultur, Multikultur, Postkultural&lt;/em&gt;, Joel S. Kahn mencoba mencari jawaban dari pertanyaan kritis terhadap wacana postkolonial, benarkah postkolonial benar-benar terbebas dari muatan kolonial itu sendiri? Bagaimana pun juga, menururt Kahn, embrio dari pandangan postkolonial lahir dari rahim para tokoh-tokoh negara dunia pertama dan bukan dari daerah negara-negara yang dijajah, sebut saja Edward Said dan Talal Asad.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meskipun di satu sisi yang ditampilkan oleh kelompok pengusung postkolonial, khususnya yang fokus pada diskursus orientalisme, terkait kritik sangat tajam terhadap universalisme, obyektivisme dan seterusnya, bisakah benar-benar kelompok tersebut benar-benar bukan merupakan bagian dari imperalisme baru juga?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lebih jauh dari sekedar menginvestigasi gagasan postkolonial, Joel lebih-lebih mempertanyakan dan menganalisis secara kritis pluralisme dan multikulturalisme dalam cakupan pemahaman budaya yang lebih luas. Pada dasaranya, baik pluralisme maupun multikulturalisme adalah refleksi atas kesadaran dan pengakuan terhadap keberagaman budaya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun perlu dicatat, pluralisme maupun multikulturalisme yang bergerak hingga tahapan ektrem, dengan asumsi setiap kebudayaan yang berbeda tidak bisa disatukan atau diharmoniskan, maka tidak terelakkan akan muncul rasisme. Rasisme dalam pengertian ini merujuk pada kondisi individu atau kelompok yang meneguhkan kebudayaan atau identititasnya sendiri dan tidak mengakui yang lain secara ekstrem dan vulgar. Fenomena seperti bagaimana congkaknya Hitler menjadi potret jelas bagaimana rasisme dengan meneguhkan identitas ras tertentu secara ekstrem yang akhirnya membedakan secara kejam rasnya dengan rasa tau kebudayaan lain.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lantas, apa makna kebudayaan itu sendiri? Dalam mendefiniskan makna kebudayaan, Joel S. Kahn lebih memaknai kebudayaan dalam konteks antropologis, yaitu menunjuk pada “sistem tanda, makna dan pandangan dunia dari kelompok-kelompok masyarakat tertentu”. Pandangan antropologis tersebut mendasarkan diri pada pemahaman bahwa kebudayaan adalah perbincangan tentang mozaik, perbedaan kultural, ancaman terhadap kearifan lokal, subkultur dan multikulturalisme, etnisitas dan seterusnya. Intinya, kebudayaan dipahami sebagai kelompok-kelompok masyarakat yang memiliki perbedaan dalam hal tanda, makna dan pandangan hidup yang tidak sama antar berbagai kebudayaan yang ada.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain itu, rasa keterasingan kita terhadap sebuah kebudayaan sering terjadi karena miskinnya literatur-literatur antropologis terhadap kebudayaan tertentu sehingga membuat kebudayaan yang asing itu selamanya kita anggap diliputi dengan misteri. Mengenai hal ini, peristiwa konfrontasi antara tentara pemerintah dengan pemberontak di wilayah Meksiko Selatan, tepatnya di Chiapas yang dimuat dalam banyak koran berbahasa Inggris pada tahun 1994 bisa menjadi contoh yang baik. Kesan samar dan negatif publik akibat dari pemberitaan media tentang sebenarnya siapa masyarakat Chiapas menjadikan seakan-akan masyarakat itu terdengar asing dan penuh misteri .Hal ini lah yang menjadi penting bagi ilmuwan Antropologi untuk rajin melakukan kerja lapangan mengenali dan menyajikan kepada dunia berbagai kebudayaan yang berbeda di belahan dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pemaknaan kebudayaan secara antropologis yang sudah dijelaskan sebelumnya kemudian mulai tergerus di era 1980-an, yang disebut sebagai sebuah gelombang kulturalisasi. Makna dari gelombang kulturalisasi diantaranya adalah memperlakukan berbagai kebudayaan di dunia dan meneguhkan sebuah identitas tunggal terhadap dunia. Kulturalisasi disini bukan berarti sebuah dunia kebudayaan atau peradaban dunia baru yang diterima secara luas atau bahasa baru yang dibagikan atau diberlakukan bagi seluruh dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Akhirnya, pendefinisian kebudayaan klasik antropologis kurang bisa menjawab fenomena-fenomena yang muncul kemudian. Dalam membaca gejala-gejala kebudayaan dunia hari ini, analisis yang digunakan salah satunya bisa menggunakan studi kebudayaan yang baru, yaitu diskursus tentang globalisasi. Sebagaimana tokoh-tokoh seperti Roland Robertson dan Appadurai yang telah menunjukkan ide-ide seperti bangsa, etnik, kultur pribumi yang merupakan mozaik yang bersifat kontemporer hasil dari refleksi dan pemikiran sebelum lahirnya kebudayaan global. Mereka akhirnya ditata dalam sebuah sistem negara global yang kemudian memunculkan, meminjam istilah Appadurai, “formasi sosial postnasional”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal ini sangatlah kontras dengan apa yang terjadi di negara-negara non dunia pertama pada masa-masa perang dunia pertama dan kedua. Setiap kekuasaan yang berada dalam setiap kubu membudayakan kulturnya sendiri-sendiri. Mereka masing-masing giat untuk melakukan penemuan kultural, dan jalan pembangunan alternatif, sembari menolak modernisasi di awal abad 20 yang digembor-gemborkan dunia pertama, baik dari kelompok Marxis nasionalis maupun yang populis. Sehingga, hal-hal tersebut hanyalah menjadi catatan dan situs sejarah sampai pada akhirnya semuanya terkena imbas kulturalisasi dengan berbagai cara, yang intinya sama-sama untuk melakukan konstruksi dunia yang tunggal. Mungkin hal ini juga tidak terlepas dari keruntuhan Uni Soviet dan sekutu-sekutunya sembari menegakkan kemangan mutlak bagi Amerika dan sekutunya yang akhirnya menguasai kulturalisasi dunia tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berbicara tentang globalisasi dan kulturalisasi wajah baru yang menghadirkan kebudayaan dalam ranah tunggal, tidak bias dipisahkan dari diskursus teori postkolonial. Postkolonial sendiri merupakan bagian dari postmodern, sebuah kelompok yang melakukan serangan terhadap kebiasaan dan ketidaktentuan serta berbedanya realitas modernitas dibanding dengan janji dan slogan-slogan modernitas itu sendiri. Tokoh-tokoh postkolonial seperti Edward Said dan Talal Asad menjadi kritikus terbesar yang mencoba membedah persoalan antara diskursus perbedaan dan kekuasaan, lebih tepatnya sistem kekuasaan yang dianggap imperialistik. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(ddj)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>17 Jan 2018</pubDate>
        <link>/menelaah-kultur-multikultur-dan-postkultur</link>
        <guid isPermaLink="true">/menelaah-kultur-multikultur-dan-postkultur</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Berpikir ala Foucault, Memusingkan dan Menyenangkan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Remarks on Marx&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Michel Foucault&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Semiotext(e)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 187 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1991&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku usang ini merupakan sederetan buku Foucault yang benar-benar membuka pikiran, namun mudah dipahami. Tidak begitu tebal dengan sampul buku yang tidak menarik, bahkan membosankan, akan tetapi yang penting adalah isinya. Mungkin para pembaca akan terkejut saat membacanya pertama kali, karena buku ini bukanlah karya Foucault, namun sederetan pembicaraannya dengan Druccio Trombadori. Buku ini adalah pembuka bagi kalian yang ingin menyelami lebih dalam pemikiran Michel Foucault dan menjadi seorang Foucauldian. Dan resensi ini adalah pembuka atas sebuah pembuka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di awal pembicaraan mereka berdua, Foucault mengejewantahkan mengenai gaya berpikirnya, dimana orisinalitas menjadi pilihan utamanya (ini kenapa kita jarang melihat Foucault mengutip pemikir lain). Gaya berpikir semacam ini dipengaruhi oleh Nietzsche, tetapi apa yang ia tuliskan merupakan sebuah karya atas pengalaman yang pernah ia hadapi dan berusaha menguak sesuatu yang lebih dalam dibalik pengalaman itu. Buku karya Foucault yang kita baca sekarang merupakan rekam jejak hidup Foucault, yang berusaha ia jelaskan se-ilmiah mungkin. Itu kenapa kita akan kerap menemukan kata &lt;em&gt;Me&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;I&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Myself&lt;/em&gt; dalam hampir seluruh tulisannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut Foucault sendiri, pemikirannya cocok dengan Nietzsche karena bukan merupakan seorang filsuf dalam bentuk yang kaku dan terikat oleh sebuah lembaga, seseorang yang dicontoh oleh Foucault sejak dini. Ia tidak suka seperti di kampusnya yang menyuruhnya untuk mengikuti para pemikir filsafat yang terkemuka semacam Hegel. Salah satu yang berusaha dia pahami ialah Fenomenologi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertanyaan yang muncul dari Trombadori ialah apa yang membedakan Foucault dengan filsuf fenomenologis lainnya? Jawaban Foucault bahwa seorang fenomenologi pada umumnya memperlihatkan pengalaman sebagai sebuah persepsi nyata akan kehidupan sehari-hari, namun mereka merasakan pengalaman tersebut seperti hal biasa dan berusahan memaknainya, sedangkan Nietzsche, disisi lain, mengambil posisi paling ekstrim dari kehidupan dan melakukannya agar mendapatkan pengalaman tidak memungkinkan, lalu memaknainya. Hal ini lah yang menjadi alasan kenapa Foucault kerap berperilaku sadomasokis dalam seksualitasnya (dia menyukai BDSM).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fenomenologi sendiri selalu menganggap pengalaman sebagai sesuatu yang ada didalam diri manusia, didalam subyek atau penulisnya. Tetapi, berkaca dari Nietzsche, Foucault menganggap bahwa pengalaman adalah sesuatu diluar dari personal manusia. Ia (pengalaman) merupakan hal yang tidak menyatu menjadi manusia, sehingga dalam karya-karyanya, Foucault selalu melihat pengalamannya sebagai obyek kajian yang akan ia angkat dalam buku maupun perkuliahannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun dalam beberapa karyanya, Foucault merasa masih belum begitu orisinil, ia hanya menuliskan ulang sejarah dalam bentuk yang berbeda, bahkan pada titik tertentu, ia menganggap tulisannya hanyalah sebuah kisah sejarah yang dituliskan kembali. Yang menjadi pembeda adalah usahanya dalam merasakan ide-ide yang ada dalam sejarah. Dia menyatakan bahwa dengan penggambaran mengenai pengalaman yang dia lakukan demi mengetahui sejarah sebuah gagasan seperti &lt;em&gt;kegilaan&lt;/em&gt;, pengalaman itu yang membuatnya berbeda dan mengajak pembacanya untuk merasakan apa yang ia rasakan. Sehingga pada akhirnya Foucault dapat menjelaskan &lt;em&gt;kegilaan&lt;/em&gt; sebagai sesuatu yang baru di era modern.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tromabdori lalu menanyakan dimanakah letak kebenaran atas karya-karya Foucault? Beliau menjawab bahwa masalah benar atau salah itu dikembalikan kepada pembaca, yang berusaha ia berikan adalah pengalamannya dalam merasakan sesuatu dan menjelaskannya sedetail dan seilmiah mungkin agar pembaca dapat merasakan apa yang ia rasakan dalam bentuk kata dan kalimat. Bagi Foucault, kebenaran berada didalam pengalaman yang dituliskannya, kalaulah itu dianggap fiksi, menurutnya dunia ini memang penuh dengan kisah fiksi. Fiksi disini baginya adalah sesuatu yang telah dibuat.  &lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk itu, entah paham atau tidak para pembaca yang budiman terhadap tulisan saya, itu saya kembalikan kepada diri kalian sendiri, entah ini buatan atau memang sebuah pengalaman dalam membaca bukunya Foucault, itu hak kalian untuk menilai. Terima kasih atas perhatiannya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>16 Jan 2018</pubDate>
        <link>/berpikir-ala-foucault-memusingkan-dan-menyenangkan</link>
        <guid isPermaLink="true">/berpikir-ala-foucault-memusingkan-dan-menyenangkan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Pengantar Islam bagi Era Modern</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: An Introduction to Islam&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Tariq Ramadan&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Oxford University Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xxii+250 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertama kali saya akan meresensi buku pemikir Islam abad duapuluhsatu, Tariq Ramadan. Beliau adalah profesor di bidang studi keislaman, Universitas Oxford, Kampus St. Anthony. Ia hidup di dunia dimana Islam merupakan agama minoritas, dan muncul berbagai tudingan terhadap kalangan muslim di negara tersebut: Inggris. Namun ia tidak pernah patah arang dalam usahanya memahamkan kepada khalayak umum, bahwa islam bukanlah agama kekerasan. Buku ini merupakan salah satu usahanya dalam memberikan pemahaman tersebut dan dirangkum dalam beberapa tema penting yang sedang berkembang di negara maju.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karya Tariq yang satu ini memang ditujukan sebagai pengantar bagi muslim maupun non-muslim di negara-negara dunia pertama (Eropa dan Amerika Serikat). Yang hendak digarisbawahi olehnya ialah mengenai pilar-pilar dunia keislaman, pondasi utama dalah melaksanakan syariah, yakni Shalat benar-benar dijelaskan sejak subuh hingga Isya’ dan waktu-waktu dimana ibadah ini harus ditunaikan, perbedaan antara sunni dan syiah ialah saat syiah menggabungkan dhuhur dan ashar, maghrib dan isya’, sedangkan sunni tidak memperbolehkan hal ini kecuali pada kondisi tertentu. Juga mengenai zakat dan puasa yang pastinya kita akan pahami jika memang muslim yang baik (banyak perdebatan mengenai muslim yang baik, ada yang berargumen bahwa tidak harus yang baik itu yang melaksanakan pilar-pilar Islam, tapi berbuat baik sudah menjadi muslim yang baik merupakan argumen yang idiot dan tidak perlu lagi dihiraukan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tariq menjelaskan pula mengenai hirarki ilmu pengetahuan dalam Islam, dimana pastinya Qur’an dan Hadits menempati posisi tertatas tanpa perlu ditanyakan lagi. Setelah dua hal tersebut ada syariah yang dimaknai sebagai konsep umum mengenai kehidupan, lalu &lt;em&gt;ulum qur’an&lt;/em&gt; (ilmu mengenai Qur’an) dan &lt;em&gt;ulum hadits&lt;/em&gt; (ilmu mengenai Hadis), mereka bertiga pada taraf yang sama. Dibawah dari tiga hal ini ada ilmu kalam yang berkenaan dengan filsafat, hubungan antara wahyu dan akal juga kebebebasan manusia yang semuanya terinspirasi sebagian besar dari Yunani. Lalu ada Ilmu akidah yang bicara mengenai ketauhidan, Tuhan, malaikat, para nabi dan takdir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selanjutnya ada &lt;em&gt;Usul Fiqh&lt;/em&gt; yang merupakan pondasi hukum Islam (Fiqih) didalamnya merupakan penjelasan lanjut dari prinsip umum seperti ijtihad, ijma’ dan qiyas (nantinya akan masuk kepada Fiqih yang berisi dua: Fiqih Ibadah yakni aturan ritual peribadatan dan fiqih muamalat yakni aturan mengenai hubungan antara manusia). Dua ilmu terakhir ialah Ilmu akhlaq mengenai tingkah laku individu dalam berhubungan dengan Tuhan dan manusia lainnya juga Ilmu Tasawuf yang berisi jalan-jalan menuju Tuhan yang kerapkali disebut mistisisme oleh orang barat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun dalam buku ini dijelaskan mengani pola hubungan persaudaraan antar umat Islam dalam bentuk pernikahan. Bagi beliau, Islam selalu mendorong pernikahan antar etnis dan ras agar dapat bersatu, namun pernikahan beda agama itu hal lain. Bagi seorang lelaki muslim diperbolehkan untuk menikahi perempuan non-muslim (namun dengan konsekuensi bahwa tugas perempuannya akan berbeda dengan perempuan muslim), akan tetapi perempuan muslim wajib hukumnya untuk menikah dengan lelaki beragama muslim.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal lain ialah pembahasan mengenai poligami yang ia tekankan sedang menarik untuk dibicarakan. Banyak orang mengganggap poligami adalah sifat Islam yang diskriminatif terhadap perempuan, salah! Dahulu di jazirah Arab, masyarakatnya dapat menikah dengan banyak perempuan, dan Islam hadir untuk membatasi hal tersebut menjadi empat, itupun dengan aturan-aturan yang sangat ketat. Banyak yang tidak paham bahwa monogami sangat didukung oleh Islam sedangkan poligami ditolerir (bukan diwajibkan). Beberapa syarat yang harus ditepati ialah persetujuan dari istri pertama dan perilaku yang adil dalam memperlakukan semua istrinya, kondisi dimana monogami akan lebih bisa dibanding poligami. Ada beberapa kasus dimana syarat pertama dilakukan oleh si perempuan karena dipaksa oleh si lelaki, hal ini bukanlah sifat seorang muslimin dan tidak seharusnya dilakukan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak isu-isu lain yang diangkat oleh Tariq Ramadan dalam bukunya yang satu ini. Buku ini merupakan pegangan bagi pelajaran dasar mengenai Islam di Eropa dan ditujukan terutama bagi kelompok &lt;em&gt;muallaf&lt;/em&gt; dan juga mereka yang butuh pencerahan mengenai kondisi Islam sekarang. Ia menjelaskan dengan obyektif dimana Islam itu adil dan benar namun terkadang muslim nya lah yang bertindak tidak sesuai. Bagi Tariq, menjadi seorang muslim itu berusaha menjadi adil dan beradab, Islam tidak melulu mengenai peribadatan, Islam itu adalah kehidupan yang telah kita tempuh, komitmen dalam melakukan kebaikan dimanapun dan kapanpun. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>12 Jan 2018</pubDate>
        <link>/pengantar-islam-bagi-era-modern</link>
        <guid isPermaLink="true">/pengantar-islam-bagi-era-modern</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Seks dan Kekuasaan, Foucault Tidak Melulu Membahas Gelas</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The History of Sexuality Volume 1&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Paul-Michel Foucault&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Vintage Classics&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 168 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1990&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak henti-hentinya kali ini penulis berusaha merangkum pemikiran Foucault dengan singkat. Yang berusaha ditiru oleh filsuf berkebangsaan Prancis ini adalah cara berfikir Nietzsche, yakni orisinalitas pemikiran. Maka dari itu hanya gaya berpikirnya yang dibentuk seperti si gila dari Jerman itu namun buah pikirnya melebihi filsuf kontemporer lainnya. Kehidupannya yang bebas membuat hidupnya berakhir tragis, namun Foucault tidak mati, ia masih berada dalam pikiran kaum posmodernis. Foucault telah memberi tafsiran baru terhadap cara pandang kita diabad digital ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mungkin buku yang diresensi kali ini adalah karya monumental Foucault. Buku ini membahas seksualitas, bukan dari sudut pandang penerapannya, akan tetapi problematika yang ada didalamnya. Dia memulai dengan menjelaskan mengenai kelompok Victorian di abad ketujuhbelas yang melihat seks sebagai sesuatu yang biasa saja dan tidak tabu untuk diperlihatkan atau dibicarakan. Perbincangan mengenai seks tidak terlalu ditutup-tutupi. Bahkan praktik seks sendiri tidak terlalu dirahasiakan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Era ini tidak bertahan lama. Lambat laun, seksualitas menjadi sesuatu yang tidak layak untuk dibicarakan terang-terang, hal tersebut mulai masuk kedalam urusan pribadi. Seks sekarang berada didalam rumah dan hanya ada berguna untuk reproduksi. Peraturan juga norma yang mengatur mengenai pembicaraan yang dianggap kurang senonoh mulai ditegakkan dan tempat yang paling berhak dimana seks biasanya dibicarakan didalam rumah hanyalah kamar orang tua menurut Foucault.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita tahu bahwa anak-anak tidak seharusnya melakukan hubungan seksual, maka dari itu diusia dini mereka dilarang berbicara mengenai hal tersebut, bahkan orang tua sampai menutup mata dan telinga anaknya jika ada sesuatu yang berbau seksual mendekat kepada anak mereka. Karena hal ini, kebisuan ditegakkan oleh orang tua kita sendiri. Menurut Foucault, hal ini adalah represi terhadap segala hal yang berbau seksual dan seakan-akan hal seperti itu tidak ada. Masalah diatas merupakan kemunafikan yang ada dalam masyarakat modern ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada abad ketujuhbelas pembicaraan mengenai seks mulai di kurangi peredarannya oleh masyarakat pasca-Victorian. Cara mereka adalah berusaha mendiamkan orang lain yang berbicara terang-terangan mengenai hubungan seksual juga orientasi seksual mereka. Dari abad inilah mulai dimunculkan sensor secara sosial. Muncul norma-norma yang mengatur penggunaan kata tersebut, bahkan sampai pada titik kapan dan dimana kata itu seharusnya diucapkan, siapa yang membicarakan, pada situasi seperti apa dan hubungan apa yang dimiliki oleh para pembicaranya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semenjak seks tidak lagi dibicarakan dengan gamblang, mulailah orang-orang penasaran dengan apa yang dimaksud dengan seksualitas tersebut. Seks menjadi sesuatu yang tertutup dan jarang diperbincangkan, padahal menurut Foucault, seks merupakan pengetahuan, pengetahuan mengenai kenikmatan (&lt;em&gt;pleasure&lt;/em&gt;). Kemunafikan masyarakat kita telah menutupi seks sebagai sebuah ilmu pengetahuan yang tidak sekedar bicara reproduksi akan tetapi nafsu manusia, sebuah pengetahuan mengenai salah perilaku dasar manusia. Seks adalah bagian dari sifat manusia. Dalam seksualitas sendiri teradapat oposisi biner seperti: jiwa dan raga, badan dan ruh, insting dan akal sehat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun relasi antasa seks dan kekuasaan dimana kekuasaan selalu berusaha menutupi seksualitas, karena kekuasaan didukung oleh peraturan. Kekuasaan mengatur seksualitas melalui peraturan perundangan dan juga norma di masyarakat. Tidak boleh lagi orang bicara sembarangan mengenai seksualitas karena kata tersebut sudah dilabeli sebagai tabu dan tidak senonoh. Meskipun kontrol negara tidak begitu besar, akan tetapi sanksi sosial bisa diberikan sewaktu-waktu. Adapun kekuasaan menggunakan larangan agar manusia terjauhkan dari seks (secara kata maupun pemaknaan). Tabu inilah yang dimaksud oleh Foucault sebagai posisi antara ada dan tiada.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pelarangan ini melalui tiga cara menurut Foucault: pembenaran bahwa seks itu tidak boleh &lt;em&gt;diumbar&lt;/em&gt;, pelarangan penggunaan kata tersebut ditempat umum, dan penolakan terhadap adanya “sesksualitas”. Kita harus memahami pula bahwa kekuasaan yang dimaksudkan oleh Foucault disini berada dimana saja, di dalam keluarga, kerajaan, lembaga negara, organisasi kemasyarakatan, pasar bahkan masyarakat itu sendiri memiliki kekuasaan tersendiri di sebuah wilayah tertentu melaui adat, tradisi dan budayanya. Mereka mendapat sebutan “agen dominasi sosial”. Kita juga akan mendapati contoh seperti seorang ayah yang melarang anaknya dan kalau di Indonesia yakni masyarakat yang suka mengarak sejoli tanpa melihat dampaknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di penghujung pembahasan, Foucault pernah dituding sebagai orang amoral, namun hal tersebut ada karena kurangnya pemahaman orang lain terhadap Foucault. Pembahasan ide memang harus dijelaskan sedemikian rupa agar pembaca paham mengenai apa yang dia tulis, jika disensor maka ada &lt;em&gt;missing link&lt;/em&gt; yang membuat pembacanya tidak akan memahami karyanya. Terlepas buku ini termasuk berat dalam penggunaan diksi katanya, namun tidak akan sia-sia membacanya, pastinya dia tidak hanya membahas mengenai gelas. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>10 Jan 2018</pubDate>
        <link>/seks-dan-kekuasaan-foucault-tidak-melulu-membahas-gelas</link>
        <guid isPermaLink="true">/seks-dan-kekuasaan-foucault-tidak-melulu-membahas-gelas</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Foucault dan Kelainan Jiwa</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Abnormal&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Paul-Michel Foucault&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Verso&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xxvi+374 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2003&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Abnormalitas atau kelainan (biasanya disebut begitu) merupakan hal yang luar biasa ternyata. Beberapa film kekinian telah mengeksploitasi kelainan sedemikian rupa dan membuatnya menarik untuk ditonton seperti X-Men. Film tersebut memperlihatkan kemampuan mutan yang destruktif, namun khayali. Adapun panggilan latin terhadap kelompok mutan yang awalnya disebut &lt;em&gt;mutan mutandis&lt;/em&gt; diubah menjadi &lt;em&gt;Homo Sapiens Superior&lt;/em&gt; untuk menandakan kemampuan mutan diatas manusia biasa. Namun sekuat apapun mutan seperti Magneto, Jean Grey, Wolverine maupun Mister X pun merasa berbeda dan tersingkirkan dalam pergaulan umum manusia biasa. Ada perasaan berbeda yang diakibatkan oleh “kelainan” yang mereka miliki (permasalahan psikis). Dan kondisi psikis mereka yang mengidap kelainan ini diulas dalam buku tebal ini oleh filsuf ternama, Paul-Michel Foucault.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ciri khas Foucault dalam mengulas sesuatu adalah kuatnya kronologi cerita yang dia angkat menjadi contoh. Kelainan awal yang ia jelaskan merupakan kelainan jiwa. Psikologis seorang perempuan yang membunuh anaknya sendiri. Perilaku ini disinyalir oleh Foucault akibat tekanan lelakinya yang “tidak bertanggungjawab”. Lalu dia menceritakan kondisi psikis lelakinya yang agak terganggu akibat posisinya dalam keluarganya yang kurang diakui karena merupakan anak hasil selingkuhan, baru diakui oleh ayahnya beberapa tahun setelah lahir dan ibunya pun menderita sakit jiwa. Ia tidak pernah benar-benar diterima oleh keluarga ayahnya, sehingga merasa tidak terintegrasi dalam dunia yang ia tempati. Meskipun disekolahkan ke sekolah militer oleh ayahnya, namun tidak mengubah tindak-tanduknya yang cukup buruk. Ia suka bermain perempuan. Pada akhirnya terjerembab pada kasus diatas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam penjelasan diatas, secara singkat, Foucault menjelaskan kepada kita bahwa kelainan jiwa dapat muncul akibat kondisi keluarga. Nah, yang menarik ialah bagaimana kelainan jiwa tersebut dapat menjalar ke perempuan yang membunuh anaknya. Ia yang berasal dari pendidikan rendahan mendapati lelakinya berbicara sesuatu yang “ndakik” sehingga ia secara tidak langsung tertekan. Pembicaraan yang kerapkali dibawa oleh lelakinya ialah pentingnya sebuah pasangan untuk melakukan sesuatu yang luar biasa seperti membunuh orang tanpa alasan yang jelas, hal itu pun dilakukan oleh si perempuan kepada anaknya, Foucault mengindikasikan kurangnya pikiran kritis dalam perempuan ini sehingga ia sangat mengikuti saran dari si lelaki. Namun anehnya, pada akhir cerita, Foucault tidak menganggap bahwa si lelaki mendapati kelainan jiwa, melainkan berusaha menekankan pengaruhnya terhadap si perempuan dengan memberikan pemikiran-pemikiran yang diluar jangkauan si perempuan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foucault menangkap dua kelainan jiwa yang bisa diidap oleh seseorang seperti yang dihadapi oleh si lelaki, yakni Don Juan, dimana perilakunya asusila dan suka berpetualang mencari perempuan, baginya, kelainan ini agak susah dihapuskan karena si lelaki sendiri sudah masuk kedalam sekolah militer yang seharusnya bisa membenahi tingkah lakunya namun tetap tidak merubah apapun. Dan yang diidap oleh si perempuan adalah &lt;em&gt;bovarysme&lt;/em&gt; dimana ia menerima dengan mentah-mentah semua omong kosong yang diberikan oleh si lelaki karena kelemahan berpikirnya akibat pendidikan yang rendah. Orang seringkali menganggap remeh dua masalah ini, akan tetapi dari dua kelainan ini muncul sebuah pembunuhan anak bayi perempuan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada bab selanjutnya, Foucault menjelaskan mengenai hubungan antara kegilaan dan kejahatan. Ia mengutip &lt;em&gt;Penal Code&lt;/em&gt; Perancis dalam pasal 64 bahwa intinya, bukanlah sebuah kejahatan apabila pelaku dalam keadaan gila (kelainan jiwa atau kegilaan sebagai salah satu abnormalitas manusia). Sehingga baginya, semua kejahatan yang pernah dilakukan oleh seseorang akan seketika menghilang saat diketahui bahwa individu tersebut mengidap kegilaan. Bukan lagi tahanan yang akan ia hadapi, namun rumah sakit jiwa, bukan hukuman yang ia dapat tapi rehabilitasi, bukan sipir yang ia hadapi melainkan perawat dan dokter jiwa. Keadilan tidak berdaya melawan orang gila. Namun, menurutnya, sebuah keadilan (pidana) dapat ditujukan kepada manusia yang memang memiliki tujuan untuk menyakiti manusia lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Institusi seperti rumah sakit jiwa sebenarnya adalah institusi penyembuhan yang erat hubungannya dengan peradilan, dan juga mereka merupakan sebuah respon terhadap bahaya. Lembaga ini berhadapan dengan individu yang berbahaya, melakukan kejahatan sekaligus kelainan jiwa atau gila. Di sisi lain, lembaga inilah yang dapat masuk pada dua bagian penting yakni kesehatan dan hukum (medico-legal), karena saran dari psikiater dapat menjadi pertimbangan pemberian hukuman terhadap seorang narapidana. Tujuan lembaga ini juga berkaitan dengan pembenahan moralitas yang ada didalam benak seseorang yang sedang bermasalah. Organisasi semacam ini tidak hanya berhadapan dengan perbuatan yang tidak wajar, akan tetapi juga menekankan pada pembentukan moral melalui rasa takut, bahkan untuk tingkatan orang gila sekalipun, tekanan perlu dilakukan atas nama penyembuhan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kelainan Jiwa dan kegilaan inilah yang merupakan tema besar Foucault. Beliau memang berfokus pada pandangan mengenai sifat manusia. Perilaku dan tindak-tanduk yang mereka lakukan dan juga lembaga atau organisasi yang berkaitan dengan sifat manusia seperti rumah sakit jiwa, penjara dan pemerintahan. Buku Abnormal ini juga mengulas sedikit tentang homoseksualitas yang dikaitkan dengan sodom dan gomora namun bukan pada titik azab tapi stratifikasi sosial yang ada. Banyak hal lain yang belum tercakup dalam ulasan ini, maka alangkah lebih baiknya para pembaca yang budiman membaca langsung dari bukunya, tak elok rasanya hidup ini tanpa sesekali membaca karya Foucault. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>08 Jan 2018</pubDate>
        <link>/foucault-dan-kelainan-jiwa</link>
        <guid isPermaLink="true">/foucault-dan-kelainan-jiwa</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kekuasaan, Kedaulatan dan Dominasi dalam Perspektif Foucauldian</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Society Must be Defended&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Paul-Michel Foucault&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Penguin Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xxiii+310 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2004&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foucault merupakan pemikir paling rumit sejauh ini. Apa yang dibahas akan selalu menarik untuk diulas karena kerumitan penjelasan yang diberikan beliau pasca-penelitian atau observasi yang telah ia laksanakan. Kompleksitas selalu menjadi bingkai pemikiran Foucault selama ini. Adakalanya kita bosan dengan gaya berfikir semacam itu, tapi Foucault sendiri tidak pernah bosan dalam merumitkan penafsiran hidup kita. Sesuai kata Marx, bahwa Foucault sebagai seorang filsuf telah menafsirkan dunia yang kita tinggali sedetail mungkin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa bukunya yang paling terkenal dan &lt;em&gt;booming&lt;/em&gt; di Indonesia akhir-akhir ini adalah Kegilaan dan Peradaban, Arkeologi Ilmu Pengetahuan dan Disiplin Tubuh. Namun masih cukup jarang perkuliahannya di &lt;em&gt;College de France&lt;/em&gt; diartikan kedalam bahasa Indonesia. Entah karena pemilihan diksi kata yang sulit, atau mungkin penerbit Indonesia kurang tertarik. Akan tetapi, buku satu ini merupakan salah satu perkuliahan yang pernah ia sampaikan pada tahun 1975-1976 di Universitas ternama se-antero Perancis, berikut ulasan singkatnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foucault terlihat sedikit gundah ketika awal-awal menyampaikan perkuliahannya. Ia memulai dengan mempertanyakan kegunaan dari institusi pendidikan yang dimana ia adalah salah satu staf pengajarnya. Beliau menyampaikan bahwa kegunaan dari &lt;em&gt;College de France&lt;/em&gt; hanyalah sebagai tempat riset dan menyampaikan hasil temuan dari riset yang telah dilakukan. Dia sendiri mengaku dibayar untuk melakukan riset. Foucault menyatakan ia tidak melakukan perkuliahan di kampus tersebut melainkan penyampaian hasil temuan riset, sejenis laporan pertanggungjawaban yang tidak begitu komunikatif.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ia lebih setuju dengan kata pidato, karena komunikasi hanya satu arah dan waktu yang begitu singkat, hanya satu setengah jam tiap hari rabu pagi ia dapat menyampaikan pidatonya. Foucault berharap untuk mendapatkan waktu yang cukup luang untuk berbicara dengan beberapa mahasiswanya di sebuah ruangan dengan waktu yang cukup panjang agar memperluas pandangannya sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam pidato singkatnya pada satu tahun ini, beliau menyampaikan mengenai banyak hal, yang diawali dengan mengejawantahkan lembaga yang bergaya militeristik semacam kerajaan terlebih dahulu. Bentuk paling awal dari lembaga tersebut adalah kekuasaan yang berada didalam masyarakat. Bersamaan dengan kekuasaan ada yang namanya kebenaran, sejak kapan dua hal ini berjalan bersama? Sejak abad pertengahan dimana kekuasaan Raja dan Ratu mulai diimbangi dengan lembaga penegak hukum. Bangunan hukum ini menjadi instrumen untuk memperkuat kekuatan monarki yang otoriter dan absolut karena merasuk dalam personal tiap keluarga kerajaan. Maka dari itu, kekuasaan dan hukum dipegang oleh keluarga kerajaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa abad kemudian, saat hukum telah lepas dari genggaman para aristokrat (bangsawan/ keluarga kerajaan), hukum malah digunakan untuk melawan mereka untuk membatasi kekuasaan mereka. Pembatasan kekuasaan ini dilakukan agar Raja beserta keluarganya tidak semena-mena dalam menggunakan hak nya, namun disisi lain, bagi para Raja yang sepakat dalam pembatasan kekuasaan ini, akan mendapat dukungan rakyat untuk kekuasaannya (karena kooperatif seperti di Inggris yang masih bertahan dalam bentuk Monarki Konstitusional). Pembahasan ini akan selalu terpusat pada Raja dan usaha dalam mengurangi dominasi Raja nya, masuknya Demokrasi dan Demokratisasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foucault menganalisa kekuasaan dengan beberapa hasil temuan: kekuasaan terbentuk dan terlihat secara gamblang dalam hukuman dan lingkungan yang melaksanakan hukuman tersebut seperti penjara. Pelaksanaan hukuman, apalagi dengan kekerasan, menurut Foucault semakin membuat kekuasaan menjauh dengan hukum (aturan). Kedua, Kekuasaan muncul dalam sebuah jejaring, bukan hanya personal yang memiliki kekuasaan, akan tetapi hampir berputar dalam banyak individu dengan kadarnya masing-masing. Pada suatu titik, seorang pemimpin dapat menjadi Tiran karena pasti ada sisi fasis dalam otak kita masing-masing, ujar Foucault.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah bicara mengenai kekuasaan yang jumlahnya banyak karena berada di tiap individu, mereka bisa bersatu dan menjadi kedaulatan. Kedaulatan inilah yang menjadi perlambang negara, kedaulatan inilah yang dilambangkan oleh Raja, bukan kekuasaan. Munculnya kedaulatan ini adalah hasil dari menyatunya kekuasaan yang ada dalam tiap individu dalam bentuk legitimasi (dukungan) terhadap sebuah subyek (Foucault tidak menyatakan apakah harus dalam bentuk negara atau Raja, ia hanya menyebutkan subyek, meskipun pada sebelumnya menyebutkan Raja, namun menurut dia, penggambaran kedaulatan dalam bentuk Raja atau negara tidaklah relevan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika kedaulatan terbentuk dari kekuasaan yang menyatu dan direpresentasikan, maka ada yang disebut dengan dominasi. Kata dominasi sendiri masih susah diartikan secara komprehensif dalam bahasa Indonesia, namun Foucault memaknai dominasi sebagai suatu usaha mencari atau mengumpulkan kekuasaan bukan dari dukungan (legitimasi) tapi melalui tekanan (subjugasi). Namun baik kedaulatan maupun dominasi, keduanya berisikan kekuasaan yang saling berhubungan antara satu sama lain, kekuasaan lah yang menjadi pondasi mereka berdua.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada akhirnya, Foucault menuju kepada peperangan yang dia anggap sebagai pertemuan antara dua kedaulatan atau lebih tepatnya merupakan ajang untuk melihat kekuatan dari “kumpulan kekuasaan”. Tetapi, apakah peperangan ini temporer atau abadi? Bagi Foucault, peperangan sifatnya permanen, karena disegala lini kehidupan seperti eksploitasi, kompetisi, spesialisasi, ketidaksetaraan, kesenjangan dan sebagainya yang berkaitan merupakan bentuk primer dari peperangan dan terjadi tiap hari. Masih banyak lagi yang ia jelaskan, terutama mengenai Carl von Clausewitz. Jika ingin lebih dalam mengenal Foucault, buku yang satu ini tidak berbelit-belit dan menjadi salah satu dasar pemikiran utama kelompok postmodernis dan post-strukturalis. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>07 Jan 2018</pubDate>
        <link>/kekuasaan-kedaulatan-dan-dominasi-dalam-perspektif-foucauldian</link>
        <guid isPermaLink="true">/kekuasaan-kedaulatan-dan-dominasi-dalam-perspektif-foucauldian</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Hiruk-Pikuk Dunia Internasional dan Resolusi Konflik</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Wilson’s Ghost&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Robert S. Mc Namara &amp;amp; James G. Blight&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Public Affairs&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xvi+270 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2001&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam perkuliahan di jurusan Administrasi Negara, Universitas Airlangga, salah satu dosen saya kerapkali menyebut nama Woodrow Wilson sebagai pencetus program studi tersebut. Ia melegenda dan bahkan menjadi rujukan juga dasar dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Administrasi Negara dalam membahas dikotomi Politik dan Administrasi, namun namanya kurang begitu mem-_booming_ di negara lain ternyata.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam buku ini, McNamara, seorang akuntan yang pernah menjadi menteri pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1961 sampai 1968 (kalkulasi yang ia lakukan selalu berusaha meminimalisir kerusakan dan kerugian negara sehingga ia memang pantas dalam posisi tersebut) bersama James Blight, menuliskan mengenai usaha Wilson dalam mengurangi konflik yang berujung pada pembunuhan besar-besaran di dunia dengan memaksimalkan peran Liga Bangsa-Bangsa (prototipe PBB). Posisi Wilson sendiri ialah berusaha membuat kebijakan dimana AS sebagai ketua LBB akan mencegah bencana kemanusiaan di berbagai belahan dunia dengan memaknai terlebih dahulu yang dimaksud dengan “Kejahatan Perang” dan nantinya akan diberi hukuman setimpal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;McNamara dan Blight pun setuju dengan usaha Wilson untuk menghilangkan senjata nuklir secara pelan-pelan agar tidak banyak pembunuhan massal dengan menggunakan nuklir sebagai instrumennya. Ia berusaha menekankan kemanusiaan dalam LBB dengan keberadaan &lt;em&gt;Article X of the Covenant of The League&lt;/em&gt;, sebuah usaha yang pada akhirnya gagal karena banyak tidak disetujui oleh senator di AS sendiri. Kematian Wilson juga membuat idenya karam. Kita harus belajar dari Wilson, terlepas ia memang berusaha melakukan perdamaian dunia karena pernah merasakan baik Perang Saudara AS maupun perang dunia pertama, ia tidak pandai bernegosiasi dan lebih cenderung untuk melakukan ceramah. Ia keras kepala dalam resolusinya hingga akhirnya terbutakan, jangan biarkan usaha mengimplementasikan kebijakan luar negeri berbasis moralitas dihancurkan oleh perasaan paling benar dan paling bermoral.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam membaca buku ini, bab yang paling berguna ialah mengenai bagaimana mengurangi pembunuhan massal. Para penulis berargumen bahwa pembunuhan massal ini dilakukan terkadang oleh negara terhadap penduduknya sendiri. Wilson ingin negara dapat menentukan nasibnya sendiri, dan penentuan tersebut berasal dari masyarakatnya. Ternyata, apa yang diinginkan Wilson tidak sesuai rencana, pasca keruntuhan tembok Berlin sesudah perang dingin mulai menyurut, masyarakat global merasa bahwa era demokrasi liberal akan datang dan membawa kemakmuran, mereka salah, akan muncul peperangan kembali atas nama Nasionalisme dengan terbangunnya Negara-Bangsa yang cukup banyak di daerah Balkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Wilson pun dalam konferensi di Paris pada tahun 1918, mengatakan bahwa kolonialisme telah mati, dan seharusnya para penjajah membiarkan tanah jajahan beserta penduduknya mengelola dan mengatur negaranya sendiri yang didasarkan pada prinsip demokratis. Menghasilkan sebuah produk yang dinamakan norma non-intervensi. Norma ini berkembang atas dasar bahwa negara-negara yang baru saja merdeka tidak akan di intervensi atau diganggu urusan dalam negerinya oleh negara lain, karena mereka takut di eksploitasi kembali oleh para penjajah. Beberapa pelajaran yang diberikan dalam buku ini salah satunya adalah: perdamaian yang sifatnya berkelanjutan merupakan sebuah ilusi bila tidak ada komitmen kuat dalam pembuatan kebijakan multilateral yang dilembagakan dalam bentuk organisasi internasional maupun regional yang bersifat kredibel dalam penanganan masalah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Usaha para negara yang baru saja muncul sebagai negara yang berdaulat, selalu menggunakan pandangan Wilson mengenai penentuan nasib sendiri. Mereka mengklaim kedaulatan dengan semangat nasionalisme yang terlalu ekstrim hingga terjadi perlawanan seperti Aceh (sebenarnya sebagai seorang WNI, saya kurang sepakat dengan mereka berdua) dan Timor Leste di Indonesia (yang akhir-akhir ini juga dengan Papua), pembasmian etnis di Serbia dan Bosnia. Negara-negara yang sudah mapan layaknya AS berusaha mengintervensi namun malah membuat situasi lebih parah seperti di Somalia, dan pada sisi lain juga tertabrak norma non-intervensi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun pelaksanaan intervensi yang dilakukan oleh negeri Paman Sam tidak terlepas dari konsultasi mereka terhadap Dewan Keamanan PBB (DK PBB) yang nantinya memperbolehkan untuk mengintervensi negara-negara yang sudah biadab dan tidak dapat lagi diatur. AS telah menjadi polisi dunia.  Beberapa argumen yang diajukan oleh McNamara dan Blight mengenai penyelesaian pembunuhan massal di pelbagai negara dapat tersendat karena DK PBB ternyata tidak efektif dengan keadaan hak veto lima negara yang dikhususkan, maka dari itu mereka berdua menyarakan hak veto untuk dihilangkan dan digantikan dengan kesepakatan minimum 75 % anggota DK PBB.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa saran lain ialah untuk menjaga perdamaian dunia: pembentukan polisi dunia dengan kekuatan 10.000 orang dibawah kuasa sekertaris jenderal PBB, memasukkan pelanggaran HAM kedalam salah satu bagian dari ancaman terhadap perdamaian dunia dan yang paling menarik, adanya dewan bayangan dalam DK PBB yang berisikan negara-negara yang sepakat untuk melakukan intervensi kepada suatu negara yang dianggap sudah berbahaya dan meng-otorisasi intervensi itu sendiri jika DK PBB tidak dapat melakukannya. Pada saran terakhir sama saja dengan tidak mendengarkan hasil dari DK PBB terhadap sebuah masalah, namun begitulah AS yang adikuasa, merasa selalu paling benar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pandangan mengenai kedaulatan negara yang disuguhkan dalam buku ini pun menarik, bahwa kedaulatan itu tidak serta-merta diberikan, melainkan didapat melalui pelaksanaan kewajiban negara yang salah satunya ialah penegakan HAM. Maka pelanggaran HAM dapat berujung pada tidak diakuinya kedaulatan negara yang bersangkutan. Permasalahan &lt;em&gt;seccession&lt;/em&gt; atau pemisahan diri seperti yang terjadi di Papua sekarang seharusnya menjadi pilihan terakhir menurut Mc Namara dan Blight, &lt;em&gt;seccession&lt;/em&gt; dilakukan saat perundingan bilateral telah gagal dilakukan dan yang merepotkan adalah menggambarkan batasan-batasan baru atas munculnya negara baru. Munculnya dan semakin menguatnya ide negara-bangsa juga bersamaan dengan semakin kuatnya konflik antar-etnis dalam suatu negara, dan genosida menjadi hal yang lumrah terjadi dalam resolusi konfliknya, inilah yang berusaha dicegah oleh baik Woodrow Wilson, Robert S. McNamara dan James G. Blight melalui gagasan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terlepas dari apapun yang terjadi diabad keduapuluhsatu, penolakan terhadap ide-ide Woodrow Wilson untuk membangun perdamaian dunia melalui jalur diplomasi dan geopolitik telah ditolak mentah-mentah. Usaha beliau dalam mengangkat isu pelaksanaan kebijakan luar negeri yang didasari pada moralitas ternyata dianggap terlalu idealis dan membuatnya dipandang naif oleh kawan sejawatnya, pada akhirnya, generasi selanjutnya yang mendapat ganjaran terhadap penolakan tersebut. Peperangan sekarang terjadi dimana-mana, terlepas tidak didasarkan pada negara adidaya dan bersifat acak, buku ini berusaha membantu kita untuk menyelesaikan (mengurangi) konflik yang sedang bertebaran. Buku ini merupakan testimoni kepandaian Amerika Serikat yang pragmatis namun cepat dalam menyelesaikan masalah. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>01 Jan 2018</pubDate>
        <link>/hiruk-pikuk-dunia-internasional-dan-resolusi-konflik</link>
        <guid isPermaLink="true">/hiruk-pikuk-dunia-internasional-dan-resolusi-konflik</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kesenjangan Menjalar Seiring Dorling Menulis</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Do We Need Economic Inequality?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Danny Dorling&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: ix+181 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kesenjangan, Ketimpangan dan Ketidakadilan merupakan tema yang masih “seksi” untuk dibahas dalam lingkup ilmu sosial, ekonomi dan politik. Para aktivis tidak pernah terlepas dari 3K tersebut dalam melakukan advokasi atau pertolongan bagi kaum yang “tertindas” atau kerapkali disebut sebagai proletar. Negara-negara yang acapkali kita kira kaya ternyata tidak, seperti Inggris pada zaman pujangga besarnya, William Shakespeare. Pemasukan per kapita pada era Shakespeare di tahun 1600an hanya sekitar 2,5 Dollar Amerika. Jadi, banyak negara miskin di dunia sekarang yang berpendapatan pada kisaran 2,5 USD sama dengan pendapatan penduduk Inggris di abad ketujuhbelas, mereka tertinggal empat abad silam dalam hal kekayaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang mencengangkan juga, ternyata Belanda pernah menjadi negara terkaya dibanding Inggris pada abad tersebut dimana perdagangannya lebih maju ketimbang negara di sekitarnya, ketimpangan ini pun tidak terjadi didalam negeri tapi antar negeri. Di era modern ini, perhitungan mengenai kekayaan negara sudah menjadi hal yang lumrah melalui Pendapatan Domestik Bruto (PDB). PDB ini telah menjadi acuan untuk melihat ketimpangan, ketidaksetaraan dan ketimpangan di berbagai negara. Namun kapan mulai muncul ketimpangan tersebut? Itulah yang akan dibahas dalam buku kecil berwarna pink ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ketidaksetaraan ini mulai muncul, menurut Pak Dorling, sejak Portugis dan Spanyol datang dan menjajah Amerika. Disinilah dua dunia saling bertabrakan, antara yang “lama” dengan yang “baru”. Dari waktu ini lah ketidaksetaraan dalam skala dunia muncul, ada kaum yang lebih unggul dibanding lainnya. Sebuah benturan yang melahirkan transisi bernama kapitalisme. Bahkan Dorling sendiri menjelaskan dalam tabelnya di buku ini, bahwa Belanda sebagai negara yang berjaya di abad ketujuhbelas ternyata kekayaannya tidak terbagi secara rata untuk penduduknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bergerak ke Amerika, sudah bukan rahasia umum bahwasanya hanya satu persen dari penduduk Amerika yang memiliki 20 persen kekayaan negara, apalagi dengan pandangan Amerika Serikat yang kapitalistik, ada kemungkinan kesenjangan tersebut akan semakin meluas tiap tahunnya. Negeri Paman Sam akan semakin tidak adil seiring ia semakin kaya. Dan kembali ke Belanda sekarang, kesenjangan semakin berkurang dengan semakin miskinnya negara bendungan tersebut di tahun 1914. Sebuah pernyataan menarik dalam buku ini ialah sejatinya kesenjangan ada dan terlihat secara jelas di negara penjajah dan jajahan, krisis ekonomi di negeri jajahan benar-benar berdampak pada negara penjajah. Namun memang sudah sesuatu yang umum bila kesenjangan berhubungan dengan kolonialisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebuah pengecualian yang muncul adalah koloni yang menjadi Amerika Serikat, karena mereka kurang tereksploitasi dibanding negeri jajahan lainnya, maka dari itu mereka bisa berkembang cukup baik. Kesenjangan berkembang pesat pula di negara penjajah, bahkan dengan melakukan eksploitasi tidak menghilangkan, malah memunculkan masalah ini. Sebelum kolonialisasi terjadi, tidak begitu banyak kesenjangan dalam skala global. Penyebaran kolonialisme melahirkan kapitalisme yang menjadi penerus sebagai mesin eksploitasi negara miskin dan mempertahankan kesenjangan sebagai obyek penelitian negara maju.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Usaha guna menghambat laju kesenjangan telah dilaksanakan melalui program yang berbentuk &lt;em&gt;trickle down effect&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;structural adjustment&lt;/em&gt;, dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi, kompetisi, inovasi, dorongan kreativitas dan mobilitas sosial. Namun hanya sedikit teori yang menunjang untuk pengentasan kesenjangan ini, semisal teori upah dan pendapatan produktivitas marjinal. Teori tersebut justru mengemukakan agar seseorang digaji sesuai dengan kemampuan mereka. Dan buruknya lagi, kesenjangan ini di dukung oleh orang-orang kaya. Salah satu contoh yang dipakai Dorling ialah ketika Patrik Schumacher menyarankan para konglomerat untuk membeli rumah bekas yang nantinya akan berlipat ganda harganya akibat pembelian tersebut. Menurut Schumacher yang dikutip oleh Dorling, “hanya pasar yang dapat menentukan penggunaan lahan”. Segala intervensi yang dilakukan oleh pemerintah “WAJIB” hukumnya untuk dikesampingkan bahkan bila perlu dihilangkan. Pastinya ini pandangan yang amat terinspirasi oleh Adam Smith (&lt;em&gt;Invisible Hand&lt;/em&gt;). Bagi dia, perlu dilakukan privatisasi segala macam barang publik seperti tanah dan jalan. Tentunya pandangan tersebut bisa dibilang gila. Pada akhirnya, hanya kaum kaya lah yang diuntungkan dan selalu diuntungkan oleh kesenjangan. Tidak hanya material seperti uang yang mereka dapat, akan tetapi status sebagai orang terpandang pula, tidak akan ada orang kaya jika semua orang sejahtera dengan nominal yang sama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Merupakan sebuah bahaya ketika para pekerja menjadi tidak lagi produktif, dapat dipastikan angka kriminalitas bakal meningkat pesat. Menurut Zadie Smith, bukan manusianya yang berubah dengan alamiah, namun situasi yang membuat mereka berubah. Pengangguran pasti berimbas pada banyaknya kemunculan kriminal, entah terorganisir maupun tidak. Adanya Negara Kesejahteraan bertujuan untuk mengurangi ketamakan para pengusaha akan tetapi mereka tetap dapat menjaga usahanya. Belum lagi penyakit itu juga menjadi faktor penurunan produktivitas pekerja, maka dari itu diperlukan asuransi kesehatan agar mereka yang sakit bisa cepat sembuh. Permasalahan mental juga menjadi penghambat yang besar bagi pekerjaan, maka diperlukan pula psikolog atau lingkungan yang nyaman guna mengembalikan mental para pekerja demi peningkatan produktivitas. Dibutuhkan berbagai macam alternatif lain yang dijelaskan dalam buku ini. Kemampuan berinovasi dan mencari alternatif lain menuju kesejahteraan sejati yang seharusnya mulai kita pikirkan sekarang demi anak-cucu kita nanti. Kebahagiaan memang tidak selalu diukur dengan angka, namun akan lebih lengkap jika rasa maupun angka (yang positif) bersatu untuk memangkas kesenjangan. Untuk sekarang, masih belum ada obatnya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>29 Dec 2017</pubDate>
        <link>/kesenjangan-menjalar-seiring-dorling-menulis</link>
        <guid isPermaLink="true">/kesenjangan-menjalar-seiring-dorling-menulis</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Usaha Membenahi Ekonomi Indonesia</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: A Tribute to Ali Wardhana&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Ali Wardhana, Mari Pangestu (Ed)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Kompas&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xiii+306 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2015&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/personifikasi-ekonomi-indonesia/&quot;&gt;resensi sebelumnya&lt;/a&gt;, buku yang dibahas memang mengenai sisi personal Profesor Ali Wardhana yang ditulis oleh kawan dan keluarganya, buku yang satu ini juga berisi mengenai tulisan-tulisan dan pidato-pidato beliau dalam pertemuan tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional. Ia salah satu anak bangsa paling terkenal di dunia, teman-temannya ialah Lee Kwan Yew, perdana menteri Singapura; Robert S. McNamara, mantan menteri pertahanan Amerika Serikat; Henry Kissinger, mantan menteri luar negeri Amerika Serikat dan masih banyak lagi. Beberapa menganggap dia sebagai orang neoliberal hanya karena lulusan University of California at Berkeley dan tergabung dalam mafia berkeley. Jika memang ia neoliberal, maka orang seperti Pak Ali lah yang dibutuhkan Indonesia, limabelas tahun menjabat sebagai Menteri Keuangan adalah testimoni kemampuan beliau dalam bekerja untuk bangsa dan negara. Seperti apa ringkasan pemikirannya, silakan disimak dalam ulasan singkat ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu yang akan saya bahas sedikit yakni tulisan beliau mengenai &lt;em&gt;Structural Adjustment (SA) in Indonesia&lt;/em&gt; yang berisikan mengenai reformasi dibidang ekonomi. Menurut Ali Wardhana, reformasi ekonomi tidak terjadi karena sendirinya, melainkan karena ada krisis yang melanda di negara terkait. Program SA ini dilaksanakan untuk memperbaiki hal tersebut dengan beberapa alasan seperti: Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi merupakan pusat dari kebijakan pemerintah, pertumbuhan ekonomi membutuhkan pertumbuhan ekspor untuk membayar biaya impor dan hutang, proteksi dan kontrol dari pemerintah, keuntungan dari deregulasi dan pertumbuhan ekonomi harus disebarluaskan ke seluruh wilayah Indonesia, dan masih banyak alasan lainnya yang membuat pelaksanaan program ini penting, terutama untuk menghadapi kenaikan harga minyak di tahun 1985. Akan tetapi, dalam pembenahan harga akan dikembalikan kepada pasar yang kompetitif (&lt;em&gt;invisible hand&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Program SA ini dikeluarkan oleh Bank Dunia bersamaan dengan program stabilisasi dari Dana Moneter Internasional. Tujuan dari kedua program ini adalah melakukan reformasi ekonomi di lingkungan-lingkungan yang ekonominya tidak stabil dan terdapat inflasi yang tinggi. Inflasi harus dibasmi karena memutarbalikkan harga-harga sembako dan komoditas, yang berbahaya lagi, seseorang bisa mendapatkan keuntungan dari inflasi. Tidak sedikit pebisnis dan konglomerat yang menaruh investasi besar saat terjadi inflasi dan diuntungkan dengan hal itu, padahal banyak hal lain yang bisa dilakukan demi meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Pertumbuhan produktivitas sejatinya merupakan pusat dari pembangunan ekonomi, namun inflasi menyedot sumberdaya untuk menjauh dari pembangunan tersebut. Bagi Pak Ali, tidak berguna memulai reformasi berbasis pasar jika inflasi menghilangkan segalanya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Krisis yang ada dalam sebuah ekonomi yang tidak stabil membuat para ekonom dan pembuat kebijakan menjauh dari reformasi ekonomi dalam sistem ekonomi dan politik suatu negara. Apalagi krisis ini menimbulkan defisit yang membuat negara terlanda tidak mampu melakukan reformasi cukai dan pengembangan pasar finansial. Adapun salah satu komponen stabilisasi adalah privatisasi namun harus dapat dikendalikan oleh pemerintah. Pengaturan ekonomi makro pun bukanlah hal yang asing bagi Indonesia, ujar Ali Wardhana dalam buku ini. Kenapa? Pada tahun 1970an dimana pernah ada permasalahan di pertamina, Pak Ali menyampaikan bahwa hal itu sebenarnya &lt;em&gt;blessing in disguise&lt;/em&gt;, karena masalah itu, Indonesia tidak terkena dampak krisis &lt;em&gt;Oil Boom&lt;/em&gt; pada tahun 1980an.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut Pak Ali, SA merupakan sebuah konsep yang sangat luas pemaknaannya, maka dari itu penerapan di Indonesia pun disederhanakan menjadi tiga komponen utama dalam pelaksanaannya: membenahi harga komoditas, membiarkan pasar berjalan dengan sendirinya dan mereformasi lembaga negara. Dapat dicermati bahwa sudut pandang yang digunakan oleh SA benar-benar sesuai dengan teori pembangunan ekonomi neoklasik. Bagian utamanya adalah pembenahan harga barang di pasar dan disesuaikan dengan harga komoditas yang langka di pasaran. Inilah tujuan para ekonom pada dasarnya, mencari harga yang tepat. Untuk menyelesaikan masalah perekonomian di Indonesia, sekiranya saran Ali Wardhana didengarkan dan para mahasiswa tidak terlalu banyak berdemonstrasi dan lebih sering berhitung, mungkin usaha pengentasan kemiskinan akan lebih cepat terlaksana. Adapun ternyata untuk buku seorang “mafia” harga yang dipatok tidak terlalu mahal, buku ini ialah mahakarya ekonomi anak bangsa, bukan sekedar retorika belaka. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>25 Dec 2017</pubDate>
        <link>/usaha-membenahi-ekonomi-indonesia</link>
        <guid isPermaLink="true">/usaha-membenahi-ekonomi-indonesia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Foucault dan Septimus Severus, Sebuah Rezim Kebenaran</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: On The Government of The Living&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Michel Foucault&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Picador&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xvi+365 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2012&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Septimus Severus. Nama ini bukan lah salah satu tokoh dari Harry Potter, melainkan seorang kaisar Romawi yang masih jarang diulas. Ia merupakan salah satu kaisar yang memperkuat legitimasi kekuasaannya melalui bintang-bintang di langit (astronomi). Dalam Balairungnya, lukisan di dinding atasnya berupa rasi bintang waktu kelahirannya dan juga takdirnya sebagai seorang kaisar. Balairung ini ia gunakan untuk audiensi, menyampaikan pertimbangan dan menegakkan keadilan. Lukisan di dinding tempat tersebut digunakan untuk memperkuat legitimasi dia dan agar semua orang dapat melihat bahwa Severus memang ditakdirkan untuk menjadi kaisar. Ia ingin menyampaikan melalui lukisan tersebut bahwa kekuasaan yang ia miliki didapat dari bintang-bintang di langit. Ia sampai kepada posisi itu bukan dengan merebutnya, akan tetapi telah dikehendaki oleh dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cuplikan diatas adalah contoh yang diberikan Michel Foucault dalam kuliah umum yang ia sampaikan di &lt;em&gt;College de France&lt;/em&gt; mengenai usaha seseorang untuk melegitimasi posisinya. Ia ingin agar seluruh orang melihat saat dia memberikan pertimbangannya, itu bukan dari hal yang manusiawi tapi itu dalah pertimbangan alam semesta. Pada zaman Severus lah banyak hakim terkenal seperti Ulpianus, penegakan hukum ini tidak terlepas dari permainan politik yang dilakukan oleh Severus sendiri. Lukisan tersebut adalah sebuah manifestasi kebenaran yang berusaha dibangun oleh Severus didepan publik. Dan sebetulnya tidak begitu berguna bagi ilmu pemerintahan. Sederhananya, dengan lukisan tersebut, dia ingin memperlihatkan kebenaran bahwa ia memang ditakdirkan sebagai seorang kaisar romawi. Hal tersebut bukan lah sebuah ilmu pengetahuan yang penting dipelajari untuk menjalankan sebuah pemerintahan, melainkan sebuah ritus dalam pelaksanaan kekuasaan, supaya tidak ada yang menentangnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penggunaan kekuasaan seperti dalam kasus Septimus Severus ini tidak hanya berbentuk tabel, informasi, pengetahuan, dan catatan semata, tetapi juga melalui pengkultusan, ritual, upacara, unsur kepercayaan, bahkan berkonsultasi dengan peramal dan Dewa. Jadi kekuasaan Severus tidak terlepas dari kesadaran pribadinya dan kepercayaannya terhadap para konsultannya. Bagi Foucault, penggunaan kekuasaan tidak sepenuhnya terlepas dari ilmu pengetahuan, namun lebih erat kepada manifestasi kebenaran yang dapat dimaknai dengan sangat luas dan diterjemahkan secara bebas oleh para penggunanya (dalam rezim yang bergulir di Indonesia, masih terkenal penggunaan panggilan seperti “Herucokro”, “Ratu Adil” dan “Satria Piningit”). Ritual semacam ini masih digunakan namun dalam bentuk yang lebih modern seperti pelantikan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seiring berkembangnya zaman, ritus seperti lukisan yang digunakan oleh Severus tidak lagi menjadi &lt;em&gt;trend&lt;/em&gt; dalam pemerintahan, melainkan dengan keilmuan. Tidak lagi memakai ilustrasi di dinding, akan tetapi dengan ilmu pemerintahan. Karena itu, penggunaan kekuasaan telah melalui proses rasionalisasi menjadi sebuah keilmuan sendiri. Ilmu ini telah bergantung pada pemahaman terhadap ilmu lain, seperti Ekonomi Politik, Kemasyarakatan, Demografi dan lain sebagainya dalam pelaksanaan pemerintahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hilangnya penggunaan kekuasaan melalui cara-cara yang bersifat mistis dan metafisik telah dimulai sejak kemunculan rasionalitas barat di abad kelimabelas sampai keenambelas. Pada era renaissance muncullah para pangeran yang mengutamakan kompetensi dalam melawan kelompok tua yang feodal. Terlepas kekuasaan para pangeran yang semakin menguat diabad kelimabelas, enam belas dan tujuh belas, merupakan pembentukan ranah keilmuan yang sangat berguna untuk ketatanegaraan. Ternyata, dalam lingkaran para pangeran ini pun masih ada kelompok sejenis cenayang, penyihir dan peramal yang berperan penting sebagai penasehat spiritual.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada akhir abad keenambelas, mulai dilakukan reorganisasi ketatanegaraan dengan mengganti para peramal kerajaan dengan penasehat yang menyampaikan kebenaran melalui perkembangan ilmu pengetahuan. Jadi, perburuan penyihir pada akhir abad keenambelas tidak murni masalah kesesatan beragama, tapi sebuah gerakan untuk mempercepat kristenisasi dan mendorong terlaksananya Reformasi. Terlaksananya perburuan penyihir ini juga menghilangkan kelompok mistis dari area kerajaan, digantikan oleh para pendeta dan pada akhirnya, di abad pencerahan akan muncul kelompok baru, yakni para kanselir. Abad pertengahan ini sejatinya masa transisi yang diperlukan dalam pelaksanaan pemerintahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Foucault dalam pidatonya yang dibukukan ini berusaha menjelaskan mengenai perubahan ketatanegaraan sejak zaman pagan hingga abad pertengahan. Perubahan ini juga sebuah momentum dalam melakukan reorganisasi kerajaan. Memang penjelasan Foucault sedikit rumit dalam membahas permasalahan ini, dikarenakan terlalu filosofis dan sangat mendalam, namun itulah kelebihan pemikir perancis yang satu ini. Dari semua ulasan dia diatas, ada satu hal yang terpenting: sejatinya kekuasaan tidak terlepas dari bagaimana para penguasa menerjemahkan kebenaran yang ada disekitarnya atau bahwa me-manifestasi-kan nya dalam sebuah karya guna memperkuat posisinya, dan kita tidak bisa menafikkan peran penasehat dalam bentuk apapun akan mempengaruhi kekuasaan seseorang. Legitimasi dapat dibangun melalui hal mistis maupun ilmu pengetahuan. Inilah yang dikatakan Foucault sebagai rezim kebenaran, namun kebenaran menurut siapa, itulah yang menjadi tanda tanya besar. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>24 Dec 2017</pubDate>
        <link>/foucault-dan-septimus-severus-sebuah-rezim-kebenaran</link>
        <guid isPermaLink="true">/foucault-dan-septimus-severus-sebuah-rezim-kebenaran</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Rumitnya Ekonomi Politik Mendatang</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: From The Factories to The Metropolis&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Antonio Negri&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 187 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2018&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Negri telah menjadi fokus tersendiri bagi saya, karena memang pembahasan yang ia bawa dan suguhkan dalam setiap bukunya mengandung makna bagi kehidupan di dunia modern ini. Banyak anak-anak muda jaman sekarang, justru lebih gandrung kepada pemikiran kelompok marxis ortodoks dibanding para pemikir marxis yang lebih baru dan relevan. Pandangan mereka yang terlalu kolot dan perilakunya yang suka menjelek-jelekkan, membuat pemikiran mereka tidak bisa berkembang. Terkadang kalian harus mempelajari musuh kalian agar dapat menaklukkannya. Kritis adalah dasar bagi para teoritisi yang berhalauan marxisme, bagi mereka yang mendewakan Karl Marx, tidak akan mampu untuk mengembangkan pandangan apapun. Hal-hal seperti inilah yang tidak didapati dalam sosok Negri, berikut adalah sedikit ulasan mengenai bukunya yang baru akan terbit ditahun 2018 kedepan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diawali dengan kisah mengenai perusahaan &lt;em&gt;Philips&lt;/em&gt; dari Belanda yang akan menjual seluruh pabriknya, sehingga mereka akan menjadi perusahaan tanpa pabrik. Mereka akan berubah menjadi perusahaan &lt;em&gt;virtual&lt;/em&gt;. Akan tetapi tidak mungkin sebuah perusahaan itu tidak memiliki pabrik, hanya saja pengelolaan pabrik akan diberikan kepada kelompok/perusahaan lain. Mereka yang mengambil jalur ini berarti memiliki manajemen yang tidak ingin lagi kerepotan dalam mengelola pabrik, inilah tanda kemunculan generasi instan. Seakan-akan bentuk mereka berubah, namun buruh akan tetap dieksploitasi oleh manajemen yang berbeda. Menurut Negri, perusahaan pasca-Fordism adalah perusahaan &lt;em&gt;virtual&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bergerak kepada pembahasan selanjutnya, dia membahas mengenai rentenir, yang menurut Negri merupakan orang yang meminjamkan uang kepadamu, namun dia akan mendapatkan banyak uang tanpa banyak bekerja. Beberapa kelompok pemikir seperti Burke dan Hegel menganggap bahwa rentenir adalah bagian dari hukum alam yang memang dibutuhkan oleh manusia. Sedangkan kelompok reformis semacam Rousseau menolak keberadaan mereka. Yang menarik ialah ketika Negri berpendapat bahwa terlepas Adam Smith tidak sepakat dengan keberadaan rentenir, namun pembangunan yang dilakukan para kapitalis ditempuh melalui jalur-jalur rentenir dengan gaya lebih modern semacam &lt;em&gt;loans&lt;/em&gt; bersyarat kebijakan yang wajib dilaksanakan oleh negara-negara peminjam. Proses terjadinya permasalahan skala global ini acapkali tidak dipahami oleh negara debitur.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita telah merasakan bahwa kapitalisme finansial telah merajalela diseluruh sendi-sendi kehidupan kita. Produksi telah menjadi sesuatu yang biasa bagi kehidupan kita dan juga akhirnya konsumsi adalah kebiasaan kita pula. Industrialisasi telah membentuk manusia menjadi mesin yang mendaur-ulang barang produksinya yang sudah usang dan menggunakannya lagi, hanya akan digunakan untuk memaksimalkan keuntungan untuk para pengusaha. Yang menjadi problematika baru adalah bagaimana para buruh tetap setia terhadap pandangan lama mengenai perusahaan yang selalu memiliki pabrik. Akhirnya pendekatan konflik yang mereka gunakan dengan berdemonstrasi lama-kelamaan akan tidak berguna. Paradigma seperti itu akan ditinggalkan karena para buruh nanti sudah tidak bekerja di pabrik lagi, melainkan proses produksi dapat dilakukan di rumah masing-masing, yang terpenting ialah target tercapai. Mereka akan diasingkan dari sesama buruh itu sendiri dengan kemunculan perusahaan &lt;em&gt;virtual&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demokrasi turut dibahas dalam buku ini. Posisinya dilematis, disisi lain berusaha untuk membantu rakyat bawah bersuara akan tetapi juga melindungi hak kepemilikan pribadi. Bagi Negri yang mengacu kepada Rousseau, bahwa demokrasi memunculkan kata privat dan publik. Privat dapat bermakna sebagai barang yang diakui atau diklaim oleh seseorang sebagai miliknya, sedangkan barang publik merupakan barang yang dimiliki semua orang akan tetapi tidak dimiliki semua orang, dengan kata lain, barang publik dimiliki oleh negara. Yang berhak mengalokasikan dan mendistribusikan barang publik adalah negara. Selain itu negara berperan sebagai stabilisator, demokrasi tidak berarti bebas sebebas-bebasnya, melainkan pragmatisme publik. Sesuatu akan menjadi barang publik jika menguntungkan masyarakat dan wajib dimiliki negara, maka bisa sebuah perusahaan dinasionalisasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini sekilas memang merupakan volume kedua setelah &lt;em&gt;Marx and Foucault&lt;/em&gt; sebagai seri karangan tersebar yang ditulis oleh Antonio Negri sendiri. Penerbit &lt;em&gt;Polity&lt;/em&gt; mengangkat pola yang sederhana tapi memikat pada sampul bukunya dengan menggunakan gambar rantai yang secara simbolik dapat dimaknai sebagai kehidupan di pabrik yang tiada henti dan penuh konflik. Adapun huruf yang digunakan cukup besar sehingga terlihat gamblang dalam membacanya, tetapi, penjilidan dari kumpulan esai ini terlalu kaku sehingga membuat pembaca kurang nyaman dalam menelisik kedalam. Akhir kata, terlepas ada beberapa kekurangan Negri seperti pemilihan diksi kata yang terlalu rumit, namun harus diakui bahwa ia adalah Marxis sejati di abad keduapuluhsatu. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>21 Dec 2017</pubDate>
        <link>/rumitnya-ekonomi-politik-mendatang</link>
        <guid isPermaLink="true">/rumitnya-ekonomi-politik-mendatang</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Personifikasi Ekonomi Indonesia</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Prof. Dr. Ali Wardhana&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: ed. Marzuki Usman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: PP ISEI&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 392 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: Januari, 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ekonomi selalu menjadi subjek yang menarik untuk dibahas dalam keseharian, karena ilmu tersebut muncul untuk pemenuhan kebutuhan. Teori-teori yang dimunculkan pun menggugah rasa ingin tahu semakin dalam. Namun pembahasan mengenai ekonom ternyata tidak kalah menarik dibanding teori ekonomi. Beberapa ekonom internasional kerapkali kita ketahui semacam Alan Greenspan, Ernest Mandel dan sebagainya, akan tetapi, terkadang kita lupa bahwasanya Indonesia sendiri melahirkan banyak ekonom cemerlang. Para ekonom ini berkembang pesat dan bahkan menjadi teknokrat saat Soeharto naik tahta, dengan memasukkan mereka kedalam kabinet, maka Pak Harto melakukan sesuatu yang gagal diperbaiki Bung Karno, yakni perbaikan dan pembangunan ekonomi Indonesia. Dari semuanya, Ali Wardhana adalah watak utama yang menjadi motor pembaharuan ekonomi Indonesia menuju &lt;em&gt;Welfare State&lt;/em&gt;. Buku ini adalah kumpulan tulisan mengenai pemikiran dan sosok Menkeu terlama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ali Wardhana merupakan sosok Menteri Keuangan paling ekspresif, seperti yang ditulis oleh Kartini Sjahrir, istri Sutan Sjahrir. Terlepas wajahnya yang terlihat tenang, namun dijelaskan bahwa ia adalah sosok yang tegas dan memang tidak banyak bicara, karena lebih suka langsung kepada inti permasalahan tanpa penjelasan yang &lt;em&gt;njelimet&lt;/em&gt;. Menkeu satu ini tergolong keras dalam mendidik keluarganya, dimana, Datta bercerita dalam buku ini bahwa ayahnya tidak mengkehendaki keluarganya untuk menggunakan jejaring yang dimilikinya selaku Menteri Keuangan untuk mencari keuntungan pribadi. Terlepas dari hal itu, dia sangat menyayangi kedua anaknya dan membebaskan mereka untuk memilih jalan hidupnya masing-masing. Adapun hobi yang dimiliki oleh beliau ialah olah raga seperti golf, bowling dan tenis, juga penggemar berat cerutu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam bekerja, Pak Ali terkesan &lt;em&gt;kolot&lt;/em&gt; dan perfeksionis, meskipun begitu, alasan dibaliknya adalah menjaga profesionalitas dan berusaha untuk bekerja semaksimal mungkin. Ia saat menjabat sebagai Menteri Keuangan sejak 1968 menjabat pula sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia dan Direktur CPIS (&lt;em&gt;Center for Policy and Implementation Study&lt;/em&gt;), sebuah lembaga think-tank untuk menggodok dan mengevaluasi implementasi kebijakan negara semasa Orde Baru. Kemampuan Bung Ali dalam menganalisa permasalahan ekonomi dan berusaha mencari pemecahan yang menjadi alasan kenapa Soeharto memilihnya sebagai Menteri Keuangan selama tiga periode. Ia lah yang berhasil menurunkan super-inflasi 650% yang menjadi warisan Soekarno setelah digantikan Soeharto pada tahun 1966 menjadi hanya 10% di tahun 1969. Namun dengan berhutang ke IMF dan kelompok pendanaan internasional lain. Akan tetapi memang dalam posisi Indonesia yang masih rapuh, adalah tindakan yang tepat dalam melakukan hal tersebut menurut Emil Salim.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam masa jabatannya, salah satu kelebihan yang dibawa ialah penerapan sistem &lt;em&gt;reward and punishment&lt;/em&gt; di Kementerian Keuangan. Tunjangan Kerja (TK) yang diberikan kepada pegawai teladan bisa mencapai 9 kali lipat dibanding gaji yang didapat, tetapi &lt;em&gt;punishment&lt;/em&gt; yang diterapkan pun cukup menakutkan, pemotongan gaji 1% setiap terlambat masuk jam kerja, pemotongan gaji 4% jika absen tidak bekerja dan bertambahnya jam kerja. Untuk sistem kedua telah berusaha diduplikasi oleh banyak pejabat lain di era reformasi ini. Adapun ia akan memberikan beasiswa belajar ke luar negeri bagi para birokrat yang berkenan, nampaknya Ali Wardhana tidak ingin mencetak birokrat teknis melainkan teknokrat dalam menahkodai kementerian keuangan era orba.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak sisi-sisi Ali Wardhana yang dimana masyarakat luas tidak begitu memahami. Dia merupakan delegasi Indonesia yang menentang Amerika Serikat, Perancis, Inggris dalam sidang IMF dan World Bank saat negara-negara berkembang tidak pernah diikutkan dalam pengambilan kebijakan strategis mengenai keuangan internasional, dan menjadikan mereka hanya sebagai obyek untuk pembangunan. Di dalam negeri pun, Pak Ali tidak pernah bercekcok dengan instansi lain kecuali dengan Bank Indonesia yang menganggap mereka terlalu liberal dan tidak mau diatur pemerintah, sejak inilah Bank didefinisikan dalam bahasa Indonesia sebagai perusahaan yang berbisnis mengambil/mengerahkan uang dari masyarakat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sampai pada titik akhir buku ini selesai tidak pernah sedikit pun beliau bermasalah dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selaku pengawal harta negara dan ikut serta mendorong akuntabilitas dan transparansi keuangan negara, sampai pada beberapa titik pernah tidak sepakat dengan Soeharto dan mengundurkan diri. Ia dihancurkan namanya dan dituding sebagai teknokrat oleh kelompok-kelompok baru hanya karena berusaha membangun perekonomian melalui reformasi kebijakan fiskal dan moneter di era Kabinet Pembangunan. Buku ini merupakan tulisan beberapa kolega dan keluarganya yang dihimpun untuk mengilustrasikan seorang Ali Wardhana. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>15 Dec 2017</pubDate>
        <link>/personifikasi-ekonomi-indonesia</link>
        <guid isPermaLink="true">/personifikasi-ekonomi-indonesia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Belajar Ekonomi Sekaligus Belajar Pancasila</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Polemik Ekonomi Pancasila&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Tarli Nugroho&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Mubyarto Institute&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 928 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Universitas Gadjah Mada (UGM) telah mencetak banyak akademisi ternama di Indonesia. Nama mereka melambung hingga mancanegara. Salah satu dari rentetan panjang akademisi ini adalah Tarli Nugroho, Dosen Fakultas Ekonomi UP45 (sama seperti Dawam Rahardjo) dan juga peneliti di Pusat Studi Pancasila (PSP UGM). Ia mengawali langkahnya dengan berkuliah di jurusan Teknik Industri Pertanian, Fakultas Pertanian UGM. Berawal dari pertanian bukan berarti tidak bisa bicara Pancasila. Ilmu tidak mengenal batasan. Bidang yang ia kembangkan sekarang ialah seputar Ekonomi Pancasila. Meskipun banyak perdebatan yang belum usai mengenai Ekonomi Pancasila, namun tidak mengurungkan niat Tarli untuk memperkuat pondasi teori ekonomi yang berusaha dikembangkan di Indonesia. Dengan mengumpulkan karangan-karangan tersebar dari sejumlah ekonom Indonesia, buku ini adalah buku daras untuk memahami Pancasila dari sisi ekonomi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebelum memasuki kepada pembahasan pokok mengenai Ekonomi Pancasila, pendahuluan dari buku Tarli ini cukup menarik untuk disoroti. Ia menjelaskan mengenai fenomena “intelektual pengecer” yang ia kutip dari Arief Budiman. Tatkala perkembangan teori sangat pesat sekarang, para sarjana, yang sampai pada tingkat guru besar pun menjajakan pemikiran yang sudah jadi dan siap untuk diajarkan. Tarli menganalogikan para sarjana ini seperti penikmat makanan yang hanya bisa mengkritik dan memberi komentar tapi tidak berdaya jika masuk kedalam dapur dan disuguhi bahan mentah. Singkat kata, mereka tidak mampu menciptakan teori-teori baru, hanya mendompleng dan menghubungkan sebuah teori kepada permasalahan yang ada di Indonesia. Mereka lah generas_i textbook_. Akademisi seperti inilah yang dikritik Soekarno.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun banyak pemikiran modern dari bapak bangsa Indonesia menghilang karena tergerus oleh zaman. Gagasan mereka mulai memudar tatkala sudah jarang didiskusikan dan juga karena sistem pengarsipan yang buruk di Indonesia. Buruknya infrastruktur pengetahuan inilah yang menurut Tarli berakibat pada merosotnya gaya berpikir dan usaha pengembangan atau penciptaan teori di Indonesia. Namun, dalam poin pengumpulan berkas, memang bisa dibilang susah, bukan mustahil. Buku ini adalah usaha Tarli dalam memperjelas keberadaan Ekonomi Pancasila dan berusaha untuk memperbaiki pengarsipannya. Karena baginya, Ilmu Pengetahuan adalah Pengetahuan yang terhimpun lalu direkonstruksi dan ditata dengan rapi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk pembahasan Pancasila, penulis menjelaskan dua pandangan ekonom ternama, Emil Salim dan Mubyarto. Banyak seminar membahas mengenai polemik ini, dimulai di Yogyakarta. Dalam seminar tersebut, Ekonomi Pancasila dimaknai sebagai gagasan sistem ekonomi, bukan teori ekonomi yang baru. Paradigma tersebut dicetuskan oleh Emil Salim yang tidak terlalu konfrontatif terhadap ekonomi neoklasik. Bagi Emil, tidak ada teori yang salah, yang ada ialah penerapannya yang kurang baik. Sedangkan Mubyarto menganggap Ekonomi Pancasila sebagai alat kritik terhadap teori ekonomi neoklasik, ia hendak membuat Ekonomi Pancasila menjadi sebuah teori ekonomi yang baru. Usaha Mubyarto ini mendapati kritik dari Arief Budiman, yang mengatakan bahwa teori tersebut masih kekurangan konsep. Belum layak disebut teori.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hatta disisi lain, menganggap bahwa ada tiga paradigma ekonomi: teori ekonomi, politik ekonomi dan orde ekonomi. Tiga hal ini berbeda namun kerap dianggap sama. Berikut adalah penjelasan singkat dari buku ini. Teori Ekonomi merupakan ilmu empiris yang berusaha untuk memberikan keterangan mengenai cara manusia mencapai kemakmuran. Politik Perekonomian adalah strategi untuk melaksanakan teori ekonomi tersebut secara masuk akal dalam tindakan yang nyata. Dan Orde Ekonomi ialah organisasi ekonomi yang dibentuk guna memecahkan persoalan ekonomi yang bersifat historis-relatif. Penulis menjelaskan bahwa usaha Mubyarto sejatinya bukan memunculkan teori ekonomi baru, akan tetapi justru membangun politik perekonomian. Sedangkan Emil Salim berusaha menerapkan Ekonomi Pancasila sebagai orde ekonomi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dapat dilihat sekilas bahwa Tarli Nugroho dalam karyanya ini, ingin menjelaskan pertarungan ide mengenai Ekonomi Pancasila. Hampir semua karangan yang ia masukkan kedalam bukunya ini diberi catatan tersendiri. Ia hendaknya melakukan kritik juga terhadap para penggagas Ekonomi Pancasila. Belum pernah ada buku mengenai Pancasila dari perspektif Ekonomi, selain karya Mubyarto, yang se-komprehensif buku tulisan dan suntingan Tarli Nugroho ini, usaha yang memang luar biasa demi memperkenalkan Ekonomi Pancasila kepada khalayak umum. Inilah buku daras mata kuliah Sistem Ekonomi di Indonesia. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>06 Dec 2017</pubDate>
        <link>/belajar-ekonomi-sekaligus-belajar-pancasila</link>
        <guid isPermaLink="true">/belajar-ekonomi-sekaligus-belajar-pancasila</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Menegakkan Keadilan, Melawan Korupsi dan Penipuan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Fraud and Corruption in Public Services&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Peter Jones&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Gower Publishing&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 268 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2004&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini merupakan salah satu buku yang tidak begitu membahas mengenai pergerakan, lebih kepada pengarahan teknis untuk pengawasan dan auditing. Kenapa penting membaca ini ketimbang buku mengenai metode demonstrasi dan lain-lain? Jika bicara keadilan, yang terpenting bukanlah teori dan konsep mengenai keadilan, tapi bagaimana menerapkannya dengan tepat. Kriminalitas sendiri tidak selalu terjadi pada masyarakat bawah saja, tetapi golongan atas bahkan lebih sering melakukannya dengan cara yang elegan, korupsi misalnya. Penipuan dan korupsi adalah cara kelompok menengah-keatas melakukan kejahatan dan bentuknya lebih rapi ketimbang perampokan bank atau pembunuhan. Kejahatan ini dibutuhkan strategi dan kelihaian, mari kita kenali terlebih dahulu mengenai penipuan (&lt;em&gt;fraud&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penipuan adalah tindak pidana yang disengaja menurut Jones, pastinya menggunakan kebohongan-kebohongan yang diatur sedemikian rupa hingga merugikan orang lain atau korbannya. Adapun dua hal yang melatarbelakangi terjadinya penipuan: Tujuan (&lt;em&gt;intent&lt;/em&gt;) dan Kesempatan (&lt;em&gt;Opportunity&lt;/em&gt;). Individu pasti memiliki tujuan dalam melakukan penipuan, entah berasal dari dalam dirinya atau karena terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya dan muncul karena berbagai sebab dan motivasi seperti permasalahan keungan, fikiran bahwa orang lain juga melakukannya layaknya hal biasa, faktor ideologis (masih samar), tekanan dari individu atau kelompok lain, bahkan rivalitas akut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penipuan yang dibahas dalam buku ini memiliki konteks ekonomi, bukan kebohongan yang &lt;em&gt;ecek-ecek&lt;/em&gt;. Hal tersebut dimaknai sebagai tindakan sadar seseorang dalam menyelewengkan fakta mengenai catatan keuangan guna menggelapkan suatu aset atau sejumlah uang untuk keuntungan pribadi atau sekelompok orang. Bagi Badan Praktek Per-auditan (APB), penipuan yang dimaksudkan adalah penggunaan kebohongan untuk mendapatkan keuntungan finansial yang tidak legal. Demi melacak uang-uang yang dicuri ini, maka dibutuhkan seorang akuntan yang handal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kesempatan dalam melakukan penipuan atau korupsi ada setiap saat. Masa-masa stabil dalam suatu pemerintahan bisa menjadi kesempatan seseorang untuk melakukan korupsi, karena posisinya yang aman dan tenang. Adapun bisa negara dalam posisi konflik pun tetap bisa melaksanakan tindak kejahatan ini karena individu atau sekelompok orang yang melakukan hal ini tidak akan menjadi sorotan orang lain.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Permasalahan korupsi dan penipuan dalam sektor publik tidak dapat disamakan dengan yang ada di sektor pribadi, alasannya sederhana: semua masalah kepemilikan. Sektor pribadi silakan meraup untung sebanyak mungkin jika ia merupakan pemilik perusahaan. Namun sektor publik bekerja atas nama para pembayar pajak. Korupsi disini dimaknai oleh Jones sebagai tindakan yang mengutamakan keuntungan diri sendiri ketimbang kepentingan publik dan bisa juga saat melakukan hal yang melampaui kemampuan penentuan kebijakannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para pemegang saham sangatlah mudah jika ingin menghukum mereka yang melakukan korupsi didalam perusahaan, hanya dengan menarik pendanaan mereka, maka usailah pekerjaan para pegawainya. Akan tetapi, pembayar pajak tidak bisa melakukan itu karena, pajak ialah kewajiban warga negara. Untuk mencegah keberadaan korupsi di pemerintah, maka dari itu dibuatlah hukum yang mengatur mengenainya. Dalam melaksanakan perlu pula alat untuk menegakkan hukum ini tadi, kita sebut sebagai &lt;em&gt;auditor&lt;/em&gt; yang bertugas mengawasi keluar-masuknya uang negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Siapa bilang menjadi pegawai negeri sipil atau aparatur sipil negara itu mudah? Mereka tidak boleh dengan mudah menerima barang dari pihak lain, terutama jika memegang jabatan yang cukup tinggi. Kejadian seperti diatas bisa berujung pada bui. Masalah korupsi ini diperparah dengan kemajuan teknologi berupa komputer. Komputerisasi mempercepat laju kredit dan debit di dunia maya, terkadang bisa disamarkan sedemikian rupa sehingga tidak terdeteksi dengan cara menggunakan akun palsu di berbagai negara, layaknya di film-film. Hal tersebut tidaklah fiktif melainkan benar adanya. Tindakan ini bisa dilacak Buku ini mengulas pula peran akuntan yang bisa dibilang krusial dalam penggelapan maupun pelacakan uang. Tidak sedikit akuntan yang bekerja sebagai auditor. Bahkan Jones menganggap bahwa auditor sejatinya adalah penegak hukum selain polisi dan kejaksaan. Ia adalah bagian dari Yudikatif. Para auditor punya hak khusus dalam mengecek hampir seluruh transaksi yang pernah dilakukan oleh lembaga negara maupun aparaturnya, dan mereka wajib untuk memberikan data transaksi tersebut. Maka dari itu Negara Kesatuan Republik Indonesia, demi mewujudkan keadilan dibidang keuangan negara, dibentuklah Badan Pengawas Keuangan (BPK) dan salah satu lembaga negara yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 (UUD ’45).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini ditulis oleh Peter Jones sebagai panduan untuk mempraktekkan cara-cara pencegahan tindak pidana korupsi yang kerapkali diawali dengan penipuan. Inilah buku yang seharusnya dibaca oleh para administrator maupun auditor di Indonesia dan negara-negara berkembang yang masih bergelut dengan permasalahan korupsi. Pendekatan yang digunakan pun sifatnya praktis dan mudah diterapkan, jikalau diamati lebih jauh, karya Jones ini ialah pedoman bagi Mahasiswa Ilmu Administrasi Publik dalam mengenali berbagai cara untuk menangkis korupsi. Buku ini mengajari kita untuk mengambil keputusan dengan benar. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>01 Dec 2017</pubDate>
        <link>/menegakkan-keadilan-melawan-korupsi-dan-penipuan</link>
        <guid isPermaLink="true">/menegakkan-keadilan-melawan-korupsi-dan-penipuan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>PDB, Angka yang Berbahaya</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Problem Produk Domestik Bruto&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Lorenzo Fioramonti&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Marjin Kiri&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 220 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selaras dengan mata kuliah yang saya ambil, buku ini membahas Produk Domestik Bruto (PDB) yang nantinya juga akan bertemu dengan Pembangunan. Secara garis besar PDB ini adalah angka-angka yang digunakan untuk menilai kesejahteraan suatu negara secara makro. Nilai dari PDB inilah yang menguasai kebijakan pembangunan di berbagai belahan dunia, terutama jika dilihat lebih jeli, negara-negara berkembanglah yang berlomba-lomba untuk meningkatkan PDB. Di bagian belakang buku dijelaskan secara singkat mengenai PDB, bahwa angka-angka tersebut juga berguna untuk akses terhadap tata kelola dunia. Akan tetapi, ternyata banyak kekurangan dari neraca kesejahteraan ini. Buku ini diterbitkan dalam usaha untuk menguak permasalahan dibalik PDB.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bab awal dalam buku ini menjelaskan mengenai Sejarah PDB. Fioramonti berargumen bahwa usaha-usaha menghitung pendapatan nasional telah dilaksanakan sejak abad ketujuhbelas oleh orang Irlandia bernama William Petty. Yang melahirkan PDB ialah sebuah krisis mendunia yang kita kenal sebagai Depresi Besar pada tahun 1930an yang meremukkan perekonomian Amerika dan membuat para buruh dirumahkan setiap harinya. PDB lahir untuk menguji kondisi perekonomian nasional dengan nama Sistem Neraca Nasional (SNA). Dikala itu usaha tersebut muncul untuk mendorong perekonomian Amerika Serikat keluar dari krisis Depresi Besar dan mulai bersiap-siap untuk ekonomi dalam kondisi perang. SNA ini dipersiapkan oleh Simon Kusnetz, seorang ekonom berdarah Amerika-Rusia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tujuan utama Kusnetz dalam menjalankan program SNA ini adalah menghasilkan suatu ukuran agregat untuk merangkum produksi ekonomi, baik perseorangan, perusahaan maupun pemerintah menjadi satu angka tunggal. Banyak perdebatan mengenai muatan dalam SNA dan semakin lama semakin berevolusi menjadi PNB yang kelak akan digunakan secara luas, menjadi standar pertumbuhan ekonomi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasca Perang Dunia Kedua, terbelah kedua kubu yakni Uni Sovyet dan Amerika Serikat. Pada tahun 1988 mulai diterimalah sistem PNB ke dalam Negeri Tirai Besi tersebut. Dan dengan digunakannya PNB di dua poros besar, PBB mulai meng-_global_-kan PNB ke berbagai penjuru dunia, terutama negara-negara yang sedang berkembang. Di tahun 1991, PNB resmi diubah menjadi PDB. Perubahan nama ini juga merubah muatan perhitungannya. Dulu, PNB hanya menghitung barang dan jasa yang diproduksi oleh penduduk suatu negara tanpa memperhatikan penghasilan tersebut dari dalam atau luar perbatasan negara tersebut. PDB membuat statistik negara-negara di dunia berubah total karena juga melingkupi pendapatan perusahaan multinasional dan makin memperlihatkan usaha dominasi negara-negara pusat terhadap negara berkembang. Inilah dimulainya permasalahan dalam PDB yang dipandang makin memiskinkan negara miskin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada kisaran 1990-an, PDB menancapkan kekuasaannya di benua Eropa melalui Traktat Maastricht. Sejak ini, pandangan ekonomi di Eropa yang sosial-demokrat mulai beralih kepada neoliberal. Tidak akan ada kebebasan jika PDB sebuah negara rendah, dan tata kelola pemerintahan supranasional setingkat Uni Eropa akan turun tangan untuk mengintervensi kebijakan ekonomi di negara terkait. Seperti kata penulis, “tiada peningkatan PDB, tiada pesta”. Kemampuan PDB dalam menghegemoni negara-negara di seluruh dunia membuatnya semakin ditakuti dan makin banyak yang mengikuti sistem ini untuk berlomba-lomba menjadi negara yang dapat dilabeli sebagai adidaya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semenjak PDB ini diterapkan di seluruh negara, muncul istilah-istilah seperti “&lt;em&gt;emerging powers&lt;/em&gt;” atau kekuatan yang sedang naik daun. Beberapa negara yang mendapatkan panggilan seperti itu ialah BRIC (Brasil, Rusia, India dan Cina). Mereka adalah negara dengan kategori berkembang yang memiliki pertumbuhan PDB cukup pesat. Menurut teori sistem dunia, mereka adalah negara-negara semi-periferi. Perhitungan PDB tidak hanya meningkatkan perekonomian, namun status suatu negara secara geopolitik. G8 dan G20 pun mengikuti sudut pandang PDB dalam keanggotaannya. PDB lah sumber kesenjangan terbesar dan asal muasal munculnya golongan negara si kaya dan si miskin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Secara keseluruhan, buku ini menggunakan bahasa yang sangat mudah dipahami dan memang cocok dibaca oleh khalayak umum, penerjemahnya pandai memilih kata sehingga pembaca tidak bingung dengan kalimat-kalimat yang digunakan. Dari segi penataan halaman terkesan rapi dibalut dengan sampul yang menarik. Adapun tambahan didalam buku ini berupa pembatas buku yang sederhana tapi berguna. Harga nya pun tidak mahal, dalam kisaran Rp. 60.000,00 sudah bisa mendapatkan satu eksemplar (untuk wilayah Surabaya sudah ada di C2O). Memang Marjin Kiri tidak pernah salah dalam menerbitkan buku-buku kritis. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>23 Nov 2017</pubDate>
        <link>/pdb-angka-yang-berbahaya</link>
        <guid isPermaLink="true">/pdb-angka-yang-berbahaya</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Aktivis Politik, Bukan Politisi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: A Political Life&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Norberto Bobbio&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 224 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2002&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada perbedaan yang cukup signifikan antara aktivis politik dan politisi. Pertama, aktivis politik jika dicermati lebih jauh, memiliki ideologi yang dipegang erat, sedangkan politisi lebih mementingkan kepada praktek politiknya. Kedua, politisi lebih sering terlihat di panggung dan menjadi simbol dari sebuah parta, rezim atau gerakan politik, akan tetapi, aktivis politik merupakan pemain di belakang panggung dengan gagasan yang mereka bawa. Adapun politisi lebih mementingkan jumlah suara yang akan dia bawa dalam kontestasi politik, dimana para aktivis politik lebih menekankan kepada “apa yang dilakukan setelah menang dan kalah”, kelompok aktivis politik lah yang menjadi golongan pemikir, mereka lah motor politik yang sebenarnya, politisi hanya lah boneka mainan mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Norberto Bobbio merupakan seorang aktivis politik asal Italia dengan aliran marxis, ia salah satu promotor gelar profesor untuk Antonio Negri di Universitas Padua. Salah satu bekas begawan Partai Komunis Italia yang pada akhirnya ia tolak. Beliau adalah musuh dari Benito Mussolini pada akhir perang dunia kedua, era dimana muncul kelompok revolusioner di Italia, mereka yang nantinya akan digembleng oleh Negri menjadi Brigatte Rosse dan mencetuskan komunisme ala Italia, Autonomia. Semasa perlawanannya terhadap Mussolini, ia ditahan, disiksa dan dipisah dari keluarganya. Bobbio menghadapi bukan kapitalisme dari pasar, tapi fasisme, ia menghadapi negaranya sendiri. Intelektual pada zamannya merupakan para pemikir transisi dari Italia yang diktator menjadi demokratis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Norberto muda memulai fase perlawanannya saat ia masih tinggal di Camerino. Ia sering ikut berkumpul dengan kelompok sosialis-liberal yang dibentuk oleh Guido Calogero. Meski ia lahir dikeluarga yang mendukung fasisme, tetapi dia membuktikan bahwa keluarga bukan faktor utama yang membentuk pemikiran seseorang, ia menjadi komunis karena kelompok diskusi dan teman-temannya. Pandangan mengenai sosialisme-liberal nya lebih konservatif ketimbang kawan-kawannya, ia menganggap bahwa ideologi tersebut ialah sebuah pemikiran yang memiliki sopan-santun. Sebuah keinginan untuk terus menerus memperbarui gaya berpikirnya. Harapan melawan ideologi “kotor” seperti fasisme. Walaupun dianggap agak melenceng dari tradisi berpikir marxis pada umumnya, tapi sosialisme-liberal terbukti ampuh dalam mengorganisir massa untuk melawan Mussolini dan kroni-kroninya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah berhasil menumbangkan rezim otoriter &lt;em&gt;Italia La Prima&lt;/em&gt;, Bobbio berusaha untuk mencari sistem pemerintahan yang cocok untuk Italia. Iklim perpolitikan masih kacau balau, namun ada kabar baik, bahwa universitas-universitas seantero Italia telah dibuka kembali dan bebas mengajarkan ilmu pengetahuan apapun, bagi Bobbio, ini adalah jalan awal menuju Demokrasi yang didambakan kelompok kiri. Walau begitu, sistem pemerintahan belum jelas dan pilihannya adalah antara republik atau monarki. Adapun pendukung sistem republik ini adalah &lt;em&gt;Action Party&lt;/em&gt;, mereka meminta Bobbio untuk memberikan ceramah keliling kota di Italia untuk meyakinkan masyarakat bahwa republik adalah pilihan yang benar. Dari sini lah ia mendirikan surat kabar &lt;em&gt;La Repubblica&lt;/em&gt;. Fleksibilitas baik dari partai maupun surat kabarnya membuat pemilihan sistem pemerintahan dimenangkan oleh kelompok Republikan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terlepas ia memang pengikut sosialisme dan komunisme, namun kadarnya tidak terlalu kental. Ia kurang menyukai gaya despotik kelompok komunis soviet yang tidak demokratis. Ia menolak bentuk “soviet” dari sebuah sistem pemerintahan karena, pada akhirnya sama saja dengan sistem monarki dan bisa menjadi sebuah kediktatoran baru. Bobbio menganggap bahwa bentuk partai komunis terlalu terpusat dan kurang terbuka dalam pengambilan keputusan. Pertanyaan bagi kelompok komunis selalu sama: kebebasan. Sejauh mana masyarakat ini bebas (berpendapat). Sejak berkembangnya partai komunis di Italia ini lah, perang dingin antara Uni Soviet dan Amerika dimulai dan pertarungan politik Bobbio pun mulai terasa. Meskipun berawal dari pemikiran sosialisme dan komunisme, pada akhirnya ia tertambat pada republikanisme, dia lah Bapak Republik Italia. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>22 Nov 2017</pubDate>
        <link>/aktivis-politik-bukan-politisi</link>
        <guid isPermaLink="true">/aktivis-politik-bukan-politisi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sowan, Bukan Blusukan</title>
        <description>&lt;p&gt;Sutradara: Destian Rendra&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Produser: Syahidan Z&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pemeran: Antonius Budi P, Siadi, Lendy Wahyono, dll.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sekitar beberapa jam yang lalu penulis melihat sebuah video unggahan berdurasi lima menit di Linimasa Line, karena tidak ada pekerjaan lain dan badan masih dalam keadaan kurang sehat, maka diputarlah video tersebut. Awal terlihat kurang menarik karena isinya pembicaraan saja tanpa adegan aksi atau bertarung, namun memang bukan itu yang mau dituju oleh film pendek yang satu ini. Dibagi dalam tiga adegan yang menjelaskan kehidupan petani, pengepul dan penjual di pasar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Permasalahan yang diangkat cukup lah sederhana, problematika pasar tradisional di Indonesia sehari-harinya. Film ini mengisahkan seorang Walikota yang menyamar menjadi penduduk biasa dan keliling kotanya untuk melihat lebih dekat kehidupan masyarakatnya. Ini kenapa judul film ini &lt;em&gt;Sowan&lt;/em&gt; bukan &lt;em&gt;Blusukan&lt;/em&gt;. Ia memulai perjalanannya dengan turun ke para petani yang merasa resah dengan kegiatan para pengepul. Mereka menganggap bahwa para pengepul selalu mendapat untung yang lebih tinggi dibanding para petani yang susah-susah menanam padi dengan modal yang tidak kecil.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah bertemu petani, ia melanjutkan perjalanan dan &lt;em&gt;nyangkruk&lt;/em&gt; dengan para pengepul. Ternyata tidak hanya petani yang berkeluh-kesah, bahkan pengepul pun merasa tidak tenang hidupnya dikarenakan harga sembako yang tidak pasti dan berapapun pendapat mereka, para pengepul harus setor 5%, entah kepada siapa, bagi mereka, susah hidup menjadi pengepul karena dimata masyarakat selalu dipandang buruk. Pemasukan mereka pun tidak tentu karena terkadang pedagang pasar tidak mau membeli barang dari mereka, dibeli pun masih harus dipotong komisi dan pembayaran oleh pedagang dilakukan setelah barang para pengepul laku terjual.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam penggambaran si penjual di pasar, terlihat sedikit konflik yang muncul antara kelompok pedagang dengan seorang pengepul yang kesal karena pekerjaannya selalu dianggap buruk oleh khalayak umum. Para pedagang pun merasa dirugikan di pasar tradisional dan menganggap bahwa keuntungan hanya mengalir pada pengepul, si pengepul tidak sepakat karena tidak hanya mengirimkan barang, tapi mengumpulkan barang dari petani-petani juga sulit, belum lagi tawar menawar harga yang pas dan mereka pun mengambil untung sepantasnya untuk bertahan hidup dengan pekerjaan mereka yang dipandang sebelah mata.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ternyata, permasalahan yang ada di ranah paling dasar pun kompleks penyelesaiannya, si Walikota pada akhirnya membuat kebijakan untuk harga tetap bagi sembako, sehingga baik petani, pengepul dan penjual dapat memperkirakan keuntungan yang mereka dapat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menggelontorkan program wajib belajar sembilan tahun. Acapkali mahasiswa sekarang berbicara begitu tinggi mengenai revolusi dan segala macamnya yang merupakan konflik horisontal antara “borjuasi” dan “proletar”, hingga mereka lupa bahwa di kalangan bawah sendiri, konflik vertikal seringkali terjadi dan belum dapat terselesaikan. Pesan terakhir ialah pesan yang paling menarik ialah “&lt;em&gt;rakyat isok nikmati selama de’e mimpin&lt;/em&gt;” (rakyat bisa menikmati hidupnya selama di memimpin), jenis walikota seperti ini lah yang seharusnya kita cari, bukan &lt;em&gt;blusukan&lt;/em&gt;, tapi &lt;em&gt;sowan&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;NB: Film pendek ini merupakan salah satu peserta kompetisi The 5-Min Video Challenges&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>20 Nov 2017</pubDate>
        <link>/sowan-bukan-blusukan</link>
        <guid isPermaLink="true">/sowan-bukan-blusukan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Pemuda Menjunjung Revolusi dan Nasionalisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Age of Revolution&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Eric Hobsbawm&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Abacus&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 413 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit:  2002&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Revolusi, kata yang sering dikumandangkan diabad keduapuluh ini juga sering digunakan sampai sekarang. Banyak peristiwa di pelbagai belahan dunia acapkali diidentikkan dengan frasa ini. Sejak awal tercetusnya revolusi di dua negara, kata ini menjadi tonggak perubahan, di Inggris disebut Revolusi Industri dan di Perancis ialah Revolusi Perancis. Revolusi Industri lebih menekankan kepada perubahan mekanisme produksi dalam pabrik, dimana yang awalnya menggunakan tenaga kerja manusia, diotomatisasi dengan menggunakan mesin, sehingga berdampak pada meningkatnya angka pengangguran. Disisi lain, Revolusi Perancis lebih kepada perubahan sistem pemerintahan yang monarki absolut menjadi republik demokratis. DI Perancis, revolusinya berdarah-darah dan dimulai dengan penyerangan penjara Bastille dan ditutup dengan pemenggalan Louis ke XVI dengan Guillotine. Tren yang sering disandingkan dengan revolusi ialah yang terjadi di Perancis dan ditiru oleh Uni Soviet (Lenin) dan Cina (Mao).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perubahan mengenai sistem pemerintahan yang sering digarisbawahi oleh para pemikir, Hobsbawm melihat hal lain: berubahnya makna nasionalisme sejak tahun 1789. Pasca terjadinya revolusi, muncul lah kelompok-kelompok nasionalis yang radikal. Gerakan ini disimbolkan dengan munculnya kelompok Pemuda yang digaungi oleh Giuseppe Mazzini pada tahun 1830. Beberapa kelompok tersebut ialah: &lt;em&gt;Young Italy, Young France&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Young Germany&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Young Poland&lt;/em&gt;, dll yang hampir sama seperti yang terjadi di Indonesia beberapa dekade kemudian. Bisa dilihat bahwa teknik gerakan yang ada di Asia Tenggara, khususnya Indonesia, terinspirasi dari gerakan nasionalis muda di Eropa. Bentuk gerakan terorganisir semacam ini pada tahun 1840 diadaptasi oleh Irlandia dan memunculkan &lt;em&gt;Young Ireland&lt;/em&gt;, sebuah organisasi yang menjadi tunas dari &lt;em&gt;Ireland Republican Army&lt;/em&gt; (IRA). Keberadaan organisasi nasionalis muda ini menandakan pecahnya gerakan revolusioner Eropa menjadi skala nasional di tiap negara untuk memperkokoh pondasi negara tersebut, meskipun permintaan ini berbeda-beda tapi program politik yang mereka gunakan kurang lebih masih sama dengan sebelum-sebelumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Keberadaan organisasi diatas adalah untuk mengusung kebebasan tapi menyalurkannya kepada rasa cinta terhadap tanah airnya masing-masing. Memperkuat keberadaan negara-bangsa. Tapi segala macam metode yang digunakan oleh mereka tetap berkiblat pada Paris sebagai pencetusnya dengan &lt;em&gt;Paris Commune&lt;/em&gt; nya. Akan tetapi, banyak yang menganggap bahwa revolusi industri dan Revolusi Perancis merupakan revolusi kelompok borjuasi, maka dari itu, gerakan nasionalis ini banyak diisi oleh kelompok kelas menengah seperti bangsawan kecil atau tuan tanah, bahkan kaum saudagar. Maka dari itu pada abad delapanbelas dianggap sebagai zaman transformasi kelompok borjuasi. Munculnya nasionalisme di Eropa pun berasal dari tingkat masyarakat tengah ini, mereka lah yang berusaha menyekolahkan anaknya dan memunculkan kelompok mahasiswa yang nantinya akan membantu dan mendorong pergolakan kelas di Eropa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jumlah kemunculan dan kemajuan universitas di negara-negara Eropa berkembang pesat karena kebutuhan terhadap kelas menengah terpelajar yang pada waktu itu masih sedikit dan berbentuk elitis. Generasi muda ini lah yang akan membawa gagasan mengenai kebebasan dan pembebasan (kemerdekaan), mereka lah yang menjadi ujung tombak perjuangan melalui diplomasi dan negosiasi, bahkan aksi sekaligus. Dari sini lah kelompok terpelajar mempelajari banyak bahasa asing dan nantinya mereka lah yang akan mengidentifikasi bahasa negaranya dan menjadikannya sebagai simbol pemersatu dan jugan propaganda untuk melukiskan sebuah bangsa yang utuh.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bahasa merupakan senjata utama mereka dalam berjuang. Penyadaran akan rasa cinta terhadap tanah air dilakukan melalui budaya membaca, maka dari itu, para pemuda ini terlebih dahulu berusaha memberantas buta huruf dengan sering-sering berpropaganda melalui tulisan. Tipikal pergerakan macam ini lah yang dicontoh oleh bapak bangsa kita semenjak munculnya Boedi Oetomo sampai sekarang adanya BEM SI ialah memperkuat budaya literasi. Mulai dari pamflet hingga sekarang postingan di media sosial, pergerakan pemuda (baca:mahasiswa) masih lah kental di berbagai penjuru dunia, terlepas negara mereka udah merdeka atau belum. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Nov 2017</pubDate>
        <link>/pemuda-menjunjung-revolusi-dan-nasionalisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/pemuda-menjunjung-revolusi-dan-nasionalisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Peluang dan Potensi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Futurability&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Franco “Bifo” Berardi&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Verso&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 246 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terlepas judul buku ini mungkin diartikan sebagai “masa depan”. Namun sejatinya pembahasan utama dalam buku ini adalah gambaran-gambaran terhadap peluang masa depan kita. Kita hidup dalam dunia yang penuh dengan peluang. Peluang adalah sebuah konten, potensi adalah energi dan kekuasaan adalah bentuknya. Bifo menganggap peluang sebagai sebuah konten yang berada di dalam sebuah &lt;em&gt;constitution of the world&lt;/em&gt; (tatanan dunia). Peluang ini tidak hanya satu, dan sifatnya majemuk. Ia adalah sebuah kata yang tidak tak terbatas, dibatasi oleh lebih banyak lagi kemustahilan yang ada di dunia. Dalam menghadapi alternatif pilihan terhadap peluang-peluang yang ada di depan mata, terkadang organisme akan tergentar, akan tetapi, mau tidak mau, pada akhirnya organisme tersebut harus memilih salah satu peluang berdasarkan potensi yang paling menguntungkannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bifo mengungkapkan bahwa potensi baginya ialah energi subyektif yang menyebarkan peluang dan mengaktualisasikannya. Potensi adalah sebuah energi yang mengubah peluang menjadi sebuah kenyataan. Dan kekuasaan merupakan sebuah seleksi dan pelaksanaan dari salah satu peluang dari banyak peluang lainnya dan sebuah pengecualian (bahkan penghilangan) dari beberapa peluang lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ia mengutip pemaknaan Henri Bergson terhadap kata “peluang”, bahwa peluang yakni sesuatu yang tidak mustahil dan dapat diaktualisasikan, peluang dapat dimaknai sebagai tidak adanya hambatan atau jalur untuk melewati sebuah hambatan, peluang adalah sebuah &lt;em&gt;pre-existence&lt;/em&gt; dalam bentuk sebuah gagasan. Tetapi, Bifo lebih mengarahkan ini mengenai masa depan dimana peluang berbicara mengenai hal yang akan datang dan dapat dilihat pertandanya mulai dari sekarang. Yang menjadi permasalahan ialah banyaknya peluang dan kemungkinan terkadang saling berkonflik dan berkontradiksi antara satu sama lain. Peluang adalah sesuatu yang dapat dilaksanakan dan tidak mustahil. Sebuah organisme memiliki peluang masing-masing dalam mengembangkan dirinya sendiri, tergantung pada pola kehidupan yang mereka buat dan kode genetika yang mereka miliki. Peluang mereka dalam mengembangkan diri tidaklah tak terbatas namun dapat diprediksi hasil perkembangannya melalui pola kehidupan itu tadi. Adanya pilihan-pilihan dalam mengembangkan diri inilah yang ditekankan Bifo sebagai sebuah “Peluang”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk itu, Potensi adalah sebuah energi untuk bisa mentransformasikan sesuatu sesuai dengan keinginan subyeknya. Sejarah adalah peluang yang telah terjadi dan didorong dari potensi yang muncul dalam sebuah subyek, sebelum sejaran itu terjadi, maka bentuknya adalah masa depan, pembahasan peluang dan potensi ini juga terbatasi oleh koridor waktu. Potensi disini memberikan kita (manusia) kebebasan dalam mengubah lingkungan. Sejarah memiliki pencabangan dimana tiap cabang itu tadi dulunya merupakan sebuah peluang yang teraktualisasi karena adanya potensi dan kekuasaan dalam seorang atau sekelompok manusia, pastinya sejarah yang ditulis turun temurun adalah sejarah yang penting, maka dari itu, aktor-aktornya pun akan diambil yang penting pula.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis mengkritik sudut pandang Toni Negri bahwa potensi tidak lah tak terhingga, namun terbatasi oleh peluang-peluang yang saling kontradiktif, apalagi peluang tersebut hanya bisa dipilih salah satu untuk diaktualisasikan. Untuk mengambil sebuah peluang, seorang harus memiliki potensi pribadi dan kekuasaan untuk menghantam lajur peluang yang sekiranya tidak menguntungkan dia, dari sini lah peristiwa-peristiwa besar terjadi dan tercatat dalam buku sejarah. Salah satu contoh yang diangkat oleh Bifo dalam menghantam sudut pandang Negri ialah kemerdekaan. Bagi Negri, kemerdekaan suda menjadi harga mati, sedangkan bagi Berardi, kemerdekaan adalah awalnya sebuah peluang yang diambil dan dengan potensi sebuah negara mampu membebaskan dirinya sendiri, sekiranya peluang tadi tidak dilengkapi dengan potensi, maka akan gagal sebuah negara dalam memerdekakan dirinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah cukup rumit pembahasan mengenai peluang, potensi dan kekuasaan yang tertulis di buku ini, memang bahasa yang digunakan cukup berat dan tidak dianjurkan bagi pembaca pemula, peresensi sendiri sedikit kesulitan awalnya dalam menerjemahkan, karena ada beberapa istilah baru yang kemungkinan  besar perlu penafsiran lebih lanjut. Tipe penulisan dari beberapa bab dalam buku ini cenderung sangat ilmiah, maka dari itu segmentasi yang dibidik adalah civitas akademika. Bagi mereka, para kiri genit, perlu rasanya untuk membeli dan memahami buku ini agar dapat menjelaskan secara komprehensif mengenai dialektika materialisme, supaya tidak hanya mengutip dari Marx saja. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>05 Nov 2017</pubDate>
        <link>/peluang-dan-potensi</link>
        <guid isPermaLink="true">/peluang-dan-potensi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Ibnu Khaldun dan Masalah Kenegaraan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Muqaddimah&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Ibn Khaldun&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Pustaka Firdaus&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 846 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2000&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seringkali resensi buku yang ada dalam website ini berisi buku-buku ideologis yang berhubungan dengan mata kuliah sosial dan politik, semua resensi tersebut adalah dampak sekularisasi pendidikan yang didapat oleh peresensi sejak Sekolah Dasar. Munculnya mata ajar Pendidikan Agama Islam diluar mata ajar lainnya ialah sebuah usaha memisahkan agama dengan ilmu pengetahuan umum lainnya yang bersifat eksak maupun non-eksak (sosial). Sejatinya, Islam sudah berusaha menguak permasalahan sosial dan politik melalui Ibn Khaldun jauh sebelum Auguste Comte, Emile Durkheim dan Max Weber. Keberadaan wacana ketauhidan pun tidak terlepas dari ilmu kemasyarakatan. Wacana keislaman dalam ilmu sosial dan politik kurang begitu ditonjolkan sehingga para pemikir sosial dan politik kerapkali tertimbun dibawah hegemoni teori-teori Barat. Kali ini pereseni akan mengambil karya seorang Ibnu Khaldun sebagai penyeimbang Barat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti yang umumnya diketahui bahwa Ibnu Khaldun adalah seorang pemikir Islam yang lahir di Tunisia pada tahun 1332 Masehi. Ia menjelaskan dalam bukunya ini bahwa manusia memiliki banyak sekali pekerjaan untuk memenuhi kehidupan, dan mustahil jika pekerjaan tersebut dilakukan sendiri, maka dari itu dibutuhkan sesuatu yang kita sebut sebagai organisasi, biasanya disebut sebagai Kota (arab: Al-Madinah). Beliau menggambarkan bahwa manusia bersifat politis menurut tabiatnya, sesuai dengan kata &lt;em&gt;Zoon Politicon&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Manusia tumbuh besar diberi akal pikiran oleh Allah S.W.T yang terutama ialah untuk bertahan hidup (mencari makan). Adanya kodrat ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan biologis berupa makanan sesedikit apapun tanpa adanya kerjasama dengan manusia lain, maka dari itu, hubungan antar manusia juga menjadi penekanan utama dalam Islam. Hubungan kerjasama inilah yang nantinya membangun negara, dari sinilah kota besar dibangun dan merencanakan kota kecil. Hendaknya dalam bernegara dibutuhkan seorang pemimpin, biasanya disebut sebagai Sultan pada zaman itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi Ibnu Khaldun, Negara mendahului keberadaan kota besar dan kota kecil, kota-kota itu adalah produk sekunder dari negara. Pendirian bangunan dikota adalah tanda kemajuan suatu peradaban dan kedaulatan negaranya. Kemampuan seperti ini hanya bisa dilakukan oleh negara, karena dibutuhkan usaha terpadu dan kerjasama dari orang banyak. Yang dapat melakukan paksaan untuk melaksanakan pembangunan hanyalah negara dengan kedaulatan yang mereka miliki, untuk masalah upah kerja adalah sesuatu yang keluar setelah paksaan tersebut dilaksanakan, namun bisa juga menjadi faktor pendorong yang cukup ampuh. Hidupnya negara adalah hidupnya kota, ketika kedaulatan negara tersebut pupus, maka runtuhlah kota-kota yang ada di negara tersebut, layaknya Iraq dan Afghanistan sekarang. Keruntuhan kota ini juga menjadi penyebab kemunduran peradaban, bisa dicermati disini bahwa relasi antar negara, kota dan peradaban sangatlah erat dan tidak terpisahkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Populasi jika menjadi faktor penting dalam perkembangan peradaban, keberadaan manusia dalam jumlah besar akan memaksa negara untuk membangun pemukiman yang lebih banyak dan bangunan yang lebih tinggi, guna memberi tempat berteduh populasinya. Pertumbuhan ekonomi pun setara dengan pertumbuhan penduduk, roda ekonomi akan berjalan sesuai dengan banyaknya transaksi karena besarnya populasi di suatu negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat negara memiliki kedaulatan yang besar, maka dua hal yang menjadi faktor pendorong untuk menguasai kota-kota, yakni kedaulatan akan menyebabkan masyarakat hidup tentram, makmur, tenang dan santai, dan negara harus mempertahankan kota-kota dari serangan musuh (ekspansi) agar kedaulatannya tidak berkurang, karena semakin kecil wilayah kekuasaan menandakan semakin kecul pula kedaulatan yang dimiliki suatu negara. Itu kenapa bagi Ibnu Khaldun, kedaulatan suatu negara memerlukan perkampungan urban (perkotaan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Keberadaan monumen dalam suatu negara juga menjadi penanda kuatnya kedaulatan suatu negara dan kemajuan peradaban, hanya negara yang kuat dan besar yang dapat membangun monumen yang menjulang tinggi karena memiliki sumberdaya manusia dan alam yang banyak. Monumen ini juga menjadi perlambang kejayaan masa lalu maupun masa sekarang dan dapat berbentuk bermacam-macam, seperti Piramida di Mesir yang menandakan legitimasi Fir’aun setinggi langit, atau perpustakaan Kordoba yang sangat luas menandakan kemajuan ilmu pengetahuan di Andalusia, perlambang ini mengikuti jenis kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki negara tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak hal lain yang dijelaskan dalam kitab tebal ini, terutama mengenai pangkat, dinasti, pemerintahan. Dari buku ini juga muncul stratifikasi sosial yang pada saat itu belum diberi nama, hanya klasifikasi dan diferensiasi. Buku ini sejatinya adalah sebuah tonggak dan pertanda bahwa peradaban Islam pernah mengalami kemajuan yang sangat pesat, namun naas, mendengar penjelasan buku ini layaknya bernostalgia dengan kejayaan masa lalu. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Foto: &lt;a href=&quot;https://funci.org/ibn-khaldun-and-the-rise-and-fall-of-empires/?lang=en&quot;&gt;Islamic Culture Foundation&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>28 Oct 2017</pubDate>
        <link>/ibnu-khaldun-dan-masalah-kenegaraan</link>
        <guid isPermaLink="true">/ibnu-khaldun-dan-masalah-kenegaraan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Seorang Lelaki Bicara Feminisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Dominasi Maskulin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Pierre Bourdieu&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Jalasutra&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 180 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2010&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam dunia ini hanya ada dua jenis kelamin, lelaki atau perempuan. Baik keduanya telah menjadi sebuah kajian tersendiri, terlepas untuk bagian yang lelaki tidak menjadi sebuah ideologi. Maskulinitas ada, Maskulinisme tidak ada. Disisi lain, kajian keperempuanan telah berkembang sedemikian rupa hingga menghasilkan Feminisme dan Pos-Feminisme. Pembahasan dua pemikiran tersebut sebenarnya bukan mengenai kelamin, tapi lebih kepada posisi perempuan dalam masyarakat yang kerapkali berada dibawah lelaki. Perempuan sebagai sub-ordinat dan lelaki sebagai super-ordinat. Ketidaksetaraan ini menyebabkan adanya kesenjangan sosial dan bahkan perempuan acapkali diremehkan, meskipun sejatinya kemampuan mereka tidak kalah hebat dibanding lelaki.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun gagasan feminisme semakin lama semakin berkembang menjadi berbagai macam seperti, Anarko-Feminisme, Marxisme-Feminisme, Feminisme-Liberal, dll. Yang menarik adalah bagaimana saat seorang lelaki ternyata memahami keberadaan dominasi maskulinitas dan akhirnya menulis sebuah buku yang membuat dirinya seorang feminis? Keberadaan buku ini menandakan bahwa tidak hanya seorang perempuan yang dapat menjadi seorang feminis, melainkan lelaki pun bisa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebuah gambaran besar diawal buku ini, Bourdieu berusaha menjelaskan bahwa lelaki dan wanita adalah sebuah objek yang berusaha kita pahami, namun terkadang sudut pandang yang kita gunakan ialah sudut pandang maskulin, kita menggunakan kacamata salah satu objek, dimana hal itu akan menghasilan objektivikasi dari subjek (lelaki memandang perempuan) dan memunculkan dominasi maskulin. Bourdieu menggunakan analisis etnografi dalam memahami keberadaan dominasi maskulin ini di masyarakat Qubail, Aljazair. Pandangan tradisi masyarakat di Qubail masih lah androsentris (pandangan bahwa lelaki adalah pusat dunia) meskipun mereka telah ditaklukkan berkali-kali, agamanya silih berganti karena penaklukkan tersebut akan tetapi pandangan ini tidak pernah hilang, kenapa? Karena tradisi androsentri ini berasal dari kebudayaan mediterania yang melahirkan tradisi di Aljazair, Spanyol, Italia dan wilayah mediterania lainnya. Dan meskipun Eropa seraya menolak keberadaan dominasi maskulin, mereka pun adalah anak dari kebudayaan mediterania. Maka dari itu, dominasi maskulin sejatinya adalah hal biasa di daerah mana pun, bahkan Eropa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adanya konstruksi sosial mengenai tubuh juga mempengaruhi sudut pandang manusia. Lelaki kerapkali digambarkan kuat dan berotot, segala hal yang sifatnya naik, seperti ereksi, dilambangkan sebagai lelaki dan menandakan status sosialnya yang berada diatas, dalam hubungan seksual, lelaki kerapkali digambarkan sebagai yang mendominasi, sedangkan perempuan hanyalah objek untuk memuaskan hasrat sang lelaki. Pandangan seperti ini masih ada hingga saat ini. Dalam suatu sistem, termasuk sistem budaya, harus ada pembagian objek dan subjek, maka dari itu maskulin dan feminim seringkali mencoba dominan, namun feminim seringkali gagal dan kembali lagi maskulin mencoba membuat feminim sebagai sebuah objek, bukan lah subjek. Alhasil posisi perempuan selalu dikebawahkan karena keberadaan seorang lelaki tanpa melihat kemampuan dan kepandaian yang dimiliki oleh seseorang jika tradisi dan budaya di suatu wilayah masih androsentris.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam kehidupan sehari-hari, bahkan kehidupan rumah tangga, segala hal telah mendapatkan kategori seksualnya masing-masing. Tiap benda memiliki kecenderungan terhadap salah satu jenis kelamin yang berasal dari intensitas pemakainya dan juga kuat tidaknya benda ini tadi. Adanya kategorisasi ini semakin menunjang dominasi dari golongan maskulin dengan keberadaan banyaknya benda-benda berguna dan kuat yang dikategorikan maskulin. Feminim pun dalam bahasa arab ialah benda-benda jamak dan tidak berakal, dimana pemaknaan ini semakin merendahkan keberadaan dan posisi seorang perempuan. Masalah ini pun berimbas pada pembagian kerja yang dilihat secara seksual. Untuk tempat-tempat strategis rata-rata diisi oleh kelompok lelaki, seperti CEO, Owner, CFO, dan segala hal yang sifatnya penunjang seperti penasehat, sekertaris dan bendahara selalu diisi dari kalangan hawa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun ada satu pekerjaan yang biasanya enggan diisi kelompok hawa terlepas pekerjaan ini seringkali dilakukan oleh para lelaki, kuli bangunan. Terkadang menarik membahas diskursus feminisme dari berbagai sudut pandang dan selalu ada perdebatan didalamnya, tidak hanya kelompok marxis yang reaksioner, para feminis pun tidak kalah reaksionernya. Ada yang berkata bahwa jika kita sering mendiskusikan mengenai perempuan baik secara ilmiah ataupun tidak, secara tidak langsung kita telah membuat perempuan menjadi objek dan inilah yang menjadi penghambat emansipasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejatinya buku ini adalah buku yang saat menarik untuk dibaca karena bahasanya yang cukup ilmiah, namun itu pun menjadi kelemahannya, karena pada titik tertentu akan susah memahaminya. Entah karena penerjemahannya atau memang penulisnya. Tapi beberapa skema yang ada didalam berusaha mempermudah kita dalam memahami teks yang ada. Sesungguhnya Allah tidak memberi cobaan diluar batas kemampuan hamba-Nya. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>26 Oct 2017</pubDate>
        <link>/seorang-lelaki-bicara-feminisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/seorang-lelaki-bicara-feminisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Ide Politik Mengenai Poskolonialisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul buku: Black Skin, White Mask&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Frantz Fanon&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Jalasutra&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal buku: xx + 188 hlm&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Frantz Fanon, seorang psikiater sekaligus salah satu pemikir revolusioner dibidang poskolonialisme. Ia juga berkawan dekat dengan Aime Cesaire, penulis buku &lt;em&gt;Diskursus Kolonialisme&lt;/em&gt; yang mengkritik tidak adanya perspektif humanisme yang dibawa oleh kolonialisme. Buku tersebut merupakan &lt;em&gt;masterpiece&lt;/em&gt; Cesaire dan turut memengaruhi Fanon dalam menulis kritik terhadap kolonialisme. Imbuhan ‘pos’ dalam kata ‘kolonialisme’ secara sederhana memang berarti ‘sesudah.’ Tetapi, apa yang sebetulnya ada sesudah kolonialisme?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini dikembangkan dari pengalaman dan pengamatan Fanon seputar permasalahan kulit hitam di Antilles, tanah kelahirannya. Meski ia menyatakan bahwa pengamatan dan kesimpulannya hanya berlaku di Antilles, begitu membaca tiap lembarnya, kita tahu bahwa pemikirannya dapat menerobos batas ruang dan waktu hingga ke masa kini. Pun harus kita pahami, Fanon mendasarkan pengamatan dan kajiannya pada teori psikoanalisis. Teori ini menekankan pengamatan pada emosi dan perilaku manusia. Melalui psikoanalisis, Fanon dapat membangun kesimpulan yang membantu kita memahami kondisi psikologis kulit hitam khususnya dan masyarakat terjajah secara umumnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Secara terus-terang Fanon mengatakan bahwa ada sesuatu yang salah tentang bagaimana orang kulit hitam melihat dirinya. Ada rasa rendah diri yang dibangun secara sadar. Mereka berhasrat untuk mengidentikkan dirinya dengan kulit putih—melalui bahasa, tingkah laku, hingga percampuran budaya. Semakin banyak hal yang bisa mereka adopsi dan lakukan sesuai gaya kulit putih, semakin mereka merasa terlepas dari label kulit hitamnya. Tentu beserta segala stigma negatif kulit putih terhadapnya. Dengan begitu, derajat mereka dipandang lebih tinggi dibanding masyarakat kulit hitam lainnya yang lambat atau bahkan tidak mampu mengadopsi nilai dan tingkah laku kulit putih.  Mereka menikmati ‘kenaikan harga diri’ diantara kulit putih, tapi sebenarnya hal itu tidak ada. Ini hanyalah anggapan mereka. Hasrat ini, menurut Fanon, justru menuntun kulit hitam ke penyimpangan terhadap keberadaannya sendiri. Perilaku ini, yang juga dialami masyarakat terjajah manapun, merupakan sindrom inferioritas.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagian-bagian awal mengungkap posisi kulit hitam dalam arus modernitas. Kulit hitam (atau masyarakat terjajah) diharuskan untuk mempelajari bahasa penjajahnya, dan penjajahnya tak akan mempelajari bahasa mereka kecuali beberapa patah kata untuk memerintah budak. Bahasa adalah pelajaran dasar untuk bisa berkomunikasi dengan baik dan menyampaikan maksud secara tepat. Sekaligus bisa menjadi alat hegemoni yang manjur untuk menginjak-injak mental masyarakat terjajah. Misalnya saja bahasa Creole (perpaduan bahasa Antillean berdialek Perancis), tidak boleh digunakan di dalam lembaga pendidikan. Anak-anak Perancis pun (ketika itu Antilles dijajah Perancis) dilarang mempelajarinya. Sederhananya, bahasa Creole adalah bahasa budak. Hal ini tertanam di benak kulit hitam Antilles bahwa bahasa Creole membuat derajat mereka rendah, warna kulit mereka adalah warna budak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Upaya lain untuk melepaskan diri dari &lt;em&gt;kehitamannya&lt;/em&gt; adalah dengan membangun hubungan bersama kulit putih.  Sebutannya ‘laktifikasi,’ dimana perempuan kulit hitam memilih bersama laki-laki kulit putih dan menjauhi kulit hitam. Adapun upaya ini sesungguhnya merupakan cerminan dari keputusasaan kulit hitam, ketidaksanggupan menanggung ‘beban inferioritas’ sepanjang hidupnya. Pertanyaan yang menggelitik tentu mengenai seberapa autentik &lt;em&gt;cinta hitam-putih&lt;/em&gt; ini. Orang kulit hitam mendekati kulit putih karena ingin melesatkan statusnya dari budak menjadi tuan, tapi apa keuntungan yang akan didapat kulit putih? Sementara sudah jelas mereka harus menghadapi tekanan sosial karena hubungannya dengan kulit hitam. Bagian ini menarik untuk ditelusuri karena Fanon menganalisis sejumlah karya sastra untuk menjelaskan bagaimana hubungan kulit hitam dan kulit putih tetap mungkin terjalin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tiga bagian terakhir buku ini menguak sisi psikologis kulit hitam. Dimana mereka selalu dicaci, dicemooh, mereka dipandang aneh dan selalu dihubungkan dengan tindak kejahatan. Kulit putih menganggap, keberadaan kulit hitam tak membuatnya nyaman dan aman.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sepintas, apa yang diungkapkan Fanon di buku ini memang cenderung menunjukkan subjektifitasnya. Tetapi ia menemukan cara mereduksi kecenderungan ini menjadi studi yang objektif. Melalui berbagai contoh yang diambil dan dipaparkannya secara berapi-api namun tetap memiliki sentuhan ilmiah, Fanon berhasil membingkai dunia psikologis kulit hitam dan problem rasial dunia kita. Kita tidak hanya akan mengarungi pengalaman sarat makna, anekdot hingga karya sastra tentang perbudakan dan kulit hitam yang turut dianalisis dengan manis, tapi juga menemukan kesadaran bahwa betapa sempit jika pikiran kita hanya terbentur pada upaya fiksasi manusia. Sedangkan pikiran kita harus bebas dan selalu bertanya. &lt;em&gt;&lt;strong&gt;(ich)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>25 Oct 2017</pubDate>
        <link>/ide-politik-mengenai-poskolonialisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/ide-politik-mengenai-poskolonialisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Rumus Perlawanan Abad 21</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul: The Politics of Subversion&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Antonio Negri&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal buku: viii + 232 hlm&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun terbit: 1989&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fitur dasar dari Ilmu Politik ialah negara. Di dalam organisasi kekuasaan ini, keputusan-keputusan yang menyangkut kepentingan publik dibuat dan dilaksanakan. Namun tak hanya itu, negara juga dapat memonopoli penggunaan kekerasan secara sah. Kekerasan tidak hanya berupa  penganiayaan fisik, melalui ide, sosial, ekonomi, dan budaya kekerasan pun bisa tercipta. Dalam tradisi marxis yang berbicara tentang pertarungan kelas antara si kaya dan si miskin, kekerasan pun ada. Bentuknya adalah kapitalisme yang tujuannya memperkaya si kaya dan menahan kesejahteraan si miskin. Berbicara mengenai tradisi marxis memang tidak terlepas dari istilah-istilah yang fantastis seperti &lt;em&gt;pertarungan kelas, pemogokan kerja, komposisi kelas, kapital sosial, gaji politik, kelas pekerja, sirkulasi kapital,&lt;/em&gt; dan masih banyak lagi. Dari sini pula, lahirlah berbagai anak ideologi Marxist, salah satunya adalah Workerisme yang khas dari Italia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Antonio Negri, seorang filsuf politik dan marxist-autonomis dari Italia, mendekati akhir dari abad kedua puluh menulis prediksi-prediksi tentang bentuk konflik dan pertarungan kelas baru yang akan berkembang di abad kedua puluh satu. Prediksi-prediksi tersebut ia tuangkan dalam buku ini, Politik Perlawanan. Di dalam buku ini, Negri mengembangkan ide-ide pokok yang menjadi dasar analisis paling berpengaruh tentang bentuk kekuasaan dan perjuangan sosial hari ini. Ini adalah karya lanjutan Negri setelah &lt;em&gt;Empire&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Multitude&lt;/em&gt;; sebuah manifesto bagi abad kedua puluh satu kita.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penganut Workerisme secara tegas meminggirkan pertanyaan tentang ‘kesadaran kelas’ untuk menghindari perdebatan internal dalam persepsi Leninis tentang kesadaran yang ditekankan pada faktor eksternal. Ketika krisis dan kemandekan ekonomi mengguncang Italia di tahun 1971, jauh sebelum internasionalisasi krisis, keadaan itu ditafsirkan sebagai serangan balasan dari kapitalis ke kekuasaan yang telah diperoleh kaum proletar selama ‘Hot Autumn’ di 1969. Secara keseluruhan, peristiwa itu oleh Workerisme dipandang sebagai kegagalan negara dalam mengantisipasi krisis. Negara yang diharapkan mampu merancang suatu operasi politik untuk mencegah penguraian kelas dari penjegalan kapitalis, tidak mampu memprediksi masa depannya. Sehingga, kesadaran yang dimaksud dalam Workerisme ini ialah sadar atas kondisi internal dimana negara tidak mampu mengatasi krisis yang disebabkan oleh kapitalis terhadap kelas pekerja. Timbul lah perlawanan yang arahnya justru kepada negara juga.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perlawanan timbul dari rakyat pekerja yang tidak puas dengan ‘imbalan’ yang diberikan sistem kapitalis. Dalam suatu sistem produksi kapitalis, pekerja menjadi target eksploitasi dengan upah yang tidak sebanding. Terkadang mereka juga harus menghadapi diskriminasi atau kekerasan dari bosnya. Inilah yang menimbulkan ketidakpuasan di antara pekerja. Mereka kemudian bersatu untuk melawan dan menuntut hak-hak yang lebih adil. Bersatunya rakyat pekerja yang didasari oleh kesadaran terhadap perlunya kerjasama yang saling menguntungkan dalam proses produksi, pengaturan jam kerja yang wajar dan upah yang sebanding menciptakan pekerja yang tersosialkan.  Tidak hanya itu, berkembangnya teknologi baru juga telah meminggirkan pabrik tradisional dan lingkungan. Bagi para pekerja, masyarakat dibentuk oleh lingkungan karena lingkungan adalah pabrik bagi para pekerja yang tersosialkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Perlawanan kelas pekerja ini juga membangkitkan subjek sosial baru yakni subjek intelektual atau pelajar. Subjek ini bagaimanapun juga merupakan kelompok proletar yang timbul dari sebuah rencana kolektif atas kebutuhan untuk memperjuangkan persamaan. Sebuah subjek yang menolak politik dan secara cepat membangkitkan keberadaan dan perjuangan kelas pekerja. Bersama-sama, keduanya membangkitkan kekuatan perlawanan yang bertujuan melawan semua struktur eksploitasi dengan segala bentuknya. Perlawanan adalah penghancuran kekerasan yang melekat pada tubuh eksploitasi dan yang menjalar di masyarakat secara sangat perlahan, tidak terlihat, dan besar-besaran. Sederhananya, perlawanan adalah sebuah kekuatan yang merintangi; merintangi apapun yang tidak sesuai dengannya. Gerakan ini tidak lagi hanya sebuah gerakan ideologis, tetapi juga gerakan yang fungsional dan bawaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Meluasnya jaringan komunikasi dan globalisasi produksi membuat kapitalisme tidak hanya menciptakan lingkungan kapitalis bagi sekelilingnya, tetapi telah memiliki medan kapitalismenya sendiri. Inilah kapitalisme total. Negri menunjukkan bahwa solidaritas lama harus dirumuskan ulang dan aliansi baru perlu dibentuk. Saat ini adalah masanya kebangkitan solidaritas transnasional yang dapat menantang kekuatan dominan global &lt;strong&gt;(&lt;em&gt;ich&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>14 Oct 2017</pubDate>
        <link>/rumus-perlawanan-abad-21</link>
        <guid isPermaLink="true">/rumus-perlawanan-abad-21</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sumpah Suci, antara Agama dan Politik</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Sacrament of Language&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Giorgio Agamben&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 79 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2010&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Italia telah melahirkan banyak ilmuwan politik baik diranah marxis maupun murni mengenai politik. Salah satunya adalah Giorgio Agamben. Dalam buku nya yang pertama, &lt;em&gt;Homo Sacer&lt;/em&gt;, ia berusaha mengaitkan kesakralan dengan kedaulatan negara atau pemerintah. Keberadaan agama menjadi akar dari kekuatan politik yang ada di Italia. Untuk itu, partai katolik adalah salah satu partai terkuat di Italia selain partai komunis dan kelompok para-militernya, &lt;em&gt;Brigatte Rosse&lt;/em&gt;. Agamben mengajar di Universitas Venice dalam departemen filsafat. Baginya, untuk memahami hubungan antara agama dan politik, memang harus melalui pintu filsafat, namun ia adalah seorang intelektual murni yang tidak memiliki tendensi kepada suatu kelompok, tidak seperti Antonio Negri dan Franco Berardi. Buku ini adalah kelanjutan &lt;em&gt;Homo Sacer&lt;/em&gt;, selamat menikmati hal kecil yang dapat saya suguhkan berupa resensi ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Paulo Prodi pernah menulis dalam bukunya, &lt;em&gt;Il Sacramento del Potere&lt;/em&gt; (kesakralan dari kekuasaan) yang ditulis pada tahun 1992 dihalaman 22 bahwa sebuah sumpah suci (&lt;em&gt;oath&lt;/em&gt;) sangat menentukan sejarah perpolitikan di Barat. Sumpah suci adalah sesuatu dimana politik dan agama saling bersinggungan. Agamben menunjuk bahwa kutipan yang dia ambil menandakan pentingnya tradisi Kristen di Barat dan sumpah suci menjadi dasar perjanjian politik dalam sejarah Eropa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fungsi utama sumpah suci dalam konstitusi politik dijelaskan dalam bukunya Lycurgus, &lt;em&gt;Against Leocrates&lt;/em&gt;, bahwa sumpah suci merupakan sesuatu yang mengikat demokrasi. Sumpah suci adalah sesuatu yang menjaga persatuan sebuah negara. Cicero pernah menjelaskan bahwa sumpah suci adalah sebuah jaminan yang disandarkan kepada kesucian dari agama, sebuah janji khidmat atas nama Tuhan, dimana pemberi janji ini akan terikat, ia tak perlu takut saat ia berkata jujur, namun neraka adalah ganjaran bagi mereka yang berbohong saat memberikan sumpah suci ini. Sumpah suci di Italia selalu digunakan sebagai alat untuk menegakkan hukum agar tidak ada yang ingkar terhadap kesaksian mereka, begitupula saat negosiasi, sumpah suci menjamin keberlangsungan dari proses politik yang ada setelah negosiasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sumpah suci memiliki makna negatif, dimana menurut &lt;em&gt;Hesiod&lt;/em&gt;, adanya golongan yang melanggar sumpah sucinya sendiri disebabkan karena mereka melakukan sumpah suci pada awalnya. Ganjaran bagi mereka yang melanggar sumpah suci adalah siksaan oleh Iblis di Neraka seumur hidup. Hal ini digunakan untuk menakut-nakuti para saksi dalam pengadilan agar jujur dalam melakukan kesaksian, tidak boleh ada dusta saat sebuah persidangan berlangsung, kalau dusta maka balasannya akan didapat di Neraka. Baik dalam pelaksanaan proses politik, keberadaan sumpah suci berarti menyegel sebuah koalisi ataupun menjaga kestabilan politik di suatu wilayah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kelebihan sumpah suci adalah kesakralannya yang dimana orang akan enggan untuk mengingkarinya. Orang lebih memilih untuk tidak melakukan sumpah suci jika memang tidak sesuai dengan kehedaknya (jika bicara mengenai sebuah proses politik). Hubungan antara sumpah suci dengan kepercayaan ialah sesuatu yang tidak luput dibahas dalam buku ini, keberadaan sumpah suci tidak akan ada tanpa adanya kepercayaan. Sumpah suci dilakukan atas nama Tuhan, dan hanya orang yang memiliki kepercayaan atau agama (yang ditandai dengan keberadaan kitab suci dari agamanya) yang bisa melakukan sumpah suci. Setelah melakukan sumpah suci, sejatinya orang tersebut harus bisa mempertanggungjawabkan sumpah sucinya dengan tidak mendustakan apa yang dia sampaikan setelah melakukan sumpah suci, terlepas balasannya berupa hal-hal yang imaterial. Dalam perjanjian yang bersifat politis, sumpah suci adalah pengikat yang kuat, bagaikan sebuah lem, agar sebuah kelompok tetap menjadi satu. Tujuan sumpah suci hanyalah pengikat yang sakral.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Agamben memperlihatkan bahwa sumpah suci memiliki peran yang sangat esensial dalam dunia politik di Italia dan Eropa sebagai alat yang mensucikan kekuasaan dan juga mensucikan bahasa, orang yang mengeluarkan sumpah suci akan lebih berhati-hati dalam berbicara. Sumpah suci disini dibahas baik secara konseptual maupun historis. Penggabungan antara agama, politik dan kesakralan. Sumpah suci inilah yang membuat manusia menjadi &lt;em&gt;Zoon Politicon&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>12 Oct 2017</pubDate>
        <link>/sumpah-suci-antara-agama-dan-politik</link>
        <guid isPermaLink="true">/sumpah-suci-antara-agama-dan-politik</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Mengenal Tata Kelola Pemerintahan Supranasional, Studi Kasus Uni Eropa</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Handbook on Theories of Governance&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Christopher Ansell &amp;amp; Jacob Torfling (ed)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Edward Elgar Publishing&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 578 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit : 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit ini ialah sebuah penerbit akademis yang memang berfokus pada tema sosial, politik, hukum dan ekonomi. Pembahasan buku yang mereka terbitkan memang menyerupai jurnal dengan bahasa yang sangat ilmiah, namun komprehensif dan aktual. Memang dari segi sampul dan tata letaknya rata-rata membosankan, namun buku terbitan Edward Elgar (EE) selalu menjadi rujukan utama dalam karya ilmiah lainnya, bahkan profesor pun akan mengacu pada penerbit ini jika berbicara mengenai perkuliahannya. Penulis yang berkontribusi dalam penerbit ini pun bukan penulis yang &lt;em&gt;ecek-ecek&lt;/em&gt;, semuanya tanpa terkecuali adalah akademisi dengan gelar minimum Doktor, jadi tidak salah jika EE adalah penerbit garda depan dibidang referensi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku yang akan diresensi kali ini berbicara mengenai &lt;em&gt;Governance&lt;/em&gt; yang acapkali dimaknai sebagai tata kelola pemerintahan. Buku ini ditulis oleh 63 akademisi dari berbagai jurusan yang mencakup politik, administrasi publik dan ilmu pemerintahan. Kelebihan dari buku-buku terbitan EE adalah adanya kesimpulan dalam tiap artikel ilmiah yang dimuat dalam bukunya. Buku mengenai tata kelola pemerintah ini berisikan teori-teori, pendekatan-pendekatan, metode perbandingan, metode analisis, konsep dasar dan bentuk-bentuk dari tata kelola pemerintahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam kata pengantar buku ini, &lt;em&gt;Governance&lt;/em&gt; dimaknai sebagai sebuah proses, baik formal maupun informal, dimana masyarakat dan perekonomiannya diarahkan sesuai dengan kepentingan bersama. Untuk bab yang akan diresensi ialah mengenai &lt;em&gt;Supranational Governance&lt;/em&gt; yang mengacu kepada Uni Eropa yang dikarakteristikkan sebagai pembuat kebijakan. Digambarkan sebagai sebuah komunitas pembuat kebijakan dan juga pembuat kebijakan antar pemerintah di Eropa. Dalam organisasi supranasional seperti Uni Eropa, ada aktor-aktor pembuat kebijakan yang punya kemampuan untuk menentukan arah kebijakan untuk negara-negara anggotanya. Ada tiga aktor dalam kasus Uni Eropa ini: &lt;em&gt;European Commision&lt;/em&gt; (Komisi Uni Eropa), European Court of Justice/ECJ (Mahkamah Agung Eropa) dan &lt;em&gt;European Central Bank&lt;/em&gt; (Bank Sentral Eropa ). Mereka menikmati kekuasaan lebih yang diberikan kepada mereka akibat adanya perjanjian Uni Eropa. Mereka lah penentu kebijakan di Eropa. Dalam bentuknya yang paling murni, tata kelola pemerintahan supranasional dapat ditemui dalam kompetisi kebijakan keuangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Uni Eropa memang dibentuk sebagai tata kelola pemerintahan antar pemerintah di Eropa agar menjaga soliditas negara-negara Eropa melalui &lt;em&gt;European Union Treaty&lt;/em&gt;. Peran yang paling besar dipegang oleh ECJ dimana mereka berkontribusi dalam tata kelola pemerintahan supranasional ini dengan memastikan peraturan perundangan Uni Eropa dimaknai dan diimplementasikan dengan benar diseluruh negara Uni Eropa. Sebelum membuat sebuah undang-undang, negara anggota Uni Eropa wajib untuk bertanya kepada ECJ mengenai kepantasan dan kesesuaian undang-undang yang akan dibuat dengan peraturan perundangan Uni Eropa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun kekuatan supranasional dicerminkan dari keberadaan prosedur legislatif yang ada di Uni Eropa yang berisikan tiga komisi: Komisi Eropa, Dewan Meteri dan Parlemen Eropa (European Parliament) dalam penentuan kebijakan legislatif. Struktur yang sangat ketat di Uni Eropa menandakan paradigma lama yang masih ada, sekarang mulai diubah. Bentuk baru dari tata kelola pemerintahan ialah tidak begitu menghiraukan hirarki dalam interaksi antar aktor pembuat kebijakan. Namun dengan informalitas dari paradigma baru, lembaga dan legislatur bisa mengancam kebijakan yang mengikat negara-negara Eropa dalam Uni Eropa jika tidak memenuhi keinginan mereka (lembaga dan legislatur terkait), maka dari itu, paradigma baru dari tata kelola pemerintahan supranasional memerlukan dua komponen penting: negosiasi dan kompetisi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Negosiasi menyiratkan sebuah situasi dimana aktor-aktor yang berpartisipasi mencari penyelesaian masalah melalui kesepakatan bersama (&lt;em&gt;mutual agreement&lt;/em&gt;), sedangkan kompetisi yakni aktor-aktor yang berpartisipasi mengejar tujuan yang sama, dengan demikian, secara spontan para aktor akan mengkoordinasikan perilaku mereka (cara bermain). Tata kelola supranasional dari Uni Eropa melalui negosiasi melibatkan tiga pihak prosedur legislatif diatas yang bertujuan untuk mencapai sebuag kesepakatan yang dapat diterima oleh seluruh negara anggota. Sedangkan Uni Eropa dalam sudut pandang kompetisi ialah mengenai jual-beli barang dari satu negara ke negara lainnya, regulasi mengenai pasar dalam negeri di salah satu negara di Eropa juga diterapkan pada negara Eropa yang lainnya. Kondisi seperti itu dapat memunculkan sebuah dinamika dan juga tekanan dalam pangsa pasar antar negara dan mewajibkan tiap negara anggota untuk saling beradaptasi satu sama lain perihal regulasi dagang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak bentuk tata kelola pemerintahan lainnya yang dijelaskan dalam buku ini, namun memang tata kelola pemerintahan supranasional jarang sekali dibahas dalam materi perkuliahan. Dalam buku ini, penjelasan mengenai hal tersebut menggunakan cara yang paling mudah, jika berbicara mengenai tata kelola pemerintahan supranasional, maka kita harus melihat contoh nyatanya, Uni Eropa. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>10 Oct 2017</pubDate>
        <link>/mengenal-tata-kelola-pemerintahan-supranasional-studi-kasus-uni-eropa</link>
        <guid isPermaLink="true">/mengenal-tata-kelola-pemerintahan-supranasional-studi-kasus-uni-eropa</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sosial-Demokrasi ala Anthony Giddens</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Third Way&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Anthony Giddens&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 165 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1999&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku yang akan saya resensi kali ini cukup &lt;em&gt;booming&lt;/em&gt; pada zamannya dan ditulis oleh salah seorang profesor dibidang sosiologi di &lt;em&gt;London School of Economics&lt;/em&gt; (LSE). Si penulis mengikuti aliran yang bukan kanan maupun kiri, tapi tengah (centrist), ia adalah seorang pengajar yang mendukung keberadaan globalisasi dan mendorong percepatan globalisasi sebagai bentuk penyebaran ilmu pengetahuan. Beliau selalu melihat bahwa kiri memang tidak cocok berada di Inggris jika melalui jalur konfrontasi, maka dari itu, buku ini ditulis untuk mendamaikan baik kelompok neoliberal maupun kelompok Marxis dengan memperkuat Sosial-Demokrasi (sosdem).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Awalnya buku ini ditulis dengan tujuan untuk menggambarkan politik sosial-demokrat dimasa mendatang untuk menemui kesepakatan mengenai “Negara Kesejahteraan” (&lt;em&gt;Welfare State&lt;/em&gt;) yang mendominasi negara-negara industri ditahun 1970an dan mendiskreditkan Marxisme layaknya sebuah pemikiran yang sudah usang. Menurut si penulis, Sosial Demokrasi tidak hanya bisa bertahan, namun juga bisa berkembang, baik secara teoritis maupun secara prakteknya, karena kelompok sosial demokrat lah yang mau melakukan revisi terhadap pandangannya jika memang ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Mereka bukan orang-orang kolot idealis melainkan orang-orang rasional dengan jiwa kemanusiaan tinggi (contoh: New Left, Fabian Society, Labor Party).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa dari karakteristik sosial-demokrasi klasik menurut Giddens ialah: campur tangan negara dalam kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya, Negara mendominasi masyarakat, tidak melulu menggunakan sudut pandang Marx (seringkali menggunakan Keynes) dalam melihat permasalahan sosial dan ekonomi, modernisasi yang sejalur, kolektifisme. Peran pasar yang terbatas dan diatur oleh negara (bagi kelompok sosial-demokrat, pasar sangatlah liar, maka diperlukan ketegasan negara dalam membatasi kemampuan pasar dalam mendominasi ekonomi). Pemekerjaan secara penuh dimana pengangguran dianggap sebagai faktor utama munculnya ketidaksejahteraan dan kemiskinan di suatu negara dan penyedia lapangan kerja ialah negara dan sektor swasta. Adapun negara mewajibkan sektor swasta untuk memberi pekerjaan kepada masyarakat sekitar. Bagi kelompok sosdem, negara perlu untuk membenahi kehidupan keluarga-keluarga kurang mampu akibat kemiskinan sistematis yang dilakukan oleh kapitalisme. Itu kenapa mereka mengikuti Keynes yang menganggap fungsi negara adalah menstabilkan ekonomi dalam negeri (fungsi stabilisasi).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam pelaksanaannya, ada beberapa dilema yang dihadapi oleh kaum sosial demokrat, yakni globalisasi, individualisme, kelompok kanan dan kiri (sosdem sebenarnya berada ditengah-tengah), agensi politik dan permasalahan ekologi. Saya akan membahas mengenai agensi politik dari kelompok sosdem yang muncul pada abad kesembilanbelas, dimana pada waktu itu masih berupa gerakan massa yang lambat laun diawal abad keduapuluh mulai berubah menjadi partai politik agar dapat masuk kedalam lingkaran kekuasaan, bagi mereka membenahi sebuah sistem harus masuk kedalam sistem tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam membuat partai, tujuan mereka adalah masuk kedalam pemerintahan dan mewujudkan tujuan utama dari negara: menyediakan perwakilan atas kepentingan yang berbeda-beda, menawarkan sebuah forum untuk mendamaikan kepentingan-kepentingan tersebut, membuat dan mempertahankan ruang publik untuk masyarakat, menyediakan barang publik yang bermacam-macam dalam bentuk keamanan dan kesejahteraan, mengatur pasar kedalam kepentingan publik dan meminimalisir monopoli yang dilakukan oleh pasar, mempromosikan pengembangan sumberdaya manusia melalui sistem pendidikan, menyokong sistem peradilan yang bersih dan efektif, melakukan intervensi baik ekonomi makro maupun mikro, memperkuat aliansi regional dan nasional untuk mewujudkan perdamaian dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal-hal tersebut adalah cita-cita kelompok sosial demokrat yang dijelaskan oleh Giddens dalam bukunya. Dan baginya, tujuan dan cita-cita itu dapat dimaknai dan diterapkan dengan cara yang berbeda-beda, bagi Giddens, jika pelaksanaan suatu program negara ialah demi kemaslahatan masyarakat, maka negara tersebut pasti menganut &lt;em&gt;Welfare State&lt;/em&gt; dengan jenis &lt;em&gt;Social-Democrat.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini ditulis oleh Giddens sebagai penengah untuk kelompok radikal kanan maupun kiri, neoliberal maupun marxis, meskipun dikritik secara luas oleh banyak intelektual lain, Giddens menganggap bahwa perdamaian ideologi bisa diterapkan selama tujuan ideologi-ideologi yang ada ialah untuk mensejahterakan umat manusia. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>08 Oct 2017</pubDate>
        <link>/sosial-demokrasi-ala-anthony-giddens</link>
        <guid isPermaLink="true">/sosial-demokrasi-ala-anthony-giddens</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sepotong Kisah Carl Schmitt dalam Pengasingan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Ex Captivitate Salus&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Carl Schmitt&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 94 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejarah ditulis oleh pemenang, kata Churchill. Kalimat itu terlontar karena beliau ada pada kubu pemenang dan sejarah dibentuk oleh mereka: Inggris, Amerika Serikat dan Uni Soviet yang menaklukkan kubu Jerman (Nazi), Italia dan Jepang dalam perang dunia kedua. Banyak kisah-kisah yang dihapuskan oleh para pemenang agar kubu yang kalah tidak mendapat apa-apa kecuali pembenaran bahwa mereka memang “salah”. Dalam peperangan memang keji, bahkan yang kalah tidak akan mendapat apapun, dan pemenang jarang sekali memberi pengampunan. Akan tetapi sekarang, banyak usaha untuk membuka ulang sejarah masa lampau dengan sudut pandang berbeda. Adapun hal ini memicu terbukanya para pemikir-pemikir yang tenggelam dalam lautan sejarah karena berada pada kubu yang salah. Carl Schmitt adalah salah satunya. Sebagai seorang ahli hukum dari Nazi, ia sempat dihilangkan dari sejarah dunia, buku ini adalah sebuah otobiografi yang ia tulis semasa tahanan dan pengasingan. Selamat menikmati.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seorang pemikir harusnya dipandang atas hipotesa atau teori yang ia bawa, mengenai preferensi politiknya itu adalah pilihan pribadinya. Fasisme memang kurang begitu menarik dikaji dan diikuti pasca perang dunia kedua, meskipun Schmitt sepakat dengan keberadaan fasisme, bukan sesuatu yang benar menghilangkan sosok gemilangnya dari sejarah. Membunuh seseorang sepenuhnya ialah menghilangkannya dari sejarah. Buku ini adalah usaha penerbit polity dalam memunculkan kembali sosok Schmitt yang bersama Heidegger telah diinjak oleh para pemenang perang dunia kedua.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karya Schmitt ini berisi tujuh esainya mengenai dirinya yang sedang dalam pengasingan. Ia adalah salah seorang terdakwa di peradilan Nurenberg. Ditulis dalam kisaran waktu 1945-1947. Buku ini diawali dengan sebuah karangan yang ia tulis setelah mendapatkan surat dari Eduard Spranger yang menanyakan “Siapa Kamu?”. Pertanyaan sesederhana itu menjadi sebuah karangan yang bisa dibilang filosofis sampai pada titik esensial. Ia sampai mempertanyakan apa sebenarnya tujuan dari keberadaannya. Ia menganggap bahwa memang perkuliahan dan pidato yang ia berikan sangat bersemangat akan tetapi ia masih tidak memahami tujuan dari keberadaan dirinya dengan akhir yang cukup menyedihkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam pengasingannya, ia mempertanyakan keberadaan pikiran dan jiwa, kenapa hasratnya untuk berpikir masih ada sedangkan keinginannya untuk hidup sudah menghilang. Ia masih merasakan &lt;em&gt;post-power syndrome&lt;/em&gt;, saat ia ditanyai oleh seorang interogator mengenai siapa sebenarnya dia, dan dia merasa bahwa orang tersebut tidak memiliki kekuasaan atas dirinya, namun kembali lagi, ia pun sudah tidak punya kuasa atas apapun. Ia merasa keberadaan dirinya sudah mulai buram, tetapi nalurinya saat menghadapi orang lain tetap defensif. Dia pun tetap lemah dalam defensif, karena musuhnya sekarang sudah menjadi jaksa atas dirinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Schmitt merasa dirinya sedang terdesak dalam pengasingannya, ia terus menerus merasa bahwa sedang didakwa, sedang dituntut. Ia membandingkan bahwa memang lebih enak menjadi terdakwa daripada jaksa penuntut, karena menurutnya, kata &lt;em&gt;Diabolus&lt;/em&gt; bermakna menuntut. Sebagai pengajar dibidang hukum, ia paham mengenai keberadaan para hakim dan kebenaran yang mereka pegang, namun kenapa ia yang begitu diagungkan dulu dibidang hukum sekarang duduk menjadi terdakwa. Ia merasa semua ilmu yang ia jelaskan dulu, saat Nazi masih berjaya, sudah tidak berguna untuk melindungi dirinya, karena perundangan yang dipakai bukan milik Nazi, melainkan milik dogma kemanusiaan. Ia merasa ironi telah menjelma dalam dirinya, dan ia tidak bisa apa-apa selain menerima takdir yang telah diberikan Tuhan, menerima sesuatu yang ia tolak dimasa kejayaannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain diskusinya dengan Eduard Spranger yang melahirkan refleksi akan eksistensi dirinya, Schmitt juga menuliskan beberapa hal lain dalam “buku harian” nya. Seperti respon nya terhadap pidato radio yang diberikan oleh Karl Mannheim, Historiografi mengenai Alexis de Tocqueville, dan renungannya dalam tahanan. Pastinya bahasa yang digunakan adalah bahasa populer karena buku ini adalah sebuah memoar, namun tetap memiliki beberapa bagian filsafat didalamnya. Terlepas ia adalah pendukung Hitler dengan Nazi nya, namun kecerdasan berpikirnya dan kelihaiannya dalam menulis tidak bisa dipungkiri. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Foto: Carl Schmitt (via &lt;a href=&quot;https://www.newstatesman.com/2019/04/terrifying-rehabilitation-nazi-scholar-carl-schmitt&quot;&gt;New Statesman America&lt;/a&gt;)&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>07 Oct 2017</pubDate>
        <link>/sepotong-kisah-carl-schmitt-dalam-pengasingan</link>
        <guid isPermaLink="true">/sepotong-kisah-carl-schmitt-dalam-pengasingan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sebuah Tulisan Profesor Marxis</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Marxism and Philosophy&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Karl Korsch&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku:&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2008&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Filsafat, sebagai induk segala ilmu adalah “suatu” hal yang paling berat untuk dipelajari dan terkadang banyak yang memandang “suramnya” masa depan para filsuf. Filsafat pun kurang digemari karena beratnya pembahasan mengenai disiplin ilmu ini. Seringkali pertanyaan dijawab dengan pertanyaan lainnya, menurut Budi Hardiman, filsafat adalah sebuah seni memahami. Memahami apa? Memahami segala disiplin ilmu lainnya. Marxisme sebagai ideologi yang cukup tua, juga tidak akan terkenal tanpa keberadaan filsafat didalamnya. Akan tetapi, bagi beberapa orang, dialektika materialisme yang dibawa oleh Marx hanyalah sebagian kecil dari disiplin ilmu filsafat. Perlu dipahami secara lebih mendalam tentang hubungan antara filsafat dengan marxisme jika ingin berbicara mengenai dialektika materialisme, dan Karl Korsch adalah filsuf Marxis paling substansial jika membicarakan topik tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini adalah kumpulan esai yang ditulis oleh Karl pada tahun 1923 sebagai kritik terhadap pandangan bahwa Marxisme hanyalah hegelianisme yang membusuk. Para Marxis sendiri tidak pernah menekankan marxisme nya pada sisi filsafat, dengan alasan mereka masing-masing. Marx dan Engels sangat bangga akan gerakan pekerja yang dipelopori melalui filsafat Jerman dalam sosialisme ilmiah. Namun sosialisme ilmiah ini tidak mengutamakan pada filsafatnya. Mereka menganggap sosialisme ilmiah telah mengalahkan filsafat idealis borjuis dan filsafat lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para Marxis pada periode Internasionale kedua (1889-1914) tertarik pada pertanyaan-pertanyaan yang sama sekali tidak filosofis, tetapi hanya menghubungkan metodologi dan epistemologi dari teori marxis. Terkadang mereka berkumpul dalam sebuah tempat dan membahas hal-hal filosofis hingga berjam-jam sehingga lupa bahwa pembahasan mereka tidak lagi mendukung perjuangan kaum proletariat. Adapun kesepakatan dari dua kubu yang berlawanan, yakni para profesor borjuis yang menganggap bahwa marxisme tidak memiliki konten filsafat dan para marxis ortodoks pun menyetujui bahwa marxisme mereka secara mendasar memang tidak berhubungan dengan filsafat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diantara keduanya muncul golongan sosialis-filosofis yang hendaknya menggabungkan pandangan Marx dengan filsuf lainnya seperti Kant, Dietzgen atau Mach dengan harapan mengasimilasi sistem Marxian dengan budaya filsafat (terutama yang dari Jerman). Hal ini muncul karena pandangan mereka bahwa marxisme butuh pasokan pemikiran filsafat agar menjadi ideologi yang seutuhnya. Dengan adanya pandangan seperti itu maka makin memperkuat bahwa marxisme memang kekurangan konten filosofis dalam perkembangannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sekarang akan lebih mudah untuk menggambarkan konsepsi negatif akan filsafat dan marxisme karena ungkapan-ungkapan yang dikeluarkan baik dari kelompok profesor borjuis maupun pemikir marxis dan dua kasus ini muncul karena sebuah analisa logis dan historis yang masih belum sempurna. Masih banyak penolakan baik dari dua kubu dan diperkuat lagi oleh kubu yang ketiga dengan pernyataannya yang berusaha untuk memadukan marxisme dan filsafat, bahwa marxisme memang lemah secara filosofis bahkan tidak punya landasan filosofis. Korsch di sini mengkritik pula para pemikir borjuis yang membicarakan marxisme karena mereka melakukan kritik terhadap marxisme sedangkan dalam diskursus hegelian pun mereka belum selesai yang bertepatan dengan kegagalan dalam menerapkan filsafat dalam realitas, teori tidak bisa diimplementasikan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita patut berterimakasih baik pada Marx maupun Engels yang awalnya menganut pemikiran Hegel, mereka malah mengkritiknya habis-habisan dan menyelamatkan filsafat Jerman dari jurang idealisme dan membawa sebuah pandangan baru, Materialisme yang lebih bisa diterapkan dan lebih mudah dipahami. Banyak yang membicarakan filsafat marxis tapi lupa akan keberadaan dialektika, salah satu bagian yang penting dalam memahami filsafat marxisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak lagi yang dibahas dalam buku ini. Karena keberadaan buku ini, Karl Korsch dituding sebagai revisionis oleh kelompok Stalinis, yakni Zinoviev. Buku ini banyak dikritik oleh pemikir Marxis lainnya pada zamannya, namun yang terpenting ialah karya Profesor Korsch ini merupakan sebuah mahakarya yang meletakkan pondasi filsafat dalam marxisme yang diawali dengan konflik para pemikir mengenai keberadaan filsafat didalam marxisme. Termasuk buku yang berat, tapi memang pemikir Marxis harus kuat dengan &lt;em&gt;pressing pemikiran&lt;/em&gt;. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>04 Oct 2017</pubDate>
        <link>/sebuah-tulisan-profesor-marxis</link>
        <guid isPermaLink="true">/sebuah-tulisan-profesor-marxis</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Secuplik Peperangan Gagasan Ekonomi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Profit Doctrine&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Robert Chernomas &amp;amp; Ian Hudson&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Pluto Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 225 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ekonomi adalah pelajaran dasar bagi umat manusia. Tujuan utamanya adalah pemenuhan hajat hidup sehari-hari. Namun disisi lain, ekonomi juga mengajarkan manusia untuk menjadi serakah dan memberi kebebasan untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Ekonomi secara langsung selalu bersentuhan dengan kehidupan manusia, pastinya kegiatan jual-beli terjadi dalam suatu komunitas yang dihuni oleh orang banyak. Uang telah menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan manusia sehingga sangat jarang kita menemukan cara barter barang, bahkan dipedesaan sekalipun. Uang telah menandakan kesejahteraan seseorang. Namun dalam sebuah negara, ialah kebijakan yang menentukan standar kesejahteraan banyak orang. Kebijakan pun ada kebijakan ekonomi, terkadang pada proses pembuatan kebijakan ini yang rentan dimasuki kepentingan para kapitalis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejak akhir tahun 1970an, ekonom berpengaruh telah membenarkan kebijakan yang membuat dunia ini semakin buruk dan terjatuh pada krisis ekonomi. Salah satu ekonom yang menjadi contoh disini adalah Gregory Mankiw yang menjadi Kepala Lembaga Penasehat Ekonomi untuk Presiden Bush selama 2003 sampai 2005. Ia adalah profesor dari Harvard yang ditolak oleh muridnya sendiri karena dianggap memandang ekonomi terlalu sempit melalui bukunya “&lt;em&gt;Principles of Economics&lt;/em&gt;”. Mankiw memandang bahwa efisiensi dari pasar mencerminkan gaya yang dominan dalam ekonomi ditahun 1970an.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Keynes juga mengatakan bahwa gagasan mengenai ekonomi adalah yang terpenting untuk keberlangsungan umat manusia. Ia menganggap ekonomi adalah gagasan yang merambah secara bertahap untuk menentukan arah kebijakan. Keynes juga mengatakan bahwa gagasan yang salah dan buruh dapat mendominasi personal bahkan sekelompok orang yang dimana jika diterapkan, maka gagasan ini dapat membawa kerusakan. Profesi sebagai seorang ekonom mulai dikritik dari berbagai sudut saat krisis ekonomi ditahun 2008.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Marx, tidak seperti Keynes, menganggap bahwa gagasan ekonomi adalah mengenai kontestasi kekuasaan. Gagasan ekonomi beserta hasil kebijakan yang dibuatnya dapat membawa hasil yang berbeda jika diterapkan pada lingkungan masayarakat yang berbeda. Akan tetapi terkadang kebijakan ditentukan oleh kepentingan suatu golongan yang bilamana kebijakan tersebut diterapkan akan menguntungkan mereka, namun akan merugikan orang lain. Kelompok kepentingan seperti ini kerapkali abai akan dampak buruk kepada kelompok lain dan lebih mengutamakan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Lalu apakah yang diperlukan suatu kelompok dalam mengangkat suatu gagasan menjadi kebijakan? Pastinya adalah sumberdaya finansial, keuangan dan kelembagaan dan menghubungkan tiga sumberdaya ini untuk bergerak sesuai dengan kepentingan kelompok tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Abad keduapuluhsatu ini adalah era neoliberal dimana kebanyakan ekonom menjadi pengikutnya, adapun beberapa yang melawan neoliberalisme semacam Joseph Stiglitz dan Paul Krugman ialah orang-orang yang jarang ditemukan di era neoliberal. Mereka berdua menganggap bahwa pelajaran ekonomi tidaklah selalu sama. Terkadang harus ada pengimbang agar manusia tidak masuk ke ranah ketamakan. Namun saran-saran dari ekonom seperti mereka sangat jarang didengar bahkan jarang diterapkan karena tidak menguntungkan kelompok ekonomi. Gagasan ekonomi mereka memiliki kemungkinan untuk dijadikan kebijakan saat pengaruh bisnis dalam sebuah sistem politik bisa dikurangi secara drastis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penjelasan mengenai perkembangan gagasan dibidang ekonomi adalah penjelasan yang sangat kompleks, bukan seperti kemunculan teori baru lalu menghabisi teori yang sudah lama, tapi terkadang kemunculan teori baru dalam ekonomi adalah penggabungan dari beberapa teori sebelumnya. Adapun para ekonom neoliberal di sini mendukung keberadaan dari kelas pebisnis yang selalu koheren dengan keberadaan kelas penguasa dalam pemerintahan. Dalam buku ini, masih sangat banyak ekonom yang dijelaskan dengan satu tujuan: membredel pemikiran mereka, bahkan mengkritisi gagasan mereka sampai ke akar nya, dalam buku inilah kita bisa mempelajari segala macam teori ekonomi yang ditulis dalam perspektif kritis dan akademis. Inilah buku pegangan untuk mengkritik model pelajaran ekonomi di masa kini. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>30 Sep 2017</pubDate>
        <link>/secuplik-peperangan-gagasan-ekonomi</link>
        <guid isPermaLink="true">/secuplik-peperangan-gagasan-ekonomi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Workisme, Pemikiran Baru Asal Italia</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Soul at Work&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Franco Berardi&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Semiotext(e)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 229 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2009&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pergerakan selalu menjadi hal menarik untuk dikaji, telah banyak pergerakan baik buruh dari kalangan kelas pekerja maupun pelajar dari kalangan intelektual melakukan demonstrasi untuk melawan tirani dan eksploitasi. Banyak gerakan ini tidak tercatat dalam sejarah dan terdisintegrasi dengan cepat karena lemahnya peran negara dalam menyelesaikan masalah. Namun kita tidak sepenuhnya, secara terus-menerus, menyalahkan negara. Terkadang permasalahan yang dihadapi buruh berasal dari para kapitalis yang sifatnya monopolistik terhadap faktor-faktor produksi. Franco Berardi yang kerap dipanggil “Bifo”, seorang aktivis “Workerism” dari Italia yang menganut tradisi pemikiran Marxisme-Otonomis membedah secara mendalam mengenai munculnya gerakan-gerakan perlawanan di seluruh belahan dunia yang diawali pada tahun 1968.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bifo menyatakan bahwa sejak tahun 1960an, para buruh dan pelajar bersatu dalam melakukan gerakan penolakan terhadap kapitalisme secara masif dan global. Marxisme menjadi &lt;em&gt;trending topic&lt;/em&gt; dari berbagai mahzab pemikiran yang ada di Eropa utamanya. Gerakan tahun 68 tidak hanya menolak keberadaan kapitalisme tapi juga rezim sosialis yang sifatnya mengekang kebebasan berpendapat. Bahkan dari dekade ini muncul pemikiran baru semacam posfeminisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Gerakan pada tahun 1968 adalah munculnya kesadaran kolektif akan keberadaan globalisasi dan ancaman-ancaman yang dibawa olehnya. Namun globalisasi ini memunculkan dampak positif bagi para demonstran, yakni internasionalisme dengan contohnya di Berkeley, banyak orang berdemo untuk kebebasan Vietnam,  di Shanghai, banyak orang berkumpul untuk menyatakan solidaritasnya pada pergerkan pelajar di Paris, para pelajar dari Praha bertarung melawan otoritarianisme yang dilakukan oleh Uni Soviet. Dan di Milan, mereka berhadapan langsung dengan kapitalisme. Makna dari kemunculan gerakan-gerakan tersebut adalah aliansi historis antara intelektual dan buruh melawan eksploitasi industri. Gerakan ini yang menandakan bahwa masyarakat internasional menolak dijadikan masyarakat industri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam beberapa sektor yang disebutkan oleh Bifo dalam bukunya, sektor pabrik mobil salah satunya yang paling mencolok. Pada tahun 1970, sektor produksi mobil diserang oleh demonstrasi besar-besaran dari buruh dan pelajar yang dimana para buruh juga melakukan pemogokan karena upah yang sangat tidak manusaiwi begitupula jam kerjanya. Namun kapitalis selalu memiliki manuver dalam mengalahkan pergerakan buruh dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang menekuk gerakan pemogokan. Penataan ulang urusan teknis kerja menggantikan tenaga kerja manusia dengan mesin, mengotomatisasi siklus produksi dalam pabrik, juga menekan mental para buruh.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Demonstran gabungan dari kelas pekerja juga pelajar ialah melebihi aliansi politis maupun ideologis. Mereka adalah tanda integrasi organik dari buruh dan intelektual yang memiliki rasa solidaritas tinggi, mereka adalah perkumpulan yang sadar akan keberadaan mereka dikalangan bawah yang dijelasakan Marx dalam bukunya &lt;em&gt;Grundrisse&lt;/em&gt;. Hubungan antara pertarungan kelas pekerja dan intelektual dan perkembangan teknologi dibahas lebih mendalam oleh para neo-Marxis asal Italia yang menamai pemikiran mereka sebagai “Workerism” atau “Pekerjaisme”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kapital telah menguasai dualisme dari tubuh dan jiwa dimana para pekerja dimobilisasi untuk keuntungan para kapitalis. Pekerjaan produksi di pabrik telah mempekerjakan seluruh bagian tubuh manusia, sekarang dengan kemajuan teknologi, jiwa mereka pun tertarik kedalam komputer, dimana mereka harus berfokus didepan layar selama berjam-jam. Perkembangan teknologi telah menguasai jiwa para buruh dan pelajar disini adalah satu-satunya kelas yang masih berpihak kepada mereka. Dalam buku ini, Bifo masih membahas banyak hal lain, seperti alienasi, otonomi dan model produksi kapitalis yang menjadi sumber siksaan yang dialami kelas pekerja. Tidak dipungkiri lagi bahwa buku ini adalah sebuah karya besar diabad keduapuluhsatu yang hanya bisa disajikan oleh seorang Marxis Italia. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>29 Sep 2017</pubDate>
        <link>/workisme-pemikiran-baru-asal-italia</link>
        <guid isPermaLink="true">/workisme-pemikiran-baru-asal-italia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Adorno Memperkenalkan Dialektika</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: An Introduction to Dialectics&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Theodor W. Adorno&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 329 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mahzab Frankfurt adalah sebuah sekolah pemikiran yang mencetak teoritisi marxian yang bergerak dibidang sosiologi dan filsafat. Didirikan di Johann Wolfgang Goethe University dan masih bertahan sampai sekarang dalam bentuk Institute für sozialforschung, sebuah institusi yang didedikasikan untuk penelitian sosial. Salah seorang jebolan Mahzab Frankfurt adalah Adorno yang bersama Max Horkheimer, merumuskan dialektika pencerahan. Jika bicara dialektika dan tidak mengacu kepada Adorno, rasanya salah besar dalam mempelajari filsafat marxis. Begawan dialektika sekaligus pemikir yang cemerlang, teori-teorinya masih relevan hingga sekarang, ia lebih ke pemikir dibandingkan aktivis dan bukunya yang satu ini adalah kumpulan perkuliahan mengenai dialektika yang ia berikan di almamaternya, Goethe University.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa sebenarnya dialektika itu? Banyak pemuda yang mengaku dari golongan kiri dengan sombongnya mengulang-ulang kata ini, namun apa sejatinya makna dari dialektika itu sendiri mereka masih bingung. Para aktivis organisasi yang mencap dirinya sendiri sebagai marxis, dan punya materi mengenai marxisme dan neomarxisme dalam pelatihannya ternyata gagal memahami dialektika secara mendalam, berat memang memahami dialektika, tetapi bukan tidak mungkin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Awalnya, dialektika ialah suatu usaha untuk mengatasi segala bentuk dari konsep argumentasi palsu atau kesesatan berfikir dan berusaha mengartikulasikan pikiran konseptual dalam bentuk yang keras (material). Konsep kuno dari dialektika adalah konsep dari metode filsafat. Dialektika juga lah sebuah metode berfikir dan sebuah susunan spesifik yang ada dalam benda-benda. Bagi Plato, dialektika adalah tata cara berfikir filosofis yang ada tapi tak kasat mata, dan selalu hidup dalam kesadaran kita tanpa kita sadar akan keberadaannya. Dialektika platonik adalah sebuah doktrin yang membantu kita menata konsep kita dengan benar.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada beberapa titik yang lebih jauh, Adorno memaknai dialektika sebagai usaha menegakkan keadilan, penentuan sebuah kualitas terhadap sesuatu dan wajah suatu masalah melalui pertanyaan. Hampir sama dengan Hegel dalam memaknai konsep dalam karyanya &lt;em&gt;Phenomenology of Spirit&lt;/em&gt; dimana dia mengartikan konsep sebagai sesuatu yang mendefinisikan sebuah barang dan keberadaan barang itu sendiri. Konsep bukan hanya sesuatu yang diabstraksi dari sebuah benda melainkan juga intisari dari benda itu sendiri. Kesulitan dalam menggunakan konsep untuk dialektika bagi mereka yang tidak biasa dalam bidang studi ini ialah membingkai gagasan itu (dialektika) dan mengkonsepsikan akan makna dari dialektika. Disatu sisi, dialektika adalah sebuah prosedur berfikir yang bisa dipelajari, disisi lain, kita juga berbicara mengenai sesuatu yang membuka dirinya sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Maka dari itu, metode dialektis merupakan prosedur untuk menjelaskan suatu obyek sesuai dengan adanya pergerakan karena obyek tersebut berisi kontradiksi. Adapun dialektika nyata seperti yang dikatakan Herman Weinn ialah dialektika yang berkembang dalam suatu benda yang bergerak dalam sebuah kontradiksi yang sesuai dengan konsepnya. Adorno berusaha memperkenalkan dialektika sebagai sebuah usaha untuk mengembangkan makna filosofis dari sesuatu yang bukan bagian dari subyek (obyek) yang didalamnya ada unsur material dan unsur pemikiran terhadap obyek itu sendiri. Adapula dalektika idealis pengikut Hegelian melihat sesuatu melalui pikiran (itu kenapa idealisme adalah dunia dalam pikiran) sedangkan sudut pandang Marxian memandang bahwa keberadaan sebuah barang itu sudah ada sebelum kita mengkonsepsikannya dalam pemikiran kita, ini kembali seperti pertanyaan seorang teman dari peresensi, yang ada itu masuk akal atau yang masuk akal itu yang ada, cuman pertanyaan ini hanya menjadi permainan kata saja karena belum ditemukan jawabannya hingga sekarang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bahasa yang digunakan oleh Adorno bisa dibilang berat dan jika diterjemahkan bisa bermakna macam-macam, namun Adorno menyebutkan bahwa setiap orang bebas memaknai pemikirannya sesuai dengan akal pikirnya masing-masing dan dilengkapi dengan kontradiksi yang berada didalam pemikirannya, masih banyak yang dibahas Adorno, namun apabila si peresensi mengartikan semua, jadinya adalah terjemahan bukan ulasan. Seorang manusia harus memiliki pemikiran yang kontradiktif berdinamika, jika seseorang tidak memiliki pemikiran yang kontradiktif dan dinamis berarti orang tersebut sudah mati secara akal.&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>22 Sep 2017</pubDate>
        <link>/adorno-memperkenalkan-dialektika</link>
        <guid isPermaLink="true">/adorno-memperkenalkan-dialektika</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Makna Negara Bagi Bourdieu</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: On The State&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Pierre Boudieu&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 449 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2014&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Siapa tak kenal Pierre Bourdieu? Dia adalah seorang ilmuwan Sosial dan Politik terkemuka alumni Ecole Normale Superiure yang merupakan universitas unggulan di Perancis selain Sorbonne University dan College de France. Ia seringkali membahas tema-tema kebudayaan juga tapi ciri khas para pemikir Perancis adalah gaya neomarxis dan posmodernisnya. Ada yang bilang bahwa Bourdieu ialah seorang neomarxis, bagi saya dia adalah seorang Posmodernis seperti Foucault. Pemikir di Eropa tidak akan terkenal namanya jika belum memberikan kuliah umum di College de France, dan buku Bourdieu yang akan saya resensi kali ini adalah kumpulan kuliah tamunya dalam kurun waktu 1989-1992 yang dibukukan oleh Polity bekerjasama dengan Institut Francais.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Negara dapat dimaknai sebagai sebuah prinsip ortodoksi menurut Bourdieu. Sebuah prinsip tersembunyi yang bisa dilihat melalui adanya tatanan publik, secara bersamaan dapat dipahami juga sebagai aturan fisik yang berguna untuk mencegah kekacauan dan perang dalam negeri/perang saudara, maka negara dapat dimaknai secara fisik dimana keberadaaannya ditandai dengan penegakkan aturan-aturan yang ada dan juga secara simbolik. Negara, biasanya dipahami sebagai pondasi kesesuaian logika dan moral dalam dunia sosial. Kesesuaian Logika yang dimaksud oleh Emile Durkheim, terdiri atas fakta bahwa agen dari dunia sosial memiliki sudut pandang logika yang sama, sebuah persetujuan langsung antara orang-orang yang memiliki kategori yang sama dalam cara berpikir, sudut pandang dan konstruksi terhadap realita. Sedangkan kesesuaian/kepatuhan secara moral adalah sebuah persetujuan pada nilai-nilai tertentu (sebuah peraturan yang dibuat oleh negara mengikuti alur tradisi dan budaya dari penduduk di wilayah tersebut).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika kita melihat negara melalui kesesuaian moral dan logika, maka negara adalah sebuah prinsip dari suatu organisasi yang didirikan atas dasar persetujuan untuk melekatkan tatanan sosial. Bagi Hobbes dan Locke, negara ialah suatu lembaga yang didesain untuk mengabdi kepada kebaikan bersama, pemerintah yang melayani masyarakatnya. Pada titik tertentu, bagi Boudieu, negara adalah situs netral dimana ia sifatnya statis, mengikuti ideologi untuk pelayanan publik dan kebaikan bersama, ia adalah sesuatu yang tidak boleh berpihak dalam penyelesaian masalah, karena seharusnya mengayomi semua penduduknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam tradisi marxis, negara diartikan bukan sebagai alat untuk berorientasi pada kebaikan bersama, dia adalah alat untuk membatasi, alat untuk memelihara tatanan publik guna mengamankan mereka yang dominan. Para Marxis selalu mengkarakteristikkan negara atas tindak-tanduknya dan dengan melihat perilaku orang-orang yang menjadi aktor didalamnya, tapi tanpa menelisik struktur asli dari mekanisme yang dianggap menghasilkan pondasinya. Para Marxis lebih menekankan penjelasan negaranya pada ranah-ranah suprastrukturnya dan fungsi ekonomi sekaligus ideologis: Gramsci mengenai Hegemoni negara, Althusser mengenai alat ideologi sebuah negara (&lt;em&gt;ideological state apparatus&lt;/em&gt;). Bagi Bourdieu, jika memandang melaui tradisi pemikiran marxis, negara adalah sebuah khayalan kolektif, sebuah ilusi dengan basis yang cukup kuat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kesimpulan yang diajukan Bourdieu ialah bahwa negara adalah sekumpulan prinsip yang tak kasat mata dan tersembunyi, semacam Tuhan yang tidak kita ketahui atas tatanan sosial yang dalam waktu bersamaan memiliki dominasi fisik maupun simbolik dan berhak menggunakan kekerasan. Pemaksaan ini terjadi sangat sederhana dan memang kerapkali kita tidak menyadari, inilah konsep hegemoni, dimana sejatinya kita dikuasai tapi tidak merasa dikuasai. Contoh yang diberikan Boudieu adalah “kalender” dimana pastinya ada hari libur dan festival, keberadaan dua hal tersebut selalu diikuti oleh seluruh masyarakatnya, padahal festival dan hari libur ialah hal yang remeh-temeh. Kita tidak pernah memperhatikan bahwa masuk kerja ataupun tanggal merah ditentukan oleh negara. Inilah hegemoni sederhana yang dijelaskan oleh Bourdieu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak pembicaraan lain yang dituliskan oleh Bourdieu dalam buku ini, mengenai kategori negara, tentang pernikahan, strukturalisme, anarkronisme, diskursus mengenai publik yang dimana ia mendefinisikan mengenai “Publica”, asal muasal kata “state” atau “negara”, konstruksi sosial dalam permasalahan publik, dan masih banyak lagi, yang pasti negara adalah lembaga yang memiliki kekuatan laur biasa dalam menghasilkan sebuah dunia yang tertata secara sosial tanpa perlu memberi perintah dan melakukan koersi secara berkelanjutan. Buku inilah yang membahas negara menggunakan gaya berpikir posmodern, dengan sentuhan filsafat dan juga etimologis. Bourdieu memang intelektual publik yang handal sekaligus penulis yang piawai. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>21 Sep 2017</pubDate>
        <link>/makna-negara-bagi-bourdieu</link>
        <guid isPermaLink="true">/makna-negara-bagi-bourdieu</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Marx, Seorang Filsuf Sekaligus Ekonom</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Formation of The Economic Thought of Karl Marx&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Ernest Mandel&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 223 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit:  1971&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Marx selalu menjadi sebuah tonggak pemikiran kritis. Hampir semua cabang ilmu sosial, politik dan ekonomi yang ada dapat menggunakan pemikiran Marx sebagai pisau analisa. Secara penulisan pun Marx bisa menggunakan bahasa yang sangat akademis dan juga retorika. Terlepas banyak kritikan bahwa Marxisme tidak akan bisa diterapkan secara penuh di suatu negara, akan tetapi Marxisme selalu berhasil menjadi pengimbang pemikiran koservatif dalam ranah intelektualitas. Namun ia adalah seorang filsuf yang seringkali berbicara mengenai ekonomi, bagaimanakah pemikiran ekonominya terbentuk, Ernest Mandel sebagai seorang yang mengikuti pemikiran Marx, ia berusaha mencari-cari formulasi awal terbentuknya pemikiran ekonomi Marx.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Marx bersama sobat karibnya, Engels bertemu secara pemikiran bukan karena menempuh jalan sama, tapi karena ketertarikan akan beberapa pemikiran filsuf lain seperti dialektika Hegel, humanisme Feuerbach, dan pemikiran Bruno Bauer. Marx disini lebih mengarah kepada gerakan-gerakan perlawanan terhadap Borjuasi sedangkan Engels membahas mengenai perkembangan industri di Inggris. Namun sebenarnya, Engels lah yang mendorong Marx untuk masuk kepada sudut pandang ekonomi politik dalam melihat perlehatan di Eropa yang ada pada abad tersebut. Dan Engels lah yang mendeklarasikan dirinya sebagai seorang komunis dan menolak adanya kepemilikan pribadi. Marx pada awalnya tidak tertarik ekonomi politik saat berkuliah, tidak seperti Engels.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Artikel kritis pertama yang menjadi pondasi awal masuknya pemikiran kritis atas ekonomi politik, justru membahas agama, yakni “Kritik atas Filsafat Hak Hegel” yang ditulis pada tahun 1844, disana, Marx menyatakan bahwa kritik terhadap agama adalah dasar dari kritik terhadap ekonomi politik, namun sejatinya yang dituju oleh Marx disini bukanlah agamanya, tapi doktrin gereja yang ada pada zaman Marx hidup yang memiliki kekuasaan lebih, terlepas Eropa sudah melewati Abad Kegelapan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun pembahasan mengenai pertarungan kelas memang menjadi salah satu bahasan awal masuknya Marx kedalam pemikiran ekonomi politik, dimana ia menggunakan sudut pandang filsafat dan mencetuskan Borjuasi dan Proletariat. Bahasan Marx mengenai pertarungan kelas sebenarnya adalah harapan Marx agar kaum “minoritas yang tidak terintegrasi” (middle class, infra-proletariat, pelajar) dapat bersatu untuk membantu proletariat yang berisikan buruh dan tani.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pemikiran ekonomi politiknya semakin berkembang saat ia dipengasingan di Perancis. Dia secara terang-terangan menolak tenaga kerja sebagai suatu nilai. Ia mengkritik Ricardo mengenai nilai tenaga kerja, bahwa para buruh bekerja memang untuk digaji, dan tujuan utama mereka dalam bekerja adalah pemenuhan kebutuhan. Sebuah produk industri memiliki nilai tukar, yang didalam nilai tukar ini berisi harga bahan mentah dan juga harga tenaga kerja yang dibutuhkan. Tenaga kerja disini kembali lagi juga pada kurun waktu pengerjaan suatu barang. Pertanyaan mendasar ialah kenapa harga dari produk hasil tenaga kerja bisa lebih mahal dibanding harga tenaga kerjanya? Disitulah muncul teori lain yang dicetuskan Marx sebagai Teori Nilai Lebih yang menjadi salah satu komponen utama keberadaan sirkulasi dan akumulasi kapital.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak lagi Teori Marx yang dibahas oleh Ernest Mandel dalam perkembangan pemikiran Marx kedalam ekonomi politik seperti Teori Tenaga Kerja, Nilai Tukar, Nilai Lebih, Nilai Guna, Teori Uang, Sistem Pengupahan, Model Produksi Kapitalis, Alienasi yang tak terhindarkan dalam dunia kerja, Masyarakat Industri dan kritik terhadap kapitalisme dan kepemilikan pribadi. Dalam buku ini dijelaskan semua bab per bab dengan gamblang namun dengan bahasa yang bisa dibilang akademis. Ernest Mandel selalu dianggap sebagai seorang Trostskys yang cenderung revisionis, tapi tidak dapat dipungkiri lagi bahwa ia adalah salah seorang Marxis dengan metode berpikir yang paling relevan mengenai kritik terhadap sistem ekonomi kapitalis dan bukunya yang satu ini adalah testimoni kejeniusan dari para Marxian dan bagaimana Marx yang dengan latar belakang Filsafat bisa menghasilkan karya-karya yang berbau ekonomi. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Foto: &lt;a href=&quot;https://www.flickr.com/photos/waltjabsco/22036253920/in/photolist-Vb6z8A-93jhGC-7PcEcY-4mdd8V-5UqBe3-96qmF3-virup-4mdcXK-P4kMuH-qcoiQF-zzgyyq-9hSMRX-XGyrYH-23BX9E7-JftpAP-bHnjBc-5ieCv5-5iaj8n-ha5FqE-2ew3QTS-fR7Qo-f6GfXk-7TKxJx-6vy4UH-ajN5jR-93jicW-2A3zrc-9u4AYq-duwWV-q5cyA-5Kb5n-9SkA6H-bXihgJ-6ucHTb-7htJgT-4YAq34-8F8pTG-fdP6J6-7UvjvB-eeK1Qp-5eN3t9-gphmux-Li1AK-5bypBy-chcLHL-rzqhAH-6M4rWd-vV7Qr-93ji2C-bXjJ6j&quot;&gt;Walt Jabsco/Flickr&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>19 Sep 2017</pubDate>
        <link>/marx-seorang-filsuf-sekaligus-ekonom</link>
        <guid isPermaLink="true">/marx-seorang-filsuf-sekaligus-ekonom</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Marxisme ala Louis Althusser</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: For Marx&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Louis Althusser&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Verso&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 271 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2005&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Siapa yang tak kenal Louis Althusser? Bagi mereka yang gemar membaca buku yang bergaya revolusioner pasti tahu Marxis dari Perancis ini. Dia adalah mesin penggerak dari Partai Komunis Perancis, dia juga yang pertama kali membedah buku Kapital dan mempermudah khalayak umum dalam membacanya melalui karyanya “Reading Capital”. Ia juga yang menjadi panutan dari para pemikir posmodernis dari Perancis dan juga aktivis Marxis terdepan di zamannya. Jikalau seorang mahasiswa yang tertarik kepada pemikiran kiri ala Marx dan masih bertanya siapa itu Althusser, kasihanilah dia, berarti belum purna membaca dan belum berkembang pembahasannya. Penting rasanya saya mengulas buku lain dari Althusser untuk memberikan sedikit penggambaran mengenai cara berpikir Marxian yang satu ini, selamat menikmati, para pembaca yang budiman.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di abad dimana Althusser hidup, sosialisme masih menjadi wacana nomer satu dari tiap-tiap pelajar yang ada, begitupula marxisme dan humanisme. Sejatinya tiga wacana ini saling berhubungan satu dengan yang lain. Bagi dia, Sosialisme akan selalu menuju kepada komunisme sesuai dengan perkataan Lenin. Apalagi, pada saat itu, Uni Soviet memiliki jargon: Semua untuk manusia yang mengenalkan tema-tema baru yang sampai sekarang masih &lt;em&gt;booming&lt;/em&gt;: martabat manusia, kebebasan individu, dan kesetaraan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun adapun kedekatan sosialisme dengan humanisme yang pada ujungnya akan menjadi sosialisme humanis yang sekiranya mendamaikan kubu komunisme dengan kubu sosial-demokrat. Pengikut ideologi ini disebut sebagai orang-orang yang baik oleh Althusser karena mereka menolak peperangan dan berusaha mengentaskan kemiskinan. Bahkan baginya, tujuan akhir dari humanisme akan mengarah kepada sosialisme dan berujung pada komunisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fakta membuktikan bahwa tujuan dari revolusi sosial selalu untuk mengakhiri eksploitasi oleh satu manusia kepada manusia lainnya dan membebaskan manusia dari ketertindasan. Marx memandang ini dalam bentuk sebuah fase sejarah, dimana didalamnya ada pergulatan dalam bentuk pertarungan kelas (biasanya antara borjuasi dan proletariat), dan mereka yang menjadi humanis revolusioner adalah kelas proletar humanis. Berakhirnya eksploitasi manusia berarti berakhirnya kelas sosial. Pembebasan manusia berarti pembebasan atas kelas pekerja (terutama yang terekspoitasi dan tertindas) dan pembebasan ini dilakukan melalui kediktatoran proletariat. Sudah 40 tahun terjadi pertarungan kelas di Uni Soviet, yang terjadi disana adalah kediktatoran proletariat, bukan pembebasan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa tahun sebelum Althusser menulis bukunya, sosialisme humanisme hanya ada dalam bentuk kelas sosial humanis  yang sifatnya personal/individu, sedangkan sekarang sosialisme humanisme ada dalam bentuk personal: kelas sosial humanis (revolusioner humanis) dan dalam bentuk kediktatoran proletariat semacam Uni Soviet. Kediktatoran proletariat ini dianggap humanis oleh Althusser karena sifatnya membebaskan kaum buruh dair ekploitasi rezim sebelumnya, rezim para Tsar. Namun sekarang, kekuatas kediktatoran proletariat mulai menghilang di Soviet dan berubah lebih kepada humanisme personal, sedangkan kediktatoran proletariat masih dianut oleh Cina sebagai bentuk pemerintahan yang bersandingan dengan Maoisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kediktatoran Proletariat ini ditolah oleh kaum Sosial Demokrat karena humanisme personal yang selalu mendukung kebebasan individu dan mendekat kepada kaum borjuasi demi jalur yang lebih damai dan melawan komunisme. Humanisme personal semacam ini telah dihilangkan di Uni Soviet dan melarikan diri kedaerah Eropa Barat yang diramalkan akan bertahan tidak dalam jangka waktu panjang oleh Althusser. Saat di Eropa Barat inilah, humanisme sosialis bertemu dengan humanisme kristen liberal (golongan borjuasi).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi Louis Althusser, sosialisme-humanisme adalah gabungan dua ideologi yang dimana memiliki maksud tertentu, sosialisme sebagai tujuan akhir dan humanisme nya lah yang masih berbau ideologi (sebagai alat menuju tujuan akhir). Dan baginya, alat menuju tujuan akhir itu akan mewujudkan tujuan akhir itu sendiri saat dilaksanakan dalam bentuk kolektif semacam kediktatoran proletariat. Penjelasan buku ini bisa dibilang rumit karena Althusser mengejewantahkan Marxisme sesuai dengan pemikirannya. Ia adalah seorang Marxis-Leninis paling modern di abad keduapuluh, dan karyanya tidak pernah membosankan dibaca seabad kemudian, panjang umur revolusi. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>16 Sep 2017</pubDate>
        <link>/marxisme-ala-louis-althusser</link>
        <guid isPermaLink="true">/marxisme-ala-louis-althusser</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Filosofi &quot;Common Goods&quot;</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Omnia Sunt Communia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Massimo De Angelis&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Zed Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xvii+436 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kali ini saya akan meresensi buku dari salah satu penerbit independen dan juga progresif, Zed Books. Sekilas penerbit ini memang tertarik dibidang sosial humaniora dan tidak menerbitkan buku-buku eksakta. Paling utama adalah masalah ekonomi, politik dan pembangunan yang terjadi di dunia. Sesuai dengan jargonnya “Platform for marginalised voices”, Zed Books memang selalu mengangkat isu-isu yang terpinggirkan semacam LGBT, hak-hak perempuan, kemiskinan, Land Grab dan masih banyak lagi. Buku yang akan saya tulis diresensi yang kali ini ialah karya dari Massimo de Angelis, seorang professor yang mengajar di University of East London dalam bidang ekonomi politik, ia menuliskan mengenai &lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt; di dalam perspektif non-kapitalis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt; sekarang sedang naik daun dalam pembahasan ekonomi politik. Banyak yang mempertanyakan apa makna dari &lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt;. Istilah ini dapat diartikan sebagai barang umum (secara sangat kasar, melalui &lt;em&gt;google translate&lt;/em&gt; tanpa disaring terlebih dahulu), tapi adapun bisa dimaknai juga sebagai barang yang dimiliki khalayak umum (barang publik). Kata ini memiliki dua karakteristik: gabungan antara kata benda (goods) dengan tambahan kata sifat (common). Mereka adalah barang yang menjadi obyek sosial dari nilai, Nilai Guna. Sebuah objek untuk pemenuhan kebutuhan, keinginan dan aspirasi. Nah, &lt;em&gt;common goods&lt;/em&gt; sejatinya adalah &lt;em&gt;Nilai Guna untuk pluralitas&lt;/em&gt; (masyarakat umum), sebuah barang yang dapat digunakan orang banyak, itulah &lt;em&gt;common goods&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebuah bandara adalah &lt;em&gt;nilai guna untuk pluralitas&lt;/em&gt; seperti ruang publik lainnya, semisal kota, taman, jalan, dll. Komoditas yang diproduksi secara besar-besaran juga merupakan &lt;em&gt;nilai guna untuk pluralitas&lt;/em&gt; dengan maksud untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Tapi apa yang disebut dengan pluralitas disini sifatnya pasif, agar benar-benar suatu barang bisa disebut &lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt;, maka pluralitas itu tadi harus menjadi aktif sebagai pluralitas yang bermakna khalayak umum atau masyarakat/orang banyak dan mengklaim kepemilikan atas barang tersebut. Masyarakat yang mengklaim kepemilikan dari sebuah bentuk Nilai Guna (barang) tidak hanya bisa mengakses dan menggunakan Nilai Guna itu tadi, tapi juga harus bisa memproduksi dan mereproduksi Nilai Guna tersebut agar bisa dikonsumsi secara berkelanjutan. Masyarakat membentuk relasi dengan benda tersebut juga lingkungan dimana benda itu diproduksi. Akhirnya masyarakat tidak hanya memproduksi Nilai Guna tapi juga Nilai Relasi (antara manusia, benda dan lingkungannya). Dari nilai baru inilah, barang publik direproduksi dan didistribusikan ulang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karakter penting dalam &lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt; secara singkat adalah: barang yang memiliki nilai guna di masyarakat dan membutuhkan masyarakat untuk mengklaim kepemilikan atas barang tersebut. Menjaga kepemilikan ini hanya bisa dilakukan dengan keberadaan nilai relasi (relational values). Common Goods ini tidak bisa diproduksi kedalam sistem kapitalis karena berlawanan dengan adanya kontestasi yang ada didalam sistem kapitalis tersebut. Barang yang ada didalam sistem kapitalis adalah komoditas yang diperjualbelikan, sedangkan barang yang dimaksud dengan &lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt; ialah barang yang bisa dinikmati secara bebas oleh khalayak umum (tetapi khalayak umum tersebut wajib mereproduksinya jika ingin tetap mengkonsumsinya).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika dalam &lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt; berisi Nilai Guna dan Nilai Relasi, sedangkan dalam Komoditas ialah Nilai Guna dan Nilai Tukar. Nilai Tukar ini bukanlah hasil dari masyarakat yang mengklaim kepemilikan atas sebuah barang, Nilai Tukar hanya muncul dari pabrik dan masuk hanya dalam pasar bebas yang kompetitif. Komoditas inilah yang nantinya bisa masuk kedalam Kapital, bukan &lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt;. Jikalau pemahaman dalam sebuah masyarakat diubah dari produksi komoditas ke produksi dan reproduksi dari &lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt;, maka ada kemungkinan yang sangat besar bahwa Kapitalisme pasti hancur dalam lingkup masyarakat tersebut. &lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt; sangatlah bisa menjadi sebuah sistem sosial yang menggantikan Kapital dimasa depan. Tidak susah untuk menemukan &lt;em&gt;Common Goods&lt;/em&gt;, secara sangat sederhana dan dangkal, Common Goods adalah barang yang dibagi, untuk tahu contohnya, tinggal cari saja disekitar anda, barang yang dibagi dua orang atau lebih.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dibanding beberapa buku lain yang membahas mengenai &lt;em&gt;Common Goods, Public Goods&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Common Ground&lt;/em&gt;, De Angelis disini menarik lebih kepada pengartian secara filosofis bukan kepada praksis, karena itu terlihat seperti &lt;em&gt;mbulet&lt;/em&gt;, masalah ini sedang menjadi &lt;em&gt;trending topic&lt;/em&gt; dalam pemikiran ekonomi politik di Eropa dan Amerika Serikat dan bisa jadi inilah yang akan menandingi kapitalisme dan komoditasnya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>14 Sep 2017</pubDate>
        <link>/filosofi-common-goods</link>
        <guid isPermaLink="true">/filosofi-common-goods</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Buruh Bersatu (Berusaha) Tandingi Kapitalisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Cooperatives Confront Capitalism&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Peter Ranis&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Zed Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 171 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kapitalisme era global ini sudah semakin menjadi-jadi. Banyak sektor yang sudah diduduki oleh para kapitalis bersama kebijakan ekonomi neoliberal mereka. Masyarakat terkadang terlihat tidak berdaya karena mereka tidak memegang tampik kekuasaan yang sesungguhnya. Adapun tendensi-tendensi kekuasaan yang dibawa kaum kapitalis terlihat bagaimana mereka sangat dekat dengan kelas penguasa agar bisa memegang sepenuhnya ekonomi sebuah negara. Sudah banyak pemikir yang berusaha menguak permasalahan ini, tetapi naasnya, teori yang mereka buat hanyalah sekedar teori saja. Berat memang mengimplementasikan “Kekuasaan Rakyat” terutama yang berfokus pada buruh dan tani. Peter Ranis disini menyuguhkan bahwa kekuasaan semacam itu memungkinkan direalisasikan dengan keberadaan koperasi buruh, untuk lebih lengkapnya simak resensi berikut ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Koperasi Buruh telah menarik perhatian banyak pemikir yang mengabdikan dirinya untuk mempelajari keberadaan mereka sepenuhnya. Dasar dari kepercayaan terhadap koperasi ini adalah keyakinan bahwa buruh laki ataupun perempuan secara produktif dapat menyediakan penghidupan (memenuhi kebutuhan pokok) tanpa perlu adanya seorang tuan tanah, mandor, pengawas, supervisor dan jenis anggota manajerial lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ialah sistem penggajian atau pengupahan yang terus menerus membuat buruh tereksploitasi dan dimana para kapitalis selalu mengambil keuntungan. Untuk memahami lebih lanjut maka dibutuhkan analisa hirarkhis mengenai hubungan antara buruh dan kapitalis agar mengetahui “kapital” ini akan digunakan untuk apa dan oleh siapa, penjelasan ini akan sangat panjang dan ada sepenuhnya dalam buku dengan tebal 171 halaman ini.  Namun koperasi telah memberikan kebebasan dari hubungan eksploitasi yang dilakukan kaum kapitalis kepada golongan pekerja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Marx lah dalam bukunya Kapital Volume 1 yang menjelaskan ketidakpekaan buruh terhadap keberadaan komunitasnya dan tenaga kerjanya hanya muncul saat ada komoditas yang terbeli. Kenyataannya, tenaga kerja buruh dari unit produksi yang berbeda merepresentasikan dua hal: Pekerja memproduksi sebagai sekelompok individu dan pekerja sebagai bagian dari masyarakat yang telah mendapatkan nilai lebih (profit/keuntungan) melalui produksi dan transaksi dalam pasar. Produk sejatinya tidak begitu berarti jika tidak masuk kedalam pasar. Pengakuan satu pekerja atas hasil pekerja yang lain hanya terjadi saat sebuah produk terjual. Padahal sebuah produk yang dijual akan dibeli oleh pekerja lain yang dia memproduksi sebuah produk yang dibeli oleh pekerja di lain tempat. Inilah yang disebut Marx sebagai Sirkulasi Uang Kerja yang terus berputar dan memperkuat kapitalisme. Hal ini terjadi juga karena buruh tidak awas terhadap kuantitas mereka yang banyak terlepas mereka berasal dari perusahaan/pabrik yang berbeda.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu contoh yang diangkat dalam buku ini adalah koperasi buruh pabrik di Argentina yang menguasai gerakan-gerakan demonstrasi pada tahun 2001. Mereka berhutang budi pada momentum krisis ekonomi dan sosial yang terjadi di Argentina yang membawa pengangguran dan kemiskinan. Bangkrutnya pabrik dan perusahaan menghasilkan PHK besar-besaran dan mendorong para buruh untuk mencari pemulihan atau perbaikan akan kondisi yang mereka keluh kesahkan. Salah satunya adalah pembentukan koperasi buruh yang didukung oleh regulasi Argentina. Membentuk koperasi ini menjadi langkah utama yang legal yang dilakukan oleh para buruh agar dapat kembali masuk kedalam pabrik untuk mengawali kembali produksi barang dan jasa. Hasilnya merupakan sebuah pujian bagi koperasi buruh Argentina yang berhasil menyediakan alternatif saat memproduksi dibawah tekanan ekonomi kapitalis sekaligus memberikan kritik terhadap model organisasi tempat kerja kapitalis yang bersifat kuno.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang selalu menjadi masalah bukan lah merebut kekuasaan, tapi bagaimana mempertahankan kekuasaan tersebut. Kekuatan buruh pasca krisis 2001 ternyata hanya berjalan sangat singkat dimana pada tahun 2003, 2007 dan 2011 setelah pemilihan Presiden Nestor Kirchner dan Cristina Fernandez de Kirchner yang berasal dari Koalisi Peronis, mengembalikan Argentina kepada demokrasi liberal. Maka dari itu, kemungkinan untuk membangun kekuatan, otonomi dan akses spesial dari kelas pekerja telah terpinggirkan. Kerjasama dari masyarakat sipil, mahasiswa, dan pemikir Kiri dalam mendukung keberadaan koperasi ini membuat para buruh mampu mempertahankan koperasi mereka ditengah-tengah Argentina yang penuh dengan kepentingan. Terutama kepentingan ekonomi dimana para kapitalis telah memegang, baik kapital maupun pemerintah. Yang patut diacungi jempol adalah pabrik-pabrik yang dimiliki oleh para buruh di Argentina membuat mereka mulai meninggalkan gerakan-gerakan sosial yang merupakan corak lama dari perjuangan buruh. Kekhasan para kelas pekerja di Argentina ialah mempertahankan pekerjaannya dengan cara yang non-konforntatif dan menghormati keberadaan otoritas moral sebagai perwujudan untuk membangkitkan kembali produksi barang dan jasa dalam skala nasional di Argentina. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>13 Sep 2017</pubDate>
        <link>/buruh-bersatu-berusaha-tandingi-kapitalisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/buruh-bersatu-berusaha-tandingi-kapitalisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Teori Negara Marxis Menurut Ernest Mandel</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Power and Money&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Ernest Mandel&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Verso&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 252 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1992&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ernst Mandel bisa dibilang sebagai salah satu marxis dengan teori yang cukup rumit, ialah yang menciptakan istilah “Late Capitalism” dengan sudut pandang yang sangat filosofis. Pembahasannya sangatlah rumit dan cenderung kepada permasalahan ekonomi-politik, maklum ia adalah seorang ekonom asal Belgia. Tradisi pemikiran yang dia anut bukan lah marxis pada umumnya, tapi lebih mengarah kepada trotskysme yang kerap dianggap pemikiran menyimpang dari seorang marxis. Ia adalah teoritisi sekaligus aktivis, pernah bergabung dengan Partai Sosialis Belgia dan mengikutinya dengan militan. Aktivitas yang ia lakukan seimbang dengan gagasan yang ia bawa dan bisa dibilang, Mandel lah yang memberi pondasi mengenai birokrasi memalui sudut pandang Marxian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi Mandel, karakteristik utama dari Uni Soviet dan negara lain yang sejenis ialah banyaknya organ dalam negara. Dalam Uni Soviet sendiri, sistem ekonominya dapat dikatakan terpusat. Dan dari sudut pandang sejarah bahwa pemerintahnya telah mengatur kehidupan sosial selama enampuluh tahun karena birokrasinya yang diktator. Namun pertanyaan yang muncul: atas dasar apa keberadaan negara itu?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Negara adalah sebuah organ yang mengawasi dan melakukan urusan publik dari masyarakat (seperti pengaturan produk surplus yang ada di masyarakat, pertahanan luar negeri melalui urusan militer, mengatur hubungan antar warga negara, dan membuat juga menjaga infrastruktur), yang berbeda dari aktivitas ekonomi biasa berupa produksi dan distribusi, dimana negara memiliki aparatur yang bisa menaklukkan masyarakatnya, negara lahir sebagai tuan ketimbang pelayan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam bentuk kuno nya, negara selalu memiliki dua fungsi utama: menggaransi kekuasaan dari kelas yang berkuasa terhadap kelas yang dieksploitasi (buruh dan tani) dan mengutamakan kepentingan bersama dari kelas penguasa daripada kepentingan pribadi dari tiap anggota kelas penguasa (kebaikan bersama bagi kelas penguasa). Hal ini bisa diterapkan pada masyarakat yang perbandingan kelasnya cukup stabil, tapi tidak untuk kapitalisme yang mengutamakan kepentingan ekonomi pribadi. Di negara semacam Soviet, Kapitalis Privat tidak bisa menjadi Bank Sentral karena mereka tidak bisa melakukan abstraksi atau membuat kebijakan atas dasar asumsi pribadinya. Birokrasi negara bergerak melalui sistem yang kaku, formal dan hirarkis atas dasar peraturan yang harus ditaati oleh setiap aparatur negara tersebut. Namun peraturan ini bisa diubah sewaktu-waktu oleh para Kelas Penguasa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Situasi sosial di Birokrasi tidak hanya diartikan melalui perbedaan dari kelas-kelas yang berada disekitarnya (borjuasi dan proletariat), tapi juga peleburan birokrasi bersama masyarakat sipil. Saat sebuah negara dikuasai oleh kekayaan yang ditarik melalui uang, maka korupsi sangatlah mungkin untuk terjadi dalam aparatur negaranya, apalagi pada eselon atas, fungsionaris negara pasti mencari cara untuk menjadi borjuis yang egois dan selalu mencari keuntungan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang aneh dari birokrasi Uni Soviet, mereka berusaha meminimalisir kesenjangan antara yang miskin dan yang kaya namun makin memperbesar jarak tersebut. Pengalaman Soviet atas birokratisasinya tidak hanya merefleksikan keterbelakangan, tapi juga ketegangan sosial, dimana hal ini jauh dari pandangan negara tanpa kelas. Mengatur kontadiksi ini membutuhkan organ negara yang diperluas seperti Birokrasi itu sendiri, menurut Engels: Negara tidak dimaksudkan sebagai kekuatan untuk menekan masyarakat dari luar, tapi sebuah produk dari masyarakat yang sedang berkembang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para Marxis Revolusioner tidak menuding faksi Stalinis dan pengikutnya yang telah melahirkan pertumbuhan yang mengerikan dari negara dan birokrasi melalui pengkhianatan dan kesesatan berpolitik yang mereka terapkan. Bari para revolusioner marxis ini, Stalinis telah berhasil dengan menanamkan beberapa alasan untuk membenarkan kemenangan mereka dalam mengatur birokrasi: Menutupi realitas sosial dengan menanamkan kesadaran palsu untuk menawarkan pembenaran ideologis atas birokrasi mereka, dengan nama marxisme dan komunisme mereka melakukan eksploitasi buruh (contoh: Gulag), Kebijakan yang diterapkan bukannya makin mengurangi kekurangan dan ekses birokrasi sampai pada titik minimum tapi malah memperbesar kekurangan birokrasi di Soviet itu sendiri. Tiga permasalahan diatas membuat pandangan para Mensheviks benar, bahwa Russia tidaklah cocok untuk sosialisme, karena itu mereka menolak Lenin dan Trotsky.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak kritikan lain terhadap jenis kenegaraan kiri yang diterapkan di beberapa negara selain Uni Soviet dalam buku ini. Bahasa yang digunakan bisa dibilang cukup mudah meskipun ada beberapa kata yang sekiranya dibutuhkan untuk membuka kamus, namun secara keseluruhan, buku ini asik untuk dibaca dan menambah ilmu pengetahuan, terutama bagi mereka yang tertarik pada pemikiran kiri tetapi belajar di Ilmu Administrasi Publik atau Ilmu Pemerintahan.&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>11 Sep 2017</pubDate>
        <link>/teori-negara-marxis-menurut-ernest-mandel</link>
        <guid isPermaLink="true">/teori-negara-marxis-menurut-ernest-mandel</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Modernitas dan Kegagalan Liberalisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Liberal Virus&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Samir Amin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://monthlyreview.org/&quot;&gt;Monthly Review Press&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 125 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2004&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Monthly Review Press (MRP) memanglah salah satu penerbit garda depan yang menuliskan mengenai teori sosial kritis dan bersifat independen. MRP selalu memiliki ciri khas yang dimana penerbit lainnya tidak punya, yakni kentalnya pembahasan mengenai ideologi dan kelas. Acapkali pembahasan ini merambah kepada salah satu mata kuliah atau mata pelajaran yang paling menarik, Ekonomi, namun juga tidak terlepas dari Sosiologi dan Antropologi, juga Politik yang biasanya disandingkan dengan “current events”. Dari semua penulis yang pernah menerbitkan naskahnya di MPR, salah satu yang paling sering adalah Samir Amin. Pak Amin disini seringkali membahas mengenai teori sistem dunia dan idelogi (hal-hal yang sifatnya suprastruktur), dan buku yang satu ini adalah salah satu buku yang mengulas secara fokus mengenai ideologi kesayangan dunia, Liberalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Patut kita pahami bahwa liberalisme muncul dengan bangkitnya modernitas dan berkembang bersamaan dengan kapitalisme. Semua dicetuskan di Eropa selama tiga abad sejak zaman Renaissance sampai pada Era Revolusi Perancis. Modernitas muncul sebagai permintaan manusia akan emansipasi, melalui pembebasan dari tradisi-tradisi feodal masyarakat zaman dahulu. Pembebasan mewajibkan penghilangan bentuk dominan dari legitimasi kekuasaan (dalam keluarga, masyarakat dan pemerintahan). Modernisasi memanggil apa yang kita sebut dengan Sekularisasi dimana negara dan agam secara mendasar dipisahkan, yang menjadi dasar atas politik di era modern ini. Modernitas membuka kemungkinan akan demokrasi dan emansipasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, secara bersamaan, kapitalisme ikut berkembang bersama modernitas yang dibawa oleh liberalisme dimana pikiran mengenai kebebasan tidak hanya merambah kepada kehidupan sosial dan politik, tetapi juga kehidupan ekonomi. Orang zaman sekarang dihadapkan pada tantangan yang sedang berkembang dan bertambah kuat: kapitalisme. Diskursus yang dihasilkan oleh keberadaan liberalisme dan modernitas ialah kebebasan individu. Dalam konteks kapitalisme, kebebasan disini dapat bermakna bahwa yang kuat (baca: kaya) bisa menenkankan peraturannya kepada orang lain karena kebebasan dan kemampuan (modal) yang ia miliki dan masalah ini menyerang langsung kepada aspirasi yang meminta kesetaraan didasarkan pada demokrasi. Untuk mayoritas masyarakat, kemodernan adalah hal yang munafik karena praktik standar ganda atas azas kebebasan yang diterapkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Salah satu contoh yang diambil Amin adalah Amerika. Ia menyebutkan bahwa kebebasan di Amerika menolak kesetaraan, bahkan masyarakat Amerika membenci kesetaraan. Ketidaksetaraan yang ekstrim tidak hanya ditoleransi tapi juga dijadikan simbol kesuksesan yang dijanjikan oleh kebebasan. Maka dari itu, kebebasan tanpa kesetaraan sejatinya ialah kebiadaban. Terkadang kebebasan yang dimaknai di Amerika Serikat yakni kebebasan hingga titik bisa menindas orang lain selama memiliki kapital maka seorang pengusaha akan menguasai manusia lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ideologi ini awalnya mempromosikan keharmonisan pasca Revolusi Perancis dalam slogannya “Liberte, Egalite, Fraternite”. Namun interpretasi yang seringkali menghilangkan egalite dan fraternite malah membuat liberty dan liberalism menjadi ideologi ganas bersama kapitalisme yang hendak mengkonsumsi golongan bawah. Sekarang, Liberalisme menjadi tantangan untuk kemanusiaan. Liberalisme Global makin menjadi dominasi Amerika Serikat terhadap negara lain karena interpretasi AS yang berbeda dengan Eropa. Adapun negara-negara Eropa berusaha untuk memaknai ulang liberalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Semua hal ini terjadi karena modernitas berkembang dibawah kapitalisme yang menghasilkan janji-janji tanpa tujuan yang jelas. Padahal janji akan demokrasi mampu membuat yang tertindas, yang miskin dan yang kelaparan dapat bergulat untuk melawan tekanan dari kekatan kapitalis yang dominan (hipotesa liberal selalu melukiskan bahwa semua orang bisa menjadi kaya seperti Rockefeller, tapi itu semua hanyalah khayalan). Bagi Samir Amin, liberalisme hanyalah gagasan usang yang sudah menuju pada titik kehancurannya, banyak orang sudah menganggap liberalisme hanya membawa kesengsaraan karena selalu ditunggangi oleh konglomerasi perusahaan. Liberalisme sudah gagal mensejahterakan masyarakat dunia. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>10 Sep 2017</pubDate>
        <link>/modernitas-dan-kegagalan-liberalisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/modernitas-dan-kegagalan-liberalisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Ulasan Kritis atas Seorang Zawahiri</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Road to Al-Qaeda&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Montasser Al-Zayyat&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Pluto Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xxi+137 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2004&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat pertama kali membaca judul buku ini, akan terlintas dibenak para pembaca yang budiman bahwa ini adalah buku mengenai Islam garis keras atau sebuah panduan masuk Al-Qaeda. Salah! Buku ini adalah buku yang menggambarkan seorang Ayman Az-Zawahiri, sebuah biografi yang ditulis oleh kawannya yang bukan hanya berisi pujian terhadapnya, namun berisi kritikan. Sekiranya para &lt;em&gt;sumbu pendek&lt;/em&gt; mengira bahwa resensi ini ditujukan untuk melukiskan mengenai terorisme, alangkah lebih baiknya mereka menyimak terlebih dahulu, dan apabila perlu membaca bukunya langsung (tidak mungkin seorang Islam garis keras akan menerbitkan buku pada penerbit yang mereka sebut “Kafir). Dari buku ini kita akan mengetahui bagaimana latar belakang kehidupan orang paling dicari di dunia setelah Osama Bin Laden (saat ia masih hidup), dan sekarang menjadi pimpinan gerakan muslim paling ditakuti di dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ayman bertemu pertama kali dengan si penulis saat bersama-sama menghabiskan waktu di sebuah penjara di Kairo, Mesir yang bernama &lt;em&gt;Penjara Tora&lt;/em&gt;. Model penjara ini dibentuk seperti penjara Bastille di Perancis yang berisi tahanan politik. Perlakuan yang dilakukan disana pun sama dengan melakukan siksaan-siksaan terhadap para tahanan. Dari tahanan ini, Montasser Al-Zayyat mulai mempelajari mengenai kisah dibalik seorang Zawahiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ayman terlahir pada kalangan aristokrasi Muslim di Kairo, tepatnya di wilayah Maadi, semasa kecil ia jarang sekali bergaul bersama kawan-kawan seumurannya, namun ia lebih suka menghabiskan waktu luang dengan membaca, sehingga kisah-kisah yang dikumpulkan oleh penulis berasal dari penuturan keluarganya yang masih hidup. Dia besar di lingkungan keluarga dengan religiusitas tinggi, seringkali menghabiskan waktu dengan membaca kitab-kitab fiqh dan tafsiran Al-Qur’an. Ia juga sering berkumpul di Masjid dekat rumahnya yang seringkali mendatangkan Mustafa Kemal Al Wasfi, seorang intelektual Islam yang menjadi wakil pimpinan dari kelompok Al Islam Al Tanwiri (Islam yang tercerahkan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam buku ini digambarkan bahwa Az-Zawahiri bukanlah orang yang sangat reaksioner dan lebih kepada pendengar yang baik, karena hal itu, ia sangat berhati-hati dalam melakukan setiap kegiatannya (itu kenapa Al-Qaeda sekarang cenderung pasif setelah dipegang oleh Ayman Az-Zawahiri). Ia adalah dokter bedah dan seorang alumni dari Fakultas Kesehatan Universitas Kairo lulusan tahun 1974. Menurut keluarganya, Az-Zawahiri bukan tipe orang yang suka bermain perempuan dan hanya satu perempuan yang selalu bersamanya sejak menikah, yakni Azza Ahmed Nuwair, istrinya. Perkawinan mereka dilaksanakan di hotel yang megah namun tetap dengan cara yang konsevatif, membedakan tempat duduk laki-laki dan perempuan dengan diberi hijab (pembatas, makna asli dari kata hijab).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada awal-awal ia bergabung dengan kelompok jihadis yakni Jamaah Islamiyah, ada perubahan yang signifikan dari pribadi Ayman, ia beranggapan bahwa untuk membawa perubahan harus dengan cara kudeta militer. Namun ia menolak untuk usulan Jamaah Islamiyah melakukan gerakan demonstrasi. Demonstrasi akan memprovokasi negara akan membuat negara memperkuat keamanannya dan berujung pada penangkapan anggotanya. Dengan pemikiran yang taktis semacam ini, Az-Zawahiri menjadi aset berharga bagi kawannya dan musuh yang sangat berbahaya bagi lawannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pengikut Az-Zawahiri mayoritas adalah pemuda dimana ia mengharapkan agar tidak hanya Jamaah Islamiyah yang menjadi pendongkrak untuk gerakan jihad dan urgensi terhadap pelatihan militer untuk melakukan kudeta. Pemikiran seperti ini yang ditiru oleh gerakan-gerakan islamis di abad keduapuluhsatu, tapi dengan tujuan untuk menyebar teror. Jihad yang diserukan oleh Ayman awalnya adalah untuk melawan Israel, bukan melakukan kudeta, namun karena Anwar Al-Saddat akan melakukan perjanjian gencatan senjata, makan Ayman lah yang merencanakan pembunuhan Anwar Al-Saddat. Disinilah perubahan dari melawan musuh dari luar Mesir melawan kawan sendiri. Terlepas penulis memang adalah teman dari Ayman, ia tidak pernah setuju dengan aksi-aksi yang dia laksanakan, dimana aksi tersebut mengundang ketakutan dan terlalu banyak membawa korban kolateral. Selama bisa menggunakan jalan Da’wah, kenapa harus ber-Jihad? &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>07 Sep 2017</pubDate>
        <link>/ulasan-kritis-atas-seorang-zawahiri</link>
        <guid isPermaLink="true">/ulasan-kritis-atas-seorang-zawahiri</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Secuplik Penjelasan Mengenai Kolonialisme</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Discourse on Colonialism&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Aimé Césaire&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 102 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2000&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak orang belum kenal Aimé Césaire, ia adalah seorang penyair, novelis sekaligus filsuf. Pemikirannya sangat berfokus kepada kolonialisme dan permasalahan rasisme. Maklum, pemikiran keturunan dari Nigeria yang besar di Perancis memang membawa gagasan mengenai pembebasan dan pergerakan. Bisa dibilang dia adalah keturunan afrika yang revolusioner selain Walter Rodney dan Nelson Mandela. Ia juga yang mempengaruhi pemikiran Frantz Fanon sekaligus sobat karibnya, namun karena pendekatan nya yang bergaya intelektual, terkadang dia kurang digemari dan kalah populer dikalangan pemuda kiri jaman sekarang. Tetap, pemikirannya relevan dan komprehensif saat membicarakan mengenai Kolonialisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dibuka dengan sedikit puisi mengenai peradaban yang seringkali justru menimbulkan masalah, buku ini bisa dibilang berbeda dibanding buku kiri pada umumnya. Baginya, peradaban yang tidak mampu menyelesaikan masalahnya akan menciptakan peradaban yang dekaden, peradaban semacam ini dihadapi oleh Benua Eropa atau “Peradaban Barat” yang dibentuk selama dua abad oleh kaum borjuis terbukti tidak mampu dalam menyelesaikan dua masalah besar: masalah mengenai proletariat dan masalah mengenai kolonialisme. Permasalahan ini membesar karena jutaan budak di negeri jajahan Eropa meminta keadilan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Peradaban hanyalah sebuah proyeksi akan kebohongan yang dibawa oleh kolonialisasi, para penjajah ini tidak ingin membangun peradaban, menata sebuah negara, menyebarkan perkataan Tuhan, mereka adalah bajak laut, pencari emas, saudagar kaya yang untuk alasan dalam negeri ingin memperluas kompetisis skala dunia atas ekonomi yang antagonistik (ekonomi jahat).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam analisanya, cesare menemukan bahwa sebuah kebohongan jika cortez datang ke meksiko untuk menegakkan keadilan, ia datang untuk membunuh dan merampok. Mereka memberikan standar mereka sendiri dalam beragama, bahwa kristen adalah peradaban sedangkan paganisme Orang Aztec adalah sebuah kebiadaban. Stigma yang dibangun memastikan kekuatan para kolonialis semacam Cortez dengan konsekuensi ras, yang tertindas selalu pribumi, orang negro, orang berkulit kuning dan orang indian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Menurut dia, adalah hal yang baik saat peradaban saling bertemu satu sama lain, bertukar pikiran dan sudut pandang, ialah hal yang baik saat kita bisa bertemu dalam perbedaan, namun apakah kolonialisasi adalah jalur kontak antar peradaban? Tidak. Antara kolonialisasi dan peradaban terdapat jarak yang cukup jauh, ekspedisi maupun patung apapun yang didirikan dari kolonialisme tidak membawa sebuah nilai kemanusiaan didalamnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita harus memahami bahwa kolonialisasi bekerja untuk membiadabkan para penjajah, menggambarkan para penjajah sebagai orang paling brutal, rasis dan suka akan kekerasan. Banyak pribumi dari negara jajahan yang disiksa dan dibunuh untuk dibungkam oleh para penjajah, semua demi keberlangsungan kekuasaan para penjajah dimana hal ini banyak dilakukan oleh orang Eropa yang membuat Benua Eropa sejatinya terlihat sangat biadab dalam memperlakukan bangsa lain.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kolonialisme ini sebenarnya adalah proto-nasionalisme yang akan melahirkan ideologi radikal semacam fasisme, sifat-sifat chauvinisme lahir dari patriotisme yang berlebihan dan nantinya akan menganggap bangsa lain sebagai bangsa yang inferior, salah satu kasus terbesar adalah Nazi. Nazi tidak menginginkan kesetaraan bagi bangsanya pasca perang dunia kedua, mereka menginginkan bangsa lain tunduk kepada dirinya dan menindas mereka agar menjadi budak-budak nazisme. Ini adalah ungkapan dari seorang intelektual yang menurut Cesaire, dia bernama Renan (Ernest Renan). Bagi Renan, negara dari bangsa asing harus tunduk dan menjadi negara budak untuk menyuplai buruh tani dan buruh pabrik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kembali kepada kolonialisme yang melahirkan fasisme, bagi bangsa yang melakukan kolonialisasi, maka sebenarnya peradaban itu sudah sakit sejak awal, peradaban yang secara moral itu sudah rusak. Kolonialisasi adalah usaha untuk membuat kebiadaban terlihat beradab. Kolonialisme selalu menindas, itu sudah menjadi sifat mereka yang menurun kepada fasisme, chauvinisme dan ultra-nasionalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini ditulis dengan bahasa inggris yang bisa dibilang renyah dan mudah dipahami, penulis mengajak dialog para pembacanya dengan cara mempertanyakan  banyak hal mengenai kolonialisme (meskipun pada akhirnya dia jawab sendiri). Inilah karya poskolonialisme paling komprehensif yang diterbitkan oleh Monthly Review Press.&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>05 Sep 2017</pubDate>
        <link>/secuplik-penjelasan-mengenai-kolonialisme</link>
        <guid isPermaLink="true">/secuplik-penjelasan-mengenai-kolonialisme</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Samir Amin and Contemporary Capitalism in China</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Topics&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;: Capitalism, Political Economy, Marxism, Economic&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Theory ~ Places:&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt; China&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Samir Amin, &lt;em&gt;The Implosion of Contemporary Capitalism&lt;/em&gt;, (New York: Monthly Review Press, 2013), 160 pages, $15.30&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Samir Amin has always been an outstanding thinker, he was an observer of The South, a man of great ideas. A Marxist by thought since six years old, his works and thoughts are influenced by Marx and his colleagues. He is the director of Third World Forum in Dakar, Senegal (a testimony of his Marxist thoughts). He was the author of numerous book and some of his books have influenced me to review it and have been the source for my essays and papers. This is one of my favourite book, which I review it in English, entitled “The Implosion of Contemporary Capitalism”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;So what is Contemporary Capitalism? Amin wrote in the preface of this book that contemporary capitalism is a system based on false premises in which the Markets are self-regulating and by their very nature are explosive. but the forces contending one and another inside are unbalanced so that stupid idea could succeed (the stupid idea he means was contemporary capitalism). He believed that this system is not viable therefore makes up the subject of this book are the contradiction between a growth policy and the requirement of a financialization. In the next chapter, he said that Contemporary Capitalism is a capitalism of generalized monopolies in which companies are no longer autonomous, but are constitutive of an integrated system. The small, medium enterprises and large corporations are not talking about oligopolies anymore, they are nothing more than subcontractors for monopolies now. This system of generalized monopolies is a product of centralized capital of the country of The Triad: The United States, The Central and Western Europe, and of Japan in the 1980s to the 1990s. “Globalization” is the name given to set the demands by which they controlled over the productive systems of the periphery of the global capitalism.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Contemporary capitalism can be found in a post-industrial society which he criticizes because the prefix “post” usually signifies an inability to give a precise characterization of the phenomenon under some considerations. Some post-industrial societies like the central countries (ex. United States, Europe and Japan) are declining, whereas the emerging the emerging peripheral countries with similar manufacturing industries are growing at an accelerated rate. Some of this countries (the emerging peripheral countries) are also written inside this book, for example, China.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;China, now, was one of the strongest countries in terms of economy. It was doubted “the emerging power” by Samir Amin. Emergence here is not about measuring the rate of GDP growth or obtained a higher level of GDP per capita. Emergence involved a sustained growth of industrial production in a state and strengthening of the capacities of these industries to be competitive on a global scales, but China has chosen a capitalist road and has the intention to accelerate its integration into contemporary capitalist globalization. Their return to normality which capitalism being the “end of history” is being accompanied by development toward Western-style democracy (no longer using autocracy), a condition which I think that China has lost his idealistic way of their Communism, or Maoism to be precise. Others have called this as the name of the values of a “betrayed socialism”. Is China capitalist or socialist is a question badly posed because it is too general and too abstract for any response to make sense, said Samir Amin. I can conclude that he made that statement because of the massive confusion in Chinese ideological state apparatus. But he argued that China has actually following their original path since 1950, perhaps even since the Taiping Revolution in the nineteenth century.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Some writer like Minxin Pei thinks that China is following Crony Capitalism, I think that this is one of the examples of contemporary capitalism held by China. This kind of capitalism that doubted Chinese State Capitalism and it is indeed a capitalism which the workers are subjected by the authorities who organize production is similar to the one that characterizes capitalism: submissive and alienated labour and extraction of surplus labour. Even brutal forms of extreme exploitation of workers exist in China, for example, in the coal mines and in the furious pace of the workshops that employ women. Discrimination on working class still exist in China and will always be continued to exist when China is still a state capitalist.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;This first phase of state capitalism exists when China nationalize all of the companies during 1954 to 1980, followed by an opening to the private enterprise, liberalized rural and urban petty production. It has succeeded in building a sovereign and integrated modern productive system on the scale of this gigantic country that cannot be compared with the United States. It has succeeded in leaving behind the technological dependence through the development of its own capacity to produce its technological inventions. The success of the first phase required an alteration of the means for pursuing accelerated development project. The second phase of accelerating development is socialism of the market or to be precise, socialism with a market.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;China as an example is indeed an emerging power in the global capitalist system, a socialist country with economic management of capitalism, and Samir Amin doubted socialism in China as “Socialism in with Chinese characteristics” some would say Maoism. China goes through capitalist development before the question of its possible socialist future even considered. China’s emergence is completely the result of its sovereign project and is the only authentically emergent country (along with Korea and Taiwan). China has been in this form since 1950, every day, the constantly battling between the left and the right in China. The Chinese right comes from the former comprador and bureaucratic bourgeoisie(s) of the Kuomintang that excluded from power. While the left always comes from The Communist Party of China (Kung Chang Tang), the dominant power of China from a few decades ago until now is still The Communist Party.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;The challenge that brings about the emergence of China is no longer a fighting between the two factions, but rather comes from the conflict between China’s sovereign project and the imperialism of North America (with Europe and Japan—The Triad), whereas China is continuing to gain the upper hand. The area of conflict is China’s command of modern technology, access to planet’s resources, strengthening of China’s military capacities and the objective of constructing internal politics on the basis of the sovereignty of the people to choose their own political and economic system. All of these objectives are in direct conflict with the objectives pursued by the imperialist Triad. But yet, this is still capitalism versus capitalism, a state capitalism (represented by China) versus market-driven capitalism (represented by The Triad).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;There are lots another example of contemporary capitalism held in other countries even in the emerging peripheral countries in The South, but the major example is China that was written in this book. We can be agreed that capitalism or contemporary capitalism has pushed their own self-destruct buttons for sowing confusion around the world, all this is an omen and precondition for the rebirth of the radical left. This kind of critique can only be served by an &lt;em&gt;avant-garde&lt;/em&gt; thinker in the 21st century like Samir Amin. This book is an exceedingly enlightening in terms of capitalism nowadays.&lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>29 Aug 2017</pubDate>
        <link>/samir-amin-and-contemporary-capitalism-in-china</link>
        <guid isPermaLink="true">/samir-amin-and-contemporary-capitalism-in-china</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Pengantar Awal dan Singkat Untuk Ekonomi Marxian</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/An-Introduction-to-the-three-volume-of-kalr-marx-capital-cover-200x300.jpg&quot; alt=&quot;Resensi an introduction to the three volumes of karl marx's capital kedai resensi surabaya&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Judul Buku: An Introduction to the Three Volumes of Karl Marx’s Capital&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Michael Heinrich&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: &lt;a href=&quot;https://monthlyreview.org/product/an_introduction_to_the_three_volumes_of_karl_marxs_capital/&quot;&gt;Monthly Review Press&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 240 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2004&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Marxisme telah menjadi salah satu ideologi intelektual paling laris dizaman sekarang, hampir semua analisa ilmu kritis tidak ada yang tidak menganut cara berfikir Karl Marx. Bahkan induk ilmu pengetahuan, Filsafat, terseret kepada marxisme. Banyak orang maupun golongan meng-klaim dia atau mereka adalah marxis, tapi apa sebenarnya pokok pikiran marx? Dia menuliskan puluhan buku dan apakah cukup kita membaca dan menjadi sebuah marxis dalam sehari? Seminggu? Sebulan? Atau bahkan setahun? Semua itu butuh proses dan pengantar, tidak serta merta kita bisa belajar marxisme dalam sekejap, maka dari itu Michael Heinrich dalam buku ini telah menuliskan sebuah pengantar untuk mereka yang ingin belajar Marxisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diawal-awal buku Kapital, Marx seringkali berbicara mengenai komoditas dan uang (barang yang dibutuhkan manusia dan alat tukar-menukar). Bab-bab awal Kapital yang membahas dua hal tersebut sangatlah abstrak dan selalu dianggap menggambarkan masyarakat pra-kapitalis dengan aktivitas produksi komoditas mereka yang masih sederhana. Sebuah model produksi dimana masih didominasi oleh hubungan komoditas dan uang, dan masih belum memasuki pada era kapital. Istilah ini (masyarakat pra-kapitalis) menyaratkan bahwa komoditas ditukar sesuai dengan nilainya (hasil dari tenaga kerja) dan produsen mengetahui akan kuantitas pengeluaran tenaga kerjanya sendiri dan memberi mereka upah diluar keuntungannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam sudut pandang sejarah: Tukar-menukar (barter) telah ada sejak ribuan tahun yang lalu, tapi alat tukar berupa uang koin baru digunakan pada abad 500 sebelum Masehi. Tapi hubungan tukar-menukar antara komoditas dan uang dalam masyarakat pra-kapitalis telah tertanam dalam urusan produksi tetapi tidak pernah menjadi fokus utama dari ekonomi. Hal ini hanyalah sebuah kasus akan menyebarnyak model produksi kapitalis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam sudut pandang teori: Marx memang bermaksud untuk menunjukkan ketetapan dalam pertukaran (jual-beli, perdagangan, yang difokuskan bukan pemilik usaha disini, tapi para pegawainya) meskipun nilai tidak hanya berhenti pada penilaian terhadap waktu kerja yang dikeluarkan, mereka yang berada dalam pertukaran tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan, hubungan sosial mereka dalam dunia kerja yang membuat mereka tidak mengetahui waktu yang telah mereka buang sebegitu lama di kantor mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Marx juga menjelaskan mengenai “sirkulasi” atau perputaran, sirkulasi komoditas dan uang dipahami sebagai bentuk dari interaksi sosial yang paling dominan dalam ekonomi. Sirkulasi ini muncul pertama kali pada masyarakat borjuis, ekonomi mereka dengan segala maksud dan tujuannya hanya berisi kegiatan jual-beli.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam sekilas, ekonomi hanya berisi tiga lapisan: lapisan produksi dimana barang diproduksi dan jasa diberikan (produksi komoditas) yang kualitas barang dan jasanya sesuai dengan kapasitas produsen, lapisan sirkulasi yakni lapisan tempat bertukarnya barang dan jasa yang tidak secara langsung ditukar dengan uang, lapisan konsumsi ialah lapisan dimana konsumsi barang dan jasa tersebut dilaksanakan demi keberlangsungan hidup individu atau kolektif (makanan, baju, kebutuhan domestik, dll) atau sebagai alat produksi (bahan mentah yang dibeli) untuk memproduks barang lain dalam sebuah proses produksi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam proses pelaksanaan tiga lapisan ini, muncul dua persepsi bahwa lapisan konsumsi hanya berhubungan dengan kebutuhan konsumen dan lapisan produksi hanya masalah mengenai “kemungkinan teknologi” atau teknologi dan kemampuan yang dimiliki produsen, sedangkan aktivitas asli dari ekonomi adalah lapisan sirkulasi. Lapisan sirkulasi hanya berfokus kepada penjualan dan pembelian, dengan transaksi, sehingga satu individu bisa bertemu dengan individu lainnya sebagai partner dalam berusaha/berdagang, sebagai penjual dan pembeli, Pasar sebagai entitas netral membantu akan keberadaan sirkulasi barang dan jasa, sebuah lembaga yang efisien non-birokratik yang menyediakan informasi mengenai apa yang dibutuhkan, dimana dan berapa banyak. Sirkulasi tanpa market ialah tidak mungkin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini membahas ekonomi marxian dengan sangat detail namun bahasa yang digunakan tidak terlalu bersahabat, padahal buku ini diperuntukkan sebagai pembuka atau pengantar bagi mereka yang akan belajar mengenai ekonomi marxian. Akan tetapi buku ini memiliki kelebihan yakni hanya berisi intisari dari pemikiran ekonomi Karl Marx dalam Das Kapital. Dibanding buku David Harvey yang berjudul “A Companian to Marx’s Capital”, buku ini adalah level lanjut dengan pembahasan yang lebih rumit tapi langsung kepada topik utama Kapital. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;*Foto: &lt;a href=&quot;https://www.flickr.com/photos/waltjabsco/22198217876/in/photolist-zPzENq-3kGvn1-br6Hx6-3kGtgJ-nPxrwm-pq6jXa-ommYeo-76jHyq-goVeJP-goV2oE-cxqxZA-fqDLZo-e6682K-e6bQX7-hcPB8-dso26z-e66bSn-7j5eCB-76fPGV-76jETN-buUFqP-3S4SPf-etGSj-icq8f-e66a3F-9hHDyW-GJqjSi-KoGVGK-6ZnuHT-7tMUt1-eGP6Gp-3RZgzt-2a3E6j-f9pqkR-4UBHGw-euQeDA-7ZnWyC-4Uxumv-devhtt-abtB68-goVpbV-ebY9R2-ec4Phj-aeFgqZ-GJqm5P-aNcoDi-dR9vsf-afGwf2-9J6smK-p15Xoi&quot;&gt;Walt Jabsco/Flickr&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>26 Aug 2017</pubDate>
        <link>/pengantar-awal-dan-singkat-untuk-ekonomi-marxian</link>
        <guid isPermaLink="true">/pengantar-awal-dan-singkat-untuk-ekonomi-marxian</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Era Imperialisme, Era Perang, Era Perlawanan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Naked Imperialism&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: John Bellamy Foster&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 192 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2006&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;John Bellamy Foster adalah seorang Marxis dari Universitas Oregon yang juga salah satu dari penyunting Monthly Review. Dia kerapkali menulis mengenai kritik terhadap kapitalisme dan imperialisme seperti budaya intelektual marxis. Namun yang membedakan esai yang ia tulis adalah kritik tersebut ditujukan kepada agenda pelaksanaan kapitalisme dan imperialisme dari suatu negara terhadap negara lainnya. Marxisme dia gunakan sebagai pisau analisa, beserta ekologi. Dia memang berfokus kepada lingkungan dan terkadang berbicara mengenai kebijakan politik suatu negara yang mencederai alam. Esainya begitu banyak dalam &lt;a href=&quot;monthlyreview.org&quot;&gt;monthlyreview.org&lt;/a&gt; sehingga penerbit tersebut membukukannya, salah satu kumpulan esai ini adalah buku ini. Akan cukup lama jika membaca semua babnya, maka saya akan meresensi salah satu bab dengan ideologi yang paling menarik sekaligus mengganggu: Imperialisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Imperialisme ditujukan untuk mengabdi kepada kelas penguasa lebih daripada kepada sebuah bangsa. Hal itu tidak ada hubungannya dengan demokrasi. Mungkin karena alasan itu, imperialisme selalu dikarakteristikkan dengan fenomenanya yang parasitis. Imperialisme sejatinya adalah produk dari sebuah kelompok individual yang sangat kuat yang telah membajak kebijakan luar negeri dari suatu negara untuk kepentingan mereka sendiri. Imperialisme di abad kesembilanbelas dan abad keduapuluh dibedakan oleh dua fitur utama: pertama, runtuhnya hegemoni Inggris Raya dan yang kedua adalah munculnya monopoli kapital atau kapitalisme yang didominasi oleh firma-firma besar yang berujung pada produksi yang terpusat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kapitalisme adalah sebuah sistem yang didorong oleh keinginan untuk menghitung dan berhitung, yang tidak menerima batasan akan perkembangannya. Kapitalisme telah memperluas ekonomi dunia dengan apa yang kita sebut sebagai globalisasi, dan disisi lain dipecah belah secara politik untuk negara-negara yang saling bersaing satu sama lain. Sistem ini dipecah menjadi Pusat dan Periferi. Kapital di tiap negara-bangsa yang berada dipusat dari sistem dunia ini didorong akan kebutuhan untuk menguasai akses terhadap bahan mentah dan tenaga kerja di daerah periferi (negara pinggiran, contoh: Indonesia).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Imperialisme berusaha untuk berubah dan melampaui batasan-batasan dari kapitalisme. Namun berakhir setelah perang dunia kedua dimana banyak pergerakan untuk dekolonialisasi di negara-negara jajahan, yang pada akhirnya Amerika Serikat menggantikan Inggris sebagai negara hegemonik (negara adikuasa). Dan disisi lain muncul Uni Soviet sebagai kekuatan tandingan dimana membawa semangat revolusi yang berapi-api di negara dunia ketiga. Amerika menggunakan hegemoninya dengan mencetuskan perjanjian Bretton Woods, dimana World Bank, IMF dan GATT (untuk memahami lebih lanjut tentang tiga organisasi ini, silakan membuka resensi saya dengan judul &lt;a href=&quot;https://kedairesensisurabaya.com/kekaisaran-finansial-dunia/&quot;&gt;“Kekaisaran Finansial Dunia”&lt;/a&gt;) didirikan dengan tujuan memperkuat kontrol ekonomi yang diterapkan oleh negara-negara pusat, Amerika Serikat secara khusus kepada negara periferi dan kepada seluruh dunia. Cara inilah yang kita sebut dengan imperialisme model baru (Neo-Imperialisme).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam pemetaan imperialisme masa kini, analisa Magdoff menyuguhkan bukti akan keuntungan langsung dari imperialisme terhadap kapital didalam pusat dari sistem dunia. Menyerap keuntungan dari negara periferi adalah salah satu faktor utama dalam melanggengkan keterbelakangan di negara dunia ketiga (terkadang juga disebut negara periferi atau negara satelit). Ada dua aspek dari penilaian Magdoff terhadap masalah ini: peringatan terhadap jebakan hutang di negara dunia ketiga (dalam bentuk pinjaman atau &lt;em&gt;loans&lt;/em&gt;) dan perlakuan khusus terhadap peran global dari bank dan modal uang secara umum. Belum lagi imperialisme yang dibawa oleh Amerika Serikat menjadi sebab peperangan di Vietnam dan Perang Teluk.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Harapan terbesar untuk melawan keberadaan imperialisme yang digelontorkan oleh Amerika Serikat adalah arus besar revolusi dari bawah (atau golongan bawah: masyarakat). Munculnya gerakan antiglobalisasi yang mencuat pada tahun 1999 di Seattle yang berlanjut pada tahun 2003 dengan gelombang terbesar demonstrasi anti-peperangan dalam sejarah manusia. Tidak pernah sebelumnya penduduk dunia bangkit begitu cepat dalam menghadang laju imperialisme beserta peperangan yang dibawanya. Zaman baru bagi imperialisme jugalah zaman baru untuk revolusi, memang perlu masyarakat dunia menghadang keberadaan dari Imperialisme. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>20 Aug 2017</pubDate>
        <link>/era-imperialisme-era-perang-era-perlawanan</link>
        <guid isPermaLink="true">/era-imperialisme-era-perang-era-perlawanan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sosialisme Tidak Jatuh dari Langit (Proyek Sosialisme 1)</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Build It Now&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Michael A. Lebowitz&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 127 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2006&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sosialisme, bapak dari pemikiran-pemikiran kiri yang menjalar diseluruh dunia. Ia adalah Ibrahimnya Marxisme dan Anarkisme, bahkan Komunisme, jika tidak ada dia, tidak ada juga mereka. Bicara tentang sosialisme adalah bicara tentang kehidupan sehari-hari. Keinginan akan kesejahteraan yang merata, begitupula kebaikan bersama. Namun terkadang &lt;em&gt;das sollen&lt;/em&gt; nya tidak sesuai dengan &lt;em&gt;das sein&lt;/em&gt; nya, karena negara Sosialis seperti Uni Soviet ternyata menjadi diktator yang pada akhirnya, rakyat russia hanya menukar Tsar Nicholas II dengan Joseph Stalin. Pemikiran yang dicetuskan tidak sesuai dengan pelaksanaan dilapangan, namun apakah benar sosialisme adalah pedoman kita yang tidak jatuh dari langit, melainkan lahir dari buah pikiran manusia? Mike Lebowitz disini hadir menulis buku ini untuk menjelaskan hal tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Banyak orang beranggapan dapat mengubah dunia tanpa mengambil kekuasaan, mereka berkilah bahwa jangan membuat “kita” menjadi sebuah pemerintahan. Seperti yang dikatakan John Holloway yang dikutip dalam buku ini bahwa “untuk berjuang bersama atau didalam pemerintahan atau negara adalah sebuah proses dalam mengalahkan diri sendiri” dan mereka berkata bahwa negara tidak dapat mengalahkan kapitalisme. Negara akan melakukan apapun untuk menyediakan keuntungan bagi Kapital.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Gagasan seperti ini tidaklah baru, mereka bangkit kembali di beberapa wilayah untuk mencerminkan kekecewaan terhadap kegagalan masyarakat yang didominasi oleh negara seperti di Uni Soviet dan kroni-kroninya yang hidup dengan harapan untuk mewujudkan tatanan dunia baru, hal ini lah yang disebut dengan kegagalan Sosial-Demokrasi dimana negara pasti pada akhirnya tunduk kepada kekuatan kapitalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak ada sistem ekonomi yang turun dari langit, kekuatan (ideologi) yang baru muncul dari dalam masyarakat itu sendiri dan seringkali malah melawan pandangan masyarakat tersebut. Masyarakat progresif tidak dapat dibangun secara cepat, melainkan harus dibangun atas basis masyarakat lama (konservatif). Masyarakat sosialis akan muncul dari masyarakat kapitalis sebagai kekuatan tandingan. Marx menegaskan bahwa masyarakat sosialis secara ekonomi, moral, dan intelektual masih dicap sebagai bagian dari masyarakat yang lama (konservatif/kapitalis).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pusat dari konsepsi dialektika Marx ialah masyarakat progresif ini muncul dalam keadaan yang cacat dan mengubah letak sejarahnya dengan mengatasi kekurangannya (revolusi). Hanya saat masyarakat progresif ini berdiri diatas pondasinya sendiri, membangun gedung-gedungnya sendiri, baru kita akan mengetahui potensi yang dimiliki oleh mereka. Marx memahami hal ini sebagai proses dimana kita akan berusaha untuk membebaskan diri kita sendiri dari tekanan masyarakat konservatif atau kapitalis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apakah kecacatan atau kekurangan yang dimaksudkan Marx dalam masyarakat sosialis/progresif saat mereka kali pertama mencuat? Kekurangan tersebut dijelaskan Marx sebagai sifat alamiah manusia yang ada di masyarakat tradisional (konservatif/kapitalis) dengan ide-ide lamanya. Manusia yang selalu memikirkan dirinya sendiri dan selalu memperhitungkan kontribusi yang dia berikan kepada masyarakat dengan tujuan kontribusinya dapat berimbas positif baginya dikemudian hari. Masyarakat yang berisi individu semacam ini dikarakteristikkan dengan banyaknya transaksi yang terjadi, hal ini ada, karena tiap individu selalu menghitung kontribusinya dan merasa dicurangi jika tidak mendapatkan sesuatu yang senilai dengan kontribusinya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sifat manusia yang memikirkan diri sendiri ini akan menjadi kecacatan saat masyarakat sosialis muncul ditengah-tengah masyarakat kapitalis. Namun masyarakat sosialis ini secara ekonomi, moral dan intelektual terjangkit oleh penyakit-penyakit dari masyarakat kapitalis seperti sifat patriarki, rasisme, ketidaksetaraan dalam pendidikan, kesehatan dan standar kehidupan. Kecacatan ini harus dihadapi dengan menganggap hal-hal tersebut sebagai sebuah kecacatan, bukan sesuatu yang harus diabadikan dalam sebuah masyarakat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kalian akan memahami bahwa Sosialisme itu adalah sebuah proses. Karakteristik dalam usaha membangun sosialisme di abad keduapuluhsatu adalah adanya insentif untuk membujuk orang agar lebih giat bekerja. Pembagian uang ini dilakukan agar terjadi &lt;em&gt;trickle down effect&lt;/em&gt; dalam masyarakat yang baru ini. Namun fakta yang muncul berbeda, saat kalian membangun sebuah masyarakat sosialis dengan menggunakan cara-cara kapitalis seperti itu, makin memperkuat tendensi mereka dalam memikirkan diri mereka sendiri dan menjadi semakin egois, dan pada akhirnya akan membuat celah yang lebih besar diantara para individu dan membuat ketidaksetaraan seperti hal yang biasa saja yang ujungnya kalian hanya mengembalikan mereka pada jalur kapitalis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Proses pembangunan sosialisme ini adalah proses penghancuran masyarakat lama yang konservatif dan kapitalis dan membangun masyarakat baru yang sosialis, dimana memang pendistribusian barang sesuai dengan kebutuhan tiap keluarga yang ada dalam masyarakat. Sebuah proses menghancurkan elemen kapital dan membangun manusia yang sosialis. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Aug 2017</pubDate>
        <link>/sosialisme-tidak-jatuh-dari-langit-proyek-sosialisme-1</link>
        <guid isPermaLink="true">/sosialisme-tidak-jatuh-dari-langit-proyek-sosialisme-1</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sosialisme Abad 21 ala Chavez (Proyek Sosialisme 2)</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: A World To Build&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Martha Harnecker&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 224 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: Januari 2015&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sosialisme lagi yang akan saya bahas, karena ideologi ini tidak bisa dibahas hanya sekali selesai dan para pembaca yang budiman akan paham. Sosialisme sangatlah luas dan mendasar dalam kehidupan sehari-hari. Banyak yang bilang ia muncul diantara kehidupan yang kita jalani tetapi tanpa disadari oleh kita. Terkadang pula ia bisa menjadi senjata yang tajam untuk mengguncang pondasi masyarakat yang masih tradisional, bahkan bisa menumbangkan sebuah rezim, tapi hal-hal tersebut adalah contoh yang sangat besar. Sosialisme pun subur di negara-negara yang bisa dibilang “belum maju” atau terbelakang semacam Amerika Latin, banyak partai maupun pemikir sosialis lahir dari Amerika Latin, dan Martha Harnecker adalah salah satunya. Buku ini adalah testimoni ke-sosialis-annya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat kita berbicara mengenai Sosialisme, kenapa kita selalu mendapat konotasi yang buruk (konotasi memang biasanya bertendensi kepada hal-hal yang buruk)? Diikuti dengan runtuhnya Uni Sovyet beserta pengikutnya, Eropa Timur, para pemikir dari golongan kiri jatuh pada kebingungan. Kita bahkan mengetahui lebih banyak tentang keinginan kita agar sosialisme tidak terwujud, ketimbang ideologi tersebut terwujud. Kita menolak untuk kehilangan demokrasi, kapitalisme negara, totalitarianisme dan perencanaan birokratik yang terpusat. Kita menolak kolektivisme yang mencari cara untuk menstandarisasi segala hal tanpa mengindahkan perbedaan dan produktivisme yang mendukung pengembangan sumber-sumber produksi tanpa menghiraukan alam. Kita juga menolak dogma, intoleransi terhadap oposisi, usaha-usaha menegakkan ateisme dengan menghancurkan orang beragama, dan juga kepercayaan partai tunggal dalam menjalankan roda pemerintahan yang masih dalam proses transisi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masyarakat seperti apa yang diinginkan dimasa depan? Kita memiliki gambaran kasar akan segala hal yang kita inginkan karena: penerapan akan adanya pemerintahan lokal yang dimana masyarakatnya ikut berpartisipasi aktif, pemerintahan yang demokratis ini membuka keran kepada pemberdayaan masyarakat yang ditunjang dengan transparansinya; penemuan kembali dari praktek komunitarian lokal; pemerintahan yang mendukung masyarakat anti-kapitalisme. Kebangkitan dari Amerika Latin juga ditandai dengan gagalnya penerapan neoliberalisme (pemerintahan yang terbuka pada pasar bebas) dan meningkatnya perlawanan melalui gerakan sosial yang ada dan yang pasti karena adanya krisis global dari kapitalisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Presiden Chavez sebagai seorang presiden yang bisa dibilang berhasil dalam penerapan sosialisme di negaranya, namun sosialisme ini adalah Sosialisme Abad Keduapuluhsatu. Penambahan abad ini menandakan bahwa sosialisme yang digadang-gadang oleh Chavez berbeda dengan yang diangkat sebelumnya, sosialisme ini berusaha memperbaiki dan menghilangkan kekurangan yang ada pada sosialisme abad sebelumnya. Dan pastinya sosialisme yang dibawa Chavez berbeda dengan Uni Soviet dan Eropa Timur.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Chavez pertama kali memperlihatkan akan pentingnya sosialisme ialah saat &lt;em&gt;World Meeting of Intellectuals and Artist in Defense of Humanity&lt;/em&gt; di Caraca pada tanggal 5 Desember 2004, dimana ia berkata “sangatlah penting untuk mereka ulang sejarah sosialisme untuk menyelamatkan konsep sosialisme”. Dia akan melakukan perubahan sosial tanpa menyentuh kapitalisme melalui “Jalan Ketiga” (biasanya disebut dengan jalan damai atau jalan tengah), tapi dia pada akhirnya mengerti bahwa hal tersebut tidaklah mungkin terjadi. Oligarki Venezuela tidak ingin perubahan sosial terjadi, maka mereka mensabotase Chavez dengan cara merusak ekonomi Venezuela melalui perdagangan minyaknya. Dua faktor yang dipahami Chavez ialah bahwa perubahan sosial yang akan dia lakukan bersama rakyatnya tidak akan terjadi dengan keberadaan aparat negaranya yang borjuis dan kesadaran dari sudut pandang kapitalisme bahwa tidak mungkin menyelesaikan permasalahan kemiskinan dan ketidaksetaraan (Chavez menginginkan perubahan, sedangkan aparat negaranya tidak, inilah yang menjadi gejolak internal Venezuela).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tiga fitur utama dari sosialisme yang dibangun oleh Chavez: perubahan ekonomi, demokrasi yang partisipatif dan protagonistik, dan etika sosialis yang didasarkan atas kasih sayang, solidaritas dan kesetaraan antara lelaki dan perempuan. Sosialisme yang diangkat oleh Chavez memang dekat dengan budaya masyarakat dan juga agama (Katolik Roma), dimana hal itu disetujui juga oleh wakilnya, Alvaro Garcia Linera. Praktek kebudayaan yang ada harus dilestarikan dan diperkuat dengan tambahan sosialisme. Praktek sosialisme inilah yang menghilangkan corak-corak kebarat-baratan dari sosialisme asli dan membuat sosialisme di Venezuela tumbuh subur tanpa menjadi diktator, bahkan menjadi favorit dari masyarakat setempat. Justru sosialisme diabad keduapuluhsatu harus berkompromi bahkan bekerjasama dengan budaya setempat agar terwujud masyarakat yang toleran dan penuh kasih sayang. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Aug 2017</pubDate>
        <link>/sosialisme-abad-21-ala-chavez-proyek-sosialisme-2</link>
        <guid isPermaLink="true">/sosialisme-abad-21-ala-chavez-proyek-sosialisme-2</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Anarkisme, Sebuah Pengantar Singkat</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Anarchism&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Daniel Guerin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xx+166 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1970&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Anarki, Anarko, Anarkis, Anarkisme selalu menjadi kata yang ditakuti oleh masyarakat luas, nampaknya kata-kata tersebut tidak pernah disambut hangat oleh khalayak umum. Kata-kata itu cenderung pada kekacauan dan kerusakan, bahkan terkadang anarki diartikan sebagai kekacauan itu sendiri. Pemaknaan yang bias terhadap anarkisme membuatnya seringkali disalahtafsirkan oleh masyarakat umum, tak luput juga para akademisi yang menyandang gelar berlipat-lipat. Adapun pengartian secara bahasa, anarkisme diartikan sebagai kekacauan, ini adalah pendistorsian makna besar-besaran yang pernah dilakukan oleh Bahasa Indonesia dan membuat masyarakat Indonesia Anarkophobia, ditambah dengan minat baca yang kurang di Indonesia membuat negara ini menjadi negara Anarkophobia terbesar di Asia Tenggara. Untuk usaha penyadaran untuk memahami makna dari Anarkisme, maka saya meresensi salah satu buku dari penulis beraliran Anarko, yakni Daniel Guerin. Selamat menikmati.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Guerin menyebutkan bahwa kata &lt;em&gt;Anarchy&lt;/em&gt; sudah setua dunia ini sendiri, diambil dari Bahasa Yunani, yakni &lt;em&gt;An&lt;/em&gt; yang bermaknya tanpa, dan &lt;em&gt;Archy/Arkhos&lt;/em&gt; yang berarti kekuasaan/penguasa, maka secara etimologis, Anarki dapat diartikan sebagaimana kondisi tanpa penguasa atau pemerintah yang dicita-citakan. Namun selama ribuan tahun, anarkisme telah direndahkan oleh pemaknaan yang dangkal, dimana kata itu diartikan sebagai kekacauan, tidak terorganisir dan ketidakteraturan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pierre-Joseph Proudhon, salah seorang peletak dasar pemikiran anarkisme pernah berkata bahwa kekacauan yang ada didunia disebabkan pemerintah dan hanya masyarakat tanpa pemerintah yang dapat mengembalikan tatanan dunia dan melakukan harmonisasi sosial. Dia selalu secara kaku mengembalikan makna Anarkisme kepada pemaknaan secara etimologis untuk menjaga maksud asli dari munculnya kata itu. Namun secara paradoks dan keras kepala, Proudhon juga menggunakan kata anarki dalam pemaknaan yang rendah yakni ketidakteraturan, sehingga membuat kebingungan bagi para pembaca bukunya. Murid setianya pun mengikuti gaya berpikirnya, yakni Mikhail Bakunin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Proudhon dan Bakunin membawa pemaknaan ini lebih jauh lagi dimana mereka membuat kebingungan dari dua pengartian anarkisme yang sifatnya berlawanan: arti pertama menggambarkan bahwa anarkisme adalah kekuatan kolosal dari ketidakteraturan, kekacauan yang ada di masyarakat, tapi dibalik revolusi besar ini, ada arti anarkisme sebagai pondasi baru tatanan baru dan stabil yang rasional di masyarakat yang didasarkan pada kebebasan dan solidaritas. Namun pada akhir hidupnya, Proudhon mengkhianati idealismenya dengan menyebut dirinya sebagai seorang &lt;em&gt;federalist&lt;/em&gt;, para keturunannya (secara pemikiran) pun lebih contong kepada borjuis kecil dan lebih memilih kata Mutualisme dibanding Anarkisme, untuk dari garis sosialisme, mereka biasanya menyebutnya sebagai kolektifisme. Dan pada akhirnya di Perancis, seseorang bernama Sebastian Faure menggunakan kata &lt;em&gt;Le Libertaire&lt;/em&gt; yang sekarang membuat kata Libertarian dan Anarkis dapat saling menggantikan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kelemahan istilah-istilah ini adalah kegagalan untuk menyampaikan karakteristik dari doktrin yang mereka (istilah-istilah tersebut) harus jelaskan. Anarkisme hanyalah sinonim dari Sosialisme. Anarkis sebenarnya adalah sosialis yang bertujuan untuk menghilangkan ekspolitasi yang dilakukan seseorang terhadap orang lain. Anarkisme hanyalah salah satu aliran dari Sosialisme, aliran yang dimana komponen utamanya adalah kebebasan dan ingin menghilangkan pemerintah. Adolf Fischer, salah seorang martir dari insiden di Chicago berkata bahwa “setiap anarkis adalah sosialis, tapi setiap sosialis tidak selalu anarkis”. Beberapa anarkis menganggap diri mereka sebagai sosialis dengan logika terbaik, tapi karena “propaganda melalui aksi” yang mereka kumandangkan, mereka dicap sebagai teroris, terkadang pandangan buruk yang diberikan khalayak umum kepada para anarkis adalah ulah mereka sendiri yang acapkali menggunakan kekerasan dalam resolusi konfliknya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun tidak bisa kita mensamaratakan bahwa seorang anarkis selalu teroris, terkadang itu hanya metode yang berbeda-beda dari tiap individu merdeka (anarkis) dalam menjalankan resolusi konfliknya, dan pastinya dalam anarkisme pun banyak sekali aliran dan memiliki pola pikir yang berbeda, kelebihan para anarkis adalah mereka punya tradisi intelektual yang berbeda, mengutamakan kreatifitas dan tidak memiliki metode yang berbelit sehingga perkembangan gerakannya sangatlah luas. Memang secara teori, Anarkisme tidak sekuat Sosialisme atau Marxisme, tapi harus dan wajib diakui, bahwa di abad keduapuluhsatu ini, anarkisme lah yang paling maju dalam hal pergerakan, dari Battle in Seattle hingga Occupy Wall Street, mereka adalah Anarkis. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>17 Aug 2017</pubDate>
        <link>/anarkisme-sebuah-pengantar-singkat</link>
        <guid isPermaLink="true">/anarkisme-sebuah-pengantar-singkat</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Meszaros, Filsafat Marx dan Lingkungan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Structural Crisis of Capital&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: István Mészáros&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 218 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2010&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kapitalisme selalu menjadi bahan menarik untuk dibahas dan didiskusikan, banyak sudut pandang yang selalu mengupas secara mendalam mengenai ideologi ini, bahkan sejatinya, Karl Marx Sang Filsuf Abad Keduapuluh memang terobsesi mengupas secara medalam mengenai Kapital dan Kapitalisme sampai-sampai menerbitkan bukunya dalam tiga jilid (ada yang bilang empat) dibantu oleh sobat karibnya, Friedrich Engels. Pemikiran ini menurun dan mempengaruhi banyak pemikir dunia di abad keduapuluhsatu, mulai dari ekonomi, sosiolog sampai dengan filsuf-filsuf baru. Meszaros adalah salah satunya. Ia adalah kontributor dari majalah Monthly Review, baik artikel maupun bukunya diterbitkan oleh penerbit itu. Sekarang beliau adalah professor emeritus dari Universitas Sussex yang pernah menduduki Kursi Filsafat (Dekan) selama limabelas tahun.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam buku ini, Meszaros membahas kapital melalui berbagai sudut pandang, namun yang paling menarik untuk dikaji sekarang adalah hubungan kapitalisme dengan ekologi dan lingkungan sekitarnya. Bisa kita cermati bahwa di Indonesia sendiri, dalam mendirikan pabrik butuh Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) terlebih dahulu. Analisa tersebut akan melihat sejauh mana pendirian pabrik tersebut akan merusak lingkungan sekitar dan bagaimana solusi dalam menjaga lingkungan terkait. Karl Marx pernah mengkritik Feuerbach dalam bukunya Ideologi Jerman bahwa: Feuerbach selalu berlindung dibalik alam terbuka dan tidak pernah melihat sesuatu secara mendalam. Dia (Feuerbach) melihat keberadaan ikan hanya sebagai ikan, sedangkan keberadaan dari sungai yang menjadi habitat ikan tidak dipandang sebagai sebuah esensi penting terhadap ikan tersebut. Belum lagi saat wilayah sungai tersebut digusur oleh industri, maka sungai beserta ikan tersebut akan kehilangan eksistensinya (keberadaannya). Adanya pabrik disini merusak habitat ikan yang ikan tersebut hanya memiliki dua pilihan: mati atau terpaksa hidup di selokan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Keberadaan Manusia disini menekan keberadaan mahluk lain sehingga mereka terancam punah dan Marx menolak usulan bahwa pengembangan semacam itu (pabrik) mau tidak mau melekat pada keberadaan manusia, yang terpenting adalah bagaimana mengakomodasi mereka (alam) dalam kehidupan manusia atau bagaimana manusia mengakomodasi dirinya kepada mereka (alam) dalam kehidupan sehari-hari. Marx memahami bahwa penyusunan radikal dari perdangangan yang dilakukan manusia adalah sebuah kontrol yang efektif terhadap kekuatan alam yang nantinya akan hancur dengan sendirinya oleh kegiatan manusia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk mengatakan bahwa harga dari membersihkan lingkungan sekitar adalah akhir dari masyarakat atau manusia adalah sebuah alasan yang jelas-jelas sudah basi dan dalih khas yang seringkali dikeluarkan oleh para politisi yang seringkali berkhotbah tentang hal itu layaknya mereka telah menemukan batu bertuah. Yang jelas adalah produsen lah yang selalu memiliki harga tertinggi, meskipun harga dari “sesuatu” itu memang sesuai dengan uang yang dimiliki bukan berarti “sesuatu” itu harus dibeli. Dengan kemenangan dari perusahaan beserta pabriknya, kebersihan lingkungan adalah bukan “sesuatu” yang harus dibeli.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada titik akhirnya, mempercayai bahwa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai penyelesai dari masalah lingkungan ialah lebih parah ketimbang percaya pada ilmu nujum (sihir). Teknologi sekarang berkembang bukan untuk melestarikan lingkungan sekitar kita agar tidak rusak dalam jangka panjang, teknologi hanyalah dikembangkan (terutama yang untuk pabrik) untuk memaksimalkan keuntungan yang akan diperoleh, sehingga kelestarian lingkungan adalah sesuatu yang dapat dikorbankan demi keberlangsungan perusahaan beserta pabriknya. Permasalahan diatas adalah alasan munculnya lembaga yang berfokus kepada kelestarian lingkungan, tapi tetap lembaga itu akan membuat kita skeptis terhadap penyelesaian masalah lingkungan dengan pencapaian mereka yang lebih sederhana dan sedikit dibanding kemampuan mereka dalam bermain kata. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>14 Aug 2017</pubDate>
        <link>/meszaros-filsafat-marx-dan-lingkungan</link>
        <guid isPermaLink="true">/meszaros-filsafat-marx-dan-lingkungan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Amerika Latin yang Tergantung dan Terbelakang</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Dependent Accumulation and Underdevelopment&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Andre Gunder Frank&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xx+226 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2009&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mempelajari pembangunan tidak pernah lepas juga dengan kata keterbelakangan (underdevelopment) dan ketergantungan (dependency). Dua problematika ini muncul sebagai salah satu obyek keberadaan dari pembangunan itu sendiri.  Pembangunan sendiri tercetus sejak tahun 1949 dalam pidato inugurasi Presiden Harry Truman yang ditujukan pada negara-negara terbelakang, sejak inilah dunia terbagi-bagi dalam sebuah strata atau susunan yang memunculkan teori sistem dunia. Teori ini adalah sintesa dari pemikiran berbagai Marxis yang dipengaruhi oleh Mahzab Annales dan teori ini menjadi &lt;em&gt;trending topic&lt;/em&gt; bahkan hingga sekarang, karena membahas Kapitalisme dalam skala dunia. Sejauh ini, Andre Gunder Frank adalah seorang Marxis yang memang fokus dalam permasalahan ini dan mengambil salah satu kontinen dengan keberhasilan yang cukup signifikan sebagai contoh, Amerika Latin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Imperialisme sudah lama berdiri di Amerika Latin, bahkan sejak abad keenambelas mereka sudah memasuki benua tersebut. Tapi apa yang membedakan Amerika Latin di periode sekarang, daripada negara Asia dan Afrika lainnya adalah mereka menang melawan imperialisme tersebut dengan merebut kemerdekaannya sendiri, tanpa campur tangan pihak asing. Kemerdekaan itu mereka jaga sepanjang tahap ketiga dari akumulasi kapital di dunia dan pembangunan kapitalis di negara berkembang. Dan yang hebat adalah, meskipun berbeda dalam segi apapun daripada benua lain, bahwa model produksi dan pembangunan dari negara terbelakang dari Amerika Latin nyatanya sama dengan yang ada di Asia dan Afrika, meskipun Amerika Latin baru saja berkembang di abad ketujuhbelas. Adapun fokus dari buku ini adalah menyelidiki perkembangan ketergantungan ekonomi, politik dan ideologi di daerah metropolis yang dimiliki para borjuis Amerika Latin dan negara mereka yang merdeka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Para Borjuis Amerika Latin ini, setelah mengalahkan musuh mereka yang berada didalam maupun diluar negeri, secara antusias akan mencontoh model kebijakan dan doktrin dari pasar bebas yang ditempat lain bahkan dipaksakan oleh pemerintahnya. Contoh lain dari kolaborasii borjuis Amerika Latin dalam proses akumulasi kapital dunia dan pembangunan kapitalis adalah tindakan politik dari sebuah perubahan sosial dengan konsekuensi ekonomi jangka panjang yang dimulai dibanyak negara di Amerika Latin pada abad kesembilanbelas yang menandakan munculnya Reformasi Liberal.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Reformasi Liberal sendiri dimaknai oleh para reformis dan para pengikutnya sebagai perubahan besar dalam masyarakat yang dirangsang oleh pencerahan ideologi dari negara-negara inti. Pengaruh negara inti ini sangat susah untuk ditolak dan tidak hanya bersifat ideologis atau dalam bentuk budaya. Dan penerimaan Amerika Latin terhadap ideologi ini, seperti perdagangan bebas, bukan karena logika atau daya tarik dari paham liberal, bahkan sebaliknya, reformasi liberal dalah masih sebuah contoh perubahan di Amerika Latin dalam susunan ekonomi, politik, sosial dan budaya dan sebuah perubahan dari kebijakan politik sebagai respon terhadap hubungan kolonial kapitalis dengan negara-negara pusat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bukan sebuah kebetulan saat reformasi liberal ini muncul di Amerika Latin, saat negara-negara pusat butuh peningkatan produksi dan ekspor dari negara-negara di Amerika Latin seperti bahan mentah dan bahan makanan, bukan karena gagasan-gagasan liberal yang beberapa waktu sebelumnya tiba terlebih dahulu. Reformasi Liberal pun menjadi musuh dari kaum koservatif gereja karena mengambil lahan mereka. Pengambilan lahan ini diperkuat dengan pemikiran mengenai kepemilikan pribadi ketimbang kepemilikan korporat milik gereja atau kepemilikan komunal milik Orang Indian, dua segmentasi ini terusir dari wilayahnya bahkan lebih parah daripada saat penjajahan Spanyol. Dan wilayahnya diubah secara masif dan cepat menjadi lahan produksi yang dimiliki oleh perusahaan privat dari luar negeri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adanya permasalahan-permasalahan ini (yang masih hanya sebagian saja) di Amerika Latin membuat mereka selalu diterbelakangkan oleh negara-negara pusat dan menciptakan pembangunan yang tidak merata disana, apalagi kondisi tersebut akan semakin diperkuat dengan munculnya kekuatan internasional sebagai pengatur sistem perdagangan multilateral di dunia. Adapun perdagangan yang tidak seimbang membuat negara-negara Amerika Latin menjadi tergantung kepada negara pusat. Melihat dari kondisi negara-negara di Amerika Latin sekarang seperti mereka memang ditakdirkan untuk menjadi tergantung dan terbelakang. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>11 Aug 2017</pubDate>
        <link>/amerika-latin-yang-tergantung-dan-terbelakang</link>
        <guid isPermaLink="true">/amerika-latin-yang-tergantung-dan-terbelakang</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Mesir Bangkit Bangun Demokrasi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Reawakening of The Arab World&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Samir Amin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 240 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Arab Spring adalah sebuah momentum sejarah besar di Timur Tengah yang dimulai pada tahun 2011. Ternyata permasalahan itu ada sangkut pautnya pada Gerakan Non Blok dan KTT Asia-Afrika di Bandung. Sejak dekade tersebut, orang-orang arab selalu ada digarda depan perlawanan sipil, untuk bangsa dan negara di Selatan untuk masa depan yang lebih baik dan mengurangi ketidakadilan di dunia. Bahkan dalam kemerdekaan Indonesia pun salah satu  arab pula yang memberi dukungan (Mesir).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Gerakan yang berada di Jazirah Arabia adalah bagian penting dari gerakan-gerakan yang melawan kapitalisme imperialis dalam skala dunia. Namun kegagalan dalam pergerakan membuat negara-negara Arabia berada distatusnya sekarang sebagai negara periferi yang patuh terhadap negara pusat, melarang mereka untuk naik tingkat menjadi partisipan aktif dalam membentuk dunia ini. Pastinya ada perbedaan di negara-negara Arabia dalam bicara pergerakan, ada yang sangat dinamis dan adapula yang statis, dan salah satu contoh yang dinamis adalah Mesir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mesir ialah negara periferi pertama yang berusaha bangkit dihadapan kapitalisme dunia. Bahkan diawal-awal abad kesembilan belas, jauh sebelum Jepang dan Cina, Wakil Raja Mohammed Ali sudah mengeluarkan program untuk memperbaiki Mesir dan daerah sekitarnya. Eksperimen berat tersebut menghabiskan 2/3 dari abad kesembilanbelas dan berakhir pada Rezim Khedive Ismail pada kisaran tahun 70an. Tidak bisa dipungkiri bahwa kegagalan program tersebut juga dikarenakan serangan dari Inggris Raya, kekuatan kapitalisme industrial pada zaman itu. Tiga kali Mesir berusaha ditundukkan pada tahun 1840 dengan penyebuan laut, 1870 dengan mengganggu keuangan dari Rezim Khedive Ismail dan pada 1882 diduduki secara militer dengan satu tujuan: untuk menundukkan Mesir. Dikalahkan, Mesir terpaksa menjadi negara pinggiran yang diperbudak oleh Inggris hampir 40 tahun (1880-1920) yang dimana kelembagaannya diubah sedemikian rupa menjadi seperti bentuk kapitalis imperialis di masa itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bangsa Mesir, rakyatnya, tidak pernah sekalipun menerima posisi mereka sebagai budak. Penolakan yang keras ini menjadi sebuah gerakan lanjutan yang muncul setengah abad kemudian. Gerakan ini memiliki tiga tujuan utama: demokrasi, kemerdekaan Bangsa Mesir dan kemajuan sosial. Momen pertama saat pergulatan emansipasi selama setengah abad di Mesir, menekankan bahwa dengan pembentukan Wafdis pada tahun 1919, adanya modernisasi politik dengan mengadopsi demokrasi konstitusional ala borjuis dan merebut kembali kemerdekaan. Bentuk demokrasi yang dipilih memperbolehkan adanya sekularisasi terjadi dalam bentuk simbol (Bendera Mesir), adanya pemilihan umum dimana kelompok minoritas seperti Kristen Koptik bisa dipilih oleh kaum muslimin bahkan menempati posisi-posisi strategis dalam pemerintahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagai reaksi dari munculnya Kaum Wafdis dengan pembaharuan mereka, Inggris mendukung keberadaan monarki di Mesir beserta para tuan tanah dan orang-orang kaya dimana mereka akan melawan kemajuan-kemajuan sosial yang dibawa oleh Para Wafdis. Pada tahun 1930a, Mesir dibawah kedikatatoran Sedki Pasha melakukan tekanan dengan menghilangkan demokrasi konstitusional yang langsung dihadang oleh gerakan pelajar sebagai garda depan dalam menjunjung perhelatan demokrasi yang anti-imperialis. Untuk melawan gerakan ini, Inggris melalui kedutaannya di Mesir mendukung pembentukan Ikhwanul Muslimin pada tahun 1927 yang diinspirasi oleh pemikiran Salafi (bentuk pemikiran paling terbelakang dari Wahabisme) yang diformulasikan oleh Rashid Reda. Gerakan ini adalah versi paling reaksioner, anti-demokrasi dan juga anti kemajuan sosial dari Politik Islam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Memang pergulatan untuk menjadi negara demokratis di Arab sangat banyak dan Mesir telah menjadi contoh nyata akan perjalanan tersebut. Tidak sedikit pula peperangan terjadi di Timur Tengah dan Arab Spring yang menelan banyak korban hanya untuk satu tujuan: DEMOKRASI. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;em&gt;Foto: Demonstran anti-pemerintah Mesir merentangkan bendera Mesir di Tahrir Square, Kairo pada Februari 2011 (AFP via SCMP)&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>04 Aug 2017</pubDate>
        <link>/mesir-bangkit-bangun-demokrasi</link>
        <guid isPermaLink="true">/mesir-bangkit-bangun-demokrasi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Masa Depan Dunia Kerja</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Inventing The Future&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Nick Srnicek &amp;amp; Alex Williams&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Verso&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: vii+245 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun terbit: 2015&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dunia sedang bergerak, berubah dan berkembang. Banyak protes dan gerakan massa hampir diseluruh belahan dunia, rata-rata bermotif ekonomi. Kemajuan teknologi ternyata tidak membawa dampak yang menguntungkan bagi manusia, karena banyak hal yang bisa dilakukan sebuah mesin sehingga tenaga kerja sudah tidak lagi menarik untuk digunakan. Digitalisasi pun membuat hal yang sama, membuat manusia semakin malas untuk melakukan hal-hal yang bersifat teknis dan membiarkan bahkan menyarankan agar digantikan dengan mesin, mekanisasi, kata mereka. Dan buku ini yang akan membahas masa depan kita dan keberadaan poskapitalisme didalamnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;“Tujuan dari masa depan adalah pengangguran” seperti kata Arthur C. Clarke yang dikutip dalam buku ini dipembukaan bab enam. Masa kini, permintaan utama kita adalah otomatisasi penuh dalam ekonomi. Menggunakan teknologi yang terbaru dan termutakhir, ekonomi semacam itu bertujuan untuk membebaskan manusia dari “pekerjaan” yang membosankan dan secara bersamaan juga memproduksi kekayaan. Tanpa otomatisasi penuh, masa depan poskapitalis harus memilih antara kekayaan yang akan mengorbankan kebebasan atau kebebasan dengan mengorbankan kekayaan. Dengan otomatisasi, mesin bisa menghasilkan barang maupun jasa dengan membebaskan manusia dari usaha memproduksikan hal-hal tersebut. Untuk alasan ini, tendensi menuju otomatisasi harusnya dikembangkan dan dipercepat agar menjadi proyek pembahasan bagi golongan kiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kapitalisme selalu dekat dengan perkembangan teknologi yang didorong oleh keharusan dalam penambahan jumlah barang dan jasa, maka dari itu alat produksi selalu berubah-ubah. Diabad kesembilanbelas, lahan pertanian mulai dimekanisasi oleh industri raksasa dibidang pertanian. Kerajinan tangan pun mulai digantikan oleh mesin yang muncul bagaikan intervensi mahluk asing terhadap proses produksinya. Pekerja sekarang dipekerjakan hanya separuh-separuh (separuh waktu biasanya), dan alat-alat yang biasanya dikelola oleh para pekerja sekarang digantikan oleh mesin yang bekerja layaknya buruh. Pekerjaan menjadi repetitif, tidak perlu ketrampilan, dan dikuasai oleh mesin yang dilengkapi dengan permintaan akan buruh berharga murah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di awal abad keduapuluh, situasi ini mulai berubah dengan munculnya teknologi yang menghilangkan tugas manual yang rutin dan biasa-biasa, pekerja yang memiliki ketrampilan dibutuhkan untuk mengawasi mesin-mesin ini. Kebutuhan akan pekerja handal meningkat diabad keduapuluh dengan munculnya mesin tik (juru ketik) dan alat fotokopi yang terkadang membutuhkan operator yang terlatih. Akan tetapi pada periode ini, buruh pabrik mulai menurun jumlahnya karena banyak mesin yang menggantikan mereka, dan hal ini bersifat efektif dan efisien bagi pemilik perusahaan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Gelombang otomatisasi mengubah pasar tenaga kerja dengan sangat drastis, banyak pekerjaan sekarang sudah dilakukan oleh mesin dan menggantikan pekerjaan manusia: pekerjaan produksi (dilakukan oleh mesin-mesin industri dan makanan cepat saji yang terotomatisasi), Pelayanan (Artificial Intelligence sebagai layanan bantuan pelanggan), pengambilan keputusan (dengan “computational model”), alokasi anggaran (perdagangan algoritmik), dan terutama masalah distribusi barang (kapal kontainer dengan drone dan gudang yang terotomatisasi).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari setiap fungsi dari ekonomi, kita dapat melihat permintaan akan otomatisasi disegala sudut. Namun beberapa ekonom menunjukkan bahwa produksi ternyata tidak meningkat sesuai dengan ekspektasi karena adanya otomatisasi. Bahkan, faktanya banyak penurunan produktivitas dalam beberapa dekade akhir ini di seluruh belahan dunia. Apalagi dengan adanya otomatisasi, harga buruh menurun dan harga mesin meningkat, bagi beberapa perusahaan, lebih baik kembali menggunakan buruh dengan harga murah daripada membeli mesin baru yang lebih mahal, belum lagi jika membutuhkan perawatan. Apalagi dengan adanya teknologi baru yang digunakan, maka yang masih bekerja harus beradaptasi dengan teknologi tersebut, tidak jarang juga hingga mengadakan pelatihan, dan pelatihan mengeluarkan uang tambahan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kesimpulan dari semuanya, meskipun terjadi permintaan akan otomatisasi dari seluruh perusahaan di dunia, tidak jarang juga masih banyak permasalahan akan perkembangan teknologi, dan permasalahan ini menghambat lajur kapital didunia kerja. Masalah seperti ini hanya bisa dibedah oleh seorang pakar Kapitalisme modern seperti Nick Srnicek dan Alex Williams yang bisa dibilang masih muda dalam umur. Mereka lah Marxis muda diabad keduapuluhsatu ini. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>03 Aug 2017</pubDate>
        <link>/masa-depan-dunia-kerja</link>
        <guid isPermaLink="true">/masa-depan-dunia-kerja</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kisah Hidup dari Seorang Marxis Mesir</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: A Life Looking Forward&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Samir Amin&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Zed Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 266 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2006&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kali ini, saya akan meresensi genre buku yang berbeda. Buku ini adalah sebuah autobiografi atau lebih tepatnya memoar yang berisi kisah penting yang pernah terjadi sepanjang hidup penulisnya: Samir Amin. Nama ini tidak terdengar asing bagi yang sering membaca karya-karya teori sistem dunia tulisan Andre Gunder Frank. Ia adalah seorang Marxis kelahiran Mesir yang membahas teori sistem dunia. Banyak karya-karya nya yang ditebitkan oleh Zed Books ataupun Monthly Review, ia adalah seorang intelektual sekaligus direktur dari Third World Forum di Dakar dan buku ini adalah rangkuman dari kisah hidupnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beliau berasal dari keluarga yang terpandang di Mesir, dan baginya, garis keturunan memanglah penting karena akan menentukan arah hidupmu kedepan. Baginya, pembelajaran dari keluarganya, baik dari sisi ayah maupun ibunya adalah suatu warisan yang sangat melekat pada dirinya. Ayahnya adalah keturunan bangsawan Kristen Koptik yang ditarik kembali pada abad kesembilanbelas. Kelompok ini saat pertama kali berdiri di Mesir telah membangun status sosial mereka secara perlahan melalui dasar Ilmu Pengetahuan. Beberapa keturunan kristen Koptik tetap menjaga diri dengan menjadi seorang Intelektual, tidak terlalu tertarik akan harta kekayaan. Kelompok ini pun yang ikut menolak adanya monarki di Mesir, dan ayah Samir Amin adalah salah satu aktivis yang melawan kediktatoran Mesir. Ayahnya adalah pengikut Wafdism dimana aliran tersebut adalah gabungan nasionalisme anti-inggris, demokratik anti-monarki dan juga sekularisme.  Di zaman itu Mesir pecah menjadi dua pihak, pendukung Nasionalisme dan pendukung Komunisme, dan keluarga Samir Amin berada disisi Komunisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk sisi keluarga ibunya berasal dari daerah Alsace, sebuah daerah di Perancis yang berbatasan dengan Jerman dan Switzerland. Menurut nenek dari ibunya, nenek moyang Amin adalah salah satu keluarga yang ikut menangkap Louis XVI di Varennes pada tahun 1791 dan aktif dalam Babeuf Movement. Untuk kakeknya adalah seorang Freemason dan juga Sosialis yang menolak untuk menjadi “domba Jerman” meskipun daerahnya berbatasan dengan jerman, bagi dia, Alsace mengikuti Revolusi Perancis dan ikut merasakan harga dari kebebasan. Saat perang dunia pertama, kakeknya ikut berperang dan ditaruh pada pos paling depan dan kerapkali mendapatkan luka pada awal bulan peperangan karena menolong kawan-kawannya, dia meninggal pada umur yang cukup muda di tahun 1940 dan mendapatkan banyak sekali medali karena tugas negara yang ia jalankan. Meskipun begitu, ia mengajari begitu banyak mengenai Sosialisme, Anti-Kolonialisme dan Anti-Fasisme kepada Amin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Amin adalah orang yang memang sudah Marxis sejak kecil, saat temannya, Andre Gunder Frank menanyakan kepada ibunda Amin: pada umur berapakah dia (Amin) menjadi seorang Komunis? Ibundanya menjawab “pada umur enam tahun”. Jawaban ini berasal dari sebuah pertanyaan Amin saat melihat ada anak kecil mengambil makanan dijalanan distrik Pelabuhan Said, ia bertanya “kenapa anak itu melakukan hal tersebut?”, dan ibunya menjawab bahwa masyarakat ditempat mereka tinggal tidak peduli dengan orang-orang sekitarnya dan membuat orang miskin melakukan hal tersebut. “Aku akan mengubah masyarakat kita” jawab Amin. Inilah pertama kali keingininan untuk menjadi komunis muncul dalam diri Samir Amin dan mendorongnya untuk selalu belajar dan berkarya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ia sempat menjadi pelajar di Paris pada tahun 1947 sampai dengan 1957 pada umur sekitar 16 sampai 26 tahunan. Disanalah dia mulai memformulasikan pemikiran dan gerakan politiknya. Pada periode ini lah dia mengembangkan pemikirannya mengenai kapitalisme dan sosialisme ditengah-tengah lahirnya Republik Keempat (The Fourth Republic). Proyek Republik Keempat ini didasarkan atas tiga kekuatan yang diobservasi oleh Amin: PCF, SFIO dan MRP di Perancis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasca belajarnya di Paris selesai, ia kembali ke Mesir, ke Kairo untuk melakukan wawancara ditempat dia akan bekerja. Pada periode ini ia menyaksikan daerah-daerah industri yang diduduki oleh Inggris, Perancis dan Belgia disita. Namun penyitaan ini ada yang dengan ganti rugi ada yang tidak, tergantung berapa besar Kapital yang ada dalam perusahaan tersebut yang pada akhirnya akan dimiliki oleh negara atau diberikan kepada Kapitalis Mesir. Hal ini dilakukan dalam rangka nasionalisasi perusahaan untuk meluncurkan pembangunan ekonomi yang diakselerasi oleh Pemerintah Mesir. Pada tahun 1957 didirikan Mwasasa Iqtisadia (Institusi Ekonomi) sebagai lembaga otonom yang mengelola ekonomi Mesir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masih banyak kisah lain yang disuguhkan oleh Samir Amin dari buku ini. Memoar yang beliau tulis memang adalah Memoar seorang aktivis, hampir seluruh kisahnya menggugah semangat dan membuat kita ingin membaca secara berkala hingga selesai. Tidak dipungkiri bahwa dia adalah seorang pemikir yang cemerlang sekaligus penulis yang handal. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>31 Jul 2017</pubDate>
        <link>/kisah-hidup-dari-seorang-marxis-mesir</link>
        <guid isPermaLink="true">/kisah-hidup-dari-seorang-marxis-mesir</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Pembangunan, Investor Asing dan Investasi Langsung</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/Protecting-Foreign-Investment-193x300.jpg&quot; alt=&quot;resensi protecting foreign investment kedai resensi surabaya&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Judul Buku: Protecting Foreign Investment&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Carlos M Correa &amp;amp; Nagesh Kumar&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Zed Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xi+177 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2003&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ekonomi memang menarik untuk dikaji, begitupula organisasi-organisasi di dunia yang memang mengatur mengenai ekonomi. Dalam arus kapitalisasi di dunia yang mulai tidak berbatas ini, ada satu hal yang dibawa secara besar-besaran oleh arus tersebut, yakni investasi. Investasi memasuki negara-negara berkembang untuk menancapkan ketergantungan, mereka lah yang menjadi benih kemiskinan di negara dunia ketiga. Namun, kita selalu menghujat investasi, apalagi yang bersifat asing dan langsung atau biasa disebut denga &lt;em&gt;Foreign Direct Investment&lt;/em&gt; (FDI) tanpa mengetahui apa itu FDI, maka dari itu resensi saya yang keempat dalam Globalisation Project ini akan membahas mengenai FDI melalui sumber yang terpercaya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;FDI muncul sebagai salah satu aspek terpenting saat berbicara mengenai ekonomi lintas perbatasan (antar-negara) di tahun 1990-an. Perluasan pemasukan FDI yang dibawa oleh perusahaan multinasional memang dianggap penting karena didasarkan pada kepercayaan bahwa pemasukan tersebut akan membantu dalam pemenuhan sumberdaya, teknologi dan jarak dalam devisa negara yang mendesak proses pembangunan dari negara-negara miskin. Pemerintahan dari negara maju maupun berkembang telah berkompetisi untuk mendapatkan FDI dengan melakukan liberalisasi perdagangan dan insentif. Akan tetapi, FDI akan selalu terpusat pada negara maju, hanya beberapa yang mengalir kepada negara berkembang. Beberapa investasi akan membawakan keuntungan dari pembangunan dan eksternalitas lainnya yang bersifat positif (seperti pekerjaan, perkembangan teknologi, dan perluasan wilayah ekspor) adapun beberapa investasi akan membuat negara terkait akan lebih buruk situasinya dibanding sebelum mendapat investasi, bahkan bisa menyebabkan inflasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Memahami batasan dari kebijakan dan hukum nasional dalam mengatur pengoperasian perusahaan multinasional, komunitas internasional juga mengeluarkan berbagai macam inisiatif untuk mengatur berbagai aktivitas maupun praktek dari perusahaan multinasional tersebut. Salah satunya adalah UN Conference on Trade and Development (UNCTAD).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dapat dipahami bahwa arus FDI berasal dari negara-negara maju yang akan berakhir pada negara-negara berkembang, dari sini lah muncul perpecahan antara Utara dan Selatan seperti dalam teori sistem dunia. Negara maju telah berjuang untuk mengamankan kondisi-kondisi yang diperlukan guna investasi mereka bisa dijalankan oleh perusahaan mereka di seluruh dunia dengan cara mencari liberalisasi investasi melalui negosiasi multilateral dan bilateral. Mereka (negara maju) telah melawan usaha negara berkembang dalam menegakkan undang-undang untuk perusahaan multi nasional yang diberikan oleh UNCTAD. Terlebih lagi, mereka telah menggunakan negosiasi multilateral untuk membuat sudut pandang yang lebih cenderung kepada ekspansi FDI ke seluruh dunia, karena FDI lebih mengarah kepada pembangunan dibanding perdagangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Negara insdustri pun telah berusaha untuk memperluas cakupan dari rezim multilateral mengenai investasi yang lebih dari perjanjian di GATT. Hal ini ditindaklanjuti dengan menginisiasi Multilateral Agreement on Investment (MAI) atau perjanjian multilateral mengenai investasi pada tahun 1995 dibawah lindungan OECD (Organizatin for Economic Co-operation and Development) akan tetapi usaha tersebut gagal. Sejak konferensi pertama WTO di Singapura, negara-negara industri telah berusaha untuk membuat perjanjian yang lebih komprehensif daripada TRIMs (Trade-Related Investment Measures) yang dicetuskan oleh WTO.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebagai hasilnya, investasi adalah bahas pembahasan secara berkala dalam konferensi yang diadakan WTO. Negara berkembang takut jika sudut pandang multilateral yang digunakan WTO akan mengurangi kemampuan mereka dalam mengatur perusahaan asing agar tetap sejalur dengan kebijakan pembangunan mereka dan sudut pandang tersebut juga tidak melayani kepentingan negara-negara berkembang tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Memang pembahasan investasi tidak akan berhenti dalam satu buku saja, masih banyak buku-buku yang membahas investasi, terutama FDI, tapi buku ini yang paling komprehensif, karena kedua penulisnya adalah konsultan dari UNCTAD, dimana mereka berdua selalu berhadapan dengan permasalahan semacam FDI ini. Bukan mereka yang diragukan tapi memang ada beberapa yang meragukan bahwa saya menulis resensi mengenai Globalisasi ini, percaya tidak percaya itu urusan para pembaca yang budiman, saya hanya menyalurkan hobi dan semoga bermanfaat. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>29 Jul 2017</pubDate>
        <link>/pembangunan-investor-asing-dan-investasi-langsung</link>
        <guid isPermaLink="true">/pembangunan-investor-asing-dan-investasi-langsung</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Raja Perdagangan Internasional</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Behind The Scenes at The WTO&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Fatoumata Jawatra &amp;amp; Aileen Kwa&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Zed Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xvii+329 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2003&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Serentetan resensi saya akhir-akhir ini memang membahas kepada Dunia Internasional, karena terasa maupun tidak terasa, apa yang terjadi diluar sana ternyata berdampak pada kehidupan kita sehari-hari. Semenjak pembahasan Globalisasi, mulai lah saya paham bahwa seluk beluk kehidupan kita memang sudah ter-internasional-kan. Banyak barang impor yang kita pakai, bahkan laptop yang saya gunakan untuk menulis resensi-resensi saya adalah barang impor. Adanya sirkulasi barang dari luar negeri tidak terlepas dari suatu organisasi yang mengatur arus keluar masuk barang (ekspor-impor) ke suatu negara dan organisasi itu kita kenal sebagai World Trade Organization (WTO). Buku ini adalah sebuah kesaksian dan testimoni akan kekuatan organisasi tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;WTO yang bermarkas di Genewa terdiri dari 146 negara anggota yang 4/5 nya adalah negara berkembang. Dicetuskan pada tahun 1995 sebagai tindak lanjut dari General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) sebagai hasil dari Uruguay Round yang membahas mengenai negosiasi perdagangan multilateral. WTO seringkali dipandang sebagai organisasi esoterik yang mengatur mengenai perdagangan dunia tapi tidak dapat dilihat oleh orang biasa (kasat mata). WTO adalah organisasi yang menetapkan sistem perdagangan multilateral (Multilateral Trading System) yang memiliki efek langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Ketetapan yang dikeluarkan organisasi ini terkadang membuat negara anggotanya mengubah Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), kebijakan pertanian dan perindustrian, layanan penyedia kebutuhan pokok, bahkan sampai mendesak untuk perubahan konstitusi di negara terkait. Dampaknya ada pada hal-hal seperti pekerjaan, pemasukan, harga barang yang harus dibayar masyarakat saat membeli barang impor yang nantinya berdampak juga pada pasar lokal yang harus berkompetisi dengan produk import.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasca Uruguay Round, pondasi dasar dari WTO dimulai pada tahun 1995 dimana mereka bisa mengatur hal-hal diluar kemampuan dari GATT seperti tekstil, pertanian, bisnis pelayanan, dan HAKI. Karena itu WTO dapat memberikan dampak langsung pada kehidupan masyarakat dunia, terutama pada negara-negara berkembang yang tidak hanya berbentuk pekerjaan dan pemasukan, tapi juga bisnis pelayanan yang akan berdampak pada penyediaan dan pengaturan pelayanan publik seperti jaminan kesehatan, pendidikan, air dan sanitasi. Seperti yang disebutkan oleh Finger dan Shuler bahwa WTO memiliki etika yang merkantilis, seperti: perjanjian-perjanjian yang mereka lakukan adalah hasil tekanan dari negara-negara maju, melembagakan akses korporasi kedalam pasar dan eksploitasi sumberdaya di negara berkembang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;WTO adalah lembaga yang unik dalam tatarannya, karena mereka bisa memaksakan perjanjian dengan &lt;em&gt;sanctions&lt;/em&gt; (sanksi), meskipun dalam prakteknya sanksi ini seringkali tidak efektif di negara-negara sedang berkembang. Perjanjian yang dilakukan oleh WTO seringkali menjadi preseden akan perjanjian dari organisasi lain. Lebih lagi, WTO menganggap pengampunannya sebagai liberalisasi progresif dari perdagangan internasional di wilayah operasi mereka. Banyak negara berkembang sudah menurunkan cukai mereka lebih dari yang diminta WTO sebelum Uruguay Round. Dibawah Structural Adjustment Programmes yang didukung oleh IMF dan Bank Dunia, Uruguay Round telah berdampak pada negara-negara berkembang dengan membatasi kemampuan mereka dalam menaikkan cukai saat keadaan memang memaksa mereka dalam melakukan hal tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal lain yang tak kalah memusingkan adalah saat suatu negara ingin bergabung dengan WTO harus melakukan banyak kebijakan dan kegiatan dimana prosesnya sangat berat dan memakan waktu seperti Cina yang membutuhkan waktu limabelas tahun untuk lolos dalam tahap verifikasi dan bergabung dengan WTO. Banyak negara sedang berkembang lainnya enggan masuk kedalam WTO karena sulitnya dalam proses verifikasi tersebut, sehingga memunculkan pertanyaan diantara mereka “apakah kita akan diterima?”. Banyak negara yang ingin bergabung pasca GATT merasakan betapa keras dan sulitnya untuk masuk kedalam organisasi ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Memang WTO adalah organisasi yang selalu membuat kekacauan ekonomi dengan pemaksaan kebijakan yang mereka lakukan, tapi memang sudah ghirah manusia dalam berorganisasi yang melahirkan WTO dan saudara-saudaranya. WTO memang adalah agen neoliberalisme terbesar didunia, protes 1999 pun tidak mampu menumbangkan kekuatan yang sudah menjadi lambang globalisasi ini. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>28 Jul 2017</pubDate>
        <link>/raja-perdagangan-internasional</link>
        <guid isPermaLink="true">/raja-perdagangan-internasional</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kekaisaran Finansial Dunia</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Unholy Trinity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Richard Peet (ed)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Zed Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: viii+250 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2003&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Globalisasi telah dibahas dalam resensi buku sebelum buku ini. Banyak hal yang telah dibawa oleh Globalisasi, termasuk kekacauan ekonomi akibat lahirnya kekuatan finansial dunia yang menjelma dalam organisasi finansial dunia seperti IMF, World Bank dan WTO sebagai contoh besarnya. Mereka adalah sumber dari ketergantungan negara-negara berkembang yang ada diseluruh belahan dunia karena mereka lah yang memiliki senjata terkuat di dunia, &lt;em&gt;loans&lt;/em&gt;. Adapun keberadaan mereka tidak mengancam negara maju seperti Amerika Serikat, karena negara maju tidak membutuhkan &lt;em&gt;loans&lt;/em&gt; atau dalam Bahasa Indonesia kita menyebutnya sebagai Pinjaman. Buku ini akan menjelaskan kelahiran organisasi-organisasi tersebut dan kenapa mereka bisa berkembang pesat dan menjadi salah satu &lt;em&gt;pressure group&lt;/em&gt; dalam penentuan kebijakan di suatu negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat dunia masih kacau karena Perang Dunia Kedua, sebanyak 44 negara berkumpul di Bretton Woods, New Hampshire pada tanggal 1 sampai dengan 20 Juli 1944 untuk mendiskusikan tentang perekonomian dunia pasca peperangan. Mengelola ekonomi dunia menjadi memungkinkan karena situasi dunia yang sedang kacau dimana negara-negara mendapati perekonomian mereka sedang jatuh. Maka dari itu negara-negara yang berkumpul ini (yang diketuai oleh AS dan Inggris) mencari jalan untuk memastikan perdamaian dunia dan kerjasama dibidang ekonomi dalam skala internasional.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tentunya kerjasama tersebut didasarkan pada Pasar Dunia dimana komoditas dan kapital tersirkulasi secara bebas yang diatur oleh institusi global yang dijalankan oleh kepentingan umum untuk stabilitas dan prediktabilitas internasional yang lebih baik. Di sinilah tempat lahirnya International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) yang menjelma menjadi World Bank dan International Monetary Fund (IMF) World Trade Organizations (WTO) yang pada saat itu masih bernama General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) yang awalnya adalah International Trade Organization (ITO). IMF dan IBRD diresmikan pada konferensi di Bretton Woods, sedangkan WTO (saat itu ITO) menjadi bagian di Havana Charter pada tahun 1947.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;IMF yang diidamkan di Bretton Woods memiliki dua tugas yakni: mengatur pertukaran uang antar negara dan membantu memastikan stabitiltas internasional dengan memberikan pinjaman pada negara-negara yang membutuhkan dana untuk pembangunan. Meskipun sampai sekarang terlihat masih sama misinya, sejatinya IMF telah mendapati banyak perubahan besar yang berujung pada meningkatnya kekuatan dan pengaruh IMF di mata dunia. Sekarang, kebijakan IMF telah secara langsung mempengaruhi perekonomian dari 184 negara yang kadangkala mempengaruhi kehidupan penduduk negara-negara tersebut secara drastis dan seperti memberi malapetaka kepada mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;IMF sekarang adalah institusi independen terkuat di dunia. Seringkali diagung-agungkan kepada publik oleh pemerintahan negara manapun karena kebijakannya, namun dibalik itu, mereka (pemerintah) seringkali komplain secara privat kepada IMF karena kebijakan tersebut dipaksakan. Ribuan pekerja dan pelajar acap kali melawan IMF, dalam banyak kasus bahkan kehilangan nyawa karena melakukan hal tersebut. IMF dilawan karena kebijakan mereka yang bersifat ekonomi ternyata membuahkan kemiskinan dan kelaparan di berbagai belahan dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sejatinya, pembahasan utama di Bretton Woods difokuskan pada IMF, sedangkan IBRD adalah proyek untuk membangun ulang negara-negara Eropa pasca perang dan isu mengenai kemiskinan tidak pernah muncul dalam konferensi tersebut. Bahkan pada saat itu masih belum ada kategorisasi negara miskin atau negara terbelakang, hanya saja negara selain Amerika Serikat dan Inggris Raya dianggap sebagai negara koloni. Namun IBRD yang sekarang menjadi Bank Dunia telah menjadi agen pembangunan yang memiliki motto &lt;em&gt;“our dream is a world without poverty”&lt;/em&gt;, sebuah dunia tanpa kemiskinan yang bisa dibilang cukup kontradiktif terhadap pembahasan awal Bretton Woods.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk alasan tersebut, Bank Dunia meminjamkan 17 milyar dollar kepada negara peminjam dengan tujuan pembangunan dengan adanya aturan-aturan dimana milyaran dollar lainnya mengalir ke negara-negara dunia ketiga dan bekas komunis. Hal diatas menggambarkan bahwa Bank Dunia memiliki dua intervensi, yakni &lt;em&gt;direct loans&lt;/em&gt; (Pinjaman Langsung) dan mengatur arah kebijakan sebuah negara yang membuat Bank Dunia menjadi institusi terpenting dalam hal Pembangunan. Dari titik awal yang hanya bertujuan membangun negara Eropa, sekarang menjadi organisasi terkuat di dunia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Didirikan pada 1 januari 1995, WTO adalah bentuk formal dari GATT yang ditandatangani 23 negara pada tahun 1947. WTO adalah organisasi yang mengatur mengenai perdagangan barang dan jasa dalam skala internasional menggunakan sistem “Tujuan dan Aturan” yang ada dalam artikel perjanjian negara-negara tersebut. Sebagai sebuah organisasi, WTO memiliki sekretariat yang berada di Genewa, Switzerland dimana banyak agensi dari UN berada disana juga.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Layaknya IMF dan Bank Dunia, IMF beranggotakan representasi negara-negara yang tergabung didalamnya yang membuat aturan perdagangan, dimana juga adala spesialis dan konsultan yang memiliki kekuatan yang cukup diperhitungkan. Di dalamnya berisi seluk beluk pembuatan aturan perdagangan dan juga mendukung liberalisasi dari perdagangan atau biasa disebut dengan kata perdagangan bebas. Hal tersebut akan membebaskan arus perdagangan barang dan jasa dari pemerintahan yang ada yang nantinya akan mempermudah Pasar Bebas di suatu negara dan meningkatkan persaingan usaha. Membebaskan dunia usaha dari &lt;em&gt;tariff&lt;/em&gt; (pajak) yang dikenakan pemerintah kepada komoditas yang dijual. WTO pun tidak terlepas dari perlawanan yang terjadi di Seattle pada tahun 1999 yang akhirnya melambangkan perdebatan mengenai masa depan yang telah diambil alih oleh arus Globalisasi. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>27 Jul 2017</pubDate>
        <link>/kekaisaran-finansial-dunia</link>
        <guid isPermaLink="true">/kekaisaran-finansial-dunia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Giddens dan Globalisasi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Runaway World&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Anthony Giddens&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Profile Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 104 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1999&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sekilas dari judulnya terlihat aneh, &lt;em&gt;Runaway World&lt;/em&gt;, dan memang apa yang disuguhkan didalam buku ini bukanlah murni sebuah esai, melainkan perkuliahan Giddens di BBC Reith Lectures tahun 1999 yang dibukukan. Buku ini berisi lima esai perkuliahan yang membahas mengenai permasalahan sosial yang kita hadapi di era modern. Dari semuanya, saya akan mengambil salah satu permasalahan yang paling dominan dalam ilmu sosial, yakni Globalisasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Globalisasi adalah suatu kata yang cukup sulit diartikan secara pasti, apalagi ilmu sosial melarang adanya pemaknaan definitif terhadap suatu kata. Kata itupun telah menyebar diseluruh belahan dunia, bahkan beberapa negara memiliki sebutan sendiri untuk Globalisasi, seperti di Jerman menyebutnya sebagai &lt;em&gt;Globalisierung&lt;/em&gt;, Perancis menyebutnya &lt;em&gt;Mondialisation&lt;/em&gt; dan di Spanyol dikenal dengan kata &lt;em&gt;Globalizacion&lt;/em&gt;. Banyaknya penggunaan bahasa dalam satu kata Globalisasi membuatnya semakin susah mengartikan kata tersebut. Para intelektual pun berusaha untuk memaknai kata tersebut dan bermunculan arti dari Globalisasi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ada dua kubu yang disebutkan oleh Giddens yang berusaha memaknai Globalisasi, yang pertama adalah Para Skeptis yang menganggap Globalisasi hanyalah sebuah topik pembicaraan, apapun yang terjadi diluar sana, ekonomi dunia masih sama saja, apa yang terjadi dulu sama dengan apa yang terjadi sekarang. Kebanyakan negara hanya mendapat sedikir keuntungan dari perdagangan luar negeri dan pedagangan itu pun terjadi antar negara, tidak benar-benar dalam skala dunia, contohnya adalah Uni Eropa, dimana negara-negara didalamnya hanya melakukan transaksi dengan negara yang tergabung didalam Uni Eropa. Orang-orang Skeptis ini biasanya berasal dari orang-orang kiri yang menganggap keberadaan Globalisasi adalah buatan para pendukung Pasar Bebas untuk melemahkan sistem kesejahteraan dan memotong pengeluaran negara.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di pihak kedua, Giddens menyebutnya dengan Kaum Radikal yang menganggap bahwa Globalisasi adalah fenomena yang sangat nyata dan benar-benar dapat dirasakan dampaknya. Pasar Dunia sudah sangat berkembang di dekade 60 dan 70an sehingga banyak negara kehilangan kedaulatannya dan Politisi kehilangan kekuasaannya dan kemampuannya dalam mempengaruhi suatu peristiwa. Maka dari itu terkadang tidak mengagetkan juga saat masyarakat sudah tidak &lt;em&gt;“Ngajeni”&lt;/em&gt; pimpinan politik lagi, karena sudah bukan era seperti itu. Banyak pula yang bahkan tidak lagi percaya akan kharisma politik yang hal tersebut adalah dampak dari Globalisasi. Zaman dari Negara-Bangsa (Nation-State) sudah selesai, bahkan menurut Kenichi Ohmae, Negara sekarang hanyalah sebuah kisah fiksi. Ohmae pun menganggap bahwa adanya krisis ekonomi di Asia pada tahun 1998 adalah pertanda bahwa Globalisasi memang nyata keberadaannya, meskipun keberadaannya bersifat negatif.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pertanyaan yang muncul adalah Siapakah yang Benar?, Giddens memiliki kecenderungan pada Kaum Radikal yang dianggap lebih realistis dalam melihat permasalahan Globalisasi ini. Ia menganggap adanya Globalisasi berdampak pada ekonomi dunia dimana tingkatan perdagangan dunia lebih tinggi dari sebelumnya, pasar bebas mulai memiliki kekuatan yang lebih besar dibandingkan negara-negara yang ada dan arus besar finansial dan kapital yang berbentuk elektronik atau digital. Dalam ekonomi dunia yang baru, dunia maya telah mengambil alih kekuasaan ekonomi, sekarang seseorang bisa mengirimkan jutaan dollar tanpa perlu perantara atau kurir yang mengantarkan kepada tujuannya dengan hanya menggunakan mouse. Trilliunan Dollar berpindah tangan tiap harinya yang jika diuangkan bisa lebih tinggi dibanding gunung-gunung yang ada, hal ini yang membuat Pasar menjadi lebih fluktuatif dan membuat Globalisasi terasa betul bagi masyarakat luas baik secara langsung maupun tidak langsung.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Globalisasi pun didorong oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Sejak adanya telegraf, sandi morse yang sudah ada dan digunakan 150 tahun sebelumnya, perlahan makin ditinggalkan. Bahkan masa kini sudah ada internet dimana kita bisa melihat seluruh dunia hanya dengan membuka &lt;em&gt;search engine&lt;/em&gt;. Tetapi perkembangan teknologi ini juga membuat kita semakin asosial, Giddens menyatakan bahwa banyak orang lebih tahu wajah Nelson Mandela dibanding tetangga sebelah rumahnya, karena sejatinya Mandela adalah seorang artis politik yang keberadaannya benar-benar di &lt;em&gt;blow-up&lt;/em&gt;. Sekarang, perkembangan teknologi semakin cepat dan pesat. Dulu diperlukan 40 tahun agar Radio dapat disebarluaskan di Amerika Serikat, lalu butuh 15 tahun agar komputer bisa beredar di AS, sekarang bahkan tiap saru tahun akan ada produk baru dari perusahaan seperti Apple. Globalisasi bukan saja mengenai “Yang Disana” atau “Yang terjadi disana” tapi juga “Apa yang ada dan terjadi disini”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun, Globalisasi ternyata memiliki musuh besar, yakni Local Nationalism atau Nasionalisme Lokal, hal ini muncul karena anggapan bahwa Globalisasi telah mengikis bahkan menghilangkan budaya dan kearifan lokal yang ada disuatu negara atau daerah. Banyak gerakan-gerakan separatis seperti di Quebec dan Skotlandia adalah penolakan terhadap adanya Globalisasi yang dianggap melemahkan peran negara. Benarkah Globalisasi adalah sebuah bencana yang akan dihadapi suatu negara? Saya menyarankan untuk membaca buku ini karena segala pertanyaan para pembaca yang budiman mengenai Globalisasi akan dijawab oleh Anthony Giddens dan pastinya ia kompeten dalam membahas hal ini, dia adalah Professor dibidang Sosiologi di London School of Economics, reputasinya tidak bisa dipertanyakan lagi, inilah buku yang menggambarkan transisi sejarah yang kita hadapi sekarang.&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>24 Jul 2017</pubDate>
        <link>/giddens-dan-globalisasi</link>
        <guid isPermaLink="true">/giddens-dan-globalisasi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Islam di Mata Fernand Braudel</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: A History of Civilizations&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Fernand Braudel&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Penguin Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xl+600 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1995&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fernand Braudel adalah sejarawan terkemuka, pendiri Mahzab Annales di Perancis dan juga peletak dasar teori sistem dunia. Ia sering membahas mengenai sejarah , tetapi bukan sejarah yang eropasentris (seperti kebiasaan pemikir sistem dunia). Beliau seringkali menuliskan sejarah yang memiliki hubungan dengan permasalahan politik dan ekonomi, dan dalam bukunya yang saya bedah, ia menjelaskan mengenai seluk beluk lahirnya peradaban, baik secara harfiah maupun metafora. Dari semua bab yang ada, saya mencoba mengambil salah satu bab yang menjadi sumber kepercayaan saya, yakni Peradaban Islam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Braudel mengatakan bahwa Islam mulai bangkit sejak abad ketujuh, sehingga tidak ada peradaban Islam sebelum abad ketujuh dimana ibadah adalah bagian dari peradaban Islam. Ia menceritakan mengenai cara beribadah umat Islam melalui salah satu hikayat terkenal yakni 1001 malam mengenai penghormatan kepada Yang Maha Kuasa dengan cara mencium tanah dengan kepala diantara dua tangan atau biasanya umat Islam menyebutnya bersujud yang diadaptasi dari praktik ibadah Raja Chosroes Kesatu dari Persia. Adapula beberapa contoh lain seperti pakaian yang kita sebut sebagai baju &lt;em&gt;gamis&lt;/em&gt; ternyata adalah sebuah model pakaian yang telah dipakai sejak zaman Babylonia, bangunan-bangunan di negara muslim pun seperti di daerah Mesir yang memiliki kubah  ternyata adalah model bangunan yang sudah ada sejak puluhan abad sebelum adanya peradaban muslim. Maka dari itu, bagi Braudel, peradaban Muslim adalah peradaban sekunder dimana mereka tidak lahir dari konsep &lt;em&gt;Tabula Rasa&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kisah tentang lahirnya peradaban Islam juga tidak terlepas dari sesosok nabi dan kitab sucinya (Muhammad dan Al-Qur’an). Arab adalah sebuah daerah yang terpecah-belah karena suku yang saling bermusuhan,usaha-usaha kolonialisasi dari Persia dan Assyria, tanpa adanya Muhammad, Arab tidak akan pernah tersatukan dan menjadi salah satu bangsa terkuat dan bertahan hingga sekarang. Muhammad, seorang penduduk dari Arab yang lahir pada kisaran tahun 570 dan hidup penuh cobaan sampai pada pengangkatannya menjadi Utusan Allah pada kisaran abad 610 atau 612 Masehi adalah figur sentral dalam semua sejarah Bangsa Muslim, sebuah sosok yang wajib diceritakan turun temurun. Ia mendapatkan wahyunya di Gua Hira’ yang letaknya tidak jauh dari Mekkah, inilah titik balik kebangkitan Bangsa Arab yang akan menguasai jazirah Timur Tengah selama berabad-abad silam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Usaha Muhammad dalam mengajarkan Islam kepada masyarakat Arab tidak berjalan dengan mudah, konglomerasi Arab melawannya, bahkan sanak-saudaranya pun banyak yang menolak ajarannya. Pada akhirnya ancaman datang dari berbagai lini, maka mulailah para pengikut Muhammad melakukan &lt;em&gt;Hijrah&lt;/em&gt; ke berbagai tempat, namun pada akhirnya memilih Yatrib sebagai domisili tetap dan merubah namanya menjadi Madinah pada tahun 16 Juli 622 Masehi. Setelah banyak rintangan dihadapi oleh Umat Islam dibawah kepemimpinan Rasulullah Muhammad, berhasil mereka kembali ke Mekkah dalam keadaan menang dan aman, dan mulai lah kepercayaan yang kita sebut sebagai Islam menyebar luas keseluruh daerah Timur Tengah tanpa terkecuali.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bisa kita pahami bahwa perjuangan yang dilakukan Nabi Muhammad adalah melawan Kapitalisme primitif yang dipraktekkan oleh para saudagar Arab. Kekayaan Mekkah lahir karena jaringan karavan yang sangat luas dan menjadi tujuan untuk berdagang dari seluruh jazirah Arabia dengan perdagangan dalam skala besar, bisa dibilang pada zaman itu, Mekkah adalah sebuah kota, bukan lagi pedesaan. Perintah Allah yang Ia sampaikan kepada umat-Nya juga memisalkan latar belakang perkotaan seperti Shalat berjamaah di Hari Jumat (Jumatan), penggunaan &lt;em&gt;hijab&lt;/em&gt; bagi perempuan, adanya adzan, semua hal ini lahir dari tekanan-tekanan dari ramainya perkotaan, maka dari itu, pusat keyakinan dan ibadah dalam Islam biasanya tersentral di perkotaan pada zaman itu. Hal tersebut juga terpicu karena tidak adanya kota besar yang bisa menampung jamaah dalam jumlah besar selain di kota dan juga wilayah sekitar yang berupa padang pasir.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pasca wafatnya Nabi Muhammad S.A.W, mulailah Islam melakukan ekspansi keseluruh daerah sekitar Arab, termasuk Persia dan Mesir. Peradaban Islam lahir dari persatuan wilayah, daerah, kota, negara dan kerajaan yang ditaklukkan oleh Umat Islam. Dalam penaklukan mereka, Bangsa Arab tidak melakukan pemaksaan dalam berpindah agama, hanya melakukan eksploitasi terhadap negara-negara yang mereka taklukkan. Silih berganti pemegang tampik kekuasaan dalam Islam, muncul lah dinasti-dinasti politik yang merajai wilayah-wilayah tertenti, seperti dinasti Ummayyah yang menguasai Damaskus dan sekitarnya. Adanya konsep Perang Suci (Jihad) dalam Islam membuat ekspansinya keluar Arab sangat cepat dan bisa bertahan hingga abad keenambelas dan mulai menurun kekuatannya sampai pada abad keduapuluhsatu ini.&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Jul 2017</pubDate>
        <link>/islam-di-mata-fernand-braudel</link>
        <guid isPermaLink="true">/islam-di-mata-fernand-braudel</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Esai Seorang Marxis Perancis</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt; Lenin and Philosophy and other essays&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; Louis Althusser&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt; Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt; 253 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt; 1971&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Louis Althusser, seorang tokoh Marxian berkebangsaan Perancis. Ia adalah anggota Partai Komunis Perancis dan guru dari Etienne Balibar yang bersamanya menulis buku pengantar Marxisme, Reading Capital. Buku tersebut menjadi fenomenal dizamannya karena meringkas dengan komprehensif dan mudah dimengerti bahasanya. Namun kali ini peresensi akan membahas bukunya Althusser yang lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini berisi delapan esai Louis Althusser mengenai Marxisme dan bukan mengarah kepada ekonomi, tapi lebih kepada filsafat dan politiknya. Saya mengambil salah satu bagian yang menarik dari Marxisme adalah Infrastruktur dan Suprastruktur. Banyak yang masih bingung akan makna dua kata ini, ada yang bisa menjelaskan dengan bahasa yang rumit dan susah dipahami, ada yang mudah menjelaskan tapi sejatinya tidak relevan sama sekali. Lalu bagaimana menurut si Louis?&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terlebih dahulu kita harus memahami bahwa pemaknaan tentang ‘Social Whole’ berbeda dengan ‘Totalitas’ Hegel. Marx telah menaruhkan susunan dari seluruh masyarakat seperti yang dibentuk dalam level atau contoh yang diartikulasikan oleh determinan khusus, yakni Infrastruktur atau basis ekonomi (kesatuan dari kekuatan produktif dan hubungannya dengan produksi) dan Suprastruktur yang berisi dua level juga, yakni Politico-Legal (Hukum dan Negara) dan Ideologi (berbagai macam ideologi, agama, etika, hukum, dsb). Dua hal ini yang membedakan Marx dari Hegel dan menjadikan Marx lebih unggul dibanding Hegel. Kemudahan dalam melihat struktur dari seluruh masyarakat membuat pemikiran Marx lebih banyak diikuti dengan bangunan dasar yang kuat ialah infrastruktur yang diatasnya dibangun dua lantai lagi yaitu suprastrukturnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Althusser menggunakan metafora yang mudah dipahami dengan maksud yang sangat jelas, bahwa dua lantai yang diatas tidak akan bertahan jika tidak ditopang olah dasar yang kuat. Metafora menggunakan gedung ini adalah contoh akan pentingnya basis ekonomi yang kuat yang akan menentukan apa yang terjadi di “atas”. Hal ini menandakan pentingnya infrastruktur yang akan menentukan arah gerak suprastruktur. Masalahnya hal diatas masih menjadi metafor dan bersifat deskriptif saja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Suprastruktur pun ditentukan oleh efektivitas dari basis ekonominya. Indeks dari efektivitas ini didasarkan pada dua hal oleh tradisi pemikiran Marxisme, yang pertama, adanya otonomi yang relatif dalam suprastruktur dengan tetap menghormati infrastruktur dan yang selanjutnya ialah adanya timbal-balik dari suprastruktur kepada infrastruktur yang bersifat positif.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adanya penjelasan lebih lanjut mengenai negara yang merupakan kumpulan aparat yang represif (digambarkan dalam Communist Manifesto dan Eighteenth Brumaire of Louis Boenaparte). Negara adalah mesin represi yang digunakan kelas penguasa untuk mendominasi kelas pekerja dalam melakukan pengihisapan/pemerasan nilai lebih (surplus value) atau ekploitasi kapitalis. Tiap negara memiliki ideologi masing-masing yang dianut, dan karena itu negara dan ideologi masuk kedalam suprastruktur yang berkaitan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ideologi pertama kali dikemukakan oleh Cabanis, Destutt de Tracy, dkk yang menempatkannya sebagai obyek dari teori mengenai Ide. Marx, lima puluh tahun kemudian, memiliki pengartian yang berbeda mengenai Ideologi. Menurutnya (Marx) ideologi adalah sebuah sistem dari ide dan representasi akan sesuatu yang mendominasi pemikiran sekelompok orang (pembahasan ini ditulis dalam artikelnya dalam &lt;em&gt;Rheinische Zeitung&lt;/em&gt;). Sejak saat ini, Marx menemukan teori mengenai ideologi, yang lebih jauh lagi dibahas dalam bukunya, Ideologi Jerman. Teori dari ideologi selalu akan membahas mengenai posisis kelas sosial.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Althusser menyebutkan bahwa ideologi tidak memiliki sejarah, seperti etika. Bisa disinyalir kalimat ini keluar karena pandangannya yang sangat Marxis sehingga segala macam yang berbentuk imaterial akan ditolak keberadaannya, dan jika ditolak keberadaannya maka hilang pula sejarahnya karena tidak sesuai pemikirannya yang materialis, mengikuti bapak teorinya, Karl Heinrich Marx. Louis Althusser akan selalu dipandang sebagai pemikir Marxis garda depan dan turut andil dalam pengembangan teori-teori yang dikemukakan Marx. (rez)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>05 Jul 2017</pubDate>
        <link>/esai-seorang-marxis-perancis</link>
        <guid isPermaLink="true">/esai-seorang-marxis-perancis</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Perusahaan Pertembakauan Hantam Free Speech</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt; Censorship Inc.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; Lawrence Soley&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt; Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt; xi+308 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt; 2002&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kebebasan berekspresi adalah bagian dari Hak Asasi Manusia, biasanya dikenal dengan kalimat “Free Speech”. Hal tersebut diatur dalam First Amandement di Amerika Serikat. Sampai ke seluruh dunia diakui bahwa manusia bebas berbicara apa saja. Tapi apakah benar itu maksud dari Free Speech? Lawrence Soley tidak memberikan jawaban secara langsung “Ya” atau “Tidak”, tapi menjelaskannya melalui bukunya yang satu ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini diawali dengan studi kasus mengenai perusahaan rokok yang ada di Amerika pada tahun 1998 dimana mereka dilarang memberikan iklan untuk anak dibawah umur. Para pengusaha rokok mengadukan peraturan ini karena menginjak-injak kebebasan berbicara mereka (dalam hal ini memasang iklan). Namun para pengusaha ini rela hak mereka dari “Amandemen Pertama” terabaikan jika para “Congressman” mau menutupi klaim pertanggungjawaban tahunan mereka, dengan kata lain, mereka mau menjual hak mereka dengan harga yang tepat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bahkan untuk melawan pelarangan terhadap pengiklanan rokok, Perusahaan rokok milik Phillip Morris mengadakan lomba esai mengenai hak “Amandemen Pertama” dalam pengiklanan rokok. Iklan mengenai lomba itu tampil disemua majalah di Amerika seperti &lt;em&gt;The New Yorker&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;New York Times&lt;/em&gt;, meminta para peserta lomba untuk menulis mengenai kenapa pelarangan iklan rokok melanggar kebebasan berbicara. Tujuan utama dari lomba tersebut adalah bahwa pelarangan iklan rokok dapat mengancam warga negara Amerika Serikat dalam menggunakan hak dari Amandemen Pertama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lomba menulis esai diatas telah menjadi gambaran kemunafikan dari konglomerat pengusaha rokok, bahwa milyader seperti Phillip Morris digambarkan hanya sebagai warga biasa yang ditekan oleh pemerintah. Sejatinya ia bukanlah warga biasa, dia adalah seorang pengusaha kaya dan seorang jutawan yang pemasukannya bahkan lebih besar daripada PDB dari negara-negara seperti Iraq, Chile, dan beberapa negara lainnya. Kontes tersebut pun dengan salah mengimplikasikan bahwa iklan komersial akan mendapatkan perlindungan yang sama dari Amandemen Pertama seperti pidato politik, sejatinya tidak, iklan komersial mendapatkan prioritas lebih sedikit dibanding pidato politik dan sejenisnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ironisnya, saat mereka (pengusaha rokok/tembakau)  berteriak tentang kebebasan berbicara atau berpendapat, disisi lain mereka menggunakan profitnya untuk menekan informasi mengenai bahaya dari merokok selama puluhan tahun. Pada dekade 40 sampai 50-an, televisi yang disponsori oleh perusahaan rokok dilarang menampilkan dalam bentuk apapun mengenai resiko merokok, bahkan dalam bentuk kalimat yang secara implisit mengatakan bahwa merokok membawa penyakit. Soley mengambil contoh acara milik Jack Benny dimana ia tidak diperbolehkan untuk membicarakan kanker karena disponsori oleh perusahaan rokok. Adapun saat majalah membicarakan mengenai kanker, perusahaan rokok langsung menarik iklan mereka untuk menghukum mereka secara finansial, 22 dari 36 majalah menolak untuk memberitakan atau menulis permasalahan resiko merokok karena mereka tidak ingin pendanaan mereka terpotong hanya karena satu artikel atau pemberitaan saja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seperti yang dikatakan oleh salah seorang eksekutif dari &lt;em&gt;Psychology Today&lt;/em&gt; bahwa mereka tidak menerima iklan anti rokok, karena mereka mendapatkan banyak uang dari perusahaan rokok dan tidak mau menyinggung perasaan investor mereka. Bahkan agen iklan pun tidak lepas dari murka para pengusaha rokok, seperti Saatchi and Saatchi (sebuah agen iklan di Amerika) mengembangkan iklan pelarangan merokok di pesawat untuk Northwest Airlines, perusahaan rokok R.J. Reynolds langsung menarik bisnis iklan nya dengan Saatchi and Saatchi melalui perusahaan induknya R.J.R. Nabisco yang memproduksi biskuit, karena Saatchi and Saatchi tidak menangani iklan rokok, maka perusahaan rokok seperti R.J. Reynolds menghukumnya melalui perusahaan induknya yang memproduksi biskuit tapi menaruh iklan di Saatchi and Saatchi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Contoh-contoh kejadian diatas hanyalah sebagian kecil studi kasus yang diperlihatkan oleh Lawrence Soley dalam bukunya ini yang menggambarkan mengenai kemunafikan-kemunafikan perusahaan. Soley adalah profesor ilmu komunikasi di Universitas Marquette di Milwaukee. Bidang studi yang ia geluti membuatnya berkompeten untuk berbicara mengenai “Free Speech” dan analisanya yang menggunakan teori-teori marxian makin menarik pembaca untuk menyelidiki cerita dan berita yang ada dalam bukunya ini.&lt;em&gt;&lt;strong&gt;(rez)&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>03 Jul 2017</pubDate>
        <link>/perusahaan-pertembakauan-hantam-free-speech</link>
        <guid isPermaLink="true">/perusahaan-pertembakauan-hantam-free-speech</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Feminisme, Buruh versus Teknologi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Making of a Cybertariat&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Ursula Huws&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Monthly Review Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xiv+208 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2003&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak terasa sudah memasuki abad keduapuluhsatu, hanya beberapa abad sebelumnya Marx membicarakan mengenai pertarungan kelas, ekploitasi buruh, akumulasi kapital, dan lain-lain. Apa yang diceritakan Marx dalam kitabnya: Das Kapital volume satu sampai tiga (ada yang bilang empat) masih relevan dibahas sampai detik ini, di era digital. Namun agar komprehensif, maka sebuah teori harus bisa mengikuti perkembangan zaman, dan teknologi. Ursula Huws membahas tentang hubungan teori Marx dengan majunya teknologi di abad dua puluh satu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Mungkin dulu pembuatan komoditas jual-beli dilakukan di rumah dan hanya berkembang sebagai perusahaan rumah. Sekarang industri rumah sudah digantikan dengan pabrik besar yang memiliki banyak teknologi yang modern pasca revolusi industri. Produksi secara massa di pabrik telah menciptakan rasionalisasi atas pengembangan metode kerja dan teknologi yang berdampak pada harga barang yang diproduksi menjadi lebih murah daripada diproduksi oleh industri rumah. Dengan adanya pabrik besar, maka rumah tidak pernah menjadi sebuah tempat produksi lagi dan membuat pekerjaan rumah menjadi sesuatu yang tidak ekonomis dan tidak produktif. Orang yang tinggal dirumah akhirnya menjadi konsumtif. Akan tetapi berbagai pekerjaan yang ada di masa kini adalah hasil pengembangan dari barang-barang yang dijual yang digunakan oleh ibu rumah tangga dan anak-anak kecil yang tidak bekerja, yang hanya tinggal dirumah saja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pergeseran paradigma industri rumah dan pabrik pun berdampak pada permasalahan gender. Dulu, tukang jual jamu dan dukun beranak yang praktek hanya untuk keluarga dan lingkungan sekitarnya (yang notabebe berjenis kelamin perempuan) sudah digantikan oleh dokter umum atau dokter bedah laki-laki, perempuan yang biasanya menjadi arbitrator dalam sebuah sengketa sudah digantikan oleh pengacara lelaki, akhirnya perempuan di era modern hanya mendapatkan pekerjaan rumah tangga sebagai pekerjaannya. Tradisi oral sebagai jalan edukasi digantikan menjadi tradisi membacayang sekali lagi dikontrol oleh kaum maskulin. Semua permasalahan diatas disebut sebagai proses dari sosialisasi tenaga kerja domestik, pembagian tenaga kerja menurut gender laki atau perempuan juga termasuk didalamnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di tangan Kapitalisme, pengenalan akan teknologi baru hanya berfungsi sebagai alat produksi massal yang lebih cepat dan lebih banyak dengan tenaga kerja yang lebih sedikit. Tiap pengenalan ini selalu menggantikan pekerja handal dengan mesin. Tiap kali ada investasi berskala besar masuk dalam bentuk teknologi baru berarti akan ada PHK secara besar-besaran pula. Akibat kapitalisme pula, munculah kata “publik” dan “privat” dalam bekerja. Pekerjaan di rumah adalah pekerjaan untuk menyediakan kesenangan dan ketenangan setelah melakukan pekerjaan dikantor yang memakan waktu banyak dan membuat stress seseorang, singkat kata, dirumah adalah untuk melepas penat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam tradisi pemikir marxis, bahkan para sosialis feminis, selalu menganggap teknologi baru sebagai “Hal Yang Baik”. Sebelum adanya kapitalisme, perempuan adalah properti yang dimiliki para lelaki untuk melakukan pekerjaan rumah yang tidak digaji dan terisolasi dari dunia luas. Lalu munculah dua bersaudara yang membawa kemajuan, yakni Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang berkewajiban untuk mengubah pekerjaan domestik yang tidak berupah menjadi berupah diluar rumah. Dari sini lah muncul kelas pekerja yang menjual tenaga kerjanya untuk upah. Namun dalam beberapa dekade akhir, para sosialis feminis mengkritik perkembangan teknologi yang semakin menekan kelas pekerja, bahwa Ilmu Pengetahuan tidak lah netral dan adanya teknologi baru bukan meningkatkan kualitas pekerjaan tapi malah membuat para pekerja kehilangan pekerjaan dan kemampuan mereka, membuat mekanisme baru dalam bekerja, membawa kehancuran kondisi pekerjaan yang ada. Teknologi pun membuat manusia semakin malas dan lemah, semakin banyak alat yang berguna, maka semakin banyak manusia yang tidak berguna. Mereka membuat kita tergantung dalam melakukan segala macam pekerjaan. Apakah semua pembaharuan di bidang teknologi (mesin) ikut menunjang perkembangan dan perluasan pekerjaan, atau justru menjadi musuh bagi para manusia yang bekerja? Semua akan dijawab dalam buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Monthly Review selalu mengambil penulis dengan &lt;em&gt;background&lt;/em&gt; marxis atau sosialis, jadi bagi kalian yang tertarik dengan pemikiran marxis atau sosialis di abad keduapuluhsatu, sangat direkomendasikan membaca buku-buku terbitan Monthly Review Press atau &lt;a href=&quot;monthlyreview.org&quot;&gt;berkunjung ke &lt;em&gt;website&lt;/em&gt;-nya&lt;/a&gt;, karena banyak artikel dari marxis modern.&lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>02 Jul 2017</pubDate>
        <link>/feminisme-buruh-versus-teknologi</link>
        <guid isPermaLink="true">/feminisme-buruh-versus-teknologi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Ilmu Politik dan Kekuasaan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Ruling Class&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Gaetano Mosca&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: McGraw-Hill&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xli+514 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 1939&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Ilmu Politik adalah sebuah ilmu yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari dan erat kaitannya dengan Sosiologi yang membahas tentang masyarakat. Banyak sekali pembahasan dari ilmu politik sehingga membuat koridor-koridor penting dalam pengembangannya. Mosca dalam bukunya ini memahami politik sebagai suatu fenomena sosial yang lahir bukan karena kehendak ilahi atau hal-hal supranatural, melainkan tendensi perilaku dan kondisi psikis dari manusia. Hal ini ditarik kembali pada zaman Aristoteles dan usahanya untuk menguak hukum yang mengatur tendensi-tendensi tersebut. Bisa dibilang, dari ilmu pengetahuan yang berbasis non-eksakta, ilmu politik dan ilmu sosial lah yang paling berhasil dalam metodologi, dan dari “saudara” ilmu politik, ekonomi politik lah yang paling berhasil menjadi sebuah “ilmu” sejati. Ada usaha dalam menerjemahkan agenda politik menggunakan pendekatan ekonomi dan juga distribusi kekayaan, tapi pandangan tersebut terlalu berat sebelah dan eksklusif, maka dari itu, untuk penjelasan mengenai tendensi yang mengatur sebuah organisasi mengenai kewenangan politik harus dijelaskan melalui Ilmu Politik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Masyarakat memiliki karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari yang paling terbelakang dan baru mengenal peradaban, hingga yang paling maju dan modern, akan tetapi ada satu hal yang sama di berbagai jenis masyarakat ini, bahwasanya hanya ada dua jenis kelas, penguasa dan yang dikuasai. Adanya konsep &lt;em&gt;primus interpares&lt;/em&gt; hingga kapitalis memperkuat tesis Mosca ini. Kelas pertama cenderung berjumlah sedikit, pelaksana fungsi politik, melakukan monopoli dan menikmati kekuasaan yang mereka miliki, sedangkan kelas yang kedua jumlahnya lebih banyak, dikepalai dan dikontrol oleh kelas yang pertama dan memasok sumberdaya untuk kelas yang sebelumnya. Manajemen dari urusan publik diatur oleh minoritas yang kita sebut sebagai kelas penguasa, yang secara sadar maupun tidak sadar telah ditangguhkan kepada mereka oleh mayoritas penduduk.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Melalui sudut pandang keilmuan, konsep kelas penguasa bersandar pada fakta yakni tingkatan peradaban dan perbedaan masyarakatnya. Mosca mencontohkan Rusia dan Tuki yang pada saat itu masih monarki absolut, penguasanya mendapatkan kekuasaan melalui garis keturunan dan sifatnya tak terbatas, Inggris dan Italia adalah monarki konstitusional, dimana raja atau ratunya dibatasi kekuasaannya, lalu Perancis dan Amerika Serikat digolongkan sebagai Republik yang pemimpinnya dipilih. Meskipun bentuknya sama, tetapi ada aspek berbeda, seperti Amerika Serikat dan Perancis yang sama-sama Republik, tetapi berbeda dalam bentuk organisasi politiknya (birokrasi). Pembagian diatas adalah gagasan dari Montesqieu yang dicetuskan untuk menggantikan ide Aristoteles mengenai pemerintahan yakni monarki, aristokrasi dan demokrasi. Mosca juga mengkritik bahwa demokrasi sejatinya adalah aristokrasi dengan cakupan yang lebih luas. Aristoteles sendiri, ketika mengamati Pemerintahan di Yunani selalu menemukan satu atau lebih orang yang memiliki pengaruh lebih.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Didalam masyarakat, kelas penguasa memiliki kekuasaannya tidak bisa dibuktikan secara &lt;em&gt;de facto&lt;/em&gt;, melainkan dengan mencari dasar yang legal untuk menjelaskan kekuasaan yang mereka miliki. Seperti dalam masyarakat keagamaan, maka kelas penguasa akan dipegang oleh mereka yang berkuasa karena ditunjuk oleh Tuhan sebagai pembuktian atas kekuasaannya, untuk di negeri Cina, yang menjadi kelas penguasa adalah mereka yang ditunjuk oleh “Kaisar Langit” dengan dasar Konghucu, Romawi dipimpin oleh seorang kaisar yang sudah diberi mandat oleh masyarakat Roma untuk mengelola negara-negara persemakmuran Romawi dan kekuasaan yang dimiliki para pegawai pemerintah didapat melalui pemilihan. Bermacam-macamnya justifikasi terhadap kekuasaan yang dimiliki oleh kelas penguasa membuat perilaku mereka pun berbeda-beda. Tetapi yang pasti adalah dalam masyarakat yang sudah mengenal peradaban, pasti akan ada kelas-kelas didalamnya, elit-massa, penguasa dan yang dikuasai. (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;rez&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>21 Jun 2017</pubDate>
        <link>/ilmu-politik-dan-kekuasaan</link>
        <guid isPermaLink="true">/ilmu-politik-dan-kekuasaan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Eropa dengan Segala Intervensinya</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul buku: European Universalism, The Rhetoric of Power&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Immanuel Wallerstein&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: The New Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal buku: xv + 94 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun terbit: 2006&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Siapa tidak kenal Immanuel Wallerstein? Ialah pencetus teori sistem dunia yang menjadi salah satu pembahasan paling fenomenal dari studi pembangunan. Namun pada bukunya yang satu ini, dia tetap tidak bisa lepas dari teori yang ia gagas, tapi membahas mengenai intervensi yang dilakukan oleh Eropa terhadap negara jajahan mereka. Semua dilegitimasi pasca adanya abad pencerahan dimana Orang Eropa mengganggap mereka lah yang paling beradab. Dan anggapan macam ini yang selalu mereka tularkan guna mempengaruhi perkembangan sejatah dunia, dimana mereka selalu pada titik puncak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hak siapa untuk melakukan intervensi?” adalah judul pada bab pertama buku ini. Kalimat itu menggambarkan pertarungan antara keberadaban Eropa melawan kebiadaban “yang bukan eropa”. Sebagian besar sejarah dunia adalah bagian dari ekspansi negara-negara Eropa dan orang-orangnya ke seluruh penjuru dunia dan hal ini adalah dasar dari kemunculan sistem kapitalisme dunia. Mereka (Orang Eropa) melakukan ekspansinya dengan penaklukan militer dan juga eksploitasi ekonomi dengan sebuah hasil yakni “Ketidakadilan”. Justifikasi terhadap ekspansi yang mereka lakukan adalah bahwa ekspansi tersebut membawa pertumbuhan ekonomi, kemajuan, peradaban dan pembangunan negeri, pada ujungnya kata-kata ini digunakan untuk mengartikan ekspansi tersebut sebagai “Nilai Universal”, bahwa ekspansi ini tidak hanya penting bagi umat manusia, tapi juga tidak terelakkan. Bagi orang Eropa, hal tersebut bagus, tapi bagi negeri yang dijajah, kedatangan orang-orang Eropa hanya menjadi bencana yang berujung pada kemiskinan dan perbudakan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Apa yang menjadi justifikasi tidak sesuai dengan realitas dilapangan (di negeri jajahan), tidak semegah apa yang ada dalam justifikasi tersebut. Buku ini menggunakan konteks ekspansi Spanyol terhadap Amerika Latin. Apa yang dilakukan Spanyol terhadap penduduk asli Amerika Latin menuai perdebatan dikalangan intelektual sendiri, dalam kasus ini, yang paling terkenal adalah Las Casas melawan Sepulveda, namun saya akan lebih membahas Las Casas. Las Casas adalah seorang pendeta yang melihat bahwa tindakan Spanyol telah melayangkan banyak nyawa orang tidak bersalah sebagai &lt;em&gt;collateral damage,&lt;/em&gt; perilaku Suku Indian yang kafir lebih baik ketimbang apa yang dilakukan Spanyol dengan membunuh orang tak bersalah, apalagi atas nama Yesus Yang Maha Pengasih. Lalu ketika mereka melihat tindakan orang Spanyol itu, apakah orang-orang kafir tersebut akan tertarik untuk masuk agama Kristiani? Tidak. Bagi Las Casas, sungguhlah dosa besar melakukan pembunuhan atas nama agama. Adapun menurutnya, orang-orang kafir itu melaksanakan agamanya bukan karena ketaatan kepada Dewa nya yang membabi-buta, tapi karena mereka tidak pernah mendengar nama “Yesus” sebelumnya. Adapun argumen ini diperkuat dengan argumen lain yang digunakan Las Casas, yakni jurisdiksi dengan contoh di daerah yang dikuasai oleh umat kristiani, penduduk yang beragama Islam dan Yahudi wajib menaati aturan tersebut karena tinggal di daerah kekuasaan Kristen. Mereka (umat Islam dan Yahudi) bisa dihukum karena melanggar peraturan tersebut, tapi tidak bisa dihukum karena memiliki agama yang berbeda. Untuk permasalahan “pengkafiran”, tidak bisa umat kristen menuding umat islam atau yahudi sebagai kafir, karena mereka tidak pernah mendengar doktrin kristen, begitupula sebaliknya, dan mereka pun tidak berhak untuk mengeksekusi dengan alasan perbedaan agama, kafir atau tidak adalah Tuhan sendiri yang menentukan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada abad kedelapanbelas, perdebatan mengenai invasi Eropa ke daerah-daerah lain sudah mulai menyurut. Dunia Eropa sudah menerima legitimasi terhadap kolonialisasi daerah-daerah “barbar”. Namun Eropa sendiri menganggap daerah Asia yang mereka jajah memiliki peradaban yang tinggi. Meskipun seperti itu, tetap secara politik maupun ekonomi, mereka tersurbordinasi oleh Eropa yang selalu melakukan eksploitasi ekonomi. Eropa pun berusaha mencari akar sejarah mereka untuk mengangkat derajatnya agar mereka dapat membenarkan perilaku yang mereka lakukan (eksploitasi ekonomi) dan selalu menyebutkan bahwa mereka lah yang memproduksi “Modernitas” dan mereka lah yang berhak melakukan intervensi kepada “yang-bukan-Eropa”. (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;rez&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>16 Jun 2017</pubDate>
        <link>/eropa-dengan-segala-intervensinya</link>
        <guid isPermaLink="true">/eropa-dengan-segala-intervensinya</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Barang dan Jasa, antara Publik dan Privat</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;images/PP-190x300.jpg&quot; alt=&quot;resensi public or private goods kedai resensi surabaya&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Judul Buku: Public or Private Goods? Redefining the Res Publica&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Brigette Unger (ed).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Edward Elgar&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: ix+288 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cetakan: Pertama, 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Barang dan jasa merupakan dua hal mendasar yang selalu menjadi lingkup pembahasan ilmu ekonomi, dimana ilmu tersebut membahas pemenuhan kebutuhan manusia. Yang selalu menjadi problematika ialah siapa yang wajib dan berhak untuk menyediakan dua hal itu? Apakah pemerintah beserta kroninya atau sektor privat (baca:perusahaan) bersama pegawainya? Dalam buku ini akan dibahas secara komprehensif masalah tersebut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Fungsi pasar adalah menyediakan komoditas untuk diperjualbelikan kepada khalayak umum, sedangkan disisi lain, pemerintah berkewajiban memenuhi kebutuhan pokok warga negaranya. Didalam pasar, perusahaan selalu berkompetisi satu dengan yang lain dalam menjual produknya dan hal tersebut membuatnya lebih inovatif dan kreatif dibandingkan pemerintah yang sifatnya monopolistik. Bab-bab dalam buku ini bertujuan untuk mengulas permasalahan itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebelum memasuki pada hak dan kewajiban siapa dalam menyediakan barang dan jasa, maka ada baiknya mendefinisikan mana yang disebut barang publik dan mana yang disebut barang privat. Menurut Samuelson yang dikutip dalam buku ini, barang publik adalah barang yang tidak memiliki rival dalam produksi maupun konsumsinya dan tidak dapat dikecualikan. Ciri utama yang membedakan barang publik dibanding barang privat adalah semua orang menerima kuantitas yang sama dari barang publik, sedangkan tiap individu dapat mengkonsumsi barang privat dengan kuantitas yang berbeda. Adapun barang publik tidak murni yang berada diantara barang publik murni yang semata-mata tidak berival dan tidak terkecualikan, dengan barang privat yang memiliki sifat sebaliknya. Barang publik tidak murni dapat merasakan dampak dari kemampatan atau eksternalitas konsumsi lainnya, yang dimana barang publik murni tidak bisa, namun pasar dapat menyediakan kuantitas dan kualitas optimal dari barang publik tidak murni. Contoh dalam buku ini mengenai barang publik ialah ilmu pengetahuan dalam penemuan obat AIDS ataupun penyakit menular lainnya bisa dianggap sebagai barang publik yang global. Namun sistem paten selalu berusaha memprivatkan hal-hal yang seharusnya didapatkan secara mudah oleh semua orang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Setelah mengetahui sekilas mengenai barang publik dan barang privat, kita harus memikirkan sejauh mana pemerintah bisa menjadi aktor dalam aktivitas ekonomi. Agar pemerintah bisa mengintervensi pasar, maka terlebih dahulu harus terjadi kegagalan pasar dan menunjukkan bahwa intervensi tersebut yang nantinya akan menghasilkan peningkatan pendapatan. Pembahasan mengenai intervensi ini mengikuti sejarah mengenai Negara Kesejahteraan dengan pendekatan dan label Kesetaraan, Kesamaan dan Efisiensi. Model ini disebut sebagai model redistributif, dalam model ini dilihat bahwa pasar muncul dengan ketidakadilan dalam pemberian upah dan kekayaan, maka dari itu negara mengintervensi untuk membuat pemasukan lebih rata dan adil. Model ini juga menyarankan untuk membatasi eksploitasi terhadap buruh dan berargumen bahwa pemerintah harusnya mendistribusikan pendapatan baik didalam maupun diluar pasar tenaga kerja. Disini kita bisa lihat bahwa pasar itu efisien, sedangka pemerintah menjaga kesetaraan dan keadilan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada saat intervensi itu terjadi, maka masyarakat lah yang mengawasi dan memberi garansi agar pemerintah memenuhi kebutuhan barang dan jasa mereka, dan para pembuat kebijakan mengikuti kepentingan umum dan kebaikan bersama. Dari sini lah muncul penulis seperti Waltzer, Etzioni dan Sandel yang berpendapat bahwa kebutuhan pokok masyarakat bukanlah komoditas untuk diperjualbelikan, maka dari itu penyedianya haruslah pemerintah. Untuk itu harus ditetapkan terlebih dahulu apakah komodifikasi suatu barang diperbolehkan atau tidak, dan jika tidak maka akses pasar bebas terhadap barang tersebut haruslah ditutup.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dimana sektor privat didorong oleh laba, pemerintah didorong oleh kepentingan publik dan beberapa barang publik akan rusak dan berkurang jika dijual demi mencari uang. Model efisiensi adalah jalan tengah bagi semua permasalahan ini, bahwa pemerintah berfungsi sama dengan pasar, yakni menyediakan barang dan jasa, namun pada ranah-ranah mana pemerintah dapat lebih efisien, itu yang menjadi pembeda barang publik dan barang privat. Disini pemerintah memiliki keunggulan komparatif dimana mereka dapat memaksa masyarakatnya untuk bekerjasama, dan karena hal itu, mengurangi biaya transaksi, meskipun mengkorbankan kebebasan individu. Akhirnya, model ini memaknai pemerintah sebagai perusahaan asuransi yang memiliki tentara. (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;rez&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>11 Jun 2017</pubDate>
        <link>/barang-dan-jasa-antara-publik-dan-privat</link>
        <guid isPermaLink="true">/barang-dan-jasa-antara-publik-dan-privat</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Derasnya Fantasi Samudra Dongeng</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul Buku&lt;/strong&gt;: Harun dan Samudra Dongeng&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt;: Salman Rushdie&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt;: Serambi&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt;: 2011&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt;: 234 hlm&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi penikmat buku yang menginginkan cerita fiksi khas keajaiban negeri dongeng namun tidak terlalu kekanak-kanakan untuk dibaca, novel Salman Rushdie ini bisa dimasukkan ke dalam daftar bacaan. Atau jika ingin membacakan ini untuk anak-anak pun kisahnya tetap sesuai, sebagai cerita pengantar tidur. Dongeng memang tidak pernah terlalu usang untuk dibaca setiap jenjang usia. Yang membedakan adalah pemaknaan pembaca atas dongeng yang ia baca.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Harun dan Samudra Dongeng merupakan kisah pertama dari anak seorang pendongeng di negeri fantasi Alifbay. Cerita bermula dari salah satu kota sedih di negeri tersebut. Saking sedihnya, kota itu tidak dapat mengingat namanya sendiri. Namun, ada satu rumah yang dipenuhi dengan keceriaan, ialah rumah Rasyid Khalifa. Rumahnya terletak di jantung kota, di antara reruntuhan gedung-gedung yang terlihat seperti sekumpulan hati yang patah. Penggemarnya menyebut ia sebagai Rasyid sang Samudra Khayal, selalu memiliki kisah menyenangkan untuk diceritakan. Bagi musuhnya, ialah sang Raja Omong Kosong. Rasyid Khalifa tinggal dengan Harun, anak laki-lakinya yang ceria dan Soraya, istrinya yang selalu bernyanyi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Suatu hari, hal aneh terjadi. Soraya mendadak berhenti bernyanyi. Harun yang menyadari akan hal ini merasakan adanya masalah yang tidak ia ketahui. Rasyid tidak menyadari bahwa situasi di rumah telah berubah. Hingga suatu ketika, ibunya pergi dengan tetangga mereka, Pak Sengupta. Ibunya pergi tepat pada pukul 11:00, Harun jadi tidak bisa mengingat hal-hal lebih dari 11 menit. Rasyid tidak tahu apa yang harus dilakukannya, Harun menjadi marah dan berkata bahwa dongeng-dongeng Rasyid tidak berguna. Sekarang, ia kehilangan ibunya. Rumah Rasyid Khalifa kini juga diliputi kesedihan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat itu, sedang musimnya kampanye untuk pemilihan umum negeri Alifbay. Rasyid yang tersohor sebagai pendongeng dan disukai orang banyak diincar oleh para politikus agar berbicara dalam kampanye mereka. Ia diminta mengatakan hal-hal baik tentang calon kandidat pemimpin agar orang-orang memilihnya karena banyak orang menyukai Rasyid Khalifa dan dongeng-dongengnya. Tetapi, begitu Rasyid Khalifa naik ke atas panggung, ia mendadak tidak dapat berbicara. Ia dimasukkan ke kantor, dituduh berkomplot dengan lawan politik dan lidahnya terancam dipotong. Ia meminta kesempatan di kota selanjutnya dan berjanji untuk melakukannya lebih baik lagi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Harun turut merasa bersalah karena menyebut dongeng-dongeng ayahnya tidak nyata. Perkataannya telah membuat Rasyid Khalifa kehilangan kepercayaan diri untuk mendongeng. Bagaimanapun, mereka melanjutkan perjalanan ke kota K dengan menaiki Mobil Pos yang berkecepatan tinggi. Sesampainya di sana mereka disambut oleh ketua partai kota K, salah satu calon terkuat pada pemilihan umum yang akan datang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Di kota K ini Harun bertemu dengan makhluk kecil bersorban di kamar mandi ayahnya. Ternyata inilah sang Jin Air dari Samudra Dongeng yang menyediakan bahan-bahan dongeng bagi Rasyid Khalifa, kemudian menransfer pasokan dongeng dengan menyamakan gelombang pikiran. Jin Air datang untuk memutus hubungan kerja sama dengan Rasyid Khalifa atas permintaannya. Harun bersikeras bahwa ayahnya tidak mungkin menyerah dan berhenti mendongeng. Ia meminta untuk bertemu dengan Pengawas Besar, sang Anjing Laut, di Samudra Dongeng agar ayahnya tetap mendapatkan pasokan kisah untuk dongeng-dongeng ajaibnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dari sinilah perjalanan Harun bermula untuk menemui sang Anjing Laut. Dengan menaiki Burung Bulbul pilihannya, Harun dan Jin Air berangkat. Mereka menuju Kota Gup di Kahani, bulan kedua bumi, demi sampai di pantai Samudra Arus Dongeng. Meskipun perjalanan ke Kahani hanya butuh beberapa kepakan sayang Burung Bulbul, ternyata keadaan Kota Gup sedang kacau. Putri Batcheat telah diculik oleh Bezaban. Raja Chattergy dan Anjing Laut tidak akan punya waktu untuk keinginan Harun yang kecil dibandingkan hilangnya putri kerajaan. Selain itu, Samudra Dongeng sedang tercemar racun dan harus segera ditangani.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Beberapa nama yang digunakan dalam novel ini berasal dari bahasa Hindustan, seperti Alifbay yang berarti “abjad”. Gup, dalam Kota Gup, berarti “gosip” atau “omong kosong”. Nama Harun dan Rasyid diambil dari nama seorang khalifah yang ternama dari Baghdad, Khalifah Harun al-Rasyid. Salman Rushdie banyak menggunakan permainan kata dalam novel ini. Ia seolah memberikan karakter yang ‘hidup’ bagi setiap kata.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Novel ini bisa dibilang merupakan persembahan Rushdie sebagai seorang ayah kepada anaknya, Zafar. Penulis memang telah tersohor dengan karya sebelumnya, Midnight’s Children yang meraih Booker Prize 1981, dan The Satanic Verses yang meraih Whitbread Prize 1988. The Satanic Verses mengundang kontroversi sejak pertama kali diterbitkan karena dianggap menistakan Islam, Muhammad, dan Al Quran. Bukunya sempat dilarang beredar dan penulis difatwa mati oleh pemimpin Iran, Ayatollah Khomeini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sebenarnya, patut diakui bahwa kemampuan Rushdie dalam menulis kisah fantasi bisa sangat ‘berbahaya’. Bisa dibilang Harun dan Samudra Dongeng ini adalah karya lain dari penulis yang lahir dari imajinasi ‘berbahayanya’. Namun itulah yang membuat karya-karya penulis menarik untuk dibaca. Tidak sekedar menyajikan kisah petualangan fantasi dengan makhluk-makhluk aneh khas dunia khayal, penulis menyuguhkan permainan kata dan sedikit-banyak merefleksikan perilaku sehari-hari. Misalnya hubungan Rasyid Khalifa dengan para politisi, atau komunikasi ayah dan anak ala Rasyid dan Harun. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(ich)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>08 Jun 2017</pubDate>
        <link>/derasnya-fantasi-samudra-dongeng</link>
        <guid isPermaLink="true">/derasnya-fantasi-samudra-dongeng</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Birokrasi Semangat Korporasi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Reinventing Government&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: David Osborne dan Ted Gaebler&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Plume Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xxii+405 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cetakan: Pertama, Februari  1993&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Saat kaum progresif seperti Woodrow Wilson dan Theodore Roosevelt berada di tampik kekuasaan, pemerintah dipegang bukan lagi oleh Boss Tweed yang mengatur kota seperti wilayah kekuasaan personal, tapi oleh para manajer kota yang mengelolanya dengan profesional seperti menjalankan sebuah bisnis. Satu masalah hilang, muncul masalah lainnya, dengan hilangnya Boss Tweed denga para koleganya, hilanglah para pencuri uang publik, namun sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana mengelola uang publik tersebut.  Pemerintah pasca Boss Tweed menjadi kaku dengan pola yang mendikte untuk segala hal. Keberhasilan mereka (pemerintah yang baru) bukan pada titik efisiensinya, tapi pengamanan terhadap uang publik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada tahun 1990, Daerah Distrik 4 di East Harlem memiliki 54 sekolah dalam 20 bangunan dengan pilihan fokus pembelajaran yang berbeda dengan tiap sekolah berisi hanya sekitar 50-300 siswa saja dan dikepalai oleh seorang direktur. Cerita lain adalah Departemen Pertahanan yang saat itu dibawah Bob Stone telah berhasil membuat para komandan mencari kebutuhan kesatuannya masing-masing tanpa perlu mengikuti regulasi dari Departemen Pertahanan yang terlalu &lt;em&gt;njelimet&lt;/em&gt;, adapun pembenahan pesawat tidak perlu menggunakan jasa Corps of Engineers, tiap lapangan udara bisa memperbaiki pesawatnya masing-masing. Contoh pertama memperlihatkan efisiensi dimana dalam sebuah bangunan terdapat banyak sekolah dan yang kedua adalah semangat kompetisi dimana pada akhirnya Corps of Engineer harus mengembangkan mutu layanannya sehingga mereka bisa tetap bertahan sekaligus mengembangkan diri mereka sendiri.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dengan makin berkembangnya dunia dan terjadinya globalisasi hampir diseluruh belahan dunia, yang diinginkan masyarakat pun makin banyak dan bermacam-macam. Salah satunya adalah masyarakat meminta agar pemerintah bisa menjadi sebuah lembaga yang fleksibel dan mudah beradaptasi. Mereka pun mulai meminta barang dan jasa yang berkualitas. Sekarang pemerintah dituntut tidak hanya melayani warga negaranya tapi juga memberdayakannya. Seiring meningkatnya permintaan masyarakat, maka jalan keluarnya hanya dua, yakni menaikkan pajak atau memotong anggaran. Masyarakat pastinya tidak mau membayar pajak yang lebih mahal dan solusi kedua menggambarkan pemerintah seperti orang gemuk yang ingin menurunkan berat badan, tapi bukannya berolah raga tapi malah memotong bagian tubuhnya. Tentunya dua hal ini tidak menyelesaikan permasalahan. Mereka (baca:pemerintah) tidak mencari jalan ketiga yang lebih aman, bahkan pemerintah pun tidak melihat secara mendalam masalah mereka, mereka menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak penting. Maka solusi utama yang ditulis dalam buku ini adalah mengubah insentif dasar yang ada dalam pemerintah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini membawa semangat yang ada dalam perusahaan kedalam pemerintahan, namun sekompleks apapun masalahnya, pemerintah tidak bisa dijalankan seperti bisnis. Ada beberapa hal yang secara mendasar memang berbeda antara bisnis dan pemerintah. Dalam mencari sumberdana, pemerintah bertumpu pada pajak, sedangkan perusahaan atau bisnis bertumpu pada produk yang mereka jual. Perusahaan selalu berkompetisi antara satu dengan yang lain sehingga hal itu (kompetitif) sudah menjadi sifat mereka, namun pemerintah, mau tidak mau selalu akan monopolistik. Dan yang paling utama, pimpinan dalam sebuah perusahaan didorong oleh keinginan mencari laba, sedangkan dalam pemerintah, mereka didorong oleh keinginan untuk dipilih kembali. Tiga hal ini yang membuat pemerintah dan perusahaan sangatlah berbeda dan tidak mungkin menjalankan pemerintah seperti perusahaan, tetapi masih memungkinkan menjalankan perusahaan dengan model birokrasi seperti pemerintah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini adalah salah satu yang paling komprehensif dalam membahas pemerintah, penulis buku ini memasukkan semangat kompetisi dalam birokrasi sehingga mereka selalu berpacu untuk mengembangkan diri dan menemukan inovasi-inovasi baru tanpa perlu menghilangkan inti dari birokrasi itu sendiri. Inilah buku yang menjadi kitab suci kaum neoliberal. (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;rez&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>03 Jun 2017</pubDate>
        <link>/birokrasi-semangat-korporasi</link>
        <guid isPermaLink="true">/birokrasi-semangat-korporasi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Daendels, Bapak Anti-Korupsi di Indonesia</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Korupsi Dalam Silang Sejarah Indonesia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Peter Carey dan Suhardiyoto Haryadi&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Komunitas Bambu, Jakarta&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: liii + 208 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cetakan: Pertama, Desember 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kata korupsi tentu tak asing lagi bagi kuping orang Indonesia. Setiap tahun, bulan bahkan hari pasti ada saja kabar koruptor, belakangan kabar santer korupsi e-KTP. Dalam sejarah di negeri ini, korupsi layaknya sudah menjadi budaya buruk birokrasi di Indonesia. Bahkan bisa dilacak sampai sebelum kemerdekaan. Kehadiran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bukan berarti negara ini benar-benar siap dalam memberantas korupsi, tetapi justru karena instansi pemberantas korupsi seperti Pengadilan dan Kepolisian malah terjangkit praktek korupsi. Sudah sering diberitakan, kasus-kasus korupsi dalam bentuk suap mulai dari permasalahan proyek pemerintah hingga memberi “uang damai” saat akan ditilang.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini merupakan pionir dalam menelusuri sejarah korupsi di Indonesia. Belum ada buku tentang korupsi di Indonesia melalui sudut pandang sejarah sejak pra-kemerdekaan. Bahkan negeri khatulistiwa ini masih bernama Hindia-Belanda, praktek korupsi itu sudah mewabah. Peter Carey dan Suhardiyoto Haryadi layak diapresiasi dalam soal ini. Peter Carey saat ini dikenal sebagai guru besar tamu di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia dan pernah mengajar sejarah modern di Universitas Oxford. Sedangkan Suhardiyoto Haryadi adalah mantan wartawan yang pernah menempuh pelatihan di Universitas Oxford pada tahun 1999. Keduanya sudi bersusah-payah menelusuri jejak langkah praktek korupsi di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kisah dalam buku diawali dengan kehadiran Gubernur Jendral asal Perancis, Herman Wilhelm Daendels. Pria yang sohor dengan sebutan ‘Tuan Geledek’ ini ditunjuk Raja Louis dari Belanda, untuk koloni Pulau Jawa. Tentu saja, selama ini Daendels sudah kondang sebagai pembangun Jalan Raya Pos Anyer-Panarukan. Namun, sebenarnya Daendels juga mengenalkan budaya berbusana dan etiket sosial baru yang menjadi pondasi Pemerintahan Indonesia dan sekaligus memberantas korupsi pasca-VOC.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Daendels merupakan reformis Pemerintahan Hindia-Belanda. Ia turun tangan langsung melacak dan menghukum para bekas pejabat VOC yang korup. Sejarah mencatat, faktor utama kejatuhan VOC adalah korupsi ini. Kehidupan pejabat VOC berfoya-foya sembari abai administrasi bersih. Daendels tidak bisa menerima keadaan semacam itu. Pria berjuluk ‘Marsekal Guntur’ ini segera membabat praktek-praktek korupsi. Wataknya yang keras tanpa kompromi menjadikan Daendels sebagai sosok menakutkan bagi pejabat korup. Pengawasan terhadap liku-liku administrasi pada masa VOC rupanya memang longgar serta rentan terhadap modus korupsi. Daendels tahu soal itu, dan ia kemudian memprakarsai pemerintahan sentralistik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Daendels tidak mentolerir keberadaan pemerintahan Pantai Timur Laut Jawa warisan VOC. Ini merupakan langkah awal pemberantasan korupsi di Hindia-Belanda. Dengan pembubaran itu, maka pemerintahan Hindia-Belanda terpusat di Batavia. Langkah tersebut mempermudah Daendels mengawasi bawahannya. Sebelumnya, pemerintah Pantai Timur Laut Jawa terkenal korup. Para pejabat di sepanjang pantai ini seringkali mendapatkan penghasilan dari pasar gelap. Karena penghapusan ini, maka terjalinlah hubungan langsung antara gubernur jenderal dengan residen yang berada di keraton Jawa Tengah dan daerah Selatan. Ini titik awal pemberantasan korupsi di Indonesia.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Zaman berganti. Daendels hengkang dari Jawa, datanglah Thomas Stamford Raffles, komandan Inggris. Birokrasi tanah Jawa berganti majikan, tapi semangat anti-korupsi tetap berjalan. Raffles tetap melanjutkan birokrasi melawan praktek korupsi di tanah Jawa. Pengawasan khas ala Inggris diberlakukan, semakin mempertinggi arus informasi ketidakberesan dari tingkat bawah ke manajemen pemerintah terpusat Raffles. Sebagai orang terpelajar, Raffles kerap merujuk pada upaya-upaya pemberantasan korupsi di negeri asalnya, Inggris. Jika Daendels adalah pionir anti-korupsi di Indonesia, maka Raffles merupakan sosok pelanjut kebijakan anti-korupsi tersebut. Ia memang terpesona pada alam tanah Jawa dan Sumatera, namun Raffles tetap waspada terhadap berbagai intrik pemerintahan berujung korupsi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Memasuki pertengahan abad ke-19, hubungan damai antara Belanda dan Inggris usai penanda-tanganan perjanjian London 1824 menjadikan Belanda bisa kembali fokus pada birokrasi Hindia Belanda. Langkah-langkah Raffles dalam pemberantasan korupsi memang mujarab, sehingga penulis buku ini menyarankan agar reformasi di Indonesia perlu pula belajar dari Inggris. Negeri itu telah bergelut dengan kasus-kasus penanggulangan korupsi sejak periode 1660-1830.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada abad ke-18 Inggris menjadi salah satu negara di Eropa yang korup. Praktek suap dari tuan tanah mewarnai pemilihan kandidat Majelis Kecil di perkotaan. Begitupula, korupsi merajalela di birokrasi pemerintahan. Untuk menanggulangi ini, Inggris membentuk Komisi Khusus Parlemen Inggris guna memeriksa laporan keungan negara. Di era kini, Indonesia telah punya Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang juga acap melansir laporan-laporan keuangan lembaga negara. Hanya saja, upaya keras memberantas korupsi di Indonesia tetap butuh lembaga ad hoc yang sekiranya bisa berfungsi bak ‘Daendels’ di masa modern. Geledek anti-korupsi di saat harus bersih-bersih, seperti sapu bersih kasus korupsi e-KTP. (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;rez&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>03 Apr 2017</pubDate>
        <link>/daendels-bapak-anti-korupsi-di-indonesia</link>
        <guid isPermaLink="true">/daendels-bapak-anti-korupsi-di-indonesia</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Dari Negri untuk Marx dan Foucault</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Marx And Foucault&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Antonio Negri&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Polity&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: vi+206 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2017&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Siapa tak kenal teoritisi garda depan dibidang Marxisme, Antonio Negri? Ia adalah Profesor Ilmu Politik di Universitas Padua, Italia. Dia pernah dituduh menjadi dalang dalam pembunuhan Perdana Menteri Italia Aldo Moro yang dilakukan oleh Brigatte Rosse. Pemikirannya biasanya berkutat pada Spinoza dan Marx seperti karyanya sebelumnya: &lt;em&gt;Multitudes, Empire, Spinoza of Our Times&lt;/em&gt; dan banyak lagi, namun kali ini ia menyuguhkan sesuatu yang berbeda, Ia membahas mengenai Foucault juga. Dalam buku terbarunya ini, beliau membahas tentang kemutakhiran pemikiran dua orang tadi dan akan dibahas secara singkat dalam resensi ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diawali dengan pertanyaan “Kenapa Marx?”. Menarik untuk dikupas bahwa Marx selalu diagung-agungkan di abad 21 ini sebagai bapak ekonomi kerakyatan. Tapi pada realitanya banyak negara yang bisa dibilang gagal dalam menerapkan seutuhnya pemikiran Marx. Namun Marx sangat digandrungi karena teorinya mengenai pertarungan kelas, tentang si kaya dan si miskin, para pemilik modal dan kaum buruh-tani. Marx punya tiga alasan akan teorinya mengenai si kaya dan si miskin. Pertama, Materialisme Marx memungkinkan kita untuk mengungkap sifat buruk dari kapitalisme yang dibalut dengan gagasan progresif dan konsensus tentang perkembangan kapitalisme dunia yang menggambarkan bahwa kapitalisme adalah jalan satu-satunya menuju kemakmuran. Selanjutnya, kenapa Marx tidak pernah bisa dilupakan adalah keberhasilannya menemukan letak “kritik” dalam sejarah yang selalu dibangun dalam bentuk pertarungan kelas. Dan dari sini kritik telah menjadi sudut pandang orang yang tertindas dimana juga membantu kita untuk memahami alur dari kapitalisme yang nantinya akan berujung pada pemahaman terhadap krisis yang dialami kaum kapitalis dan pada akhirnya akan ada pengorganisasian “kaum yang tertindas” untuk melakukan Revolusi. Alasan terakhir adalah teori Marx dapat diuraikan dalam begitu banyak bidang sehingga memperlihatkan kebobrokan sistem kapitalisme dari segala sisi dan diwaktu yang sama membantu mempersiapkan gerakan pembebasan dari kolonialisme dan imperialisme. Dari tiga alasan diatas lah kenapa kita tidak bisa melupakan Marx sebagai pemikir dan pembaharu untuk abad 21.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Lain bab lain tokoh. Jika diawal Negri membahas Marx melalui sudut pandang teorinya, maka tulisannya mengenai Foucault dimulai dengan cerita pengalamannya. Dia pertama kali bersinggungan dengan pemikiran Foucault pada tahun 1978 saat menulis dalam sebuah jurnal . Tulisannya berjudul ‘On Method of Political Critique’. Pada masa ini juga ia sedang mempelajari karya Marx yang berjudul &lt;em&gt;Grundrisse,&lt;/em&gt; dan setelah itu dia membawakan perkuliahan di Ecole Normale Superiure di Perancis mengenai Marx dan setelah Marx yang membicarakan tentang pemikir-pemikir Marxis zaman itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Negri mulai tertarik dengan Foucault dikarenakan Partai Komunis Italia pada saat itu akan melakukan kerjasama dengan dengan masyarakat dan parlemen bersama kelompok ‘kanan’. Guna kerjasama ini bisa berhasil maka harus ada kompromi dari dua belah pihak. Untuk mencapai kompromi tersebut maka ditariklah teori Foucault dalam bukunya &lt;em&gt;History of Madness&lt;/em&gt; (Foucault: 1963) dan &lt;em&gt;Birth of Clinic&lt;/em&gt; (Foucault: 1976). Dari dua buku tersebut, Negri menggaris-bawahi bahwa untuk berkompromi harus ada hubungan antara antropologi sebagai ilmu tentang manusia  yang bersifat abstrak dengan ontologi sebagai cabang bidang studi filsafat yang menbahas keberadaan sesuatu yang konkret. Yang dimaksud Negri adalah bagaimana melaksanakan kompromi dalam bentuk diplomasi atau negosiasi menggunakan teorinya yang abstrak.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku ini ditulis dalam tiga bagian yang berisi enambelas bab. Pada pada bab kesebelas berisi dialognya dengan Luca Salza dan pada bab kelimabelas, Negri menulisnya bersama Judith Revel. Namun dari enambelas bab yang ada, saya ambil bab pertama untuk penjelasan mengenai Marx karena berisi penjelasan yang tidak begitu rumit dan bab ketigabelas untuk penjelasan mengenai Foucault karena berisi premis-premis Negri mengenai Foucault dan kegunaan teori Foucault dalam dunia pergerakan. Karyanya yang satu ini bisa dibilang cukup kompleks tapi sangat menarik untuk dibaca karena berisi pembaharuan mengenai Marxisme. (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;rez&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>25 Feb 2017</pubDate>
        <link>/dari-negri-untuk-marx-dan-foucault</link>
        <guid isPermaLink="true">/dari-negri-untuk-marx-dan-foucault</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sekelumit Teologi John Rawls</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: A Brief Inquiry Into The Meaning of Sin And Faith&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: John Rawls&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Harvard University Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 275 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2009&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Siapa tak kenal John Rawls? Filsuf abad 20 ini menjadi mendunia saat menerbitkan karyanya, Theory of Justice yang menjadi salah satu buku pegangan untuk utama dibidang Hukum dan Sosial Politik di banyak universitas di dunia. Memang wajib mengenal John Rawls sebagai pengantar tentang apa yang selalu kita sebut dengan “Keadilan”, tapi ada buku lainnya yang menarik. Karyanya yang satu ini adalah tulisannya saat masih menempuh S1 nya di Princeton University yang dia beri judul “On My Religion”. Pembahasannya yang analitis khas seorang filsuf yang hanya bisa disuguhkan oleh John Rawls. Berikut adalah ulasan singkatnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kepercayaan adalah sesuatu yang bersifat perkiraan dan praduga. Menurut Rawls, praduga ini tadi kan diterima oleh manusia jika dapat dinalar dan dipahami, sedangkan jika tidak ada penjelasan rasionalnya, maka tidak akan ada yang mengikuti praduga tersebut atau bahkan pengikutnya akan jatuh pada Fanatisme (baca: fanatisme, bukan radikalisme atau fundamentalisme). Dalam pembahasan awal, ada empat praduga yang dibahas secara singkat sebagai pengantar dalam karyanya. Pertama adalah praduga mengenai Tuhan. Apakah dia memiliki semua atribut metafisik yang diarahkan pada-Nya ataukah tidak semua masih menjadi praduga murni dimana kita asumsikan kita tidak akan pernah tahu. Kita hanya bisa tahu Tuhan dari Kitab Suci yang diikuti oleh tiap agama atau kepercayaan masing-masing.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selanjutnya adalah mengenai Kepribadian. Kepribadian jangan dipahami sebagai “individu” karena sejatinya dua hal itu sangatlah berbeda, dimana individu lebih mengarah kepada fisik sedangkan “kepribadian” itu metafisik. Kepribadian lebih mengarah kepada apa yang kita sebut dengan Jiwa. Maka dari itu, jika berbicara mengenai kehidupan spriritual atau keagamaan adalah ranah kehidupan “personal” atau “pribadi”. Pembahasan ketiga memiliki hubungan erat dengan yang kedua, yakni komunitas. Komunitas menurut John Rawls tidak bisa dipahami sebagai kumpulan individu, karena individu itu bersifat fisik. Yang melakukan sosialisasi demi terwujudnya sebuah komunitas adalah yang metafisik, yakni kepribadiannya, maka Komunitas adalah kumpulan dari Kepribadian. Hutan tidak pernah disebut Komunitas Pohon, Hutan ya Hutan karena mengacu pada fisiknya dan tidak ada interaksi antar pohon. Disinilah praduga terakhir menjadi kesimpulan yang mutakhir, bahwa kepercayaan atau agama seorang pribadi itu dibentuk oleh Komunitas ditempat dia berproses.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hubungan manusia dengan Tuhan bersifat personal tapi diwarnai oleh tempat dimana dia tinggal atau komunitas (masyarakat) sekitarnya. Untuk memahami Tuhan tidak bisa menggunakan logika deduksi dan susah untuk memberikan validitas keberadaan Tuhan. Yang jadi permasalahan adalah saat melihat sebuah kepribadian dan Komunitas pastinya menggunakan pengamatan empiris, sedangkan agar seorang pribadi tahu tentang keberadaan Tuhan maka dia tidak bisa menggunakan pengamatan secara empiris, padahal antara Tuhan, pribadi dan komunitas terhubung secara satu sama lain seperti dijelaskan pada paragraf sebelumnya. Kenapa banyak kepercayaan gagal? Karena mereka jatuh pada logika deduktif yang digunakan untuk menjelaskan Tuhan ditambah dengan spekulasi yang bersifat sangat abstrak dan kerap kali tidak bisa diterima akal sehat.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun pembahasan lainnya adalah mengenai Dosa. Kenapa dosa bukan pahala? Karena terkadang lebih banyak orang beragama atau mereka yang memiliki kepercayaan, melaksanakan ritual peribadatan bukan karena keinginan mendapat pahala tapi ketakutan akan dosa. Bagi Rawls, dosa diartikan sebagai sesuatu yang menyebabkan sebuah komunitas hancur. Dosa memang dilakukan oleh tiap pribadi masing-masing saja, tapi saat dosa itu dilakukan, seringkali berimbas kepada komunitas dan imbas ini lah yang menjadi penilaian baik ataupun buruk sesuatu yang dilakukan oleh seorang pribadi kepada komunitas. Jika imbasnya buruk, maka ganjarannya adalah sesuatu yang kita sebut Dosa.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kepercayaan dan Dosa yang dibahas disini sangatlah erat hubungannya dengan etika dimana sifatnya universal, itu kenapa kurang lebih banyak aturan dalam sebuah kepercayaan sama dengan kepercayaan yang lain. Etika adalah sebuah cara untuk menyelidiki perilaku kepribadian atau sebuah komunitas. Yang menjadi masalah utama moral adalah bagaimana seseorang berperilaku dihadapan orang lain. Pandangan orang lain yang akan menumbuhkan penilaian baik maupun buruk untuk orang tersebut. Jika masuk ke dalam ranah kepercayaan maka nanti akan berhubungan erat dengan Dosa. Sedangkan permasalahan keagamaan bersifat lebih komunal, pertimbangan akan bagaimana seseorang berhubungan dengan Tuhan. Tidak dapat dipisahkan antara Kepercayaan/Agama dengan Etika karena keduanya menghadapi hal yang sama: bagaimana seseorang harus berperilaku kepada orang lain? Menolong manusia untuk lebih mudah memahami mana yang baik dan mana yang buruk.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak mudah memahami teologi apalagi dengan kerangka berfikir yang analitis, memang karya John Rawls yang satu ini bisa dibilang cukup berat karena berbicara Teologi dengan menggunakan pisau analisa filosofis. Bahasa yang digunakanpun masih banyak yang harus dicari dikamus, karena belum ada Penerbit Indonesia yang menerbitkan buku ini dalam Bahasa Indonesia. Namun setelah paham arti kalimatnya maka premis-premis yang diajukan oleh John Rawls begitupula analoginya bersifat sangat masuk akal dan memang sesuatu yang hanya bisa disuguhkan oleh John Rawls. (&lt;em&gt;&lt;strong&gt;rez&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Feb 2017</pubDate>
        <link>/sekelumit-teologi-john-rawls</link>
        <guid isPermaLink="true">/sekelumit-teologi-john-rawls</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Memaknai Kemajuan</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Progress&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Massimo L. Salvadori&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Zed Books&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 122 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2008&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Progresif Revolusioner, Pemimpin yang progresif, Ideologi yang progresif, Kaum-kaum progresif, pikiran yang progresif. Kalimat-kalimat diatas memiliki satu kata yang sama, yakni progresif. Seringkali kata tersebut terlontar dari mulut-mulut orang yang berapi-api. Terkadang juga dari pemikir-pemikir modern, namun jarang yang paham akan maknanya. Belum ada sebuah buku yang membahas secara komprehensif mengenai apa itu &lt;em&gt;progress&lt;/em&gt;? Alangkah baiknya diindonesiakan terlebih dahulu. Mari kita sebut sebagai “kemajuan”. Namun seorang teoritisi berkewarganegaraan Italia telah berhasil membahas secara mendalam mengenai “kemajuan”. Dia adalah Massimo Luigi Salvadori, profesor di bidang politik pada Universitas Turin. Pembedahan mengenai “Kemajuan” ditulis dalam bukunya yang berjudul “Progress”. Untuk memahami secara singkat, silakan simak resensinya sebagai berikut.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Progress atau Kemajuan secara inheren dapat dimaknai sebagai perubahan status seseorang dari tingkat bawah menuju atas, dari miskin ke kaya, dari bodoh ke pandai, dari lajang menjadi menikah, dan seterusnya. Perpindahan dimana kehidupan yang dijalani sekarang lebih baik daripada sebelumnya, baik secara material maupun spiritual. Sejatinya “kemajuan” telah ditakdirkan menjadi ujung tombak yang menghambat laju dari kejahatan dan krisis yang ada dalam sejarah manusia. Revolusi pun sebenarnya ditujukan untuk satu hal ini saja, yakni kemajuan. Tapi saat tidak ada perubahan yang terjadi, maka cara Revolusi tersebut telah gagal mencapai tujuannya yang utama.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Revolusi adalah sebuah gerakan yang tercetus untuk melakukan perubahan, perubahan untuk sebuah “Kemajuan” yang dicita-citakan. Revolusi pun dicetuskan karena banyak faktor, bisa karena faktor sosial, ekonomi, kebudayaan dan banyak hal lainnya, tapi tetap untuk kemajuan. Kemajuan yang diinginkan ditandai dengan adanya perubahan hajat hidup orang banyak, seperti kasus Revolusi Perancis pada tahun 1789, Revolusi pertama ini dimulai dengan penyerangan penjara Bastille untuk membebaskan para pemikir yang ditahan karena permasalahan politik, para penentang Kaisar Louis ke 16, ini terjadi karena masyarakat yang miskin sudah mulai bosan dengan kemiskinannya dan menginginkan perubahan dalam kehidupannya, dan mereka melihat sumber permasalahannya adalah kekaisaran absolut yang tidak berpihak pada masyarakat sama sekali. Dampak Revolusi Perancis lah yang sampai sekarang benar-benar murni untuk sebuah “Kemajuan”. Dari Monarki Absolut menjadi sebuah Republik dengan semboyan “Liberte, Egalite, Fraternite”&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dibelahan dunia lain ada Revolusi serupa dengan cara yang sama, tapi hasil yang benar-benar jauh dari harapan, yakni Revolusi Rusia. Dikala itu Tsar Nicholas Kedua yang otoriter dihantam kekaisarannya dengan Palu-Arit yang megah, naas, masyarakat Rusia menukar satu diktator untuk diktator lainnya, Joseph Stalin. Sistem ekonomi terencana yang dilakukan pemerintah USSR (Uni Soviet) saat itu malah lebih diktator ketimbang Tsar Nicholas Kedua. Banyak yang bilang ideologi yang dianut Soviet lah yang menjadi tolak ukur keberhasilan Revolusinya, tapi tidak ada “Kemajuan” sama sekali dibidang yang sama, Pemerintahannya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Abad Pencerahan, Positivisme dan Marxisme. Semua lahir dari perkembangan zaman yang menginginkan adanya perubahan dari warisan buruk kaum terdahulu. Dan itu semua adalah cara dan pedoman menuju “kemajuan” yang diinginkan manusia. Begitupula Nazi, setelah Perang Dunia Pertama, Jerman sebagai pihak yang kalah menjadi negara yang terpuruk. Hampir saja menjadi negara terbelakang. Disini ada pihak yang menawarkan sebuah “kemajuan” untuk Bangsa Jerman, Hitler beserta Partai Nazi nya. Dia berjanji untuk mengembalikan kejayaan jerman dan memajukan bangsanya. “Secara” teritorial, Jerman dibawah Nazi memang benar-benar maju, begitupula dibidang persenjataannya. Tank buatan Jerman tidak ada yang bisa mengalahkan, benar-benar sebuah monster yang tak dapat ditembus. Seperti Stalin di Rusia yang berjuang untuk menggulingkan Kekaisaran Rusia, di Jerman, Hitler pun berjuang, tapi bukan melawan kekaisaran, melainkan memperkuat kesatuan dan persatuan di Jerman. Keduanya sama-sama mendaklarasikan perang pada Nilai dan Adat lama yang mengekang  baik Rusia maupun Jerman, keduanya membawa pembaruan pada bangsanya. Jangan dilihat keburukannya terlebih dahulu, tapi perbaikan bangsa mereka lah yang disebut sebagai “Progress”. Perbedaan mereka adalah Komunisme Stalin menutup pintu lama Rusia, sedangkan Nazi nya Hitler memajukan Jerman dengan melihat orisinalitas dari bangsanya, yang dalam buku ini disebut “The Myth of Lost Purity”. Cara yang khas dari Hitler untuk menjaga kemurnian Bangsa Arya di Jerman.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Terlepas gambaran diatas memperlihatkan usaha-usaha mencapai “kemajuan” yang didambakan gagal, tapi itu menurut perspektif siapa dulu? Di Inggris, Kaum Sosial-Demokrat dan Liberal bergabung untuk mewujudkan sebuah Revolusi damai yang berbeda, dengan hasil akhir yang cukup berhasil, bahkan diterapkan di negara-negara lainnya. Konsep ini dinamakan “Welfare State” atau Negara Kesejahteraan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun keberhasilan yang benar-benar terjadi dalam mewujudkan sebuah “kemajuan” ada dalam bidang tata kelola pemerintahan. Sesuatu yang kita sebut dengan Demokrasi. Teori yang berhasil menggabungkan kemajuan dibidang politik, etik, kultural dan sosial. Bahkan sekarang, Demokrasi adalah sebuah kewajiban bagi suatu negara untuk dilaksanakan atau diikuti. Sejatinya Konsep dan teori mengenai “kemanjuan” yang sukses adalah Demokrasi. Dalam pengertiannya, “kemajuan” memang harus dijelaskan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi, agar mudah untuk memaknai “kemajuan” yang dimaksud dan dibutuhkan. (&lt;em&gt;&lt;strong&gt;rez&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>24 Jan 2017</pubDate>
        <link>/memaknai-kemajuan</link>
        <guid isPermaLink="true">/memaknai-kemajuan</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kata Chomsky tentang Timur Tengah</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Pirates and Emperors&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Noam Chomsky&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Pluto Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xx+291 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2016&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Chomsky, Anarkis abad ke 21 begitupula teoritisi garda depan. Kritiknya selalu dilemparkan untuk Amerika Serikat selaku negara adikuasa tak kunjung padam. Kali ini dia menuliskan hal baru, mengenai terorisme di Timur Tengah melalui perspektif negara sebagai pelakunya (Amerika dan Israel). Buku ini adalah buku terbarunya, silakan dibaca ulasan singkatnya dari saya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dimulai dengan nuansa khas Chomsky, kritik terhadap Amerika. Kritikan ini diawali dengan penjelasan mengenai  2 perspektif tentang keadaan Amerika yang saling berkontradiksi. Teoritisi Liberal menganggap bahwa kebebasan berekspresi menjadi corak khusus A.S. Suara dari masyarakat harus didengarkan oleh kelompok elit yang akan memastikan suara tersebut adalah suara yang benar (maknai elit sebagai tokoh masyarakat, bukan pemerintah). Namun, jika kecil usaha dari pemerintah untuk menekan suara tersebut, maka yang dibahas dalam suara itu masih dalam koridor toleransi pemerintah dan bisa direalisasikan oleh pemerintah melalui kebijakannya. Disisi lain, Harold Laswell berpendapat berbeda, bahwa semua keputusan harus dibuat oleh pemimpin yang berpandangan jauh. Inilah kontradiksi dimana pandangan pertama adalah penentuan kebijakan dipegang oleh suara rakyat bercorak desentralistis-partisipatoris (meskipun melalui mekanisme yang cukup rumit), yang kedua lebih condong bersifat sentralistis otoritarian.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selanjutnya masuk kepada studi kasus dari dua pandangan tersebut. Diawali dengan pertemuan antara Ronald Reagan, Presiden Amerika dengan Shimon Peres, Perdana Menteri Israel sebagai perlambang hubungan diplomatis yang romantis dari dua negara ini. Dua negara inilah yang sejatinya Negara Teror terbesar dengan pandangan yang sama mengenai “perdamaian”. Bukan malah memfokuskan perdamaian dengan cara bernegosiasi, tetapi malah memilih perang terbuka dengan Palestina. Shimon Peres mengutarakan bahwa Palestina tidak akan pernah bisa menjadi partner Israel dalam urusan apapun. Dan Ronald Reagan disisi lain setuju dengan itu tanpa mendengar pendapat rakyatnya terlebih dahulu. Terlihat sekali pada beberapa keputusan, Amerika bercorak sangat sentralistis, terutama hubungan diplomasi antar negara. Karena keputusan tadi, tercetus lah sebuah peperangan abadi di Timur Tengah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dimasa-masa awal perang Timur Tengah tidak begitu dihiraukan, namun lambat laun memakan korban yang cukup banyak, baik dari pihak Amerika-Israel dan juga Timur Tengah, mulailah muncul suara-suara rakyat yang menentang kebijakan perang di Timur Tengah. Banyak negara disana mulai roboh seperti: Libya, Suriah, Iraq dan Mesir pun mulai goyah. Banyak pembunuhan politik untuk penolakan perdamaian dengan Israel dari kubu timur tengah, seperti pembunuhan Anwar Al-Saddat. Di pihak lain, Amerika-Israel mengkriminalisasi Moamma Khadafi agar masyarakatnya melakukan revolusi, bergulir pun revolusi yang diinginkan, yang pada akhirnya menghancurkan Libya. Muncul organisasi-organisasi yang katanya penuh dengan teroris macam Al-Qaeda demi menutupi jejak Amerika dan Israel di Timur Tengah. Umat Islam pun yang menjadi kambing hitam.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada tahun 1976, United Nations Security Council pernah memanggil kedua belah pihak (Palestina dan Israel) untuk negosiasi perdamaian. Pihak Israel lah yang menolak bernegosiasi, meskipun UNSC inginnya adalah mengakui Israel sebagai negara dan menghentikan pembantaian di Palestina. Amerika turut andil dengan menyetujui penentuan nasib Irael sebagai sebuah negara, tapi menolak untuk mengakui Palestina sebagai negara merdeka. Disini mulai lah ada pembelokkan berita. Negara disekitar Palestina ikut melakukan pembelaan terhadap status Palestina, baik di medan tempur maupun di meja diplomasi. Tunisia adalah salah satu yang melewati jalur tempur dalam mempertahankan wilayah Palestina, namun saat Israel melakukan pemboman di daerah Tunisia, Majalah Times menganggapnya sebagai “&lt;em&gt;retaliation&lt;/em&gt;” bukan tindak terorisme.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Howard Zinn pernah berkata dalam pidatonya “&lt;em&gt;How can you have a war on terror, when war itself is a terror?”.&lt;/em&gt; Yang maksudnya adalah bagaimana berperang dengan teror sedangkan perang itu sendiri adalah teror. Kalimat ini adalah &lt;em&gt;counter&lt;/em&gt; terhadap kebijakan War on Terror atau biasa disebut dengan Global War on Terror (GwoT). Kebijakan seperti inilah yang membuat intelektual seperti Howard Zinn atau Noam Chomsky geram. Maka dari itu mereka menerbitkan karya mereka dalam sebuah proyek yang disebut “The American Empire”. Berisi buku-buku yang penuh dengan kritik terhadap kebijakan Amerika yang berlagak sok sebagai polisi dunia. Buku ini adalah salah satu kelanjutannya, Chomsky sebagai Profesor dibidang linguistik pastinya menggunakan bahasa inggris yang renyah dan mudah dipahami. Analisa yang dilakukannya pun tidak menggunakan metode &lt;em&gt;lawas&lt;/em&gt; seperti Marxisme, tapi lebih condong kepada Anarkisme. Itu lah yang membuat Chomsky berbeda dari yang lain dan selalu menjadi garda depan. Sangat direkomendasikan oleh penulis resensi untuk membaca karyanya yang satu ini. (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;rez&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;)&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>23 Jan 2017</pubDate>
        <link>/kata-chomsky-tentang-timur-tengah</link>
        <guid isPermaLink="true">/kata-chomsky-tentang-timur-tengah</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kepemimpinan ala Joseph Nye</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: The Powers To Lead&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penulis: Joseph S. Nye Jr.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Oxford University Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: xii+226 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tahun Terbit: 2008&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seiring berkembangnya zaman, semakin banyaknya informasi yang bisa diterima, mulai lah hirarki kekuasaan makin lama makin “flat”. Sudah bukan zamannya lagi seorang pemimpin yang berteriak dan menyuruh. Masyarakat makin lama makin demokratis, mereka menginginkan pemimpin yang lemah lembut, tapi bukan berarti menjadi tanpa ketegasan. Maka dari itu, kepemimpinan itu bukan masalah menggunakan kekuasaan keras atau lembut, demokratis atau totaliter. Tidak lagi hanya ada konsep &lt;em&gt;soft power&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;hard power&lt;/em&gt; saja, tapi kepemimpinan itu berhubungan dengan keduanya, itulah yang disebut dengan &lt;em&gt;smart power&lt;/em&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Permasalahan Kepemimpinan ini diulas oleh Joseph Nye Jr, seorang professor dari Kennedy School of Government, Harvard University. Ia menekuni bidang Kepemimpinan selain karena dia mengajar tentang bidang tersebut, juga karena belum ada pembahasan analitis mengenai Kepemimpinan pada studi terdahulu. Beliau telah mengeluarkan banyak buku mengenai Kepemimpinan dan Kekuasaan, tapi buku yang membahas antara relasi keduanya adalah “The Power To Lead”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pada awal buku dijelaskan bahwa “nature” dari kepemimpinan mulai berubah. Dulu pada zaman Macchiavelli, ditakuti itu lebih baik dibanding disayangi atau dicintai (entah ini sarkasme atau memang anjuran masih belum banyak yang memahami, begitupula saya). Sekarang zaman sudah berubah, maka bentuk Kepemimpinan seperti apa yang dikehendaki masyarakat? Nye menyebutnya sebagai “shared leadership”, kepemimpinan yang dibagi. Biasanya kita lebih kenal dengan kata desentralistis. Sudah bukan zamannya kerajaan atau monarki absolut yang tersentral pada satu figur saja, yakni raja atau ratu. Sekarang, dunia sedang dilanda demam demokrasi, kekuasaan rakyat. Semua kerajaan telah digulingkan, yang tidak, akan berubah menjadi quasi-parlementer. Tapi bukan ini yang dibahas mendalam, melainkan tipe pemimpin.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Bagi Joseph Nye, tipe pemimpin maskulin yang bersifat otoriter dan kompetitif sudah tidak lagi dikehendaki oleh masyarakat umum, melainkan lebih kepada tipe yang feminim, yakni kolaboratif, partisipatoris dan integratif. Namun dengan banyaknya pemimpin yang bertipe maskulin sekarang, muncul sebuah permasalahan baru: ketidakpercayaan terhadap pemimpin yang akan berimplikasi pada berkurangnya legitimasi dari penguasa tersebut. Permasalahan ini akhirnya menimbulkan sebuah pertanyaan, “apakah kita masih butuh pemimpin?”.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Patut dimengerti, sebenarnya kita membutuhkan pemimpin. Untuk mengorganisir suatu gerakan sosial pun diperlukan adanya koordinator atau pimpinan, contoh: Mahatma Gandhi, Martin Luther King Jr. Sejatinya pemimpin itu berguna untuk membawa masyarakat pada tahap yang lebih baik daripada tahap yang sekarang. Tapi harus diingat juga, bahwa memimpin sebuah institusi itu beda dengan memimpin gerakan sosial. Semuanya dijelaskan dalam bab 1 dari buku ini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kita tak bisa memimpin jika tak punya kekuasaan. Yang dimaksud dari kalimat tersebut adalah bahwa Kepemimpinan selalu berhubungan dengan kekuasaan, sedangkan kekuasaan tidak selalu bersentuhan dengan kepemimpinan. Kekuasaan adalah ide abstrak yang selalu berbeda kekuatannya dan maknyanya, tergantung konteks yang sedang digunakan. Pemaknaan terhadap kekuasaan selalu berkutat pada komando dan koersi, pemaksaan oleh A agar B melakukan yang diinginkan oleh A. Nah, dalam mengambil keputusan, disini lah kekuasaan bersinggungan dengan kepemimpinan. Seorang diktator bisa saja dengan cepat mengeksekusi pemberontak, tapi ini akan menghilangkan kekuasaannya jika ternyata pemberontak tersebut memang ingin menjadi martir, sebaliknya, pemberontakan akan semakin besar. Yang terpenting dari Kepemimpinan  adalah: “apa yang akan terjadi jika “aku” memberi perintah seperti ini?”, &lt;em&gt;think twice&lt;/em&gt; dalam membuat keputusan, itulah kepemimpinan. Adapun kekuasaan itu terbatasi oleh ruang, seperti yang dikatan Nye dalam bukunya, Atasanmu dikantor tidak bisa mendiktemu dalam cara membesarkan anak-anakmu. Itu dikarenakan ruang lingkupnya sudah berbeda. Ada juga yang mengartikan kekuasaan sebagai kekayaan yang dimiliki individu atau kelompok yang dapat mempengaruhi pandangan orang lain. Pengartian ini membuat kekuasaan menjadi konkrit tapi sangat terbatasi oleh harta benda saja.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pembahasan lainnya adalah mengenai Soft Power (kekuasaan yang lembut). Terkadang seseorang bisa mendapatkan hasil yang diinginkan tanpa memaksa atau mengancam orang lain, itulah yang disebut dengan Soft Power (SP). SP membutuhkan kemampuan untuk membentuk pilihan orang lain selaras dengan pilihanmu melalui persusasi, bukan koersi (paksaan).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Hal-hal yang telah diulas diatas memiliki satu hal yang paling penting: pengikut. Kekuasaan maupun Kepemimpinan tidak akan berguna jika tidak ada pengikut atau pekerja atau pegawai atau bawahan. Cara memperlakukan orag yang menjadi bawahan kita lah yang selalu menjadi polemik untuk diselesaikan. Buku ini mengulas mengenai hal itu juga. Ditulis dengan bahasa inggris yang mudah dimengerti, Joseph Nye tidak hanya seorang teoritisi yang pandai, tapi juga penulis yang handal. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>21 Jan 2017</pubDate>
        <link>/kepemimpinan-ala-joseph-nye</link>
        <guid isPermaLink="true">/kepemimpinan-ala-joseph-nye</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Anarchy In The UK</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul film: V for Vendetta&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sutradara: James McTeigue&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pemeran: Hugo Weaving, Natalie Portman, Clive Ashborn&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tanggal Rilis: 23 Ferbruari 2006&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Durasi: 132 Menit&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Produksi: Warner Bros Pictures&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Siapa yang tak kenal V for Vendetta? Film ini bercerita mengenai perlawanan dan anarki yang berlatar di Inggris yang pada saat itu dibawah kekuasaan Kanselir Adam Sutler. Mengisahkan tentang seorang “lone wolf” yang berjuang melawan Pemerintah Inggris. V adalah pribadi yang misterius nan mengejutkan, pada suatu titik dia bertemu dengan Evey Hammond, bahkan jatuh hati padanya. Meski begitu, kisah cinta tidak begitu ditonjolkan disini, dan V lebih memilih jalan Revolusinya dibanding menjalin hubungan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Film ini dimulai dengan cerita mengenai Guy Fawkes, orang yang pernah berusaha untuk meledakkan gedung parlemen. Ia lah yang menjadi inspirasi V untuk meledakkan gedung parlemen. Namun kisah dimulai dengan pertemuan antara V dan Evey dimana pada awalnya Evey yang keluar sudah melewati jam malam, akan disiksa oleh “Fingermen” (Badan Intelijen Inggris dimasa Adam Sutler), ditolong oleh V. Setelah memperkenalkan diri, V mengajak Evey untuk melihat orkestra, tetapi naas, bukannya orkestra yang dilihat Evey, melainkan peledakkan dari gedung Old Bailey. Hal itu dilakukan V untuk mengingatkan masyarakat bahwa Old Bailey yang merepresentasikan keadilan sudah hilang di negara itu. Untuk memberikan pesan yang lebih jelas, maka V menyadap saluran televisi satu-satunya untuk menyampaikan pesannya melalui pidato yang disiarkan ke seluruh Inggris.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Belum selesai, rencana V masih banyak. Tugas lainnya yang ia emban adalah balas dendamnya. Dalam film dikisahkan bahwa V sebenarnya adalah “test-subject” dari penjara Larkhill, penjara untuk percobaan manusia. Dari semua test subject yang dibawa, hanya V yang mampu bertahan dan hidup. Yang menjadi kelebihan V pasca percobaan adalah perkembangan otaknya yang berimplikasi pada ketangkasan geraknya. Dari siksaan yang dia dapat di penjara ini, tumbuhlah kebencian pada pemerintahnya dan menjadi dendam pribadi. Yang dia lakukan setelah peledakkan Old Bailey adalah membunuh satu persatu mantan personil penjara Larkhill. Dimulai dengan Lewis Prothero, suara London yang menggambarkan propaganda busuk sebuah pemerintah, saat di Larkhill, dia adalah Komandan penjara tersebut. Lalu Cardinal Lilliman, seorang pendeta cabul perlambang kebohongan yang dibungkus oleh Agama. Yang ketiga adalah Dokter Delia, perempuan ini sebenarnya hanya ingin melakukan penemuan mutakhir layaknya Oppenheimer, tapi disalahgunakan oleh pemerintah, ia melambangkan Ilmu Pengetahuan yang selalu menjadi senjata ditangan orang yang salah (dan terkadang senjata itu bisa menyerang balik). Yang terakhir adalah sepaket, Ketua Partai, Mr. Creedy dan Kanselir Agung Adam Sutler, kedua orang ini melambangkan dua bagian paling buruk, yakni Partai dan Pemerintah. Mendekati akhir film, diceritakan bahwa Creedy, mengkhianati Sutler dan menembaknya. Adegan tersebut menggambarkan bahwa Partai dan Politisi memang tidak memiliki kesetiaan pada siapa atau apapun. Dan pada akhirnya si Creedy pun dibunuh oleh V. Yang paling menarik dari film ini adalah akhir yang spektakuler, yaitu peledakkan Gedung Parlemen Inggris, dimana menandakan sudah hilangnya demokrasi di negara itu.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penggambaran pemerintahan Adam Sutler memperlihatkan kebencian Inggris yang masih terpendam terhadap Jerman, lebih tepatnya Nazi. Ada kesamaan antara Sutler dan Hitler, mulai dari cara orasi, berpakaian, cara menggapai kekuasaan, sampai pada titik jabatannya yang sama, dimana Sutler adalah Kanselir Inggris dan Hitler adalah Kanselir Jerman. Dan perlu diingat, kekuasaan yang koersif, tidak pernah bertahan lama. &lt;em&gt;Dominoes Effect&lt;/em&gt; yang dilakukan oleh V dapat membangkitkan perlawanan Masyarakat Inggris, semua rencananya berhasil, meskipun pada titik akhirnya V mati, tapi seperti perkataan Evey diawal film:&lt;/p&gt;

&lt;blockquote&gt;
  &lt;p&gt;we are told to remember the idea, not the man. A man can die, he can be caught, but 400 years later, an idea can still change the world&lt;/p&gt;
&lt;/blockquote&gt;

&lt;p&gt;Yang paling membedakan film ini dari film action lainnya adalah nuansa ideologi yang dibawa sangatlah kental, yakni Anarkisme. Tapi disisi lain, film ini diproduksi oleh salah satu konglomerasi film terbesar Warner Bros. Bisa dimaknai bahwa film ini adalah usaha pelemahan peran pemerintah yang akan diganti dengan peran korporasi. Semua pemaknaan dikembalikan kepada para penonton yang budiman. “&lt;strong&gt;There is no certainty, only opportunity&lt;/strong&gt;”. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>20 Jan 2017</pubDate>
        <link>/anarchy-in-the-uk</link>
        <guid isPermaLink="true">/anarchy-in-the-uk</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Anger Management dari Metallica</title>
        <description>&lt;p&gt;Siapa tak kenal band Heavy Metal nomor satu di dunia, Metallica. Ada salah satu albumnya, lebih tepatnya yang kedelapan, berjudul St.Anger yang bisa dikategorikan “Very Heavy Metal”. Album ini dirilis oleh Elektra Records pada 5 Juni 2003.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Musik yang ada didalam album ini menggambarkan amarah tapi berlirik indah, mengubah kekacauan dalam pikiran menjadi kenikmatan pribadi, nuansanya brutal yang dikemas dengan alunan gitar dan drum pembangkit semangat pasca meredam amarah.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;St. Anger menceritakan tentang &lt;em&gt;anger management&lt;/em&gt; seseorang, bagaimana melampiaskannya tanpa perlu menggunakan kekerasan, yang lain adalah Frantic yang berlirik mengenai kepanikan, asal muasal amarah, Dirty Window yang melukiskan diri seseorang melalui sudut pandangnya sendiri. Masterpiece album ini adalah Somekind of Monster yang dijadikan judul film dokumenter tentang rehabilitasi James Hetfield perihal masalahnya dengan Alkohol dan Amarah, liriknya “Are we the people?”, apakah kita masyarakat? dapat digunakan saat demonstrasi menentang pemerintah juga.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;img src=&quot;/images/st-anger-metallica.png&quot; alt=&quot;&quot; width=&quot;1280&quot; height=&quot;720&quot; /&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Berikut beberapa Musik dalam Album St. Anger:&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;1. Frantic&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;2. Somekind of Monster&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;3. St. Anger&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;4. Dirty Window&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;5. Invisible Kid&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;6. My World&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;7. Shootme Again&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;8. Sweet Amber&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;9. The Unnamed Feeling&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;10. Purify&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;11.    All Within My Hand&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Album ini sangat pas didengarkan saat seseorang dalam keadaan frustasi atau marah, agar pelampiasannya tidak bersifat “destruktif”, melainkan dengan menikmati Album Metallica ini sambil menunggu redamnya amarah. “My lifestyle, determine my death-style”. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>19 Jan 2017</pubDate>
        <link>/anger-management-dari-metallica</link>
        <guid isPermaLink="true">/anger-management-dari-metallica</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Sihir dan Administrasi</title>
        <description>&lt;p&gt;J.K. Rowling terkenal karena karya-karyanya yang selalu memukau, terutama Harry Potter yang bersetting di Inggris.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dalam karyanya, &lt;em&gt;Fantastic Beast And Where To Find Them&lt;/em&gt;, yang difilmkan menggambarkan sisi yang berbeda daripada Harry Potter. Bertempat di Amerika, Film ini memberikan nuansa khas dari negara tersebut, yakni Administratif yang ketat. Sejak awal memijakkan kaki di negara tersebut, tokoh utamanya, Newt Scamander sudah diwajibkan memperlihatkan surat-surat dan tanda pengenal. Adapun ciri khas dari Kapitalisme di Amerika digambarkan saat salah seekor hewan peliharaan Net lepas dan memasuki Bank, bertepatan ada seorang Muggle ingin meminjam uang untuk membuat &lt;em&gt;Bakery&lt;/em&gt;, yang dipertanyakan oleh petugas Bank hanyalah satu: “Apa jaminan untuk Bank?” dan ungkapan lanjutan memperkuat ideologi negaranya: “The Bank Must be Defended”. Ini tidak serta-merta hanya sebuah keniscayaan, tapi ini memang menggambarkan keadaan Amerika yang sebenarnya. Latar ceritanya mendukung kisahnya, dizaman ini juga mulai berkembang ilmu yang kita sebut dengan Administrasi Publik.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Selain itu, adanya Magical Council of the United States of America disingkat MACUSA menjadi lukisan lain perbedaan film ini dengan Harry Potter. MACUSA adalah gambaran dari rigiditas hukum dan administrasi di Amerika.Untuk memegang Tongkat Sihir pun di Amerika harus memiliki Surat Kepemilikan Tongkat Sihir yang dikeluarkan oleh MACUSA. Kepemilikan hewan sihir juga dilarang dalam undang-undang yang dibuat MACUSA, dan adanya mata-mata maupun polisi rahasia MACUSA semakin memperkuat penggambaran Amerika Serikat dalam Film Fantastic Beast and Where to Find Them. Perilaku individualistik dan adanya kelompok pendemo anti-sihir menggambarkan Amerika secara sosiologis maupun antropologis. Diperkuat dengan perilaku MACUSA yang tidak fleksibel semakin mempersulit penyelesaian masalah. Sejatinya MACUSA hampir sama dengan FBI tapi didunia sihir. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Jan 2017</pubDate>
        <link>/sihir-dan-administrasi</link>
        <guid isPermaLink="true">/sihir-dan-administrasi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kisah Awal dari Wonokromo</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul: Bumi Manusia&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pengarang: Pramoedya Ananta Toer&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Lentera Dipantara&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal Buku: 535 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cetakan: 2005&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Novel Pramoedya tak pernah tidak menarik bagi khalayak umum untuk dibaca. Maklum, pujangga ini telah menulis banyak kisah yang terinspirasi oleh cerita yang nyata. Adapun salah satu kisahnya yang paling menggelegar adalah Tetralogi Pulau Buru yang digarapnya selama dipengasingan. Kisah roman ini berawal dengan buku Bumi Manusia yang akan sedikit diulas disini.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Novel ini berlatar di Surabaya dan berkisah mengenai Minke, seorang pemuda Inlander yang tidak bodoh, Minke bisa dibilang anak yang rajin dan pandai seperti digambarkan dalam buku ini. Dia selalu diganggu dengan salah satu kawannya, yakni Robert Suurhof. Pada suatu waktu, Suurhof mengajaknya ke sebuah rumah di daerah Wonokromo, selama perjalanan kesana, Suurhof menantang Minke, jika dia bisa mendapatkan hati dari anak perempuan pemilik rumah, maka dia tak akan pernah mengganggunya lagi. Minke pun menerima tantangan itu. Sesampainya di rumah itu, Minke pernah mendengar desas-desus keangkeran rumah itu, bukan perkara mahluk halus, tapi penghuninya yang menutup diri. Mereka disambut oleh Robert lainnya, Robert Mellema. Disini Minke mulai merasa tak enak, karena pandangan si Robert Mellema adalah pandangan yang merendahkannya. Namun semua tidak menjadi masalah saat Suurhof mengatakan bahwa Minke adalah kawannya. Masuk kedalam rumah ternyata ada seorang gadis cantik yang mencuri perhatian baik Suurhof maupun Minke, ini lah yang dimaksud Suurhof, ia adalah adik perempuan Robert Mellema, Annelies Mellema. Annelies adalah perempuan dengan pribadi periang yang sangat memikat Minke, cuman saja si Minke tak yakin dia bisa mendapatkannya. Semua tidak seperti yang dia prediksikan, mulai lah kisah cinta antara Minke dan Annelies yang akan berakhir tragis.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Adapun sosok menarik lainnya, yakni Nyai Ontosoroh, sang ibunda Annelies dan Robert Mellema adalah perempuan dari kelas bawah yang terangkat derajatnya karena perkawinan dengan Herman Mellema. Dia lantas menjadi mahir dalam berbicara bahasa Belanda, mampu membaca, menulis dan berhitung, bahkan mengelola pabrik Buitenzorg milik Herman Mellema. Yang lain adalah Darsam, orang satu ini berasal dari etnis Madura, terlepas tidak begitu pintar, loyalitasnya terhadap Nyai Ontosoroh sangat tinggi, apapun yang dikatakan Nyai, dia patuhi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Novel sastra karya Pram ini memang menyuguhkan berbagai rasa, berbagai realita. Dia menyoroti usaha kaum inlander yang melawan Belanda dengan cara menulis, banyak pepatah Pram tertuang dalam bukunya ini. Tips-tips dalam menulis ia selipkan melalui dialog yang bermakna. Tidak salah jika tetralogi pulau buru karya Pram dijuluki sebagai “Sumbangan Indonesia untuk Dunia”. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Jan 2017</pubDate>
        <link>/kisah-awal-dari-wonokromo</link>
        <guid isPermaLink="true">/kisah-awal-dari-wonokromo</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Kebebasan dalam Perspektif Zygmunt Bauman</title>
        <description>&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Judul&lt;/strong&gt; Freedom&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penulis&lt;/strong&gt; Zygmunt Bauman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Penerbit&lt;/strong&gt; Open University Press&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tebal Buku&lt;/strong&gt; 106 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Tahun Terbit&lt;/strong&gt; 1988 (cetakan pertama)&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kebebasan adalah sebuah kondisi dimana seorang individu melakukan sesuatu tidak tergantung dengan keputusan individu lainnya. Perpindahan kondisi sosial dari level bawah ke atas juga dapat dimaknai kebebasan. Untuk seseorang dapat dikatakan bebas maka ada harus lebih dari satu orang, karena kebebasan tidak pernah terlepas dari hubungan sosial. Seseorang bisa dikatakan bebas jika dia sebelumnya dalam kondisi sebuah keterikatan yang dia usahakan untuk melepaskan keterikatan tersebut. Maka sebelum bebas, harus ada keterikatan akan sesuatu. Maka juga harus dipahami bahwa segala sesuatu yang membuat kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita, berarti sesuatu tersebut adalah keterikatan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Jika kebebasan bermaksud untuk membebaskan seseorang dari sebuah kewajiban, maka harus ada kewajiban yang bersifat mengikat. Jika kebebasan berarti bebas melakukan apapun, maka sebelumnya harus ada pengekangan melalui aturan atau regulasi yang mengekang seseorang dalam melakukan sesuatu. Terkadang pada beberapa titik kebebasan bisa berarti negatif karena kebebasan absolut itu bersifat semu, karena terkadang kebebasan seseorang yang tanpa batas itu dapat mengganggu kebebasan orang lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Diskursus mengenai kebebasan sekarang masuk dalam tahapan mengenai siapa yang berhak mendapat kebebasan pada kondisi manusia yang tidak serta merta bebas. Lawan dari kebebasan adalah Kontrol Sosial. Bukan berarti Kontrol Sosial itu buruk, tapi terkadang manusia jika tidak diberi batasan dalam kebebasannya maka seperti yang dijelaskan diatas, dia mungkin (dengan kebebasannya) dapat mengganggu kebebasan orang lain. Kontrol Sosial pun dilaksanakan untuk menjaga masyarakat dari sesuatu yang abnormal yang mengganggu ketertiban (contoh: kriminal dan orang gila). Yang menjadi buruk adalah Kontrol Sosial yang berlebihan sampai pada titik digunakan dengan alasan menjaga kestabilan politik, bahkan untuk mengekang kebebasan berpendapat ( kebebasan berpendapat pun memiliki batasan) dan jika itu dilaksanakan oleh pemerintah berarti itu adalah Kediktatoran.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang diperjuangkan oleh pemberontak dan &lt;em&gt;Freedom Fighters&lt;/em&gt; adalah Kediktatoran dan Kontrol Sosialnya yang berlebihan, bukan bermaksud menghilangkan kontrol sosial secara total. Adapun gambaran mengenai Panoptikon, yakni mesin untuk melakukan Kontrol Sosial. Mereka lah yang menjadi perpanjangan tangan dari kekuasaan dalam melegitimasi kuasanya. Panoptikon lah yang akan diserang dan diamuk massa pertama kali saat terjadi sebuah pemberontakan. (contoh panoptikon: Polisi). Juga harus diingat, jika panoptikon bergerak masih sesuai koridor yang wajar, maka tidak diperlukan adanya penyerangan terhadap mereka, karena mereka hanya menegakkan kontrol sosial yang dibebankan pada mereka.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Untuk mencapai suasana yang bebas tanpa tumpang tindih bahkan kekacauan karena tidak adanya kuasa yang memaksa satu manusia untuk tunduk pada manusia lainnya, maka manusia harus memiliki pemahaman bahwa mereka wajib mempunyai “mutual understanding” terhadap perilaku manusia lainnya. &lt;strong&gt;&lt;em&gt;(rez)&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Jan 2017</pubDate>
        <link>/kebebasan-dalam-perspektif-zygmunt-bauman</link>
        <guid isPermaLink="true">/kebebasan-dalam-perspektif-zygmunt-bauman</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Frijdenker di Zaman Revolusi</title>
        <description>&lt;p&gt;Judul Buku: Atheis&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pengarang: Achdiat Karta Mihardja&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Penerbit: Balai Pustaka&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tebal: ivx+206 halaman&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Cetakan: ketigapuluh enam, 2014&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Achdiat Karta Mihardja, seorang politisi sekaligus pujangga ternama dari angkatan ’45 yang selalu menghasilkan karya-karya yang cukup kontroversial mengenai permasalahan batin seseorang didalam revolusi Indonesia yang sedang bergejolak. Melalui plot, alur cerita sekaligus watak tokoh melalui perkataan dan gerak-geriknya mengandung teka-teki sekaligus misteri yang berakhir pada ketragisan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kisah ini berawal dan bersetting di masa penjajahan Jepang. Dibuka dengan kematian dari tokoh utama. Pelaku utamanya bernama Hasan atau Den Asan merupakan seorang anak dari orang terpandang dikampungnya. Ayahnya adalah seorang yang tinggi status sosialnya, tidak hanya itu melainkan dalam pula ajaran agama islamnya. Hasan dididik dengan cara islam yang bisa dibilang cukup mendalam dan ketat, dari situ pun tumbuh pribadi yang baik, bahkan setelah lulus MULO (sekolah pada zaman belanda setingkat SMP), ia menyatakan keinginannya untuk mengikuti aliran tarekat. Ajaran yang ia ikuti makin memperdalam ilmu agamanya, dia tidak hanya melaksanakan ibadah sebagai kewajiban saja melainkan juga sebagai kebutuhan sehari-hari. Bisa dibilang untuk Islam lah dia hidup.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Namun semua berubah saat bertemu dengan Rusli, teman semasa kecilnya. Rusli berlainan sisi dengan Hasan, dimana Hasan adalah orang yang agamis, sedangkan Rusli berfikiran cukup liberal. Penggambaran Rusli disini ialah sebagai seorang yang berkepribadian gigih dan modern. Ia sangat terbuka dengan pemikiran-pemikiran yang berkembang pada zaman itu, terutama Marxisme, bisa dibilang dia adalah seorang “Frijdenker” (Free Thinker) pada masanya.  Rusli bersua lagi dengan Hasan saat bersama Kartini ketika hendak memesan tiket kereta api.  Disini ada pula sosok Kartini yang dilukiskan sedemikian rupa sebagai seorang Feminis, Kartini memiliki daya tarik secara fisik maupun pemikiran. Bisa dibilang, Kartini adalah faktor mendekatnya Hasan kepada Rusli. Lambat laun Hasan terpengaruh juga oleh pemikiran Marxis, karena lingkungan mempengaruhi cara berfikir seseorang. Ia mulai menjauh dari ajaran Islam. Tarekat yang ia ikuti mulai ditinggalkannya, ibadah dia lakukan hanya disaat ditimpa permasalahan yang manusia sendiri tak bisa menyelesaikan. Keadaan ini diperparah ketika Hasan berkenalan dengan Anwar, Frijdenker sekaligus seniman lain yang menganut aliran Anarkhis Individualis. Anwar selalu menganggap manusia adalah Tuhan, karena tanpa manusia, dunia tak akan ada. Anwar berkepribadian bebas, melakukan segala hal yang ingin ia lakukan, meskipun itu bertentangan dengan tradisi atau adat setempat. Perilakunya pun cukup keras dan tidak menyukai kebohongan atas diri seseorang. Perilaku ini yang menjadi biang keladi dari permasalahan Hasan dengan Ayahnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tatkala Hasan ingin kembali ke kampungnya, Anwar ingin ikut. Ia melihat Hasan yang sudah cukup liberal berubah 180 derajat saat bertemu keluarganya, Ia kembali menjadi sosok yang taat agama. Kelakuan Hasan dikritik oleh Anwar sebagai orang yang plin-plan, tidak teguh pada pendiriannya sebagai orang Atheis. Ia mengutarakan bahwa kelemahan orang Indonesia adalah terlalu percaya pada hal-hal mistis, karena perkataan ini, Hasan memberanikan diri untuk memberitahu ayahnya kalau ia telah lama mengubah jalan hidupnya dan pertengkaran sekaligus perselisihan faham terjadi antara ayah dan anak sehingga Hasan diusir dari rumahnya dan tidak lagi dianggap sebagai seorang anak. Sejak saat itu tali silaturahmi keluarga terputus.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Keadaan Hasan pasca kejadian pun tidak makin membaik, ia terkena tbc karena suka merokok, banyak permasalahan melandanya yang pada titik tertentu membuat ia kembali pada ajaran awal sebagai seorang muslim yang baik karena takut masuk neraka. Sekuat apapun pendirian manusia, tetapi disaat kondisi menyatakan bahwa dia tak bisa ditolong lagi, dia akan kembali kepada Tuhan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Novel ini ditulis dengan bahasa yang mudah dimengerti dan berisi pemikiran-pemikiran ideologis yang mulai luntur dalam novel masa kini. Atheis adalah titik kejayaan karya Sastera Indonesia pada zaman perjuangan. Pergolakan ideologis yang ditawarkan dalam novel ini memicu pembaca untuk berfikir dan melakukan tafsiran masing-masing. (&lt;strong&gt;&lt;em&gt;rez&lt;/em&gt;)&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;*&lt;em&gt;Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat di LPM Mercusuar UNAIR, ketika penulis masih menjadi salah satu anggotanya.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Jan 2017</pubDate>
        <link>/frijdenker-di-zaman-revolusi</link>
        <guid isPermaLink="true">/frijdenker-di-zaman-revolusi</guid>
      </item>
    
      <item>
        <title>Bukan Roman, Hanya Sehobi</title>
        <description>&lt;p&gt;Terkadang manusia berubah karena manusia lainnya.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Seorang Pelajar Laki di suatu tempat sedang mengalami cerita yang unik. Sebuah cerita yang diawali dengan perkenalan dengan pelajar perempuan yang secara busana maupun pikiran sangat berlawanan dengan si pelajar laki, yang laki berapi-api, si perempuan tenang dan kalem, si lelaki suka pada hal-hal revolusioner, sang perempuan tertarik pada Agama Islam. Berawal dari beberapa pembicaraan yang tidak berhubungan satu sama lain tapi tidak terputus sama sekali. Yang membuat pembicaraan mereka berbeda adalah bahasanya, tidak biasa si pelajar laki berbicara dengan seseorang dalam bahasa inggris, bahasa yang bukan bahasa ibunya. Hanya orang tertentu saja yang ia ajak berbicara bahasa inggris, dan pastinya bukan orang sembarangan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Yang mengejutkan si pelajar lelaki adalah grammatika maupun &lt;em&gt;pronounciation&lt;/em&gt; dari si pelajar perempuan jauh lebih bagus. Itu lah yang membuat pandangan si pelajar laki ini berbeda terhadap perempuan yang satu ini dibanding perempuan lainnya. Pada awalnya ia memandang negatif si Perempuan, tetapi setelah tahu buku-buku bacaan si pelajar perempuan, berubah 180 derajat pandangan si lelaki terhadap perempuan tersebut. Bukan sebuah kebetulan dua orang ini memiliki hobi yang sama, yakni membaca, sesuatu yang cukup sulit didapatkan pada abad 21, apalagi di Indonesia dan lebih spesifiknya, Jawa. Bukan lah sebuah kisah roman yang tertulis disini, tapi bagaimana sesuatu itu layak diperjuangkan.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Karena si pelajar perempuan tersebut, sang lelaki mulai giat membaca lagi, bahkan jauh lebih cepat menyelesaikan buku daripada sebelumnya. Adapun pemikirannya mulai terbuka karena intensitas dialektika diantara keduanya, dimana lelaki tersebut awalnya “kolot”, sekarang sudah mulai fleksibel menerima pikiran yang tidak sama dengan pikirannya. Topik yang mereka bicarakan pun sangatlah bervariasi, mulai dari Buku, Dongeng, Fenomena Sosial, Filsafat, Aliran Agama, Perbandingan Agama, Ideologi, Diri Mereka Sendiri, Pengalaman, Opini, Film, dll.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Buku adalah jendela dunia, kata banyak orang. Karena itulah yang mereka bicarakan sangat banyak, karena keduanya adalah pembaca. Tempat favorit mereka pun sama, perpustakaan. Berdua, membaca dan berbicara tak pernah bosan bagi si pelajar laki, semoga si pelajar perempuan juga. Pernah saat di perpustakaan mereka menumpuk cukup banyak buku untuk diperbincangkan seperti buku Vladimir Nabokov, Strange Tales, John Naisbitt, Harun Nasution, National Geographic dan banyak lagi.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Tidak hanya buku yang mereka perbincangkan, terkadang si perempuan meceritakan tentang talenta yang dia miliki seperti menari dan melukis/menggambar. Si lelaki hanya tercengang, ketertarikannya terhadap revolusi sudah membutakannya dari seni.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Dua kutub berbeda berkumpul dalam satu tempat yang disebut Perpustakaan.Dongeng ini masih sangat panjang jika diceritakan dan mungkin sangat luas jika dijelaskan, adakalanya dipotong dengan paksa karena penulisnya yang mengarang cerita bingung mencari kalimat, tapi masih akan berlanjut ceritanya. &lt;em&gt;Au Revoir&lt;/em&gt;!&lt;/p&gt;
</description>
        <pubDate>18 Jan 2017</pubDate>
        <link>/bukan-roman-hanya-sehobi</link>
        <guid isPermaLink="true">/bukan-roman-hanya-sehobi</guid>
      </item>
    

    
      
        
      
    
      
        
          <item>
            <title>About</title>
            <description>&lt;p&gt;&lt;em&gt;Selamat datang di situs web KRS, pembaca!&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kedai Resensi Surabaya (KRS)  adalah sebuah situs web berisikan resensi buku, musik, dan film (serta beberapa tulisan lain-lain dari penulis). Setiap judul buku, musik, dan film yang kami resensi merupakan judul-judul pilihan yang bisa menjadi referensi pembaca dalam studi ekonomi, sosial, politik, filsafat, sastra, dan lain-lain.KRS saat ini dikelola oleh dua orang penggemar buku (yang artinya kami senang membaca, mengkoleksi buku, dan mendiskusikan buku).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;KRS dikelola dari sebuah rumah di Surabaya, Indonesia. Jika pembaca berdomisili di Surabaya maupun sedang berkunjung ke Surabaya, silahkan kontak kami untuk berdiskusi mengenai buku!&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;resensi-seperti-apa-yang-kami-muat-di-krs&quot;&gt;Resensi seperti apa yang kami muat di KRS?&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Kami meresensi buku berbahasa Inggris maupun berbahasa Indonesia, dari penerbit nasional maupun internasional. Tetapi, memang tidak ‘sembarang buku’ yang kami pilih untuk diresensi di KRS. Kami mencoba menyuguhkan resensi buku dari buku-buku yang memiliki topik menarik, jarang dibahas, dari penulis cemerlang, hingga buku-buku yang berkaitan dengan perkuliahan. Karena kami berdua menempuh studi di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, maka buku-buku penunjang kuliah bertema sosial-politik dan ekonomi lah yang kami resensi.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;apakah-krs-juga-menjual-buku-buku-yang-diresensi&quot;&gt;Apakah KRS juga menjual buku-buku yang diresensi?&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Tidak. Kami hanya meresensi buku-buku yang kami dapat dari membeli secara langsung di toko-toko buku, baru maupun bekas. Untuk buku-buku berbahasa Indonesia yang sulit ditemukan di toko buku, biasanya kami akan langsung menuju situs web penerbit untuk memesan (hanya berlaku untuk buku-buku yang baru terbit atau tak lama terbit).&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Sementara untuk buku-buku berbahasa Inggris, buku-buku terbitan penerbit internasional, biasanya kami mencarinya di Periplus atau Book Depository.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Kini kami memiliki toko buku &lt;em&gt;online&lt;/em&gt; di mana pembaca bisa membeli buku-buku murah, yakni di &lt;a href=&quot;https://instagram.com/kbmurba&quot;&gt;KB. MURBA&lt;/a&gt;. Beberapa buku yang kami resensi juga kami jual di KB. MURBA. Stok terbatas, selalu tanyakan ketersediaan barang sebelum memesan. Bisa juga cek katalog KB. MURBA di &lt;em&gt;marketplace&lt;/em&gt; &lt;a href=&quot;https://tokopedia.com/kbmurba&quot;&gt;Tokopedia&lt;/a&gt;, &lt;a href=&quot;https://bukalapak.com/u/kbmurba&quot;&gt;Bukalapak&lt;/a&gt;, atau &lt;a href=&quot;https://shopee.co.id/kbmurba&quot;&gt;Shopee&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;h3 id=&quot;apakah-buku-ini-sudah-diresensi-di-krs&quot;&gt;Apakah buku &lt;em&gt;ini&lt;/em&gt; sudah diresensi di KRS?&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Untuk daftar buku-buku yang telah diresensi di KRS, pembaca dapat melihat airtable kami. Selalu &lt;em&gt;update&lt;/em&gt;. Tabel ini diurutkan berdasarkan resensi terbaru. Pembaca juga dapat mengurutkan sendiri sesuai dengan yang disenangi (berdasarkan penulis, penerbit, bahasa, dll). Prinsipnya sama dengan Ms Excel (*&lt;em&gt;berlaku pada tampilan desktop&lt;/em&gt;).&lt;/p&gt;

&lt;iframe class=&quot;airtable-embed&quot; src=&quot;https://airtable.com/embed/shr0EhFymOn66E7kC?backgroundColor=gray&quot; frameborder=&quot;0&quot; onmousewheel=&quot;&quot; width=&quot;100%&quot; height=&quot;533&quot; style=&quot;background: transparent; border: 1px solid #ccc;&quot;&gt;&lt;/iframe&gt;

&lt;h3 id=&quot;saya-mau-tanya&quot;&gt;Saya Mau Tanya….&lt;/h3&gt;

&lt;p&gt;Apabila pembaca punya pertanyaan lebih lanjut, pembaca dapat menghubungi kami di alamat email &lt;a href=&quot;mailto:kedairesensisurabaya@gmail.com&quot;&gt;kedairesensisurabaya@gmail.com&lt;/a&gt; atau melalui &lt;a href=&quot;https://instagram.com/rezafaricha&quot;&gt;media sosial kami&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;*P.S. Most of the featured image used in this site is from &lt;a href=&quot;unsplash.com&quot;&gt;Unsplash&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;
*P.P.S. Some rights reserved.&lt;/p&gt;
</description>
            <link>/about</link>
          </item>
        
      
    
      
        
          <item>
            <title>Buku Gratis</title>
            <description>&lt;h2 id=&quot;untuk-rakyat&quot;&gt;Untuk Rakyat&lt;/h2&gt;

&lt;p&gt;Buku-buku ini adalah buku lama di mana penerbitnya sudah lama bubar atau baru saja bubar. Termasuk buku saku dari artikel-artikel yang diterjemahkan oleh Kedai Resensi Surabaya atas seizin penulisnya. Boleh diunduh dan disebarluaskan, kalau bisa sebarluaskan tautannya juga, Saudara-Saudari sekalian. Klik pada gambar atau judul untuk mengunduh e-book.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/C.-KAY-R.N.-GWYNNE-Relevansi-Teori-Dependensi-dan-Strukturalis-dalam-Periode-Neoliberal.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;CRISTOBAL KAY &amp;amp; ROBERT N. GWYNNE - Relevansi Teori Dependensi dan Strukturalis dalam Periode Neoliberal&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/C.-KAY-R.N.-GWYNNE-Relevansi-Teori-Dependensi-dan-Strukturalis-dalam-Periode-Neoliberal.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/CK-RNG.jpg&quot; alt=&quot;CK-RNG&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/Andre-Gunder-Frank-Pembangunan-Negara-Terbelakang-KRS.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;ANDRE GUNDER FRANK - Pembangunan Negara Terbelakang&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/Andre-Gunder-Frank-Pembangunan-Negara-Terbelakang-KRS.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/AGF.jpg&quot; alt=&quot;AGF&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/S.K.TRIMURTI-Hubungan-Pergerakan-Buruh-Indonesia-dengan-Pergerakan-Kemerdekaan-Nasional.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;S.K. TRIMURTI - Hubungan pergerakan BURUH INDONESIA dengan pergerakan KEMERDEKAAN NASIONAL&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/S.K.TRIMURTI-Hubungan-Pergerakan-Buruh-Indonesia-dengan-Pergerakan-Kemerdekaan-Nasional.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/S.K.TRIMURTI.jpg&quot; alt=&quot;SKT&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/SOEBADIO-SASTROSATOMO-Soekarno-adalah-Indonesia-Indonesia-adalah-Soekarno.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;SOEBADIO SASTROSATOMO - Soekarno adalah Indonesia, Indonesia adalah Soekarno: Bung Karno dengan Keyakinan dan Takdirnya&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/SOEBADIO-SASTROSATOMO-Soekarno-adalah-Indonesia-Indonesia-adalah-Soekarno.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/SOEBADIO-SASTROSATOMO.jpg&quot; alt=&quot;Soebadio&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/ADAM-MALIK-Sepuluh-Tahun-Politik-Luar-Negeri-Orde-Baru.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;ADAM MALIK - Sepuluh Tahun Politik Luar Negeri Orde Baru&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/ADAM-MALIK-Sepuluh-Tahun-Politik-Luar-Negeri-Orde-Baru.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/ADAM-MALIK.jpg&quot; alt=&quot;Adam Malik&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/ROESLAN-ABDULGANI.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;ROESLAN ABDULGANI - alm. Dr. Soetomo yang Saya Kenal&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/ROESLAN-ABDULGANI.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/ROESLAN-ABDULGANI.jpg&quot; alt=&quot;RA&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/ALI-SASTROAMIDJOJO-Empat-Mahasiswa-Indonesia-di-Negeri-Belanda-Tahun-1927.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;ALI SASTROAMIDJOJO - Empat Mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda Tahun 1927&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/ALI-SASTROAMIDJOJO-Empat-Mahasiswa-Indonesia-di-Negeri-Belanda-Tahun-1927.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/ALI-SASTROAMIDJOJO.jpg&quot; alt=&quot;ASastro&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/NUGROHO-NOTOSUSANTO-Masalah-Penelitian-Sejarah-Kontemporer.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;NUGROHO NOTOSUSANTO - Masalah Penelitian Sejarah Kontemporer (suatu pengalaman)&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/NUGROHO-NOTOSUSANTO-Masalah-Penelitian-Sejarah-Kontemporer.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/NUGROHO-NOTOSUSANTO.jpg&quot; alt=&quot;NS&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/ALI-WARDHANA-Inflasi-dan-Ketegangan-Strukturil.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;ALI WARDHANA - Inflasi dan Ketegangan Strukturil&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/ALI-WARDHANA-Inflasi-dan-Ketegangan-Strukturil.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/ALI-WARDHANA.jpg&quot; alt=&quot;AW&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/M.-NATSIR-Demokrasi-Di-Bawah-Hukum.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;M. NATSIR - Demokrasi di Bawah Hukum&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/M.-NATSIR-Demokrasi-Di-Bawah-Hukum.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/M.-NATSIR.jpg&quot; alt=&quot;MN&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;hr /&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/CHAIRUL-SALEH-Pidato-Pada-Rapat-Penutupan-Sidang-Pertama-Majelis-Permusyawaratan-Rakyat-Sementara-Tanggal-7-Desember-1960-di-Bandung.pdf&quot;&gt;&lt;strong&gt;CHAIRUL SALEH - Pidato Pada Rapat Penutupan Sidang Pertama Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Tanggal 7 Desember 1960 di Bandung&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;a href=&quot;/download/CHAIRUL-SALEH-Pidato-Pada-Rapat-Penutupan-Sidang-Pertama-Majelis-Permusyawaratan-Rakyat-Sementara-Tanggal-7-Desember-1960-di-Bandung.pdf&quot;&gt;&lt;img src=&quot;/assets/CHAIRUL-SALEH.jpg&quot; alt=&quot;CS&quot; height=&quot;567px&quot; width=&quot;400px&quot; /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
</description>
            <link>/buku-gratis</link>
          </item>
        
      
    
      
        
          <item>
            <title>Contact</title>
            <description>&lt;p&gt;Hubungi kami via form berikut. Jika sebelumnya telah mengirimkan pesan melalui form ini namun belum menerima tanggapan dalam 24 jam, mohon kirimkan kembali melalui &lt;a href=&quot;mailto:kedairesensisurabaya@gmail.com&quot;&gt;kedairesensisurabaya@gmail.com&lt;/a&gt;. Terima kasih.&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;Pembaca juga dapat berlangganan buletin online bulanan via email, masukkan alamat email yang valid pada &lt;a href=&quot;https://mailchi.mp/462e3f5348dd/terima-buletin-krs&quot;&gt;form berikut&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;

&lt;form action=&quot;https://formspree.io/f/xgeozeyd&quot; method=&quot;POST&quot;&gt;

    &lt;label&gt;
      Your email:
      &lt;input type=&quot;email&quot; name=&quot;email&quot; /&gt;
    &lt;/label&gt;
  
    &lt;label&gt;
      Your message:
      &lt;textarea name=&quot;message&quot;&gt;&lt;/textarea&gt;
    &lt;/label&gt;
  
    &lt;button type=&quot;submit&quot;&gt;Send&lt;/button&gt;
  &lt;/form&gt;
</description>
            <link>/contact</link>
          </item>
        
      
    
      
    
      
    
      
        
          <item>
            <title>Privacy Policy</title>
            <description>Laman ini berisi **Disclaimer** dan **Kebijakan Privasi** terkait pengumpulan, penggunaan, dan perlindungan data termasuk pengajuan pertanyaan di Kedai Resensi Surabaya (www.kedairesensisurabaya.net). Untuk membaca versi bahasa Inggris dari laman ini, gulir ke bawah.

Baca **Disclaimer** [di sini](#disclaimer)

*This page contains disclaimer and privacy policy regarding data collection, usage, protection, and inquiry in Kedai Resensi Surabaya (www.kedairesensisurabaya.net). To read the **English** version of this page, scroll down or [click here](#privacy-policy-en).*

*Read **Disclaimer** [here](#disclaimer)*

**Daftar Isi / *Table of Contents***

* [Siapa Kami](#siapa-kami)/[*Who we are*](#who-we-are)
* [Data pribadi apa yang kami kumpulkan dan mengapa kami mengumpulkannya](#data-pribadi-apa-yang-kami-kumpulkan-dan-mengapa-kami-mengumpulkannya)/[*What personal data we collect and why we collect it*](#what-personal-data-we-collect-and-why-we-collect-it)
  * [Komentar](#komentar)/[*Comments*](#comments)
  * [Media](#media)/[*Media*](#media)
  * [Formulir kontak](#formulir-kontak)/[*Contact forms*](#contact-forms)
  * [Cookie](#cookie)/[*Cookies*](#cookies)
  * [Konten yang disematkan dari situs web lain](#konten-yang-disematkan-dari-situs-web-lain)/[*Embedded content from other websites*](#embedded-content-from-other-websites)
  * [Analitik](#analitik)/[*Analytics*](#analytics)
* [Dengan siapa kami membagikan data Anda](#dengan-siapa-kami-membagikan-data-anda)/[*Who we share your data with*](#who-we-share-your-data-with)
* [Berapa lama kami menyimpan data Anda](#berapa-lama-kami-menyimpan-data-anda)/[*How long we retain your data*](#how-long-we-retain-your-data)
* [Hak apa yang Anda miliki atas data Anda](#hak-apa-yang-anda-miliki-atas-data-anda)/[*What rights you have over your data*](#what-rights-you-have-over-your-data)
* [Ke mana kami mengirimkan data Anda](#ke-mana-kami-mengirimkan-data-anda)/[*Where we send your data*](#where-we-send-your-data)
* [Informasi tambahan](#informasi-tambahan)/[*Additional information*](#additional-information)
  * [Pertanyaan Lebih Lanjut](#pertanyaan-lebih-lanjut)/[*Further Question*](#further-question)

---

## Privacy Policy (ID)

## Siapa Kami

Situs web kami berada di: https://www.kedairesensisurabaya.net

## Data pribadi apa yang kami kumpulkan dan mengapa kami mengumpulkannya

### Komentar

Ketika pengunjung berkomentar di situs web ini, kami mengumpulkan data yang ditampilkan di formulir komentar, serta alamat IP pengunjung dan peramban web yang digunakan oleh pengunjung untuk membantu mendeteksi spam.

Sebuah string anonim yang dibuat dari alamat email Anda (yang juga disebut *hash*) dapat diberikan ke layanan Gravatar untuk mengecek apakah Anda menggunakannya. Kebijakan privasi layanan Gravatar tersedia di: https://automattic.com/privacy/. Setelah menyetujui komentar Anda, gambar profil Anda dapat dilihat oleh publik dalam konteks komentar Anda.

### Media

Jika Anda mengunggah gambar ke situs web ini, Anda harus menghindari mengunggah gambar dengan data lokasi tersemat (*embedded*) (EXIF GPS). Pengunjung situs web dapat mengunduh dan mengekstrak data lokasi apapun dari gambar di situs web.

### Formulir kontak

### Cookie

Jika Anda meninggalkan komentar di situs kami, Anda dapat memilih untuk menyimpan nama, alamat email, dan situs web Anda dalam cookie. Keputusan ini adalah untuk kenyamanan Anda agar tidak perlu mengisi detail lagi ketika Anda meninggalkan komentar lain. Cookie ini akan bertahan selama satu tahun.

Jika Anda memiliki akun dan masuk ke situs ini, kami akan menetapkan cookie sementara untuk menentukan apakah peramban web Anda menerima cookie. Cookie ini tidak mengandung data pribadi dan dibuang ketika Anda menutup peramban web Anda.

Saat Anda masuk ke akun Anda di situs ini, kami juga akan menyiapkan beberapa cookie untuk menyimpan informasi login Anda dan pilihan tampilan layar Anda. Cookie untuk masuk ke akun bertahan selama dua hari, dan cookie untuk opsi layar bertahan selama satu tahun. Jika Anda memilih &quot;Remember Me&quot; (Ingat informasi login saya), login Anda akan bertahan selama dua minggu. Jika Anda keluar dari akun Anda, cookie masuk ke akun akan dihapus.

### Konten yang disematkan dari situs web lain

Artikel di situs ini dapat mencakup konten yang disematkan (misalnya, video, gambar, artikel, dll.). Konten yang disematkan dari situs web lain berperilaku sama persis seperti jika pengunjung telah mengunjungi situs web lain.

Situs web tersebut dapat mengumpulkan data tentang Anda, menggunakan cookie, menanamkan pelacakan pihak ketiga tambahan, dan memantau interaksi Anda dengan konten yang disematkan, termasuk melacak interaksi Anda dengan konten yang disematkan jika Anda memiliki akun dan masuk ke situs web tersebut.

### Analitik

## Dengan siapa kami membagikan data Anda

Situs web ini menggunakan Google Analytics untuk membantu kami lebih memahami preferensi Anda dan membantu kami memahami secara lebih baik bagaimana tanggapan Anda terhadap unggahan kami. Ketika Anda mengunjungi situs kami, alamat IP Anda akan dideteksi oleh Google Analytics yang akan memberi kami informasi berapa kali Anda mengakses laman (pos/unggahan) di kedairesensisurabaya.net. Data analitik tidak akan dibagikan dengan siapapun. Kami tidak akan pernah dengan sengaja mendistribusikan atau menjual data Anda.

Ketika Anda memilih untuk berlangganan atau masuk ke milis kedairesensisurabaya.net, kami juga akan mengumpulkan alamat email Anda, di mana Anda akan mendapatkan buletin bulanan dari kami. Kami tidak akan pernah mendistribusikan atau menjual alamat email Anda kepada siapapun.

Jika Anda memilih verifikasi peramban, kami akan mengumpulkan alamat IP Anda tetapi tidak akan pernah mengumpulkan nama Anda atau nomor telepon Anda. Kami tidak akan pernah mendistribusikan atau menjual info digital Anda kepada siapapun.

## Berapa lama kami menyimpan data Anda

Jika Anda meninggalkan komentar, komentar dan metadata-nya tetap dipertahankan tanpa batas. Ini agar kami mengenali dan menyetujui komentar tidak lanjut apapun secara otomatis alih-alih menahannya dalam antrian moderasi.

Untuk pengguna yang mendaftar di situs web kami (jika ada) dan menggunakan akunnya untuk berbelanja di situs kami, kami juga menyimpan informasi pribadi yang mereka berikan di profil pengguna mereka. Semua pengguna dapat melihat, mengedit, atau menghapus informasi pribadi mereka kapan saja (kecuali mereka tidak dapat mengubah nama pengguna mereka). Administrator situs web juga dapat melihat dan mengedit informasi.

## Hak apa yang Anda miliki atas data Anda

Jika Anda memiliki akun di situs ini atau telah meninggalkan komentar, Anda dapat meminta untuk menerima file yang diekspor dari data pribadi yang kami miliki tentang Anda, termasuk data apapun yang Anda berikan kepada kami. Anda juga dapat meminta agar kami menghapus data pribadi apapun yang kami miliki tentang Anda. Ini tidak termasuk data yang wajib kami simpan untuk keperluan administrasi, hukum, atau keamanan.

## Ke mana kami mengirimkan data Anda

Komentar pengunjung dapat diperiksa melalui layanan deteksi spam otomatis.

## Informasi tambahan

### Pertanyaan Lebih Lanjut

Mohon kirimkan pertanyaan Anda melalui email [kedairesensisurabaya@gmail.com](mailto:kedairesensisurabaya@gmail.com).

---

## Privacy Policy (EN)

This page contains privacy policy regarding data collection, usage, protection, and inquiry in Kedai Resensi Surabaya (www.kedairesensisurabaya.net).

## Who we are

Our website address is: https://www.kedairesensisurabaya.net

## What personal data we collect and why we collect it

### Comments

When visitors leave comments on the site we collect the data shown in the comments form, and also the visitor’s IP address and browser user agent string to help spam detection.

An anonymized string created from your email address (also called a hash) may be provided to the Gravatar service to see if you are using it. The Gravatar service privacy policy is available here: https://automattic.com/privacy/. After approval of your comment, your profile picture is visible to the public in the context of your comment.

### Media

If you upload images to the website, you should avoid uploading images with embedded location data (EXIF GPS) included. Visitors to the website can download and extract any location data from images on the website.

### Contact forms

### Cookies

If you leave a comment on our site you may opt-in to saving your name, email address and website in cookies. These are for your convenience so that you do not have to fill in your details again when you leave another comment. These cookies will last for one year.

If you have an account and you log in to this site, we will set a temporary cookie to determine if your browser accepts cookies. This cookie contains no personal data and is discarded when you close your browser.

When you log in, we will also set up several cookies to save your login information and your screen display choices. Login cookies last for two days, and screen options cookies last for a year. If you select &quot;Remember Me&quot;, your login will persist for two weeks. If you log out of your account, the login cookies will be removed.

If you edit or publish an article, an additional cookie will be saved in your browser. This cookie includes no personal data and simply indicates the post ID of the article you just edited. It expires after 1 day.

### Embedded content from other websites

Articles on this site may include embedded content (e.g. videos, images, articles, etc.). Embedded content from other websites behaves in the exact same way as if the visitor has visited the other website.

These websites may collect data about you, use cookies, embed additional third-party tracking, and monitor your interaction with that embedded content, including tracking your interaction with the embedded content if you have an account and are logged in to that website.

### Analytics

## Who we share your data with

This website is using Google Analytics to help us better understand your preference and to help us understand better how is your response toward our post. When you visit our site, your IP address will be detected by Google Analytics which will provide us how many times you access a page (post) in kedairesensisurabaya.net. The analytics data will not be shared with anyone. We will never purposely distributing nor selling your data.

When you choose to subscribe to kedairesensisurabaya.net, we will also collect your email address, where you will get a monthly newsletter from us. We will never distribute or sell your email address to anyone.

If you opt for browser verification, we will collect your IP address but will never collect your name nor your phone number. We will never distribute or sell your digital info to anyone.

## How long we retain your data

If you leave a comment, the comment and its metadata are retained indefinitely. This is so we can recognize and approve any follow-up comments automatically instead of holding them in a moderation queue.

For users that register on our website (if any) and use their account to shop in our website, we also store the personal information they provide in their user profile. All users can see, edit, or delete their personal information at any time (except they cannot change their username). Website administrators can also see and edit that information.

## What rights you have over your data

If you have an account on this site, or have left comments, you can request to receive an exported file of the personal data we hold about you, including any data you have provided to us. You can also request that we erase any personal data we hold about you. This does not include any data we are obliged to keep for administrative, legal, or security purposes.

## Where we send your data

Visitor comments may be checked through an automated spam detection service.

## Additional information

### Further Question

Kindly email your inquiries to [kedairesensisurabaya@gmail.com](mailto:kedairesensisurabaya@gmail.com).

---

# Disclaimer

## ID

Konten yang ditampilkan di situs web adalah properti intelektual penulis. Anda tidak boleh menggunakan kembali, menerbitkan ulang, atau mencetak ulang konten tersebut tanpa persetujuan tertulis dari kami. Silakan distribusikan konten dengan pengutipan yang tepat.

Semua informasi yang diunggah hanya untuk tujuan pendidikan dan informasi. Hal ini tidak dimaksudkan sebagai pengganti saran profesional. Jika Anda memutuskan untuk bertindak berdasarkan informasi apapun di situs web ini, Anda melakukannya dengan risiko Anda sendiri.

Meskipun informasi di situs web ini telah diverifikasi sesuai kemampuan kami, kami tidak dapat menjamin bahwa tidak ada kekeliruan.

Kami berhak mengubah kebijakan ini setiap saat, yang mana Anda akan segera diberitahui. Jika Anda ingin memastikan bahwa Anda mengikuti perkembangan terbaru, kami sarankan Anda untuk sering mengunjungi halaman ini.

## EN

The content displayed on the website is the intellectual property of the authors. You may not reuse, republish, or reprint such content without our written consent. Please distribute our content with proper credit.

All information posted is merely for educational and informational purposes. It is not intended as a substitute for professional advice. Should you decide to act upon any information on this website, you do so at your own risk.

While the information on this website has been verified to the best of our abilities, we cannot guarantee that there are no mistakes or errors.

We reserve the right to change this policy at any given time, of which you will be promptly updated. If you want to make sure that you are up to date with the latest changes, we advise you to frequently visit this page.

[**Back to Home**](/)
</description>
            <link>/privacy-policy</link>
          </item>
        
      
    
      
        
          <item>
            <title>Serba-serbi</title>
            <description></description>
            <link>/tag/serba-serbi</link>
          </item>
        
      
    
      
        
          <item>
            <title>Series Review</title>
            <description>Beberapa resensi yang tersedia di Kedai Resensi Surabaya merupakan serangkaian resensi dari penulis yang sama atau bertopik sama. Berikut beberapa judul resensi berseri di Kedai Resensi Surabaya yang dapat pembaca nikmati. Kami hanya akan menampilkan judul-judul buku yang telah diresensi. Klik pada judul untuk menuju laman resensi.

## Samir Amin

1. [A Life Looking Forward](/kisah-hidup-seorang-marxis-mesir/)
2. [The Reawakening of the Arab World](/mesir-bangkit-bangun-demokrasi/)
3. [The Implosion of Contemporary Capitalism](/samir-amin-and-contemporary-capitalism-in-china/)
4. [The Liberal Virus](/modernitas-dan-kegagalan-liberalisme/)
5. [The Long Revolution of the Global South](/revolusi-negara-negara-berkembang-dan-terbelakang/)

## Michel Foucault

1. [The Birth of Clinic](/dari-foucault-untuk-seluruh-dokter-dan-mahasiswanya/)
2. [Abnormal](/foucault-dan-kelainan-jiwa/)
3. [The History of Sexuality: An Introduction, Vol. 1](/seks-dan-kekuasaan-foucault-tidak-melulu-membahas-gelas/)
4. [Remarks on Marx](/berpikir-ala-foucault-memusingkan-dan-menyenangkan/)
5. [On the Government of the Living](/foucault-dan-septimus-severus-sebuah-rezim-kebenaran/)
6. [Society Must Be Defended](/kekuasaan-kedaulatan-dan-dominasi-dalam-perspektif-foucauldian/)
7. [Discipline and Punish: The Birth of the Prison](/lahirnya-penjara-sebuah-kisah-mengenai-surveillance/)

_Oleh penulis lain, tentang Foucault_

- [Marx and Foucault / Antonio Negri](/dari-negri-untuk-marx-dan-foucault/)
- [Foucault on Leadership: The Leader as Subject / Nathan W. Hartner](/pemimpin-sebagai-subyek-memaknai-kata-parresia/)
- [The Globalization of Space / Mariangela Palladino &amp; John Miller (eds.)](/membincang-konsep-ruang-bersama-foucault/)

## Antonio Negri

1. [Multitude: War and Democracy in the Age of Empire](/perang-di-era-demokrasi-rumitnya-menentukan-makna-perang-pada-masa-modern/)
2. [From the Factories to the Metropolis](/rumitnya-ekonomi-politik-mendatang/)
3. [The Politics of Subversion](/rumus-perlawanan-abad-21/)
4. [Marx and Foucault](/dari-negri-untuk-marx-dan-foucault/)

## Sosialisme

1. [Build It Now: Socialism for the Twenty-First Century / Michael A. Lebowitz](/sosialisme-tidak-jatuh-dari-langit-proyek-sosialisme-1/)
2. [A World To Build / Marta Harnecker](/sosialisme-abad-21-ala-chavez-proyek-sosialisme-2/)

## Populisme

1. [The Politics of Fear / Ruth Wodak](/perpolitikan-bajingan-campuran-antara-populisme-nasionalisme-dan-kharisma/)
2. [On Populist Reason / Ernesto Laclau](/mengenal-laclau-mengenal-populisme/)
3. [For A Left Populism / Chantal Mouffe](/tidak-hanya-laclau-mouffe-juga-mengulas-populisme/)
4. [What Is Populism? / Jan-Werner Muller](https://geotimes.co.id/opini/memahami-populisme-secara-singkat-dan-cepat/) (_via Geotimes_)
</description>
            <link>/series-review</link>
          </item>
        
      
    
      
        
          <item>
            <title>Topic</title>
            <description>- [Administrasi Publik](/tag/administrasi-publik)
- [Biografi](/tag/biografi)
- [Ekonomi](/tag/ekonomi)
- [Film](/tag/film)
- [Filsafat](/tag/filsafat)
- [Islam](/tag/islam)
- [Jurnal](/tag/jurnal)
- [Musik](/tag/musik)
- [Politik](/tag/politik)
- [Sastra](/tag/sastra)
- [Sosial Budaya](/tag/sosial-budaya)
- [Serba-serbi](/tag/serba-serbi)
</description>
            <link>/topic</link>
          </item>
        
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    
      
    

  </channel>
</rss>
